Hope – Part 1

Author : MissPink

Cast : Luhan and Kris

Genre : Romance

Lenght : Sequel

Note : Just wish you a happy reading!^^

**

“Aku minta maaf. Jika saja kata itu cukup untuk mewakilkan rasa bersalahku padamu.” -Luhan

**

Haeri POV

Aku memainkan tutup pulpenku yang memang sudah tidak berbentuk itu. Seonsaengnim berceloteh tentang murid yang baru yang merupakan idol. Tapi seberapa banyaknya pun guruku berceloteh, tidak ada yang lebih tahu tentangnya daripada aku. Well, itu bisa menjadi alasan kan mengapa aku tidak ingin menaruh perhatian pada omongan saem?

Meskipun itu memang bukan alasan sebenarnya. Karena aku tidak ingin berhubungan dengan pria itu lagi, selamanya. Entah melihat wajahnya, mendengar suaranya, ataupun berbicara dengannya. Bagiku, ia hanyalah seorang penghianat. Penghianat yang sama sekali tidak mempunyai perasaan.

“Annyeong haseyo, Luhan imnida.” Aku memutar bola mata dengan malas ketika mendapati seisi kelas terpesona dengannya. Mereka bilang, pria itu adalah pria yang polos. Mereka bilang, ia murah senyum dan mudah berteman dengan semua orang. Mereka bilang bla bla bla. Bukankah itu memag tugas seorang idol? Berpura-pura dihadapan semua orang.

“Luhan, kau bisa duduk di samping Haeri.”

Aku menatap shock pada saem yang jelas-jelas memasukkanku ke dalam lubang buaya. “Saem!!” Protesku cepat. “Aku tidak mau duduk dengannya.”

Aku bisa melihat Luhan yang sedang menatapku, dan tidak ingin capek-capek mengartikan arti tatapannya. Jangan heran aku bisa protes seperti ini, aku adalah murid kesayangan hampir semua guru. Mereka terlalu sayang padaku sehingga enggan untuk memarahiku.

“Tapi, kursi kosong hanya disampingmu.” Jelas saem.

Aku hanya mengerang, lalu akhirnya menatap Clara, si Cinderella sekolah. “Do you mind?”Tanyaku langsung.

Of course not.” Jawab Clara cepat. Meskipun ia adalah anak bodoh yang mengandalkan contekan jika ulangan dan salinan pr dari anak kutu buku, gadis itu tidak mungkin cukup bodoh untuk mengabaikan tawaran istimewa dariku.

Hatiku melonjak senang ketika Clara mengambil tasnya dengan cepat lalu sedetik kemudian sudah berada di samping mejaku. Langsung saja, aku duduk di tempatnya yang sebenarnya merupakan tempat duduk terstrategis di kelas untuk tidur.

Aku bisa melihat saem menghela nafas sebelum akhirnya berkata, “Buka buku kalian halaman sepuluh. Kerjakan soal-soal itu secara berkelompok dengan teman sebangku kalian. Kumpulkan sebelum bel.” Ucap saem sebelum akhirnya membuka laptopnya dan tenggelam di dalam perangkat elektronik satu itu.

Aku mengeluarkan buku dengan canggung, baru mengingat jika sekarang aku duduk dengan Kris. Pria dingin yang popular, yang tadinya didekati oleh Clara. Makanya gadis itu tadinya duduk di tempat yang aku duduki sekarang.

Aku mengetuk-ngetukkan jari di meja tanpa sadar, salah satu kebiasaanku jika sedang gugup dan seperti sengaja ingin membuatku sebal, kebiasaan itu sama sekali tidak bisa hilang.

“Ehm… Jadi…” Ujarku pelan.

“Bagini saja…” Kris menarik bukuku, kemudian melingkari nomor-nomor disana dengan cepat.  “Kau mengerjakan yang ini, ini, ini, sampai sini. Aku akan mengerjakan sisanya.”

Belum sempat aku mengangguk, ia sudah mengembalikan bukuku kembali ke tempatnya lalu berkutat dengan soal-soalnya sendiri.

Aku hanya mengangkat bahuku tidak peduli. Bukankah yang penting tugasnya selesai?

***

Luhan POV

Bel istirahat sudah bunyi daritadi. Namun aku hanya diam di kelas, sama sekali tidak berniat keluar karena Haeri, gadis itu juga tidak keluar dari kelas.

Aku tahu persis kebiasaannya yang satu ini, sama sekali tidak suka keluar pada saat jam istirahat. Ia pernah bilang, bahwa ia menyukai suasana kelas yang hening dan kosong. Lalu ia akan menggambar sepuasnya.

Aku menoleh ke belakang. Melihatnya sedang menelungkupkan wajahnya di meja, ia bernafas dengan teratur, menandakan bahwa ia sedang tidur. Setelah meyakinkan diri bahwa jam istirahat masih cukup lama, aku beranjak dari mejaku dan mendekatinya.

Aku bersyukur saat ini kelas sedang kosong. Dan sepertinya belum banyak yang tahu bahwa aku ditempatkan di kelas ini. Jadi, tidak akan ada yang melihatku. Kutolehkan wajah sekali lagi pada pintu, memastikan tidak ada orang disana.

