Oh My School! #4

Title                       :               Oh My School!

 

Author                  :               Syiff97

 

Genre                   :               -Fluff/Romance

-Friendship

-Teen-Life (?)

 

Length                  :               Chapter

 

Main Cast            :               -Hwang Miyoung

-Luhan

-Kai/Kim Jongin

 

Another Cast     :               -Seo Sangmi

-Kris

-Three Glam Girls (Han Hyojung, Meng Jia, Song Qian)

-Lay/Zhang Yixing

 

Support Cast      :               -EXO Member

-Sment Family

 

Rating                   :               PG-13 (i guess -_-)

 

Chap 4                  :               “Another Tragedy”

 

 

Kai-Mi

 

 

 

 

Author POV

 

Hyojin,Jia, dan Qian melangkah menuju locker mereka. Layaknya charlie’s angels, mereka berjalan berdampingan dan mengedipkan mata mereka kearah segerombolan murid-murid laki-laki yang menggoda dan bersiul kearah mereka. Tidak lupa juga ketiga primadona itu melemparkan kecupan-kecupan diudara. Layaknya Song Hye Gyo di red carpet, mereka melambai-lambai genit, yang dibalas dengan tawa para laki-laki dikoridor.

 

Sesampainya mereka di depan locker mereka, mereka mulai memasukkan angka yang tepat untuk membuka kunci locker tersebut.

 

 

“girlssss~ dalam hitungan ketiga! One… two… three!”

 

Tepat dengan hitungan ketiga, mereka membuka pintu locker bersamaan.

 

 

“KYAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!”

 

Jeritan ketiga primadona itu mengundang rasa penasaran. Mereka pun berbondong-bondong mendekati locker ketiga gadis itu.

 

Ternyata locker ketiganya dipenuhi dengan sampah. Foto-foto yang mereka tempel di pintu locker dicoret-coret dan dituliskan dengan kata-kata yang menyakitkan. Bahkan terdapat surat yang menyedihkan diketiga locker tersebut, yang menyebutkan segala kejelekan yang kejam.

 

 

“siapa yang melakukan ini????” jerit Jia kesal.

 

Gigi Hyojin bergemeretak begitu membaca suratnya. Wajahnya memerah.

 

 

“Gadis itu tidak tau siapa yang ia hadapi. Cih!!!”

 

 

Seo Sangmi POV

 

Taman sekolah adalah tempatku dalam mencari ide untuk mengerjakan tugas desain. Disini aku bisa dapat berbagai macam insporasi karena udaranya yang sejuk dan tempatnya yang nyaman. Spot favoritku adalah bangku yang berada dipojok. Disana aku tidak akan terganggu dengan kegaduhan murid-murid disaat istirahat tiba.

 

Dan disinilah aku sekarang, berjalan menuju bangku taman didekat pohon mahoni itu.

 

Sesampainya ditaman, dapat kulihat beberapa anak berkumpul mengerjakan tugas bersama. Ada yang memakan bekal yang dibawa dari rumah, ada pula yang beberapa pasang ‘lovebirds’. Sungguh aneh. Sekolah kan untuk menuntut ilmu, bukan untuk berpacar-pacaran. Mana mereka berpeluk-pelukan seperti itu lagi. Sungguh menggelikan.

 

Kuarahkan pandanganku ke bangku panjang favoritku itu.

 

Lho? Ada orang??

 

Merasa kesal tempat favoritku digunakan orang lain, aku segera menghampiri anak laki-laki yang merebahkan tubuhnya disana. Begitu melihat wajahnya, aku menganga lebar.

 

Kai??? Si cassanova itu? Untuk apa dia disini?

 

 

“duduk saja, aku tidak akan menganggu.” Ujarnya tanpa membuka mata sama sekali.

 

Ku telan ludahku dengan susah payah. Mistis sekali sih anak ini -_-

 

Akhirnya dengan terpaksa, aku duduk di bagian yang tidak ia tidur. Tepat berada di sebelah kepalanya. Rambut hitamnya terlihat halus. Tulang rahangnya membuat wajahnya terlihat tegas. Bibirnya tebal, mengundang gadis-gadis untuk mencicipinya. Tampan…

 

Eh? Apa sih yang aku pikirkannnn?!!

 

Fokus Sangmi… fokus. Kau ini hanya harus mengerjakan tugas desainmu, lalu cepat-cepat pergi dari hadapan playboy ini.

