Late Autumn #2(End)

Title  : Late Autumn –part 1-

Author : Marryfly

Main Cast: Zhang Yixing, Oh Naeun

Support Cast: Oh Sehun

Length : Twoshoot

Genre : Romance, sad

Rating : General

Theme Song : Kyuhyun ft. Yoon Jong Shin – Late Autumn

Saori Yuuki ft. Shouko Yasuda – Kono Hoshi no Doko Ka De

 

Author Note : Annyeong^^ huwaaaa akhirnya yang part ini selesai juga😀 bingung readers mau nulis kayak gimana. oke deh daripada ngemeng mulu, sok atuh dibaca langsung. Dan nggak lupa ngingetin bahwa semua cast yang ada disini kecuali OC adalah milik Tuhan, ortu dan agensinya. Author cuma minjem. Mian kalo banyak typo apalagi cerita yang pasaran. Jangan lupa tinggalin jejak ya^^

 320992_471153756276730_1285954061_n

——————– Happy reading ^^  —————–

 

Sudah beberapa hari ini hubunganku dengan Lay semakin dekat. Kami sering menghabiskan waktu bersama untuk sekedar membagikan makanan atau berjalan-jalan di taman hiburan. Banyak hal yang baru kuketahui tentang sosok yang diam-diam mengisi hatiku ini. Lay ternyata takut ketinggian kekekeke~. Pernah waktu itu kami naik wahana roller coaster. Dan Lay berteriak-teriak sambil memegangi lengan kiriku seperti seorang ibu yang akan melahirkan anaknya. Andai saja saai itu aku bisa melihat wajahnya dengan jelas, pasti sangat lucu sekali.  Dia juga pernah memberiku sebuah miniatur piano yang begitu indah. Dia bilang, dia sangat mencintai piano. Lay juga suka warna ungu. Bahkan katanya, semua benda dikamarnya hampir semua berwarna ungu. Dasar maniak!

Sekarang kami sedang mengunjungi Lotte World untuk yang kedua kalinya. Pokoknya hari ini kami harus naik bianglala karena kemarin kami gagal menaikinya gara-gara Lay mengaku ada urusan dirumah.  *jujur sebenarnya di Lotte World nggak ada bianglala,, author cuma ngarang* Selalu itu saja alasannya untuk kabur. Kutarik lengannya agar ia bisa berjalan lebih cepat untuk sampai di wahana bianglala yang aku impikan. Yup, aku bermimpi bisa menaiki wahana ini bersama namjachinguku walau sekarang Lay bukanlah namjachinguku.

       “Kajja oppa. Aku ingin cepat-cepat naik itu. Aku tidak mau gagal lagi gara-gara oppa beralasan. Bilang saja oppa takut ketinggian kan?”, ledekku sambil menjulurkan lidah padanya.

       “Ya! Siapa yang takut! Kajja! Kita buktikan”, ia ganti menarikku dan membuatku sedikit tersandung-sandung.

“Uwaaaa…pemandangan Seoul dari sini sangat indah. Ah apakah itu rumahku? Huwaaa… Oppa lihat lihat!!”, teriakku kegirangan sendiri karena melihat pemandangan kota Seoul yang indah. Tapi orang yang ingin kuajak bicara malah diam saja dan tak merespon perkataanku sama sekali.

       “Oppa?” kulihat Lay memejamkan matanya sambil menundukkan kepalanya. Kedua tangannya ia letakkan diatas lutut dengan kaki gemetaran. Aku tahu, dia ini sedang ketakutan.

“Khukhukhu…gwaenchanyo? Ini aman kok. Ayo buka matamu oppa kataku pelan sambil menyentuh poninya yang bagai rambut unicorn itu *nggak kok author becanda*. Tapi tiba-tiba saja kedua tangannya merengkuh punggunggku dan mendekapku kedalam pelukannya *mauuuuu*. Hangat, sangat hangat hingga jantungku berdetak-detak seolah minta dilepaskan.

“Aku..aku..phobia ketinggian. Mianhae Naeun-ah mianhae’’, ucapnya berulang kali sambil mempererat pelukannya.  Tanganku yang tadinya mengayun di udara kini mulai mengelus punggungnya.

      “Gwaenchana oppa..”

Perlahan ia mula melepaskan pelukannya dan menunduk dengan tubuh gemetaran. Kucondongkan tubuhku agar bisa menatap langsung mukanya hingga membuat bianglala ini sedikit bergoyang. Aku pun akhirnya berjongkok di depannya dan mengelus puncak kepalanya.

