Diposkan pada Baek Hyun, BROTHERSHIP, Chan Yeol, EXO Planet, EXO-K, Freelance, friendship, One Shoot

Noisy Roommate (Baekyeol Story)

Title                : Noisy Roommate (Baekyeol Story)

Author            : yeoshin (@kimsuho_nim)

Main Cast      : Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Support Cast : All EXO members, Kim Sung Kyu (Infinite) , Jung Mo (T-RAX)

Genre                         : Friendship, Brothership

Length            : One Shot

Rating             : PG-17

Disclaimer      : Warning! Read Comment Like

Authornya masih belajar jadi harap maklum jika ceritanya gaje, aneh, dan terdapat beberapa typo disana-sini *bow*

Jika ada kesamaan judul atau ide cerita, hanya kebetulan semata. Fanfiction ini murni muncul dari otak yadong saya. Terima kasih.

For All Baekyeol /Chanbaek Shipper. Don’t Like? Comment!

Summary       :

Byun Baekhyun adalah korban perceraian kedua orang tuanya, ia memutuskan untuk tinggal di asrama untuk menenangkan diri. Namun, tanpa diduga ia malah terjebak di situasi yang jauh disebut sebagai ketenangan.

background_by_l1berat3d copy

&&&

Angin bertiup kencang menyibak tirai ruangan itu. Seorang anak laki–laki tengah berdiri di depan meja belajarnya memasukkan beberapa buku dan perlengkapan sekolahnya kedalam tas ransel abu–abu miliknya. Kemudian ia berjalan ke arah jendela menengok langit gelap, entah apa yang ia pikirkan, ia hanya diam kemudian mengedarkan pandangan ke bawah sana. Kamarnya yang berada di lantai 10 apartemen itu langsung berhadapan dengan jalanan dan pusat kota. Kota Seoul di pagi itu terlihat sangat suram, apa lagi kalau bukan karena awan mendung yang menghiasi langit dan kira–kira akan bertahan sepanjang hari.

Ia melangkahkan kaki menuju pintu, sebelum beranjak ia menengok kamar itu sekali lagi. Sejak melangkah dari pintu ini kemungkinan ia akan sangat merindukan kamar ini. Menjadi korban broken home bukan lah sesuatu yang mudah bagi Baekhyun, tidak ada satu pun dari orang tuanya yang dapat ia tinggali. Tepatnya ia sudah tidak percaya kepada mereka. Ia menggantungkan ransel itu ke punggung, dan tangan kanannya menyeret sebuah koper berwarna biru, melangkah keluar menuju kehidupan yang baru.

***

“PARK CHANYEOL!!!!” Teriak wanita berkacamata itu. Suaranya menggelegar dibarengi dengan sebilah spidol melayang ke kepala Park Chanyeol, salah satu murid beliau yang paling bandel. Lagi–lagi anak itu tertidur di kelas.

Chanyeol terjaga, duduk tegak dengan mata merah sambil memegangi kepalanya yang terasa nyeri akibat berbenturan dengan ujung spidol.

“Keluar sekarang!!!” Teriak Kim Sonsaengim lagi. Membuat Chanyeol benar-benar terjaga.

 

Dengan mata yang masih mengantuk dan mulut yang tak berhenti menguap ia beridiri di koridor didepan kelasnya. Ia berdiri dengan satu kaki dan kedua tangan yang disilangkan sambil memegang ujung telinga. Hal itu membuatnya menjadi pusat perhatian bagi setiap murid yang lewat yang pergi ke toilet serta beberapa guru yang lewat.

 

Setelah dua jam berdiri, Chanyeol menjatuhkan tubuhnya ke kursi di pinggir lapangan sepak bola. Matanya menerawang ke arah teman-temannya yang asik bermain sepak bola. Jong In, kapten sepak bola sekolah mereka melambaikan tangan kearahnya, memberikan isyarat agar Chanyeol bergabung dengan mereka. Chanyeol membalas ajakan itu dengan anggukan kecil dan senyum serta tubuh yang setia menempel pada kursi, seakan berkata ‘tidak, terimakasih’ Jong In hanya menggeleng pelan kemudian melanjutkan permainan.

Mata bulatnya menerawang ke sekitar lapangan. Dari sini ia dapat melihat seorang anak laki–laki tengah berjalan mengitari lapangan. Ia tidak mengenakan seragam, hanya kemeja putih dan celana panjang serta ransel yang menggantung di punggungnya. Tangannya menyeret sebuah koper dan dia terlihat kebingungan. Chanyeol terus memerhatikannya, ia menebak bahwa siswa itu adalah murid transferan.

Sehun menendang bola kearah Luhan, namja imut itu menyambutnya dan menggiring bola itu ke gawang yang di jaga oleh Jun Myeon. Jarak bola dan gawang kira-kira hanya sekitar lima meter, dengan sekali tendangan yang kuat bola itu terbang menuju gawang yang di jaga Jeon Myeon. Namun, strike itu gagal. Bola itu membentur ujung gawang dan terpental keluar lapangan.

Baekhyun yang sedang berjalan dengan tenang tiba–tiba merasa kepalanya di dorong oleh benda bulat dengan cukup kuat hingga membuatnya terjatuh. Seketika itu ia merasakan sekitarnya berputar–putar dan pandangannya mengabur. Namun, ia masih bisa mendengar suara oran–orang yang menghampirinya. Ia juga dapat merasakan seorang anak membantunya berdiri dan menggiringya ke pinggir lapangan.

“Gwenchana?” Chanyeol mengibas–ngibaskan tangannya di depan siswa transferan itu. Baekhyun masih memegangi kepalanya seraya meringis pelan.

“Maaf, maafkan aku,” tutur Luhan menyesal.

“Ne, gwenchana,” jawab Baekhyun berusaha tersenyum.

