When Friendship Not Be Friendship Anymore [Ficlet]

pegangan-tangan

Author : Charismagirl

Cast : Just imagine by yourself, sorry🙂

Genre : Romance, Sad, Frienship

Lenght : Ficlet

Rating : Teen

***

Ketika di dunia ini tidak ada persahabatan abadi antara pria dan wanita.

Ketika persahabatan bukan persahabatan lagi…

Aku merasa kita sangat dekat. Satu sama lain saling berbagi, saling terbuka. Aku tahu semua kelemahan dan kelebihanmu. Aku sudah sangat terbiasa dengan kehadiranmu. Aku bahkan tahu apa saja kesukaanmu.

Kau memang terkadang menyebalkan dengan sikapmu yang suka mengerjaiku. Kau anggap aku ini hiburan yang bisa membuatmu senang. Tak apa! Aku suka.

Ketika kita selalu bersama. Mengisi hari-hari kita dengan kesenangan yang telah kita rencanakan sebelumnya. Menjadikannya sebagai agenda penting dengan gadis bawah merah di buku agenda keseharian. Aku benar-benar senang.

Sampai suatu ketika kita beranjak dewasa. Aku mulai merasakan respon berbeda ketika di dekatmu. Aku merasa degupan jantung yang melebihi batas normal. Udara tiba-tiba memanas dan keringat dingin yang muncul seenaknya.

Aku sadar bahwa aku mulai menatapmu sebagai seorang pria. Aku juga sadar bahwa ternyata kau itu tampan. Tubuhmu tumbuh lebih cepat dariku. Hingga ejekan ku dulu mengatakan bahwa kau pendek sudah tidak berguna lagi.

Tanpa sadar aku tersenyum saat melihatmu tersenyum.  Aku juga ikut tertawa saat kau tertawa. Dan setiap hari dalam pikiranku hanya ada dirimu saja. Sampai-sampai aku sendiri sakit kepala.

Dan ketika kau merangkul bahuku. Tubuhku mendadak kaku. Aku tahu kau tidak bermaksud apa-apa. Aku tahu kau hanya ingin melakukannya saja seperti kebiasaan kita di masa kecil. Tapi tahu kah kau bahwa itu semua rasanya sudah berbeda?

Sampai akhirnya aku menyerah dan membiarkanku merasakan yang namanya jatuh cinta, PADAMU!

Aku pikir kau mulai bingung dengan sikapku yang lebih banyak diam sekarang. Aku bahkan tidak segan-segan untuk jaga jarak denganmu. Dan aku memutuskan untuk mengurangi intensitas pertemuan kita. Coba tebak untuk apa? Untuk menghindarimu!

Kau tahu aku takut kehilanganmu saat kau tahu bahwa aku mencintaimu. Aku takut bahwa kau ternyata tidak punya rasa cinta yang sama. Aku takut ketika aku tahu bahwa ada gadis lain yang lebih dulu merebut hatimu.

Dan hey! Ketakutanku terjadi.

Saat itu aku mengajakmu bertemu, hanya untuk mengajakmu bermain sebentar. Entah itu bermain game PS, bersepeda atau mungkin lomba lari? Dan kau jawab bahwa kau tidak bisa.

Baik, itu adalah pertama kalinya kau menolak ajakanku.

Lalu aku berpikiran positif. Setidaknya ada beribu-ribu alasan di dunia ini yang pantas untukmu saat kau menolak ajakanku itu. Mungkin ada tugas dari sekolah? Ada kesibukan lain? Atau mungkin kau sedang lelah? Semuanya bisa dijadikan alasan.

Tapi saat itu aku memikirkanmu sambil berdiri di depan jendela kamarku. Menatap ke seberang jalan dimana rumahmu berada. Dan aku terkejut saat kau keluar dari rumahmu bersama seorang gadis. Dia cantik. Ya, aku tahu seleramu tinggi dan kau tidak perlu takut untuk sulit mendapatkannya karena kau sudah sangat tampan untuk ukuran laki-laki seumuranmu.

Kalian berpegangan tangan. Saling bercanda sampai kau bisa tertawa lepas. Tawa yang sering kau tunjukkan hanya padaku. Entah mengapa hati ini terasa remuk saat kau juga memberikan tawamu itu pada orang lain.

Aku terkejut! Kau melihat ke atas dan menyadari bahwa aku sedang menatapmu. Kau tersenyum padaku membuatku seketika terpesona. Lalu kau melambaikan tanganmu. Aku baru saja akan melambaikan tanganku juga saat gadis di sampingmu mengguncang bahumu pelan. Ku pikir dia penasaran dengan apa yang kau lihat. Lalu kau menunjuk ku dengan jarimu membuat gadis itu melihat ke arahku. Aku mengurungkan niat untuk balik melambai.

Aku hanya tersenyum getir dari kamarku. Lalu aku bisa membaca kalimat yang keluar dari mulutmu saat kau mengatakan, “Dia sahabatku.”

Seketika pertahananku runtuh. Aku menutup gorden kamar dan dengan cepat menuju kasurku. Aku menangis. Aku bukan lagi gadis kuat yang bisa melawanmu dengan semua ejekan yang aku punya. Aku bukan lagi gadis yang hanya akan menangis ketika kau mengambil makananku. Semuanya berbeda!

Aku lebih mengandalkan perasaanku sekarang, yang tiba-tiba seperti ditusuk oleh ribuan jarum berkarat saat aku tahu kau sudah mempunyai orang lain yang mengisi hatimu dan aku sadar kalau itu bukan aku.

Hari berikutnya. Kau mengajakku bertemu. Kau bilang mengganti waktu itu saat kau sibuk–yang aku tahu bersama pacar barumu.

