The One and Only

Title                : The One and Only

Lenght            : Oneshoot

Rating             : PG 15

Genre             : Fluff, Romance

Author            : Lsapk

Cast                : – Chen (EXO M)

– Park Nara (OC)

– Kris (EXO M)

Support Cast : Xiumin, Lay, Tao, Luhan

Disclaimers     : The plot completely mine. The casts belongs to themself and God. No plagiarism!

Author Note   : Annyeong readers *dadah dadah bareng Baekhyun #plakk maaf ya baru bisa ngepost lagi hari ini, soalnya author sibuk sama kegiatan di sekolah. Nah kali ini author balik bawa FF baru~ FF ini terinspirasi dari buku yang pernah aku baca tapi dengan perubahan disana sini. Happy reading.. mian kalo ada typo ._.

Don’t forget to RCL ‘_’)9

~~ The One And Only ~~

 

Sepasang kekasih terlihat sedang memasuki suatu gedung megah yang sedang menyelenggarakan acara pesta salah satu kawan mereka. Sang yeoja terlihat pucat, mungkin takut karena ini pertama kalinya sang namja terang-terangan membawanya ke acara private seperti ini. Tentu saja acara itu dihadiri oleh para artis, karena itulah sang yeoja merasa sedikit minder.

Saat mereka melangkah masuk beberapa pasang mata tampak memperhatikan mereka. Bagaimana tidak? Chen sang main vocal EXO membawa seorang yeoja. Benar-benar momen langka!

Menyadari perubahan sang yeoja yang mungkin tidak dalam kondisi baik Chen menghentikan langkahnya lalu mengajak yeoja itu untuk menuju sudut ruangan. “Gwaenchana? Kenapa wajahmu begitu pucat?”

“Gwaenchana, Oppa. Geunyang….”

“Na-ya, lebih baik kita pulang saja ya? Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Sepertinya kau sakit bukan?” tanya Chen. Ia menyentuh dahi Nara untuk memastikan ia baik-baik saja.

“Aniya. Sudah kubilang aku baik-baik saja, Oppa. Aku hanya sedikit takut berada disini.” Jawab Nara kaku.

“Jeongmal? Kau tidak terlihat baik-baik saja Na-ya. Kau itu pucat sekali,” jawab Chen. Ia sama sekali tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya.

“Ne, aku hanya merasa takut, Oppa” jawab Nara sambil menunduk.

“Wae?” tanya Chen sambil memandang Nara intens. Yang dipandang hanya menunduk tak berani menatap namjachigunya.

“Molla. Aku hanya merasa tidak tenang berada disini”

“Geurae, kalau begitu kita pulang saja eo?” ajak Chen.

Nara menggeleng. “Andwae, kau kan harus tetap berada disini, Oppa. Ini acara sahabatmu bukan? Lagipula kita baru saja sampai”

Chen bingung, keningnya mengernyit heran menanggapi pernyataan Nara barusan. “Tapi kau bilang tidak tenang berada disini?”

“Ne, tapi aku akan berusaha untuk terlihat biasa saja. Geogjeongma” Chen hanya tersenyum tipis. Terkadang ia memang bingung untuk menanggapi yeojachingunya yang sedikit aneh ini. Belum juga hilang rasa herannya tiba-tiba datanglah seorang namja kedekat mereka.

“Nara? Park Nara?” Nara yang merasa namanya dipanggil segera menoleh kearah orang yang memanggilnya tadi. Betapa kagetnya ia bahwa yang tadi memanggilnya adalah Kris, teman baiknya dulu.

“Kris Oppa?” tanya Nara tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini.

“Ne, aku memang Kris. Waah, ternyata benar kau memang Naraku” jawab Kris sambil mengacak poni Nara. Nara hanya menatapnya sebal, ia tak marah karena dari dulu Kris memang sering melakukan hal itu padanya. Tak dapat ia pungkiri ia sangat merindukan namja yang satu ini. Sudah lama sekali sejak mereka terakhir bertemu sebelum Kris menjalani trainee bersama EXO.