“Maaf ya, maaf aku tidak sengaja,” Luhan tampaknya masih merasa bersalah.

“Gwencahana” Baekhyun menepuk pundak luhan pelan.

“Dia bilang dia tidak apa–apa, kau kembali saja kelapangan,” ucap Chanyeol. Luhan menunduk sekali lagi sebelum beranjak.

Baekhyun mengelus-elus bagian kepalanya yang terkena bola tadi yang masih terasa ngilu. Kemudian tatapannya beralih pada sosok siswa di sebelahnya. Dengan sepersekian detik ia dapat menganalisa siswa ini dari penampilannya, dengan mengenakan kemeja yang sengaja dikeluarkan, celana panjang yang sepertinya kekecilan, rambut ikal yang di cat blonde yang tampaknya tidak disisir, dan terdapat noda–noda tipis di bagian dada kemeja. Baekhyun dapat menyimpulkan bahwa anak ini salah satu pembuat onar di sekolah, lagi pula kupingnya yang memerah itu menandakan ia baru saja dihukum.

Chanyeol tersenyum ke arah siswa transferan itu, memerkan deretan giginya yang rapi. Baekhyun membalasnya dengan senyum aneh dan tatapan yang tidak kalah aneh. Hal itu membuat alis Chanyeol mengernyit. Baekhyun berdiri dan kembali memasang ransel itu di punggungnya di warnai dengan tatapan bingung Chanyeol.

“Hey, kau mau kemana?” tanya Chanyeol ketika Baekhyun meninggalkannya bagitu saja tanpa mengucapkan terimakasih.

“Kita belum berkenalan! Kau bahkan belum berterima kasih padaku!” Suara berat itu membuat langkah Baekhyun terhenti. Ia menoleh sebentar kemudian menunduk.

“Kamshamanida,” ucapnya singkat kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Chanyeol. Chanyeol mengendus pelan sambil begumam.

“Sombong sekali anak itu.”

Baekhyun berjalan cepat meninggalkan lapangan kini ia memasuki bangunan sekolah dan menyisiri koridor–koridor bangunan itu. Ia kembali teringat dengan anak tadi, merasa sedikit bersalah memang, tapi toh ia sudah mengucapkan terimakasih. Ia tidak mau terlibat hubungan apapun dengan orang lain apa lagi dengan siswa macam tadi. Bahkan ia berencana untuk menyendiri sampai lulus nanti, Baekhyun tidak mau terlibat masalah dengan murid lain karena ia ingin menjalani waktu studinya dengan tenang, aman, dan tentram. Dengan begitu ia dapat cepat menyelesaikan sisa hidupnya yang membosankan ini.

***

Tidak memmbutuhkan waktu yang lama untuk menemukan kamar 203. Baekhyun menarik kopernya menuju pintu asrama itu kemudian di putarnya kunci di lubang kunci. Setelah membuka knop pintu ia segera menarik barang–barangnya masuk.

Baekhyun terperangah mendapati kamar barunya ini. Kamar ini sangat berantakan, bungkus–bungkus makanan dan pakaian–pakaian kotor bertebaran di seluruh kamar. Bahkan kini ia menginjak boxer bergambar love di bagian bokong. Baekhyun segera menyingkirkan kakinya dari benda itu. Di ambilnya boxer itu dengan ujung tangan sambil berdecak kemudian melemparkannya ke sembarang tempat.

Baekhyun berdecak sambil berjinjit melwati benda–benda tak lazim tersebut menuju kasur untuk meletakan barang bawaannya. Namun, ternyata kedua kasur tersebut keadaannya tidak kalah mengerikan. Pakaian dalam bertebaran di permukaan keduanya. Kemeja dan kaos kotor pun tak luput dari pandangan. Baekhyun bergidik. Ia belum pernah mendapati pemandangan semengerikan ini sebelumnya.

“Merepotkan sekali,” sungutnya.

Setelah membersihkan kasur yang berada di sisi jendela –yang menurutnya tidak berpenghuni-, ia meletakan koper dan ransel miliknya kemudian bersiap memulai aksi pembersihan.

***

Dentuman perpaduan bunyi drum, bass, dan gitar mengalun kuat di segala penjuru club malam itu. Chanyeol menggebuk drum-nya dengan seluruh kekuatannya, titik–titik peluh membasahi hampir seluruh tubuhnya. Teriakan para pengunjung club yang rata–rata wanita membuatnya bersemangat. Malam ini band itu membawakan lagu dari Evanescence dan beberapa lagu ciptaan mereka sendiri.

The First adalah grup band yang di gawangi oleh Kim Sung Kyu sebagai vokalis merangkap sebagai bassist, Jung Mo sebagai gitaris dan Chanyeol sebagai  drummer. Grup ini cukup terkenal di kalangan pengunjung Sapphire club, terhitung kurang lebih satu tahun mereka manggung di club yang terkenal di kalangan remaja ini.

Musik itu di akhiri dengan drum solo Chanyeol yang membuat pengunjung wanita histeris. Ketiga cowok popular itu melambai kepada penggemar mereka sebelum beranjak dari panggung.

 

Chanyeol menghitung beberapa lembar uang yang baru saja di bagikan oleh Jung Mo. Hari ini mereka memperoleh lumayan banyak, karena pemilik club sedang baik hati sehingga memberikan uang 10% lebih banyak dari biasanya.

Sung Kyu menengok arlojinya, sudah menunjukan pukul satu malam. Ia menepuk pundak kedua temannya berpamitan, kemudian disusul oleh Jung Mo.

“Besok jangan sampai terlambat lagi” pesan Jung Mo pada Chanyeol. Pemuda itu hanya menyunggingkan senyum dan Jung Mo hanya bisa menggeleng. Setelah Jung Mo pergi, tinggalah Chanyeol dengan stik drum abu–abunya.

