Call Me, Love Me

Author : Uciperuzzi

Rating :  T

Lenght : Oneshoot

Genre : Romance, Friendship

 Main Cast : Byun Baekhyun, Oh Hanbyul (OC)

Semua yang ada dalam cerita fanfic ini hanya sebatas imajinasi, dan fanfic ini dibuat hanya untuk dinikmati sebagai penyaluran imajinasi semata tanpa ada maksud menjudge pihakmanapun. ^^

HAEppy reading all, and enjoy it.

Seorang gadis berjalan-jalan di sekitar toko yang berada didalam kawasan COEX mall. Mencari sesuatu yang mungkin dapat menarik matanya untuk dibeli. Tapi tak satupun matanya menangkap sebuah barang yang pas untuk diberikan pada sahabatnya sebagai hadiah ulang tahun. Ia memperhatiakan setiap etalase toko, berharap ada barang yang di pajang di sana dan menarik perhatiannya.

Namun tidak ada yang benar-benar menarik, semuanya terkesan biasa saja. Hingga ia melewati sebuah toko kaset. Karena bosan tak kunjung juga mendapatkan apa yang ia cari gadis bernama Hanbyul itu memilih masuk ke toko kaset itu untuk menyegarkan pikirannya dengan mencari kaset film terbaru. AC yang di pasang di dalam toko itu membelai lembut tubuh gadis itu dengan udara sejuknya saat baru memasuki pintu masuk toko. Suasana toko cukup ramai. Bahkan di luar toko kaset ini pun orang-orang sudah ramai sekali berdatang ke mall sore ini.

Hanbyul terus melangkahkan kakinya masuk kedalam toko tersebut mengitari setiap rak yang menyimpan berpuluh-puluh kepingan CD music hingga film, mulai dari yang lokal hingga mancanegara semuanya lengkap disini. Dan gadis itu berhenti di sebuah rak dengan tulisan ‘K-POP’ setelah sebelumnya ia mendapatkan beberapa CD film terbaru yang direkomendasikan oleh salah satu pelayan toko tersebut.

Ia mengitari pinggiran rak –rak itu dengan jari telunjuknya sambil menikmati alunan music jazz yang diputar untuk menghibur para pelanggan toko. Tak berapa lama lagu pun berganti dengan lagu po, karena baru pertama kali mendengar lagu tersebut Hanbyul kembali memfokuskan dirinya untuk mencari barang yang akan dibelinya lagi.

‘Urin deo isang nuneul maju haji anheulkka’

‘Sotonghaji anjeulkka’

‘Saranghaji anheulka’

‘Apeun hyeonsire dasi nunmuri heulleo’

‘Bakkeul su itdago bakkumyeon doendago,

malheyo MAMA, MAMA’

Tiba-tiba jari jemarinya berhenti disubuah tumpukan kaset dengan sebuah tulisan pada cover nya yang hampir sama dengan lirik lagu yang baru saja ia dengarkan secara seksama. Ya, lagu ini sudah taka asing lagi karena memang hampir setiap hari selama beberapa hari ini ia selalu mendengar lagu itu mengalun pas-pasan dari penyanyi amatiran Go Miho, sahabatnya sekaligus teman satu bangku di kelasnya. Yang mencoba menirukannya seperti penyanyi aslinya namun berakhir gagal. “jika Agasshi membelinya sekarang, Agasshi akan mendapatkan penawaran khusus.” Tiba-tiba seorang pelayan toko muncul disampingnya dengan beberapa gulungan -yang ia yakini sebagai sebuah poster- didekapannya. “jika Agasshi membeli kaset itu, Agasshi juga bias mendapatkan tanda tangan mereka dan bertemu mereka secara langsung.” Sambung pelayan toko itu sambil menunjuk tumpukan kaset berlabel SM Entertainment itu dengan dagunya.

Hanbyul mengerutkan keningnya, “bertemu?” pelayan toko -dengan tag name yang terhalangi oleh gulungan-gulungan poster di dekapannya- itu tersenyum. “mereka akan mengadakan acara fansign di lantai bawah.” Ucapnya menebus rasa penasaran gadis itu. “mmm..” Hanbyul menggumam memandangi kaset ditangannya itu dengan seksama, sepertinya ia pernah bertemu dengan salah satu diantara keenam pria yang tengah berpose di dalam cover CD itu. Tapi karena tingkat kepikunan Hanbyul yang sudah sangat parah maka ia hanya menganggap itu sebagai perasaannya saja.

“EXO-K? EXO-M?” gumamnya bingung. Sebelum pelayan toko itu sedikit membungkuk memberi salam untuk pergi memasang poster yang sedari tadi didekapnya, ia menjawab gumaman Hanbyul sambil tersenyum ramah. “Agasshi, yang sedang melakukan fansign di lantai bawah itu EXO-K. Jika Agasshi berminat.” ucapnya lalu benar-benar pergi meninggalkan Hanbyul yang masih memegangi kaset CD EXO-K itu.