 

Ku keluarkan alat gambarku dan mulai melukis di sketchbook-ku. Tak dapatku elak bahwa sesekali aku memang melirik insan yang tertidur disebelahku itu. Entah kenapa pikiranku mulai melayang kemana-mana. Tanpa sadar, tanganku bergerak melukisnya.

 

 

“do you keep secret?”

 

 

Tanganku berhenti sebentar, menatapnya bingung.

 

 

“eh?”

 

 

“i take that as yes. Dengarkan ceritaku…” ucap Kai tanpa mendengar jawabanku.

 

Enggan melawan perkataannya, aku memutuskan untuk mendengar saja.

 

 

“aku menyayanginya. Bahkan sangat. Maka dari itu, aku bersumpah, dalam tiap detik di hidupku, aku akan melindunginya, memerhatikannya, dan menjaganya.” Ujarnya sungguh-sungguh.

 

Matanya terbuka, menatap dedaunan yang bergemerisik karena tiupan angin. Kembali, tanganku melukis dirinya. Tidak kulupakan satu garispun. Entah kenapa, ia terlihat sangat menarik dengan tampilan seperti ini. Tidak seperti Kai sang cassanova yang biasa ku kenal.

 

Ralat. Tidak seperti yang ‘semua orang’ kenal.

 

 

“menghabiskan waktu bersamanya selama bertahun-tahun membuatku mengerti dirinya, membuatku mengenali dirinya. Begitu juga sebaliknya.”

 

Seulas senyum muncul dibibir tebal laki-laki itu. Senyum yang begitu tulus. Senyum yang begitu ringan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku melihat Kai tersenyum seperti ini. Well…. tidak munafik, kadang.. aku memperhatikannya. Wajarkan memperhatikan lawan jenis yang menarik?

 

 

“tapi hari itu, semua berubah.” Senyumnya hilang, berganti dengan amarah.

 

Mencoba mencairkan suasana, aku melemparkan sedikit lelucon. “sejak negara api menyerang?”

 

Ia membalasnya dengan senyuman sinis.

 

 

“well…. sejak ia menghilang tanpa jejak.”

 

 

“eoh?”

 

 

“ia meninggalkanku. Ia tidak ada dikamarnya. Ia tidak ada di ruang membaca. Ia tidak bersembunyi disudut taman kota. Ia tidak ada. Ia membawa semuanya pergi. Meninggalkanku sendirian. Penuh tanda tanya. Aku memutuskan untuk menunggu. Namun ia tidak juga kembali. Rasanya sangat sakit hingga aku mencoba untuk melupakan semuanya. Dan ketika aku berhasil..” Kai menggantung kalimatnya.

 

 

“ia muncul dihadapanku.”

 

Tepat dengan berakhirnya kalimat beruntun Kai, gambarku selesai. Kutatap Kai yang mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Rahangnya mengeras. Mendengar ceritanya membuatku sedikit iba. Apa orang ini begitu berpengaruh untuknya?

 

 

“Kai,”

 

Ia menengadah, menatap mataku seakan menelusuri tiap sudutnya.

 

Kuberikan sobekan kertas yang berisi gambarku tadi kepadanya. Begitu melihat gambar itu, Kai terkejut. Ia menatapku lagi.

 

 

“Kau terlihat lebih menyenangkan ketika kau membuka topengmu seperti ini. Mungkin kau tidak tau namaku, bahkan tidak mau tau, tetapi aku senang dapat menjadi orang yang kau percaya untuk mendengar ceritamu.  Aku bukanlah orang yang bisa menyelesaikan masalah, namun ada satu saran. Temuilah dia dan berbicara dengannya. Siapa tau ia bisa menjelaskan sesuatu. 5 menit lagi istirahat berakhir, sebaiknya aku didalam kelas. Annyeong Kai.”

 

Tanpa menoleh lagi, aku berjalan menjauhi spot favoritku. Pipiku memanas.

 

Apa aku baru saja berbicara dengan Kai hari ini??

 

 

Author POV

 

Menghindari hal yang kemarin terjadi, Miyoung memilih bersembunyi diperpustakaan. Ia membaca serial sherlock holmes dengan serius. Matanya menelusuri tiap kata dengan tajam. Ia terlihat tenggelam dengan bacaannya sendiri.

 

Sampai akhirnya seseorang menarik bukunya.