“Oke baby mari kita pulang,” ucapnya pada sepeda motor hitam yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia memasukkan stik drum kesayangannya itu kedalam tas khusus yang ia kalungkan dipunggung. Setelah mengenakan helm, ia menyetel motor itu dan menggasnya dengan kecepatan penuh.

 

Chanyeol memarkirkan sepeda motornya di depan tembok asrama, tepatnya di sebelah bangunan seluas dua hektar itu. Setelah memastikan motor itu terkunci, ia menoleh ke samping untuk memastikan tidak ada penjaga asrama yang melihat aksinya. Setelah merasa aman pemuda itu memanjat tembok asrama setinggi lima meter. Dengan kakinya yang panjang ia dapat mudah sampai di puncak tembok.

Chanyeol menjatuhkan kakinya ke tanah dengan hati–hati hingga tidak menimbulkan suara. Kemudian ia berjalan mengendap–endap ke sebuah jendela kemudian menaiki jendela itu untuk mencapai jendela di atasnya. Dengan sekali jangkau ia dapat meraih bibir jendela, kemudian ia naik merayap ke jendela kamarnya dan membuka kaca jendela yang sengaja tidak ia kunci.

 

Baekhyun rebahan di kasur barunya, ia tidak dapat memejamkan mata dengan suasana kamar yang sama sekali berbeda dengan kamarnya dahulu. Ia menatap langit–langit kamar dengan tatapan kosong seraya memikirkan keputusannya untuk hidup sendiri. Walaupun  sebenarnya tak ada lagi yang harus dipikirkan.

Tiba–tiba saja ia mendengar suara dari jendela. Baekhyun langsung terjaga, namun belum sempat ia duduk apalagi menyelamatkan diri, jendela itu terbuka dan seorang pemuda masuk kedalam kamarnya. Lantas ia langsung berteriak, pemuda itu kaget dan langsung menutup mulut Baekhyun dengan kedua tangannya. Baekhyun meronta, Chanyeol yang merasakan penolakan itu langsung mendekap tubuh mungil Baekhyun.

Baekhyun yang merasa terancam langsung menggit tepat di nipple Chanyeol. Chanyeol berteriak saat salahsatu bagian sensitive-nya itu di sentuh oleh gigi-gigi Baekhyun. Sontak ia langsung melepaskan dekapannya.

“Hey!!! Siapa kau? Apa yang kau lakukan disini?!” teriak Baekhyun.

“Harusnya aku yang bertanya! Siapa kau? Kenapa ada di kamarku?!!” Bentak Chanyeol marah, sedetik kemudian ia menyadari sesuatu. Anak di hadapannya ini adalah murid transferan tadi siang.

“Kau?!” Ucap mereka berdua bersamaan seraya menunjuk satu sama lain.

 

Baekhyun berdiri memerhatikan manusia di depannya yang sibuk terkesima melihat pemandangan baru kamarnya. Chanyeol begitu kagum dengan kamar barunya yang rapi dan lebih nyaman dari sebelumnya yang lebih mirip tempat pengungsian dari pada kamar tidur.

“Kau membereskan semuanya? Daebak!” ucapnya kagum.

Baekhyun memijiat–mijat kepalanya berpikir. Jadi ia sekamar dengan murid yang masuk katogori harus dihindari. Dan ini berarti masalah. Baekhyun memandang pasrah pada Chanyeol. Apa yang harus ia lakukan sekarang, tidak mungkin ia mengusir cowok ini apa lagi merengek kepada kepala asrama untuk mencarikannya kamar yang baru. Jika itu terjadi, mungkin dia adalah anak konglomerat kaya raya atau minimal anak kepsek. Tapi sayangnya ia bukan.

“Ternyata selain sombong kau juga pandai bersih-bersih. Bagus!” decak Chanyeol sambil memangutkan kepalanya.

‘Gawat!’ Pikir Baekhyun. Jangan-jangan makhluk ini berencana membuatnya menjadi upik abu. Ia bersungut dalam hati menyesal atas keputusannya untuk memilih tinggal diasrama.

“Hmm, Jadi begini Park Chanyeol-ssi, aku tidak bermaksud mengambil kamarmu apa lagi mengganggu ketenanganmu-“

“Aku tau.” potong Chanyeol.

“Jadi marilah kita menjadi teman sekamar yang tidak saling mengganggu satu sama lain, oke?” tawar Baekhyun. Nada bicaranya di buat sehalus mungkin.

“Hmm, bagaimana ya? Aku bukan tipe orang yang suka ketenangan, Byun Baekhyun-ssi,” Chanyeol menyeringai. Nyali Baekhyun langsung ciut seketika.

“Haha! Kenapa wajahmu jadi lucu begitu? Aku hanya bercanda,” Chanyeol tertawa melihat wajah Baekhyun yang ketakutan. Ia mengulurkan tangan. Baekhyun menatapnya bingung.

“Mari menjadi teman sekamar.”

Baekhyun mengambil tangan itu ragu sedangkan Chanyeol tersenyum lebar.

 

Sekamar dengan seorang Park Chanyeol bukanlah hal yang mudah bagi Baekhyun. Belum genap 24 jam Chanyeol berada di sekitarnya ia sudah merasa ingin mati. Ia bahkan tidak bisa tidur dengan damai. Chanyeol tak henti – hentinya berceloteh dan bercerita tentang segala hal yang menurut Baekhyun itu tidak penting.

Pagi ini Baekhyun bersungut didepan pintu kamar mandi sambil memegangi perutnya, wajahnya kicut dengan iler yang masih bertengger diujung bibir.

“Pa..rk…Cha..n..ye..ol! ce……pa…t” Ucapnya terbata–bata seraya mengetuk pintu kamar mandi dengan keras. Sesuatu didalam sana sudah tidak sabar lagi untuk keluar, ia mati–matian menahannya sementara Park Chanyeol sedang asik ber-beat-box ria di dalam kamar mandi.