“Aish.. Oppa, jeongmal bogosipheo~” ujar Nara sambil memeluk Kris. Ia memang sudah lama tidak bertemu Kris semenjak namja itu mulai trainee dengan EXO dan dengan kesibukannya yang setumpuk itu membuatnya hampir tidak pernah menghubungi Nara.

“Nado bogoshipheo… Aigoo kau semakin cantik Na-ya,” pujian Kris membuat Nara tersipu, lain halnya dengan Chen pujian itu justru membuat hatinya merasa panas. Kris memeluk dan mengusap rambut Nara singkat. Chen merasa aneh dengan sikap mereka berdua. Sejak kapan mereka saling kenal? Bahkan sampai sedekat itu?

Bukankah tadi Nara bilang ia takut berada disini? Mengapa sekarang ia seakan telah melupakan semua kekhawatirannya itu? Ini aneh.

Nara melepaskan pelukannya dan tersenyum manis. “Kau juga makin tampan oppa..Ah, Chen Oppa maaf aku tidak pernah memberitahumu mengenainya, Kris Oppa adalah sahabatku dari kecil. Aku tahu ia berada satu grup denganmu namun aku tidak memberitahumu atau siapapun.”

“Ah ya, kau kemari dengan siapa, Oppa?” tanya Nara penasaran. Chen tersenyum hambar, lagi-lagi ia diabaikan.

“Aku kemari dengan member EXO yang lain, hanya Chen saja yang datang terpisah. Tak kusangka ia mengajakmu kemari, biasanya kan dia paling anti dengan yeoja,” Kris meledek Chen yang sedaritadi hanya menatap Nara kesal karena merasa diacuhkan. Namun mereka berdua tidak menyadarinya.

Chen yang tidak tahan melihat keakraban mereka berdua memilih pergi menuju sofa besar yang memang dikhususkan untuk member EXO. Sementara itu Nara dan Kris masih melanjutkan obrolan mereka, tak memperdulikan Chen yang menjauh.

 

~~ The One And Only ~~

 

“Ya Kim Jongdae!“ sapa Tao sambil melambaikan tangan pada Chen yang kemudian tidak digubris olehnya. Chen memilih untuk duduk diantara Xiumin dan Lay lalu menyandarkan kepalanya di sofa empuk itu.

“Wae? Kau tampak kusut sekali? Museun iriya?” tanya Lay. Chen hanya mendengus pelan sambil mengangkat bahunya, malas untuk menjawab.

“ Neo waeyo? Bukankah tadi kau membawa yeoja kesayanganmu? Kemana dia sekarang? Aku tak melihatnya” tanya Luhan berentetan. Chen berdecak kesal. Kenapa di saat seperti ini mereka tidak dapat mengerti perasaannya?

“Lihat saja sendiri. Dia disana bersama… ah sudahlah, kalian kan bisa lihat sendiri,” jawab Chen. Dagunya menunjuk kearah Nara dan Kris yang sedang bersenda gurau.

“Omona, ternyata ia bersama Kris hyung. Hey kenapa mereka kelihatan akrab sekali? Apa mereka sudah mengenal sejak lama?” tanya Xiumin.

“Molla.” Jawab Chen pendek.

Sebenarnya Chen sedang tidak ingin membahas hal ini sekarang, namun para member sepertinya sangat tertarik akan hal ini. Percuma saja ia menenangkan diri kesini jika pada akhirnya mereka justru membahas momen-momen yang terjadi antara Nara dan Kris.

“Eumm, apa kau tidak cemburu melihat mereka?” Kini giliran Tao yang bertanya, mencoba memanas-manasi Chen.

Chen mengacak rambutnya gemas, apa gunanya ia kemari jika hanya membuatnya semakin pusing. “Dwaesseo, aku sedang tidak ingin membahas Nara sekarang,” jawab Chen frustasi. Member lainnya hanya tertawa kecil melihat ekspresi Chen saat ini.

Akhirnya para member lain kembali berbincang-bincang sedangkan Chen hanya mengamati gerak-gerik Nara dan Kris. Siapa tahu saja ada yang mencurigakan diantara mereka berdua. Tak dapat ia pungkiri setiap melihat Nara tertawa lepas karena Kris ia merasa ada perasaan yang membuncah dalam hatinya. Ia sedikit merasa cemburu.

