We’ll Meet Again

Main Cast :

Kim Ahri (OCs) – Kim Jong In (KAI)

Support Cast :

Kim Joon Myun (Suho) – Oh Sehun – and Other

Genre : Romance – Angst

Ratting : PG 13

Annyeong Haseo, IURHee imnida, 92 line. Salam kanal saya Author baru di sini dan ini FF pertama yang saya posting di sini.

Mian kalau FF-nya Gaje, Kurang memusakan dan ancur abis, Very Very Mianhe. Dan Maaf juga kalau banyak typo yang berserakan di mana saja, karna saia hanya manusia biasa yang tidak sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah SWT *Kok malah ceramah*

Dari pada banyak bicara yang gak penting, mending langsung baca aja. Don’t Forget For RCL😉

Selamat Membaca and Happy Readers^^

We’ll Meet Again

Kim Jong In pria yang akrab di sapa Kai itu tengah asik memilih-milih bunga di sebuah toko bunga. Tapi ia tidak menemukan bunga yang ia cari di sana. Seorang penjaga toko menghampirinya dan tersenyum padanya.

“Annyeong haseo ada yang bisa aku bantu tuan?” tanya perempuan paruh baya pemulik toko bunga itu.

Kai memasang senyumnya. “Aku mencoba mencari bunga lili berwarna kuning” jawab Kai ramah.

“Mianhe tuan. Kami kehabisan bunga itu” sang pemilik toko tampak menyesal.

“Gwaenchana, aku akan coba mencarinya di tempat lain. Gamsahamnida” ucap Kai masih dengan senyuman. Kai membungkuk pada perempuan itu dan setelah itu ia langsung keluar dari toko.

Kai rupanya tidak menyerah, ia masih terus mencari bunga lili berwarna kuning itu di setiap toko. Sudah hampir satu jam ia berjalan tapi tidak mendapatkannya.

Tapi usaha Kai membuahkan hasil. Dari tempat Kai tidak jauh berdiri ia melihat sebuah toko bunga yang menjual bunga yang ia cari. Dengan langkah panjang Kai langsung menuju toko bunga yang berada di pinggiran jalan.

Tanpa pikir panjang lagi Kai langsung saja memebeli bunga itu.

Pintu toko terbuka saat Kai sedang membayar. Seorang gadis berambut coklat sebahu masuk kedalam sana. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat. Pandangannya tidak tentu arah. Gadis itu punya wajah yang manis. Tapi sayang ia buta.

“Annyeong haseo” sapa gadis itu. Karna buta gadis itu tidak tau kemana ia harus menujukan pandangannya.

Sang pemilik toko langsung berlari mendekatinya. “Maaf nona muda, apa yang bisa aku bantu?” tanya lelaki paruh baya penjaga toko.

Gadis itu mencoba mengikuti arah suara. “Maaf, Aku buta, bisa kau bantu aku menemukan Bunga lili berwarna kuning. Aku membutuhkannya” Gadis buta itu tersenyum manis.

Wajah lelaki itu tampak menyesal. “Mianhe Nona muda, bunga itu sudah habis terjual, dan toko kami sudah kehabisa stok untuk bunga itu”

“Benarkah. Kalau begitu aku akan mencoba mencari di tempat lain. Gamsahamnida” gadis buta itu membungkuk dan langsung melangkah keluar dari toko. Merasa kasihan, lelaki tua pemilik toko bunga itu langsung membukakan pintu dan membantunya keluar.

Kai – ia masih terdiam di tempatnya berdiri. Ia terus memperhatikan gadis buta itu hingga ia keluar dari toko.

Kai menatap bunga lili yang ada di tangannya. Ia merasa kasihan, ia bermaksud untuk memberikan bunga itu pada gadis buta tadi.

Tanpa pikir panjang Kai langsung berlari keluar dari toko dan mengejar gadis itu. Untunglah gadis buta itu belum terlalu jauh.

“Nona, changkaman” ucap Kai setengah berteriak.

Gadis itu tidak menoleh dan terus saja melangkah. “Nona” Kai menahan tangan gadis buta itu dan membuatnya harus menghentikan langkahnya.

