Truly, I Love You (chapter 2)

truly-i-love-you-kanemin-storyline

Title : Truly, I love You

Author : Kanemin

Main cast : Do Kyung Soo (D.O), Sakura (OC)

Support Cast : Exo-K member, Chen (Exo-M), EunYeol

Length : chapter

Genre : Romance, Married Life

Poster by : http://cafeposterart.wordpress.com

Disclaimer: semua cast sesungguhnya adalah milik Tuhan, saya hanya sebatas meminjam :)

Sorry for the typo, haha saya hanya manusia biasa yang terkadang banyak salah. Enjoy everyone.

Chapter - 2

 

“cobalah, dan kau akan mengerti… .”

-0-

Walau tak banyak yang harus dibereskan, sakura tetap sibuk pagi itu. Ia memasukkan kembali baju-bajunya kedalam koper hijaunya, dia juga mengecek keadaan kameranya yang selama ini terbengkalai, bodohnya, ia tidak membawa kamera itu  kemarin sehingga tidak ada foto ketika dia memakai gaun pengantin yang sangat cantik itu yang diabadikan. Siang ini rencananya, ia dan D.O akan tinggal di rumah pribadi mereka, padahal dengan tinggal bersama di rumah keluarga Do setidaknya ia masih bisa sedikit mengurangi rasa canggung sakura terhadap D.O, laki-laki itu masih saja tidak mau berbicara dengannya, hal itu sedikit mengganggu sakura. “pelit banget suara dasar.” Kalau sudah menggerutu, ia lebih memilih menggunakan bahasa indonesia, menurutnya masih banyak kosakata korea yang belum diingatnya.

Di tempat lain, D.O juga membereskan baju-bajunya, dan beberapa mainan robotnya. Dia tidak mengindahkan kehadiran kakaknya yang sejak pagi sudah tidur-tiduran di kasurnya dan mengomentari banyak hal. D.O duduk di meja belajarnya, mengepak buku-bukunya ketika Yui mulai berbicara dengan nada yang serius. “kyungsoo-ya.” Panggilnya.

“hm.” jawab D.O masih cuek.

“noona ingin bicara serius padamu, dengarkan baik-baik.”

Hening.

“sakura-ssi, dia sendirian disini. Dan sejak kemarin, kau yang sudah bertanggung jawab penuh atas dirinya, kau suka atau tidak, senang atau tidak, ingin ataupun tidak ingin, kau harus melibatkan dirinya disetiap keputusan yang kau ambil. Kau juga harus memikirkannya, di setiap perkataan yang kau ucapkan, kau juga harus menjaganya dimanapun dia berada. Aku tahu kalian masih sama-sama kecil, tapi kau adalah laki-laki, eomma, abeoji dan aku sudah tidak bisa lagi mencampuri urusan kalian berdua. Tapi, kalau sampai aku melihatnya bersedih, kau adalah orang pertama yang akan kucari dan kuadili. Ingat itu.”

Tahu tidak akan mendapat respon dari adiknya, Yui memutuskan langsung keluar setelah memberikan nasihatnya. D.O hanya menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan, tanggung jawab? Apakah noona tidak sadar dia begitu membenci ini? batin D.O

“sering-seringlah berkunjung kemari kalau kau merasa kesepian, eomma akan selalu ada untukmu.” Lagi nyonya Do memeluk sakura dengan sayang, semua barang yang akan dibawa oleh mereka sudah masuk kedalam mobil tuan Kim, sedangkan D.O akan menyetir mobilnya sendiri bersama sakura.

“hey tuan muda, abeoji masih tak percaya kau sudah sebesar ini, jaga istrimu baik-baik, mengerti?” tuan Do memeluk anak laki-lakinya dan menepuk lembut bahu D.O.

Dengan senyum canggung dan anggukan samar D.O menjawab pertanyaan ayahnya, ia juga memeluk eommanya, dan juga Yui, “ingat pesanku ya tampan.” Kemudian Yui mencubit pipi adiknya yang di balas dengan tatapan sinis D.O

Setelah memberikan salam penghormatan mereka memasuki mobil, sakura seperti biasa masih ingin melambai-lambai pada orang tua baru nya dan juga eonninya tapi D.O sudah menstarter mobilnya pertanda ia ingin segera berangkat. “apa kau tidak sedih meninggalkan rumah ini? aku kan masih ingin melihat mereka lebih lama.” Gerutu sakura saat memasuki mobil.