“YAAK!!!”

***

Chanyeol menepuk–nepuk kursi di sampingnya menyuruh Baekhyun untuk duduk disebelahnya. Baekhyun bergidik dan langsung menatap ke arah lain, mencari tempat duduk lain yang lebih comfortable. Ia menemukan sebuah kursi kosong di pojok ruangan kelas, namun di sebelahnya ada seorang murid tertidur di atas meja dengan iler yang merembes membasahi disekitarnya. Baekhyun bergidik lagi kemudian menjatuhkan pandangan pada kursi lain yang berada di depan. Jun Myeon tersenyum ke arahnya, Baekhyun membalasnya ramah, ia berpikir untuk duduk di sebelah orang ini. Namun, tumpukan tugas dan buku di meja itu membuatnya berpikir ulang.

Sekarang ia dihadapkan kepada tiga pilihan konyol. Pertama, duduk di bersama Park Chanyeol yang berisik. Kedua, terjebak di sungai iler. Ketiga, terjebak dengan pesuruh guru. Tidak ada pilihan yang menguntungkan baginya. Ini sangat sulit, saking sibuknya berpikir ia tidak menyadari Kim songsaengnim telah berdiri di belakangnya.

“Ehem!” Suara batuk perempuan itu menyadarkan lamunannya. Belum sempat ia meminta maaf tubuhnya sudah di tarik oleh Park Chanyeol yang kemudian dengan paksa mendudkannya di kursi.

“Kenapa kau berdiri di sana? Terpesona padaku?” Goda Park Chanyeol. Pertanyaan barusan lagi-lagi membuat Baekhyun mempertanyakan orientasi seksual Chanyeol.

 

Saat makan siang berlangsung lagi–lagi Chanyeol menjahilinya dengan bersendawa di telinganya. Tentu saja hal itu membuat aktivitas makannya tidak tenang. Akhirnya Baekhyun tidak menghabiskan makan siangnya, ia meninggalkan piringnya begitu saja bersama Chanyeol dengan sekaleng minuman bersoda.

“YAK!!” Chanyeol berteriak sambil berlari menyusul Baekhyun.

“kau ingin melihat-lihat sekolah? Mari aku temani” Tawarnya ramah.

‘Ya tuhan tolong, Park Chanyeol tidak kah kau melihat aku sedang berusaha menghindarimu? Perlukah aku berteriak disini?’ Batin Baekhyun geram.

“Kenapa wajahmu merah begitu? Kau sakit?” tanya Chanyeol khawatir. Ia memegang puncak kepala Baekhyun dengan telapak tangannya. Baekhyun segera menepis tangannya.

“Tidak!” ucapnya ketus. Baekhyun pergi meninggalkan Chanyeol. Chanyeol hanya menatap punggung Baekhyun hingga punggung itu menghilang dibalik koridor.

 

Baekhyun duduk di kursi taman sekolah, dagunya bertopang pada kedua tangan, wajahnya terlipat, dan mata sipitnya menerawang menatap siswa-siswa yang berseliweran di sekitarnya.

Jong In yang sedang bercengkrama dengan Kyung Soo dan Sehun melihat Baekhyun tengah duduk sendirian. Kyung Soo menyarankan agar Jong In mengajaknya bergabung. Jong In setuju, ia berlari menghampiri Bakhyun.

“Annyeong!” Sapa Jong In ramah. Baekhyun membalasnya dengan senyum tipis.

“Mau bergabung?” ajak Jong In , ia mengarahkan telunjuk menuju kedua temannya, Sehun dan Kyung Soo.

“Boleh?”

“Tentu! Ayo!” Jong In menarik Baekhyun dan membawanya bergabung.

***

Akhir minggu ini Jong In mengajak Baekhyun untuk mendaki gunung. Awalnya Baekhyun menolak, karena ia tidak pernah mendaki gunung sebelumnya, namun Kai terus memaksanya. Ia pikir bagus juga untuk menghindari Chanyeol untuk beberapa saat, akhirnya Baekhyun meng-iyakan ajakan tersebut.

“Baekhyun-na” suara bass Chanyeol membuyarkan aktifitas packing-nya.

“Hmm…” Baekhyun berusaha tidak terpengaruh.

“Kau mau pergi kemana?”

“Bukan urusanmu.” Jawab Baekhyun ketus.

Baekhyun menutup resleting ranselnya kemudian menggangtungkannya di bahu. Chanyeol mengekornya ke pintu. Sebelum membuka knop Baekhyun menoleh, Chanyeol tersenyum sambil menunjukkan stick drum-nya.

“Aku boleh ikut?” tanyanya sambil menyunggingkan senyum lebar.

“Tidak!” tolak Baekhyun cepat. Wajah Chanyeol berubah murung. Baekhyun buru-buru membuka pintu dan keluar dari kamar sebelum Chanyeol mulai mengoceh lagi.

***

Suasana hutan di pegunungan ini begitu sejuk berbeda sekali dengan kota. Mini bus itu berhenti di depan sebuah resort. Para penumpang turun, termasuk Baekhyun yang sibuk menarik barang bawaannya. Setelah semua turun, Jong In memperkenalkan mereka kepada pengelola resort pendakian tersebut yang ternyata merupakan pamannya. Setelah berbincang-bincang sebentar mereka pergi menuju pos pendakian untuk mendaftar.

Setelah makan siang mereka bersiap untuk mendaki. Rencananya mereka akan sampai di tempat perkemahan pada pukul 5 sore dan artinya mereka mempunyai 3 jam perjalan. Baekhyun mengeratkan jaketnya dan menggantungkan ranselnya di bahu. Bersama Jong In, Kyung Soo, Sehun dan Jun Myeon mereka berlima bersiap memulai perjalanan.

