Confession

Cover by yellownique.wordpress.com

Author             : Lsapk

Rating             : PG 15

Genre              : Friendship, Romance

Cast                 : – Byun Baekhyun (EXO K)

– Nam Sangmi (OC)

Disclaimers      : The plot completely mine. The casts belongs to themself and God. No plagiarism! Happy reading~ Don’t forget to RCL ^^

~Confession~

 

Sangmi menutup kembali buku yang baru saja dibacanya 10 menit yang lalu. Ia menangkupkan kepalanya diatas hamparan buku yang tepat berada didepannya, diatas meja belajar miliknya. Sedari tadi ia memang membaca buku Biologi, tetapi sebenarnya pikirannya sedang tidak ada disana sama sekali. Sangat jauh memikirkan sesuatu atau seseorang lebih tepatnya. Seseorang yang entah mengapa akhir-akhir ini selalu mengganggu pikirannya, mengusik konsentrasinya dan terkadang mengisi mimpi indahnya. Membuat kegiatan belajarnya itu jadi tiada berguna sama sekali. Padahal hanya dalam hitungan hari ia akan menghadapi ujian kenaikan kelas.

Sebenarnya ada seseorang yang ia kagumi karena kepintarannya sehingga ia mencoba memaksakan diri untuk menyamakan kemampuannya dengan orang itu. Byun Baekhyun, sahabatnya sedari sekolah menengah pertama hingga kini mereka tengah duduk di tingkat kedua sekolah menengah atas. Aihh bagaimana  bisa Sangmi sangat menurut padanya? Namja yang sangat senang mengganggunya itu?

Ia masih tak mempu mengartikan perasaan yang tengah menimpanya kini. Baru pertama kali ia merasakannya. Seperti ada ribuan kupu-kupu  dalam perutnya yang mengepakkan sayapnya secara bersamaan ketika ia melakukan kontak fisik dengan namja itu. Yah walaupun itu hanyalah kontak fisik sederhana seperti bergandengan tangan dengan Baekhyun, tingkah menyebalkan Baekhyun yang sangat senang mengacak rambutnya ataupun tingkah konyol Baekhyun yang ditunjukkan hanya beberapa orang saja termasuk padanya. Aneh bukan? Dulu ia akan sangat marah bila Baekhyun menjahilinya. Ia takkan segan-segan untuk mengejar Baekhyun keliling sekolah hanya untuk membalas perbuatan jahil Baekhyun. Tapi kini? Alih-alih merasa kesal ia justru merasa senang. Sebenarnya ada apa dibalik perubahannya kini?

Baiklah harus ia akui belakangan ini namja itu jadi seperti kertas yang ditusuk dengan paku payung lalu ditempelkan ke otaknya sehingga mau tak mau Sangmi akan terus memikirkannya sepanjang waktu. Entah bagaimana Sangmi selalu memikirkan tingkah dan ekspresi wajah namja itu yang sudah pasti sangat digilainya. Memang harus diakuinya kalau wajah Baekhyun itu tak hanya tampan namun juga sangat imut. Kalau saja ia tak mampu menahan diri pastilah tangannya sudah ia gunakan untuk mecubiti pipi Baekhyun yang memang tidak chubby tapi cukup menggoda untuk dicubit.

Merasa tak ada gunanya lagi belajar di tengah pikirannya yang sedang melayang-layang, ia pun menghempaskan tubuhnya di ranjang kesayangannya. Ia menggunakan kedua telapak tangannya untuk menopang kepalanya, anggap saja ia memfungsikan itu sebagai pengganti bantal. Cukup lama ia bertahan. Setelah merasa pegal karena posisi itu ia segera beralih mengambil ponselnya yang sempat ia lupakan ketika sedang menonton televisi tadi. Ternyata sudah ada tiga pesan masuk dan semuanya dari Baekhyun.

From    : Baekhyun Babo

Sangmi-ya aku menunggumu di taman, ada kejutan spesial yang menunggumu disana. Cepatlah datang!

Ketiga pesan itu berisi kata-kata yang sama. Keningnya mengernyit heran, mengapa Baekhyun tampak begitu tidak sabaran sampai harus mengirim ulang pesannya sebanyak tiga kali? Setelah ia teliti ternyata awal pesan itu dikirim adalah pukul 8. Astaga sekarang sudah pukul 9.30 masihkah Baekhyun menunggunya?

Yeoja itu mengacak rambut panjangnya dengan gemas merutuki kebodohannya karena tidak mengidahkan bunyi ponselnya ketika ia sedang menonton televisi tadi. Ah, ia jadi merasa bersalah pada Baekhyun. Cuaca diluar bukankah sedang cukup dingin, apakah ia tidak sakit menunggunya di taman? Aishh, tapi apakah Baekhyun masih menunggunya? Bisa jadi ia sudah pulang daritadi bukan?