Gadis itu tampak bingung. “Maaf. Kau mencari bunga lili kuning kan?” Kai terbata.

“Bagaimana kau tau” sudut bibir gadis buta itu trangkat dan membentuk sebuah senyuman manis.

“Ini, Aku punya dua tangkai bunga lili kuning, kau bisa memilikinya” Kai menyodorkan bunga itu pada si gadis.

“A-Anniyo. Aku masih bisa mencarinya di toko bunga lain” Gadis buta itu menolak tawaran Kai.

Tanpa berkata apa pun Kai langsung meletakkan bunga lili itu di tangan si gadis buta itu. Wajah gadis itu tambah kebingungan.

“Aku sudah berkeliling tapi para pemilik toko bunga bilang kalau mereka semua kehabisan bunga itu. Jadi sebaiknya kau terima saja ini. Jangan menolak lagi”

Gadis buta itu menyunggingkan senyuman. “Gomawo. Tapi tuan ini siapa?”

“Panggil saja aku Kai, aku salah satu pelanggan di toko bunga tadi”

“Sekali lagi aku berterima kasih pada tuan”

“Jangan memanggilku tuan” Kai tampak kesal. Kai menghembuskan nafas berat. “Kau sendirian?” tanya Kai. Gadis buta itu mengangguk.

Kai mengarahkan pandangannya ke jalan. “Tunggu di sini” ia langsung berjalan ke tepi jalan dan melambaikan tangannya. Rupanya Kai memanggil taksi.

Sebuah taksi berhenti di depan Kai. Kai langsung berlari mendekati gadis buta tadi dan membantunya berjalan mendekati taksi sampai gadis itu masuk ke dalam taksi.

“Katakan alamatmu pada supir taksi ini, dia akan mengantarmu sampai kerumah”

Gadis buta itu mengangguk kecil dan tersenyum. Kai akan menutup pintu taksi tapi tiba-tiba terhenti. Kai kembali membungkukkan badannya dan menatap ke gadis buta itu.

“Maaf. Namamu siapa?”

Gadis buta itu kembali tersenyum manis. “Ahri. Namaku Kim Ah-Ri”

***

“Aku pulang” Ahri berteriak saat memasuki rumahnya. Gadis itu di sambut seorang lelaki muda yang notabene adalah kakak kandung Ahri. Wajahnya tampak cemas.

“Ahri-ah. Kau dari mana saja? Kau tidak apa-apakan?” Dari nada bicaranya pria itu benar-benar khawatir.

“Oppa, aku tidak apa-apa kok” jawab Ahri sembari tersenyum.

“Ahri-ah, Akukan sudah bilang kau jangan keluar rumah sendirian. Aku khawatir Ahri”

“Mianhe”

Pandangan pria itu teralih ketangan kiri Ahri yang menggenggam dua buah tangkai bunga lili berwarna kuning.

“Jadi kau keluar untuk mencari bunga itu lagi”

Ahri mengangguk. “Yang dikamar sudah layu jadi aku beli yang baru”

Ahri mulai melangkah, dengan sigap pria muda tampan itu membantu adiknya. Ia membawa adik perempuannya itu masuk kedalam kamar dan membantunya duduk di tepi tempat tidur.

“Suho Oppa” panggil Ahri.

“Wae?”

“Tadi aku bertemu seorang pria yang baik hati. Dia yang memberikan bunga lili ini padaku. Seandainya saja aku bisa melihatnya” Ahri tersenyum kecil.

Suho mengambil bunga lili yang berada di genggaman Ahri dan meletakkannya di dalam pot kaca yang sudah berisi air.

Suho menatap Ahri kasihan. “Kau harus sabar ya, aku akan berusaha agar kau bisa melihat kembali” Suho membelai lembut rambut coklat Ahri.

“Gomawo oppa”

“Ahri, satu lagi. Aku sangat khawatir padamu sekarang hanya kau yang aku punya. Jangan percaya pada sembarang orang, aku takut mereka menyakitimu”

Raut wajah Ahri berubah murung. Suho berdiri dari tempat duduknya dan langsung melangkah pergi meninggalkan adik perempuannya itu sendirian.

