Late Autumn #1

Title  : Late Autumn –part 1-

Author : Marryfly

Main Cast: Zhang Yixing, Oh Naeun

Support Cast: Oh Sehun

Length : Twoshoot

Genre : Romance, sad

Rating : General

Theme Song : Kyuhyun ft. Yoon Jong Shin – Late Autumn

Saori Yuuki ft. Shouko Yasuda – Kono Hoshi no Doko Ka De

 

Author Note : Annyeong haseo readers? Ini adalah FF EXO ketiga ku. FF kali ini aku ambil castnya Lay karena author lagi kepincut sama dimple-nya itu lho, ya ampun cucok dehh *author rempong -_-* nama OC-nya kayak member A Pink, ya? emang, ini campuran antara Oh Sehun dan Son Naeun, kekekeke~. Ya udah deh daripada readers makin males baca nih cuap-cuap gaje, langsung baca aja dan nggak lupa ngingetin bahwa semua cast yang ada disini kecuali OC adalah milik Tuhan, orang tua dan agensinya. Author cuma minjem. Mian banyak typo karena author masih belajar dan mian juga kalo ceritanya rada pasaran. Jangan lupa tinggalin jejak ya?

 

——————– Happy reading ^^  —————–

 

 

I opened the wardrobe

a few piece of clotes appeared in front of my eyes

Although it seemed a bit early, I wore it

 

[Naeun’s POV]

“Naeun-ah, ireona!!!! Eomma tidak mau halmeoni-mu menunggu terlalu lama”, teriak eomma-ku dari arah dapur.

Ne eomma, gidaryeo juseyo”, balasku kembali berteriak sembari membersihkan mantel tebal berwarna coklat pastel yang kini melekat di tubuhku. Kusisir rambutku cepat dan kugulung ke atas. Ya! Kau cantik Oh Naeun. Batinku sambil cengar-cengir menatap cermin.

“Naeun !!!!”

“Ne eomma…”

***

“Bawa ini dan juga ini. Nah, jangan lupa bilang ke halmeoni-mu, musim dingin nanti tidak usah repot-repot cari makanan”, ucap eomma sambil memasukkan bahan-bahan makanan ke dalam kantong kertas.

“Mau kemana?”, tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dapur.

Ya! Sehunna, jangan mengagetkanku begitu dong!”, ucapku sambil menjitak puncak kepala Sehun.

“Hehehehe…mianhae noona”, cengirnya yang lalu mengambil air di dalam kulkas.

“Naeun, nanti jangan lewat jalam besar ya? eomma dengar, akhir-akhir ini banyak sekali copet *lho? Ada copet di Korea?* Kau lewat jalan setapak di dekat taman saja”

“Ne, eomma. Aku pergi dulu. Annyeong”

***

 

 

It is good that the weather is getting chilly

The sun is going to set in this area

 

Kulangkahkan kaki-kakiku sembari menapaki jalanan yang tertutupi oleh dedaunan kering itu. Ya, ini adalah bulan September, waktunya musim dimana daun merah berguguran. Aroma khas musim gugur tercium jelas di hidungku. Aroma yang paling  kusukai dibandingkan aroma-aroma musim lainnya. Sesekali kusenandungkan sebuah lagu untuk memecah kesunyian melewati taman yang memang jarang sekali di kunjungi ini. Tiba-tiba mataku menangkap seorang namja yang tengah membawa dua buah kantong plastik besar di kedua tangannya.

“Ah? Apa yang sedang namja itu bawa? Apa mungkin sampah? Namja itu gila! Masa ingin membuang sampah di tempat seperti ini? Yang benar saja!”, gumamku tak percaya. Kudekati namja yang masih sibuk dengan kedua kantong plastiknya itu, lau kutepuk pundaknya.

“Hei, kau mau buang sampah sembarangan ya? Aish~ kau ini memalukan. Sebagai generasi muda seharusnya kau member contoh yang baik dong. Kau pikir ini tempat pembuangan sampah ha?”, cerocosku yang mulai ngomong panjang lebar dan sok bijak hinga tak sadar bahwa sampai sekarang namja itu belum mengindahkan panggilanku.

