All About Us – line 5

Tittle : All About Us – line 5

Author : Charismagirl

Main Casts :

  • Oh Sehun
  • Park Minri (OC)
  • Han Yeon Young (OC)
  • Wu Yi Fan [Kris]

Support Casts :

  • Park Chanyeol
  • Byun Baekhyun
  • EXO’s members
  • Others, find it by your self^^

Genre : Romance, Frienship, School Life, Family

Rating : Teen, PG-13

Length : Chapter

Note :  Do not copycat!! Read, Comment and Like as your pleasure^^

Ketika persahabatan dipertaruhkan atas nama cinta.

Lantas dihadapkan pada dua pilihan antara cinta dan persahabatan.

Mana yang akan kau pilih?

∆∆∆

Minri bersandar di dinding balkon kamarnya. Memandang ke bawah dimana taman terhampar luas. Gadis itu melipat tangannya bersedekap di dada. Sudah setengah jam lebih dia merenung disana. Ia memang diam. Tapi pikirannya berkelana kemana-mana.

Minri teringat dengan perkataan Sehun di sekolah. Sehun sudah menyatakan perasaannya pada Minri. Saat itu hatinya bergetar hebat. Ada rasa yang meletup-letup membuat perutnya geli. Dan ia tersenyum, meskipun Sehun tidak menyadariya. Sebenarnya saat itu ia tidak tahu harus berbuat apa. Hingga Yeon datang dan menatapnya dalam diam. Saat itulah Minri tahu jawabannya. Minri tahu apa yang harus dikatakannya sampai kata penolakan itu meluncur dari mulutnya.

Nuraninya menolak keras dengan apa yang ada dalam pikirannya. Mereka berkecamuk dalam dada seperti sedang melakukan peperangan besar-besaran dan korbannya hanya satu. Hanya dirinya.

Minri sendiri tidak tahu mengapa nuraninya harus menolak. Padahal ia tahu sendiri bahwa jawabannya memang tepat. Sehun adalah laki-laki yang diinginkan Yeon untuk menjadi kekasihnya. Lantas, kalau Minri menerima pernyataan cinta Sehun, itu berarti ia benar-benar keterlaluan. Ia menyakiti Yeon dan persahabatan mereka terancam.

Minri menghela nafas. Ia memutuskan untuk menghentikan kegiatan yang tidak berguna ini. Ia berjalan ke dalam kamarnya, tiba-tiba terkesiap saat Chanyeol berdiri di depan pintu kamarnya. Gadis itu hanya melirik sekilas, lantas duduk di tepi ranjangnya, meraih ponsel di atas meja–entah untuk apa.

Chanyeol mengerutkan kening. Tidak biasanya gadis itu mendiamkan begitu saja saat Chanyeol masuk kamarnya. Tidak ada teriakan seperti…

YAK! Tidak sopan sekali kau masuk kamar perempuan!

Bisa ketuk pintu dulu tidak?!

Bagaimana kalau aku sedang melakukan hal yang bersifat pribadi seperti ganti baju mungkin?

Kemudian lemparan bantal atau boneka tepat mengenai wajah Chanyeol yang hanya bisa pasang wajah bodoh karena terlalu shock dengan teriakan gadis itu. Padahal gadis itu sendiri tidak sadar bahwa ia sendiri yang sudah membuka setengah pintunya dan lupa mengunci.

Biasanya Chanyeol memanggil Minri untuk makan malam. Karena jujur saja Minri sering larut dalam kegiatannya sehingga mengabaikan makan malam. Ia lebih memilih tenggelam dalam kisah novel yang ia baca sampai akhirnya tertidur sendiri.

“Ada apa?” tanya Minri dengan nada malas.

“Ada seseorang yang mencarimu.”

Chanyeol tampak serius.

Selama Chanyeol tinggal disini. Laki-laki itu selalu membuat keributan dengan Minri. Hal sekecil apapun bisa menjadi bahan untuk mereka saling mendebat meskipun mereka tahu bahwa hal kecil itu sangat tidak penting untuk didebatkan dan hanya membuang-buang waktu. Hingga akhirnya Nyonya Park datang lalu menasihati mereka dengan sabar, mengatakan bahwa mereka sudah bukan anak kecil lagi. Dan berbagai petuah-petuah orang tua seperti biasa.