***

Kai membuka jendela dan membiarkan cahaya matahari masuk melalui celah jendela kamarnya. Kai menghirup udara pagi yang segar dan tersenyum.

Sesaat kemudian laki-laki itu langsung menyambar handuk yang tergantung dan langsung masuk ke kamar mandi yang berada di kamarnya.

Beberapa menit kemudian laki-laki tampan itu keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi.

“Kau mau kemana?” Seorang pria paruh baya yang sedang asik membaca koran di meja makan berbicara pada Kai.

Kai memutar bola matanya. Ia tampak kesal dengan pria itu. Pria yang menyandang status sebagai ayah tiri Kai. Kai sangat benci padanya, ia selalu mengatur Kai. Hal yang paling Kai benci.

“Bukan urusanmu” ketus Kai.

“Kim Jong In. Begitu caramu berbicara dengan ayahmu” Seorang wanita paruh baya yang notabene adalah Ibu kandung Kai ikut bicara.

“Ayahku sudah meninggal” tanpa mempedulikan kata-kata ayah dan Ibunya itu Kai langsung melangkah pergi keluar dari rumahnya.

Ayah tiri Kai terdiam, sementara Ibunya hanya bisa pasrah dengan kelakuan anak lelakinya itu.

Di dalam kamarnya – Oh Sehun anak dari ayah tiri Kai yang sekarang menyandang status sebagai saudara tiri Kai itu hanya bisa terdiam mendengar keributan di luar. Bukannya hanya Ayahnya yang Kai benci, bahkan Sehun pun sangat di benci oleh Kai.

***

Di taman dekat rumahnya, Ah Ri sedang duduk sendirian di sana. Walau pun tidak bisa melihat, setidaknya Ah Ri bisa menikmati udara di sana. Ah Ri bisa mendengar suara tawa riang anak-anak kecil yang sedang bermain di dekatnya. Ah Ri ikut trsenyum mendengarnya.

Tak jauh tempat Ah Ri duduk seorang pria tengah melamun, menatap lurus ke depannya. Pria itu sedang kesal, pikirannya sedang kacau.

Pria itu menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Ia memperhatikan sekelilingnya. Pandangannya terhenti saat melihat seorang gadis yang sedang tersenyum. Gadis buta – Kim Ah Ri.

Pria itu mendekat ke arah Ah Ri. Ia menatap Ah Ri mencoba meyakinkan dirinya kalau gadis itu benar-benar Ah Ri.

“Kim Ah-Ri” panggilnya.

Ah Ri mencoba mencari arah suara yang memanggil namanya. Raut wajahnya tampak bingung.

“Nugu-seo?”

Pria itu mengambil tempat duduk di samping Ah Ri. “Kai. Kau ingat yang kemarin memberikanmu bunga lili” Kai berharap Ah Ri masih mengingatnya.

Sudut bibir Ah Ri terangkat. Ia tersenyum. “Iya, aku ingat. Kau pria yang baik, mana mungkin aku lupa” sepertinya nama Kai sudah melekat di dalam pikiran Ah Ri meskipun ia tidak melihatnya.

“Kau sendirian?” Tanya Kai mencoba memulai pembicaraan.

“Iya aku sendirian” Jawab Ah Ri santai.

“Bagaimana kau bisa ke sini sendirian. Bagaimana kau tau jalan ini. Kau tidak takut pergi sendirian, bagaimana kalau ada ada orang jahat” Raut wajah Kai bingung dan bercampur dengan rasa khawatir.

“Dari nada bicaramu kau sepertinya khawatir sekali. Kau heran, karna aku buta” Ah Ri trsenyum.

“Bu-bukan begitu, maksudku” Kai menggaruk punggung kepalanya, apa yang harus ia katakan. Ia tidak bermaksud menyinggung perasaan Ah Ri.

