Unpredictable Future #2

Tittle: Unpredictable Future (Chapter 2)

Author: Santi Fauzia (@santifauziaa)

Summary:Park Haeyeol adalah gadis yang menyukai Kim Jongin, tetapi mempunyai hubungan yang buruk dan selalu bertengkar dengan sahabat Kim Jongin, Oh Sehun. Apa yang terjadi saat suatu hari Ia dan Sehun terbangun di atap yang sama dan mendapati bahwa mereka sudah menikah dan mempunyai anak?  Check This Out!

Main Cast:

Park Haeyeol

Oh Sehun

Kim Jong In

Support cast:

Park Chanyeol

SeoYura

All member of  EXO

Genre: Romance, Marriage life, Fantasy.

Lenght:

Chaptered

Disclaimer: Semua member exo milik SM kecuali Chanyeol dan Sehun punya author *digebukin exotic* dan cerita ini semuanya murni hasil imajinasi gila author yang terinspirasi akibat liat Sehun di mv History. DON’T COPAS AND DON’T BE PLAGIATOR!

Ps: Anyeonghasehuuun! Author kembali lagi dari kubur setelah chapter 1 yang terakhir kali di post! Akibat mata ngantuk tinggal 1 watt, author salah ngetik genre school life, harusnya mah marriage life soalnya mereka kan ceritanya sekarang udah menikah dan punya Sungyeol. Jadi? JENG JENG! Bakal ada dikit-dikit adegan NCnya! *ketawa mesum bareng sehun*

Eh, eh, author lagi suka banget sama Himchan B.A.P dan Seo In Guk lho *terus kenapa?* follow twitter author kalau mau request FF atau mau cuap cuap sama author  ke @santifauziaa. FF ini chapter 1nya udah pernah dipublish sama exo fanfiction. Eniwei, makasih buat para pembaca yang komen di chapter sebelumnya! *author terharu*

 

unpredictable

 

Haeyeol POV

Baru saja tadi malam aku merayakan ulang tahunku yang ke 18 tapi sebenarnya apa yang terjadi di hadapanku sekarang?

Aku masih belum melupakan saat baru saja tadi aku dan Sehun, tertidur di satu ranjang selain itu aku hanya memakai pakaian yang disebut err… lingerie yang sangat tipis dan transparan sementara sehun topless, ia bilang ia tidak memakai pakaian, tapi lebih baik lewati saja bagian itu karena sekarang di depan kami terdapat anak kecil bernama Sungyeol yang sedang mengaku sebagai anakku dan Sehun yang membuat kami berdua terdiam mencerna semua yang terjadi tiba-tiba.

Rasanya aku ingin pingsan dan kejang-kejang seketika mendengar pengakuan Sungyeol bahwa ia adalah anakku dan Sehun.

Sejak kapan aku bisa menikah dengan Sehun? Dan kenapa… kenapa bisa?

Mataku dan Sehun sama-sama berpandangan dan kami terlalu shock untuk mengatakan sesuatu. Kami berdua terdiam memandang Sungyeol yang sedang berada di pangkuan Sehun.“Appaaa, eommaa.. kenapa diam? Sungyeol lapal…” anak kecil itu menarik-narik baju Sehun, membuat Sehun tersadar akan lamunannya karena terlalu terkejut dengan apa yang terjadi sekarang.

“Sungyeol-ah… benarkah aku ini Appamu? Kau tidak salah orang kan?” pertanyaan Sehun yang kelihatannya masih tidak bisa menerima kenyataan membuat Sungyeol kaget.

“Kenapa Appa beltanya sepelti itu? Sungyeol memang anak Appa! Eomma…” Sungyeol kecil mulai menangis dan menghampiri aku yang masih kebingungan.

“Sungyeollie…” entah mengapa aku memanggil Sungyeol seperti itu, namun aku merasakan perasaan bahwa aku terbiasa memanggil anakku seperti ini. “Jangan menangis ya. A.. A..” tenggorokanku tercekat saat akan mengatakan kata ‘Appa’ yang menandakan bahwa Sehun memang benar adalah suamiku dan itu spontan membuat degupan aneh di jantungku.

“Appa hanya baru bangun tidur saja, jadi ia agak linglung.” Ucapku bohong demi menghibur Sungyeol, Sehun sepertinya menyadari kegugupanku saat memanggilnya Appa, tiba-tiba ia tersenyum miring yang lagi-lagi membuat getaran tidak wajar di dadaku.

Sehun POV

Aku tersenyum saat Haeyeol dengan susah payah mengucapkan kata ‘Appa’ tadi. Hahaha, ia sungguh lucu, terlihat jelas bahwa ia benar-benar gugup.

Aku yang menyadari situasi ikut menghibur Sungyeol. “Ahaha, Appa hanya bercanda Sungyeollie… Jangan marah. Kau memang anak Appa yang tampan.” Aku mengelus rambut anakku yang ternyata sangat lembut. Aku terkaget saat melihat wajah Sungyeol dengan jelas.

Astaga! Wajah anak ini benar-benar mirip denganku!

