Noona, Saranghae

Author             : Inhi_Park

Main Cast       : Kim Jongin a.k.a. Kai & Kim Suyeon

Other Cast       : Kim Family

Length             : One Shoot

Genre              : Romance, Sad

Rating             : PG-13

 

Kai’s POV

Malam itu aku berjalan pelan ke depan pintu kamar eomma dan appa. Jam menunjukan pukul 12 malam kurang 5 menit. Besok ulang tahun kedua orang tuaku dan aku berniat mengucapkan selamat pada mereka. Aku sengaja tidak tidur agar bisa memberi mereka ucapan sebelum keduluan oleh kakakku.

“Kita harus segera mendapatkan donatur yang tepat untuknya.” Appa berbicara dengan suara pelan. Ada nada khawatir bercampur sedih dalam suaranya. “Aku khawatir kalau kita terlambat melakukan transplantasi, kanker paru-parunya akan semakin parah.”

“Tapi dimana kita bisa menemukannya?” Suara eomma sambil terisak.

“Entahlah, diantara kita tidak mungkin ada yang cocok karena dia bukan anak kandung kita.” Tambah Appa.

“Hiks… Apa yang harus kita lakukan yeobo. Aku tidak mau kehilangan Suyeon…”

DHUAAARRR~

Rasanya kakiku melemas dan tak mampu lagi menopang berat tubuhku. Aku menggelosor lalu terduduk di depan pintu sesaat setelah aku mendengar pembicaraan kedua orang tuaku. “Dia menderita kanker paru-paru dan membutuhkan donor paru-paru secepatnya. Dan dia… Dia bukan anak kandung eomma dan appa… Dia bukan noona-ku.” Kata-kata itu masih terngiang jelas di telingaku.

Aku Kai. Meski itu bukan nama asliku, bukan nama bawaan lahir, tapi aku lebih senang di panggil dengan nama itu. Kejadian diatas terjadi tiga tahun lalu, tepatnya saat aku masih duduk di kelas 1 junior high school. Kejadian itu merubah kehidupanku 180 derajat. Setelah mengetahui kalau kakakku menderita sakit yang sangat parah, aku yang secara alami sangat mencintai dance memutar haluan cita-citaku yang pada awalnya ingin menjadi entertainer berubah menjadi seorang dokter dengan tujuan menemukan obat untuk penyakit kanker paru-paru yang di deritanya. Dan satu lagi, setelah aku tahu kalau dia bukan noona kandungku, aku merasa ada sesuatu yang lain yang aku rasakan terhadapnya.

“Kaaaaiiiii….” Itu suara noona-ku. Namanya Suyeon. Umurnya hanya satu tahun lebih tua dariku.

Dia gadis yang sangat cantik. Tubuhnya tidak tinggi tapi tidak pendek juga. Pokoknya proporsional dengan bentuk tubuhnya yang sedikit mungil menurutku. Tingginya hanya sebatas pundakku. Kalau aku mengejeknya pendek, dia akan balik menyalahkanku yang katanya terlalu tinggi untuk namja seumuranku. Rambutnya panjang sepunggung. Berwarna cokelat sedikit bergelombang. Matanya agak sipit dan bibirnya tipis dengan warna merah alami. Hah, pokoknya dia yeoja tecantik yang pernah aku kenal.

“Kaaaaaaaiiiii….” Hanya satu hal yang tidak aku suka darinya yaitu caranya membangunkanku. Dia akan berteriak dari luar kamar lalu menerobos masuk. Setelah itu dia akan menyibakkan gorden dan membiarkan cahaya matahari menerpa wajahku. Yang paling menyebalkan adalah caranya menyingkirkan selimut lalu menggoyang-goyangkan badanku dengan sepenuh tenaganya.

“Ayo bangun Kaaaaaiii…” Teriaknya lagi. Kalau melihatnya seceria ini, aku seringkali lupa akan penyakit yang sedang bersemayam dalam tubuh rapuhnya.

“Noona… ini kan hari minggu. Biarkan aku tidur sebentar lagi.” Kataku dengan mata yang masih tertutup rapat.

“Ini sudah siang, ayo bangun…” Katanya lagi.

Perlahan aku membuka mata dan mendapatinya berdiri di samping tempat tidurku. Ia nampak sudah rapi dengan pakaian yang dikenakannya. Dress berwarna pastel selutut dengan cardigan berwarna senada. “Kau mau kemana?”