“Waktu Ayah dan Ibuku masih hidup aku selalu ke taman ini setiap hari, aku sudah sangat hapal jalan di sini. Lagi pula rumahku tidak terlalu jauh. Coba berbalik dan lihat kesebelah kirimu. Beberapa meter dari sini kalau kau menemukan rumah berwarna hijau, itulah rumahku” Ah Ri mencoba menjelaskan, dan berharap Kai mengerti.

Kai memandang wajah Ah Ri yang terlihat ceria itu. Kenapa gadis ini selalu saja tersenyum, padahal hidupnya sangat berbeda dari gadis-gadis lain.

“Ah Ri-ssi. Boleh aku bertanya sesuatu?” Kai menatap Ah Ri khawatir.

“Tentu saja”

“Apa yang menimpamu hingga kau menjadi buta seperti ini?” Kai bertanya penuh hati-hati. Ia berharap untuk tidak menyinggung perasaan Ah Ri.

Ah Ri menghela nafasnya, senyum manisnya kembali terukir di wajahnya. “Kecelakaan 3 tahun lalu. Aku dan kedua orang tuaku mengalami kecelakaan. Kecelakaan itu yang merenggut nyawa kedua orang tuaku dan membuat mataku buta. Tapi aku tidak sendirian, aku masih punya seorang kakak laki-laki” Jelas Ah Ri.

“Orang tuamu meninggal, dan kau buta. Aku sungguh tidak mengerti, kau bahkan masih bisa terus tersenyum”

“Jadi menurutmu, apa yang harus aku lakukan, haruskah aku marah pada tuhan. Itu tidak mungkinkan”

Ah Ri kembali tersenyum. Kai masih menatap lekat-lekat wajah gadis buta itu. Ya tuhan, jarang sekali aku bertemu dengan gadis seperti Ah Ri di dunia ini. Ah Ri bahkan tidak pernah mengeluh dengan kehidupannya. Sementara aku, aku bahkan merasa tidak ingin hidup. Pikir Kai.

“Kai, kau masih disana”

“Iya, aku masih di sini, di sampingmu” Kai menarik nafasnya. “Apa matamu bisa sembuh?”

Ah Ri mengangguk pelan. “Dokter bilang aku akan bisa melihat jika melakukan operasi. Tapi itu tidak mungkin, dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu untuk operasi”

“Apa kau benar-benar ingin bisa melihat?”

“Tentu saja. Jika tuhan mengijinkan aku pasti ingin sekali” Kai menatap Ah Ri penuh rasa Iba.

Kai berharap ia bisa membantu gadis malang ini. Ia sangat ingin membantunya, apa pun caranya.

***

Kai mengaduk-aduk makanan yang ada di depannya. Ayah, Ibu, dan Adiknya sudah mulai melahap makanan mereka tapi Kai, sesuap pun ia belum memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Kai hanya memandangi piringnya.

“Jongin-ah, kenapa kau tidak memakan makananmu” tegur Ibunya.

Kai meletakkan sendok yang ia pegang. Semua orang menatapnya bingung. “Tawaranmu beberapa bulan yang lalu, tentang kuliahku di Amerika. Apa itu masih berlaku?” tanya Kai.

Ibu dan Ayah tiri Kai saling bertatapan bingung. Sementara Sehun, ia terus menatap bingung ke arah kakak tirinya itu.

“Tentu saja. Ada apa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?” Ayah tiri Kai menatapnya serius.

“Aku mau terima tawaran itu” Ayah tiri dan Ibu Kai saling tersenyum senang. Mereka seakan tidak percaya apa yang mereka dengar. Bukankah Kai sangat menolak jika di ajak bicara soal ini. “Tapi sebelum aku pergi, aku punya permintaan”

***

Hari berikutnya. Kai kembali ke taman itu, tempat ia dan Ah Ri bertemu kemarin. Ia berharap bisa bertemu Ah Ri lagi di sana.

Keberuntungan sepertinya sedang berpihak pada Kai. Benar, Ah Ri ada di sana. Seperti kemarin Ah Ri duduk sendirian, dengan wajahnya yang ceria seperti biasanya. Senyuman manisnya tidak pernah lepas.