Tentu saja, D.O tak pusing untuk  menanggapi ocehan sakura. Dasar gadis berisik, batinnya.

Sakura’s POV

Dasar patung! Baiklah, jadi aku menikahi patung? Eh? Maksudku, tentu saja aku masih belum menerima pernikahan dadakan ini sepenuhnya. Tapi, tapi ya benarkan aku sudah menikah dengannya, dan sekarang, hm ani beberapa saat lagi akan tinggal bersama dengannya dalam satu rumah. Kutegaskan lagi. tinggal berdua. Dalam satu rumah. Hanya berdua. Ha-nya-ber-du-a. argh! Aku pasti akan cepat menua karena menghadapinya.

Aku memutuskan untuk menatap keluar jendela, setidaknya langit seoul yang biru ini membuat perasaanku lebih baik. Aku membuka kaca mobil dan dengan penuh konsentrasi ‘jepret.. jepret.. jepret.’ Ku abadikan jalanan seoul yang padat namun lancar. “kau beruntung tinggal disini kyungsoo-ya. Kalau saja kau pernah ke negaraku, ah pasti kau kaget.” Aku berbicara padanya, ani maksudku hanya pada raganya, entahlah jiwanya ada dimana. Yang kulihat tatapan matanya menerawang ke depan. Mungkin dia terlalu fokus menyetir. Atau malas menanggapiku? Kurasa yang kedua lebih tepat. Dasar patung!

D.O’s POV

Berisik! Kenapa dia begitu berisik? Dia suka sekali  menggerakkan kakinya, membuka kaca jendela dan memotret dengan kamera putihnya itu.

Dan sialnya aku akan tinggal satu atap dengannya, ah dia bagaikan titisan Yui noona, sama-sama berisik. Aku mendengar dia mengatakan sesuatu, tapi aku tidak peduli ataupun berusaha peduli, “rumahnya nanti seperti apa kyungsoo-ya? Apakah besar? Atau minimalis?” Dia bertanya lagi, padaku tentu saja. Dengan malas aku hanya menjawabnya dengan mengangkat samar bahuku.

“ah membosankan. Susah sekali bertanya padamu.” Keluhnya, apa? Dia, gadis Indonesia ini, yang baru beberapa hari yang lalu datang sudah berani mengeluhkan sikapku? Cih, benar-benar.

Author’s POV

Sakura benar-benar jengkel dengan sikap dinginnya D.O, mungkin laki-laki itu akan menghitung setiap kata yang diucapkan kemudian akan meminta bayaran pada sakura, membayangkannya membuat sakura menatapnya geli dan bergidik. Ia kemudian mengingat perkataan ibunya di telepon. “kamu kenal dia, kamu hanya nggak ingat.” Mengenalnya? Pikir sakura, bagaimana mungkin ia bisa mengenal laki-laki seperti ini. apa mungkin sepuluh tahun lalu aku memang pernah mengenalnya sebelum aku lupa segalanya? Batin sakura. Tanpa ia sadari, ia menatap D.O dengan seksama membuat laki-laki itu sedikit risih.

Merasa sedang di tatap dengan intens oleh sakura membuat D.O merasa tidak nyaman. Gadis ini pasti akan menyulitkan hidupnya kedepannya, pikir D.O. Dia kembali mefokuskan diri pada jalanan di hadapannya, sebentar lagi mereka akan sampai.

-0-

Kedatangan mereka disambut oleh seorang ahjumma yang berumur sekitar pertengahan 40an, sakura tersenyum ramah dan berbanding terbalik dengan D.O yang langsung saja melengos menaiki tangga, sakura menatapnya sebal. “annyeonghaseyo ahjumma, saya sakura.” Dengan riang sakura menyapa ahjumma tersebut.

“saya Kang Mira, saya yang akan membantu agasshi dan juga tuan muda untuk mengurusi rumah ini,” dengan suara nya yang keibuan, ahjumma Kang memperkenalkan  dirinya. “tapi agasshi, saya hanya akan disini sampai sore hari.”