Hatinya bergumul memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Tapi kemudian hatinya menyuarakan untuk tetap pergi menemui Baekhyun walaupun sangatlah terlambat. Bila nanti Baekhyun sudah pergi ia tinggal pulang saja, yang penting ia sudah menuruti permintaan Baekhyun untuk pergi ke taman bukan? “Aish, molla..”

~Confession~

Kini Sangmi telah siap dengan mantel tebal dan syal pemberian eommanya yang melilit lehernya. Ia menatap keluar dengan pandangan menerawang. Hati kecilnya sangat berharap Baekhyun masih menunggunya disana. Tapi, hey ayolah apa itu penting?

Setelah keluar dari pagar rumahnya gadis itu segera berlari menyongsong gelapnya malam. Gadis itu memperlambat larinya ketika menyadari ada yang salah. Kenapa ia begitu antusias untuk bertemu Baekhyun? Bukankah mereka setiap hari selalu bertemu di sekolah? Berbagai spekulasi melayang-layang di otaknya. Apa sebenarnya yang terjadi akhir-akhir ini? Kenapa otaknya penuh dengan nama dan wajah Baekhyun? Dia bahkan tergila-gila dengan senyumannya walau setengah mati malas untuk mengakuinya. Ia tak bisa menerima kenyataan bahwa ada namja yang sepertinya telah berhasil mencuri hatinya. Selama ini memang ia dikenal sebagai yeoja populer yang tentu saja mempunyai banyak teman. Namun hanya beberapa saja yang mengenalnya secara dekat, salah satunya adalah Baekhyun.

Tersadar dari lamunannya yang mungkin sudah terlalu panjang, Sangmi lagi-lagi mempercepat langkahnya menembus gelapnya malam. Dua alasan yang telah ia dapatkan sebagai hasil lamunannya barusan. Pertama, ia memang menginginkan untuk segera bertemu Baekhyun. Kedua, ia hanya tidak ingin membiarkan Baekhyun menunggunya lebih lama dari ini, itupun jika memang Baekhyun masih menunggunya. Namun lagi-lagi ia membohongi perasaannya sendiri, ia memilih alasan kedua. Ia hanya… belum mau mengakuinya.

~Confession~

Seorang namja tengah menghela napas panjang dan menghentak-hentakkan kakinya ke tanah mencoba untuk menghibur diri dan mengobati rasa kecewanya. Berkali-kali ia mengecek ponselnya dan lagi-lagi ia hanya bisa menelan rasa kecewanya karena apa yang sedari tadi ditunggunya tak kunjung tiba.

Ya, Byun Baekhyun-lah namja tersebut. Sudah sekitar 1 jam lewat 30 menit ia menunggu yeoja itu datang. Ya ampun, alih-alih datang membalas pesannya pun tidak. Jika ia tidak mau datang bukankah ia cukup mengirimkan pesan padanya atau menelponnya bukan? Sebenarnya apa yang sedang dilakukan yeoja itu Baekhyun pun tak tahu. Ia hanya terus memaksakan otaknya untuk berpikir bahwa Sangmi sedang dalam perjalanan menuju taman itu. Tapi mana hasilnya? Hingga saat ini yeoja itu belum juga terlihat batang hidungnya.

“Nam Sangmi kau ada dimana?” teriaknya frustasi.

Sedari tadi ia telah mempersiapkan ‘hadiah’ yang akan ia berikan kepada Sangmi. Ia tahu kalau Sangmi sangat suka pada hadiah. Karena itulah kini ia membawa kotak hadiah istimewa untuk yeoja tersebut.

“Baekhyun? Untuk apa kau ada disini malam-malam dalam cuaca sedingin ini?” tanya seorang namja yang bediri di bawah tiang listrik. Baekhyun harus memincingkan matanya untuk dapat meihat dengan jelas siapa namja misterius yang tiba-tiba mengajaknya bicara.

“Oh, Chanyeol? Kau kah itu?” tanya Baekhyun ragu-ragu. Perlahan namja itu berjalan mendekati Baekhyun.

Namja itu terkekeh. “Haha kau kira siapa lagi, hm?”

“Yaa bisa saja orang lain kan? Sedang apa kau malam-malam berkeliaran seperti ini? Mengagetkan orang sembarangan pula,” ucap Baekhyun sambil menatap Chanyeol lalu mengisyaratkan untuk duduk di ayunan sebelahnya.

“Ya! Yang seharusnya bertanya begitu kan aku. Kau tahu sendiri kan rumahku hanya dua blok dari taman ini? Ck, kau. Apa yang sedang kau lakukan malam-malam begini, duduk di taman sendirian dengan muka kusut seperti itu. Menunggu seseorang?”