Berarti ia…

ia memang benar anakku.

Anakku dan Haeyeol.

Aku terus menatap Sungyeol yang sekarang sedang mengusap air matanya dengan punggung tangannya lalu menampakkan wajah cemberut.

Haeyeol POV

Aku terheran melihat Sehun yang menatap Sungyeol dengan tatapan terkejut. Ada apa dengannya?

Sungyeol tiba-tiba berwajah cemberut dan harus ku akui, ia sangat lucu!

Aku yang memang sejak dulu mendambakkan ingin punya adik kecil namun eomma dan appa bilang sudah cukup mereka ‘membuat’ aku dan Chanyeol Oppa, jadi selalu gemas terhadap anak kecil. aku memang ingin punya adik, namun yang kudapat sekarang bukannya adik, melainkan anak. Anakku dan Sehun. Sungguh hadiah ulang tahun yang luar biasa. Dalam arti lain.

“Aigoo, neomu kyeoptaa!!!” aku mencubit kedua pipi ranum milik Sungyeol dengan gemas.

“Eomma, appo!” Sungyeol yang protes karena cubitanku yang terlalu bersemangat akhirnya cemberut kembali, aku langsung melepaskan kedua tanganku dari pipi Sungyeol karena baru menyadari sesuatu.

Sungyeol…

Sungyeol benar-benar mirip dengan Sehun. Wajah cemberutnya dan matanya begitu mirip. Ia seperti Sehun versi 5 tahun!

“Eomma aku lapal! Kenapa eomma dali tadi diam saja?” aku langsung sadar dari lamunanku begitu mendengar pertanyaan Sungyeol.

“Ah, mianhae, Sungyeollie. Tunggu sebentar ya, eomma akan memasak untukmu.”

Aku baru saja akan pergi ke dapur ketika menyadari bahwa suhu di rumah ini begitu panas. Aku menyibakkan rambutku dan tersadar bahwa rambutku semakin panjang. Ku ambil ikat rambut berwarna ungu yang mungkin milikku di atas meja dan mengikat rambutku. Saat aku menoleh, kulihat wajah Sehun memerah menatap… leherku?

“Ya! Kenapa kau menatapku seperti itu?”

Sehun tiba-tiba memalingkan wajahnya yang masih bersemu merah.

“Lihat saja sendiri lehermu.” Jawabnya ambigu.

Aku menjadi penasaran dengan jawaban Sehun, memang ada apa di leherku?

Seakan membaca pikiranku, tiba-tiba Sehun tersenyum nakal kepadaku. “Tapi setelah kau melihat lehermu, jangan menyalahkanku.”

“Apa maksudmu sih?” tanyaku bingung namun Sehun tetap tersenyum nakal membuat perasaanku tidak enak.

“Leher eomma kenapa merah-merah?” pertanyaan Sungyeol membuatku semakin penasaran, aku pun menghampiri cermin besar yang berada di dekat rak buku tak jauh dariku.

Sehun POV

Aku merasakan perasaan bergejolak saat melihat leher jenjang putih milik Haeyeol ternyata dipenuhi oleh sesuatu berwarna merah yang membuat wajahku spontan memanas.

Sebenarnya apa yang kami lakukan waktu tadi malam di masa ini?

Apakah aku yang melakukan hal seperti itu pada Haeyeol?

Tentu saja, Pabo! Kau kan sekarang memang suami Haeyeol, Oh Sehun!

Deg.

Jantungku tiba-tiba berdetak saat mengakui bahwa memang aku adalah suaminya. Suami Park Haeyeol. Park Haeyeol yang selalu bertengkar denganku, bahkan mungkin ia membenciku. Tapi sebenarnya aku punya alasan yang kuat untuk terus menjahilinya dan membuat dirinya jengkel. Alasan yang mungkin tidak akan pernah Haeyeol sadari dan mengerti.

Haeyeol POV

Omo! Apa ini!?

Mukaku langsung memerah seketika melihat sesuatu yang berwarna kemerahan yang berada hampir di seluruh leherku.

“Astaga! Ini… banyak sekali..” ucapku terbata sambil tetap terkejut melihat apa yang berada di sekitar leher dan pundakku. Memang aku tidak pernah melakukan hal seperti ini dengan namja manapun, namun aku pernah melihatnya di komik yang aku baca dan yang berada di leherku sekarang ini adalah Kiss Mark yang sudah pasti dibuat oleh Sehun.

Aigoo! Memang apa yang sudah kami versi dewasa lakukan tadi malam?

Tidak pernah terbayangkan bahwa aku akan melihat kiss mark yang nyata dan itu tercetak jelas di leherku sekarang. Membayangkan apa yang kami lakukan semalam membuatku semakin ingin meledak karena debaran yang terus-menerus tak berhenti kurasakan di dadaku.

Aku menoleh dan terkaget melihat Sehun sudah ada di sebelahku sambil tersenyum jahil, sepertinya ia sudah tahu bagaimana reaksiku sekarang.