“Hei, kau mendengarku tidak sih?!”, bentakku sambil memukuli pundaknya. Namja itu pun lalu menoleh dan memegang cepat kedua tanganku.

“Kau ini apa-apaan?”

“Kau mau buang sampah di taman ini kan?”, selidikku sambil melayangkan pandangan kearah dua kantong plastik yang ia bawa.

“Ha? Buang sampah?”, tanyanya sambil menaikka sebelah alisnya.

DEG

Mata kami bertemu. Namja dengan perawakan tidak telalu tinggi dari namdongsaengku ini menatap mataku intens. Seolah kami hanyut dalam pikiran dan makian masing-masing. Sampai akhirnya aku menarik cepat tangan kananku yang masih ia pegang dengan erat.

“A..a..aku rasa a..akuu..mmm…” ucapku salah tingkah. Namja itu pun lalu tersenyum renyah sambil memperlihatkan lesung pipitnya. Oh God! dia sangat tampan!

“Ahahahaha…jadi kau mengira aku akan membuang sampah disini? Di taman ini?”, tanyanya sambil tetap tersenyum yang berhasil membuatku mati gaya *author juga :o*. Aku mengangguk pelan sembari menyembunyikan semburat merah di kedua pipiku.

“Ini bukan sampah. Lihat, ini makanan”. Ia mengatungkan kedua kantong plastik itu kepadaku seolah menjelaskan bahwa itu bukan sampah.

“Makanan?” tanyaku heran. Tentu saja aku heran. Untuk apa namja ini membawa makanan sebanyak itu? Apa dia juga mau membawakan makanan untuk neneknya sepertiku? Hahahaha…mungkin.

“Ne. untuk mereka yang disana”, katanya sambil menunjuk beberapa anak kecil dan orang-orang berpakaian kumuh yang err~ kurang beruntung kurasa. Mereka orang-orang yang tidak punya rumah. Ah, jangankan rumah, tempat untuk berteduh saja mungkin mereka harus berganti-ganti setiap hari *di Korea ada juga ya tunawisma? :o*

Namja itu kini telah beranjak menuju tempat orang-orang itu berkumpul dan membiarkanku tetap terpaku di tempat. Ia membagi-bagikan makanan yang ia bawa sembari mengelus dan mencubit pipi beberapa anak kecil. Mereka terlihat senang sekali mendapat makanan itu. Senyum tulus dari namja itu makin membuat hatiku seperti tertusuk ribuan jarum. Oh Tuhan, kenapa masih ada orang yang baik dan peduli pada orang lain di tengah dunia yang hanya berisikan manusia-manusia bengis dan sombong ini? Apakah dia malaikat? Entahlah, yang kutahu jantungku berdetak lebih cepat saat dia tersenyum.

“Hei chogi, ireumi mwoyeyo?”, teriakku yang berlari kecil menghampiri namja itu. Ia pun menoleh dan menatapku datar.

“Lay. Panggil saja Lay”, jawabnya dengan senyuman tipis.

***

[Author’s POV]

Naeun menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Matanya menerawang jauh dibalik kakunya langit-langit kamar. Masih tersimpan jelas di benaknya bagaimana namja itu tersenyum saat membagikan makanan pada orang-orang kurang mampu tadi. Senyumnya sangat tulus. Hingga tak sadar, seulas senyum kini mengembang di bibir Naeun. Ia meraih I-podnya dibawah bantal lalu dipasangnya earphone putih ke telinganya.

Just gonna stand there and hear me cry. Well, that’s alright because I love the way you LAY.  I love the way you LAY”,  teriak Naeun kencang ketika lagu Eminem mengalun di I-pod hitamnya itu. 

Ya! Noona!! Berisik!!”, teriak Sehun dari kamar sebelah. Naeun tak menggubrisnya dan terus memputar mp3 player.

“Hey…sexy LAYdehh op..op.. yeah”, teriak Naeun lebih kencang lagi saat lagu dari PSY yang terputar.

