The Cursed School | Part 1

 

the cursed school poster

 

 

:: THE CURSED SCHOOL (part 1) ::

 

 

AUTHOR : shineshen

 

MAIN CAST :

-Kim Jongin (EXO-K)

-Oh Sehun (EXO-K)

-Jung Soojung (F[x])

-Choi Jinri (F[x])

-Bae Suzy (Miss A)

-Seo Joohyun (SNSD)

 

OTHER CAST : Cameo (different part by part  #hope).

 

GENRE : Thriller, Fantasy, Romance, Friendship, Family (mian genre-nya kebanyakan -_-).

 

RATED : PG-13.

 

LENGTH : Series.

WARNING : FF ini hanyalah sekedar karangan fiksi belaka. Author hanya meminjam nama cast yang disebutkan diatas, untuk kepentingan kemudahan imajinasi(?). Jadi please jangan ada yang bashing ya ^^

 

 

Aloha readers! ^^

Menindaklanjuti(?) permintaan para readers di Your Paper yang minta oneshot itu dijadiin sequel, author mau minta mian yang sebesar-besarnya karena sampai sekarang author belum bisa bikin sequel version-nya karena kendala keterbatasan imajinasi :(

Sebenernya itu ide udah mentok ._.

Dan saya mengakui kalo saya adalah salah satu dari tipe author jail yang suka bikin ending gantung dengan tujuan bikin readers penarasan -_-“ *diarak pake sapu lidi*

Mian banget yah, karena selain itu juga, bikin sequel tuh bukan skill saya -,-“

Saya juga gak jago bikin ficlet ataupun drabble. Yang saya bisa oneshot, karena saya kalo bikin cerita emang kebanyakan bertipe oneshot -.-

Mian banget, author jadi curcol begini. Author hanya ingin berbagi kesedihan sama readers -_- #plakk

Tapi untuk sedikit mengobati kekecewaan para readers yang sudah me-request, author akan berjuang *halah* membuatkan suatu sequel dengan tema horror yang sepertinya gak akan bisa berkembang menjadi serem -_-

Author itu pecinta horror, tapi gak bisa bikin ff serem -_- makanya ini adalah kelinci percobaannya author ._.”

Oya, ff ini terinspirasi dari manga Jepang yang judulnya Another, dan juga film sequel Harry Potter and The Chamber of Secret (?).

Ff ini hanya terinspirasi, bukannya plagiat. Jalan cerita di ff ini bakalan beda kok dari 2 cerita diatas, author akan berusaha bikin pake versi author sendiri :D

Mian kalo ceritanya gaje dan susah gitu buat diproses sama nalar, karena menggunakan fantasy yang random -_-

Lagipula disini gak ada bloody scenes dimana ada tokohnya yang sampe mati gitu, karena jujur author pun gak tega ngetiknya -_-“

Oke deh, gumawo readers yang udah mau cape-cape baca author’s note diatas. Mian kalo kebanyakan ngetik, ini author aja sampe cape ngetiknya -_-

Oke deh, capcus :D

SAY YES TO COMMENT

SAY NO TO BASHING AND PLAGIARISM

Hope you like this random story :)

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Aku terlahir di dunia ini sebagai gadis yang bahkan tak tahu apa-apa. Tapi mengapa harus aku yang terpilih? Bertahun-tahun aku merasa dunia tak pernah adil untuk gadis lemah sepertiku..

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Suara riuh diluar kamarnya mengusik tidur tenang Jongin pagi itu. Dengan berat ia membuka matanya, mengerjap-ngerjapkannya perlahan agar matanya terbiasa dahulu dengan cahaya terang yang terpancar dari jendela besar tapat didepan ranjangnya.

Ia terduduk sebentar di tepi ranjangnya, menghalau sedikit rasa pusing yang membebani kepalanya. Sembari duduk, ia mencoba mempertajam pendengarannya pada suara riuh diluar sana.

Merasa tak menemukan kesimpulan apapun, ia bangkit lalu berjalan perlahan menuju pintu kamarnya. Saat ia membuka pintu kamarnya, ia dibuat tercengang dengan pemandangan dihadapannya.