“Siapa? Yeon?” Minri mengangkat kepalanya menatap Chanyeol. Raut wajahnya berubah senang saat ia mengira bahwa orang yang datang adalah Yeon. Ia baru akan berdiri tapi ucapan Chanyeol membuatnya kembali mengurungkan niatnya untuk keluar kamar.

“Bukan. Tapi Sehun.”

“Aku sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun. Katakan padanya kalau aku sedang tidur. Atau kau bisa beri alasan lain yang lebih tepat. Kau pandai membuat alasan bukan?” Minri berbaring di kasurnya, membelakangi Chanyeol.

“Kali ini tidak. Akan ku katakan padanya bahwa kau memang tidak ingin bertemu dengannya.” Terdengar suara pintu yang hampir ditutup.

“Chan–” Gadis itu mendadak bangkit dari tempat tidur. Tiba-tiba ia menghentikan langkah saat ibunya membuka pintu kamarnya lagi lalu melangkah masuk.

“Minri-ya, kau membuat temanmu menunggu terlalu lama.” Nyonya Park berjalan ke pintu lagi. Lantas berkata, “Sehun-ssi, masuk saja. Minri ada di dalam.”

Eomma!” seru Minri tidak habis pikir. Bagaimana mungkin ibunya sendiri membiarkan laki-laki asing berdua dengannya di dalam kamar. Yah, meskipun laki-laki itu sudah pernah datang ke rumah ini. Tapi tetap saja, ia tidak suka.

Sehun menampakkan dirinya. Laki-laki itu memakai kemeja putih yang pas ditubuhnya dan celana denim panjang yang tidak terlalu ketat membuatnya tampak mengagumkan. Dan Minri dengan bodohnya berpikir bahwa laki-laki itu cocok jadi model sampul majalah entertainment internasional.

Minri membuang pandangannya ke arah jendela. Menyingkirkan segala pemikiran tentang kelebihan laki-laki itu yang membuatnya semakin tidak yakin dengan keputusannya untuk menolak perasaan laki-laki itu.

“Kita bicara di luar saja. Ikut aku!” Minri berjalan melewati Sehun tanpa menatap laki-laki itu. Ia lebih memilih untuk menunduk, kalau perlu ia menghitung keramik yang di lewatinya agar tidak perlu melihat Sehun seujung kainpun.

***

Minri dan Sehun berada di taman belakang rumah Minri. Terhampar taman bunga yang sangat sedap untuk dipandang. Wewangian bunga menguar, memanjakan indera penciuman lalu menyusup ke syaraf tubuh menjadikan gadis itu sedikit rileks.

Mereka berdua duduk di kursi panjang yang tersedia disana. Jarak duduk mereka cukup jauh sehingga Minri bisa lebih tenang. Setidaknya ia tidak perlu menyelamatkan jantungnya yang tidak bisa diajak kompromi saat hanya berdua dengan Sehun.

“Bicaralah,” ucap Minri pelan.

“Apakah jarak kita tidak terlalu jauh?”

Minri mengerutkan keningnya lantas menatap Sehun sesaat. Rasa kesalnya bertambah lagi. Untuk apa laki-laki itu mempermasalahkan jarak? Kalau mau bicara ya bicara saja. Lagi pula hanya ada mereka berdua disini. Pikir Minri.

Minri bergeming. Tidak ingin menjawab pertanyaan Sehun yang tidak bermutu itu.

Tanpa Minri ketahui, Sehun memperkecil jarak di antara mereka berdua. Tidak peduli bahwa gadis itu nantinya akan marah. Yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya agar gadis itu jujur dengan perasaannya sendiri meskipun pada akhirnya gadis itu tetap menolak untuk menjadi kekasihnya.