 

Miyoung terlihat kesal, ia menggembungkan pipinya dan menatap orang itu. Dalam hitungan sepersekian detik, air muka wajah gadis berambut merah itu berubah drastis. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

 

 

“ikut aku.”

 

 

Miyoung POV

 

Mereka mengunci pintunya. Hal ini membuatku mati rasa, ketakutan.

 

 

“kau kan yang mengotori lockernya… IYA KAN??!!” jerit Hyojin didepan wajahku.

 

Sekali lagi aku menggeleng. Air mata mengalir dipipiku.

 

Untuk kesekian kalinya, Hyojin mendorong tubuhku. Kali ini aku terjatuh. Perlahan aku menyeret tubuhku mundur sehingga aku dapat merasakan dinginnya lantai.

 

 

“mau berapa kali sih kau berbohong?!!!” Hyojin menunduk dan menarik kerah bajuku.

 

Qian dan Jia berdiri disamping Hyojin dengan senyum licik mereka. Keduanya sesekali menendangi kakiku yang terjulur kedepan.

 

 

“bukan aku…” ujarku terisak.

 

Wajah Hyojin memerah. Ia pergi meninggalkanku masuk kedalam kamar mandi. Kukira ini akan berakhir, ternyata ia masuk kedalam hanya untuk mengambil se-ember besar air.

 

Dan… SPLASHH~~~

 

Lagi-lagi aku harus merasakan mandi dengan baju lengkap.

 

Tunggu… kenapa sangat dingin??!!

 

Omona ini air es!!!

 

Mataku terbuka menatap Hyojin dan kedua babu kecilnya. Mereka menertawai tubuhku yang menggigil. Airnya begitu dingin. Bahkan aku dapat merasakan potongan-potongan kecil es batu yang terlempar kearahku.

 

 

“kenapa?? Dingin? Iya dingin??” tanya Hyojin meledekku.

 

Tiba-tiba Qian membisikkan sesuatu ketelinga Hyojin. Kemudian Hyojin tersenyum licik. Ia mendekatiku lagi dan menarik jas sekolahku paksa. Jia, mengeluarkan gunting dari saku jasnya dan memberikannya ke Hyojin.

 

Mataku membelalak begitu Hyojin menggunting jasku dengan asal. Ia menatapku dengan senang lalu melemparkan kain yang sudah tidak berbentuk itu kearah wajahku.

 

 

“jangan coba-coba melawan three glams, gadis jelek. Dan satu lagi, jauhi Kai oppa!”

 

 

“dan Lay gege!”

 

 

“dan Chanyeol oppa!!” Jia melempar sampah yang ia bawa ketubuhku.

 

Merekapun keluar dari toilet wanita dengan tampang bangga.

 

Sementara aku… disini… terdiam…

 

Oh Tuhan, ini terlalu dingin…

 

Kemudian nafasku mulai naik turun dengan tidak normal.

 

Oh tidak… kenapa harus kambuh disaat seperti ini??!!!!

 

 

Sangmi POV

 

Aissshhhh apa-apaan sih?!! Kenapa toiletnya dikunci?!!!

 

Kutunggu sebentar, mungkin saja sedang dibersihkan.

 

Tapi kenapa lama sekali?!!!

 

Terdengar suara kunci yang terbuka. Oh akhirnya~

 

Keluarlah ketiga badut aneh yang sering menyebut-nyebut diri mereka sebagai ‘three glams’. Oh jadi mereka yang dari tadi menginvasi toiletnya? Astaga…. apa berdandan itu perlu waktu selama ini? Dasar gadis-gadis tak punya masa depan =_=

 

 

“Minggir!!” Hyojin mendorong bahuku sehingga aku mundur beberapa langkah.

 

Aku hanya bisa menatap ketiganya sinis. Eh? Kenapa mereka tertawa cekikikan seperti nenek sihir begitu? Ah daripada memikirkan hal itu, lebih baik aku buru-buru menyelesaikan urusanku ditoilet dan kembali kekelas.

 

Kakiku melangkah dengan cepat kedalam salah satu bilik toilet tanpa melihat kanan-kiri. Aku bernafas lega begitu selesai dan menekan tombol flush. Keluar dari toilet, aku menuju wastafel dan mencuci tanganku. Saat hendak mengambil sabun untuk cuci tangan, kulihat seseorang duduk diujung toilet dengan baju basah dan beberapa kain yang bertebaran. Oh… ternyata ketiga nenek sihir tadi habis membully…

 

Begitu selesai mencuci tangan, aku menoleh lagi kearah anak itu. Rambut merahnya menutupi wajahnya sehingga aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa anak itu.

