Psycho Girl

poster pshyco girl

Psycho Girl

Author : Charismagirl

Cast : Oh Sehun & Psycho Girl

Rating : NC-17

Length : One-Shoot

Genre : Thriller

Warn: NCs, Typos, Pervert, Killer. No plagiarism! Kalian tahu umur kan? Bisa ngitung umur kalian kan? #plak sadar sendiri aja ya, yang 17 ke bawah saya sarankan untuk mundur. Saya gak tanggung jawab soalnya. Hahaha.. tapi kalo mau baca sih hak kalian juga -_-*aneh. Yang udah baca mesti-kudu-harus komen yak! Ga pake nawar😮 Happy Reading~

(has edited, aku berpikir untuk menghapus ff mengerikan ini, tapi dengan pertimbangan yang cukup pada akhirnya aku edit saja dan menghapus bagian v*lgar-nya)

¤¤¤

Sehun tidak tahu sejak kapan ia berada di sebuah ruangan gelap. Hanya memanfaatkan sinar matahari yang menerobos lewat ventelasi  udara, ia memandangi sekitarnya. Jendela tertutup rapat. Namun bisa dirasakannya udara dari AC yang sedang menyala membuatnya merasa sejuk. Setidaknya ia tidak akan pengap dalam keadaan gelap seperti ini.

Barang mewah tersusun rapi pada tempatnya. Ada lemari besar dan sebuah kasur berukuran besar pula membuat Sehun berkesimpulan bahwa ia bukan sedang berada di gudang, melainkan sebuah kamar tidur. Dan ia yakin pemilik ruangan ini pastilah orang kaya.

Sehun bukan sedang meneliti ruangan gelap tapi ia sedang dilanda sebuah bencana. Bencana besar! Tangannya terikat kuat pada tiang besi yang tingginya lebih dari tinggi badannya sendiri. Begitupula kakinya yang tidak bisa digerakkan sama sekali. Kakinya juga terikat tetapi dalam posisi yang sedikit terbuka selebar bahunya sendiri.

Lelah. Ia tidak tahu sejak kapan ia tidur dalam posisi berdiri. Ia tidak tahu kenapa ia sampai diikat bersama tiang besi sialan ini dan malangnya ia pun tidak tahu siapa pelaku dari semua ini!

Sehun menarik tangannya dengan kasar. Beharap kedua tangannya itu bisa terlepas dari tali atau mungkin berharap tali yang mengikatnya putus saat itu juga. Sehun ingin berteriak minta tolong, tapi sayang tidak bisa. Mulutnya ditutup rapat dengan sapu tangan hitam. Wangi parfum yang menguar dari sapu tangan itu membuat Sehun yakin bahwa pemiliknya adalah wanita. Namun, ia tidak bisa berasumsi bahwa pelaku dari penculikan atas dirinya adalah wanita. Karena seorang wanita tidak mungkin kuat mengangkat tubuh Sehun sendirian. Bagaimanapun wanita tidak akan bisa.

Bunyi kenop pintu yang diputar terdengar oleh telinganya. Sehun bergeming. Memokuskan pandangannya ke arah pintu. Sesaat tubuhnya menegang. Seseorang masuk dengan pakaian berwarna hitam. Rok setengah paha dan blus yang  terbuat dari kulit. Tampak ketat menyatu dengan tubuh orang itu. Meskipun hanya melihat siluet tubuhnya, namun lekuk tubuhnya yang indah itu membuat Sehun yakin bahwa orang itu benar-benar wanita. What the hell!

Wanita itu mendekat, mendekat dan semakin dekat membuat tubuh Sehun menegang. Rahangnya mengeras. Marah. Atas dasar apa wanita ini mengikatnya di tiang, membuatnya merasa seperti hewan buruan yang siap dimasak dan disantap saja.

“Hmmppp!!” teriakan Sehun teredam namun dapat terdengar oleh wanita itu. Membuat wanita itu tahu bahwa Sehun sudah sadar dari tidurnya. Lebih tepatnya tidur di paksa dengan gas bius.