“Minri-ssi, aku ingin bertanya padamu tentang perasaanmu kepadaku. Bisakah kau jujur padaku tentang hal itu?”

“Bukankah sudah ku katakan kalau aku tidak bisa menerimamu? Apakah jawabanku di sekolah jadi belum cukup jelas?” Minri menghadapkan wajahnya pada Sehun. Berharap laki-laki itu menyerah dan berhenti menanyainya dengan pertanyaan seperti itu. Karena semakin lama perasaannya mungkin terkuak dan ia takut laki-laki ini menyadarinya.

Sehun tertawa sinis. Menurut Sehun, gadis itu sudah melakukan kesalahan besar dengan menatap Sehun seperti itu. Bagi Sehun, mudah sekali menyadari kalau gadis itu sedang berbohong. Dari kalimat yang diucapkan gadis itu juga terdengar rasa tidak rela.

Apakah membohongi perasaan sendiri tidak membuat hatinya gundah? Pikir Sehun.

Sehun memang bukan orang yang bisa membaca pikiran, hanya saja ia seperti punya ikatan yang kuat dengan gadis itu. Hingga sekecil apapun gadis itu menutupinya, Sehun tahu yang dirasakannya. Sesederhana itu.

“Kalau hanya itu yang ingin kau bicarakan denganku, ku rasa urusan kita sudah selesai. Kau bisa pulang sekarang, Sehun-ssi.” Minri beranjak dari tempat duduknya lantas melangkah pergi. Sehun mengekor di belakang gadis itu, menahan tangan Minri membuat langkah mereka kembali terhenti.

Minri menarik tangannya dari Sehun, mengabaikan rasa seperti tersengat listrik saat kulit mereka bersentuhan, mengabaikan jantungnya yang mulai bekerja ekstra.

“Terimakasih sudah mau bicara denganku meskipun sebentar. Aku tidak akan memaksa kalau memang kau tidak menginginkannya. Aku minta maaf jika kedatanganku kesini sungguh mengganggumu. Aku minta maaf jika aku terlalu memaksakan perasaanku. Tapi hanya satu yang kuinginkan darimu, jangan bohongi perasaanmu sendiri karena kau punya hak penuh atas perasaanmu itu.”

***

Di sebuah kediaman di daerah Gwangju. Seorang gadis tengah berada dalam kamarnya. Ia membolak-balikan badannya di atas kasur. Semenjak pulang sekolah, tidak ada yang ia kerjakan selain berbaring. Ingin tidur siang tapi tidak bisa. Otaknya terus memutar kejadian di sekolah tadi.

Sehun menyatakan cinta pada sahabatnya. Laki-laki yang dikaguminya dan pernah ia khayalkan untuk menjadi kekasihnya ternyata menyukai sahabatnya sendiri. Tapi gadis itu menolaknya, tepat dihadapan Yeon.

Yeon merasa ia terlalu egois karena tidak pernah mendengarkan sahabatnya itu bercerita. Sebenarnya bukan sepenuhnya salah Yeon, karena Minri memang jarang menceritakan tentang kehidupannya, atau yang lebih spesifik… tentang perasaannya.

Yeon dan Minri sudah beberapa hari tidak bersama-sama. Waktu itu saat hari-hari sebelum event di sekolahnya, Minri selalu sibuk. Lalu setelah Yeon tahu bahwa Sehun menyukai sahabatnya, Yeon memilih untuk menghindari sahabatnya itu. Yeon sendiri tidak tahu juga kenapa ia harus memilih jalan itu, padahal sahabatnya itu tidak salah sedikitpun.

Yeon menghela nafas. Yeon harus kembali bersama-sama Minri. Yeon harus tahu bagaimana perasaan Minri terhadap Sehun. Kalau memang gadis itu juga memiliki perasaan yang sama… baguslah. Yeon rasa ia akan baik-baik saja. Ia hanya mengagumi Sehun. Hanya mengagumi. Lagi pula ia merasa lebih nyaman bersama Kris. Kris?! Tunggu dulu! Kenapa tiba-tiba ia memikirkan Kris? Ah, lebih baik ia tidur.

