Ramalan Korek Api #1

Ramalan Korek Api 2

Author : Lynd_Seokyu

Cast : Luhan, Sulli, Taemin.

Disclaimer: ini ff asli punya saya.. dilarang membash karakter pada ff ini.. semua cast cuma minjem nama doang(?) be a good readers yah semua^^

A/N : Annyeong^^ lama saya tak kesini^^v selain karena hiatus yang berkepanjangan(?) sampai akhirnya ff2ku lumutan semua-,- jadinya yah begitulah(?) *malah curhat–;;)*

Oke.. langsung aja dibaca ffnya yah^^ maaf jika ada typo(s) yang bertebaran dimana – mana(?) abis lagi males ngedit lagi *alibi*😛

Last, happy reading all \(^o^)/

———————————————–

“Su- Sunbae… Igeo”

“Igeo Mwoya?”

“Animida… ha- hanya sebuah surat biasa”

“Geuraeyeo?”

“Nde”

“Arra.. kau boleh pergi sekarang”

———–

“Sulli~ah!”

“Wae?”

“Palli! Coba lihat disini!”

“Wae?”

“Igeo.. bukankah itu suratmu?”

“Nde?”

“Palliwa!!! Ada yang menempelkan surat cintamu di papan pengumuman!”

“MWO?”

————

Suasana malam yang selalu terasa menakutkan. Semua orang mungkin sudah terlelap ketika sang bulan sudah berdiri kokoh diatas sana. Hanya sesekali terdengar suara binatang malam dan gesekan ranting – ranting pohon yang tertiup angin.

5 orang siswi Neul Paran High School terlihat sedang duduk membentuk lingkaran di salah satu toilet pria di sekolah mereka itu. Entah apa yang mereka lakukan disana tengah malam begini. Tanpa mempedulikan suasana sekolah yang mencekam dan dengan penerangan tunggal oleh sebuah lilin berukuran sedang yang mereka bawa, ditemani suhu udara yang begitu dingin, mereka saling duduk merapat untuk meredam semua kecemasan mereka.

“Apa ini akan berhasil?” Tanya Siswi berambut pendek sebahu.

“Mollayo… geunde, cara ini yang sekarang sering dipakai senior untuk meramal cinta mereka” jawab siswi yang memakai mantel coklat.

“Ya sudah, untuk apa lagi berlama – lama? Ayo kita coba!” cetus salah seorang diantara mereka diikuti anggukan setuju oleh yang lainnya.

Siswi bermantel coklat itu merogoh sesuatu dari tasnya. Ia tersenyum sekilas sebelum mengeluarkan benda itu.

“Chaang…” gumamnya sambil menunjukkan benda yang diambilnya-Sebuah korek api-.

“Kita hanya perlu mengaitkan 2 batang korek api –yang berdiri berdampingan- pada penutup kotaknya dan dengan tinggi yang dibuat tidak sama, kemudian bakar batang yang tertinggi dan sebutkan pertanyaanmu. Jika api dari batang yang tertinggi berhasil membakar batang terpendek maka jawabannya ‘Ya’ tapi jika tidak maka sebaliknya, Arrachi?” jelas siswi bermantel coklat itu sembari menunjukkan caranya.

“Ne..” jawab ke empat siswi lainnya sambil mengangguk mengerti.

“Nah, sekarang dari siapa kita harus mencobanya?” tanyanya lagi. Ke empat yeoja lainnya saling berpandangan kemudian menatap dia kembali seolah – olah mengisyaratkan bahwa yeoja bermantel coklat itulah yang harus mencobanya terlebih dahulu.

“Aish, arra.. arra..” gumamnya kembali sambil bersiap melakukan hal yang tadi dijelaskannya.

Hening…

Suasana disana 2 kali lipat lebih hening dari sebelumnya. Semua siswi itu berkonsentrasi pada korek yang di pegang teman mereka itu. Dalam satu hentakan kecil pemantik ditangannya sudah menyala dan mulai membakar batang korek api yang tertinggi.