“Sehun-ah.. ini…”

“Sudah kubilang jangan salahkan aku.”

“Lalu memangnya ulah siapa ini!? siapa lagi kalau bukan kau?” tanyaku jengkel.

“Itu memang aku yang melakukannya, aku yang di masa depan. bukan aku yang sekarang. Lagipula kau bukan tipeku.” Ucap Sehun enteng.

Namja ini memang tidak berubah. Lagi-lagi namja ini menyebalkan!

“Dasar nappeun namja!” aku berbalik  dan berjalan meninggalkan Sehun, karena tidak melihat lantai, tiba-tiba aku tergelincir bola kecil dan terjatuh.

BRUUUK!

Aku menutup mataku karena takut merasakan sakit kepalaku yang mungkin akan membentur lantai. Namun setelah beberapa detik aku menyadari… kenapa tidak sakit?

Saat aku membuka mataku, ternyata aku sudah ada di pelukan Sehun. Kedua tangan Sehun memelukku begitu erat. Wajahku berada di dada bidangnya membuat jantungku berdebar keras.

Sehun melepaskan pelukannya dan menatapku cemas.

Kutatap wajah namja yang sekarang adalah suamiku. Namja ini ternyata tampan sekali. Bahkan kata tampan pun tidak cukup untuk menggambarkan betapa sempurnanya wajah Sehun. Kedua bola matanya yang berwarna hitam teduh memandangku dengan kekhawatiran yang begitu tersirat jelas. Bibirnya yang tipis berwarna merah membuatku menahan napas.

Pantas saja banyak sekali yeoja yang mengidolakan namja ini. Ia benar-benar manusia yang mendekati kesempurnaan. Jika saja ia tidak mempunyai sifatnya yang menyebalkan yang selalu ia tunjukkan hanya padaku. Yang membuatku heran adalah, mengapa ia hanya menyebalkan padaku saja?

“Kau tidak apa-apa, yeobo?” tanyanya sambil menatapku khawatir.

“Gwenchana. Gomawo Sehunnie…” lagi-lagi panggilan nama sehun spontan meluncur keluar dari mulutku, sama seperti saat memanggil Sungyeol. Tapi tunggu, ada suatu yang ganjil.

Bukankah Sehun tadi bilang yeobo padaku?

“A, apa? Kenapa kau memanggilku yeobo?” tanyaku heran sambil merasakan wajahku memanas.

“Aku, aku juga tidak tahu.” Sehun terlihat salah tingkah dan wajahnya bersemu merah, ia lalu menjilati bibirnya tanda ia gugup. Ah, kenapa aku bisa tahu ia selalu menjilati bibirnya saat ia gugup? Mulai lagi keanehan yang terjadi padaku lainnya sejak berada di sini.

Sehun POV

Seluruh badanku menegang saat melihat Haeyeol hampir terjatuh dan mungkin jika aku tidak langsung berlari mencegah ia jatuh, kepalanya mungkin sekarang sudah membentur lantai dengan sangat keras dan aku sungguh takut itu terjadi.

Aku memeluk tubuh mungil Haeyeol. Wajahnya berada di dadaku, seketika dadaku bergemuruh hebat merasakan deru nafas hangat Haeyeol. Dan saat itu juga, aku merasa tidak mau melepaskan pelukanku dari tubuhnya. Aigoo, ada apa denganku?

Setelah berhasil mengontrol debaran di jantungku, aku pun melepaskan pelukanku dan menatap Haeyeol dengan kecemasan yang entah mengapa tiba-tiba muncul. “Kau tidak apa-apa, yeobo?”

MWO!? Kenapa tiba-tiba saja kata ‘yeobo’ meluncur dari mulutku!?

Saat itu juga aku mengutuki diri sendiri dan getaran bodoh di dadaku yang muncul kembali.

“Gwenchana. Gomawo Sehunnie…” jawabnya pelan. Aku bersyukur sepertinya ia tidak mendengar sebuah kata bodoh yang ku ucapkan tadi. Tapi tiba-tiba ia menatapku heran dan wajahnya bersemu merah. “A, apa? Kenapa kau memanggilku yeobo?”

Jedeeer! Pertanyaan Haeyeol seperti sambaran petir di siang bolong.

“Aku, aku juga tidak tahu” jawabku akhirnya. Memang kenyataannya aku tidak mengerti mengapa bisa mengatakan kata yang selalu ingin kuucapkan pada istri masa depanku nanti. Namun aku tidak menyangka bahwa aku akan mengucapkannya pada Haeyeol yang sudah jelas sering bertengkar denganku saat di SMA.

Keheningan tiba-tiba menyelimuti keadaan kami berdua. Kami saling menatap satu sama lain. Aku menatap Haeyeol yang menatapku dengan pandangan yang tidak terbaca.

Cantik.

Ia sungguh cantik.

Rambut panjang bergelombang berwarna hitam yang tergerai serta kedua bola mata berwarna cokelat miliknya menyihirku untuk tidak dapat mengalihkan pandanganku padanya.

Debaran di dadaku menjadi satu-satunya yang ku dengar di ruangan ini.