Wanita itu menggunakan masker, membuat Sehun benar-benar tidak mengenalinya. Wanita itu semakin mendekat sampai tepat berada di depan wajah Sehun. Matanya, Sehun bisa melihat matanya yang coklat. Bening dan… dia akui bahwa mata itu sangat indah. Sejenak berpikir, merasa bahwa ia pernah melihat mata itu sebelumnya tapi sayangnya ia tidak tahu kapan dan dimana.

Rambut wanita itu hitam, lurus dengan panjang sampai bahu.

Wanita itu mengangkat tangannya, menyentuh wajah Sehun. Pelan. Sangat pelan. Membuat Sehun memejamkan matanya. Dapat dirasakan Sehun bahwa tangan wanita itu sangatlah lembut. Wanita itu menyentuh matanya, hidungnya, kemudian terhenti di bibirnya yang tertutup oleh sapu tangan.

Sehun memalingkan wajahnya ke kanan, menghindari sentuhan tangan dari wanita jahat yang telah menculiknya. Sudah hampir lima menit wanita itu hanya menatapnya, tanpa bersuara apapun.

Suara langkah kaki wanita itu terdengar saat ia melangkah menjauhi Sehun, entah kemana. Sepertinya ia bergerak menuju laci di samping kasurnya. Terdengar suara ribut saat wanita itu mencari sebuah benda. Kemudian kembali menghampiri Sehun lagi.

Kilatan benda yang ada di tangan wanita itu terlihat saat tanpa sengaja beradu dengan cahaya yang masuk, meskipun minim sekali. Gunting?!! Apa yang akan dilakukannya padaku?? Batin Sehun–takut.

Wanita itu mengarahkan ujung gunting ke pipi Sehun, menyusuri wajah itu dengan benda tajam yang sungguh berbahaya.

“Kau tahu, wajah ini begitu mempesona, memabukkan, dan membuatku gila. Damn! You’re a handsome guy  ever in my life.”

Wanita itu bicara. Suaranya agak serak. Dari nada bicaranya tersirat bahwa wanita itu seperti sedang terluka hatinya. Benar-benar dalam keadaan menyedihkan. Dan patut dikasihani. Lagi-lagi Sehun seperti mengenali wanita ini dari suaranya.

Benda tajam itu turun ke leher Sehun. Menggoda lagi. Mengerjai. Mempermainkan. Sama sekali tidak melukainya namun sukses membuatnya takut. Wanita gila ini… Sehun yakin ia adalah seorang pembunuh. Wanita gila!

Wanita itu menurunkan guntingnya, lantas menjingkit. Setelah sebelumnya membuka maskernya, wanita itu mengecup leher putih Sehun, menghisapnya kuat, meninggalkan tanda merah disana. Sehun berontak. Ia menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan dengan cepat. Merasa diganggu aktivitasnya. Wanita itu mencengkram dagu Sehun dengan kuat, menyuruhnya tetap diam.

Wanita itu terus menghisap leher Sehun, dengan gerakan memutar dan menggoda. Sehun memejamkan matanya erat, menahan suara desahan dari mulunya yang bisa saja membuat wanita itu tersenyum puas. Setelah merasa cukup, akhirnya wanita itu berhenti.

“Harusnya kau senang bahwa aku tidak menyakiti lehermu dengan gunting ini,” ucap wanita itu pelan kentara sekali bahwa ia merajuk.

Sehun tidak bicara. Ia hanya menatap wanita itu dengan pandangan benci. Wanita itu sudah  berani menyentuh tubuhnya. Sialan!

“Aku bisa memilikimu kapanpun aku inginkan. Tapi sayang, hati ini sama sekali bukan untukku.”

Wanita itu kembali mengangkat guntingnya, mengarahkannya tepat ke dada Sehun bagian kiri. Tersirat kekecewaan yang mendalam dari wajah wanita itu. Wanita itu menekan guntingnya lebih dalam, membuat jantung Sehun tiba-tiba berdetak lebih cepat.

“Tapi izinkan aku memilikimu, kali ini saja…”

Wanita itu menjatuhkan guntingnya ke lantai membuat bunyi dentingan yang sangat keras akibat dari gunting dan lantai yang beradu. Wanita itu bergerak ke belakang Sehun, melepaskan ikatan yang menutup mulut Sehun, membuat Sehun senantiasa menghirup udara sebebas-bebasnya. Sebelum menjerit marah.