“Ne, aku menunggu…”

“Tunggu, tunggu biar aku yang tebak,” potong Chanyeol cepat. “Eumm kau sedang menunggu seorang yeoja kan?” Baekhyun mengangguk lesu. “Ah! Yeoja itu.. Nam Sangmi?” tanya Chanyeol hati-hati. Lagi-lagi Baekhyun hanya mengangguk. Dalam hatinya ia bertanya-tanya mengapa Chanyeol dapat dengan mudah menebak pikirannya saat ini. Jangan-jangan sahabatnya ini diam-diam adalah seorang cenayang?

“Jinjja? Baekki-ya, ini sudah hampir jam 10 malam bukan? Kau yakin ia akan datang?” tanya Chanyeol. Wajahnya menyiratkan keraguan yang amat besar. Baekhyun menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal itu.

“Aish, molla. Aku juga tak tahu kenapa yeoja itu belum juga datang, padahal aku sudah menunggunya hampir 2 jam, Chanyeol-ah.”

“Ini sudah malam Baekki-ya, lebih baik kau pulang sekarang daripada besok kau sakit karena terlalu lama menunggu Sangmi yang tak kunjung datang,” bujuk Chanyeol.

“Ani, aku disini saja. Aku akan menunggunya Chanyeol-ah. Aku yakin ia akan datang sebentar lagi.”

“Kau ini keras kepala sekali jika sudah berhubungan dengan yeoja itu. Dan yah, sepertinya percuma saja aku disini. Yasudah aku pulang duluan ya, ini sudah malam Baekhyun-ah. Annyeong,” pamit Chanyeol. Baekhyun hanya menganggapinya dengan senyum tipis dan anggukan yang terkesan samar. Ia hanya memandangi punggung Chanyeol yang semakin menjauh dan kini tidak lagi terlihat olehnya. Kembali lagi ke aktivitasnya tadi, melamun.

Baekhyun bisa saja dibilang namja yang pengecut. Hanya untuk bertemu dengan yeoja itu ia terpaksa berpura-pura menjahilinya. Sebenarnya tentu saja ia benar-benar merindukannya. Padahal hampir tiap hari mereka bertemu di kelas tapi tetap saja mereka saling merindukan satu sama lain. Aneh bukan? Yah entahlah, hanya mereka yang tahu jawabannya.

Baekhyun terus-terusan memegangi kotak tersebut. Terbayang olehnya bagaimana ekspresi kesal Sangmi saat menerima hadiah ini. Ya, Baekhyun menyukai ekspresi yeoja itu saat ia marah. Setidaknya itu masih lebih baik dibandingkan melihatnya menangis hebat seperti satu tahun yang lalu saat ia kehilangan oppa kesayangannya.

Namun kini Baekhyun menyeringai puas, walaupun terlambat dan tanpa membalas pesan singkatnya akhirnya apa yang ia tunggu datang juga. Ia melihat siluet yeoja yang tengah berlari kearahnya. Walaupun yeoja itu hanya terlihat dalam keremangan ia tahu kalau yeoja itu adalah Nam Sangmi. Awalnya ia memang kesal namun lama kelamaan rasa kesal itu terganti dengan rasa senang yang amat sangat. Tak bisa menyembunyikan kesenangannya, Baekhyun segera  melambai-lambaikan tangannya kearah yeoja tersebut berharap Sangmi melihat dan segera datang ke arahnya. Tak lupa ia menyembunyikan kotak itu.

Sangmi sedikit terengah-engah akibat tadi ia sedikit berlari saat menuju kemari. Beberapa butir keringat mengalir di wajahnya padahal cuaca cukup dingin malam itu. Baekhyun awalnya cukup kesal karena Sangmi sedikit terlambat, ah tidak sangat terlambat maksudnya, namun melihat yeoja itu rasanya rasa kesal itu menguap begitu saja.

“Baekki, kau masih disini? Kau menungguku sedari tadi?” tanya Sangmi setelah dapat menormalkan nafasnya.

“Kau pikir untuk apa aku disini huh?” tanya Baekhyun. Sangmi semakin merasa bersalah karena telah membuat Baekhyun lama menunggu.

“Yah… Baekhyun-ah mianhae, tadi aku sedang menonton televisi. Aku memang mendengar ponselku yang berbunyi tapi aku tak menghiraukannya karena kupikir tidak penting. Mianhae karena telah membuatmu menunggu cukup lama,” Sangmi meminta maaf dengan wajah memelas, ia sungguh merasa bersalah pada Baekhyun tapi hal itu sungguh menjadi sesuatu yang lucu bagi Baekhyun.