Namja itu mengucek-ngucek matanya, berharap pandangannya masih terganggu efek baru bangun tidur. Tapi ia salah. Pemandangan itu nyata. Benar-benar terjadi di depan matanya.

“Yak! Ahjussi! Chankkanman!” seru Jongin sambil menghampiri para ahjussi yang sibuk mengangkuti barang-barang yang ada di rumah itu. Tapi tak ada satupun ahjussi yang mau mendengarkan Jongin dan menghentikan kegiatannya.

Saat itulah, mata Jongin tak sengaja menangkap sosok Cho ahjussi, pengacara kepercayaan appa-nya. Segera ia menghampiri Tuan Cho.

“Permisi, Cho ahjussi.” Sahut Jongin. Cho ahjussi menoleh pada Jongin dengan wajah prihatin.

“Tabahlah, Tuan Kim.”

Jongin mengerutkan alisnya bingung. Ia semakin dibuat tak mengerti. Tapi segera saja berbagai spekulasi buruk berputar di kepalanya. Ia mencoba menepis pikiran itu jauh-jauh.

“Apa yang terjadi, Cho ahjussi?” Tanya Jongin tak sabar. Ia mulai menatap kalut barang-barang di rumahnya yang sudah hampir semuanya diangkut keluar.

Cho ahjussi tak langsung menjawab.

“Dimana appa?” Jongin bartanya lagi. Ia tak perlu bertanya tentang eomma ataupun saudaranya yang lain, karena Jongin memang sudah tak memilikinya lagi.

Cho ahjussi masih belum menjawab.

“Ahjussi, jawab aku.”

“Mianhaeyo, Tuan Kim. Aku tak bisa membantu keluarga anda,” sahut Cho ahjussi dengan nada berat. Jongin tercengang. Berbagai spekulasi buruk yang sejak tadi berkelebat dalam pikirannya semakin nyata dalam benaknya.

“Apa maksud anda, Cho ahjussi? Apa yang terjadi? Dimana appa?” Jongin semakin kehilangan kesabaran.

“Mianhaeyo, Tuan Kim. Tapi mulai sekarang anda harus menghadapi semua ini sendirian,”

Kai tercengang tak percaya. Seluruh tenaga yang tersisa di tubuhnya terasa luruh seketika.

 

***

 

Jongin masih tak bergeming di sisi peron. Ia memandang tiket kereta jurusan Mokpo yang dipegangnya sedari tadi, sudah hampir 2 jam yang lalu.

Ia menghela napas berat. Betulkah hari ini benar-benar terjadi?

Tentu ia berharap ini hanya mimpi. Tapi bagaimana mungkin ini mimpi sementara Jongin sudah melalui semuanya semenjak 3 hari yang lalu?

Suara besar klakson kereta bergema dari jauh. Jongin menolehkan kepalanya ke arah suara itu bergema. Tampak olehnya kereta itu semakin berjalan mendekati peron yang dipijaknya. Waktunya untuk pergi.

Sesaat sebelum kereta itu benar-benar berhenti di depannya, ingatan akan semua masa lalunya berputar seperti rol film. Hidupnya yang dahulu. Sekolah di sekolah elit, berteman dengan kawanan sosialita muda, bebas melakukan apa saja yang ia suka, bahkan mungkin ia sudah lupa dengan kehidupannya sebagai seorang anak. Ia lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah. Rumah baginya hanya sekedar tempat beristirahat, bahkan ia tak merasakan ada cinta sedikitpun yang terpancar dari bangunan semi istana tersebut.

Karena sekarang sudah hilang. Semuanya sudah berbalik. Kini bahkan ia tak punya siapa-siapa lagi.

 

***

 

Jongin sudah tiba di depan sebuah rumah sederhana. Rumah itu terletak di salah satu desa kecil di Mokpo, desa yang bahkan baru sekali ini dipijaknya. Ia pun tak tahu sama sekali sebelumnya, bahwa desa ini adalah kampung halaman eomma-nya.

Dengan hati-hati ia membuka gerbang besi kecil yang sudah tampak tua dan rapuh itu. Daun-daun kering yang berserakan di halaman bergemerisik ketika sepatu Jongin menginjak hamparan daun berwarna coklat itu.