Yeon memeluk guling kesayanganya lantas memejamkan mata. Ia baru merasakan ketenangan beberapa menit sebelum lengkingan bel rumahnya menghancurkan suasana tenang itu. Ia duduk dan mengacak rambutnya frustasi. Bel itu terus berbunyi sarat akan ketidaksabaran si penekan bel.

Gadis itu baru ingat kalau ia sendirian di rumah. Sedangkan ibunya pergi ke supermarket membeli bahan makanan. Ia bangkit dari tempat tidur, meraba sandal rumahnya dengan telapak kaki lantas memakainya dan bergegas ke pintu depan. Aish! Orang itu masih betah menekan tombol bel rumahnya.

Yeon membuka pintu. Tampaklah sosok laki-laki tinggi dengan rambut agak pirang. Laki-laki itu tersenyum setengah membuat Yeon bergidik waspada. Baru tiba sudah menebar smirk, pikir Yeon.

“Hai Kris-ssi, kenapa kau datang kesini?” tanya Yeon singkat, berusaha menyembunyikan rasa senangnya. Entahlah, melihat laki-laki itu tiba-tiba membuat moodnya membaik. Ia bahkan lupa bahwa waktu tidur siangnya sudah diganggu.

“Kau tidak mempersilakan aku masuk?” bukannya mengatakan tujuannya datang, Kris malah membuat Yeon tampak seperti tuan rumah yang buruk karena membiarkan tamunya berdiri di depan pintu.

Arra… arra. Silakan masuk Kris-ssi!” Yeon menepi dari pintu, memberikan ruang agar Kris bisa masuk. Kris melangkah masuk, lalu menghadapkan wajahnya ke kanan dimana Yeon sedang berdiri. Laki-laki itu tersenyum. Senyum sungguhan.

Yeon mengerjapkan matanya pelan, lantas ikut tersenyum. Refleks.

Kris duduk di sofa ruang tamu. Melihat ke sekelilingnya sebentar sebelum berkata, “Aku ingin mengajakmu kencan hari ini.”

Mwo?!” Yeon terlonjak dari tempatnya berdiri. Ia menghampiri Kris dan duduk di samping laki-laki itu membuat lengan mereka bersentuhan. Tapi kali ini Kris yang bereaksi. “Apa yang kau katakan tadi?” Yeon membuat jarak wajah mereka semakin dekat. Entah karena gadis itu terlalu polos atau bodoh, dengan jarak seperti itu ia tidak berpikir bahwa Kris bisa saja tiba-tiba… menciumnya?

Kris menahan diri agar tidak melakukan tindakan bodoh yang bisa mempermalukan dirinya sendiri. Kris mendorong pelan tubuh Yeon agar gadis itu sedikit menjauh.

“Iya. Kencan. Dan aku tidak menerima kata ‘tidak’. Jadi cepatlah ganti bajumu lalu kita pergi!”

***

Minri berjalan menuju sebuah mini market daerah Myeongdong. Gadis itu merasa bosan di rumah, jadi ia memutuskan untuk membeli makanan kesukaannya.

Gadis itu hanya mengenakan kaos putih dan dipadu dengan celana panjang ketat. Sementara kakinya dibalut dengan sepatu kets biru muda kesukaannya. Casual tapi tetap tidak bisa menyembunyikan pesona gadis itu.

Lima belas menit kemudian, Minri tiba di tempat tujuannya. Ia masuk ke dalam mini market itu dan langsung menuju bagian makanan ringan. Ia mengambil beberapa bungkus coklat, lollipop dan snack ringan. Gadis itu menatap puas keranjang belanjaannya yang penuh dengan makanan kesukaannya.

Kemudian ia beralih ke bagian minuman. Ia mengambil beberapa kaleng susu coklat dan cappuccino yang siap konsumsi. Terakhir, ia menuju sebuah lemari pembeku. Sudah jelas yang diincarnya adalah es krim.

Setelah merasa cukup, Minri menuju kasir. Ia mengeluarkan beberapa lembar won lalu menyerahkan kepada petugas itu.