Aku harus mengakui bahwa bibir tipis miliknya yang berwarna merah itu sungguh menggoda.

Apa yang baru saja ku pikirkan!? Tidak, tidak. Aku harus segera menghentikan semua hal aneh yang sedang kupikirkan ini.

“Bukankah tadi kau mau memasak? Kasihan Sungyeol ia kan sejak tadi ingin makan.” Aku mengalihkan topik pembicaraan karena tidak tahan lagi dengan perasaanku yang begitu ganjil.

Sebenarnya, aku merasa, jika kami bertatapan lebih lama lagi, aku takut bahwa aku akan melakukan hal yang tidak wajar padanya, yaitu mencium bibirnya yang sudah membuatku hampir lupa diri.

“Ah, kau benar! Lebih baik aku ke dapur sekarang.” Haeyeol bangkit dari posisinya dan saat ia sukses berdiri, aku menggenggam tangannya. Haeyeol tersentak melihat perlakuanku.

“Aku sungguh tidak tahu dengan kiss mark itu. Mungkin itu memang perbuatanku di masa ini, tapi…” Haeyeol memotong ucapanku.

“Gwenchana.” Ia tersenyum lalu aku pun melepaskan tanganku. Ia lalu berjalan ke dapur meninggalkanku yang masih terduduk di atas lantai. Aku bangkit dan melihat-lihat sekeliling rumahku.

Dekorasinya banyak yang berubah dan lebih moderen serta futuristik. Banyak barang berwarna ungu serta cat ruang tamu berwarna lavender yang sudah pasti kesukaan Haeyeol.

Hah? Sejak kapan aku punya komputer merek Apple?

Terdapat pula kertas dan buku novel yang bukan milikku begitu banyak tertumpuk di dekat komputer itu. Apa itu milik Haeyeol ya?

Ku lihat kalender yang ada di dinding. Tahun berapa ya sekarang? Hmm…

Tahun 2024!?

Aku tidak menyangka ternyata kami bisa tiba-tiba terbangun pada 12 tahun mendatang.

Kalau tahun 2012 aku masih berumur 18 tahun, karena sekarang tahun 2024 berarti umurku… 30 tahun!?

Aku masih tidak mengerti mengapa kami bisa berada di masa depan secara tiba-tiba. Apalagi kejadian tadi pagi membuatku merasakan panas di wajahku.

Teringat saat aku membuka mata, kulihat Haeyeol yang memakai pakaian.. umm.. lingerie? Yang aku tau dari eommaku itu, ya, Haeyeol memakai lingerie yang transparan dan tentu saja memperlihatkan pakaian dalamnya yang berwarna merah muda serta… serta… AAAH! AKU TIDAK MAU MENGINGATNYA LAGI!

Kiss mark di leher Haeyeol itu…

Lingerie yang ia pakai…

Serta yang ada di balik lingerienya itu…

AAARGH! SEMUA INI MEMBUATKU GILA!

Mengapa aku menjadi berpikiran mesum seperti ini!? Sejak kapan Oh Sehun menjadi berpikiran kotor hanya karena Park Haeyeol, yeoja cerewet itu!?

Sadarlah, Oh Sehun!

Sehun POV

30 tahun. Aku merasa jadi sudah tua saja. padahal baru kemarin aku bersenang-senang dengan EXO dan merayakan ulang tahun Haeyeol. Ngomong-ngomong dimana para member EXO ya?

Apa mereka juga sudah menikah sama sepertiku?

Kira-kira dengan siapa saja ya mereka menikah?

Aku memukul jidatku karena melupakan seseorang yang sangat penting.

Jongin!

Bagaimana reaksi Haeyeol jika saja Jongin sudah menikah?

Kenapa yang menikah dengan Haeyeol malah aku yang sering bertengkar dengannya dan bukan Jongin, pujaan hatinya?

Masa depan benar-benar aneh. Sungguh tidak dapat diprediksi dan tidak masuk akal.

Haeyeol POV

Aku pergi ke dapur dan membuat Dakjuk kesukaan Yoogeun serta Yangnyeom Tongdak kesukaan Sehun. Tidak tahu mengapa aku bisa mengetahui masakan kesukaan mereka dan tanpa sadar bisa memasak. Padahal seingatku, aku hanya bisa memasak mie instan dan air hangat untuk mandi. Sepertinya aku yang dewasa sudah jago memasak. Aku bersyukur dan khawatir jika aku tidak bisa memasak, Sungyeol dan Sehun bisa busung lapar dan akan makan mie instan setiap hari.

Masih teringat saat tadi Sehun memanggilku dengan ‘yeobo’ yang masih berpengaruh pada debaran di dadaku.

Kenapa ia memanggilku dengan panggilan seperti itu?

Apa ia sama sepertiku yang tanpa sadar memanggil Sehun dengan sebutan Sehunnie?

Aku melihat ke arah ruang tamu, Sehun dan Sungyeol sedang bermain mobil-mobilan hot wheels. Sehun terlihat kekanak-kanakan sekaligus dewasa.