Ia tersenyum. “Aku ada janji dengan seseorang.” Katanya singkat.

“Siapa? Yoona noona?” tanyaku.

Ia tersenyum lagi sambil menggeleng pelan. “Bukan. Sepertinya kau tidak mengenalnya.”

“Yeoja kan?” Tanyaku.

Lagi, ia hanya tersenyum.

“Namja???” Tanyaku lagi.

Aku kaget saat ia menganggukkan kepalanya.

“Apa? Kau tunggu disini ya. Aku mandi sebentar.” Aku meloncat dari tempat tidur menuju kamar mandi.

“Apa maksudmu? Jangan bilang kau mau ikut denganku. Ya! Kai… Yaaa…” Jeritannya semakin samar terdengar dari tempatku sekarang.

Tentu saja aku akan  ikut noona. Jangan harap aku akan membiarkan kau pergi berduaan dengan namja lain. Huh, tidak akan.

10 menit kemudian aku keluar dan mendapati noona sedang duduk di teras. “Ayo…” kataku.

“Kau serius mau ikut? Aku mau kencan Kai…”

Hahaha… aku sangat tahu sifat noona ku ini. Meski dia mungkin sangat tidak ingin aku ikut, tapi dia tidak akan tega menolak permintaanku. “Tentu saja. Ayo…” kataku sambil berjalan mendahuluinya. “Memangnya noona mau ketemu siapa sih?”

“Cho Jino. Kakak kelasku.” Suaranya terdengar pelan.

Maaf noona, aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Tapi aku benar-benar tidak sanggup membiarkanmu pergi dengan namja lain. “Oh…” responku singkat.

Hari itu kami habiskan waktu dengan berjalan-jalan di Namsan Tower. Aku berjalan membuntuti noona yang berjalan berdampingan dengan namja bernama Cho Jino itu. Aku tahu kalau namja itu kesal karena aku mengacaukan kencan mereka, tapi sepertinya noona berhasil memberinya penjelasan.

***

Aku masih sibuk dengan tugas-tugasku saat noona masuk ke kamarku.

“Kai…” Sapanya sambil duduk di tempat tidurku.

“Hmmm…” Gumamku sambil tetap memfokuskan mataku pada tugas yang sedang ku kerjakan.

“Kaaaii…”

“Ada apa noona???” Dia berhasil mendapat perhatianku. Aku memutar kursi dan menghadap kearahnya.

“Ini.” Ia menunjukkan selembar kertas padaku.

“Apa itu?”

“Ini formulir pendaftaran audisi SM. Aku tahu kalau kau sangat ingin jadi entertainer jadi aku ambilkan satu untukmu. Aku sudah mengisi lengkap semuanya, kau hanya tinggal menandatanganinya saja.” Jelasnya panjang lebar.

“Kau apa-apaan sih noona.” Aku memutar lagi kursiku menghadap meja belajarku.

“Aku tahu cita-citamu dari dulu itu ingin jadi entertainer kan?”

“Noona sok tahu. Aku mau jadi dokter noona. Dokter.” Kataku.

“Aku tidak yakin.” Katanya lagi. “Ku tinggalkan disini ya. Ingat, kau hanya tinggal menandatanganinya saja.”

Dari ujung mata aku melihat dia berjalan kearah pintu lalu menghilang dibalik pintu yang sudah tertutup lagi itu.

Aku berdiri dan menemukan formulir itu tergeletak diatas tempat tidurku. Noona, aku memang sangat mencintai dance dan sangat ingin menjadi dancer dan entertainer. Tapi aku lebih ingin menemukan obat untuk penyakitmu itu noona… aku harus menemukannya, dan untuk itu aku harus menjadi dokter yang hebat.

***

Pagi ini aku pergi ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Aku meninggalkan noona dan berangkat sendirian. Kepalaku masih memikirkan apa yang kulakukan itu benar atau salah. Entah kenapa aku ingin menghindari pertemuan dengan noona di sekolah. Saat waktu istirahat pun aku menghindari tempat-tempat yang mungkin didatangi oleh noona.

Saat pulang sekolah, usahaku untuk menghindarinya berbuah sia-sia. Tepat saat bel pulang berbunyi, aku melihat gadis itu berdiri di depan pintu kelasku sambil tersenyum lebar dan mengipas-ngipaskan formulir pendaftaran audisi itu.

“Ayo…” tangannya melingkar manis di lenganku. Dan kau tahu, jantungku berdebar lima kali, ah tidak, sepuluh lebih cepat dari biasanya.