Lalu tiba-tiba ia teringat sahabatnya Miho yang tergila-gila dengan semua member EXO terutama yang seringa ia panggil D.O itu. “Miho pasti sudah memiliki nya.” Ia menggunakan kata ganti ‘nya’ untuk menunjuk kaset CD yang tengah di pegangnya, mengingat Miho sangat antusias terhadap debut boy grup baru ini bahkan saat teaser pertama member EXO keluar dia langsung menobatkan dirinya sebagai fans pertama mereka. “tapi Miho pasti belum mendapatkan CD dengan tanda tangan idolanya langsung kan.” Hanbyul tersenyum samar saat ia sudah menemukan hadiah yang pas untuk sahabatnya tercinta.

Lalu gadis itu mengambil salah satu kaset CD dengan cover tulisan EXO-M. tapi kemudian ia tercenung mengingat sesuatu yang sangat penting nan sensitif. Ia segera membuka tas selempangnya mencari sebuah benda yang menentukan hidup-matinya hari ini. Gadis yang membiarkan rambut panjangnya itu terurai bebas membuka perlahan dompet soft-yellow di tangannya, mengintip lembaran uang won yang tersisa didalamnya. Dan…

“kuharap kalian tidak marah. Jika aku tetap memaksakan, aku hanya akan pulang jalan kaki. Semoga kalian mengerti.” Hanbyul memasang wajah menyesal saat mengetahui sisa uang jajannya bulan ini, kemudain ia mengelus-elus kaset CD bercover EXO-M yang tadi di pegangnya lalu menaruhnya kembali di tempatnya dan sebelum berpisah ia membungkuk 90 derajat sebagai tanda permintaan maaf dan perpisahan sebelum ia membayar semua belanjaannya ke kasir. “bye bye..” ucapnya sedih sambil berlalu, tanpa menghiraukan beberapa pasang mata yang memperhatikan tingkah anehnya terhadap sebuah kaset CD dan salah satunya adalah pelayan toko yang baru saja selesai memasang seluruh poster di tempatnya.

Hanbyul menginjakan kakinya dilantai dasar. Ia melihat sekelilingnya penuh sesak dengan orang-orang yang kebanyakannya adalah seorang gadis. Wah, sudah seramai ini batinnya. Ditambah lagi dengan suara-suara dari kehisterisan gadis-gadisa itu, ia segera melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “masih pukul setengah tujuh.” Padahal seingatnya tadi menurut penjaga kasir di toko kaset barusan acaranya akan di mulai pukul 8 tapi orang-orang sudah berkumpul sebanyak ini.

Gadis itu kemudian mengambil ponsel disaku celana jeans panjangnya. Ia segera mengirimkan pesan singkat kepada ibunya untuk meminta ijin pulang terlambat. “Miho harus berlaku baik padaku, untuk usahaku hari ini.” Ucap gadis itu pada dirinya sendiri penuh semangat. Ia memandang keseluruh fans yang sudah siap untuk mengantri sesuai dengan kertas ditangan mereka, ada juga yang sedang melakukan transaksi gelap di dekatnya seperti bertukar kertas –yang terlihat seperti tiket itu- agar bias mendapatkan tanda tangan sesuai idola mereka. Namun pandangannya tertuju pada dua gadis yang memakai seragam sekolahnya. Dan ia tau mereka itu adalah teman bergila Miho.

Hanbyul melangkahkan kakinya untuk mendekati kedua gadis yang masih asik berbincang itu. “ya. Kim Ahjung. Park Sena.” Sapanya pada kedua gadis yang tak lain adalah juniornya di sekolah. “eonni.” Jawab mereka hampir berbarengan. “kau juga sedang mengantri untuk mendapatkan tandatangan EXO oppa?” Tanya Sena, yang membuat Hanbyul tersenyum geli mendengar panggilan ‘EXO oppa’. “Eyy~ ternyata diam-diam kau juga menyukai EXO oppa.” Goda Ahjung sambil menoel-noel bahu Hanbyul dengan kipas ditangannya.

“bukan untuk ku. Tapi untuk tetua geng kalian.”Jawab Hanbyul menggunakan panggilan lain untuk sahabatnya itu. “Miho eonni?” Tanya mereka lagi hampir berbarengan seperti anak kembar. “siapa lagi kalau bukan mahluk itu.” Hanbyul mengangkat bahunya. “kukira eonni datang dengan Miho eonni.” Hanbyul menggeleng, “dia sedang sibuk dengan ujian di tempat les pianonya.” Jawab gadis itu.