Tawa namja itu meledak. “Buahaha… Kau tidak tahu ya? Haha.. mukamu tadi saat meminta maaf sangat konyol Sangmi.. Hahaha…”

Sangmi yang mendengar tawa Baekhyun langsung merasa kesal. Ia sudah menurunkan kadar gengsinya untuk meminta maaf pada Baekhyun tapi hasilnya justru ia ditertawakan oleh namja itu. “Ya Baekki! Aku sungguh-sungguh meminta maaf padamu. Aish! Kenapa kau malah tertawa?” sahut Sangmi kesal. Apalagi kini Baekhyun tetap tertawa, ucapannya yang tadi tidak didengarkan sama sekali oleh Baekhyun. Sangmi mulai merajuk.

“Ah sudahlah lebih baik aku pulang saja. Tidak ada gunanya disini bersama orang sepertimu,” Sangmi benar-benar kesal pada Baekhyun sekarang. Bagaimanapun Baekhyun tetaplah orang yang sangat menyebalkan baginya. Ia segera mengambil tas selempangnya dan bersiap untuk segera pergi dari taman itu. Namun Baekhyun tiba-tiba menahan tangannya.

“Arraseo, mianhae.. Baiklah aku akan berhenti tertawa. Tapi jangan marah padaku ya? Ya?” tanya Baekhyun sambil berusaha ber-aegyo, berharap Sangmi takkan pergi secepat itu. Tapi tetap saja Baekhyun masih tidak dapat menyembunyikan tawa kecilnya akibat kejadian tadi.

Sangmi menegang seketika. Pegangan tangan Baekhyun di tangannya belum terlepas, terasa hangat dan nyaman. Lagi-lagi perasaan itu muncul, seperti ada listrik yang mengalir dari tangan Baekhyun ke tangannya lalu menyegatnya dan menimbulkan sensasi yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Kupu-kupu dalam perutnya mulai bereaksi. Dan tanpa dikomando detak jantungnya seakan dipacu untuk berdetak lebih cepat. Sangmi seakan membeku ditempat.

Tak kunjung mendapat respon Baekhyun pun memilih untuk menegur yeoja itu lagi. Semarah itukah Sangmi sampai ia tak mau menjawab ucapannya?

“Sangmi-ya, mianhae.. Ayolah, jawab aku. Kenapa kau diam saja?”

Sangmi segera tersadar dari lamunannya. Segera saja ia melepaskan tangan Baekhyun dari pergelangan tangannya. Sayangnya Baekhyun menyadari kegugupannya da memilih untuk terus menggodanya dengan menggodanya dengan merangkulnya dari belakang.

“Ya! Byun Baekhyun!” omel Sangmi. Tangannya yang terbebas ia gunakan untuk menjitak kepala Baekhyun.

“Ah, appo..” Baekhyun meringis dan refleks mengusap-usap kepalanya. Namun ia masih tak dapat menahan tawa kecilnya yang menyeruak begitu saja. Ia memang selalu bisa membuat yeoja itu kesal. Dan itu merupakan salah satu kesenangannya juga.

“Nikmatilah itu, Baekhyun~” goda Sangmi dengan suara yang dibuat-buat sengaja untuk ganti membuat Baekhyun kesal.

“Neo jinjja.. Berniat balas dendam, huh?” jawab Baekhyun seraya melirik Sangmi. Berpura-pura marah sebenarnya.

“Menurutmu? Hahaha..” tawa kecil Sangmi menyeruak juga. “Ah, sudahlah. Sebenarnya apa yang kau maksud dengan kejutan spesial darimu itu? Kenapa kau tidak datang saja ke rumahku? Kenapa harus di taman ini?” tanya Sangmi panjang lebar. Segera saja Baekhyun teringat kotak yang tadi ia sembunyikan di bawah kursi taman.

“Eummm… Tunggu sebentar. Tutup matamu, ya?”

“Ne, arraseo.. Cepatlah, disini dingin Baekhyun-ah.”

Baekhyun tak menjawab. Ia kembali setelah mengambil kotak itu. Ya, sebenarnya itu hanya alasan saja agar ia bisa bertemu dengan Sangmi malam ini. Kau tahu itu kan?

Dalam keadaan seperti ini Baekhyun masih sempat-sempatnya mengagumi kecantikan Sangmi. Entah sejak kapan ia mulai mengagumi yeoja ini. Seingatnya dulu Sangmi adalah yeoja yang biasa saja dimatanya, yang tak jauh berbeda dengan yeoja-yeoja lainnya. Namun kini ia berubah menjadi yeoja yang sangat cantik dimatanya. Yang ia tahu hanyalah perasaan dan aura berbeda yang ia rasakan ketika berdekatan dengan Sangmi, seperti… lebih nyaman dan lebih err entahlah ia sendiri bahkan tak mampu mendeskripsikannya.