“SIAPA KAU?!”

“Stt! Jangan menjerit seperti itu sayang, aku tidak suka dibentak.”

“Lepaskan aku! Atau kau akan ku laporkan pada polisi,” ancam Sehun.

Wanita itu tertawa pelan. Pria itu memang tampan, tapi sayang dia bodoh. Bagaimana mungkin ia bisa melapor polisi sementara posisinya saat ini benar-benar terancam.

“Cepat katakan siapa kau? Wanita gila!”

“Kau tidak perlu tahu siapa aku, kau hanya perlu tahu bahwa aku mencintaimu dan menginginkanmu. Perasaan ingin memiliki ini ada sejak pertama melihatmu, tapi kau sama sekali tidak memperhatikanku dan tidak menganggap bahwa aku ada. Kau terlalu asik dengan duniamu dan wanita sekelilingmu tapi sayang sekali tidak ada aku disana.”

Wanita itu mendekatkan wajahnya ke wajah Sehun, membuat pria itu bisa merasakan deru nafas wanita di depannya menampar pipinya dengan lembut. Sehun tidak dapat melihat begitu jelas sehingga tanpa ia tahu bibir wanita itu sudah menempel di bibirnya. Menautkannya dengan agresif, memasukkan lidahnya dan mengajak lidah Sehun untuk beradu. Sesaat terpana dengan rasa cherry mulut wanita itu sebelum kembali berontak, minta dilepaskan.

“Sekarang kau milikku, sayang. Tidak ada orang lain yang boleh menyentuhmu selain aku.”

“Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan tapi aku mohon lepaskan aku.”

Sehun berhenti berontak. Jika wanita itu tidak suka cara kekerasan maka Sehun akan memintanya dengan lembut. Memohon. Kalau perlu berlutut agar ia bisa terbebas dan selamat dari sini. Karena ia masih ingin melanjutkan hidupnya yang berharga.

“Apapun yang aku inginkan? Ch! Tidak mungkin Oh Sehun… Kau sudah menghancurkan hatiku. Jadi kalaupun tiba-tiba kau memberikan hatimu padaku, aku sudah tidak memiliki pasangannya. Aku benar-benar hampa.”

“Apa maksudmu dengan menghancurkan hatimu? Aku bahkan tidak mengenalmu sama sekali nona!”

Wanita itu mengabaikan perkataan Sehun. Ia menghampiri Sehun. Tangannya memegang ikat pinggang pria itu, perlahan melepaskannya, menariknya keluar dari celana Sehun lalu menjatuhkannya ke lantai.

“Aku akan melepaskanmu, tapi setelah aku melakukan sesuatu padamu. Aku ingin kita menyatu, sayang.”

Sehun bergidik ngeri. Nada bicara wanita itu semakin terdengar menakutkan, membuat Sehun yakin bahwa ia akan dibunuh sebentar lagi.

“A-apa yang kau…”

Ucapan Sehun terhenti saat wanita itu membuka kancing celananya, lalu perlahan menurunkan resleting, menariknya dengan satu tarikan membuatnya menggantung di lutut pria itu, menyisakan celana pendek ketat berwarna hitam.

Wanita itu mengelus bagian paling vital dan paling sensitif milik pria itu dari luar, membuat Sehun membelalakkan matanya.

“Aku mohon, jangan lakukan–”

“Bukannya para pria menyukainya?” potong gadis itu denga tangan yang masih betah bermain-main di permukaan salah satu bagian tubuh pria itu yang masih berbalut celana pendek.

“Berhenti…hhh!”

Merintih. Hingga tidak sanggup untuk bertahan, lantas mendesah tanpa dia inginkan.

“Baiklah kalau kau memang tidak menginginkannya,” ucap wanita itu. Kemudian mengembalikan celana Sehun seperti semula. Wanita itu kembali mengambil gunting di lantai, dan mengarahkan pada wajah Sehun.

“Aku tidak akan melukai bagian ini,” ucapnya sembari menurunkan gunting itu kebagian leher. Menekannya kuat hingga membuat bagian itu tampak terbuka. Mengalirkan cairan merah kental dari sana. Mengalir di kaos hitamnya.