“Ah Ri-ssi” tegur Kai.

“Kai, kau kah itu”

“Iya ini aku” Kai tersenyum. Hebat, Kai sudah bisa tersenyum sekarang. Dan itu karna Ah Ri. “Baru 3 kali bertemu kau sudab hapal suaraku. Kau hebat” Kai duduk di samping gadis itu.

“Ada apa kau kemari?”

“Aku hanya kebetulan lewat. Dan aku melihatmu disini, jadi aku mampir saja” Kai berbohong.

Kai menatap Ah Ri dalam.

“Ah Ri-ssi. Kau mau menjadi temanku”

Ah Ri tertawa hambar. “Kau ini bicara apa. Tentu saja aku mau menjadi temanmu. Semenjak aku buta, kau orang pertama yang menjadi temanku”

Kai menggenggam tangan kiri Ah Ri dan membuat Ah Ri sedikit terkejut.

“Hari ini kau mau tidak menemaniku jalan-jalan”

Ah Ri mengangguk. “Aku mau”

Kai kembali tersenyum. “Gomawo Ah Ri-ssi”

***

Hari ini hari pertama Kai dan Ah Ri pergi bersama, dan akan menjadi hari terakhir Kai untuk bertemu dengan gadis yang sudah membuatnya bisa merubah dirinya itu.

Besok, Kai sudah harus pergi ke Amerika. Kai tidak mau membuang-buang waktu dan menyia-nyiakan kesempatannya bersama Ah Ri hari ini.

Kai menggenggam erat tangan Ah Ri, sedikit pun ia tidak pernah melepaskan genggamannya. Ah Ri merasa senang bisa bertemu dengan orang sebaik Kai. Begitu pun dengan Kai.

“Ah Ri-ssi, kau mau makan ice cream?” tanya Kai.

“Ice Cream? Aku mau” Ah Ri mengangguk bersemangat.

“Kajja” Kai langsung membawa Ah Ri menuju seorang Ajussi penjual Ice Cream. “Ajussi, aku pesan 2 ya” Ucap Kai pada Ajussi penjual Ice Cream.

Tak lama kemudian Ajussi penjual Ice Cream itu memberikan 2 cup ice cream pada Kai.

“Buka mulutmu” perintah Kai. Ah Ri membuka mulutnya, Kai pun langsung menyuapkan sesendok Ice Cream pada Ah Ri. Ah Ri tersenyum.

“Gomawo Kai-ssi” Kai tersenyum.

“Changkaman” Kai mengambil sapu tangan yang ada di sakunya dan menggunakan sapu tangan itu untuk membersihkan mulut Ah Ri. “Orang-orang pasti iri karna aku punya teman secantik dirimu” puji Kai.

Ah Ri terseipu malu. “Hei wajahmu memerah”

“Jeongmalyo” Ah Ri mencoba menutupi wajahnya. Tapi Kai malah menahan tangannya.

Kai kembali menggenggam tangan Ah Ri. “Kajja”

***
Hari sudah mulai sore, Kai berniat untuk mengantar Ah Ri pulang. Sebelum itu Kai mampir terlebih dahulu ke toko bunga. Ia membeli 2 tangkai bunga lili kuning.

“Ah Ri, aku membelikanmu bunga lili kuning. Kau menyukainya kan” Kai memberikan bunga itu pada Ah Ri.

Ah Ri tersenyum. Ah Ri dan Kai berjalan bersama. Kai masih menggenggam erat tangan Ah Ri.

“Sebenarnya yang menyukai bunga lili kuning itu adalah Ibu ku. Dia sangat menyukainya. Semenjak Ibuku meninggal, aku selalu meletakkan bunga lili kuning di kamarku, supaya aku bisa selalu mengingat Ibu” Ah Ri menarik nafas mencoba menghirup udara yang bisa membuat hati jauh lebih tenang.

Kai menghentikan langkahnya. “Kita sudah sampai”

“Goma…”

“sssttt” Kai menempelkan telunjuknya di bibir Ah Ri dan membuat Ah Ri tidak bisa melanjutkan ucapannya. “Kau sudag terlalu banyak mengatakan kata itu hari ini. Akulah yang harusnya berterima kasih padamu”.