“Kenapa lama sekali?” protes Sangmi. Baekhyun pun tersadar.

“Ah, geurae kau bisa membuka matamu sekarang.”

Sangmi membulatkan matanya melihat apa yang baru saja Baekhyun sodorkan. Baekhyun memberinya hadiah? Memangnya dalam rangka apa? Ia tak merasa hari ini adalah hari ulang tahunnya.

“Mwo? Apa ini? Kenapa kau memberiku hadiah?” tanya Sangmi heran. Tapi ia juga senang.

“Jangan banyak tanya, sudah buka saja. Kau pasti akan sangat menyukainya.”

Sayangnya Sangmi tak memperhatikan perubahan air muka Baekhyun ketika mengatakan hal itu. Sangmi terlampau senang hingga melupakan fakta bahwa Baekhyun adalah namja yang hampir tidak memiliki kegiatan lain selain mengerjainya ataupun menggodanya lalu membuatnya kesal. Ia melupakan poin itu dan itu merupakan suatu kesalahan yang sangat fatal –setidaknya  dalam situasi seperti ini.

Baekhyun mengamati wajah Sangmi lamat-lamat saat yeoja itu sedang membuka kotak mungil berwarna biru darinya. Ia harus menggigit kecil bibirnya untuk menahan tawanya yang saat itu akan meledak. Dalam hati ia menghitung mundur, 3… 2… 1….

“YAAA, BYUN BAEKHYUN! MENGAPA KAU MEMBERIKU KADAL HAH? AAARRGH!” omel Sangmi sambil berlari kecil setelah melempar kotak pemberian Baekhyun tadi. Ia sedikit menyesal karena sempat berpikir bahwa Baekhyun akan berhenti mengerjainya dan mulai berubah menjadi layaknya namja normal lainnya. Tapi ternyata itu salah besar!

“Ya, Baekhyun-ah! Aishh… neo jeongmal nappeun namja!” Baekhyun masih saja tertawa mendengar omelan Sangmi. Seperti yang sudah dipaparkan tadi, ia sangat menyukai ekpresi yeoja itu saat sedang marah. Dan kini ia sedang tertawa sambil menikmati ekpresi wajah penuh amarah Sangmi.

“Kyaaa, Baekhyun-ah.. Kadal itu sudah pergi kan? Aisssh, jeongmal! Kau tahu kan aku takut kadal? Mengapa kau memberikannya padaku?” rajuk Sangmi. Jika saja ia tak melihat ada satpam yang berjaga di dekat taman itu mengkin saja saat ini Baekhyun sudah tidak berbentuk lagi akibat dihajar olehnya.

“Ahahaha… Ne, ne… Kadal itu sudah lari ketakutan saat kau berteriak tadi Sangmi-ya.”

“Ah, jadi kau mencoba menyindirku, huh?” Sangmi melirik Baekhyun sebal. “Lalu mengapa kau memberiku kadal? Kyaaaa, ku pikir kau sudah sedikit berubah menjadi namja baik-baik tetapi ternyata kau tidak ada bedanya. Kau tetap nappeun namja!” sungut Sangmi. Ia mengerucutkan bibirnya menunjukkan ekspresi kesal sedangkan Baekhyun hanya terkekeh melihat tingkah kekanakan Sangmi.

Baekhyun masih tertawa, walau kini tawanya sudah sedikit mereda. “Haha.. Sebenarnya aku hanya ingin menjahilimu, apa kau tidak menyadarinya?”

“Jinjja? Aishh, Byun Baekhyun!”

Baekhyun baru saja bermaksud untuk menangkap tangan Sangmi yang baru saja akan melayang menuju kepalanya namun ketika ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya ia pun segera mengurngkan niatnya. Selalu saja begini, setiap waktu yang ia lalui bersama Sangmi selalu terasa begitu cepat berlalu. Jujur saja momen pertemuannya kali ini belum membuatnya puas.

Mengetahui bahwa kini jam telah menunjukkan pukul 10 dengan berat hati ia mengajak Sangmi untuk pulang.

“Ini sudah malam, ayo kuantar pulang,” ajak Baekhyun. Setelah mengatakan itu Baekhyun segera beranjak meninggalkan tempat itu mendahului Sangmi.

“Mwo? Kau mengajakku kesini malam-malam hanya untuk memberiku kadal itu?” Baekhyun tak menjawab pertanyaan Sangmi karena sekarang jarak mereka semakin jauh. Merasa diacuhkan akhirnya Sangmi memilih untuk mengejar Baekhyun. Sekesal-kesalnya ia pada perbuatan Baekhyun tadi tetap saja ia tidak ingin ditinggal sendirian malam-malam begini.

“Ya, Baekhyun-ah, tunggu aku!” teriak Sangmi sambil berlari megejar Baekhyun.