Bunyi bel berdenting ketika Minri keluar dari tempat itu. senyum tipis terukir dibibirnya. Sebabnya hanya satu. Ia puas dengan barang belanjaannya.

Minri berjalan menuju jalan pulang. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia mengenal dua orang yang sedang berdiri di stand jajangmyeon. Kris dan Yeon. Lantas menghampiri kedua orang itu. Tanpa Yeon dan Kris sadari Minri berada tepat di belakang mereka. Sebenarnya Minri tidak tahu harus bicara apa, hingga Kris berbalik dan menyapanya.

“Kris-ssi! Kau mau tidak?” tawar Yeon.

“Yeon, ada Minri.” Kris melipat kedua tangannya di depan dada. Memasang wajah cool, agar membuatnya tampak keren di antara pria yang ada disana.

Mwo? Minri? Eodi–” Yeon berhenti bicara saat mengetahui ternyata Minri berada di belakangnya.

“Yeon-ah, jeongmal mianhaeyo,” ucap Minri tanpa basa-basi, meskipun begitu Yeon tahu tujuan Minri meminta maaf padanya.

“Minri-ya, kau ingin jajangmyeon?” tanya Yeon. Ia kembali menghadap penjual jajangmyeon. Yeon sengaja mengabaikan ucapan Minri karena ia sendirilah yang merasa bersalah.

“Yeon…” sergah Minri. “Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud merebut Sehun darimu. Sehun memang menyatakan perasaannya padaku tapi aku sudah meno…”

Gwaenchana.” Potong Yeon sebelum Minri menyelesaikan kalimatnya. “Lagi pula aku sudah menjadi kekasih Kris Wu. Iya kan Kris?” tanya Yeon sambil menghadap Kris. Sementara Kris lagi-lagi dikejutkan dengan perkataan Yeon yang seenaknya saja. Kris bahkan belum mengatakan bahwa ia menyukai Yeon. Lantas gadis itu menyimpulkan sendiri kalau mereka adalah pasangan kekasih?

Jinjjayo?!”

***

Kris dan Yeon berjalan dalam diam. Entah mengapa keadaan menjadi sangat canggung. Hal yang sebaiknya dilakukan Yeon adalah meminta maaf pada Kris. Ya, minta maaf karena mengatakan pada Minri bahwa Kris adalah kekasihnya tanpa persetujuan Kris terlebih dahulu.

“Kris-ssi.”

“Yeon Young-ssi.”

Mereka bicara hampir bersamaan. Keduanya saling menoleh sebentar, lalu menatap lurus ke depan lagi.

“Kau duluan,” ucap Kris.

“Aku ingin minta maaf, apa yang ku katakan pada Minri hanya sebagai alasan agar gadis itu tidak merasa bersalah. Agar ia tahu bahwa aku baik-baik saja. Maafkan aku ikut membawamu.” Yeon menunduk, sesekali menendang kerikil kecil yang dilewatinya.

“Bagaimana kalau yang kau katakan benar-benar kita lakukan?” Kris menelan ludahnya, menunggu reaksi dari Yeon.

“Maksudmu Kris? Aku tidak mengerti.” Gadis itu mengerutkan kening lantas menghentikan langkahnya, membuat Kris juga ikut berhenti dan menatap mata Yeon dalam.

Kris memberanikan diri mengangkat kedua tangannya lantas meletakkannya di bahu Yeon. Gadis itu ingin menunduk tapi cengkraman tangan Kris di bahu Yeon seakan memberi peringatan agar Yeon tidak mengalihkan pandangan sedikitpun dari Kris.

I mean… err… would you be my girlfriend?”

Yeon membulatkan matanya tidak percaya. Sementara Kris menunggu kata yang meluncur dari mulut gadis itu dengan hati yang cemas. “For real.” Kris menambahkan.

Yeon merasa tubuhnya akan merosot saat itu juga. Ini adalah pertama kalinya seorang pria menyatakan cinta padanya langsung, secara bertatapan mata. Bukan hanya tulisan dari pesan singkat atau suara melalui gelombang telpon. Ini nyata.