“Apa jodohku berada di sekolah ini?” tanyanya hati – hati. Mereka semua terlihat menahan nafas seakan takut hembusan nafas mereka dapat mengacaukan segalanya.

Perhatian mereka tertuju penuh pada nyala api yang terus menyusuri batang korek api tertinggi.

“Jeongmalyo?” guman yeoja itu tak percaya ketika nyala api tadi berhasil membakar batang korek api terpendek. Sementara ke empat temannya ikut bergumam tak percaya.

“Sulli-ah.. neo.. apa benar ramalan ini bisa dipercaya?” Tanya salah seorang dari keempat yeoja itu pada gadis bermantel coklat tadi.

“Mollaseo..” jawab gadis bermantel coklat yang dipanggil Sulli tadi. Terlihat jelas gadis itu juga masih belum percaya pada ramalan yang baru beberapa saat lalu Ia lakukan.

“Sudahlah.. ayo dilanjutkan!” gumam yeoja bertubuh agak gemuk yang duduk paling dekat dengan Sulli. Sulli menelan salivanya dengan susah payah kemudian kembali mengaitkan 2 batang korek api pada kotak korek api tersebut.

“Apa aku mengenalnya?” gumamnya lagi sambil mengawasi nyala api yang mulai menyusuri batang korek api tertinggi. Debaran jantungnya terasa dua kali lebih cepat ketika nyala api tadi kembali berhasil membakar batang korek api terpendek. Semakin penasaran, Ia kembali melakukan hal yang sama –mengatur letak korek api dan membakarnya-.

“Apa dia orang yang aku ‘harapkan’?”

“Apa dia seniorku?”

“Apa bulan ini kami akan berpacaran?”

Berhasil! Batang korek api terpendek kembali berhasil terbakar bahkan setelah 5 kali berturut – turut dilakukan.

“Yak! Choi Sulli! Mengapa semuanya berhasil? Kau yakin ramalan ini bekerja?” Tanya yeoja berambut pendek sebahu diikuti anggukan setuju dari ketiga yeoja lainnya. Rupanya setelah mengamati ramalan yang sedari tadi Sulli lakukan, mereka bertambah ragu pada kebenaran ramalan tersebut.

“Sudah ku bilang sejak awal… aku sendiri tidak tau kebenarannya! Tapi apa salahnya mencoba? Bukankah kalian sendiri yang kemarin merengek padaku untuk diajarkan cara meramal ini? Jika pada akhirnya kalian hanya berniat protes seperti ini, seharusnya sejak awal kalian tak perlu menggangguku!” balas Sulli terdengar mulai kesal.

“Mian… kami.. hanya ragu” gumam yeoja itu pelan sambil menunduk dan menunjukkan wajah bersalah. Melihat itu Sulli menarik nafas sejenak. Benar, ini bukan sepenuhnya salah teman – temannya itu. Mereka hanya ragu karena memang hasil yang sedari tadi dilihat mereka sangat tidak meyakinkan. Tapi kalau mau dipikir – pikir lagi, semua ramalan itu sama… –sama – sama tidak logis-.

“Baiklah, apa boleh buat… mungkin dengan begini kita bisa memastikan kebenarannya” Gumam Sulli sambil kembali mempersiapkan korek api tersebut.

“Apa dalam 3 hari kedepan aku akan berpacaran dengan Lee Taemin Sunbae?” Tanya Sulli sambil memperhatikan batang korek api ditangannya. Jantungnya serasa berhenti berdetak begitu pertanyaan itu terucap dari mulutnya. Wajahnya bersemu merah di balik kegelapan ruangan itu.

Sementara ke empat temannya yang lain hanya bergumam tidak jelas dengan nada menggoda. Ada yang tertawa kecil mendengar pertanyaan Sulli yang dinilai terlalu ‘Frontal’. (Dengan pertanyaan ini secara tidak langsung Choi Sulli sudah mengakui dirinya menyukai Sunbae mereka yang bernama Lee Taemin).