“Noona…!!!! Berisik sekali sih? Aku ingin tidur! Perasaan lagunya nggak gitu-gitu amat deh”

“Apa sih anak kecil”, umpat Naeun sambil melemparkan bantal kearah dinding kamar Sehun. Akhirnya ia mematikan mp3 playernya dan memutuskan untuk pergi keluar kamar.

“Noona ini sudah gila ya?”, cibir Sehun yang tiba-tiba keluar dari kamar sambil menguyek-nguyek telinganya seolah sudah rusak karena suara kakaknya.

“Ne.. gila karena my baby Lay”, balas Naeun sambil mehrong kepada Sehun. Sehun masih geleng-geleng kepala atas perilaku kakaknya yang bisa dibilang sableng itu.

***

[Naeun’s POV]

“Naeun…”

“Ne eomma..”, jawabku sambil mengunyah bibimbap dan seolleongtang sekaligus *gimana tuh caranya?* Terlihat sekali Sehun sedang menatapku dengan pandangan jijik. Aish..namdongsaeng kurang ajar!

“Mengenai perjodohanmu yang eomma dan appa katakan sebulan yang lalu, apa kau tidak bisa mempertimbangkannya lagi?”

PRANG

Sendokku jatuh ke lantai. Kuangkat kepalaku perlahan lalu kupandangi appa dan eomma lekat-lekat. Terlihat wajah mereka yang resah menunggu jawaban dariku. Terutama appa…

“Sudah aku bilang kan eomma. Aku tidak mau!”, bentakku yang langsung bangkit dari kursi dan menatap mereka tajam.

“Tapi Naeun. Setidaknya bertemulah dengannya dulu. Siapa tahu kalian cocok”, timpal appa.

Sehun hanya diam menatap pembicaraan kami. Mungkin ia bingung harus memihak pada siapa. Toh walaupun dia anak laki-laki, dia kan anak kedua. Masih ada aku yang akan jadi korban appa demi perusahaannya itu.

“Cukup appa! Aku tidak mau membahas masalah ini lagi”, ucapku yang lalu naik keatas menuju kamarku dan membanting pintu sekeras mungkin.

Kusandarkan tubuhku dibalik pintu kamar. Kupegangi dadaku dan kupejamkan mataku. Bagaimana mungkin aku mau dijodohkan kalau hatiku saja sudah dibawa pergi oleh namja dibawah dedaunan merah itu.

***

Suara berisik dedaunan kering yang ku injak mengiringi langkahku untuk pergi ke tempat dimana aku pertama kali bertemu dengan namja itu, Lay. Aku berharap bisa bertemu dengannya lagi walaupun kemungkinannya sangatlah kecil. Tapi siapa tahu keberuntungan ada bersamaku dan ya! Itu memang benar. Samar-samar dari kejauhan terlihat seorang namja yang memakai hoodie berwarna charcoal yang masih sibuk kesana-kemari membagikan makanan dengan senyum super manisnya. Aku sedikit berlari untuk menuju ke tempatnya berada sekarang.

“Lay-sshi”, kutepuk pundaknya lalu kurebut satu kantong plastik besar di tangan kirinya. Merasa ada yang mengagetkannya, ia pun langsung memutar badannya.

“Neo? Yeoja yang kemarin?” ia mengernyitkan dahinya lalu memandingku dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Ne? ada yang salah? Ah mianhae..joneun Oh Naeun imnida”, ucapku sambil membungkuk 90o. Lay menatapku datar lalu beberapa saat kemudian, ia tersenyum sambil memperlihatkan lesung pipitnya yang menawan itu.

“Boleh kubantu?”,  tanyaku dengan memsang wajah memohon paling imut dan ditambah dengan derp eyes andalanku. Yeah, kena kau Lay!