Ah Ri masih terdiam di tempatnya berdiri. Ia tidak tau harus mengatakan apa lagi.

Kai mendekatkan wajah ke arah Ah Ri. Hampir saja bibirnya menyentuh bibir gadis itu, tapi Kai mengurunkan niatnya itu. Kai malah mencium pipi Ah Ri dengan lembut.

Ah Ri terkejut. Benar-benar terkejut.

“Maaf aku hanya ingin berterima kasih. Aku tidak bermaksud untuk…”

“Gwaenchana” Ah Ri tersenyum. “Aku masuk dulu ya. Sampai jumpa lagi” Ah Ri perlahan melangkahkan kakinya.

Tapi Kai masih menggenggam tangannya. Dengan barat hati Kai pun terpaksa melepaskan genggaman tangannya. Memandang Ah Ri yang perlahan menghilang dari pandangannya. Membiarkan gadis itu pergi meninggalkannya yang mematung.

Kenapa sesakit ini Ah Ri. Kenapa aku merasa sakit saat ingin pergi darimu. Ah Ri, aku berharap kita masih bisa bertemu lagi. Ah Ri gomawo. Batin Kai.

***

Ah Ri masuk ke dalam rumahnya. Di dalam rumahnya kakak laki-lakinya Suho sudah menyambutnya. Ekspresi Suho sangat berbeda. Suho terlihat sangat senang sekali.

Suho langsung berlari memeluk Ah Ri. Sementara Ah Ri, ia sangat kebingungan dengan sikap kakaknya itu. “Ah Ri-ah. Aku senang sekali”

“Oppa waeyo? Ada apa denganmu?”

Suho melepaskan pelukannya dan menatap adiknya itu penuh ekspresi kebahagian. “Ah Ri, minggu depan kau akan menjalani operasi mata. Dan kau akan bisa melihat lagi”

Ah Ri sangat terkejut saat mendengar hal itu, tapi ia juga bingung, bagaimana mungkin ia bisa menjalani operasi itu. “Tapi oppa, biaya operasi itu bagaimana bisa?”

“Oppa juga tidak tau bagaimana bisa. Tapi dokter Kwon yang menanganimu mengatakan kalau kau bisa melakukan operasi minggu depan”

Suho kembali memeluk Ah Ri, Suho sangat senang sekali. Tapi Ah Ri berbeda ia sebenarnya merasa senang, tapi ada sesuatu yang aneh mengganjal di dalam hatinya yang membuat perasaannya bercampur bingung.

***

Hari ini akan menjadi hari yang paling menyedihkan untuk Kai. Sangat berat untuknya jika harus meninggalkan negara tempat dimana ia dilahirkan. Tempat dimana ia punya banyak kenangan bersama Ayah kandungnya. Dan tempat dimana ia menemukan seorang gadis baik, yang sekarang menjadi temannya.

Permintaan sebelum Kai pergi ke Amerika, itu lah yang membuatnya harus pergi. Setidaknya ia bisa membahagiakan temannya itu sebelum ia pergi. Kai meminta agar orang tuanya mau membiayai segala kebutuhan operasi mata Ah Ri, dengan begitu ia bisa pergi seperti yg di inginkan ke dua orang tuanya.

Kai sudah siap denga kopernya. Seorang supir pribadi keluarga mereka memasukkan. koper Kai ke dalam bagasi mobil. Kai pun masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Sehun.

Sehun yang akan mengantar Kai hari ini. Orang tuanya juga akan mengantar tapi mereka sudah lebih dulu ke airport.

Sebelum pergi ke Airport, Kai meminta pada supirnya itu untuk membawanya ke rumah Ah Ri.

Mobil berwarna silver itu berhenti di sebrang rumah Ah Ri. Tapi Kai tidak keluar dari mobilnya, ia hanya memandangi rumah Ah Ri dari dalam mobilnya.

Tak lama kemudian Ah Ri keluar bersama kakaknya Suho. Sepertinya mereka akan pergi. Kai menghela nafas berat.