“Kemana?” Kataku polos.

“Ish… Jangan pura-pura lugu. Tentu saja ke gedung SM.”

Ya, pada akhirnya aku memang menandatangani formulir yang kemarin di tinggalkan noona di kamarku. “Tunggu noona…”

“Jangan mengelak. Ayo ikut aku…”

Kami berjalan menuju halte bis dekat sekolah. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, akhirnya kami sampai di depan gedung salah satu manajemen artis terbesar di korea itu.

“Noona, kita pulang saja ya…” Kataku. Nyaliku sedikit menciut saat melihat puluhan bahkan mungkin ratusan orang mengantri disana.

“Kenapa? Jangan bilang kau ragu karena banyak orang yang juga mengikuti audisi?” tanyanya sambil menyipitkan matanya mencoba menebak pikiranku.

Aku hanya diam.

“Aku tahu kalau saeng-ku ini hebat. Jangan khawatir aku akan selalu mendukungmu.” Katanya sambil melingkarkan tangan kanannya di leherku sambil menarikku berjalan masuk ke gedung itu.

***

3 tahun berlalu sejak hari dimana Suyeon noona memaksaku mengikuti audisi. Dan sisinilah aku sekarang, di tengah panggung yang besar dengan hingar bingar suara musik yang memenuhi gedung tempat showcase pertamaku dan rekan satu grupku di laksanakan.

“Noona… Ini semua ku lakukan demi dirimu.” Bisikku sebelum melangkahkan kaki menaiki panggung yang tertang benderang itu.

***

Aku berlari menyusuri koridor dengan banyak pintu di sepanjangnya. Mataku menyusuri papan-papan bertuliskan nomor ruangan yang tergantung di setiap pintu.

“208… 208… 208…” Itulah nomor ruangan yang sedang kucari.

30 menit yang lalu, sesaat setelah showcaseku berakhir, eomma menelponku sambil terisak. Katanya noona anfal dan langsung di larikan ke rumah sakit. Tanpa membuang waktu aku pergi meninggalkan showcase yang menjadi gerbang masukku ke dunia entertainment itu.

Di salah satu sudut koridor aku melihat seorang pria berjas hitam tengah terduduk lemas dengan kepala yang tertunduk dalam.

“Appa…” Kataku pelan.

Pria itu menegakkan kepalanya.

“Suyeon noona…?”

Appa menggerakkan kepalanya mengisyaratkan aku untuk masuk kedalam. Di dalam ruangan yang serba putih itu aku melihat eomma duduk di samping sebuah ranjang yang juga di dominasi warna putih. Di ranjang itu terbaring tubuh mungil yang ku kenal. Suyeon.

“Suyeon…” Suara parau yang keluar dari tenggorokanku membuat eomma menoleh kearahku.

“Kai…” kata wanita paruh baya itu. Ia berjalan kearahku dan lalu memelukku erat. Aku merasakan dadaku basah karena air matanya.

Setelah itu ia berjalan keluar meninggalkan aku yang masih mematung memandang gadis yang masih memejamkan matanya itu. Perlahan kakiku melangkah mendekatinya.

Aku mengambil alih kursi yang sebelumnya di duduki eomma. Aku memandangi setiap lekuk wajahnya yang terlihat tenang dalam tidurnya. Dia memakai masker untuk membantu pernafasannya. Tanganku bergerak meraih tangannya yang terasa sangat dingin. Mataku terbelalak saat ku rasakan tangannya bergerak pelan lalu perlahan matanya terbuka.

“Kai…” Suaranya terdengar pelan.

“Suyeon-ah…”

“Panggil aku noona. Aku kakakmu…” katanya dengan senyum khasnya.

“Shireo… aku bukan adikmu.”

Ia terkekeh pelan.Tangannya bergerak pelan membuka masker yang menutupi mulut dan hidungnya.

“Suyeon-ah…” Kataku pelan. “Aku mencintaimu.”

Ia tersenyum getir. “Ternyata aku bukan satu-satunya orang yang jatuh cinta pada saudaranya sendiri.” Suaranya terdengar pelan tapi sangat jelas bagiku. Ternyata dia juga mencintaiku.

“Suyeon-ah. Mulai sekarang biarkan aku memperlakukanmu sebagai seorang yeoja, bukan noona.” Kataku sambil menggenggam tangannya erat.

“Emh…” Angguknya.