Haeri tertidur seperti bayi. Terlihat sangat nyenyak dengan wajahnya yang polos. Aku duduk bersila di lantai, menyejajarkan wajah kami berdua. Aku suka memperhatikannya ketika ia sedang tidur. Wajahnya terlalu manis. Perlahan kuulurkan tanganku, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

Namun sepertinya tidakanku salah, matanya tiba-tiba terbuka, ia langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu menatapku tajam. “Apa yang kau lakukan?!” Bentaknya marah.

“Haeri-ya—”

“Hentikan.” Ujar Haeri dingin. “Jangan berbicara denganku lagi. Jangan menyentuhku lagi.”

Gadis itu melangkahkan kakinya keluar tanpa menatapku sama sekali.

“Haeri-ya!!!” Teriakku kemudian memutuskan untuk mengejarnya. Aku harus minta maaf. Aku tidak akan membiarkannya mendiamiku lagi.

“KYAAA!!!! LUHAN OPPA!” Teriakan itu sontak menghentikan langkahku dan sedetik kemudian, aku sudah dikerumuni oleh gadis-gadis. Beberapa mengulurkan kertas untuk meminta tanda tangan, namun aku hanya menatap mereka sambil tersenyum.

Haeri POV

Aku menghentakkan kakiku kesal. Pria itu, untuk apa lagi dia memperlakukanku seperti itu?Seperti dulu? Jika dia benar-benar berpikir aku akan memaafkannya begitu saja, berarti dia salah besar. Oh god! Apa yang dipikirkan oleh orang-orang jahat sepertinya? Bahwa ia bisa berbuat apapun yang ia mau dan meminta maaf ketika ia membutuhkanmu?

Dasar tidak tahu malu!

Aku melangkahkan kakiku ke atap sekolah. Tempat yang jarang sekali dikunjingi oleh orang-orang. Tempatku biasanya menggambar jika kelas sedang ramai. Angin musim semi langsung saja menerpa tubuhku dan membuatku menggigil. Tapi tidak apa-apa. Aku menyukai dingin.

Kurenggangkan wajahku sesaat sebelum akhirnya mencari tempat di pojokan. Lalu mulai menggambar. Menurutku, tidak ada yang lebih menyenangkan dari menggambar. Aku suka menggambar, hal itu membantuku untuk mencurahkan perasaan. Karena aku tidak pernah dekat dengan seseorang. Aku adalah orang yang tertutup.

“Eomma gwenchana?”

Coretanku pada buku sketsa langsung terhenti. Seingatku, aku hanya sendirian disini. Tidak ada orang lain yang ada di atap sekolah ketika aku naik.

“Mianhae… Aku ingin bersekolah di sini eomma.”

Aku sedikit mengintip dari beton saluran angin yang menutupi pemandanganku lalu nyaris terpekik ketika menyadari bahwa Kris-lah yang berada disana. Berdiri memunggungiku sambil memegang ponsel. Ia terlihat menghela nafas sebelum kemudian berbalik.

Dengan cepat kutundukkan kembali tubuhku. Apa dia tadi melihatku? Oh tidak… Semoga saja tidak. Aku tidak ingin dianggap sebagai stalkernya!

Baru saja aku ingin kembali mengintip, sekarang sosok tubuh jakungnya sudah berada tepat di hadapanku. Astaga! Apalagi yang bisa lebih bagus daripada hal ini?!

“Kris… Ah… Aku…” Ucapanku terhenti ketika melihatnya hanya terus menatapku dengan tatapan dinginnya. “Mianhae!” Aku membungkuk.

“Aku tidak tahu jika kau tadi berada di sana. Tapi, bukankah aku yang lebih dulu berada disini?!” Ujarku cepat.

“Kau yang datang seenaknya. Kau tidak bisa menyalahkanku!” Ucapku lagi, mencoba untuk membela diriku sendiri.

“Aku kan mempunyai telinga. Setiap orang mempunyai telinga. Jika kau berbicara, kan aku tidak mungkin menutup telingaku hanya karena hal seperti ini! Bukankah—” Omelanku terhenti ketika aku menyadari bahwa Kris daritadi masih melihatku dalam diam. Baiklah, sepertinya memang aku harus meminta maaf.

“Mianhae.” Aku tertunduk. Pria itu kenapa harus mempunyai tatapan yang sangat seram?! Aku mendongakkan wajahku sekali lagi, dan tidak mendapati hasil yang berbeda. “Arasseo. Aku yang salah.” Gumamku cepat, dan tidak jelas, “Aku yang salah” ulangku sekali lagi.

Kali ini ketika aku mendongakkan kepalaku lagi, aku mendapatkan respon yang sama sekali tidak kusangka. Pria itu tertawa! Astaga, maksudku, memang cuma tertawa kecil tapi aku serius dia terlihat berbeda jika sudah tertawa. Tidak. Tidak. Sekarang aku tahu kenapa gadis-gadis mengejarnya gila-gilaan.

 

 TBC

P.S : Gimana? Jelek yah?? >< Ini FF pertama aku. Jadi mohon maklum yaaaaa ehehehe^^ aku harap kalian suka deh^^ Kritik sama sarannya aku tunggu yaaa :D

One thought on “Hope – Part 1

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s