Sakura mengangguk-anggukan kepalanya. “baiklah.” Dan dia tersenyum lagi, ahjumma Kang ikut tersenyum melihat sakura, gadis ini terlalu bersinar bila dibandingkan dengan Tuan muda nya. Ahjumma Kang mengangkut barang-barang dari mobil sedangkan sakura sudah menaiki tangga untuk menuju kamarnya.

Lagi, sakura dan D.O bersebelahan kamar, mereka belum diizinkan untuk tinggal di dalam ruangan yang sama karena keduanya masih sama-sama di usia sekolah,  rumah berlantai dua itu cukup luas untuk hanya di tinggali oleh mereka berdua, lantai pertama lengkap dengan ruang tamu, ruang tv, ruang makan, dapur, dan juga pintu menuju halaman belakang. Sedangkan di lantai dua, hanya ada dua kamar bagi sakura dan D.O, tidak ada ruangan lain di lantai tersebut hanya saja ada sofa panjang, karpet tebal dan bantalan besar  juga tv di pojokkan dan seperangkat playstation,  dan sejurus kemudian dapat dilihat balkon yang cukup luas yang menghadap ke halaman belakang. Sakura membidikkan kameranya ke segala penjuru di lantai tersebut.

Dia melongok sebentar isi kamarnya, “joha.” Pekiknya senang, ‘jepret’ kemudian ia berlari kecil turun untuk mengabadikan ruangan-ruangan lain di rumah barunya itu.

D.O merebahkan tubuhnya di kasur. Suasana baru, dan dia membenci hal itu. D.O tidak pernah menyukai sesuatu yang baru baginya, suasana baru, rumah baru, status baru, dan orang baru? sepertinya yang terakhir tidak. Pikir D.O, sakura bukan orang baru baginya, mungkin dialah orang baru bagi sakura, tapi apa aku harus peduli? Batin D.O, dia menggelengkan kepalanya dan memutuskan keluar kamar. Balkon di rumah barunya itu cukup menarik perhatiannya, ada pot-pot kecil di sekeliling pagar balkon yang membuat nuansanya tidak terlihat gersang, D.O menatap halaman belakang rumah barunya itu, “lumayan juga.” Komentarnya. Kemudian ia mengalihkan pandangannya dan mendapati sakura yang sedang berjongkok, berdiri, berjongkok lagi, kemudian merebahkan tubuhnya di rerumputan. Dilihatnya juga sakura tertawa senang ketika menatap layar di kameranya, “dasar aneh, apa dia harus sesenang itu?” dengan ketus ia mengomentari tingkah sakura, D.O menggeleng-gelengkan kepalanya heran  kemudian kembali masuk.

-0-

 

Ahjumma Kang sudah menyelesaikan segala tugasnya dan sudah pamit pulang beberapa saat yang lalu, sakura sendiri juga sudah selesai merapikan kamarnya. Ia turun kebawah untuk membuat makan malam, bukan benar-benar membuatnya  sendiri, tadi ahjumma Kang yang sudah memasak dan sakura hanya sebatas menghangatkannya lagi. saat sampai di dapur, dia mendapati D.O yang sedang mengambil minuman di kulkas. “sore Kyungsoo-ya, apa kau lapar? Aku lapar, kau mau kuhangatkan juga makanan untukmu?” Tanyanya dengan nada yang ceria, nada seorang sakura.

“ani.” Jawab D.O pendek dan segera berlalu naik lagi kekamarnya.

Sakura memonyongkan bibirnya. Dia menatap gemas laki-laki itu, walaupun jawaban ‘ani’ sudah menjawab segala pertanyaannya, tetapi tetap saja sakura kesal karena mendapat jawaban yang ‘terlalu’ pendek. Dia mengangkat bahunya dan melanjutkan kegiatannya menghangatkan makanan.