Tangan Sulli terjatuh lemas ketika nyala api kembali berhasil membakar batang korek api terpendek. Sementara tawa senang teman – temannya semakin terdengar berani(?) ditengah malam ‘mencekam’ ini.

“Geurae! Kita tunggu hasilnya 3 hari ke depan” ujar yeoja berambut pendek sebahu itu sambil tersenyum menggoda ke arah Sulli. Mereka segera bersiap untuk pulang.

Kegiatan mereka terhenti ketika dirasakannya hembusan angin yang cukup kencang menerpa tubuh mereka yang langsung berhasil membangunkan bulu roma kelima siswi itu. Mereka secepatnya berdiri merapat dan saling berpelukan satu sama lain.

Suara langkah kaki dikoridor depan toilet pria tempat mereka berada semakin membuat mereka membatu ditempatnya.

#Brakk

Pintu toilet yang tiba – tiba terjebab terbuka membuat mereka semakin gemetar ketakutan. Samar – samar dilihat mereka bayangan hitam semakin mendekat ke ambang pintu dan…

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!” Teriakan ke 5 siswi itu terdengar menggema disekolah yang begitu sepi dan mencekam ini. Mereka terus berteriak sampai sorot lampu senter milik Pak Kim –satpam sekolah mereka- mengenai wajah masing – masing dan sukses menghentikan pekikkan mereka.

“Kalian, sedang apa disini tengah malam begini?”

********

Sulli mengepel lantai toilet laki – laki yang semalam dipakai mereka pakai untuk ‘meramal’. Wajahnya terlihat begitu kesal setelah tadi pagi Ia –dan teman – temannya- dipermalukan oleh kepala sekolah di apel pagi sekolah mereka. Kini kabar ‘mereka berlima melaksanakan ramalan korek api di toilet pria pada malam hari’ sudah menyebar luas dan membuatnya semakin tidak punya muka untuk menatap hoobaenya di kelas 1 atau Sunbaenya yang berada di kelas 3. Terlebih lagi… Lee Taemin. . .

Belum cukup sampai disitu. Ia bersama ke 4 temannya dihukum oleh wali kelas mereka untuk membersihkan toilet pria -yang semalam mereka pakai- selama seminggu setiap pulang sekolah. Dan kalian tau apa yang paling membuat Sulli naik pitam? Temannya Han Hae Bin –si yeoja berambut pendek sebahu- dengan wajah bersalah andalannya meminta ijin untuk tidak ikut membantu menyelesaikan hukuman mereka karena Ia ada Les piano, Les Matematika, dan segala jenis les yang tiba – tiba bermunculan selama seminggu ini. Sedangkan ke tiga temannya yang lain? Dengan wajah tidak berdosa mereka melangkah pulang meninggalkan Sulli yang hanya bisa menahan kekesalannya.

“Apa kabar Nona ‘gadis korek api’?”

Sulli menutup matanya jengah begitu mendengar suara sapaan dari belakangnya. Tanpa berbalik pun Ia 100% yakin siapa pemilik suara –yang menurutnya sangat menyebalkan- itu.

“Apa sekarang kau sedang berperan sebagai Upik abu?” Lagi… namja pemilik sorot mata tajam namun terkesan sedikit nakal(?) dan dingin itu kembali mencoba menguji kesabaran Sulli. Dengan senyum kemenangan yang terpampang jelas diwajahnya Ia bersandar disalah satu sisi tembok dalam toilet itu sambil terus memperhatikan punggung Sulli.

Sulli berhasil mengendalikan emosinya. Ia memutuskan untuk tidak menanggapi ejekan ‘namja gila’ yang bernama Luhan ini. Bahkan Ia dengan sengaja memasang Headset ditelinganya sambil memutar musik dengan volume paling kencang kemudian kembali melanjutkan tugasnya.

Beberapa saat kemudian Sulli memekik kecil ketika dirasakannya 2 telapak tangan mencengkram masing – masing pundaknya. Tubuhnya terdorong dan tersudut di dinding dekat pintu. Sepasang headsetnya terlepas begitu saja. Ia menatap wajah namja yang menyudutkannya ditembok ini. Luhan… masih dengan senyum bangganya -yang kali ini terlihat sedikit menyeramkan dimatanya- tengah balas menatap manik mata milik Sulli.