“Naeun-ah..”, ucapnya dengan suara yang bergetar dan masih menutup kedua matanya.

      “Ne oppa”

“Ada sesuatu yang ingin aku katakan”

     “Mwo?”

Perlahan ia membuka matanya dan menatapku yang  jaraknya tidak lebih dari 30cm darinya. Jantungku mulai berdegup tidak terkontrol tatkala tangannya yang putih mulai menyentuh pipiku. Sungguh, aku rasa pipiku sudah memerah kali ini. Ia semakin mendekatkan wajahanya lagi hingga membuatku kehilangan akal sehat untuk kesekian kalinya gara-gara sikapnya yang terus berubah.

     “Saranghae..”, ucapnya lirih sebelum bibir manis itu mengecup bibirku dengan lembut disaat bianglala ini berada pada puncaknya.

***

 

Yes, it’s you who brought me out

Clasping onto my hands in my pocket

 

Kami duduk disebuah bangku taman dibawah pohon yang menggugurkan daun-daun merahnya. Hening. Sejenak melepaskan penat dan menghapus pikiran-pikiran aneh yang tadi sempat menghantui kami saat kami melakukan err~ kiss scene kurasa. Lay terdiam. Bola matanya beralih mengamati dedaunan aneka warna yang melepaskan diri dari rantingnya. Muak dengan segala keheningan ini, kuputuskan untuk membuka suara terlebih dahulu.

      “Oppa…”

“Hmm”

“Kenapa oppa suka sekali membagikan makanan pada orang-orang itu?”

“Kenapa ya? Karena aku ingin membagi sedikit keberuntunganku di dunia ini. Selagi kita masih diberi kesempatan untuk hidup, mengapa kita tidak berbuat baik pada orang lain? Coba kalau kita sudah mati. Yang kita bisa hanyalah diam di tempat tanpa tahu harus berbuat apa karena yang ada hanyalah ragamu”, ucapnya sambil menghela napas panjang lalu menyadarkan kepalanya di bahuku.

“Ohh..”, jawabku sambil mengangguk-anggukkan kepala.

“Kenapa Tuhan bisa menciptakan namja sebaik dirimu ya?”, gumamku yang langsung membuatnya terkekeh. Tiba-tiba ia bangun dari posisinya semula dan berdiri menghadapku. Ia tersenyum lalu membelai rambutku pelan kemudian menggenggam kedua tanganku.

“Kau suka musim gugur?’

“Tentu!”, jawabku antusias. Tentu saja aku suka. Itu kan karena dirimu! Musim gugur yang mempertemukan aku denganmu.

“Tapi aku tidak suka. Musim dimana daun-daun melepaskan diri dari rantingnya. Sama seperti manusia yang nantinya juga akan melepaskan diri dari apa yang mereka miliki”, ucapnya dengan mata sendu dan menerawang jauh. Ada apa dengannya? Tiba-tiba ia menarikku kedalam pelukannya dan mendekapku dengan erat. Kurasakan pundakku basah. Apakah ia menangis?

       “Opp..oppa..”

Menit telah berjalan dan kami tetap pada posisi tadi. Lay enggan melepas pelukannya apalagi membuka suara. Perlahan kurasakan tubuhku begitu berat.

      “Oppa. Lepasakan. Berat tahu”, ucapku sambil memukul kecil punggungnya. Tapi ia tak bergeming sama sekali. Heran, perlahan kugeser sedikit tubuhku ke belakang dan kupegang kedua pundaknya dengan tanganku karena tubuhnya begitu berat menimpa badanku. Kutatap wajahnya yang menunduk. Astaga! Banyak sekali darah yang keluar dari hidunya  dan matanya yang terpejam semakin membuatku ketakutaan.

      “Oppa! Ireona!”, kugoncang-goncangkan tubuhnya yang melemas itu. Kuseka darah yang tidak berhenti mengalir dari hidungnya.

“Lay oppa! Ireona! Siapapun kumohon tolong aku..”, tangisku pecah sambil terus menggoncang-goncangkan tubuh Lay yang semakin memucat itu. Aku menangis sejadi-jadinya sambil terus mendekap tubuh dingin Lay dalam pelukanku tak peduli berapa banyak darah yang menodai bajuku. Aku takut. Sangat takut. Air mataku tidak berhenti menetes dan butir demi butir menjatuhi wajah Lay yang terpejam itu.

“Lay oppa!! Ireona! Aku belum membalas perkataanmu tadi! Ayo buka matamu! Nongdamma pabo! Igeon jaemi eobseo! Lay!! Ayo tertawa! Seseorang kumohon tolong…hiks..hiks..”, jeritku yang hampir seperti orang gila.