 

Eh? Rambut merah?

 

Miyoung???!!!!!

 

Aku berlari mendekati Miyoung dan duduk disebelahnya. Ia menggigil kedinginan dan nafasnya tidak teratur.

 

 

“Miyoungie???? Gwenchana??!!!! Miyoungiee look at me!!! Ini Sangmi!!! Miyoung kau kenapa?? Apa yang mereka lakukan???”

 

Miyoung menatapku dengan tatapan kesakitan. Ia meremas kemejanya. Dadanya terlihat sangat sakit. Aku hampir saja menangis karena tidak tau harus melakukan apa.

 

Sampai akhirnya seseorang memasukkan sebotol alat bantuan pernapasan kedalam mulut Miyoung.

 

 

“Kau??!!!”

 

Laki-laki itu melepaskan jasnya dengan cepat dan memakaikannya ke tubuh Miyoung yang kedinginan. Satu tangannya berkutat dengan alat bantuan pernapasan, sementara tangannya yang lain membantu Miyoung bersandar pada tembok toilet. Kedua tangan Miyoung memegang tangan laki-laki itu dan alat bantuan pernapasan dengan lemas.

 

Sekejap, aku ternganga dengan pemandangan yang ada dihadapanku. Keduanya menatap mata satu sama lain. Si laki-laki menatap dengan tatapan datar walaupun matanya menunjukkan ke-khawatiran, sementara itu, Miyoung menatap si laki-laki tanpa daya. Aku kembali tersadar dari lamunanku. Tidak mau menjadi orang tidak berguna, kulepas juga jasku dan memakaikannya ke tubuh Miyoung sehingga ia merasa lebih hangat. Begitu nafasnya mulai teratur, tangan Miyoung jatuh kembali kelantai. Kuraih tangannya dan kuremas-remas jemarinya. Memberikan kehangatan ke tangannya yang dingin seperti es batu.

 

 

“kau, pegang alat ini, bantu dia bernapas. 5 menit lagi akan datang orang-orang yang akan membantumu.”

 

Aku buru-buru memegang alat itu, menggantikan tangan laki-laki itu yang berdiri, lalu berjalan keluar toilet.

 

 

“yakk!!! Kau mau kemana?” jeritku panik.

 

Ia hanya menoleh sebentar lalu melenggang pergi. Yang bisa kulakukan hanya berdecak kesal. Kualihkan perhatianku ke Miyoung. Aku takut hal yang lebih buruk akan terjadi kepadanya. Apa yang harus aku lakukan??

 

 

“Miyoungie?!!!”

 

Eh? Bukannya itu Luhan, Kris, dan Lay gege?

 

Ketiganya berlari cepat mendekati kami. Walaupun nafas mereka tersengal, Luhan gege buru-buru mengangkat Miyoung dan berlari keluar toilet bersama Kris gege. Sementara itu, Lay gege membantuku berdiri dan kami mengejar Luhan dan Kris gege.

 

 

“apa yang terjadi?” tanya Lay gege bingung.

 

Aku menggeleng dengan mata memerah.

 

 

“entahlah… yang jelas. Ini adalah kerjaaan tiga nenek sihir itu!!!” tukasku hampir menangis

 

 

Luhan POV

 

Aku tersenyum mengelus pipi Miyoung yang tertidur bersandar dadaku. Kakinya menjulur di atas sofa. Aku bersyukur diamond class selalu menyediakan uniform cadangan. Bajunya telah diganti oleh petugas ruang kesahatan dan Sangmi. Setelah kondisinya stabil, aku, Kris, dan Lay membawanya ke Diamond room, ruangan khusus untuk anak-anak berkelas Diamond.

 

 

“Lu, izin untuk melewati jam pelajaran sampai istirahat kedua sudah dibuat untuk kita.” Ujar Lay tersenyum kearahku.

 

Aku membalas senyumnya. “baiklah~”

 

Kuelus rambut halus gadis ini. Cantik. Sungguh cantik. Kenapa ada orang yang tega melakukan hal bodoh kepadanya?

 

 

“jadi.. Sangmi-ssi, menurut kesaksianmu, three glams keluar dari toilet setelah pintunya terbuka, dan kau menemukan Miyoung dalam keadaan seperti ini?” tanya Kris tegas.