“Yak!! Neo Micheosseo (kau sudah gila)?” Protes Sulli. Tubuhnya sedikit bergetar ketakutan namun berhasil Ia redam. Berhadapan dengan orang semacam Luhan butuh kesabaran dan keberanian yang berpuluh kali lipat.

“Katakan padaku… dalam ramalanmu, apa itu masih mengenaiku?” tanyanya terdengar begitu percaya diri.

“Cih, kau terlalu percaya diri Sunbae! Kau pikir lelaki di dunia ini hanya dirimu?” Balas Sulli berani.

Senyuman diwajah Luhan sedikit memudar.

“Siapa?” tanyanya pelan namun dengan nada suara yang terdengar begitu tajam.

“Apa kau perlu tau?”

“KU TANYA SIAPA DIA?!” Teriak Luhan tiba – tiba. Ekspresi wajah Sulli terlihat seperti sudah hampir menangis namun terus berusaha Ia tahan.

“KAU TIDAK PERLU TAU DAN INI SAMA SEKALI TIDAK ADA URUSANNYA DENGANMU!” Teriak Sulli sekuat tenaga sambil menginjak keras kaki kanan Luhan dan mendorong tubuh namja itu menjauh. Ia segera berlari menjauh ketika berhasil lepas dari himpitan tubuh Luhan sedari tadi. Cairan bening sudah berhasil lolos jatuh dari matanya. Ia menangis.. dalam hati Ia terus merutuki kebodohannya selama ini. Sebuah surat cinta yang Ia tulis pada musim panas tahun lalu menjadi malapetaka tersendiri baginya. Luhan… salah seorang senior yang dulu Ia sukai sekarang berubah menjadi yang paling Ia benci.

Sekelebat bayangan masa lalu terus membuatnya berlari menjauh semakin cepat. Bayangan saat Ia menyerahkan surat cintanya pada Luhan dan begitu terkejutnya Ia ketika melihat surat cintanya sudah terpajang di mading keesokan harinya.

Belum cukup sampai disitu. Sejak saat itu hidupnya terus ‘dihantui’ Luhan. Luhan menempel padanya seperti parasit yang terus mengganggu hidupnya. Membuat rasa sukanya perlahan – lahan berubah menjadi benci dan semakin berlipat ganda ketika hal yang baru beberapa menit lalu dilakukan Luhan terhadapnya. Sungguh, kali ini Luhan sudah sangat keterlaluan!

*********

Sudah 2 hari berlalu sejak kejadian di toilet itu. Selama itu pula Sulli semakin berhati – hati dan menjaga jarak dengan Luhan.

Suasana kelas terdengar begitu riuh pertanda bahwa ada jam yang kosong hari itu. Hal itu berarti berkah(?) yang luar biasa bagi setiap murid di kelas itu…

“Sulli~ah.. eotthae? Apa sudah ada perkembangan mengenai kau dan Taemin Sunbae?” Tanya yeoja yang duduk dibangku tepat didepan Sulli -Han Hae Bin-.

Mendengar itu Sulli bertopang dagu lemas.

“Jangankan ada ‘perkembangan’, Ia melirik padaku saja tidak pernah!” Jelas yeoja itu lemas.

“Geuraeyo? Aish.. sudah ku duga hal ini akan terjadi. Sia – sia sudah usaha kita malam itu” mendengar itu Suli tertawa sinis(?).

“Setidaknya yang ‘menelan’ semua ‘getahnya’ hanya aku saja” Sindir Sulli sedangkan yeoja teman baiknya itu hanya tersenyum – senyum tidak jelas.

“Padahal jika kalian jadian hari ini tepat sekali saatnya”

“Mwoseumshoria (apa maksudmu)?“

“Kau ingat ini tanggal berapa?”