D.O memutar-mutar handphone nya, kemudian dihubunginya sebuah kontak yang sudah ada disana. “Kim ahjussi, dia akan berangkat sekolah bersamamu. Setiap hari. Ne, kamsahamnida.” Diputusnya sambungan singkatnya kepada sopir keluarganya itu dan D.O langsung merebahkan dirinya di kasur. Dia tidak mau seisi sekolah tahu tentangnya dan sakura, dan besok dia juga harus mengancam teman-temannya untuk tutup mulut. Dan dengan membuat sakura di antar oleh tuan Kim maka tidak akan ada yang curiga, D.O menutupi wajahnya dengan bantal. “cepat atau lambat, hidupku akan menjadi  lebih sulit karena gadis itu.” Gumamnya samar.

Kicauan burung gereja sudah meriah sejak matahari mulai meninggi, namun tak semeriah kondisi sakura yang ternyata terlambat bangun di hari pertamanya masuk sekolah dan dengan sangat tergesa-gesa merapikan dirinya, ia memakai seragam sekolah barunya yang kemarin di berikan oleh Kang ahjumma, ia mengencangkan dasi pitanya, menguncir tinggi rambut curly coklatnya, dan mengoleskan tipis lipglos warna punchnya. “perfect.” Sakura menggendong tasnya dan tak lupa menyangkutkan kamera putihnya di leher.

Dia berlari kecil menuruni tangga, “kyungsoo-ya mianhaeyo, kaja.” Teriaknya, sebenarnya yang membuatnya tergesa-gesa selain karena bangun kesiangan adalah ia takut D.O akan marah karena lama menunggunya, dalam keadaan normal saja dia menyeramkan apalagi marah? Benak sakura. Ketika dirinya mencapai meja makan, di sana hanya ada Kang ahjumma yang sedang membereskan sisa sarapan. “kyungsoo, eoddiyeo?” tanyanya.

“tuan muda sudah berangkat beberapa saat yang lalu agasshi, dan anda akan diantar oleh Tuan Kim.” Ahjumma menunjuk pintu depan yang terbuka dan disana sudah berdiri tuan kim yang sedang tersenyum ramah.

Sakura seketika memberengut dan kehilangan sepersekian persen semangatnya, ia tak menyangka bahwa kyungsoo akan sangat begitu tidak ingin pergi bersama dengannya. “aku pergi ahjumma,” pelan ia berkata pada kang ahjumma.

“anda tidak sarapan dulu agasshi?”

“tidak. Aku tiba-tiba saja tidak lapar. Aku berangkat ahjumma.” Sakura menghela nafas keras dan berjalan keluar rumah.

 

“namamu hanya Sakura?” Tanya Seonsangnim di hadapan sakura, sakura mengangguk. “track nilai mu bagus, kau juga lulus ujian bahasa korea mu dengan nilai yang menakjubkan, Indonesia?” tanyanya lagi.

Sakura tersenyum dan mengangguk. “baiklah, kau akan ke kelasmu bersama Lee hyun, wali kelasmu.”

“sakura?” seorang laki-laki yang tidak begitu tua menghampiri sakura. “saya Lee hyun, ayo kita ke kelas.” Ajaknya.

Sakura menunduk hormat pada seonsangnim di hadapannya, dan mengikuti Lee seonsangnim yang sudah berjalan lebih dulu.

Suasana kelas berubah hening ketika Lee seonsang masuk dan diikuti oleh wajah baru, “silahkan perkenalkan dirimu.” Ucapnya pada sakura.

Sakura menelan ludahnya, dan menatap yakin wajah-wajah baru di hadapannya, “annyeonghaseyo, sakura imnida, Indonesia saram imnida, bangapseumnida.” Dan dia mengakhiri perkenalannya dengan membungkuk hormat.

“nah sakura, kau bisa duduk di bangku yang kosong disana.” Lee seonsang menunjuk bangku kosong di pojok belakang. Sakura segera berlalu menuju bangkunya.

“annyeong.” Sapa seorang gadis yang duduk tepat di depan sakura, “aku Cha EunYeol.” Gadis itu langsung memperkenalkan dirinya. Sakura yang awalnya kaget langsung membalasnya dengan senyuman. “nanti siang makan denganku ya?” pinta gadis itu.

Dengan anggukan samar, sakura mengiyakan permintaan teman barunya itu. teman? Sepertinya iya, pikir sakura.