 

Sangmi mengangguk cepat. “bahkan saat keluar, aku dapat melihat Hyojin membawa gunting. Lalu mereka tertawa seperti nenek sihir.” Ujar Sangmi dengan nada jijik.

 

Aku, Kris, dan Lay hanya menatap satu sama lain. Kami benar-benar harus melakukan sesuatu.

 

 

“ah ya, ngomong-ngomong, kau hebat juga langsung memberikan alat bantu pernapasan. Dari mana kau mendapatkannya?” tanyaku tersenyum kearahnya.

 

“ah… itu….-

 

 

“ia mendapatkannya dari sakuku.”

 

Sebelum dapat menjawab pertanyaanku, Miyoung memotong ucapan Sangmi.

 

 

“eh? Kau sudah bangun?”

 

Kutatap Miyoung yang terbangun dari tidurnya. Kuelus pipinya yang memerah begitu ia melihatku berada dalam jarak dekat dengannya.

 

 

“yeppeo~” bisikku lembut.

 

Ia menunduk malu, membuatku, Kris, Lay, dan Sangmi tertawa kecil. Neomu kyeopta~~

 

 

“ahh~ Luhan, kita harus memberi ketiga gadis itu pelajaran. Apa yang mereka lakukan sudah melewati batas.” Ujar Lay.

 

Aku mengangguk setuju. Sebelumnya aku tidak pernah semarah ini kepada ketiga gadis itu. Tapi mereka telah melukai gadisku. Melukainya berarti melukaiku. Dan akan ada perhitungan yang jauh lebih keras dari apa yang mereka lakukan.

 

 

“t-tidak perlu!” Miyoung kembali buka suara. Kalimatnya membuat kami heran.

 

 

“wae?”

 

 

“aku tidak mau mencari masalah lagi….”

 

Aku tersenyum simpul dan mengelus pipinya.

 

 

“tidak perlu cemas, untuk berikutnya, aku akan selalu berada disampingmu~” pipinya memerah lagi. Kkk~ jinjja kyeopta.

 

 

“well… tidak bermaksud mengganggu acara cuddling kalian, tapi darimana kau bisa tau Miyoung ada di toilet, gege?” Sangmi bertanya heran.

 

Aku menoleh kearahnya bingung. “bukankah kau yang mengirim e-mail kepadaku?”

 

Raut wajah Sangmi berubah. “aku saja baru tau, bahkan aku tidak memegang ponsel.”

 

Tanganku merogoh saku celana sekolah dan meraih ponselku. Kubuka e-mail yang tadi masuk. Pengirimnya unknown. Kutunjukkan ponselku ke Sangmi.

 

 

“jadi siapa pengirimnya?”

 

 

“dan siapa sih yang sebenarnya mengotori locker ketiga gadis itu?” tambah Lay.

 

Kemudian kami hanya bisa berpandangan. Seseorang pasti dalang dibalik semua ini.

 

 

“kemungkinan besar… salah satu dari anggota exo.” Ujar Kris.

 

 

“mwoya?”

 

 

“selain pengurus fasilitas sekolah dan vice president, orang-orang yang dapat mengakses locker para murid hanyalah exo. Ingat waktu kita mengerjai anak kelas 1 tahun kemarin? Nah.. bisa jadi, salah satu dari antara kita telah mengacak-acak lockernya.”

 

 

“dan cara mengetahuinya hanyalah dengan meminta kejujuran dari masing-masing anggota.”

 

Aku mengangguk setuju dengan perkataan Kris.

 

 

“Lay, hubungi Suho. Katakan padanya apa yang terjadi dan kumpulkan semua anggota exo pada jam istirahat kedua.” Perintahku.

 

Lay mengangguk dan mulai menjalankan tugasnya.

 

 

“dan kau,” ku colek hidung kecil gadis yang sejak tadi berada di pelukanku.

 

 

“i’ll tell the whole school that you’re my girlfriend.” Kuakhiri ucapanku dengan kecupan kecil tepat dibibir mungilnya.

 

Ia menatapku tak percaya, begitu juga dengan Kris, Lay, dan Sangmi.

 

 

“mwoyago??!!”

 

 

==================================to be continued===================================

 

Author’s note

Lagi-lagi SKS -_-

Aduh maaf banget yah reader, author alay ini bener-bener lagi mentok ide T_T

Mohon maaf yah kalo makin gaje T_T

Enjoyy!!

 

Ps: comment needed😉

 

23 thoughts on “Oh My School! #4

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s