“mm.. 14 Maret” jawab Sulli enteng sama sekali belum mengerti ucapan temannya itu. Sedangkan yeoja dihadapan Sulli hanya bisa melenguh kesal.

“Walau kau tidak bilang, aku tau tanggal 14 Februari kemarin kau membuatkan Taemin Sunbae coklat” Sulli membelalak sempurna sambil menatap Haebin dengan tatapan shock (?)

“Tapi tak jadi ku berikan! Aku menaruhnya di lokerku dan coklat itu menghilang dengan sendirinya disana.. entahlah, mungkin sudah dimakan tikus yang sedang kelaparan” Jelasnya meyakinkan diri sendiri dengan nada terdengar masih sepenuhnya panik.

“Kau salah… justru coklat itu sudah sampai di tangan ‘pemiliknya’!” ujar Hae bin dengan nada setenang mungkin.

“Ap- Apa maksudmu?” Tanya Sulli semakin gugup.

“Kau lupa aku memegang kunci cadangan lokermu –berkat kebiasaanmu yang selalu dengan ceroboh lupa mengunci kembali lokermu-“

“Tapi bukankah kau tidak ada hak untuk memberikan benda itu pada Taemin Sunbae!” protes Sulli dengan nada kesal.

“Kau lupa dengan Surat yang kau rekatkan di kotak pembungkus coklat itu? Tertulis nama LEE TAEMIN dengan font yang terlalu besar dan sanggup dibaca walau dengan jarak 1 meter. Dan kau bisa bayangkan sendiri apa yang terjadi selanjutnya..” Kembali Hae Bin menjelaskan dengan nada setenang mungkin. Sedangkan Sulli semakin merosot(?) ditempatnya. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya dengan lemas.

“Lalu Taemin Sunbae tidak sengaja lewat dari tempatmu dan melihat itu semua. Dia mengambilnya karena tertulis namanya disana…” Sambung sulli lemah dengan tatapan kosong(?)

“Bravo!” balas Hae Bin.

“Surat itu… astaga… bagaimana ini?” gumam Sulli cemas sambil mengingat isi surat yang dia tulis sebulan yag lalu. Dan yang paling membuatnya cemas adalah pernyataannya pada akhir surat agar Taemin membalas surat dan coklatnya itu di…

“Ini tanggal berapa?” Tanya Sulli kembali dengan nada seperti orang kesetanan(?)

“14 Maret!” Tegas Hae Bin.

“Ja- jadi h- ha- hari ini?”

“White Day! Aku sudah membaca suratmu waktu itu dan aku tau kau meminta Taemin Sunbae untuk menemuimu saat White day, Hari ini!”

Sekali lagi Sulli membatu di tempatnya… beberapa saat kemudian seperti mendapat ide dengan cepat Ia mengemasi barang – barangnya.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” Tanya Hae Bin bingung.

“Ku rasa masih ada waktu untuk pergi dari sini!” jelas Sulli panik sambil terus berusaha memasukan buku – bukunya ke dalam tas.

“Kau ingin menghindar? Aish jinjja~ ya~ kau tidak mungkin menghindar selamanya!”

“Aku tidak ped-“

“Sulli~ya!!” teriakan seorang yeoja menginterupsi kegiatan Sulli dan Hae Bin. Yeoja bertubuh agak gemuk –yang barusan berteriak- itu tampak begitu panik sambil berlari menghampiri Sulli.

“Wae geurae (apa yang terjadi)?” Tanya Sulli semakin panik.

“I- Igeo~ Lu- Luhan Sunbae! Dia ke sini!”

“MWO?”

“Sembunyi! Cepat Sembunyi!!” pekik Hae Bin ikut panik. Mereka mendorong Sulli hingga tersudut di samping loker kelas sambil menutup tubuh yeoja itu menggunakan mantel mereka. Sulli berjongkok disana sambil dihalangi oleh kedua temannya.

“Choi Sulli! Dimana dia?” Sulli menahan nafas begitu mendengar suara namja itu terdengar tak jauh darinya.

“Mo- Mollaseo Sunbae” jawab Hae Bin sambil tersenyum Kikuk.

