Hope – Part 2

Title : Hope – Part 2

Author : MissPink

Main Cast : Luhan, Kris, Haeri

Length : Sequel

Genre : Romance

 

Author POV

 

Haera melangkahkan kakinya di koridor sambil bersenandung kecil mengikuti nada lagu yang diputar dari iPodnya. Hari ini suasana hatinya sedang baik. Kemarin, bosnya di cafe tidak datang dan ia bisa bersantai seharian.

Namun, senandung gadis itu langsung terhenti ketika akhirnya memasuki kelas dan semua bangku sudah terisi kecuali di samping Luhan. Di kelasnya memang tidak memberlakukan tempat duduk tetap. Jadi, orang-orang bisa pindah tempat kapan saja yang ia mau.

Sial, rutuk Haeri dalam hati. Jika tahu seperti ini aku tidak akan datang lama-lama.

Haeri terdiam di ambang pintu. Menatap seisi kelas yang gaduh dan ribut, berharap salah satu dari mereka akan berbaik hati dan memberikannya satu tempat duduk dimana saja asal tidak di samping Luhan.

Sedangkan Luhan hanya tersenyum geli, ia sudah meminta tolong pada seisi kelas dengan alasan tidak terima sewaktu Haeri menolak untuk duduk bersamanya pada saat pertama ia datang. Tentu saja semuanya akhirnya luluh dan membiarkannya duduk sendirian. Pria itu tersenyum, ia akan mendekati Haeri lagi. Membuatnya percaya padanya lagi.

“Pagi.” Sapa Luhan ketika Haeri dengan pasrah duduk di sampingnya namun tetap menggeser kursinya menjauh.

“Jangan berbicara denganku.” Balas Haeri ketus.

“Wae? Apa aku ada salah?” Tanya Luhan polos, ia tersenyum lalu menatap Haeri dengan tawa gelinya.

Haeri membalasnya dengan delikan sebal. Kemudian akhirnya mendengus dan menatap ke depan. Bagaimana bisa pria itu bertindak seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka?! Bagaimana bisa pria itu bertindak tanpa rasa bersalah sedikitpun? Apa ia tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan orang terdekat denganmu secara tiba-tiba?

“Kau sedang mendengarkan lagu apa?”

Haeri tidak berminat untuk menjawab pertanyaan basa-basi dari pria itu. Keputusannya sudah bulat. Ia tidak akan pernah berbicara dengan pria itu lagi. Persetan dengan duduk bersama.

Luhan menatapnya dengan kening mengkerut, lalu mengambil salah satu earphone gadis itu dan memasangkannya di telinganya sendiri.

“Yak!” Pekik Haeri sebal.

Sama sekali tidak memperdulikan protes gadis itu, Luhan bertanya dengan polos, “Kau tidak mempunyai satupun laguku?”

“Untuk apa aku mendengarkan lagumu? Suaramu jelek.” Balas Haeri, tanpa sadar mengingkari janji yang baru saja ia buat beberapa detik yang lalu.

Luhan tertawa, lalu pura-pura merengut, “Jahat sekali…”

Haeri menatap Luhan dengan kesal, namun sedetik kemudian menyesal karena telah melihat wajah pria itu. Astaga! Sudah berapa lama pria itu tidak membujuknya seperti ini?! Ia tidak mungkin luluh dengan bujukan pria itu, kan? Hanya dengan wajahnya yang berekspresi seperti itu… Tidak… Tidak mungkin.

Haeri dengan cepat memalingkan wajahnya kembali yang entah sejak kapan memerah. “Jangan berekspresi seperti itu didepanku.” Ucap Haeri sedikit gugup karena jantungnya tidak berhenti beretak cepat daritadi.

Luhan terbahak. Astaga, gadis itu sama sekali tidak berubah. “Waeyo?” Tanya Luhan jahil.

“Ani! Hanya saja, ekspresimu menjengkelkan.”

Sekali lagi Luhan tertawa, kemudian akhirnya menarik-narik jas yang Haeri pakai dengan manja. “Haeri-ya…”

Haeri menghela nafas kesal sebelum akhirnya menghentakkan iPodnya di meja. “Aku benar-benar akan membunuhmu jika kau memanggilku dengan nada seperti itu lagi.”