Lelah dengan semua persepsi mengenai Kris dan Nara akhirnya Chen kembali menyenderkan tubuhnya ke sofa tempatnya duduk. Ia memejamkan mata mencoba untuk menghilangkan rasa cemburu itu. Bukan untuk tidur melainkan hanya memejamkan mata sejenak untuk menenangkan diri. Jujur saja ia memang namja yang sangat pencemburu namun sifat itu jarang sekali ia tunjukkan terang-terangan.

Sang namja imut, Xiumin yang sedari tadi sadar akan sikap Chen yang aneh ini mencoba menenangkan namja itu. “Sadarlah Chen, Kris itu hyungmu. Ia tidak mungkin merebutnya darimu.”

“Mworago?” tanya Chen masih sambil memejamkan mata.

“Aku tidak bodoh Chen, aku tahu kau cemburu pada mereka kan?” jawab Xiumin sambil menyeringai, para member lain hanya menyimak.

“Molla. Aku hanya… Ah michigetda! “ jawab Chen gusar. Ia tak menyangka Xiumin bisa membaca gerak-geriknya.

Xiumin tertawa. “Kupikir kau tidak suka wanita. Tapi kini sepertinya kau telah benar-benar menemukan yeojamu eo?” godanya.

“Neo micheosso!” jawab Chen sambil melempar bantal sofa kearah Xiumin. Yang lain hanya tertawa melihat tingkah kekanakan mereka.

 

~~ The One And Only ~~

 

“Kau kenapa tidak pernah menghubungiku Na-ya? Coba apa kau ingat kapan terakhir kali kau meneleponku huh?” tanya Kris kesal.

“Mwo? Bukannya kau yang tidak pernah menghubungiku, Oppa? Aku selalu mengirimkan e-mail padamu setiap hampir setiap minggu tapi tak pernah kau balas kan?” jawab Nara tak kalah kesal. Ia mengerucutkan bibirnya, Kris yang melihatnya hanya tersenyum. Entah apa yang Nara artikan mengenai senyum itu.

“Waaah. Jinjjayo?” tanya Kris. Ia memang tak pernah lagi membuka e-mailnya semenjak trainee bersama EXO. Kesibukannya tak mengizinkannya untuk melakukan hal kecil semacam itu.

“Ne! Sekarang siapa yang tidak pernah menghubungi siapa?” Nara semakin kesal. Ia kira Kris memang sengaja tidak membalas e-mailnya. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak!

“Aigoo, mianhae.. Jeongmal mianhae.. Aku sudah lama sekali tidak membuka e-mailku Nara-ya. Lagipula kenapa kau tidak menghubungiku lewat ponsel saja eo?”

Nara mendongak menatap Kris yang sedang memasang wajah tak berdosa. “Oppa! Kau bahkan tak pernah membaca e-mailku? Aishh jinjja… Dan tadi kau bilang mengapa aku tak menghubungimu lewat ponsel? Tsk! Bahkan aku tak punya nomor ponselmu! Kau telah menggantinya tanpa memberitahuku ‘kan?”

Kris memegang tangan Nara, yang kemudian segera ditepis olehnya. “Ah, iya. Aku lupa memberitahumu. Mianhaeyo, kau tahu kan aku begitu sibuk? Ayolah jangan marah padaku…” bujuk Kris. Nara yang awalnya tak mau menatap Kris kini terus melihat mata indah Kris yang cukup dekat dengannya dikarenakan wajah mereka yang terlampau dekat. Dari sini ia bisa melihat dengan sangat jelas bahwa Kris adalah namja yang sangat tampan. Jauh lebih tampan dari terakhir mereka bertemu dulu. Tapi lama-lama ia risih juga terus dipandangi oleh Kris seperti itu.

“Jauhkan wajahmu dariku, Oppa,” titah Nara sambil mendorong pelan dada Kris menyuruhnya untuk menjauh. Tetap saja di ruangan ini berisi para artis yang tentu semuanya mengenal Kris dengan baik. Bagaimana jika ia justru digosipkan yang tidak-tidak dengan Kris nantinya. Tentu Chen akan marah padanya dan mungkin pada Kris juga.