Jam istirahat makan siang selalu digunakan D.O untuk pergi ke halaman belakang sekolahnya, menatap lapangan baseball disana, dan menunggu sampai saatnya ia harus masuk kembali ke kelas. Kebiasaan yang aneh, dan semua sahabat-sahabatnya tahu itu, kadang mereka juga ikut bergabung, tetapi kadang mereka lebih memilih ke kantin dan menggoda gadis-gadis disana. Chanyeol, Kai, Baekhyun, sehun dan D.O adalah atlet baseball sekolah mereka, dan berkat kelima orang tersebut olahraga baseball menjadi salah satu yang sangat di unggulkan oleh sekolah tersebut. Suho tidak ikut bergabung, dia lebih memilih hanya menjadi pendukung bagi teman-temannya.

“pasti kau disini.” Sebuah suara membuat D.O menoleh, ternyata Chanyeol. Di belakangnya juga beruntutan teman-temannya yang lain.

D.O hanya membalasnya dengan senyuman samar. “tadi aku melihat sakura, ternyata dia sekolah disini juga ya? Apakah baik-baik saja? Kalau ketahuan anak-anak yang lain bagaimana ya nasibnya? Haha” Tanya baekhyun tiba-tiba dan tertawa dengan tiba-tiba juga.

“jangan sampai ada yang tahu kecuali kalian di sekolah ini. kalau sampai tersebar, kalianlah yang akan tidak baik-baik saja.” Ancam D.O dingin.

Bukannya takut, Baekhyun cs malah menertawakan D.O. laki-laki itu benar-benar tidak punya rasa humor sedikitpun, pikir baekhyun.

“kau benar-benar D.O-ssi, benar-benar terlalu serius.” Sindir Kai. Rasa humornya yang tinggi memang sangat berbanding terbalik dengan D.O

Mendengar tanggapan sahabatnya itu, D.O hanya berdecak kesal dan bangkit dari tempat duduknya kemudian berlalu dalam diam.

 

Di tempat yang sama, di belakang sekolah, dari sudut yang berbeda, sakura juga sedang mengamati lapangan baseball di hadapannya di temani EunYeol yang sedang sibuk menjelaskan tentang berbagai sudut sekolah. Hanya beberapa bagian yang sakura dengar, sisanya ia hanya sibuk merasa takjub dengan lapangan di hadapannya, ia menyukai olahraga baseball, hanya menyukai. Ayahnya yang pernah belajar di Amerika adalah atlet baseball di sekolahnya. Dan sakura menyukai baseball karena itu, sakura juga sering menonton pertandingan baseball bersama ayahnya yang di siarkan di tv kabel di rumahnya.

“sakura.” Eunyeol mengibaskan tangannya di depan sakura. “ah kau tak mendengarkanku ya?” dengan nada kecewa ia berkata pada sakura.

“ani.” Sakura langsung berdiri di hadapan eunyeol dan menatap teman barunya itu. “aku mendengarkanmu  eunyeol-ah..” sedikit. Tambah sakura dalam hati, ia tersenyum pada eunyeol.

“untung kau manis.” Kata eunyeol kemudian, ia memang sulit marah pada orang dengan wajah manis seperti sakura, dan dia sudah mengatakannya tadi yang mungkin tak di dengar gadis itu. “Ah ngomong-ngomong, kau suka fotografi ya?” eunyeol melihat kamera yang tergantung di leher sakura.

Sakura mengangguk dengan semangat hingga kuncir rambutnya bergoyang-goyang. “sangat. Kalau suatu saat nanti kebenaran terungkap dan ternyata aku punya dua nyawa, pasti salah satu nya adalah kamera ini.”

Eunyeol menatap heran mendengar jawaban sakura, kalau itu memang bisa di sebut sebagai jawaban. “kau unik juga murid pindahan.” ujarnya.

Dan mereka tergelak bersama.