“silahkan mengantri sesuai dengan tiket kalian. Acara akan dimulai 1 jam lagi.” Ucap seorang staf dengan menggunakan pengeras suara agar ucapannya tidak tenggelam oleh suara riuh dari para fans setia ini. “eonni, kau mendapat tiket siapa?” Tanya Sena. “tiket? Ah, ye aku belum melihatnya.” Gadis itu segera mencari gulungan kertas yang tadi di berikan penjaga kasir itu sebagai ‘tiket nya’. Ia mengaduk-aduk isi tasnya. “jadi sistemnya seperti undian ya.” Ucap Hanbyul disela-sela pencarian benda mungil itu, “ya. Aku juga mendapat tiket untuk D.O oppa. Padahal aku sangat berharap mendapatkan tiket untuk Baekhyun oppa.” Ucap Sena.

“ah. Ini dia, akhirnya aku menemukanmu sayang.” Ucap Hanbyul pada benda mungil di tangannya. Lalu ia membuka gulungan itu untuk melihat nama siapa yang tertera disana, “Baekhyun?” gumamnya saat membaca tulisan pada tiket yang dipegangnya. “WAA! Eonni kau mendapatkan tiket Baekhyun oppa?” Tanya Sena penuh antusias persis seperti pendaki gurun yang menemukan oasis.

“wae?” Tanya Hanbyul bingung. “kita bertukar saja eonni.” Jawab semangat Sena, kelawat semangat malah menurut Hanbyul. “ne eonni. Kalian bertukar saja. Bukankah Miho eonni memang menyukai D.O oppa.” ucap Ahjung meyakinkan. “benar. Ini kebetulan yang sangat menyenagkan.” Tambah Sena.

“aku sih terserah saja.” Lalu Hanbyul menyerahkan kertas ditangannya pada Sena, begitupun sebaliknya. Dan kini ia memegang kertas dengan tulisan D.O. “kkaja. Kita harus cepat mengantri sebelum antriannya semakin panjang.” Putus Ahjung, lalu ketiga gadis itu berpencar sesuai barisan tiket mereka. Hanbyul mengantri bersebelahan dengan antrian milik Sena. Walaupun Sena ada di antrian belakang pada barisannya. “wah, antriannya panjang sekali.” ucap Hanbyul,

Namun tiba-tiba suara teriakan histeris gadis-gadis itu memekakan telinganya kembali, namun kali ini lebih keras dan lama. “AAA~ Mereka sudah datang.” Ucap salah seorang gadis yang berada di belakangnya. “ah, sudah datang ya.” Lalu Hanbyul melirik lagi jam tangannya. “haah. Acaranya baru akan dimulai 45 menit lagi.” Ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya karena ia masih harus mengantri saat acara fansign ini akan dibuka, tapi walaupun antrian didepannya tidak begitu panjang, tapi pasti akan cukup lama, mengingat berapa banyak barang yang mereka bawa untuk di berikan pada idolanya itu, belum lagi acara obrolan singkat fans-idola.

Tidak mungkin mereka menyia-nyiakan kesempatan emas untuk bertatap muka dan bertanya langsung pada idola mereka. Hanbyul melihat keenam pria itu saat mereka duduk dibangku yang sudah disediakan dan mulai menyapa para fans mereka dan disambut teriakan antusias dari hampir seluruh fans yang sibuk mengantri dengan mengangkat bener kebanggaan mereka ataupun yang sibuk membidikan kameranya pada idola mereka. Dan Hanbyul? Gadis itu hanya memainkan ponsel putihnya.

“30 menit lagi acara akan dimulai. Silahkan bagi yang belum mengantri untuk segera menempati barisan sesuai tiket kalian.” Ucap salah seorang staf kembali mengingatkan. Hanbyul melihat sekilas kedepan, dan tatapannya tiba-tiba terpaku pada salah seorang pemuda yang duduk di meja yang menjadi central of view itu. Hanya tiga detik, Kemudian Hanbyul dengan gugup kembali menekuri smartphone yang sedang menampilkan aplikasi twitter di layar sentuhnya.

Entahlah. Kenapa ia merasa gugup saat pandangan matanya bertemu dengan pemuda itu, ia seperti pernah melihat manik mata itu tapi ia tak ingat dimana. “payah!” umpatnya karena otaknya yang selalu lupa dengan hal-hal kecil yang penting seperti ini. Harusnya ia mengikuti nasehat ibunya untuk selalu meminum ramuan yang dibuatkan ibunya untuk memperkuat daya ingatnya, dan sekarang gadis itu menyesal.