Menyadari sesuatu, aku jadi merindukan Yura. Kemana ya sahabatku yang satu itu? Apa ia masih menyukai Chanyeol Oppa? Apa Yura sudah menikah sama sepertiku?

Lalu aku pun teringat seseorang yang kurindukan. Seorang namja tampan berkulit kecokelatan dan mempunyai senyum termanis yang pernah aku lihat. Namja yang aku sukai selama 4 tahun.

Kim Jongin.

Aku ingin melihat wajah tampan miliknya sekali lagi.

Ingin mendengar sapaannya setiap pagi saat aku berangkat ke sekolah.

Dimana dia sekarang?

Apa ia sudah menikah?

Apa ia…

Aku menjitak kepalaku sendiri. Haeyeol Pabo! Kau sudah menikah dengan Sehun dan masih memikirkan Jongin?

Meski semua ini terjadi secara tiba-tiba dan tidak masuk akal, tapi tentu saja aku tidak punya hak lagi untuk menyukai Jongin apalagi memikirkannya. Di masa ini aku sudah menikah dengan Sehun dan meski dengan berat hati tentu saja yang harus kucurahkan perasaanku adalah hanya kepadanya, bukanlah Jongin.

Aku harus melupakannya.

Aku harus melupakan Kim Jongin, namja yang selalu membuatku serasa melayang saat ia tersenyum padaku, membuat jantungku tidak normal saat ia mengobrol denganku dan ikut merasa senang saat mendengar tawa renyahnya.

Dadaku merasa sesak. Aku mungkin sudah keterlaluan dan sialan jika mengatakan ini tapi…

Kenapa bukan Jongin yang sekarang menikah denganku?

Mengapa malah Oh Sehun, sahabatnya yang menyebalkan itu yang menjadi suamiku?

Kalau saja ada mesin waktu yang telah diciptakan, akan kubeli dengan harga berapapun.

Aku ingin memutar kembali waktu saat aku dan Sehun masih SMA, akan ku nyatakan perasaanku yang kupendam dengan bodohnya selama 4 tahun ini kepada Jongin. Biarlah ia menolakku, yang penting perasaan yang masih membebani diriku ini terangkat dan membuatku sedikit lega.

Bahkan kalau dihitung-hitung, perasaanku berarti bukan hanya 4 tahun kupendam karena ditambah masa ini adalah masa depan, entah sudah berapa tahun berarti aku memendam perasaan ini.

Aku melihat kalender kecil di atas meja yang berada dekat denganku.

Januari tahun 2024!?

Aku mempertajam penglihatanku, ternyata memang tidak salah. Tahun dimana aku sekarang berada adalah tahun 2024. Berarti ini adalah 12 tahun yang akan mendatang!?

Aku menghitung dengan kalkulator di atas meja mengingat aku memang payah dalam pelajaran matematika. 2024 dikurangi tahun kelahiranku dan Sehun, 1994. Berarti… umur kami sekarang 30 tahun!?

Persis seperti umur leader Super Junior yang bernama Leeteuk idolaku. Tapi… kalau begitu ia sudah 42 tahun dong!? Apa Super Junior masih ada ya? seharusnya mereka mengganti nama dengan Super Senior dong, karena mereka kan sudah tua. Memikirkan muka-muka mereka yang sudah tua saja membuatku tertawa terbahak-bahak sendirian seperti orang gila. Yang paling membuatku sakit perut adalah membayangkan wajah Eunhyuk, rapper di Super Junior itu sudah tua. Huahahaha!

Kembali lagi ke perasaanku kepada Jongin, berarti jika ditambahkan dengan 12 tahun lagi, sudah 16 tahun aku memendam perasaan suka ku ini kepada Jongin. Mana ada cinta bertepuk sebelah tangan yang dipendam selama 16 tahun?

Dan itu terjadi padaku, karena aku memang takut untuk menyatakannya meski padahal aku sudah memberi Jongin sinyal bahwa aku memang menyukainya. Semua orang tahu bahwa aku menyukai Kim Jongin. Kecuali ia sendiri.

Aku tidak tahu bahwa Jongin itu terlalu bodoh untuk menyadari bahwa aku menyukainya atau ia pura-pura tidak tahu? Ah mana mungkin, lagipula saat di ulang tahun Sehun pun ia terlihat senang saat aku menyuapi Sehun.

Tiba-tiba aku jadi teringat dengan perkataan Yura saat dimana aku begitu kesal pada Sehun dan bilang bahwa aku sangat membenci namja itu.

“Cinta dan benci itu beda tipis. Cintailah Jongin sewajarnya dan janganlah terlalu membenci Sehun.

Karena suatu saat, bisa saja semuanya menjadi jungkir balik.

Kau bisa saja mencintai Sehun dan suatu saat, mungkin saja kau akan membenci Jongin.

Entah apa alasannya, tapi hidup memang seperti itu. sesuatu yang tidak pernah kau duga akan terjadi, pasti suatu saat akan terjadi.”