Mendengar teriakan itu Baekhyun segera menghentikan langkahnya dan seketika itu juga Sangmi menabrak punggungnya. Baekhyun terkekeh lagi. Jujur saja kejadian itu semata-mata karena kecerobohan Sangmi saja.

“Huaaa, hidungku…” Sangmi memegangi hidungnya yang tadi paling keras menabrak punggung Baekhyun. “Kalau kau mau berhenti kenapa tidak bilang padaku? Lihat kan aku jadi menabrakmu seperti ini,” keluh Sangmi. Baekhyun hanya tersenyum manis. Namun bagi Sangmi senyuman itu lebih terlihat seperti seringaian.

“Siapa yang menabrak? Kau, bukan? Lagipula kau juga yang memintaku untuk menunggumu. Huh, tahu begitu lebih baik tadi aku tidak usah menunggumu saja,” ujar Baekhyun lalu menjulurkan lidahnya berniat membuat Sangmi kesal. Sangmi hanya mendengus pelan. Memang Baekhyun benar, ia jadi tidak punya kesempatan untuk mengelak lagi.

Melihat Sangmi tidak merespon perkataannya Baekhyun lalu mengacak pelan rambut Sangmu sambil tersenyum manis. “Baik, baik.. aku yang salah. Kajja, kita pulang. Aku akan mengantarmu sampai rumah,” seru Baekhyun. Kini ia merangkul pundak Sangmi.

Sangmi kembali menegang, rasa itu datang lagi. Mukanya memerah seketika. Jantungnya kembali berdegup lebih kencang tanpa dikomando. Ia hanya bisa berharap Baekhyun tidak mepunyai kekuatan super yang bisa mendengar suara yang sangat pelan, yang itu artinya Baekhyun dapat mendengar degup jantungnya yang menurutnya terlampau keras. Tiba-tiba saja ia bersyukur di tempat ia berdiri sekarang hanya ada lampu remang-remang yang tentunya tidak cukup untuk membuat Baekhyun melihat perbahan rona wajahnya itu.

Tak ingin fantasinya mengenai Baekhyun semakin menjadi-jadi, Sangmi segera melepaskan lengan Baekhyun yang bertengger di pundaknya. “Siapa yang memperbolehkanmu merangkulku, huh?” ujar Sangmi mencoba menutupi kegugupannya.

“Wae? Kau tidak suka? Aissh, baiklah mungkin begini lebih baik..” Baekhyun meraih tangan kanan Sangmi dan menuntunnya masuk ke dalam saku mantelnya.

“Apa yang kau lakukan, Byun Baekhyun?” balas  Sangmi. Ia mencoba melepaskan genggaman tangan Baekhyun dan berusaha mengeluarkannya dari saku mantel Baekhyun. Tapi Baekhyun tak menyerah. Sejujurnya ia sangat menikmati berada dekat dengan Sangmi, karena itulah ia tak ingin meloloskan tangan Sangmi dari sakunya. Sangmi pun demikian. Jujur saja ia merasa sangat nyaman berada dalam genggaman Baekhyun. Tapi ia merasa gengsinya terlalu tinggi untuk mengakuinya –apalagi secara langsung dihadapan Baekhyun.

Baekhyun sendiri tetap menggenggam tangan mungil itu sedangkan pemiliknya hanya bisa menghela napas panjang. Akhirnya Sangmi memutuskan untuk menurut saja. Ia sadar ini sudah malam dan tak ada gunanya bertengkar dengan namja aneh itu. Hal itu justru akan mengulur waktu untuk dirinya sampai di rumah.

Akhirnya dua insan itu berjalan beriringan menuju rumah sang yeoja. Berbeda dengan beberapa saat yang lalu yang penuh dengan keributan, kini mereka berdua terlihat berada dalam suasanan yang canggung. Momen seperti itu hampir tidak pernah mereka rasakan sebelumnya namun entah mengapa kali ini terasa sangat berbeda. Tiba-tiba saja meraka merasa sangat canggung satu sama lain.

Sepanjang perjalanan mereka sama-sama terdiam. Tak ada yang berniat untuk membuka pembicaraan. Malam yang dingin dan sunyi tak terusik oleh kehadiran mereka berdua. Jika saja diperhatikan baik-baik maka kau akan bisa mendengar degupan jantung meraka berdua. Hanya saja salah seorang dari mereka sungguh tidak mampu menutupi kegugupan itu dan hanya bisa berharap orang yang disebelahnya tidak dapat mendengarnya.

~Confession~

Kini mereka telah sampai di halaman depan rumah Sangmi. Mereka saling berhadapan, masih bertahan dengan suasana canggung yang mereka ciptakan tadi. Angin malam yang berdesir ria mengiringi mereka dan menyisakan rasa dingin yang menusuk. Baekhyun masih menggenggam tangan Sangmi, sedangkan sang yeoja hanya dapat memandangi tali sepatunya sendiri. Ia pasti sangat gugup sekarang ini.