Aku duduk di depan rumahku sambil menunggumu keluar. Aku mengetukkan kakiku jika bosan. Kebiasaan kecil yang ku bawa sampai sekarang.

Lalu kau keluar dari rumahmu, membuatku refleks tersenyum saat kau mengangkat kedua ujung bibirmu itu yang ku artikan sebagai senyum termanis yang pernah ku lihat.

Di mulai dengan menjitak kepalaku. Aku tahu itu sapaan terburuk yang pernah ada di dunia. Tapi aku menyukainya jika yang menyentuk kepalaku itu adalah kau!

Lalu kau duduk di sampingku. Kau menghadapku cukup lama sampai aku penasaran karena kau tidak kunjung bicara. Memangnya kau ingin bicara apa? Tidak biasanya kau berpikir terlebih dahulu.

Dan akhirnya kau bicara. Kau tahu kata yang pertama keluar dari mulutnya? “Aku rasa aku benar-benar mencintainya.”

Lalu kau dengan bahagianya memelukku sebagai refleksi bahwa kau sangat bahagia saat mengatakannya. Kemudian aku menghancurkan momen itu dan menjitak kepalamu. Ku bilang kau memelukku terlalu erat sehingga aku merasa sesak. Kau hanya merespon dengan tawa konyolmu itu.

Setelah itu kau bertanya padaku. Kau bilang, “Adakah laki-laki yang kau sukai?” Aku jawab tentu saja ada! Saat kau merengek minta jelaskan lebih jauh siapa laki-laki itu, aku menjawab dengan candaanku saja. Ku bilang rahasia! Enak saja kau ingin mengetahuinya.

Kau memasang tampang kesal. Lalu mendiamkanku dengan wajahmu yang marah itu. Aku tahu kau marah karena aku melanggar salah satu janji kita. Janji untuk tidak merahasiakan sesuatu apapun.

Tapi bagaimana mungkin aku menceritakannya sedangkan laki-laki itu sedang ada dihadapanku–Kau! Yang kini aku sadari bahwa kau sudah mencintai orang lain. Dan sekali lagi, itu bukan aku.

Aku mendadak merasa sakit lagi. Hingga aku meminta agar kau pulang karena aku punya tugas yang harus ku kerjakan. Baiklah, itu alasan saja agar aku bisa sendirian dan menangis sepuasnya.

Lagi. Aku menangisi kebodohanku. Aku menyesali perasaan cintaku padamu. Hatiku sudah benar-benar rapuh dan rasanya ingin mati saja. Kenapa harus aku yang mengalami semua ini? Kenapa hanya aku yang harus tersakti seperti ini?

Jika saja aku lebih dulu mengatakan bahwa aku mencintaimu apakah keadaannya akan berbeda? Apa kau akan melihatku sebagai wanita? Bukan sahabatmu?

Hari terus berlanjut, hari demi hari berubah, sementara aku sama sekali tidak bisa merubah perasaanku. Aku seperti diberi kutukan hanya untuk mencintaimu saja. Pernah aku melihat laki-laki lain untuk aku nilai. Untuk aku berikan hatiku. Tapi mana? Tidak bisa! Ku pikir hatiku sudah sepenuhnya ada padamu. Maksudku ada di depan pintu hatimu yang sama sekali tidak pernah kau perbolehkan masuk.

Lagi-lagi aku menjalankan rencanaku untuk menjauhimu. Sampai-sampai kau bertanya apakah kau punya salah padaku. Jawabannya, ya! Kau salah karena sudah mengambil hatiku dan menempatkannya hanya di luar hatimu. Kau salah karena menganggapku hanya sebagai sahabatmu. Kau salah!!

Tapi, tentu saja aku tidak mengatakan semua itu. Aku bilang aku hanya sibuk. Dan kita tidak bisa sering-sering bersama lagi. Aku tahu kau kecewa. Dan wajah kecewamu itu sungguh membuatku ikut bersedih. Tapi mau bagaimana lagi?

Memangnya kau pikir pacarmu tidak cemburu kalau kau sering bersamaku? Kau pikir sikap pengertiannya itu akan bertahan lama? Tidak mungkin! Sedikit banyak dia pasti cemburu lalu akhirnya marah padamu dan pasti membuatmu sakit hati. Aku tidak ingin hal itu terjadi padamu jadi terima saja rencanaku untuk menjauhimu.

Bertahun-tahun berlalu. Aku tetap menyimpan perasaan itu. sampai-sampai aku bingung mengapa perasaan ini tidak bisa berkarat seperti besi? Padahal perasaanku selalu ku siram dengan air mata yang seharusnya berkarat! Lalu rapuh. Remuk. Dan hilang seiring berjalannya waktu.

Sial! Aku mencintaimu terlalu dalam hingga sangat sulit menghilangkannya.

Dan akhirnya aku sadar bahwa tidak ada persahabatan yang abadi antara pria dan wanita. Yang ada hanya cinta. Biarlah aku memendam perasaan ini sampai aku berada di titik kejenuhanku. Sampai aku akhirnya menemukan orang lain yang bisa mengembalikan hatiku. Semoga saja.

Aku harap kau bahagia. Dan biarkan aku menyimpan memori saat kita bersama dulu. Sebagai kenangan dan kebanggaan bahwa aku pernah mengenalmu. Pernah menjadi tempat bersandar untukmu. Pernah mendengar tawamu. Pernah melihatmu menangis. Dan pernah mencintaimu.

© Charismagirl

Is it sad story? Leave comment.

14 thoughts on “When Friendship Not Be Friendship Anymore [Ficlet]

  1. pedih banget di hati wktu baca..
    sahabat jd cinta itu emang trkadang menyakitkan, apalagi klw tdk berbalas..
    keren fic nya..🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s