Pria itu meringis. Sakit yang luar biasa mulai menerjang tubuhnya.

“Tolong… hentikan.”

Tidak ada yang bisa ia lakukan selain memohon. Berharap masih tersisa kebaikan dari dalam hati wanita itu. Tapi sepertinya tidak ada.

Wanita itu menjatuhkan guntingnya lagi, lalu merogoh sakunya. Senjata tajam yang lain. Pisau lipat. Mungkin ia tidak merasa puas dengan luka yang diukir oleh gunting itu, makanya ia menggunakan pisau.

Wanita itu mengarahkan pisaunya di dada sebelah kiri pria itu. Lalu menggoresnya sebentar sebelum menusuk dalam, sesaat tersangkut mengenai rusuk, hingga menekannya lagi sampai seluruh bagian pisau itu tertanam. Hanya menyisakan gagangnya saja.

“Ackk!!” jerit pria itu saat benda tajam yang telah menembus dagingnya, menyentuh bagian terpenting, menentukan hidup dan matinya.

Wanita itu semakin bersemangat. Ia menarik paksa pisau itu lalu menancapkannya lagi berkali-kali membuat kemeja sekaligus tubuh pria itu robek. Darah menetes dari atas hingga ke lantai. Bau anyir darah mulai tercium. Sehun merasa kepalanya semakin berat dan ingin sekali matanya terpejam, namun ia berusaha bertahan. Mengangkat kepalanya menatap wanita itu. Sungguh ia tidak mengenalinya.

Wanita itu terengah. Ia mengatur nafasnya lalu berjalan menuju jendela. Membukanya lalu menghirup udara bebas. Rupanya ia menahan rasa mualnya saat bagian dalam tubuh pria itu terlihat. Sedikit banyak ia pun merasa ngeri.

Wanita itu kembali menatap Sehun, wajah tampan yang terkena percikan darah itu ia bersihkan dengan tisu. Ia tidak ingin wajah itu ternodai. Menyadari tubuh Sehun mulai melemah karena kehabisan darah, wanita itu melepas semua ikatan di tubuh pria itu. Membuat tubuhnya seketika jatuh ke lantai, berbaur bersama darah dari tubuhnya.

Wanita itu melepaskan wig yang ia kenakan, sehingga tampaklah rambutnya yang coklat dan agak ikal. Nampak bersinar terkena pantulan cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar itu.

Sehun mengenalinya. Wanita cantik itu… Dia… cinta pertama yang tidak sengaja Sehun campakkan karena sebuah kesalahpahaman yang sampai saat ini belum juga lurus.

“Aku mencintaimu, Sehun. Sampai kapanpun.”

Entah sejak kapan sebuah pistol berada ditangan gadis itu. Menembakkannya ke tubuh Sehun beberapa kali sampai nyawa pria itu benar-benar sudah tidak ada.

Ia tersenyum miring memandang hasil karyanya. Mendekati sosok itu lalu duduk disampingnya. Lantas mengarahkan pistol itu ke kepalanya sendiri. Memejamkan mata dengan senyum luka yang takkan pernah terhapus.

DOR!

Suara yang berasal dari pelatuk pistol yang ditembakkan ke kepalanya menghasilkan bunyi yang menggema ke seluruh ruangan.

Gadis itu merasakan sakit yang luar biasa bersarang di kepalanya, kemudian memejamkan mata hingga ikut bersama pria itu. Meninggalkan dunia yang kejam dan penuh tipuan ini.

END

HYAAA!! APA YANG SAYA LAKUKAN PADA MAGNAE KITA?!! #PLAKK

COMMENT!

Ps : FF ini sebelumnya pernah saya publish di blog pribadi dengan cast suami saya sendiri (read: Minho) huahaa.. dan disana saya protect. Karena di blog ini ga ada proteksi maka beruntunglah kalian *ketawa epil* Saya engga tau kenapa saya mendadak psyco *benturin kepala ke dinding*. Dan terimakasih sudah membaca. Saya engga tanggung jawab ya sama efek yang ada setelah kalian baca ini. hihii

85 thoughts on “Psycho Girl

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s