Kris kembali memegang tangan Nara, kali ini Nara tidak menepisnya “Arraseo.. Mianhae, mulai sekarang aku akan coba untuk sering menghubungimu. Err.. tapi aku tidak akan bertanggung jawab jika Chen cemburu padaku” jawab Kris sambil terkekeh pelan.

Nara heran, bagaimana bisa Kris berpikir sejauh itu? Ia saja tidak memikirkan reaksi Chen bukan? Tapi sepertinya ini ide yang bagus untuk mengerjai Chen nantinya.

“Ya, Oppa! Kau jahat sekali.” Nara memukul pelan tangan Kris dengan menggunakan tangannya yang bebas. Kris mengaduh pelan.

“Aish, appo… Beraninya kau melakukan hal itu pada Oppamu, Na-ya.” Jawab Kris sembari mengelus pelan tangannya yang terasa berdenyut akibat pukulan itu. Nara hanya tertawa puas melihat ekspresi Kris.

“Haha.. Rasakan itu, Oppa!”

 

~~ The One And Only ~~

 

“Hyung lihat mereka!!” teriakan Tao mengagetkan para member EXO-M tak terkecuali Chen. Mereka langsung meihat ke arah jemari Tao menunjuk.

Ternyata apa yang ditunjuk oleh Tao adalah Kris dan Nara yang sedang berpegangan tangan dalam jarak tubuh mereka yang  sangat dekat.Chen semakin gusar, ia langsung menaruh gelas yang tadi ia gunakan untuk minum dengan kasar. Xiumin yang menyadari Chen sedang dalam keadaan tidak baik memilih untuk tidak memperburuk suasana dengan menggoda Chen lagi.

Alunan musik lembut mulai mengalun, mengajak siapa saja yang ada untuk berdansa. Beberapa namja terlihat mengajak yeoja mereka untuk menjadi pasangan dansanya. Lampu ruangan mulai meredup menambah suasana romantis yang cukup sempurna. Beberapa pasangan menuju ke tengah ruangan untuk mulai berdansa. Chen hanya mendengus pelan melihat pemandangan itu. Merasa iri karena ia tak punya pasangan yeoja saat ini.

“Ingat kata-kataku tadi, Chen. Kris itu hyungmu, ia tak mungkin merebut yeojamu,” nasihat Xiumin sambil menepuk-nepuk bahu Chen. Setelahnya ia berdiri menyusul teman-temannya yang sekarang sibuk mencari pasangan dansa mereka, meninggalkan Chen yang masih mematung di tempat. Musik dansa masih mengalun merdu, seolah mengajak Chen untuk ikut berdansa.

Tak ingin keduluan oleh Kris dan membuatnya semakin cemburu akhirnya Chen memutuskan untuk menghampiri Nara yang masih tertawa lepas karena entah lelucon apa yang dibuat oleh Kris. Sudah cukup ia merasa cemburu untuk hari ini.

“Na-ya, kau mau berdansa denganku?” tanya Chen sambil menawarkan tangannya untuk disambut Nara.

Nara menoleh kearah Kris yang masih terus duduk di tempat mereka tadi. Kris mengangguk mengiyakan. Tentu saja ia memperbolehkan Nara menerima ajakan Chen, ia sudah menganggap Chen seperti dongsaengnya sendiri dan ia sangat mempercayai Chen. Tentu ia dapat menjaga Nara dan tidak akan menyakitinya.

Setelah Nara menerima sinyal positif dari Kris ia lalu meletakkan telapak tangannya diatas telapak tangan Chen yang sedari tadi teracung dihadapannya . “Dengan senang hati..”

 

~~ The One And Only ~~

 

“Apa yang kalian bicarakan tadi, sayang?” tanya Chen sembari memutar tubuh Nara.

Nara hanya tersenyum tipis. Menyiratkan kemisteriusan.