-0-

Dengan riang sakura memasuki rumah, dia sudah mengabadikan banyak foto di sekolah barunya bersama teman-temannya. Tas merahnya bergemerincing pelan karena gantungan boneka berlonceng yang ada disana. Ketika melongok ke dapur, ad D.O disana yang sedang menikmati makanannya. Diam-diam sakura membidikkan kameranya, setelah mendapat angel yang cukup bagus dia menahannya sebentar dan ‘jepret.’ D.O yang sedang menyuapkan makanan ke mulutnya, terabadikan dengan baik di kamera sakura. Mengendap-endap sakura menuju ruang makan, terbayang-bayang skenario licik untuk mengagetkan D.O ‘kalau dia tidak kaget, berarti dia bukan manusia.’ batinnya.

Pelan. Pelan. Dan………

“DORRRRRRRR.” Teriaknya kencang.

‘prang!’

D.O cuek masih dengan tenang melanjutkan makannya, sedangkan ahjumma Kang yang justru terkaget-kaget hingga memecahkan sebuah piring yang sedang di cucinya, “ahjumma, gwenchana?” sakura menghampiri ahjumma Kang dan membantunya memunguti pecahan beling.

“agasshi gwenchana, nanti tangan anda terluka.” Ahjumma Kang menyingkirkan halus tangan sakura yang mulai menyentuh pecahan piring.

“tapi ini gara-gara aku.”

“tidak apa-apa nona, reaksi saya saja yang terlalu berlebihan. Sebaiknya nona makan saja terlebih dahulu.”

Walau masih merasa tidak enak, sakura tetap berlalu ke meja makan. “padahal aku niatnya mengagetkanmu tau.” Ucapnya pada D.O yang masih sibuk menikmati makanannya.

“Kyungsoo-ya, kau tahu sesuatu?” sakura menyangga wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia menatap D.O dengan serius. “Hari  ini aku benar-benar senang, aku punya teman baru namanya eunyeol, Cha Eunyeol, dia gadis pertama yang menyapaku, dia duduk di depanku dan tadi saat istirahat aku dan dia—“

“aku selesai, ahjumma.” D.O mengelap mulutnya dengan serbet, memundurkan kursinya, berdiri dan berjalan menuju tangga.

“hah? Aku belum selesai cerita kyungsoo-ya,” panggil sakura. Dia menatap tidak percaya pada laki-laki itu, bahkan sejak ia masuk ke rumah dan sampai duduk di hadapannya, D.O tidak sekalipun melihatnya, bahkan meliriknya.  Sakura meniup poninya, “padahal intro dari ceritaku saja baru dimulai.” Ucapnya lesu.

Sakura sudah tahu dia tidak akan mendapatkan tanggapan lebih dari D.O, baginya ia hanya ingin bercerita mengenai harinya seperti yang biasa ia lakukan pada ibu-nya, mungkin Kang ahjumma bisa menjadi pendengar yang lebih baik tetapi dia hanya ingin seorang  D.O yang mendengar ceritanya, mendengar keluh kesahnya, bahkan sakura tidak segan menumpahkan tangisnya di hadapan D.O, di depan laki-laki selain ayahnya. Dia sendirian di korea dan sejak dirinya dan D.O hanya tinggal berdua di rumah ini. baginya, D.O lah satu-satunya orang yang bisa dia percaya. Walaupun banyak orang baik lainnya di sekitarnya, tapi hanya D.O yang boleh mendengar ceritanya. Dan sekalipun D.O tidak menanggapi ocehannya, sakura tetap akan bercerita, karena dia hanya punya D.O di rumah ini.

Sebelum masuk ke kamarnya, sakura menyempatkan diri untuk menatap  pintu kamar D.O sejenak, “walaupun kau tetap bersikeras mendiamkanku, aku juga tetap akan bersikeras bercerita padamu. Do KyungSoo-ssi.” Dan dia masuk ke kamarnya.

D.O memilah-milah kaset playstation yang akan di mainkannya malam itu, sejujurnya dia sedikit malas bermain karena tv dan juga perangkat lainnya ada di luar bukan di kamarnya, dan dia juga malas kalau sampai nanti sakura keluar dari kamarnya dan mengganggunya seperti tadi sore.

Setelah mendapat kaset yang pas, D.O segera keluar dari kamarnya dan segera mencari posisi yang nyaman di karpet depan tv. Dan ketika dia mulia bermain, tidak ada hal lain lagi di dunia ini yang menurutnya lebih baik.