“Terimakasih sudah mengantarku,” ujar Sangmi seraya melepaskan genggaman Baekhyun. Kali ini Baekhyun menurut, ia tak lagi memaksa Sangmi. Benak Baekhyun bergumul hebat, ia ragu apakah harus saat ini? Apakah kali ini adalah waktu yang tepat? Ia tak dapat menunggu lagi.

“Tunggu dulu…” Lagi-lagi Baekhyun menahan tangan Sangmi yang hampir berlalu dari hadapannya. “Aku… aku punya sebuah hadiah lagi untukmu,” ucap Baekhyun. Suaranya terdengar serius.

Mendengarnya kening Sangmi pun mengernyit. Kejutan gila macam apa lagi yang akan Baekhyun berikan malam ini?

“Mwo? Jangan bilang kini kau mau memberiku kecoa.. atau ulat?” tebak Sangmi asal. Tapi jangan harap ia akan tertipu untuk kedua kalinya malam itu.

“Aniya.. Bukan yang seperti itu. Aku tidak bercanda kali ini Sangmi-ya..”

Sangmi menelisik wajah Baekhyun terutama matanya, mencoba mencari sinyal kebohongan yang mungkin terpancar dari sana. Tapi matanya tidak menangkap hal itu, yang ia lihat adalah wajah yang menyiratkan keseriusan. Sangmi mengalah. “Baiklah… Kali ini apa lagi?” Tangan yeoja itu dilipat di depan dada sembari menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Baekhyun mengeluarkan satu kotak kecil berwarna merah marun dari saku celananya. Kotak itu terlihat mewah dan elegan, berbeda dengan kotak pertama yang tadi berisi kadal. Kali ini berbeda. Warna merah marun, warna favorit Sangmi. Sangmi terbelalak. Ia tak menyangka Baekhyun akan memberinya hal semacam itu. Pikirannya mengelana, kira-kira apa yang ada didalam kotak itu? Mungkinkah… Tidak, tidak. Sepertinya pikirannya terlalu mengelantur sekarang.

Bagaimanapun ia mencoba mengelak, Sangmi tetap tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa ia sangat gugup bahkan dua kali lebih gugup dari biasanya. Hatinya berdesir. Tapi tunggu, bukankah bisa saja Baekhyun sengaja mengelabuinya dengan menyembunyikan kecoa atau ulatnya di kotak yang terlihat sangat manis itu. Siapa yang tahu?

Baekhyun tersenyum sangat manis melihat ekspresi keterkejutan Sangmi. Ia tahu yeoja itu tak sepenuhnya percaya padanya terlebih setelah kejadian di taman tadi. Karena itulah ia sengaja membukanya dengan tangannya sendiri untuk membuktikan bahwa bukan hewan aneh lain yang berada dalam kotak itu. Sangmi terheyak. Tak disangka sangka ternyata isi kotak itu adalah kalung. Kalung itu berwarna silver dengan tambahan bandul berinisial B. Sangmi masih belum bisa berpikir jernih, ia masih saja tercengang melihat kalung itu.

“Kau ingat kalung ini?” Sangmi masih terdiam. “Berbaliklah.. Akan kupasangkan kalung ini untukmu.”

Tentu saja Sangmi ingat. Dua hari yang lalu ia menemani Baekhyun membeli kalung itu. Saat itu ia berpikir Baekhyun akan memberikan kalung itu untuk yeoja yang Baekhyun suka, Song Bomi. Tapi mengapa sekarang ada padanya?

Baekhyun mendorong pelan bahu Sangmi agar segera berbalik. Segera ia memasangkan kalung itu dileher jenjang Sangmi.

“Nah selesai.. Coba lihat kalung ini terlihat sangat cocok untukmu,” komentar Baekhyun. Ia kembali tersenyum. Senyum yang bisa membuat siapa saja meleleh melihatnya.

Sangmi segera tersadar bahwa ini semua nyata. Ia baru sadar ia tidak berfantasi. “Kalung ini untukku? Mengapa kau memberikannya untukku? Semula kau membeli kalung itu untuk Bomi bukan?” ujar Sangmi sambil memegangi bandul kalungnya.

“Tentu saja ini untukmu. Kau lihat sendiri kan aku memberikan ini untukmu?” Baekhyun ikut memegangi bandul tersebut. “Coba lihat ini. Apa kau tahu apa arti inisial B disini?” Sangmi menggeleng lalu berfikir sejenak.

“Bomi?”