Mereka tengah berada di lantai sekarang. Berputar di sekeliling aula. Bergerak bersama pasangan lain yang setia mengiringi langkah mereka. Romantis. Mungkin kata itu yang sangat cocok untuk menggambarkan suasana saat itu. Musik yang sedikit mendayu juga menambah suasana melankolis yang tercipta di sekitar mereka. Dengan tangan yang bertautan, Nara dan Chen tak hanya saling berdansa, tapi juga berbincang ringan.

Dua sejoli itu tak lagi peduli dengan orang-orang yang juga berdansa disekitar mereka. Terutama Chen, yang ada dalam otaknya saat ini hanya Nara seorang. Ia masih saja uring-uringan karena yeoja itu.

“Ayolah, Nara! Palli marhaebwa..” desak Chen.

Nara tertawa ringan. “Oppa, kenapa kau begini lagi? Memangnya aku harus membagi semuanya padamu? Tidak bukan?” sahut Nara santai.

Chen berdecak pelan. Sedikit sebal dirasakannya melihat senyum dan tawa lepas Nara. Ia terlihat manis dan sedikit menggodanya. Chen tidak suka itu. Dan senyuman itu.

Cemburu, mungkin itu lebih tepat.

Bodoh, tapi Chen sendiri mengakuinya. Ia merasakan panas merasuk ke dadanya ketika dilihatnya Nara bisa tertawa lepas bersama Kris. Melihat Nara berbicara begitu hangat dengan sang leader membuat hati Chen lagi-lagi merasa sakit. Kris bahkan berhasil membuat Nara tidak khawatir lagi berada disini. Chen bahkan melihat wajah Nara yang beberapa kali memerah karena pembicaraannya dengan Kris. Dan menemukan jemari mereka yang bertaut… Chen bahkan tak mampu menafsirkan bagaimana perasaannya saat itu.

“Kau menyukai Kris!”

DEG!

Rona wajah Nara yang tadinya tengah sumringah menikmati kekesalan Chen berubah. Rona yang tidak bersahabat dari seorang Nara. Chen terlalu frustasi untuk mencerna apa yang terjadi sebenarnya.

“Apa maksudmu, Oppa? Jangan sembarangan bicara!”

Chen terlalu mengenal raut itu, ia tahu ada yang berubah. Tapi ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Benar, ‘kan? Kau menyukai leader bodoh itu. Makanya tadi kau senang sekali bisa bertegur sapa lagi dengannya. Dan berpegangan tangan dengannya. Kau senang ‘kan?”

Raut wajah Nara kembali normal. Ia mengurai seulas senyum tipis. Tetapi bagi Chen itu tampak seperti sebuah seringaian yang mengerikan.

“Omo.. Apa benar-benar terlihat? Aigoo… sepertinya aku memalukan sekali!” jawabnya dengan aksen menggoda yang dibuat-buat. Chen menatap Nara sebal, namun wajahnya menyiratkan kekecewaan. Ia tak menyangka bahwa mengajak Nara ke acara seperti ini akan membuat efek seperti ini dalam hubungannya dengan Nara yang baru terjalin seumur jagung. Ia yang biasanya yakin dengan perasaan Nara padanya kini mendadak ragu untuk memikirkan hal itu. Ia takut ia akan kehilangan Nara, kehilangan seseorang yang baru saja didapatnya. Ia tak sanggup untuk itu.

Jika saja ia tidak mengajak Nara ke acara ini pasti kini hubungan mereka masih baik-baik saja. Namun nasi telah menjadi bubur, lagipula tanpa bertemu disini pun Kris dan Nara pasti akan bertemu suatu saat nanti.

Kris, sang leader yang bersikap dingin hampir pada semua orang tenyata bisa tertawa lepas dan telihat sangat bahagia bersama Nara. Benarkah mereka hanya teman dekat?

Bodohkah jika ia meragukan pernyataan Xiumin sebelumnya? Bahwa Kris tidak menyukai Nara? Kenapa hatinya menolak untuk percaya?

Tapi Chen dengan bodohnya tertipu akan nada suara Nara tadi. Ia sudah tak bisa berpikir jernih sekarang ini. “Jadi maksudmu aku benar? Kau memang menyukai Kris?” tebak Chen makin kesal dengan sikap Nara. Mereka masih berdansa namun gerakan mereka terlihat sangat berantakan.