Sudah 2 jam lebih D.O bermain dan dia belum sedikitpun merasa bosan. Bermain sendiri kadang selalu lebih baik di banding dengan beradu bersama teman-temannya yang juga sering datang ke rumahnya yang lama dan bermain.

“kyungsoo-ya.” Tiba-tiba saja sudah ada suara di belakangnya, dan di lihatnya sakura yang sudah memakai piyama beruangnya yang terlihat sangat kekanak-kanakkan dan di lapisi lagi dengan jaket tebal dengan tudung. “kau ternyata suka bermain playstation juga ya, oh apa kau ingin makan atau meminum sesuatu? Tadi aku ingin membuat susu dan kulihat kau disini, apa kau mau susu juga?” tanyanya antusias seperti biasa.

“tidak.” Dengan cepat D.O menjawab. Dia masih terkonsentrasi pada permainannya dan dia juga ingin agar sakura tidak berlama-lama di situ.

“baiklah, kalau kau mau bilang saja ya.” Sakura kemudian berlari kecil menuruni tangga.

Beberapa saat kemudian sakura sudah naik lagi dengan gelas susu di tangannya, “kalau kau mau juga segera bilang ya, dan selamat malam KyungSoo-ssi.”

Deg!

Ada sesuatu yang samar-samar di dalam hati D.O yang tiba-tiba saja tergelitik dan muncul begitu mendengar ucapan terakhir sakura. Gadis itu sudah masuk ke kamarnya tadi, dan dengan alis berkerut dia melihat pintu kamar sakura yang sudah tertutup. Dia bingung kenapa gadis itu tidak marah saja karena didiamkan olehnya dan kenapa gadis itu masih bisa mengucapkan selamat malam pada orang yang selalu bersikap tidak bersahabat padanya. Cuek D.O mengangkat bahunya dan melanjutkan permainannya.

-0-

Hari berganti hari menjadi minggu dan jika dihitung sudah satu bulan berlalu sejak sakura menginjakkan kakinya di korea, hingga saat ini hubungannya dengan D.O masih kaku dan berjalan di tempat, artinya D.O masih saja tidak menanggapi ocehan sakura dan sakura masih juga bersikeras tetap berbicara pada D.O, setiap makan malam, sakura selalu bertanya apa yang ingin D.O makan, tapi laki-laki itu hanya menanggapinya dingin.

“oke. Apapun yang akan kubuat, kau harus memakannya ya.” Ucap sakura, selama ini dia juga mulai belajar memasak beberapa makanan korea dari Kang ahjumma.

Walaupun D.O tidak mengatakan sepatah kata pun, dia tetap memakan makan malam yang sudah dibuatkan sakura. Karena tidak ada pilihan lain, lagipula selama ini di rumahnya yang lama, eommanya juga tidak pernah bertanya apa yang ingin ia makan, karena apapun yang tersaji di meja makan, tanpa banyak bicara D.O tetap akan memakannya, tapi tidak dengan sakura. Gadis itu selalu bertanya apa yang ingin dia makan. Apa yang ingin dia minum. Apa yang ingin dia lakukan. Seakan semua hal yang diinginkan  D.O menjadi sangat penting bagi sakura untuk diketahuinya.

Sakura’s POV

Dia masih saja dingin padaku, padahal aku sudah belajar memasak untuknya. Sungguh, untuknya. Keahlianku selama ini hanya menghangatkan makanan, dan mungkin memasak air. Jadi kalau suatu saat nanti aku pulang ke Indonesia dan bunda merasa takjub padaku, aku akan segera bilang kalau aku memasak karena Kyungsoo. Aku selalu mencoba yang terbaik untuknya. Aku selalu mencoba bertanya apa yang diinginkannya, apa yang di sukainya, aku memang penasaran pada dirinya yang tertutup itu tapi lebih dari itu aku selalu ingin dia puas dengan hal-hal yang kulakukan, dan semua itu kan agar aku bisa meluluhkan hati dinginnya itu. aku tidak meminta lebih, aku hanya ingin dia meresponku, dan membuatku yakin kalau dia menganggap kehadiranku disini. Tinggal bersamanya.