Kudekatkan kepalaku padanya. Kini wajahku berada sangat dekat dengannya. Aku tersenyum lalu mengecup keningnya cukup lama sampai pada akhirnya aku menarik wajahku menjauh.

“Saranghae…” Kataku.

“Nado…” Suaranya terdengar seperti bisikan dan perlahan aku melihat sebutir cairan bening meluncur dari sudut matanya. Ia menangis.

Mataku menatap lekat senyumnya yang sangat manis. Senyum yang selalu membuatku semakin mencintainya setiap kali aku melihatnya.

“Suyeon-ah… gwenchanayo…” Aku melihat ia menarik nafas berat seperti kesulitan bernafas.

Ia tidak menjawab. Tapi hanya dengan melihatnya saja aku tahu kalau dia sedang tidak baik-baik saja. Wajahnya memucat. “Suyeon-ah… pakai lagi maskernya ya?” kataku sambil bergerak hendak memasangkanlagi masker oksigennya.

“Ani… Aku… hhhhh…. Aku tidak apa… hhh… apa…” Dia mendorong tanganku yang menggenggam masker oksigennya.

Aku jelas bisa mendengar bagaimana ia menarik nafas dengan sesaknya. “Suyeon-ah… Aku panggilkan dokter ya…”

Tanganku tertahan saat aku akan pergi untuk memanggil dokter. Ia menggenggam erat tanganku.

“Temani… hhh… aku…” suaranya semakin pelan.

“Suyeon-ah… bertahanlah ku mohon.” Aku memeluknya dengan air mata yang tak sanggup lagi ku bendung.

“Kai… Ak… Aku… hhh aku… mencintai… hhh mu…”

“Emh… Aku tahu.” Kataku terisak. “Aku juga mencintaimu.”

Aku memeluknya semakin erat. Perlahan ku naikkan badanku ke atas kasur dan berbaring bersamanya yang semakin lama semakin lemah. Aku tahu ia sudah tidak akan bisa bertahan. Aku sempat mendengar pembicaraan appa dengan dokter beberapa hari lalu dan katanya Suyeon sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Dan mungkin ini saatnya, jadi aku ingin membuatnya nyaman. Setidaknya sampai akhir waktunya.

Dengan lelehan air mata yang tak mau berhenti, sekali lagi aku mengecup kening gadis di pelukanku ini dengan senyum seadanya karena sambil menahan sedih.

Dan ini terakhir kalinya aku bisa melihat senyum manisnya. Senyum termanis yang pernah ada.

“Saranghae…” Bisikku sesaat sebelum senyum itu memudar dan… hilang.

~THE END~

 

Anyeong readers…

FF ini bener-bener-bener FF pertama aku dengan cast EXO… FF ini aku bikin pas masih jaman teaser2 yang setumpuk itu lho… hehe… dan karena teasers itu, aku langsung jatuh cinta sm Kai meski belakangan sempet selingkuh sm D.O dan Bacon… heuuu

Well, maaf aku kebanyakan ngomong…

Di tunggu comment-nya aja yaa buat yang udah baca…

Makasih… n_n

7 thoughts on “Noona, Saranghae

  1. Uuuuuu so cweett …..
    Ga nyangka Kai oppa akan mengurung niatnya jadi entertain hanya untuk menolong noona-nya . Yang bahkan kenyataan nya bukan noona kandung ..
    Salut deh buat sikap Kai oppa . Dongsaeng yang hebat!
    Suyeon noona yang baik yya. Mengerti perasaan adiknya …
    Aku sempet kaget. Ternyata Kai oppa mau juga tandatanganin formulir itu.
    Ckckckck
    Ku kira Kai oppa ga akan mau ttd formulir itu .

    Ending nya kurang dapet aku feel nya thor …
    Yang awal” doang, aku terbawa suasana
    Emm, tapii bagus kok …
    Ditunggu karya lainnya yya…
    Keep fighting !

  2. Omooo… ak baru baca, sedih thor…kasian nih si Kai
    Kai, jgn sedih terus ya, mari buka lembaran baru bersamaku hahaha😀
    hmmm… apalagi ya… overall feelnya dpet ko thor, cuman dari sisi Suyeonnya mungkin kurang di explore jadi di akhir ak masih ngerasa Suyeon cuma sayang ke Kai sebagai noona bkn yeoja hehehe, mian ya bnyk cingcong thor… pokonya daebakk deh, ak baca akhirnya merinding disco hehe ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s