“Ne. kenapa tidak” ia tersenyum (lagi) lalu kembali focus dengan makanan yang ingin ia bagikan. Kesejajarkan tubuhku untuk berjalan disampingnya sesekali memandangnya saat ia mengelus lembut kepala anak-anak kecil yang ada di pinggiran jalan ini. Tak terasa seulas senyuman muncul dari sudut bibirku dan mataku tak pernah lepas dari pesona keelokan dirinya. Hingga sebuah tangan melambai di depan wajahku yang lantas membuatku tersadar.

“Kau melamun, eoh?”, Tanya Lay tampak heran

“Lay-sshi…”

“Ne”

“Kurasa aku menyukaimu…”

“Mwo??!!” matanya membulat sempurna ketika secara tak sengaja sebuah kata paling mengejutkan keluar dari mulutku. Aku pun langsung menutup mulut emberku dengan kedua tangan dan menundukkan wajahku. Malu.

“Dwaesseo. Kajja, masih banyak orang-orang yang butuh bantuan kita”. Ia menarik tangan kiriku dan mengajakku kembali berjalan seolah tidak pernah terjadi apapun diantara kami berdua. Ya! Dasar Naeun pabo. Bisa-bisanya kau berkata seperti itu. Memalukan. Sungguh memalukan.

Kami berdua menyusuri jalanan-jalanan yang biasanya dijadikan tempat pangkalan (?) para tunawisma ini. Kami membagi-bagikan makanan dengan perasaan senang juga haru. Senang karena bisa membantu dan haru karena mereka tidak seberuntung kami. Ya Tuhan, terpujilah Engkau karena telah menciptakan manusia bernama Lay ini. Sesungguhnya baru kali ini aku menemukan namja sebaik dia. Karena sibuk sendiri dengan jutaan pikiran tentang Lay, tiba-tiba dari arah kiri melesat sebuah truk dengan kecepatan tinggi. Aku yang saat itu berada di tengah jalan sudah tak bisa bergerak dan diam membatu lantaran kaget karena jarakku dengan truk itu sungguh amat dekat. Yang kubisa hanyalah menutup mataku semoga Tuhan masih mengizinkanku melihat indahnya Natal.

“Naeun-sshi!!”

TIIIIINNNNNN

Eh? Kok tidak sakit ya? Apa aku sudah mati? Ya Tuhan kenapa aku pergi secepat ini? Perlahan kubuka kelopak mataku. Gelap dan sesak. Bukan, ini bukan peti mati ataupun ban sebuah truk. Tapi ini….dada seorang namja!!  Omo…ternyata aku jatuh di pinggir jalan dan dengan keadaan Lay memeluk erat tubuhku *author nyicip boleh nggak??* Aku menggeliat sedikir agar kepalaku bisa digerakkan. Kedongakkan kepalaku sedikit untuk melihat wajah namja yang telah menyelamatkan hidupku ini. Matanya masih terpejam. Apa dia pingsan? Oh sh**t!! bahkan saat pingsan saja dia masih telihat tampan. Kusentuh pipinya dengan tanganku. Lembut. Lalu semakin keatas, aku menyentuh mata indahnya. Darahku berdesir hebat saat tangannya kini telah menggenggam erat tanganku yang masih melekat di matanya *bahasa gue ancurr* Perlahan Lay membuka matanya lalu menatapku tajam.

“Apa aku sebegitu tampannya, hingga kau memandangi setiap lekuk wajahku bahkan menyentuhnya?”

BLUSH. Aku rasa wajahku kini sudah memerah tak ubahnya kepiting rebus. 

“A..aniyo..”, elakku gugup sembari bangun dan memperbaiki posisi dudukku. Lay kemudian menyusulku bangun dan memegangi kepalanya.

“Go..gomawo Lay-sshi. Aku rasa jika tadi aku….Lay-sshi?? Kau kenapa? Mukamu tampak pucat? Kau baik-baik saja?”, tanyaku khawatir karena muka Lay terlihat pucat sekali dan berkeringat.

“Ani. Aku tidak apa-apa. Mianhae, aku harus segera pergi”, ucapnya yang lalu bangkit sambil menutupi mulut dan hidungnya dengan tangan kanannya.

“Lay-sshi!!”

 

TBC

 

7 thoughts on “Late Autumn #1

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s