Sekali lagi, tawa Nara pecah. Dansa mereka terhenti. Tangannya yang ketika berdansa digenggam Chen pun sontak terlepas. Ia menggunakan tangannya untuk menutupi gelak tawanya, tapi tetap saja tidak mampu untuk menutupi rona merah yang menyembul di pipinya.

Chen menarik tubuh mereka berdua menjauh. Ditariknya tangan Nara menuju pojok ruangan yang jauh dari sinar lampu. Hingga akhirnya Chen menghela nafas. Terlalu frustasi untuk kembali melanjutkan dansanya.

“Jadi benar begitu? Wah, hari ini kau senang sekali sepertinya. Kau menemukan pangeranmu, eo?”

Nara mulai menenangkan dirinya mendengar ungkapan sinis itu. Bahunya masih sedikit terguncang karena tawa yang belum sepenuhnya hilang, Nara berucap, “Oppa.. haha kau cemburu? Kau cemburu pada Kris Oppa?”

Chen tertegun. Alih-alih mengaku, Chen lebih memilih mendengus sembari berkata, “Aku cemburu? Huh, mitcheosseo? Maldo andwae!” Chen memalingkan wajahnya kearah lain.

Nara mengusap air matanya yang sedikit tumpah akibat tawanya yang terlalu lepas. “Geureom.. Lalu kenapa? Harusnya tidak masalah, bukan?”

Chen melengos. Kesulitan berkelit. Seolah seluruh kata-kata pergi menjauh darinya.

“Aku hanya kesal kau tidak mau memberitahuku. Hanya itu. Itu bukan sebuah cemburu, Nara!” kelitnya.

Nara melipat tangannya di dada, merasa menang. “Hmm.. geurae! Karena Oppa sudah sedikit mengetahuinya, lebih baik kita akui saja semuanya, eo?” ungkap Nara. Chen menajamkan pendengarannya, berpacu bersama deru jantungnya. Kini ia takut. Sangat takut untuk mendengarkan ucapan Nara selanjutnya. Ia takut semua spekulasinya menjadi kenyataan. “Oppa… bisakah kau merelakanku untuknya? Untuk Kris Oppa?”

DEG!

Chen meringis. Serasa ada yang menendang ulu hatinya kala itu. Kakinya lemas, serasa tak kuat untuk menahan bobot tubuhnya saat itu. Jantungnya masih berdenyut kencang, namun sensasinya berbeda dari yang biasanya, kini rasanya sakit. Sangat sakit. Bagaimana mungkin ia melepas tangan yang baru digenggamnya? Yeoja yang entah mengapa memberikan suplai separuh nyawa untuk hidupnya setiap hari. Bagaimana mungkin Chen rela membunuh dirinya sendiri untuk kebahagiaan yeoja ini?

Tapi sekelebat pikiran hinggap di benak Chen. Mampukah ia bertahan jika yeoja yang dicintainya menyayangi orang yang berbeda? Bukan Chen, melainkan Kris, orang yang juga tak kalah besar artinya bagi Chen. Leader EXO, teman baiknya. Sanggupkah Chen untuk melepaskan Nara? Mungkin akan lebih baik jika kemudian Nara pergi dari hidupnya. Namun jika Nara bersama Kris maka mereka akan berada disekitarnya bukan?

Chen mendesah. Terlalu berat untuk menjawab.

“Na-ya, inikah kenyataannya? Apakah kau benar-benar menyukai Kris? Kau benar-benar tidak mencintaiku?” Chen mendesah lagi. Kata-kata yang diucapkannya dengan susah payah itu telah membuat mentalnya bertambah jatuh. Ia tidak berpikir lebih jauh. Bagaimana jika nanti Nara menjawab iya untuk semua pertanyaannya? Sanggupkah ia menerima itu?

Nara beringsut maju, kembali menggenggam tangan Chen yang awalnya berada dalam saku celana. Menurutnya ngkapan Chen barusan lebih mirip sebuah gumaman. Sebersit iba menelusup dalam hatinya menangkap makna kata-kata Chen. Sekarang ini Chen benar-benar terlihat sangat terpukul. “Oppa..”