“Sudah kuduga, ini bukan kebetulan. Semua ini adalah takdir. Sangat jelas ini adalah Takdir Tuhan.” Ucap seorang pemuda yang mencengkram spidol di kedua tangannya dengan gemas. “Takdir Luhan mwoya?” Tanya seorang pemuda lain yang duduk di samping pemuda yang mencengkram spidol di kedua tangannya itu. “ishh. Tuhan! Tuhan! Bukan Luhan!” jawab pemuda ber-spidol itu tambah gemas sambil mendelik kearah pemuda lain disampingnya. Lalu pandangannya kembali fokus kedepan. Dimana ratusan gadis berbagai usia tengah sibuk mengantri sambil menunggu acara fansign sebuah boy grup baru besutan SM Entertainment itu dibuka.

Sesekali gadis-gadis itu berteriak histeris saat melihat kelakuan apapun – yang menurut mata batin mereka itu sangat menarik untuk di teriaki- yang dilakukakan idola mereka sambil menunggu para staf mengatur antrian. Banyak gadis yang mengacungkan bener dengan nama idola nya yang sengaja mereka buat semalaman suntuk, tak sedikit pula gadis yang asik membidik idola mereka dengan  kamera yang sudah mereka siapkan untuk koleksi pribadi dan ada pula gadis yang hanya meneriaki nama idolanya sambil melambai-lambaikan tangan berharap sang pemilik nama yang di teriaki nya menoleh kearahnya dan membalas lambaian tangannya.

Dan memang tak jarang keenam pria tampan –yang akan melangsungkan acara fansign  nya itu- melambaikan tangan mereka sekaligus menyapa para fans untuk mengungkapkan rasa terimakasih nya karena sudah rela datang dan berdesak-desakan hanya untuk bertemu dengan idolanya sekaligus mendapatkan tanda tangan mereka.

“Kau menatap apa? Serius sekali.” Ucap D.O menatap Baekhyun lalu mengalihkan tatapannya pada ‘sesuatu’ yang sedari tadi menjadi fokus pandangan pemuda berspidol itu. “kau harusnya menyapa para fans mu. Bukannnya melamun tidak jelas seperti itu.” Seakan tersadar saat mendengar perkataan bijaksana dari pemuda yang satu tahun dibawahnya itu Baekhyun langsung tersenyum dua jari dan berlambai-lambai untuk menyapa fans yang datang malam itu. Dan tentu saja respon gadis-gadis itu sangat baik, mereka menjerit histeris sambil membidik kameranya untuk mengabadikan moment berharga ini.

Seluruh staf masih mengatur para fans untuk mengantri sesuai dengan barisan idola mereka sebelum acara fansign ini benar-benar di buka 30 menit lagi. Pemuda berspidol yang tak lain adalah Baekhyun itu menyangga kepalanya dengan sebelah tangan di atas meja dihadapannya sehingga kini ia bias melihat member lain yang sibuk dengan berbagai persiapan mereka. “kau nervous?” Tanya D.O yang duduk disamping kanannya beserta member lainnya, karena dia dan leader Suho yang mendapat tempat duduk di ujung-ujung seperti ini.

“ani. Aku hanya sedang berfikir sesuatu.” Jawabnya pelan masih dengan posisi yang sama dan itu di manfaatkan oleh para fans sebagai Baek-Soo moment, karena tempat duduk Chanyeol yang terhalang oleh D.O. “kau sedang berfikir? Pantas saja dari tadi aku melihat kabut hitam tipis yang berbau tidak sedap.” Ucap D.O sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya seperti gerakan mengusir sesuatu yang kasat mata di hadapannya. Dan gerakannya itu memicu teriakan para fans karena melihat tingkahnya yang sangat menggemaskan.

Bekhyun tak menghiraukan tingkah konyol D.O yang mungkin lebih tepatnya tingkah memperoloknya. Ini sama sekali bukan gayanya, ia sadar. Ia bukan tipe pria yang kalem, ia seorang yang aktif dan enerjik selalu memancarkan aura penuh semangat yang menggebu-gebu dalam tatapan dan senyumnya. Tapi kali ini berbeda, ia terlihat sangat loyo dan aura penuh semangatnya seperti sedang redup.

“bagaimana caranya agar kita bisa berhubungan dengan seseorang yang baru kita temui?” pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir lead vocal grup EXO-K itu. D.O yang merasa pertanyaan itu ditujukan kepadanya, mengalihkan pandangannya kearah Baekhyun sambil tetap berpose untuk para fans setianya. “pendekatan. Tentu saja.” Jawabnya. Baekhyun mengangkat kepalanya lalu membenarkan duduknya senyaman mungkin agar ia bisa memberikan fan service terbaiknya.