Sejenak ia memperhatikan cat berwarna broken white yang sudah mulai mengelupas di dinding rumah itu. Keadaan rumah itu sangat berbeda dengan keadaan rumahnya sewaktu di Seoul dulu. Betulkan ini rumah eomma-nya? Pantas saja, Jongin selalu mengingatnya sebagai wanita lemah lembut yang amat sederhana meskipun telah menjadi istri seorang jutawan.

Jongin mengetuk pintu kayu bercat coklat itu dengan pelan. 3 ketukan belum ada sambutan sama sekali, Jongin berinisiatif untuk mengeraskan suara ketukannya.

“Ne. Tunggu sebentar,” terdengar suara seorang yeoja dari dalam rumah itu. Tak lama kemudian ia membuka pintu itu dan tentu saja terkejut dengan sosok Jongin yang ditemuinya sebagai tamu.

“Nuguseyo?” Tanya yeoja sambil menatap Jongin lekat. Sepertinya ia takut-takut karena merasa baru sekali ini melihat sosok Jongin.

“Kim Jongin, imnida. Apa benar ini rumah keluarga Seo?” jawab Jongin sekaligus bertanya tentang kebenaran alamat yang ditujunya.

Yeoja itu mengangguk. “Apa benar kau Kim Jongin?”

“Ne. Tentu saja. Apa wajahku ini terlihat berbohong?” balas Jongin, sedikit kesal karena yeoja ini meragukannya.

“Arasseo. Tunggu sebentar,” sahut yeoja itu sambil masuk lagi ke dalam rumah.

Jongin mengeluh kecil pada tindak tanduk yeoja tadi saat menerimanya sebagai tamu. Mengapa tindakannya aneh? Tidak sopan sekali membuat tamu menunggu di teras seperti ini -_-

Tak lama kemudian terdengar suara langkah lagi menuju pintu. Saat Jongin menolehkan kepalanya ke arah pintu, saat itulah ia melihat bahwa yeoja tadi kembali lagi. Namun kali ini tidak sendiri. Ia kembali dengan memapah seorang halmeonni yang usianya sudah agak lanjut. Halmeonni itu memandangi Jongin lekat, membuat Jongin merasa agak jengah ditatap seperti itu.

“Kim Jongin?” Tanya halmeonni itu dengan suara yang agak bergetar.

“Ne.” jawab Jongin pelan.

“Selamat datang, cucuku..”

“Jadi halmeonni adalah nenekku?” Jongin membuka percakapan.

Saat itulah Seohyun datang sambil membawa secangkir coklat panas untuk Jongin.

“Ne, dan aku adalah noona-mu. Ehm, kakak sepupu sebenarnya. Appa-ku dan eomma-mu bersaudara,” Seohyun menjawab pertanyaan Jongin sambil meletakkan cangkir di meja.

Jongin menatap Seohyun. Pandangannya berubah menjadi sedih. “Mendiang eomma-ku, maksudnya?”

Seohyun melempar senyum pada Jongin lalu duduk di samping halmeonni. “Kau tak sendiri, Jongin-ah. Aku juga. Malah aku sudah tidak punya dua-duanya,”

Jongin langsung menutup mulutnya begitu ia mengerti apa maksud perkataan Seohyun. Ia melempar pandangan minta maaf pada noona barunya itu.

“Gwenchana. Nanti kau juga akan terbiasa,” sahut Seohyun ringan. “Oh ya, bagaimana dengan appa-mu? Apa kau sudah menjenguknya sebelum kau datang kemari?”

Jongin menggeleng pelan. “Aniyo. Belum.”

“Mwo?” mata Seohyun membulat besar. “Kau belum datang padanya untuk berpamitan?”

Jongin menggeleng lagi. “Rasanya aku tak sanggup. Biarlah Tuan Cho yang menyampaikan pada appa bahwa aku sudah berangkat ke Mokpo.”

“Ommona, Jongin-ah. Bagaimana mungkin kau tega tak menjenguk appa-mu? Ingat sekarang ia ada dimana?”