Harus ku akui, ternyata perkataan Yura ada benarnya juga. Maksudku, aku sekarang menikah dengan Sehun, jadi aku yang di masa depan ini memang mencintainya. Tapi, apakah benar aku bisa saja membenci Jongin di masa depan ini?

Tidak, tidak mungkin aku membenci Jongin. Namja yang selalu ku puja serta cinta pertamaku itu tidak mungkin bisa ku benci.

Haeyeol POV

Aku segera pergi bercermin melihat wajahku karena tentu saja aku takut terlihat tua. Aku bersyukur wajahku belum terdapat keriput. Ternyata ini yang dirasakan oleh perempuan berumur 30 tahun ya. sedikit-sedikit khawatir tentang wajah dan kulit. Pantas saja eomma selalu mengomeliku kalau krim Olay atau Ponds miliknya tidak sengaja kupakai karena milikku sudah habis.

Aku juga jadi rindu eommaku. Biasanya eomma selalu membangunkanku dan membuatkanku sarapan yang sangat lezat tapi sekarang? Aku yang harus masak karena aku sekarang berstatus sebagai istri Sehun dan eomma Sungyeol.

Eomma, ternyata jadi istri dan ibu itu sulit ya?

Meski baru tadi aku mendengar suaranya di telepon, tidak melihat wujud nyatanya membuatku merasa makin merindukannya. Apalagi Appaku yang selalu membaca koran dan minum kopi, selain itu Chanyeol Oppa yang selalu berteriak dengan keras dari lantai bawah jika aku terlalu lama mandi.

Melihat mereka bertiga tidak ada saat aku terbangun tadi jelas membuatku sedih dan kesepian meskipun sekarang aku menikah dengan Sehun dan memiliki Sungyeol. Aku tidak pernah membayangkan ternyata keluargaku benar-benar berarti bagiku.  Pasti nanti aku akan mengusulkan pada Sehun untuk berkunjung ke rumah orangtuaku karena aku sudah tidak tahan bertemu dengan mereka.

“Sehun-ah! Sungyeollie! Ayo makan!” seruku memanggil mereka berdua. Mereka pun berlari menuju meja makan dan duduk melahap makanan di atas meja. Melihat mereka berdua seperti itu, aku jadi tersenyum. Anak dan Ayah sama saja. Aku tersenyum karena membayangkan bagaimana aku bisa melahirkan anak yang lucu dan polos sepertiSungyeol dengan wajah yang sama persis Appanya, Oh Sehun.

“Mashitaa!” seru Sehun sambil menunjukkan jempolnya tanda bahwa masakanku enak.

“Kenapa kau tahu bahwa aku suka sekali Yangnyeom Tongdak?” tanya Sehun lalu meneguk air putih karena Yangnyeom Tongdak yang pedas.

“Molla. Padahal dulu aku tidak bisa memasak makanan apapun kecuali mie instan. Tanganku seperti bergerak sendiri.” Jawabku sambil makan Bibimbap kesukaanku. Hmm mashita! Hebat sekali aku versi dewasa ini, bisa memasak Bibimbap selezat ini.

Bukannya sombong, tapi seingatku dulu aku pernah memasak Bibimbap dan sukses membuat Yura muntah-muntah dan sakit perut selama 3 hari. Setelah ia sembuh, aku minta maaf dan ia pun memberiku syarat supaya ia memaafkanku dengan memintaku untuk memotret wajah Chanyeol Oppa saat tidur dan ganti pakaian. Benar-benar gila sahabatku itu! Mana mungkin aku memotret Chanyeol Oppa saat ia ganti pakaian? Bisa-bisa aku bakal diejek adik termesum seumur hidup.

Karena Yura ngambek saat kutolak tawarannya, akhirnya aku menurut tapi hanya akan memotret wajah Chanyeol Oppa saat tidur saja. Karena ketahuan saat aku memotretnya dan aku tidak mau mengaku untuk apa aku memotretnya, Chanyeol Oppa tidak mengantarku ke sekolah dengan motornya dan aku dihukum karena terlambat datang ke sekolah selama 5 hari, terpaksa aku juga minta maaf kepada Chanyeol Oppa dengan memberikan pizza kesukaannya dengan uang jajanku yang tersisa untuk 1 bulan. Sial sekali bukan? Akhirnya sejak itu aku tidak berani untuk masak sendiri lagi.

“Oh ya yang tadi saat aku memanggilmu yeobo itu…” ucapan Sehun otomatis membuatku tersedak dan terbatuk-batuk. Sehun dengan sigap mengambilkan gelas air putih miliknya untukku. Dan baru ku sadari  inilah kedua kalinya aku berciuman tidak langsung setelah waktu itu memakan kue ulang tahunku dari sendok yang sudah dijilat oleh Sehun.

“Mianhae! Kau tidak apa-apa?” tanya Sehun sambil menepuk-nepuk pundakku.

“Tidak apa-apa…” aku meneguk air putih dari gelas milik Sehun sampai habis. Biarlah ciuman tidak langsung, daripada terus terbatuk-batuk karena tersedak.