Mereka baru berjalan satu jam, Baekhyun sudah tidak sanggup lagi melangkahkan kakinya. Jong In berjalan terlalu cepat, mungkin karena ia sangat bersemangat. Baekhyun berhenti sebentar mengedarkan pandangannya ke sekeliling sambil menghirup udara pegunungan yang begitu sejuk walaupun di siang hari. Dari atas sini ia dapat melihat lembah-lembah di bawah sana yang mengkilat terkena sinar matahari. Ia merogoh kantong tasnya, mengambil botol minum.

Setelah meneguk beberapa tetes air, ia kembali menoleh ke arah teman-temannya. Namun, tidak satupun dari mereka tampak. Baekhyun segera berjalan kembali menyusul teman-temannya. Ia berjalan lurus menyusuri jalan setapak, sambil terus mencari teman-temannya yang lain. Taklama kemudian, tibalah ia di sebuah pertigaan. Ada dua jalan ke kiri dan ke kanan. Sialnya ia lupa membawa peta. Sekarang ia tidak tahu harus pergi ke jalan yang mana. Ia berpikir beberapa saat, kemudian ia memutuskan untuk mengikuti instingnya untuk memilih jalan di sebelah kanan.

 

Sekarang sudah menunjukan pukul 7 malam, Jong In, Kyung Soo, Sehun, dan Joon Myeon telah tiba di tempat perkemahan. Mereka menurunkan ransel mereka, Jong In menghitung jumlah anggota rombongannya. Ia mengernyit ketika ia tidak mendapati Baekhyun.

“Dimana Baekhyun?” tanyanya.

“Dia dibelakang ku-“ Sehun menoleh ke belakangnya, namun tidak ada seorang pun disana. Keempat cowok itu mulai panik, mereka mulai meneriaki Baekhyun. Namun sosok itu tidak juga nampak sementara hari sudah semakin gelap. Mereka memutuskan untuk mencari Baekhyun.

 

Sudah hampir gelap, Baekhyun tidak kunjung menemukan teman-temannya. Matahari sudah lenyap ke peraduannya. Baekhyun menyalakan senternya, udara pegunungan yang dingin mulai menusuk tulang. Ia berteriak memanggil nama keempat teman-temannya tapi tidak ada yang menyahut. Ia mulai ketakutan sekarang.

“Jongin-ssi! Kyung Soo-ssi! Sehun-ssi! Jun Myeon-ssi!” ia terus berteriak.

Tiba-tiba penerangannya perlahan meredup, ia baru teringat bahwa ia belum sempat mengganti batrai santer. Santer itu pun mati kini ia tidak memiliki penerangan apapun. Sedangkan hari sudah semakin gelap. Baekhyun terus berjalan dengan rasa takut yang teramat sangat. Karena kuranganya penerangan Baekhyun tidak dapat menyadari sebuah lubang besar berada tak jauh dari kakinya. Dan tiba-tiba…

“BRUKK!!”

Ia terjatuh kedalam lubang itu. Baekhyun dapat merasakan nyeri di pegelangan kaki kirinya. Tiba-tiba saja terdengar bunyi guntur dan hujan merembes dari langit dan membasahi seluruh badan Baekhyun. Kini cowok berperawakan mungil itu kuyup dengan air hujan, ia meringkuk seraya bersandar pada tebing.

Jong In bertariak frustasi memanggil Baekhyun, sementara hujan turun dengan deras. Jun Myeon menyarankan agar Jong In menghubungi petugas resort pegunungan. Jong In menurut dan segera menghubungi petugas resort dengan walkie talkie yang di berikan pamannya tadi siang.

 

Seorang pria tinggi berambut blonde bersikeras untuk mendaki gunung di malam hari, apa lagi mendengar bahwa salah satu pendaki di kabarkan hilang. Ia semakin bersikeras untuk mendaki.

“Park Chanyeol-ssi! Anda tidak bisa mendaki di malam hari! Terlalu berbahaya!” larang seorang petugas.

“Tidak! Teman sekamar saya dalam bahaya saya harus menyelamatkannya!” tanpa menghiraukan larangan pengelola resort, ia berlari menembus hujan. Firasatnya benar-benar buruk sekarang. Setelah mendapat kabar dari Luhan bahwa Jong in dan kawan-kawan akan mendaki gunung ini, ia segera menyusul. Dengan perbekalan seadanya, karena ia memiliki firasat buruk tentang Baekhyun.

 

“Tolong!! Tolong!!”

Baekhyun mengeratkan jaketnya yang sudah basah dan terus bertariak. Wajahnya berubah pucat, ia menangis. Sekarang ia benar-benar merasa merindukan Park Chanyeol.

 

Chanyeol tiba di pertigaan, karena terlalu terburu-buru ia tidak sempat meminta peta kepada petugas. Kini ia terjebak di tengah hujan di tengah-tengah pertigaan. Ia berpikir sejenak, tiba-tiba ia mendengar suara teriakan di sisi sebelah kanan. Instingnya mengatakan bahwa itu adalah teriakan Baekhyun. Ia segera berlari ke sisi sebelah kanan.

“Byun Baekhyun!!! Baekhyun-na!!!” Teriaknya. Ia terus berlari sementara hujan semakin deras. Ia mengarahkan senternya ke segala arah seraya berteriak memanggil nama Baekhyun.

“Tolong!!” Teriakan itu kembali terdengar dan semakin dekat. Chanyeol terus berlari panik, mencari-cari sumber suara hingga ia tidak memperhatikan langkahnya dan….

“BRUKKK!!” Ia terjatuh ke dalam lubang, kepalanya membentur ujung batu hingga membuat bercak merah di pelipisnya.