“Di penjara.” Jawab Jongin dingin. “Ia dipenjara karena terlibat kasus penipuan.”

Seohyun menggelengkan kepalanya prihatin. “Agaknya kau masih berpikir terlalu kekanak-kanakan. Semoga dengan tinggal disini kau akan menjadi lebih baik.”

“Ne. Aku harap begitu.” Sahut Jongin.

Sedari tadi hanya Jongin dan Seohyun yang berbicara. Sedangkan halmeonni tampak diam saja. Tampaknya beliau terharu karena baru sekali ini ia bertemu dengan Jongin, karena selama ini Jongin tinggal nun jauh di Seoul dan ini kali pertamanya menginjakkan kaki di Mokpo.

Setelah cukup lama berbincang, Seohyun menawarkan diri untuk mengantar Jongin ke kamar barunya. Kamar itu terletak di lantai 2, agak di pojok, sedikit jauh dari kamar terdekat yaitu kamar Seohyun sendiri.

“Kau bisa bereskan bajumu sendiri ke lemari, jjinja?” kata Seohyun setelah mereka tiba di depan pintu kamar Jongin.

“Ne, tentu saja. Kau kira aku semanja apa sampai tak bisa merapikan baju sendiri?” jawab Jongin sedikit tersinggung.

Seohyun tertawa kecil. “Aish, tak usah marah. Aku hanya menggodamu saja tadi. Mulai sekarang anggap aku noona-mu, arachi? Jadi kau tak usah sungkan padaku. Lagipula mulai sekarang kau akan tinggal disini, sampai nanti –entah kapan waktunya— kau kembali lagi ke Seoul. Kekeke..”

Jongin cemberut mendengar kata-kata Seohyun. Aish, yeoja ini punya niat bercanda atau menyinggung sebenarnya?

“Arasseo.” Balas Jongin cuek. “Sekarang bisakah kau meninggalkanku? Aku lelah, noona. Aku ingin tidur.”

“Mwo? Kau tidak mandi dulu? Aish, kau jorok sekali rupanya,” keluh Seohyun sambil berakting kebauan dan menutup hidungnya.

“Yak, tentu aku akan mandi dulu! Aish, noona ini bagaimana.” Keluh Jongin. “Makanya sekarang noona pergi, supaya aku bisa lekas mandi dan noona tidak kebauan.”

“Arasseo.” Balas Seohyun senang.

Jongin dan Seohyun baru saja bertemu dan menemukan fakta bahwa mereka bersepupu. Namun entah mengapa mereka sudah merasa cepat akrab.

“Ne. Jangan lupa besok bangun pagi!” seru Seohyun sebelum melangkah pergi.

“Mwo?” Tanya Jongin heran.

“Karena mulai besok, kau sudah sekolah. Untuk hari pertama, aku akan mengantarmu. Jadi, jangan terlambat, ne!” seru Seohyun sekali lagi sambil mulai melangkah pergi.

“Mwo?! Sekolah?! Noona, aku baru saja tiba disini, mengapa sudah mulai masuk sekolah? Noona! Yak, noona!”

 

***

 

Pagi itu lingkungan di sekitar mereka masih tampak basah oleh embun semalam. Jongin melangkahkan kakinya malas-malas. Sejujurnya ia juga agak kepayahan mengejar langkah Seohyun yang kelihatannya bersemangat sekali akan mengantar Jongin ke sekolah barunya pagi ini.

Seohyun menolehkan kepalanya pada Jongin. “Jongin-ah, ppaliwa!”

“Sabar, noona. Aish, noona bawel sekali,” balas Jongin sambil tetap melangkah dengan kecepatan yang tidak berubah. Ia melirik jam tangannya. Aigoo, ini masih jam setengah tujuh? Biasanya bahkan ia masih tidur jam segini. Sekolah lamanya di Seoul memang menerapkan aturan jam masuk pukul 8.

“Nanti kau akan terlambat. Kita kan harus menghadap kepala sekolah dulu sebelum kau masuk,” sahut Seohyun.

“Arasseo.” Balas Jongin tak minat. Aigoo, sudah berapa jauh ia berjalan? Mengapa rasanya ia tak sampai-sampai?