“Boleh aku lanjutkan perkataanku tadi?”

“Hah? Tentu saja.”

“Tentang aku yang memanggilmu yeobo itu tiba-tiba saja tanpa sadar aku mengatakannya. Mungkin…” ucap Sehun terpotong lalu meneruskan ucapannya lagi. “Mungkin aku yang ada di masa ini sering memanggilmu seperti itu. dan sepertinya kita mulai terpengaruh dengan kebiasaan kita di masa ini.”

“Aku juga sama. Tadi saja aku memanggilmu Sehunnie.”

Setelah itu aku mencuci piring sampai bersih. Tumben sekali, biasanya aku selalu ogah disuruh mencuci piring oleh eomma dan selalu saja Chanyeol Oppa yang jadi korban. Aih, aku juga jadi merindukan Oppaku itu. Tidak mendengar tawanya yang keras seperti banteng bengek membuatku merindukannya.

Beres mencuci piring, aku melihat vas yang terdapat rangkaian bunga mawar berwarna ungu di atas kulkas. Aku mengambilnya dan menghirup wangi khas yang aku sukai. Mawar? sepertinya aku teringat sesuatu. Mawar… Bahasa Inggrisnya Roses. Roses? Rose? Madam Rose?

“Astaga!” aku baru ingat dengan Ahjumma peramal yang kemarin mengatakan tentang masa depanku dan Sehun namun kami menertawakannya dan ia sangat marah.

‘kalian berdua makan ini! Saat nanti kalian tertidur pada malam hari, kalian akan tahu bahwa ucapanku tentang masa depan kalian terbukti benar!’

Ya, aku ingat dengan jelas saat Ahjumma itu memberi kami permen berbentuk hati dan kami memakannya. Yang ia katakan semuanya memang benar terjadi. Ramalan Ahjumma itu memang tepat, tapi apakah perlu ia membuatku dan Sehun sampai harus bisa berada di masa ini demi membuat kami percaya pada ramalannya? Ahjumma itu benar-benar gila!

Aku menghampiri Sehun yang sekarang sedang menonton tv dengan Sungyeol.

“Sungyeollie, Eomma mau bicara dengan Appamu dulu. Kau nonton dulu saja ya.” ucapku lalu menarik tangan Sehun. Sehun menatapku heran.

“Ne.” Jawab Sungyeol sambil masih konsentrasi menonton Power Ranger di tv. Hah? Power Ranger? Sejak tadi Sehun dan Sungyeol nonton Power Ranger?

Berarti Sehun sangat kekanak-kanakan, buktinya sejak tadi ia menonton dengan serius sambil berseru ’awaas! Musuhnya ada di sana’, ‘Yang hitam keren! Mirip sama aku kan, Sungyeollie?’ atau ‘Appa yang warna hitam ya, Sungyeol yang warna pink saja hahaha’

Ckckck. Aku tidak menyangka Sehun benar-benar kekanak-kanakan sampai ia masih betah menonton film Power Ranger kesukaan Chanyeol Oppa saat SD.

Aku jadi teringat saat itu Chanyeol Oppa memamerkan pedang mainan warna oranye yang kerlap kerlip miliknya sambil memakai kostum Power Ranger warna kuning yang dibeli oleh Appaku. Awalnya Chanyeol Oppa protes berat karena ia maunya yang warna merah, tapi karena memang yang merah sudah habis, tinggal pink dan kuning, akhirnya ia terpaksa memakainya daripada diejek bencong jika memakai yang warna pink.

Karena jahil, aku memakai topeng salah satu musuh Power Ranger yang buruk rupa lalu masuk ke kamar Chanyeol Oppa dan menakut-nakutinya. Chanyeol Oppa refleks memukul-mukulkan pedangnya padaku sambil bilang ‘Mati kau, mati!’ karena kesakitan, aku pun menangis.

Chanyeol Oppa yang bingung akhirnya minta maaf, mendengar pengakuan bahwa aku dipukuli oleh Chanyeol Oppa dengan pedangnya, Appa langsung merampas pedang miliknya itu dan ia ikut menangis bersamaku. Masa kecil yang benar-benar konyol hahaha. Tapi aku merindukannya.

“Sehun-ah! apa kau masih ingat dengan Ahjumma bernama Madam Rose yang meramal kita kemarin itu? Pasti ia penyebab apa yang terjadi pada kita sekarang ini!” aku mulai membuka topik pembicaraan.

“Kau benar Haeyeol-ah! Kukira Madam Rese itu gila! Sialan, ternyata yang ia katakan benar! dasar Madam Rese!” Sehun yang kesal akan Madam Rose akhirnya mengganti-ganti namanya asal.

“Lalu kita harus bagaimana?” tanyaku bingung.

“Lebih baik kita sekarang pergi ke mall waktu itu untuk bertemu dengan Madam Roso. Huh!” saran Sehun yang mengganti nama Ahjumma itu lagi, aku pun mengangguk meski ingin terkekeh melihat wajah Sehun yang sangat kesal dan mengganti nama Madam Rose dengan Roso yang mengingatkanku pada iklan minuman berenergi favorit Chanyeol Oppa yang dibintangi oleh seorang kakek dengan latar belakangnya gunung merapi dan bilang ‘ROSO!’.