Keduanya masih melanjutkan pembicaraan mereka sambil melambai-lambaikan tangan kepada para fans atau pun berpose semenarik mungkin saat melakukan fan service. “bagaimana caranya jika terhadap orang yang bahkan namanya pun kita tidak tau?” sekali lagi D.O menoleh kan kepalanya pada pemuda di sampingnya saat mendengar pertanyaan yang menurutnya ‘bukan-gaya-Baekhyun-banget’ karena memang biasanya pemuda itu akan bertanya sesuatu yang hanya bisa terlintas di pikirannya saja. “kalau kejadiannya seperti itu, langkah pertama tentu saja berkenalan, memang apa lagi?!” Akhirnya D.O menjawab juga pertanyaan yang sempat ia ragukan kaluar dari mulut pemuda disampingnya itu.

“tapi keadaannya tidak mungkin untuk mengajaknya berkenalan secara langsung.” D.O mengerutkan dahinya pelan. “agak rumit juga untuk kasus yang satu ini. Hanya ada satu cara” Baekhyun menolehkan pandangannya pada pemuda yang memiliki tinggi badan yang hampir sama dengannya penuh antusaisme. “apa itu? Katakan!”

“nekat. Kau hanya perlu nekat.” Sambung D.O sangat mantap. Baekhyun hanya berjengit, “nekat mengajaknya berkenalan secara langsung? Benar-benar cari mati!” ia mendengus sebal, “tidak adakah cara yang lebih mudah?” Tanya Bekhyun masih harap-harap cemas. D.O terlihat berpikir keras memeras otaknya yang sebenarnya tidak perlu segitunya juga. “aha! kau pinta saja nomor ponselnya.” Usul D.O setelah sebelumnya ia harus bekerja keras memeras otaknya untuk mendapatkan ide cemerlang itu, walaupun ia sendiri tidak tau apa untungnya bagi dirinya. Bahkan ia sendiri tidak tau siapa yang sebenarnya orang yang dimaksud Baekhyun.

“kenapa ide mu tidak satupun yang memungkinkan untuk dilakukan sih?” Tanya Baekhyun gemas, “lalu kenapa kau meminta saran dariku?” Tanya D.O dengan tatapan polos seperti bocah 5 tahun yang tak terkontaminasi oleh kejamnya dunia. Baekhyun menghembuskan nafasnya pelan, tak bersemangat seperti benar-benar bukan Baekhyun. “aku juga tak mungkin meminta nomor ponselnya terang-terangan disini.”

D.O masih mengobral senyumnya untuk para fans, “jika begitu, kenapa tidak kau saja yang memberikan nomor ponselmu.” Jika didalam serial katrun animasi mungkin kini di atas kepala Byun Baekhyun sudak terdapat lampu bohlam 5 watt yang menyala remang-remang.

“kau memang jenius!” lalu Baekhyun mencubit kudua pipi D.O secara paksa. Dan berhasil membuat sang empunya ide –kebetulan- cemerlang itu melongo namun sedetik kemudian tersadar saat teriakan para fans semakin histeris ketika melihat skinship yang baru saja terjadi antara pasangan baru Baekhyun-Kyungsoo. “tentu saja. Itu sudah bersertifikat.” Ucapnya bangga menanggapi pujian Baekhyun sebelumnya. Tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu. “apa orang yang kau maksud itu ada disini?” tanyanya tak dapat menyembunyikan kekagetanya.

Baekhyun mengambil beberapa lembar tissue dari kotak tissue yang sengaja di sediakan para staf di bawah meja. Ia tak menghiraukan kekagetan pemuda disampingnya itu. Lalu dengan cekatan menuliskan sesuatu di atas benda putih bersih itu, tak berapa lama ia sudah menggulung tissue –yang sudah ia tuliskan sesuatu disana- lalu meletakan gumpalan tissue itu di tengah-tengah tissue lain yang masih utuh untuk di bungkus dan diikat ditengahnya sehingga membentuk sebuah boneka ‘teru-teru bozu’, boneka khas jepang yang di percaya dapat mengusir hujan jika ia di gantungkan di atas jendela rumah. Tak lupa Baekhyun memberi lukisan wajah agar boneka itu semakin terlihat hidup. Namun karena pada dasarnya dia tidak memiliki bakat menggambar bukannya terlihat menggemaskan, justru kini boneka itu terlihat sangat menyeramkan.

“kau sedang membuat prakarya apa?” Tanya D.O saat sudah lelah memberikan fan service dan bersiap untuk memulai acara fansign mereka. Sekali lagi tanpa menjawab pertanyaan D.O, ia memandang pemuda disampingnya itu penuh harap. “kau harus membantuku.” Ucapnya penuh memohon, namun bukannya terlihat memohon ia justru terlihat seperti senior yang sedang menyiksa juniornya di masa orientasi siswa baru.

“m-membantu apa?”