“Kedengarannya menyenangkan. Bagaimana kalau sepulang sekolah?”

 

Dan ketika Haeri hanya bisa menatapnya dengan kesal, Luhan tertawa geli. Ia suka mengerjai gadis itu, dari dulu sampai sekarang.

“Pagi anak-anak.” Suara Ahn Seonsaengnim  menghentikan suara gaduh di kelas.

“Pagi saem” Balas para murid serempak.

“Saem cukup puas dengan tugas kelompok kemarin.” Ujar Saem sambil duduk di kursi dan mulai mengeluarkan laptopnya. “Hari ini kalian juga akan mendapatkan tugas berkelompok. Pelajari BAB 5 dengan pasangan kelompok kalian yang lain, kerjakan latihan-latihannya. Saem memberikan kalian waktu satu minggu setelah itu kita ulangan.”

Semua murid hanya bisa menggerutu. Ahn Seonsaengnim memang tidak pernah niat mengajar. Selalu saja memberi tugas kelompok. Tapi… Langsung ulangan?! Benar-benar gila.

Haeri menelungkupkan wajahnya di meja. BAB 5 adalah bab kelemahannya. Ia tidak pernah bisa mengerjakan materi itu. Dan sekarang ia berarti berkelompok bersama Kris. Kris, oh Tuhan. Sekarang Haeri benar-benar pasrah jika nilai ulangan Kimianya hancur.

Semua anak terlihat sudah berpindah dengan kelompok mereka masing-masing. Hanya Luhan, Kris, dan Haeri yang masih duduk di tempat mereka sendiri. Haeri akhirnya berdiri, dengan sedikit menggerutu kemudian menghampiri Kris.

“Hai.” Sapa Haeri sambil tersenyum.

“Hai.” Balas Kris.

“Jadi… Ehm… Bagaimana?” Tanya Haeri sedikit bingung. “Jujur saja aku tidak begitu mengerti bab ini. Jadi, jangan mengharapkanku.” Haeri mengangkat tangannya seperti orang menyerah.

“Aku tahu.” Balas Kris singkat.

“Ne?!”

“Bukankah nilai ulanganmu selalu rendah ketika ada bab menyangkut pelajaran ini? Sejak kelas satu.” Kris menjelaskan dengan santai.

“Jangan mengingatkanku.” Ucap Haeri sambil menggerutu.

“Jadi, kau akan mengajarku atau tidak?” Tanya Haeri lagi.

“Tentu saja. Aku tidak mau nilai kelompok kita jelek.” Jawab Kris singkat.

Haeri berdecak, pria ini.benar-benar.menyebalkan.

“Pulang sekolah, dirumahmu?”

Haeri terlihat sedikit bingung dengan pertanyaan Kris sebelum akhirnya menggeleng cepat, “Aku bekerja. Bagaimana kalau jam 5? Sepulangku dari cafe.”

“Tapi, aku tidak tahu rumahmu dimana.”

“Aku saja yang kerumahmu!” Seru Haeri cepat.

“Kau juga tidak mengetahui rumahku.”

“Ah, benar juga.”

Kris menghela nafas kemudian berkata, “Baiklah, aku menunggumu di tempat kau bekerja saja.”

 

***

 

“Haeri-ya, cepatlah bergainti pakaian. Cafe sedang ramai.” Ucap Suho, teman dekat Haeri di cafe sesaat setelah Haeri memasuki pintu.

“Arasseo!” Jawab Haeri, kemudian memalingkan wajahnya dan menatap Kris, “Duduklah.”

Haeri baru saja akan melangkahkan kakinya namun Kris dengan sigap menahan tangan gadis itu, “Jamkkanman.” Seru Kris cepat.

“Waeyo?”

“Membolos saja hari ini.”

“YAK! Kau gila?! Tentu saja tidak bisa!” Tolak Haeri langsung.

“Tentu saja bisa. Cafe ini milikku.”

Haeri hanya bisa menganga kaget. Cafe ini… Milik Kris?!

Haeri memang selama ini mengetahui bahwa Kris adalah anak orang kaya dan ayahnya mempunyai bisnis dimana-mana. Tapi ia sama sekali tidak pernah tahu bahwa ia selama ini bekerja di cafe Kris.