***

 

I breathed in the cold air 

My heart is also missing you 

My heart felt much better and urged me 

To return before the arduous night comes

 

[Author’s POV]

Pagi itu Naeun menerima telepon yang langsung membuatnya merosot jatuh dan menangis sejadi-jadinya. Pasalnya, namja yang ia cintai, Lay, diberitahukan meninggal hari ini. Ia memukul-mukul dadanya sendiri sambil sesekali berteriak menyebut nama Lay. Semua keluarganya langsung berbondong-bondong ke ruang tengah untuk mencari tahu apa yang sedang teadi.

“Tidak mungkin! Ini semua bohong! Aku benci Lay aku benci!!”, teriak Naeun sambil menangis sesenggukan sembari membanting barang-barang yang ada disekitarnya. Sang ibu yang khawatir langsung mendekati putri semata wayangnya itu lalu memeluknya.

“Naeun-ah ada apa?”, tanya ibunya lembut sembari mengelus rambut anaknya yang berantakan itu. Ayah dan adiknya, Sehun, hanya bisa saling pandang melihat keadaan Naeun.

“Lay eomma hiks..Lay..hiks…dia..dia..”, belum sempat Naeun meneruskan perkataanya, ia merasakan tubuhnya begitu berat dan pandangannya berubah gelap. Ia, jatuh pingsan.

***

 

[Naeun’s POV]

Aku mengerjap-ngerjapkan kelopak mataku perlahan. Menemukan setitik cahaya untukku melihat. Terlihat langit-langit kamarku yang berwarna coklat pastel dengan hiasan mawar di pinggirannya. Ah, berapa jam aku pingsan? Kusingkirkan selimut yang kini menutupi sebagian tubuhku. Aku melangkahkan kaki menuju meja kecil disamping lemari. Kuambil sebuah benda, sebuah miniatur  piano yang Lay berikan untukku sebagai kenang-kenangan. Air mataku jatuh lagi. Tak kuasa menerima kenyataan yang begitu pahit. Singkat. Itulah yang bisa dideskripsikan untuk hubungan kami.

       KRIET, terdengar pintu terbuka. Kulihat eomma masuk dengan wajah takut-takut.

“Kau sudah sadar chagiya?”

     “Ne eomma”, jawabku datar sambil terus melihat dan memeluk miniatur piano itu.

     “Eomma tidak tahu apa yang terjadi padamu dan siapa itu Lay? Ah mianhae, bukan maksud eomma seperti itu tapi…”

     “Gwaenchana eomma”

“Naeun-ah, ada yang ingin eomma beritahukan padamu”, ucap eomma tegang sambil duduk diatas ranjangku. Aku kemudian menyusulnya duduk dengan tetap membwa miniatur itu bersamaku.

     “Mwo?”

“Mengenai orang yang ingin dijodohkan denganmu…”

“Stop eomma! Eomma tidak lihat aku sedang berduka? Kenapa eomma malah membahas masalah ini lagi”, potongku cepat.

     “Hajiman Naeun-ah, eomma hanya ingin bilang bahwa perjodohan itu dibatalkan”, ucap eomma lesu.

“Baguslah. Akhirnya eomma dan appa mengerti’, cibirku yang lalu merebahkan diri diatas kasur.

“Barusan orangtua Yi Xing di Hunan menelpon eomma, putranya baru saja meninggal kemarin malam”

     DEG, jantungku berdetak sangat kencang.

“Maksud eomma?”

    “Ne. Zhang Yi Xing. Namja yang akan dijodohkan denganmu. Dia meninggal karena leukemia. Sungguh eomma tidak menyangka. Padahal dia masih muda dan sangat tampan”, jelas eomma. Perasaanku sudah sangat tercampur aduk. Zhang Yi Xing dan Lay..semuanya membuatku bingung. Mereka pergi dalam waktu yang berdekatan. Dan mereka dalah orang yang terlibat denganku.

“Orangtua Yixing bilang, ia sedang berada di Korea beberapa bulan ini untuk pengobatan disebuah rumah sakit khusus kanker”, imbuh eomma. Korea? Jadi namja itu sudah lama ada disini? Tunggu. Zhang Yixing, Lay. Mereka meninggal dalam waktu yang..tidak-tidak ini tidak mungkin.

     “Eomma…”

     “Ne”

     “Eomma punya foto Zhang Yixing?’, tanyaku yang mulai berlinang air mata.

     “Ne. Eomma punya . Tapi kenapa kamu menangis?”, tanya eomma khawatir.