“Aw!” Chanyeol meringis memegangi pelipisnya yang terluka. Ia menyalakan kembali senternya dan mengedarkannya ke sekeliling. Sinar senter itu menangkap sosok pria mungil meringkuk dan bersandar pada tebing. Chanyeol segera menghampirinya.

“Baekhyun-na!! Sadarlah!!” Chanyeol mendapati Baekhyun telah pingsan. Badannya basah kuyup, suhu badannya pun sangat panas. Bibir mungilnya membiru wajahnya putih pucat dan badannya bergetar.

Chanyeol melihat kesekitarnya, berusaha mencari jalan keluar. Namun lubang ini terlalu curam, sangat sulit untuk di panjat dari bawah, butuh orang lain di atas sana untuk menarik mereka berdua keluar. Chanyeol memegang dahi Baekhyun yang panas, ia memeluk namja mungil itu dan mendekapnya kuat.

***

Sinar Matahari pagi menyeruak dari sela-sela pepohonan. Chanyeol terjaga di tatapnya Baekhyun yang masih mengeluarkan keringat dingin. Tiba-tiba ia mendengar suara teriakan yang memanggil nama Baekhyun. Ia melepaskan pelukannya dari Baekhyun dan berdiri untuk mencari sumber suara.

Chanyeol melambai pada Kyung Soo yang berada tidak jauh dari posisinya. Kyung Soo segera berteriak memanggil teman-temannya yang lain. Kemudian mereka dibantu oleh petugas resort, mengevakuasi Baekhyun yang sedang demam tinggi.

 

“Kenapa kalian bisa meninggalkan Baekhyun?!” teriak Chanyeol pada keempat temannya. Kini mereka telah berada di perkemahan.

“Maafkan kami,” Jun Myeon menunduk.

“Kami tidak menyadarinya. Tiba-tiba saja Baekhyun menghilang,” tambah Sehun.

“Argh!” Chanyeol berteriak frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.

“Demamnya tinggi sekali, dia tidak mau minum obat,” Kyung Soo tiba-tiba keluar dari tenda. Chanyeol merenggut obat di tangan Kyung Soo dan masuk ke dalam tenda.

“Park Chanyeol?” Gumam Baekhyun. Walau tidak sepenuhnya sadar ia dapat merasakan kehadiran namja itu.

“Ayo minum obat!” perintah Chanyeol seraya menyodorkan obat itu kepada Baekhyun. Namun, Baekhyun menepis tangannya hingga obat itu terjatuh entah kemana.

Chanyeol memungut obat itu lagi. Di ambilnya segelas air minum kemudian di masukannya obat itu kedalam mulutnya bersamaan dengan air. Ia menutup kedua mata Baekhyun dengan telapak tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memegangi dagu Baekhyun. Dengan sekali gerakan ia memasukkan obat itu dari mulutnya ke mulut Baekhyun hingga benda itu tertelan sempurna oleh Baekhyun. Baekhyun bisa merasakannya, di dorongnya tubuh Chanyeol dengan seluruh tenaganya yang tersisa.

“Apa yang kau lakukan?!” Teriaknya dengan suara parau.

“Aku membantumu minum obat.” Jawab Chanyeol. Baekhyun melemparinya dengan semua benda yang ada di dekatnya.

“Pergi kau!” teriaknya.

“ Di saat-saat seperti ini kau masih bisa berteriak.Ck!” gumam Chanyeol sebelum pergi, namun Baekhyun masih bisa mendengarnya.

***

Baekhyun meringkuk di kasurnya sambil mendengarkan musik dari earphone yang di sankutkan di telinganya. Hal ini sering ia lakukan karena Chanyeol kerap mengoceh tidak jelas sebelum tidur, namun hari ini sunyi sekali. Baekhyun mengecilkan volume mp3nya dan berbalik menghadap kasur Chanyeol. Namja itu sedang tidur membelakanginya dengan tenag tanpa ada ocehan seperti biasanya.

Ke esokan harinya pun begitu, biasanya Chanyeol betah sekali berlama-lama di kamar mandi, namun hari ini ia hanya berada di kamar mandi tidak lebih dari sepuluh menit. Dan setelah Baekhyun selesai mandi ia sudah pergi ke sekolah tanpa berpamitan. Hal-hal janggal yang terjadi belakangan ini cukup membuat Baekhyun penasaran, apa yang terjadi pada Park Chanyeol yang berisik itu?

 

Kim Sonsaengnim memasuki kelas di warnai dengan suara sepatu hak tingginya yang khas. Semua murid duduk di kursinya masing-masing walaupun masih ada beberapa yang ribut karena memang mereka semua tidak bisa tenang.

Noran High School akan mengadakan festival tahunan dimana setiap kelas di wajibkan membuka stan di festival tersebut. Setiap tahun kelas 2-2 akan membuka stan café. Hari ini wali kelas Kim Sonsaengnim akan membagi tugas kepada setiap muridnya. Seperti tahun sebelumnya Chanyeol, Yi Xing, dan Kyung Soo selalu terpilih menjadi barista.

Baekhyun menoleh pada Chanyeol saat Kim Sonsaengnim memberikan tugas itu pada namja disebelahnya. Chanyeol hanya menanggapinya dengan diam dan tampak tak berselera sama sekali dengan festival itu.

Sama halnya dengan tahun-tahun sebelumnya di festival tahun ini mereka juga akan mengadakan kontes ‘Miss Noran’ dimana di acara tersebut masing-masing kelas harus menyerahkan seorang wakil untuk menjadi calon Miss Noran. Karena sekolah mereka adalah sekolah khusus laki-laki maka calon Miss Noran harus di dandani menjadi wanita dan setiap calon harus menunjukan keahliannya. Semua murid kelas 2-2 sepakat memilih Luhan sebagai wakil kelas mereka karena Luhan memang sangat manis seperti perempuan, wajahnya kecil dan badannya yang kurus membuatnya semakin mirip seperti gadis remaja pada umumnya.