“Ayo.” Kris berbalik, sedangkan Haeri hanya bisa terdiam di tempat sebelum akhirnya sadar dan menahan tangan Kris.

“Aku sudah mengambil dua jatah bolosku. Gajiku akan dipotong.” Ucap Haeri ragu.

Kris memicingkaan mata, kemudian bertanya, “Jatah bolos? Sejak kapan aku pernah memberikan jatah untuk bolos?”

Haeri sontak menunduk, jantungnya berdegup kencang karena gugup. Sial, biar bagaimanapun, Kris tetaplah pemilik cafe ini. Bukankah dia seharusnya memasang karakter yang baik dihadapan pria itu?

Haeri menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya tergagap, “Ehm… Itu… Itu hanya…”

“Sudahlah, karena kali ini memang aku yang memintamu, gajimu tidak akan dipotong untuk bulan ini.”

Haeri langsung mendongak dengan senyum lebar, “JINJJA?!”

Kris menjawabnya dengan anggukan malas.

“Baguslah. Kalau begitu aku tidak perlu mendengar omelan nenek sihir hari ini.” Gumam Haeri riang.

Kris hanya berdecak, sedikit heran karena membolos kerja membuat gadis yang ada dihadapannya sekarang ini begitu senang.

“Ayo, kerumahmu.”

“Jamkkanman, aku akan memberitahu Suho Oppa dulu.”

Kris berdecak, namun akhirnya memutuskan untuk menunggu di luar.

“Suho Oppa!” Panggil Haeri nyaris berteriak.

“Ada apa?”

“Aku tidak akan bekerja hari ini.” Jawab Haeri ceria.

“Jinjja? Bagaimana bisa?”

“Kau lihat orang yang diluar sana itu?” Haeri menunjuk seseorang yang menunggu di luar cafe namun masih bisa terlihat karena dinding cafe yang kebanyakan terbuat dari kaca.

Suho mengangguk sebagai jawaban. “Dia adalah pemilik cafe ini.”

“Pemilik yang tidak pernah muncul itu? Ah…” Gumam Suho singkat.

“Kami mendapat tugas kelompok dan dia bilang bahwa tidak apa-apa jika aku bolos sehari.” Sambung Haeri senang.

Suho mengerucutkan bibirnya, kemudian mengacak rambut Haeri lembut, “Arasseo. Istirahatlah. Bukankah kau bilang kau kurang istirahat akhir-akhir ini?” Ujar Suho sambil tersenyum lembut.

“Tentu saja! Aku akan tidur yang lamaaaaaaaa sekali.”

Suho terkekeh, “Pergilah, sepertinya pria itu sudah menunggumu.”

“Annyeong!” Haeri melambaikan tangannya kemudian barjalan dengan ringan menuju pintu.

Namun baru saja ia ingin mendorong pintu itu, sosok Luhan yang tersenyum lebar padanya dari luar menghentikan langkah Haeri.

Tapi pada akhirnya, Haeri tetap keluar, melongos pergi begitu saja menghampiri Kris tanpa memperdulikan Luhan yang memanggilnya dari tadi.

“Kajja.”

“Kau tidak menghampiri temanmu dulu? Dia sepertinya memanggilmu.” Ucap Kris sambil sesekali melirik ke arah Luhan.

“Haeri-ya! Bukankah kau ingin menemuiku pulang sekolah?!” Teriak Luhan, sama sekali tidak memperdulikan beberapa fansnya yang sekarang sudah memperhatikannya yang berteriak seperti orang gila di depan cafe.

Haeri hanya memutar bola mata malas kemudian berbalik, “Ayo.” Ucapnya paca Kris.

Kris berdecak kecil, “Kekanakan sekali.”

“Ne! Dia kekanakan sekali, kan?” Balas Haeri setuju.

“Maksudku kau yang kekanakan, bodoh.”

“YAK! Kau bilang apa? Aku kekanakan?? Dan bodoh?!” Haeri menatap Kris dengan sengit.

“Tentu saja. Kau tinggal menghampirinya, lalu berbicara. Sejak ia pertama kali datang hubungan kalian memang seperti tidak akrab. Tapi, bukankah kau yang membuatnya menjadi seperti itu? Apa susahnya tinggal berbicara saja?”