Apakah kalian tahu rasanya tinggal bersama orang yang mendiamkanmu terus menerus sepanjang hari? Itu benar-benar menyebalkan. Aku tidak menyukainya. Belum. Tapi aku mencoba untuk menerimanya dan membiasakan diri dengannya. Tapi sepertinya dia sangat sulit untuk melakukan hal yang sama.

Namun, aku cukup senang ketika dia memakan makanan yang kumasak. Yang kadang asin, sedikit manis, bahkan pernah menjadi sangat pedas. Tapi apa komentarnya? Tidak ada. Dia turun menuju meja makan dalam diam. Duduk dalam diam. Makan dalam diam. Dan kembali lagi ke kamarnya dalam diam. Yang membuatku yakin kalau dia manusia dan bukannya vampire adalah, dia masih berkedip. Untungnya.

Dia juga tidak pernah benar-benar menatapku, dia selalu saja hanya menatapku sekilas kemudian melengos lagi, dan aku menjadi terbiasa dengan hal itu. aku tertawa padanya, bercerita mengenai hariku padanya, melontarkan sedikit lelucon yang kudengar dari anak-anak di kelasku padanya, tetapi dia tetap saja tidak meresponku. Aku bahkan tidak pernah mendengarnya menyebut namaku.

Pernah suatu kali aku sangat ingin bertanya padanya,

Apakah segitu besar rasa tidak sukanya padaku?

D.O’s POV

Sudah satu bulan terhitung sejak aku pindah ke rumah ini, dan tentu saja gadis itu masih disini juga. Sejauh ini yang kutahu, dia mulai bisa memasak. Di minggu awal dia hanya menghangatkan makanan yang di buatkan oleh ahjumma. Tapi akhir-akhir ini dia selalu dengan bangga berkata padaku kalau dia sudah bisa memasak sendiri tanpa bantuan ahjumma. Aku juga tidak terlalu peduli.

Aku tidak pernah mengomentari masakannya yang terkadang asin, manis, atau pernah suatu kali sangat  pedas. Bagiku asal itu masih terasa seperti makanan, tetap akan kumakan. Aku bukan tipe orang yang pemilih untuk masalah makanan. Gadis itu terkadang bertanya apa yang ingin kumakan, yang seperti biasa hanya akan kutanggapi dingin. Tapi, entah kenapa dia seperti bisa membaca pikiranku. Aku pernah suatu hari ingin sekali makan ramen dan berniat meminta ahjumma untuk membuatkannya, namun tiba-tiba saja dia bilang dia akan masak ramen untuk makan malam. Kebetetulan sekali memang.

“bagaimana hubunganmu dengannya?” suho hyung bertanya padaku, sore ini teman-temanku datang berkunjung ke rumah baruku ini. yang lain sedang bermain di halaman belakang.

“tidak ada yang special.” Jawabku cuek sambil mengambil stick ps untuk memulai permainan.

“aku heran kenapa kau tidak mau membuka diri untuk menerimanya. Maksudku, dia gadis yang manis dan juga baik. Tidak ada sedikitpun bagian dari dirinya yang kurasa pantas untuk di benci.”

“aku memang tidak membencinya.”

“lalu?”

Aku menghela nafasku. “hyung, apa kau tahu caranya agar aku bisa berpisah dengannya?” tanyaku, aku tak tahu apa alasannya bertanya begitu,  tapi pertanyaan tersebut tiba-tiba saja terlintas di kepalaku. Suho hyung menatapku heran, kemudian matanya terbelalak melihat orang di belakangku. Yang mungkin saja mendengar apa yang baru saja kukatakan.

“sakura?” Tanya suho hyung.

-0-

 

annyeong~
~ aku cepetin publish yg keduanya karena mau kejar deadline untuk publish yg chap 3 nya :D maaf
kalo jelek ya ><

Enjoy~ , and don’t forget to leave a comment.. gomawo~~ :*

 

 

 

 

 

About these ads

94 thoughts on “Truly, I Love You (chapter 2)

  1. ah eonni daebak! ceritanya ngena banget eonni
    dan mulai sekarang aku beranggapan sakura itu memang ada di dunia nyata ahaha
    aku rela kalo sakura itu emang ada dalam bentuk nyata dan jadian sama my Kyung
    ehehe

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s