***

Noran Festival 2013

“Baekhyun-ssi! Tolong kau antarkan pesanan ini ke meja nomor 2!” perintah Yi Xing pada Baekhyun. Baekhyun menurut dan mengambil dua buah gelas bubble tea dan meletakannya di nampan, tak lupa ia menyertakan dua buah sedotan dan dua lembar tisu.

Ia menghampiri meja yang di maksud oleh Yi Xing dan meletakan dua buah gelas bubble tea itu di meja. Tanpa di sadarinya ada seorang pengunjung tampak buru-buru dan berlari hingga tak sengaja menabraknya. Baekhyun menjatuhkan pesanan itu hingga mengotori baju seorang wanita.

“Maaf, maafkan aku.” Baekhyun meminta maaf atas kesalahannya dan bermaksud membantu pelanggan wanita itu membersihkan bajunya. Namun wanita itu malah marah-marah dan berteriak padanya.

Chanyeol yang melihat itu semua dari balik meja baristanya langsung menghampiri Baekhyun. Baekhyun tidak dapat melakukan apapun selain menunduk dan mengucapkan maaf seraya mendengarkan wanita itu marah-marah.

“Hey kau! Dia sudah meminta maaf, jika tidak berniat membeli di café kami pergilah ke tempat lain!” ucapnya pada wanita itu. Wanita itu tidak mengatakan sepatah katapun ia pergi begitu saja bersama teman laki-lakinya.

Baekhyun tertegun mendengar Chanyeol membelanya. Setelah wanita itu pergi Chanyeol juga pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Baekhyun. Ia pergi begitu saja meninggalkan Baekhyun yang tertegun.

‘Ada apa dengan orang itu?’ Pikir Baekhyun dalam hati.

 

Sudah menunjukan pukul 7 malam, tandanya acara pemilihan Miss Noran akan segera dimulai. Luhan sedang sibuk bersiap-siap bersama kontestan lain. Tao membantunya merias wajah. Kontes akan dimulai sekitar satu jam lagi. Setelah Tao selesai memoleskan make up ke wajah mungil Luhan, Luhan beranjak dan bersiap untuk mengganti kemeja sekolahnya dengan pakaian yang telah di siapkan.

“Tao, kau lihat pakaianku?” tanya Luhan pada Tao saat mendapati pakaiannya tidak ada di gantungan.

“Tadi aku lihat Kris meletakannya disana,” Tao menghampiri Luhan yang tampak panik.

“Mungkin tertinggal di atas, aku pergi sebentar ya.” Luhan pamit meninggalkan Tao yang tampak bingung.

 

Setelah mengambil pakaiannya yang masih tertinggal di ruang kelas, Luhan segera kembali ke festival. Ia berlari terburu-buru menyusuri koridor dan menuruni tangga. Namun, tanpa di duga lampu di tangga mati, mungkin karena sudah lama tidak ganti. Tiba-tba ruangan itu menjadi gelap. Luhan tidak bisa melihat langkahnya hingga….

“BRUUUK!!”

Ia terpeleset dan terguling di tangga hingga membuatnya pingsan.

 

“Mana Luhan?” tanya Kris pada Tao ketika tidak mendapati Luhan di ruang make up.

“Mengambil pakainnya di atas,” jawab Tao polos.

“Aish, Sehun! Cepat cari Luhan!” perintah Kris pada Sehun. Sehun langsung menurut dan mencari Luhan.

 

“Luhan-na!!!” pekiknya saat mendapati Luhan pingsan di bawah tangga menuju kelas mereka. Sehun segera memapah Luhan dan berteriak mencari pertolongan.

 

Luhan meringis memegangi pergelangan kakinya yang terkilir. Semua murid kelas 2-2 memenuhi klinik sekolah setelah mendengar Luhan terjatuh dari tangga.

 

“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” ucap Jun Myeon ia melirik Kris si ketua kelas yang tampak sibuk berpikir. Kris memandangi setiap murid kelas 2-2 di ruangan itu. Kemudian seakan-akan telah mendapat ilham dari Tuhan saat melihat Baekhyun di pojok ruangan ia memanggil Baekhyun.

“Baekhyun-na, sebagai laki-laki kita harus bertanggung jawab, benarkan?” ucapnya. Baekhyun mengernyit. Ia melirik kedua tangan Kris yang ada pundaknya.

“Baekhyun-na, tolong gantikan Luhan.” ucap Kris kemudian. Baekhyun terperangah.

“Ne? Maksudmu?”

“Kau gantikan Luhan di kontes Miss Noran, please!” Pinta Kris dengan sangat. Karena jika kelas mereka tidak mengirimkan wakil, mereka semua akan dihukum selama setahun untuk membersihkan sekolah.

“Please!” ucap seluruh murid 2-2 kompak. Mereka menatap Baekhyun penuh harap.

“Tapi aku-“

“Sudah tidak ada waktu lagi, ayolah, hanya satu hari ini saja.” Pinta Kyung Soo. Akhirnya Baekhyun mengangguk pasrah. Semuanya menghela nafas lega dan segera membawa Baekhyun ke festival.

 

“Hadirin! Tibalah kita ke acara yang paling di tunggu! Yang paling hot! Dan yang paling dinanti-nantikan! MISS NORAN!!!” teriak MC acara dengan bersemangat di sambut oleh teriakan antusias para penonton yang rata-rata pengunjung wanita.

“Langsung saja! Tanpa basa-basi saya akan memanggil kontestas pertama! Dari kelas 1-1 Kim Sung Jong!!!”