“Geuraesseo… Aku tidak mungkin memaksamu.” ujar Chen dramatis. Sekuat tenaga berusaha menahan geraman. Menahan tangisan yang mungkin saja pecah saat ini juga.

Mempersiapkan diri. Bertahan untuk tetap hidup walaupun tanpa yeoja itu, separuh nyawa dalam hidupya.

“Oppa.. Apa kau serius?” tanya Nara tercekat. Ia cukup terkejut mendengar jawaban Chen. Tak disangka Chen bisa berkata seperti itu, padahal dalam hatinya ia tahu bahwa Chen sangat menyayanginya. Cukup terlihat dari semua perlakuan Chen padanya. Ia tahu tak mudah bagi Chen untuk mengungkapkan semua itu.

Chen mengelus pipi Nara lembut. “Sangat munafik jika kukatakan aku tidak akan terluka. Sungguh kebohongan besar jika kukatakan aku akan bahagia bila kau bahagia. Kenyataannya, aku benar-benar tersakiti oleh perasaan ini. Dan tidak, aku tidak merelakanmu. Aku hanya melepasmu. Karena kau menyukainya. Karena mungkin hanya itu yang mampu membuatmu bahagia dan tersenyum dengan hatimu. Aku hanya melepasmu, tapi aku tak mungkin bisa merelakanmu. Dengan Kris, atau siapapun, aku tidak akan pernah rela. Tapi… jika itu maumu, mulai sekarang kau kulepaskan, Na-ya.”

DEG!

Hati Nara merasa teriris saat mendengarnya. Kenapa Chen berkata demikian? Bukan itu yang ia harap untuk diucapkan oleh Chen saat ini. “Oppa, apa kau.. Apa kau serius?”

Chen menghela nafas berat. “Kuharap aku sedang bermimpi sekarang. Tapi tidak, Nara. Ini kenyataannya.”

Nara menghambur ke dalam pelukan Chen dengan riuhnya hati. Ia memeluk Chen dengan penuh ketulusan dan kasih sayang. Berbenturan dengan gagasan Chen yang kini tengah berpikir ini pelukan terakhir dari sang yeoja. Konyol.

“Kau benar-benar rela, Oppa?” tanyanya dalam dekapan Chen.

“Jangan tanyakan itu, Nara! Aku sudah mengatakannya padamu, aku tidak rela. Tapi aku harus.. Karena aku menyayangimu,” ungkap Chen berat. Dielusnya rambut panjang Nara dengan cinta. Hatinya sakit, perih.

Nara tersenyum dalam diam. “Kalau begitu jangan lepaskan aku!”

Chen mengernyit. Diraihnya bahu Nara, kemudian sedikit memberi ruang di antara mereka. Ditatapnya manik mata yeoja di depannya itu. “Mwo? Apa maksudmu Na-ya?” Antara terkejut dan bingung bercampur menjadi satu.

Nara ganti menyentuh pipi Chen dengan dalam. “Kalau kau memang tidak rela, kau tidak perlu melakukannya. Kalau kau mencintaiku seharusnya kau pertahankan aku, Oppa! Apa kau mampu hidup tanpaku?”

“Mworago? Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu, Nara. Bukankah kau bilang kau menyukai Kris?” rentet Chen bingung.

Nara tergelak pelan. “Oppa, apa kau selalu seperti ini? Cemburu berlebihan, bahkan terhadap teman-temanmu sendiri? Harusnya kau menyadari apa yang sedang terjadi. Hahaha..”

Chen diam. Merutuk dalam hati. Tidak, tentu saja! Justru aku heran kenapa karenamu aku jadi tampak memalukan begini, geramnya. Tapi jujur saja ia belum mengerti arah perkataan Nara tadi.

“ Sudahlah jelaskan saja apa maksudmu!” sahut Chen gerah.

Nara lagi-lagi tergelak. “Bukankah kau yang mengatakannya? Aku menyukai Kris Oppa? Hahaha.. aku bahkan tak pernah memikirkan itu sebelumnya. Kami memang bersahabat dekat, tapi sungguh aku hanya menganggapnya kakak tidak lebih.”