Sudah lebih dari 30 menit, antrian sudah dibuka, dan berjalan dengan lancar. Hanbyul mengikat rambut panjangnya kebelakang karena rasa gerah yang menjalarinya. Ia tidak begitu suka berdesak-desakan, tentu saja. Antrian terus maju satu persatu, memperkecil antrian di belakang. Hanbyul melihat antrian didepannya tinggal 13 sampai 12 orang untuk sampai pada giliranya.

Untuk mengusir kebosanannya gadis itu masih menekuri aplikasi twitter pada smartphone nya, berbeda dengan gadis-gadis disekitarnya yang tidak mau melepaskan pandangan mata mereka barang sedetikpun dari keenam pria yang sibuk melakukan fan service itu. Hanbyul menguap pelan, lalu melihat jam tanganya kembali, kini jam itu menunjukan pukul 08:37 PM. Sepertinya aku akan pulang naik taksi saja, batinnya. Mengingat hari ini ia sangat lelah untuk naik bus.

Antrian terus maju perlahan-lahan, tapi gadis itu tak mau memandang lagi kedepan, takut-takut ia beradu tatap lagi dengan salah seorang yang memiliki manik mata seperti yang pernah dilihatnya entah dimana. Gadis itu asik memperhatikan apapun yang sebenarnya tidak begitu penting, seperti memandangi sepatu yang dikenakannya, memainkan kuku jemarinya, ataupun memperhatikan orang-orang yang sibuk dengan kegiatan mereka sebelum bertemu sang idola. Benar-benar tidak penting.

“gadis yang mana?” Tanya D.O berbisik pelan pada Baekhyun sambil menunggu gadis yang meminta tanda tangannya mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Baekhyun tersenyum pada gadis dihadapannya yang kini berlalu, “yang karisma nya paling mencolok.” Jawab Baekhyun tak kalah pelan berbisik di telinga D.O lalu mulai membubuhkan tanda tangannya pada seorang fans yang menyodorkan mini album mereka “untuk?” Tanya Baekhyun dengan seulas senyum childish kebanggaannya. “Shim Mina.” Jawab gadis itu malu-malu sambil memberikan sebuah bantal berbentuk hati kepada pemuda yang jadi idolanya itu. “kamsahamnida.” ucap Baekhyun dan D.O tanpa sadar hampir bersamaan.

“Kau gila! Mana aku tau gadis penuh karisma seperti apa yang kau maksud.” Ucap D.O jengkel namun masih tetap berbisik. “Dia setelah ini.” Jawab Baekhyun lalu kembali melakukan fan service dengan memberikan tanda tangan dan kesan yang baik untuk para fans. “ish, michoseo! Kenapa harus olehku?!” Kesal D.O disela-sela ia memberikan fan service. “itu karena dia mengantri di barisan mu.” Jawab Baekhyun yang masih mendengar gerutuan D.O.

“Kamsahamnida.” Ucap D.O saat fans itu memberikan sebotol besar jus sebelum berlalu dari hadapannya.

Hanbyul mengaduk-aduk tasnya lalu mengeluarkan benda pipih berbentuk bujur sangkar itu. “annyeong.” Ucapnya saat kini ia sudah berada di depan pemuda yang bernama D.O itu. Lalu ia menyerahkan mini album itu untuk dimintai tanda tangannya. “untuk?” Tanya D.O masih lengkap dengan senyumannya. “Go Miho.” Jawab Hanbyul mantap. “tapi, bisakah kau memberikan ucapan selamat ulang tahun untuk sahabatku?” sambung Hanbyul, dan D.O hanya mengangkat sebelah alisnya, tanda ia kurang paham dengan apa yang dibicarakan gadis dihadapannya itu. “dia fans berat mu dan aku ingin memberikan ini sebagai hadiah ulang tahunnya.” Jawab Hanbyul saat melihat ekspresi bingung dari pemuda dihadapannya itu.

“oh. Tentu saja.” D.O menyanggupi permintaan gadis itu. Setelah selesai menuliskan ucapan selamat ulang tahun dan tanda tangannya, D.O menyerahkan mini album itu pada sang pemilik. “kamsahamnida.” ucap Hanbyul saat menerima kaset CD nya. “ah, chakkaman.” Sebelum nya D.O mengeluarkan sesuatu dari bawah mejanya. “tolong temani boneka ini. Dia kesepian.” Ucap D.O sambil menyerahkan boneka dari tissue itu padanya. “boneka?” Tanya Hanbyul kurang yakin dengan apa yang di pegangnya sekarang. Dan D.O hanya nyengir mendengar keraguan dari gadis itu. “haha. Memang tidak pantas di sebut boneka, tapi..” D.O memberi isyarat agar Hanbyul mendekatkan telinganya, dan gadis itu melakukan sesuai intruksi pemuda itu “..ini dari seseorang.” Bisiknya so misterius.