Sepuluh menit kemudian mereka akhirnya tiba di depan sebuah bangunan besar.

Ini sekolah? Pikir Jongin sangsi. Ia meneliti bangunan yang menurutnya punya desain aneh untuk ukuran sekolah itu.

“Sekolah apa ini? Mengapa tampak seperti museum?” Tanya Jongin frontal pada Seohyun.

Seohyun melotot pada Jongin, mengisyaratkan ia harus diam karena mereka mulai memasuki gerbang sekolah tersebut.

Sekolah itu tidak memiliki satpam. Jongin hanya melihat 2 orang tukang kebun yang sedang menyapu halaman sekolah memperhatikan dirinya dan Seohyun yang sedang berjalan melintasi halaman. Jongin bergidik sendiri tanpa sebab yang jelas ketika balas menatap kedua penjaga kebun itu. Tak mau semakin memperburuk perasaannya, Jongin memutuskan acuh dan terus mengikuti langkah noona-nya saja.

Mereka mulai melangkah melewati koridor-koridor besar yang letaknya horizontal. Jongin melihat beberapa foto murid berbingkai dipajang di dinding sepanjang koridor itu. Anehnya, kesemuanya adalah foto murid yeoja. Bahkan fotonya berbentuk foto formal semua, hampir dari semua potret itu tak menampakkan senyum. Wajah mereka datar.. Aish, Jongin bergidik lagi.

Ia memperhatikan koridor itu dengan perasaan was-was. Jongin merasa ada yang tak beres dengan sekolah ini. Namun apa ya kira-kira?

Jongin agak kaget saat Seohyun tiba-tiba berbelok. Yeoja itu menaiki tangga dengan ekspresi yang biasa-biasa saja. Seakan sudah mengenal betul seluk-beluk sekolah ini.

Apa jangan-jangan Seohyun pernah bersekolah disini dulu? Tapi, bukannya semalam ia bilang kalau ia juga pendatang di desa ini? Ia pindah dari Daegu setelah kehilangan keluarganya.

Jongin tak mau ambil pusing dengan asal-usul noona-nya. Yang penting ia sudah merasa keterikatan batin dengan noona-nya ini, itu sudah cukup meyakinkan Jongin bahwa ia memang punya hubungan darah dengan Seohyun.

Jongin baru tersadar jika selama tadi ia menaiki tangga melingkar. Jongin tampak kaget, dan ia menatap lantai bawah. Sudah tinggi sekali! Jongin kapok sudah melihat ke bawah.

Pendakian mereka berhenti di salah satu lantai. Jongin melihat bahwa tangga menuju lantai yang lebih atas lagi masih ada, tapi rasa penasaran Jongin tak mau membuatnya ingin tahu. Ia sudah cukup punya rasa tak enak pada sekolah ini. Ditambah lagi ia anak baru, jadi rasanya tak baik saja jika ia sudah berani menjelajahi sekolah aneh ini sendririan. Lagipula siapa yang mau menemaninya ke lantai atas?

Seohyun berhenti di sebuah pintu besar dengan plang yang tergantung di salah satu daun pintunya. Ruang kepala sekolah.

Seohyun mengetuk pelan pintu itu, lalu terdengar deheman dari ruang dalam. Mungkin itu isyarat mereka diperbolehkan masuk, sebab Seohyun langsung memutar knop pintu tersebut dengan yakin.

“Silahkan masuk,”

Guru yeoja itu tersenyum ramah pada Jongin sambil membuka pintu ruangan sebuah kelas. Kelas 12.

Jongin melangkah ragu-ragu memasuki kelas itu. Hening. Benar-benar hening.

Jongin menatap teman-teman sekelasnya yang sedang terduduk rapi dikursi masing-masing. Jongin nyaris melongo kaget. Sebegitu tertibnya kah anak-anak sekolah ini? Bahkan di waktu senggang menunggu kedatangan guru pun mereka tidak ada yang bermain-main. Mereka tampak sangat teratur dan tertata.

Tapi ada yang aneh.. Mengapa mereka semua menunduk?

“Annyeong haseyo,” sapa guru itu pada anak sekelas.