Haeri hanya mendengus, “Jangan ikut campur urusanku.”

Entah kenapa mendengar nada suara Haeri yang berubah menjadi sedikit dingin membuat Kris merasa sedikit tidak enak. Ia mungkin memang tidak tahu mengapa ia berbicara seperti itu. Padahal, ia sama sekali bukan tipe seseorang yang akan ikut campur urusan orang lain. Dan sepertinya tadi ia telah menyinggung hal yang sensitif.

“Kau dan Luhan dekat ya?” Tanya Kris tiba-tiba.

“Dulu.” Jawab Haeri singkat.

“Jinjja? Semacam teman masa kecil?”

“Bukankah sudah kubilang jangan membahasnya? Kalau kau masih ingin mempertahankan moodku sampai kita selesai belajar, kusarankan jangan menyinggung hal apapun tentang pria itu, oke? Asal tahu saja, aku akan menjadi sangat menyebalkan ketika moodku jelek.” Ucap Haeri mulai kesal.

Hal itu memancing tawa Kris. Pria itu tertawa kecil kemudian membalas, “Aku bisa membayangkannya. Kau bahkan sudah menyebalkan ketika moodmu sedang bagus.”

“YAK!” Haeri berteriak kesal, membuat tawa kecil lain keluar dari bibir Kris. “Dasar pria aneh. Kupikir kau pendiam.” Gumam Haeri kesal.

Kris langsung terdiam. Benar. Kenapa ia bisa menjadi banyak bicara seperti ini di depan Haeri? Kris masih ingat betul ketidaksukaannya pada wanita. Karena gadis itu dulu, yang menghianatinya.

Dering ponsel Haeri yang berbunyi menghentikan pikiran Kris mengenai gadis di masa lalunya.

Haeri membuka flip ponselnya lalu menempelkannya di telinga, “Yeoboseyo?”

“Haeri-ya, aku sudah ada di depan rumahmu sekarang. Tidak apa-apa kan jika aku ikut belajar bersama kalian?”

Meskipun yang menelponnya adalah nomor tidak dikenal, tapi Haeri bisa mengenali suara menyebalkan pria itu sejak ia mulai berbicara, “Kau mana tahu rumahku yang sekarang.” Haeri mendengus.

“Tentu saja aku tahu. Sudahlah kutunggu kau disana.”

KLIK

Haeri hanya bisa memandangi ponselnya dengan kesal lalu sedetik kemudian pikirannya hanya bisa mengarah pada Suho. Pasti pria itu yang membocorkan alamatnya. Benar-benar tidak bisa dipercaya.

Sedangkan Kris hanya bisa menatap Haeri dengaan senyum kecil. Ia suka melihat tingkah gadis itu yang marah-marah. Bibirnya yang mengkerut dan wajahnya yang tertekuk lucu.

Rumah Haeri memang tidak begitu jauh dari cafe tempatnya bekerja dan benar saja, Luhan sudah menunggu di depan pintu. Menatap Haeri dengan senyuman lebar di bibir seperti orang bodoh.

“Pulanglah.” Ucap Haeri ketus ketika akhirnya berada tepat dihadapan pria itu.

“Bukankah aku sudah bilang aku akan menemanimu?”

“YAK, Aku akan mengerjakan tugas bersama Kris. Tidak bisakah kau pulang saja?” Tukas Haeri mulai jengkel.

Luhan tertawa, lagi-lagi kilatan jenaka dari matanya membuat jantung Haeri berdegup lebih cepat. “Tapi kita perlu berbicara.”

“Shireo!”

“Kalau begitu aku disini saja.” Ucap Luhan santai.

Haeri menghela nafasnya lalu akhirnya berkata, “Baiklah. Tapi, setelah aku belajar. Sekarang pulanglah!”

Senyum lebar langsung terukir di bibir Luhan. Pria itu mengangguk dengan semangat lalu berkata, “Arasseo!”

“Terkadang aku bingung bagaimana bisa dia mendapatkan begitu banyak waktu luang. Bukankah seorang idol sangat sibuk?”

 

TBC

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s