Yeon tidak mengatakan apapun, tapi Kris bisa melihat kedua ujung bibir gadis itu terangkat. Gadis itu tersenyum tipis, membuat Kris gugup sekaligus gemas. Lama sekali, pikir Kris.

CUP!

Kris menempelkan bibirnya dengan gadis itu dalam waktu yang singkat. Nyaris seperti kilat yang hanya sekedar lewat namun sukses membuat Yeon seolah tersambar petir.

“YA! Apa yang kau… lakukan?” Tanya Yeon dengan volume suara mengecil di akhir kalimatnya. Gadis itu memegangi bibirnya dengan wajah merona. Ciuman pertama di tengah jalan dan dengan orang yang BELUM resmi menjadi kekasihnya. Apa-apaan?!

“Menciummu. Karena kau lama sekali bicara. Ku pikir kau terpesona padaku,” ucap Kris dengan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa.

Yeon memukul lengan Kris dengan tinjunya. Dia rasa dia sudah tahu jawabannya.

“Kau merebut ciuman pertamaku. Berarti kau harus menikahiku nanti.” Yeon berjalan mendahului Kris, membuat laki-laki itu mengkerutkan keningnya–bingung. Beberapa saat kemudian Kris tertawa lantas menyejajarkan langkahnya dengan Yeon.

“Bocah kecil macam kau tahu apa tentang pernikahan, hemm?” Kris menjitak kepala gadis itu tanpa ragu-ragu.

“Kita seumuran dan… YAK! Atas dasar apa kau mengataiku bocah?!” Kris memundur selangkah karena gadis itu sudah hampir membuat jantungnya yang malang berdetak dengan kecepatan yang tidak normal.

“Karena tubuhmu yang kecil dan kau sangat menggemaskan.” Kris mencubit hidung Yeon, membuat Yeon mengaduh.

“Itu pujian atau sindiran?” Yeon melirik Kris dengan tajam. Kris menggelengkan kepalanya pelan.

“Berdebat denganmu tidak ada habisnya, ya? Tapi ngomong-ngomong, kau menerima pernyataan cintaku ‘kan?” Kris tersenyum hangat, membuat Yeon tiba-tiba tercengang. Terkadang laki-laki itu menyebalkan, tapi untuk saat ini Yeon rasa Kris benar-benar mempesona.

Yeon menggelengkan kepalanya dengan cepat, menyadarkan dirinya sendiri dari segala fantasi yang mengagumkan tentang Kris.

“Terpaksa,” ucap Yeon. Gadis itu tersenyum lagi. Ia tidak tahu kalau cinta datang secepat ini. Ia rasa ia bisa melupakan kekagumannya pada Sehun sekarang. Semua ini pasti karena Kris. Sesederhana itu.

”Aish! Apa sulitnya mengatakan ‘ya’? Mau ku cium lagi hah?”

“Kris!!”

***

Minri meletakkan barang belanjaannya di dapur. Menyusunnya dengan rapi dalam lemari penyimpanan. Sesekali ia mengangkat kepalanya sembari berpikir. Yeon dan Kris sudah menjadi pasangan? Sejak kapan mereka dekat? Atau jangan-jangan Minri sudah melewatkan beberapa kejadian penting bersama Yeon. Tapi sebelumnya gadis itu tidak pernah tidak menceritakan kejadian yang dialaminya. Aish!

Chanyeol baru tiba di dapur. Laki-laki itu membuka kulkas dan mengambil botol air putih. Minri menatap Chanyeol dalam diam.

Wae? Kau mau minum juga?” Tanya Chanyeol sembari mengacungkan botol minumnya. Minri menggeleng. Lalu Chanyeol meneguk minumannya lagi.

“Ada yang ingin ku tanyakan padamu. Apa kau tahu kalau Yeon dan Kris sudah menjadi pasangan kekasih?”

Chanyeol hampir menyemburkan minumannya. Ia cukup kaget dengan apa yang didengarnya.

“Secepat itu?”