“Sehun-ah, aku punya permintaan padamu. Bisa kah kau mengabulkannya” Kai masih terus memandang Ah Ri.

Sehun menatap Kai bingung. “Apa hyung?” Ini pertama kalinya Kai meminta sesuatu pada Sehun.

“Kau lihat gadis buta itu. Minggu depan dia akan melakukan operasi. Saat dia bisa melihat nanti, saat aku tidak ada disini aku mohon agar kau menjaganya” tidak sedetik pun Kai mengalihkan pandangannya dari gadis itu. “Tapi kau jangan bilang kalau kau adalah dongsaengku. Jangan katakan apa pun tentang hubungan kita sebagai saudara tiri. Aku hanya minta agar kau menjaganya” Kai menatap Sehun.

Sehun mengangguk. “Hyung menyukainya?”

Kai tersenyum kecil. “Dia hanya temanku. Bisakan kau menuruti permintaanku ini”

“Ne Hyung. Aku akan menjaganya” sejujurnya ini agak sedikit membingungkan Sehun. Bagaimana mungkin Kai menitipkan orang yang di sayanginya pada Sehun – orang yang paling di bencinya.

***

3 hari setelah operasi mata Ah Ri.

Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu Ah Ri, hari di mana perban mata Ah Ri akan di buka. Ah Ri sangat berharap operasi yang di jalaninya berhasil dan ia bisa kembali melihat.

Kwon Yuri – Dokter yang menangani Ah Ri itu masuk ke dalam kamar tempat Ah Ri di rawat. Ia di temani seorang perawat. Di sana juga ada Suho, kakak laki-laki Ah Ri.

“Ah Ri-ah, kau sudah siap. Aku akan mulai membuka perban matamu” Ah Ri mengangguk.

Dokter Kwon pun perlahan membuka perban yang menutupi mata Ah Ri. Ah Ri masih memejamkan matanya saat perban telah terbuka.

“Ah Ri kau bisa membuka matamu sekarang” printah Dokter Kwon.

Dengan perlahan Ah Ri membuka ke dua matanya. Samar-samar ia melihat Suho yang sedang tersenyum di depannya. Ah Ri tersenyum senang saat matanya sudah bisa melihat jelas orang-orang di sekelilingnya.

“Suho oppa” Ah Ri langsung menghburkan pelukannya ke kakak laki-lakinya itu. Suho pun ikut merasa senang.

Dokter Kwon trsenyum. “Ah Ri-ah, Chukae kau sudah hisa melihat. Tapi kau tetap harus datang setiap minggu untuk mengecek matamu, Arra”

“Ne Dokter Kwon. Gamsahamnida” Riang Ah Ri.

“Oh Iya. Ini” Dokter Kwon menyerahkan sebuah amplop berwarna kuning pada Ah Ri. “Seminggu sebelum operasi ada seorang pria muda yang menitipkan ini padaku. Dia memintaku menyerahkan ini saat kau sudah bisa melihat”

Ah Ri menatap amplop kuning itu bingung. Seperinya ada sebuah surat di dalamnya.

Dokter Kwon pun meninggalkan Ah Ri di dalam ruangannya.

Ah Ri mulai membuka amplop berwarna kuning itu. Ia menatap selembar kertas yang berada di dalamnya dan kemudian membacanya.

Untuk gadis yang menyukai 2 tangkai lili kuning. Untuk gadis ceria yang selalu tersenyum di mana pun. Untuk gadis yang sekarang menjadi sahabatku – Kim Ah Ri.

Apa kabar? Pasti kau sangat sangat baik sekarang. Kau sudah bisa melihat, chukae. Aku merasa senang juga.

Aku tidak tau harus menuliskan apa. Aku hanya ingin mengucapkan selamat padamu. Dan juga terima kasih karna telah menjadi teman baikku.

Saat kau membaca ini itu artinya kita sudah tidak bisa bertemu lagi. Aku sudah tidak berada di Seoul. Tapi meski pun begitu aku selalu berharap kita akan tetap menjadi teman. Aku juga berharap saat aku kembali beberapa tahun lagi kau akan tetap menjadi Kim Ah Ri yang selalu tersenyum.