 

Riuh suara penonton dapat terdengar sampai keruang make up. Keringat dingin tak henti-hentinya mengucur dari dahi Baekhyun. Tak pernah di bayangkan sebelumnya ia mengenakan pakaian wanita di hadapan khalayak ramai. Baekhyun sibuk merutuki dirinya yang bersedia menerima permintaan untuk menjadi kontestan Miss Noran. Sementara temannya yang lain sibuk mendandaninya.  Baekhyun menoleh ke kiri dan ke kanan mencari sosok Roommate-nya yang berisik. Namun, tak tampak sosok Chanyeol sama sekali diruangan ini.

 

“Baiklah!! Sekarang kita panggilkan kontestan terakhir dari kelas 2-2! Kita sambut Byun Baekhyun!!!!” teriak MC di panggung.

Baekhyun memegangi nadanya karena gugup. Ia tak kunjung melangkahkan kaki padahal namanya sudah di sebut.

“Cepat keluar!!” Bisik Kris. Namun, Baekhyun tetap bergeming. Tanpa pikir panjang Kris langsung mendorong Baekhyun hingga ke depan panggung.

Baekhyun melangkah canggung maju ke depan panggung di sambut dengan teriakan riuh penonton. Jujur ia merasa sangat tidak nyaman dengan rok sepan mini dan sepatu hak tinggi ini membuatnya susah berjalan. Wig panjang berwarna coklat kayu ini membuat kepalanya gatal. Tanktop bling-bling pilihan Sehun ini juga membuat gatal. Dan dengan pakaian heboh ini ia berdiri di hadapan ratusan pasang mata yang menantikan pertunjukan heboh darinya.

“Tunjukan! Tunjukan! Tunjukan!” teriak para penonton kompak. Baekhyun tersikap, mendadak ia menjadi lebih nervous dari sebelumnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia tidak mempunyai pengalaman apapun tampil di depan orang banyak sebelumnya.

Tiba-tiba Chanyeol naik ke atas panggung. Ia merebut microphone milik MC dan berteriak menyapa penonton dengan suara bassnya yang khas.

“A-Yo! Whats up!!” Chanyeol mulai melakukan beatbox sambil berjalan menghampiri Baekhyun yang berdiri bingung di tengah panggung.

Jong In pun juga ikut naik keatas panggung. Mulai melakukan gerakan dance-nya yang keren hingga membuat seluruh pengunjung terteriak histeris. Baekhyun menoleh canggung ke pada kedua teman sekelasnya ini. Ia tersenyum ketika Jong In melakukan kesalahan saat menari, hal itu membuatnya lebih baik. Kemudian ia mulai bernyanyi mengikuti alunan beatbox dari Chanyeol. Ia menyanyikan lagu dari G.O.D berjudul One Candle sambil sedikit menari menirukan Kai. Para penonton pun ikut menari dan bertepuk tangan. Seluruh murid kelas 2-2 ikut naik keatas panggung dan menari bersama Jong in, Baekhyun dan Chanyeol.

Melihat semua teman-teman sekelasnya naik keatas panggung membuat Baekhyun menyadari bahwa ia tidak sendirian ia memiliki teman-teman yang baik dan selalu mendukungnya. Baekhyun melirik Chanyeol di sampingnya. Ternyata Chanyeol juga sedang menatapnya. Ketika mata mereka bertemu Chanyeol tersenyum begitu juga Baekhyun. Setelah pertunjukan itu berakhir mereka semua bergandengan tangan dan menunduk hormat kepada penonton.

***

Band The First mengakhiri pertunjukan mereka dengan sukses. Café itu penuh sesak dengan murid-murid kelas 2-2 yang datang menghadiri pertunjukan anniversary band milk Chanyeol dan kawan-kawan tersebut.

Baekhyun duduk bersama dengan teman-teman sekelasnya yang lain sambil meneguk segelas strawberry smoothie. Chanyeol menghampiri kerumunan teman-temannya itu sambil memeluk mereka satu per satu.

“A-Yo! What’s up guys!” sapanya. Kemudian ia mengambil tempat duduk di sebelah Baekhyun. Sambil merangkul teman sekamarnya itu ia bersulang.

“Untuk Park Chanyeol!” teriak mereka kompak.

“Untuk Byun Baekhyun!” teriak Chanyeol. Baekhyun langsung mencubit lengannya.

“Benar! Untuk Baekyeol! Mari bersulang!” teriak Jun Myeon.

Setelah pertunjukkan malam itu kelas 2-2 lebih sering menghabiskan waktu bersama. Walaupun Baekhyun tidak berhasil mendapatkan gelar sebagai Miss Noran mereka tetap merayakannya.

“Yak! Kenapa kau mengacuhkan ku waktu sebelum festival?” Baekhyun berbisik pada Chanyeol.

“Kau merindukanku?” Goda Chanyeol. Baekhyun menjitak kepalanya.

“Aw! Haha! Sebenarnya waktu itu aku hanya mengetesmu saja, ternyata berhasil!” Chanyeol tertawa lebar sementara itu Baekhyun memukulinya.

“Awas kalau kau melakukannya lagi! Park Chanyeol!!”

Setelah festival Chanyeol dan  Baekhyun menjadi teman akrab. Mereka bahkan mejadi couple paling terkenal di Noran High School. Sejak saat itu juga mereka sering menghabiskan waktu bersama. Baekhyun menyadari sesuatu bahwa tidak bisa menilai seseorang hanya dari luarnya saja, walaupun Chanyeol itu pecicilan, berisik, dan menyebalkan tapi sebenarnya dia adalah pribadi yang baik dengan caranya sendiri.

The End

 

Iklan

39 tanggapan untuk “Noisy Roommate (Baekyeol Story)

  1. Sumpah, ff ini keren banget!!!! >< bahasanya tertata banget, alurnya juga ngalirnya pas, nggak kecepetan, nggak terlalu lambat. Pokoknya keren! Daebak! Keep writing! ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s