“Kau tahu kalau mereka dekat?” Tanya Minri lagi. Gadis itu menghampiri Chanyeol, lantas duduk di meja makan. Perbincangan yang menarik baginya.

Ne, Yeon sering bersama Kris saat kau tidak ada.” Chanyeol meletakkan minumannya di meja, lalu beralih menatap Minri. “Itu berarti kau tidak punya alasan untuk menolak Sehun kan?”

“Kau tidak tahu apa-apa. Jadi, sebaiknya kau diam saja!”

***

Keesokan harinya. Sekolah kembali ramai. Para siswa dan siswi kembali menginjakkan kakinya ke gedung tempat mereka menimba ilmu. Beberapa siswa laki-laki tampak berlarian di koridor.

Minri melangkahkan kakinya dengan santai sambil mendengarkan alunan lagu kesukaannya memalui headset yang menempel di telinganya. Keadaan sekolah sudah cukup ramai hingga terkadang gadis itu perlu memiringkan badannya untuk melewati beberapa siswa yang berdiri di depan kelas.

Tanpa sengaja dan tanpa diinginkannya, seorang anak laki-laki kelas dua belas, menyenggol bahunya hingga gadis itu sedikit terhuyung. Tiba-tiba sepasang tangan memegangi lengannya erat. Sontak gadis itu berbalik dan mendapati Sehun berada di depannya.

Mianhamnida,” ucap Sunbae itu, lantas melangkah pergi.

Minri menatap tangan Sehun yang masih berada di lengannya. Sehun yang baru menyadarinya–melepaskan pegangan itu.

“Sejak kapan kau mengikutiku?” Tanya gadis itu datar.

“Aku tidak mengikutimu, hanya saja arah kita sama,” jawab Sehun singkat. Ia merasa tertolong dengan alasannya yang luar biasa masuk akal.

“Oh, benarkah?” Minri baru saja akan melanjutkan langkah kakinya, tapi tangan Sehun menahannya untuk tidak pergi.

“Aku masih berharap kau mau menerimaku.”

Minri hanya menatap Sehun dalam diam. Tak lama terdengar bunyi bel tanda masuk kelas. Beberapa saat berselang terdengar lagi teriakan seorang gadis yang familiar di telinga mereka berdua.

“Minri-ya!” Yeon berlari kecil menghampiri Minri. Perlahan pegangan tangan Sehun terlepas.

Yeon mengatur nafasnya yang memburu setelah ia berlari.

“Selamat pagi!” Sapa gadis itu dengan senyum sumringah, membuat orang yang melihatnya ikut tersenyum dan menyapa balik. Gadis itu menebar ‘Happy Virus’ lagi.

“Sehun-ssi. Sonsaengnim akan segera tiba,” ucap salah satu siswa yang berada di kelas yang sama dengan Sehun.

“Selamat pagi Sehun-ssi…” Sapa Yeon sambil melambaikan tangannya, tidak lupa dengan senyuman pembawa kebahagiaan tadi.

Setelah Sehun pergi dan masuk ke dalam kelasnya, Yeon menggandeng tangan Minri dan membawa gadis itu ke dalam kelas mereka juga. Setelah itu mereka duduk di bangku masing-masing.

Minri menatap Yeon sebentar sebelum berkata, “Kau tampak bahagia sekali.”

Yeon tertawa menanggapi. Yeon membuka tasnya dan mengeluarkan buku-buku pelajaran.

Minri mengalihkan pandangannya menuju pintu ketika Kris baru saja berdiri disana. Kris menyapu pandangannya ke seluruh arah kelas, kemudian berhenti pada satu titik. Gadis di samping Minri.

Kris menghampiri gadis itu dan menatapnya dengan pandangan kesal.

“Lagi-lagi kau meninggalkanku. Aku sudah bersedia naik bis bersamamu, tapi kau malah seperti ini.” Kris mengerucutkan bibirnya lucu. Minri hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya karena setahunya Kris tidak pernah seperti itu. Tidak terbayangkan sebelumnya.