Satu persatu dari mereka mulai mengangkat wajah. Jongin menghela napas lega. Ah, syukurlah mereka bukan zombie.

Mereka memang bukan zombie, tapi raut wajah mereka datar sekali. Seakan-akan mereka sama-sama sedang stress berat dan tak ada gairah sama sekali untuk tersenyum. Tiba-tiba Jongin jadi teringat pada foto-foto yang dipajang di koridor lantai bawah tadi.

“Annyeong haseyo, seonsaengnim..” balas mereka kompak, namun dengan nada suara yang lemah sekali.

Apakah mereka berbisik?

“Hari ini kalian akan mendapatkan teman baru. Dia pindahan dari Seoul. Daebak, jjinja?” sahut seonsaengnim itu ramah. “Nah, sekarang giliranmu untuk memperkenalkan diri,”

Jongin memajukan langkahnya 2 cm. Ia menatap canggung teman-temannya yang juga sedang menatapnya.

“Annyeong haseyo, chingudeul.” Sahut Jongin canggung. “Kim Jongin, imnida. Aku pindah dari Seoul kemarin, dan hari ini aku sudah mulai masuk sekolah. Bangap seumnida.”

Jongin membunguk sebagai akhir dari tanda perkenalannya. Beberapa temannya tampak tersenyum tipis, tapi tak ada seorangpun yang memberinya tepuk tangan. Jongin sedikit kecewa.

“Nado bangapta, Jongin-ya.” Balas seonsaengnim itu, sedikit memperbaiki suasana hati Jongin.

“Naneun Kwon Yuri, imnida. Selamat datang di sekolah ini. Semoga kamu menikmati hari-hari barumu di sekolah ini,” lanjut seonsaengnim itu. Kwon seonsaengnim.

Jongin tersenyum tipis.

“Arasseo. Sekarang kau duduk di kursi dekat jendela itu, arachi? Di samping Oh Sehun,” sahut Kwon seonsaengnim sambil menunjuk salah satu kursi kosong di sisi jendela. Barisan nomor 2 dari depan.

Jongin menurut. Ia berjalan menuju kursi itu, lalu duduk. Sejenak ia memperhatikan chingu yang ada di sekitarnya. Terutama namja di sampingnya, Oh Sehun. Namja itu hanya terdiam tanpa ekspresi berarti ketika Jongin duduk di sampingnya.

Lalu ia mengedarkan pandangan pada chingu lain yang ada di kelas itu. Mereka mulai mengeluarkan buku masing-masing dengan suara yang amat sangat tenang. Mungkin di bawah 40 desibel. Bahkan yang saling berbisik pun tak ada. Kwon seonsaengnim sudah mulai menggoreskan kalimat di papan tulis, para murid pun mulai memperhatikan apa yang sedang diterangkan oleh Kwon seonsaengnim.

Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang gadis berkursi roda yang duduk di deretan terdepan, tepat di depan papan tulis. Raut yeoja itu tampak agak berbeda dari raut anak yang lain. Masih Jongin rasakan aura keramahan dari yeoja itu, walau saat perkenalan tadi ia juga sama diamnya dengan anak yang lain.

Sekolah apa ini?

Jongin memandang jendela yang ada di samping kirinya.

 

 

~ TBC ~

 

Segini dulu, ne?

Mian kalo kependekan, tunggu aja lanjutannya di next chapter :D

Doakan agar next chapter bisa cepat di post ;)

RCL ditunggu~

Bagi yang mau ff ini berlanjut, harap comment~ biar author juga jadi semangat buat ngetik next chapternya ^^

Gumawo ^_^

 

About these ads

32 thoughts on “The Cursed School | Part 1

  1. Waw sekolah apa itu ?
    Horror…
    Ih g kbyng dc gmn prasaan Kai dsna, ,
    q smpet ktwa pas Kai bilang “syukurlah mereka bkn zombie”, , hehe trnyta pikirn Kai nympe situ ya, mngkin sking paranoidy’ kali ya, ,he
    bkal betah g ya dy ?
    Skolah yg penuh misteri, ,
    oke dc, q lnjt bca ya,
    tetap smangat…^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s