     “Eomma aku ingin melihatnya. Kumohon eomma…”

“Ne. Eomma ambilkan sebentar”. Lalu eomma keluar dari kamarku dan beberapa saat kemudian, ia kembali lagi dengan selembar foto di tangannya. Kutarik napas panjang-panjang. Membuang jauh-jauh pikiran aneh tentang foto itu nanti. Berharap apa yang sedang aku pikirkan saat ini adalah salah. Kuraih foto yang ada ditangan eomma dengan jantung berdebar-debar. Namun mataku sukses membelalak lebar ketika melihat foto itu. Ya, masih dengan rambut yang sama, mata yang sama, senyum yang sama dan lesung pipit yang sama. Lay, atau Zhang Yixing lebih tepatnya. Itulah namja yang ada didalam foto itu. Tangisku kembali pecah dan langsung kupeluk foto itu saat butir-butir kapas dingin mulai berjatuhan hingga membuat jendela kamarku mengembun seolah ikut bersedih. Yixing, andai kita bertemu lebih awal…

***

 

 

The you from late autumn that year, where are you walking now 

I miss the sound of your footsteps 

Yes, it was you who made me understand autumn 

The brown longings through this endless night 

My impending winter, I should prepare for it now 

My winter with long nights 

My winter that has a lot of you

 

Udara dingin menyeruak melalui coatku hingga menusuk-nusuk ke kedalam tulang. Ya, ini adalah musim dingin. Beberapa hari setelah kepergian Lay. Disini adalah tempat pertama kalinya aku bertemu dengan Lay. Namja malaikat dengan segala kebaikan yang ia bawa. Sekarang ataupun seterusnya, tidak akan ada lagi namja yang akan membagikan makanan di tengah musim gugur ataupun namja yang menebarkan senyum tulusnya dipenghujung musim gugur. Semuanya seolah tertutupi oleh kapas-kapas dingin ini. Satu hal yang Lay, ani maksudku Zhang Yixing belum sempat ketahui. Yaitu satu kalimat dariku.

      “Nado saranghae….”

 

[EPILOG]

Sehun terburu-buru menuju ke sekolahnya karena ia sudah sangat terlambat. Motor  yang biasanya ia pakai harus di service di bengkel karena kemarin ia baru saja mengalami kecelakaan yang mengakibatkan mesin motornya rusak. Kakaknya, Naeun, tidak bisa mengantarnya lantaran Naeun harus terbang ke Itali untuk melanjutkan kuliahnya. Akhirnya, jalan satu-satunya adalah dengan berjalan kaki, walaupun jarak antara sekolah dan rumahnya sangatlah jauh.

      “Aishh…10 menit lagi bel. Ayolah Baekhyun angkat teleponmu…” desis Sehun yang berlari kecil sambil memegangi teleponnya. Ia menelpon sahabatnya, Baekhyun, untuk berjaga di pintu belakang kalau-kalau ia terlambat nanti. Tapi sepertinya Baekhyun tak kunjung mengindahkan panggilannya.

      BUK, Sehun menabrak seseorang hingga barang-barang yang orang itu bawa berserakan di  jalanan. Sehun yang merasa bertanggung jawab segera berjongkok untuk membantu orang yang ternyata seorang yeoja itu.

     “Joesonghamnida agasshi. Aku sedang terburu-buru tadi”, Sehun menutup teleponnya terlebih dahulu lalu memasukannya kedalam saku celana. Setelah itu barulah ia memunguti barang-barang milik yeoja yang memiliki kulit seputih susu itu.

     “Gwaenchanayo. Hyeobjo hae jusyeoseo, kamsahamnida”, ucap yeoja itu dengan logat Changsa yang kental dan bahasa Korea yang sedikit berantakan. Ia kemudian pergi begitu saja meninggalkan Sehun yang masih berdiri.

     “Ya! agasshi, gidaryeo juseyo!”, teriak Sehun. Yeoja itu sepertinya tidak mendengar teriakan Sehun dan berjalan cukup jauh. Sehun hanya bisa menggendikkan bahu lalu memutuskan untuk segera pergi. Namun belum satu langkah ia mengangkat kakinya, tiba-tiba matanya tidak sengaja menangkap sebuah benda tergeletak di tempat ia menabrak yeoja tadi. Sehun memungut benda yang ternyata sebuah dompet itu. Ia membuka isinya untuk memastikan siapa pemilik dompet ini.

“Zhang Yi Lin…”, gumam Sehun saat membaca kartu pengenal di dompet itu.

 

 

END

 

 

7 thoughts on “Late Autumn #2(End)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s