“Choi Sulli! Nawa!” teriak Luhan sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kelas.

Sulli menggigit bibir bawahnya sendiri. Dalam hati ia terus mengucap sumpah serapah agar namja yang baru saja meneriakkan namanya itu segera menghilang dari dunia ini.

Luhan tersenyum licik begitu melihat tumpukkan mantel dibelakang 2 murid perempuan tak jauh darinya itu.

“Baiklah.. ku rasa dia tidak ada disini. Aku pergi!” teriak Luhan lagi sambil memasang tatapan ‘mengancam’ pada 2 teman Sulli agar tidak memberitahu Sulli bahwa tempat persembunyian yeoja itu sudah diketahui olehnya. Dengan cepat namja itu berjalan ke arah pintu kelas itu dan bersembunyi dibaliknya.. sebelumnya namja itu kembali memberi isyarat agar kedua teman sulli tidak banyak bicara.

Mendengar perkataan Luhan beberapa saat lalu, Sulli perlahan – lahan membuka mantel yang menutupi tubuhnya.. Ia membuang nafas lega begitu didapatinya suasana kelas yang kosong tanpa Luhan.. dengan gerakan cepat yeoja itu berlari ke bangkunya dan kembali mengemasi barang – barangnya.

“Aku pergi dulu! Gomawo Hae bin~ah, kau sudah sangat membantuku hari ini!” tegur Sulli sambil berlari kecil menuju pintu.. ia tidak menyadari raut wajah tegang yang terus – menerus terpeta diwajah sahabat baiknya itu.

#blam

Pintu itu terdorong tertutup dengan sendirinya tepat saat Sulli tiba didepannya. Sulli kembali membatu ketika melihat sosok yang muncul dari balik pintu itu… Luhan…

“N- Neo?” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Sulli. Ia mengambil beberapa langkah mundur ketika namja itu semakin mendekat kearahnya.

“M- ma- mau apa k- kau?” Tanya Sulli terbata – bata.

Sulli kembali terpana ketika sebungkus(?) mawar merah berada tepat di depannya. Ia menatap tidak percaya namja yang beberapa detik lalu menyodorkan benda itu kehadapannya.

“Anggaplah itu sebagai permintaan maafku” jawab Luhan enteng..

“Ambilah!” tambah namja itu lagi karena sulli masih belum merespon apapun.

Akhirnya dengan enggan Sulli meraih bunga itu dan menerimanya.

Luhan terlihat seperti ingin mengucapkan sesuatu lagi namun gerakan namja itu terhenti ketika pintu kelas disamping mereka kembali terbuka. Sulli kembali terpaku ditempatnya begitu melihat siapa yang berada di ambang pintu.

“Apa kau yang bernama Choi Sulli?” Tanya namja diambang pintu yang tak lain adalah Taemin..

“N- ne..” jawab Sulli kembali terbata – bata.

Namja itu mendekat kemudian memperhatikan wajah Sulli dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Jadi pacarku..” Ujar Taemin begitu saja.

Sulli memandang namja dihadapannya ini dengan kening berkerut.. ia yakin ia sedang bermimpi saat ini..

Tiba – tiba Ia merasakan sesuatu menarik tengkuk lehernya.. semuanya berlangsung begitu cepat hingga sebuah bibir mendarat dengan mulus di bibirnya…

~Chu~

Mata Sulli membelalak sempurna begitu dirasakannya sebuah benda asing menempel di bibirnya. Bunga yang berada digenggamannya terlepas begitu saja hingga jatuh membentur lantai..

Ia tidak percaya.. Seorang Lee Taemin.. Menciumnya….

= To Be Continued… =

19 thoughts on “Ramalan Korek Api #1

  1. Lanjutaaaan nya ada gaaak ini chinguuuu . . ?? Kok luhan gitu dih . . Tpi kok Ssul diparasitin ama orang yaang di suka malah benci . . ?? Kok surat nya Ssul buat Lulu ditempel dimading ??
    #RaederBanyakTanya

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s