Aku rasa hanya itu. Jangan sedih ya, kalau kau sedih aku juga pasti akan ikut sedih. Sampai jumpa lagi Ah Ri-ku.

Aku menyayangimu Kim Ah Ri.

-KAI-

“Pabo” gumam Ah Ri.

Air matanya mengalir begitu saja setelah selesai membaca surat yang ternyata dari Kai itu. Tapi ia tetap berusaha tersenyum meski pun ia sangat sedih. Ia bahkan belum sempat melihat wajah Kai, tapi Kai sudah pergi tanpa berpamitan dulu padanya.

Jadi waktu kau memintaku menemanimu jalan-jalan itu karna kau akan pergi. Karna kita akan berpisah. Kenapa kau begitu bodoh. Seharus kau katakan padaku kalau kau akan pergi. Aku benci padamu Kai, aku benci padamu. Ah Ri membatin.

***

Satu minggu kemudian.

Ah Ri pergi ke taman tempat di mata ia sering duduk sendirian mendengarkan suara tawa riang anak kecil. Dulu ia hanya bisa mendengarnya, tapi sekarang ia sudah bisa melihatnya. Melihat anak-anak kecil yang sedang bermain, tertawa di sana. Senang rasa.

Ah Ri menghembuskan nafas berat. Ia teringat Kai, temannya itu. Seandainya saja Kai ada disini.

Di kejauhan dari tempat Ah Ri sedang duduk. Seorang pria tengah memperhatikannya. Pria tampan itu tersenyum saat melihat Ah Ri yang tersenyum.

“Jongin Hyung. Aku akan menepati janjiku. Aku akan menjaga Ah Ri seperti yang kau bilang. Aku janji akan menjaga temanmu itu” Sehun kembali tersenyum.

.
.
.

FIN

8 thoughts on “We’ll Meet Again

  1. thooorr sequel nya doooongg… ff nya seru banget. kalo dibikin sequel lebih bagus lagi. 4 jempol deh buat author. daebak ff nya!!!!!! jangan lupa sequel nya ;;)

  2. HUAAA!! EONNIku sayang~ #plakk \\^o^// senengnya eonni jadi author tetap juga disini *peluk*

    T^T kenapa eonni buta?! *dijitak* maksudnya kenapa ahri buta? kalo kecelakaannya detail pasti lebih seru deh._.// hehe, tapi baguslah eonni menjadikan Ahri orang ceria yang bersyukur atas apapun yang melandanya. tidak menjadikannya beban dan tidak mengeluh pada Tuhan. woaahh pesan moral nih unn^^
    ceritanya menarik,
    Kai baik banget yaa… tapi sayang endingnya gak ketemu. aku kira Kai bakalan balik. kapan Kai balik? ada lanjutannya gak eonni?

    wkk Sehun dapet adegan dikit._.\/ Sehun baru ketemu Ahri di akhir.

    masih ada typo dikit unn.

    sukaaa🙂
    keep writing unn! hwaiting!!

    • *Peluk balik*

      Eonnie buta *eh* Ah Ri-nya buta.

      Gomawo saeng udah baca. Rencana sih mau bikin sequel, tapi masih nunggu respon reader dulu. Kalau banyak respon dan bagus, eon bakal bikin sequelnya^^

  3. Waa, ceritanya manis …!!! Dikasih gula brpa kilo, jeng? #digampar.

    Ceritanya bagus. Pemilihan kata2nya juga. Tapi, masih ada bebrapa typo. Yah, gpp deh. Saya jga gitu kalo nulis FF. Ehehe. Dua jempol untuk anda.

    Ada rencana bikin sequel ngga?

    • Aduuuh, Manis ya. Gk banyak-banyak kok gulanya cuma 10kg, huhehe

      Jeongmal, Jeongmal Gamsahamnida pujiannya.

      Pengen sih buat sequel-nya tapi tergantung respon dulu🙂

      Gomawo udah baca^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s