“Kau salah,” Baekhyun mengacak rambut Sangmi dengan gemas, ia tak habis pikir mengapa jalan pikiran Sangmi begitu dangkal dengan berpikiran seperti itu. “Coba lihat lagi, B untuk Baekhyun bukan untuk Bomi.”

“Lalu untuk apa kau memberikan kalung ini? Apa maksudmu sebenarnya Baekhyun-ah?” tanya Sangmi penasaran. Baekhyun terdiam sejenak.

Keputusan Baekhyun sudah bulat. Ia merasa kali ini adalah saat yang tepat baginya untuk menyatakan perasaan itu. Perasaan yang sudah lama dipendamnya. Ia tahu persis yeoja dihadapannya ini juga mempunyai perasaan yang sama dengannya. Hanya saja ia masih terlalu polos untuk mengerti.

Baekhyun merengkuh Sangmi kedalam pelukannya. Dari posisi seperti itu Sangmi sangat bisa mendengar degup jantung yang berdetak begitu keras. Bukan hanya detak jantungnya sendiri namun juga degup jantung di dada Baekhyun. Awalnya Sangmi kaget atas perlakuan tidak biasa dari Baekhyun itu. Namun Baekhyun mengusap lembut puncak kepala Sangmi membuatnya merasa nyaman.

“Karena… Aku menyukaimu Sangmi. Aku ingin namaku selalu teringat olehmu kapanpun dan dimanapun kau berada.”

Hati Sangmi menceolos. Kembali wajahnya terasa menghangat tanda pipinya bersemu merah. Tapi tidak, ia tidak boleh jatuh ke lubang yang sama dengan kembali terjatuh ke jebakan Baekhyun. Ia mendongak. “Ini lelucon apa lagi, Baekhyun?” Ia kembali menelisik wajah Baekhyun tapi lagi-lagi kejujuranlah yang dipancarkan oleh mata indah itu. Hatinya dilema. Jadi benar Baekhyun menyukainya?

“Aniya, aku tidak bercanda. Aku serius. Aku benar-benar menyukaimu..” Sangmi sangat terkejut, tanpa sadar ia bahkan menahan napasnya tadi. Dan tanpa ia sadari juga ia merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat tadi. “Tapi.. apakah kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku?”

Sangmi mencoba mundur selangkah untuk menjaga jarak dengan Baekhyun. Bagaimanapun ia merasa posisi tadi terlampau dekat untuk mereka. Ia takut tidak bisa mengendalikan diri.

Sepertinya kini Sangmi juga telah menemukan jawabannya. Ia mengangguk mantap. “Aku… Aku juga menyukaimu..” Kemudian ia segera menghambur ke dekapan Baekhyun sekali lagi. Akhirnya ia mengakui perasaannya. Perasaan yang selama ini mati-matian ditolaknya dan sengaja dikubur dalam-dalam.

Angin malam kembali berhembus membuat Sangmi bergidik kedinginan. Baekhyun yang menyadari itu segera melepas pelukannya. “Kau kedinginan?” Sangmi mengangguk dan meringis. “Masuklah, ini sudah hampir larut malam,” lanjut Baekhyun. Tangannya kembali mengacak poni Sangmi membuatnya kembali cemberut.

Baekhyun terkekeh lagi. Tiba-tiba keinginannya untuk menggoda yeoja ini datang lagi. “Apa yang kau tunggu? Apa kau ingin mendapatkan ciuman selamat malam dariku? Cish, jangan mimpi. Hal seperti itu hanya ada didalam drama,” setelah berkata begitu Baekhyun segera berjalan meninggalkan Sangmi yang masih saja mematung disana.

Tak lama Sangmi pun tersadar. “Kyaaa… Byun Baekhyun awas kau!!” teriaknya. Tapi sudah terlambat karena Baekhyun telah jauh. Kemudian Sangmi memutuskan untuk segera masuk kedalam rumahnya. Tak henti-hentinya ia tersenyum gembira.

Malam itu langit gelap dan cuaca mendung menjadi saksi cerita mereka. Walaupun sering ditutupi akhirnya tetap terkuak juga bukan? Kini mereka baru menyadari bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan.

~END~

 

Ayeyy udah end.. maaf ya kalau ceritanya jelek dan update-an ffnya lama. Author lagi banyak tugas nih di sekolah jadi gabisa sering-sering nulis ff. Mianhae, kayanya aku juga bakal hiatus sampe aku selesai UAS😦 Makasih banget buat yang udah mau baca ffku ini dan jangan lupa komen dan like yah. kalo bisa visit blogku di elsaputrikartika.wordpress.com juga yaa.. Komen kalian berarti banget buat aku, kalo kalian komen dan like itu mbikin aku jadi semangat nulis ^^

Sekali lagi makasih buat yang udah baca. Don’t forget to RCL ^^

17 thoughts on “Confession

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s