“Iya… maaf…” ujar Yeon sembari menahan tawanya. Rupanya ini yang membuat gadis itu senang. Mengerjai kekasihnya sendiri?

“Aku tidak akan memaafkanmu kecuali kau mau ku cium seperti waktu itu, tapi kali ini harus lebih lama.” Kris menarik satu ujung bibirnya, mengukir senyum kemenangan saat melihat wajah Yeon sontak memerah. Yeon memperhatikan seisi kelas, mungkin saja teman-teman mendengar dengan apa yang baru saja Kris katakan dan dia tahu kalau itu adalah hal yang sangat memalukan. Err.. sepertinya mereka tidak memperhatikan. Syukurlah.

Mwo? Kalian sudah…” Minri menatap Yeon curiga. Sepertinya menyenangkan kalau Minri menggoda temannya ini.

Yeon menghadapkan tubuhnya pada Minri lantas menggeleng.

Aniyo, jangan percaya padanya.” Yeon mengelak.

“Maaf Yeon, aku lebih percaya pada Kris.” Minri tertawa pelan, sementara Yeon memberengutkan wajahnya kesal. “Aku tidak perlu tahu yang sebenarnya, karena itu urusan pribadi kalian,” ucap Minri sembari menepuk pelan bahu Yeon, Minri belum menghentikan tawanya.

“Oh iya, kau tidak pergi kemana-mana kan sore ini? Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Ah, rasanya sudah lama sekali tidak jalan-jalan bersamamu.” Ajak Yeon.

“Aku ikut,” sahut Kris yang duduk di belakang Yeon.

“Tapi…”

Belum sempat Yeon menyangkal, guru lebih dulu datang, mengharuskan semua murid untuk bungkam.

***

Minri duduk di depan kelas, sendirian. Karena Yeon sudah pergi dengan Kris–entah kemana. Gadis itu memandang ke arah lapangan, tiba-tiba Sehun melintas dan tertangkap oleh pandangannya. Pria itu sedang bermain basket bersama teman-temannya.

Benarkah yang Sehun katakan tadi pagi? Bahwa Sehun masih mengharapkannya?

“YA!” Tiba-tiba Yeon duduk di samping Minri. Gadis itu beniat mengejutkan Minri tapi sayang responnya biasa-biasa saja. Poor Yeon.

“Apa yang kau lihat?” Yeon menyerahkan satu botol air mineral pada Minri, lalu ia membuka botol minumannya sendiri.

“Tidak ada,” jawab Minri sekenanya lantas berdiri. Gadis itu baru akan kembali ke dalam kelasnya tapi sayang bola basket sialan tepat mengenai kepalanya. Gadis itu merasa pusing, setelah itu semuanya gelap.

TBC

Yeeyyy!! Udah terang ceritanya kan?! Selanjutnya adalah LAST PART… fyuuhhh akhirnya ini FF hampir selesai juga. Gimana ceritanya? Makin gajelas? Typo bertebaran?

Don’t miss for Last Part!! Thanks for waiting :*

Comment please^^

43 thoughts on “All About Us – line 5

  1. anyeong
    wooaaa. deg deg. deg . ya ampun entah apa dan bagian yg mana tapi feelnya dapet. rasanya berdesir-desir . haha . beneran loo eonni . daebak . .

    @_@+ fighting

  2. gotcha..
    chukkae buat yeon n kris😀 … aahh tinggal minri ama sehun.. last part yaa.. siap meluncur😀
    like this yo like this

  3. Eoniiiiiii bs dipastiin itu nnt yg nolongin sehun kan iya kannn??? Aku jd histeris dan greget sndir baca ff ini ishhh minri kelamaan mikir sih wkwk next read thor

  4. Cintay’ brawal dr lemparan bola basket, yg hmpir mengenai, n skarg tepat sasaran, , hehe
    crtay’ bner2 remaja bgt, mmbuat q brhayal msa muda q dlu (eitts krg jg msh muda ch, hee), mksd q msa2 SMA dlu #curcol

    okeh, q bca last chapy’ ya, ,

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s