Dan Hanbyul hanya tersenyum garing. “ne, kalau begitu kamsahamnida.” Ucapnya sebelum benar-benar berlalu. “ne, kamsahamnida.” Balas D.O. walaupun tanpa diketahuinya Baekhyun sudah misuh-misuh saat mencuri dengar percakapan mereka.

“kenapa kau tidak menanyakan namanya?” Tanya Baekhyun saat kini ia dan Kyungsoo yang tak lain adalah D.O berada di dalam lift menuju dormitory mereka karena yang lain sudah sampai terlebih dulu. “Kau kan hanya menyuruhku memberikan boneka jadi-jadian itu padanya.” Baekhyun melotot kesal pada pemuda yang memiliki nama asli Kyungsoo itu. “bukan untuk menanyai nama, alamat atau nomor ponselnya kan?” sambung Kyungsoo tak memberikan kesempatan Baekhyun menyela. “ara. Ara. Gomawo Kyungsoo-ah” ucap Baekhyun setengah tak terima. Dan D.O hanya menanggapinya dengan senyum bangga karena bias membuat seorang Byun Baekhyun mengaku kalah secara tidak langsung.

“Byun, jadi selanjutnya bagaimana?” saat mereka sudah masuk kedalam dormitory. “dasar tidak sopan! Kau harus memanggilku hyeong. Aku lebih tua darimu!” kecam Baekhyun saat mendengar panggilan kurang ajar dari Do Kyungsoo. “sesungguhnya kau tidak ada pantas-pantasnya di panggil hyeong.” Balas Kyungsoo tak kalah kejam, namun karena tingkat kenarsisan Baekhyun sudah sangat menghawatirkan ia justru menganggap kata-kata pedas Kyungsoo itu sebagai pujian.

“aku tau, wajahku memang baby face minta ampun. Tapi kesopanan harus di utamakan Kyongsoo-ah.” Ucap Baekhyun so bijak sambil menepuk bahu Kyungsoo yang baru saja menyemburkan air yang diminumnya kala mendengar jawaban konyol Baekhyun. “itu baby face minta dibunuh.” Geram Kyungsoo dengan mengganti kata-kata Baekhyun tadi. Dan Baekhyun melenggang masuk ke kamarnya sambil tertawa puas.

Hanbyul berguling-guling di atas kasur ukuran sedang yang ada ditengah-tengah ruangan kamarnya. Ia baru selesai mandi setelah tadi sore ia menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya, Miho. Dan sekarang ia hanya ingin bermalas-malasan di atas ranjang empuknya ini. Namun tiba-tiba ia melirik pada meja belajarnya, terdapat sebuah mangkuk berisi buah-buahan segar yang disiram saus coklat. Pasti umma yang membawanya, batin gadis itu. Lalu ia beranjak mengambil kudapannya lalu duduk di atas kursi dihadapan meja belajarnya itu. Mengangkat kedua kakinya sambil menikmati makannannya. Tiba-tiba ponsel nya bergetar menandakan ada pesan masuk. Dari Miho, saat gadis itu melihat sang pengirim.

From: Go Miho

Byul-ah. Kau memang yang terbaik. Gomawo untuk hadiah dan ucapan istimewa dari neui Kyungsoo oppa. Uri Oh Hanbyul JJANG!!! ^^

Dan Hanbyul hanya tersenyum membaca pesan dari sahabatnya itu, lalu ia segera membalas pesan itu.

To: Go Miho

Tentu saja! Oh Hanbyul JJANG!!!

Lalu ia meletakan kembali ponselnya di atas meja belajar. Tiba-tiba ia merasa melupakan sesuatu saat membaca pesan dari sahabatnya itu. “aku melupakan apa ya?” tanyanya sambil memasukan potongan buah strawberry yang berlumuran saus coklat kedalam mulutnya. “ah. Dasar gadis pikun!” umpatnya pada diri sendiri, ya walaupun begitu ia tetap menyadari sifat pelupanya yang sudah sangat parah itu.

Tiba-tiba seorang mengetuk pintu kamarnya. “byul-ah. Eomma menemukan ini di dalam saku jaket mu. Untung belum tercuci.” Nyonya Oh masuk sambil menyerahkan sesuatu berbentuk gumpalan tissue pada anak gadisnya. “eomma takut ini sesuatu yang penting.” Hanbyul mengamatinya, lalu sedetik kemudian ia ingat dengan kejadian beberapa hari lalu saat di acara fansign.