Chen mengernyit. Ada hangat yang membuncah di antara rongga dadanya. “Maksudmu, aku salah?” tanyanya. Nara menganggukkan kepala. Chen terkejut.

Sekarang seluruh raganya telah kembali. Chen mulai mengerti apa yang terjadi. “Park Nara, jadi maksudmu, kau tadi hanya mengerjaiku?” geramnya dengan nada yang dilebih-lebihkan. Gemas dengan perilaku Nara yang tadi mengerjainya. Atau mungkin juga mengetesnya.

“Haha, bukankah aku sudah bilang Kris Oppa adalah temanku dari kecil? Maklum saja kan kalau kami begitu akrab? Mengapa kau tidak menyadari itu?”

Nara tertawa, dengan membawa tubuhnya sedikit menjauh dari jangkauan tangan Chen. Mundur selangkah. “Oppa, neo jinjja paboya! Kenapa kau baru menyadarinya? Hahaha…”

Chen sangat lega. Dan senang. Setidaknya, ia tak harus tahu bagaimana rasanya terluka. Ia tak tahu apa yang terjadi selanjutnya jika Nara benar-benar pergi darinya dan memilih bersama Kris. Ia tak sanggup. Bagaimana jika mereka sedang latihan lalu Kris bermesraan dengan Nara dihadapannya? Tsk! Lebih baik ia keluar dari EXO saja.

Ia mencoba meraih Nara, yang memang berdiri tak cukup jauh. Dengan mudahnya yeoja semampai itu berhasil ditangkapnya. “Neo.. Neo nappeun yeoja! Beraninya kau mengerjai artis sepertiku.” ancamnya.

“Geurae, kalau kau berani melakukan sesuatu padaku, akan kuberitahukan semua rahasiamu pada paparazzi!” ancam Nara balik.

Chen tertawa. Kali ini terlalu renyah, mengingat semuanya telah berlalu. Memang Chen kesal karena Nara telah mengerjainya sampai seperti tadi. Namun itu lebih baik dibandingkan kehilangan Nara untuk selamanya. Dan pada akhirnya, Chen mengakui, yeoja ini, Park Nara, benar-benar telah menyita seluruh jiwanya.

“Tapi jika saja itu bukan Kris Oppa lalu… apakah kau juga akan melepasku?” goda Nara. Chen kembali terhenyak, ada-ada saja pemikiran yeoja ini. Kembali ia menghempaskan angan-angan Chen. Jangan sampai yang kali ini serius.

“Mwo? Aku tidak mengerti apa maksudmu.”

Nara tersenyum tipis, namun bagi Chen senyuman itu lebih terlihat seperti seringaian. “Jika aku menyukai Luhan Oppa… apakah kau juga akan melepasku?”

“Ya Park Nara! Sebenarnya kau mencintaiku atau tidak? Kau menyukai beberapa namja sih?” Chen kembali kesal dengan sikap yeojanya yang senang sekali mempermainkan perasaannya. Sebentar ia membuatnya senang namun sebentar kemudian ia membuatnya kesal. Namun entah mengapa ia tidak bisa marah kepada yeoja itu barang sedetik saja.

Mendengarnya Nara hanya tersenyum manis. Ia senang dengan reaksi Chen jika sedang merasa kesal padanya. Perlahan namun pasti ia mulai berjinjit dan mendekat ke wajah Chen. Chen yang tidak mengerti hanya diam tak bereaksi. Ia memandang Nara dengan tatapan heran.

Satu kecupan kecil tertambat di bibirnya. Sangat singkat, bahkan tak ada waktu untuk menikmati kecupan itu. Chen tertegun. “Aku rasa itu cukup untuk menjawabnya, Oppa..”

“Ya! Park Nara, kau sudah berani rupanya?”

Nara tergelak pelan sambil menikmati ekspresi salah tingkah Chen.

Tak lama, Chen kembali merengkuh Nara dalam pelukannya, ia merasa sangat bahagia saat ini. Sungguh, ia ingin terus merasakan kebahagiaan seperti ini bersama yeojanya, Park Nara…

 

END

 

25 thoughts on “The One and Only

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s