“ah. Gomawo, eomma. Aku memang sedang mencari benda ini.” Ucapnya sambil memperlihatkan senyum garignya. Nyonya Oh hanya menggelengkan kepalanya maklum ”dasar ceroboh.” Lalu nyonya Oh pun keluar dari dalam kamar putrinya itu. Sepeninggalan sang ibu Hanbyul hanya menatapi boneka ‘teru-teru bozu’ yang kini terlihat seperti gumpalan tisu bekas itu.

Boneka itu sepertinya berniat di beri wajah dengan senyum menggemaskan oleh pembuatnya tapi justru terlihat seperti boneka hantu yang menyeringai. “pasti orang yang membuat ini tidak berbakat dalam urusan menggambar. Ck!”

Namun tiba-tiba ia terpaku pada tulisan di balik wajah ‘teru-teru bozu’ itu yang bertuliskan ‘open it’. Hanbyul mengerenyit bingung, namun pada akhirnya menuruti perintah yang sudah ditulis itu. Dengan perlahan ia membuka simpul yang mengikat boneka tissue itu karena tak ingin  merusaknya. “tenang! Aku tidak akan melukaimu.” Ucap Hanbyul penuh perhatian pada boneka tak berdosa itu. Dan ia mendapati gumpalan tissue yang menjadi isi kepala boneka ‘teru-teru bozu’ gagal itu.

Lalu ia mengurai gumpalan itu sehingga menjadi bentuk tissue seperti semula dengan sebuah tulisan dan sebuah kombinasi angka yang terlihat seperti nomor ponsel. “Ige mwoya?” tanyanya sambil mengangkat selembar tissue kusut dengan tulisan.

101-4360-xxx

Secreat Word:

Call me ‘teru-teru Byun’

Hanbyul mengerenyit bingung namun tak lama kemudian ia meraih poselnya lalu mulai menekan kombinasi angka yang tertera disana. “haruskah aku menghubungi nomor ini?” tanyanya sambil memandangi layar ponselnya. “bagaimana jika ini hanya untuk mengerjaiku? Dan ini sudah lewat 3 hari dari acara fansign itu.” tanyanya lagi untuk diri sendiri lalu meletakan ponsel itu di atas meja. “ah sudahlah tidak ada salahnya juga aku mencoba menghubunginya.” Putusnya lalu meraih ponsel itu lagi lalu menyentuhkan jarinya pada kata call.

‘tuuutt.. tuuutt.. tuuutt..’

Suara nada tunggu yang monoton di sebrang sana mengiringi rasa penasaran gadis itu, cukup gugup juga, namun ia tak mau berhenti karena rasa penasaran yang lebih kuat dari rasa gugupnya. Ia menanti beberapa saat, namun tak kunjung panggilannya di jawab, dalam hati kecilnya ia berharap sang pemilik nomor ini tak usah mengangkat panggilan nya saja. Namun di detik-detik terakhir Hanbyul akan mematikan panggilan keluarnya tiba-tiba seorang disebrang sana mengangkat telepon nya. Meruntuhkan kepercaya diri gadis itu.

“yeoboseo?”

Hanbyul tak kuasa menjawab. Ia harus berkata apa sekarang? Namun pandangan matanya tertuju pada tissue-tissue di mejanya.

“er.. teru-teru Byun?” ucapnya ragu.

Lama tak terdengar apapun. Dan itu semakin membuat Hanbyul tegang, seperti menunggu vonis pengadilan untuknya antara hukuman pancung atau tembak mati. Dan tak ada satupun yang lebih baik.

“kenapa baru menghubungi ku?”

“NE?!”

—FIN—

 Bagaimana? Membosankan? Maaf karena aku membuat karakter Byun Baekhyun yang biasanya sangat kental dengan tingkah autis dan childish nya jadi sedikit kalem dan so serius dalam cerita kali ini, sehingga mungkin ada yang kehilangan feel saat membaca cerita ini. Tapi mudah-mudahan chingu sekalian menikmatinya. ^^

Untuk squel –jika memang ada yang mengharapkannya- mungkin akan ada cerita kelanjutan dari Byun-Byul Story ini tapi dengan judul yang berbeda-beda di setiap fanficnya, tapi tenang aja, aku sebisanya membuat setiap Byun-Byul Story ini saling berkesinambungan dengan cerita sebelumnya. See u in the next story~

 *bow *bye \(^o^)

-Peruzzi’s Line-

22 thoughts on “Call Me, Love Me

  1. Kyaaaaaaaaa !*akuusukaa akusuukaa
    Hahaa, ceritanyaa anti mainstream, setuju banget sama sequel
    Smngat menulis trus author-nim

  2. waduh waduh waduh knapanc ???
    itu udhan…
    aduh ya ampun thor naa crta nya gantung gthu..?
    ini mh wajib sequel…

    q ska krakter Baek dsni..feel nya jg dpt…
    q mw cri2 sequelnya ah…
    tetap smngat thor !🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s