Kami pun menghampiri Sungyeol yang masih ayik menonton tv.

“Sungyeollie, ayo mandi dulu. Kita akan jalan-jalan.” Sungyeol terlihat sangat senang mendengar kata ‘jalan-jalan’ dari mulutku, ia bersorak kegirangan.

“Asyiiiik!” seru Sungyeol dengan sangat menggemaskan.

Aah lucunyaaa! Ia memang terlihat persis seperti Sehun hanya saja ia lebih periang daripada Sehun yang selalu bermuka datar.

“Kau mau mandi di mana?” tanya Sehun padaku. Aku mengerutkan alisku heran. Apa Sehun se idiot ini?

“Tentu saja di kamar mandi itu! Masa di garasi?” aku menunjuk kamar mandi di dekat ruang tamu. “Memangnya kenapa?”

“Sama Sungyeol?” tanyanya lagi.

“Tidak, aku mandi setelah Sungyeol selesai.”

“Mau mandi bersamaku?” tanyanya sambil tersenyum evil.

Apa katanya tadi? Aku tidak menyangka Sehun semesum ini.

“Aniya! Dasar namja mesum!” seketika mukaku panas mendengar pertanyaan bodoh dari namja di depanku ini.

“Mesum itu apa, eomma?” Sehun tertawa mendengar pertanyaan Sungyeol yang polos.

“Bukan apa-apa sayang, ayo ke kamar mandi. biar eomma membantumu keramas.” Aku menggiring Sungyeol ke kamar mandi.

“Kalau begitu, bantu suamimu ini mandi juga.” Ucapan Sehun lagi-lagi membuat mukaku makin panas dan mungkin saja sekarang kupingku ikut memerah. Ia benar-benar tidak berubah. Tetap saja menjahiliku dengan omongannya yang seenaknya.

“Mandi saja sendiri! Namja gila!”

Aku bermaksud menutup pintu kamar, namun tiba-tiba saja Sungyeol menghampiri Sehun.

“Appa, appa, mau mandi sama Sungyeol?” tanyanya dengan nada yang mungkin kalau saja ia bukan anakku aku akan menjerit karena keimutannya.

“Mauu!” jawab Sehun layaknya anak kecil.

“eomma, bagaimana kalau kita beltiga mandi sama-sama?”

Pertanyaan Sungyeol seketika membuat mukaku panas dan membuat Sehun tersenyum nakal. Lagi.

“Mwo? Andwae! Kalau Sungyeol mau mandi sama Se- maksudku Appa, kalian berdua saja yang mandi sama-sama. Eomma mandi sendiri saja.” jelasku pada Sungyeol.

“Wae? Padahal kan kalau beltiga lebih lame!”

“Iya tuh, eomma jahat ya, masa tidak mau mandi dengan kita?”

Grrr. Oh Sehun! Ia benar-benar doyan menjahiliku.

“Ya sudah, eomma mandi duluan ya! kalian saja yang mandi berdua!”

Aku menutup serta mengunci pintu kamar, tidak memperdulikan teriakan Sehun yang bilang ‘ayoo kita mandi sama-sama, Haeyeol. yuhuuu’ dan Sungyeol yang bilang ‘eomma buka pintunya, kita mandi beltiga!’

Haaah…

Sepertinya hari-hariku bersamanya dan Sungyeol akan menjadi hari yang sungguh gila dan melelahkan. Dan aku tetap tidak mengerti mengapa aku yang versi dewasa bisa jatuh cinta pada nappeun namja seperti Oh Sehun. Bahkan sampai menikah dengannya.

Author POV

Sesampainya di mall, Haeyeol, Sungyeol dan Sehun berputar-putar di sekeliling mall. Masih ada restoran milik Eomma Sehun yang dekorasinya semakin berkelas dan melihat harga makanan di depan tokonya saja sudah membuat Haeyeol menelan ludah karena harga yang mahal sekali.

Sehun yang masih ingat dengan jelas letak toko tersebut otomatis menjadi pemimpin jalan karena tentu saja Haeyeol harus berjalan pelan sambil menggenggam tangan Sungyeol yang sekarang sedang begitu takjub melihat-lihat toko mainan robot.

“Eomma, Sungyeol mau beli lobot yang itu.” Sungyeol menunjuk robot di film transformer yang bernama Bumblebee dan berukuran cukup besar. Melihat harga robot itu yang terpampang besar dengan spidol merah membuat Haeyeol hampir sesak napas karena tentu saja harga yang mampu untuk dibelikan handphone iPhone yang sangat ia inginkan saat masih SMA.

“Nanti eomma belikan tapi jangan yang robot itu. bagaimana?”

“Sungyeol maunya itu!”

“Jangan sayang, nanti saja ya?”

“engga mau, sungyeol mau beli lobot itu…”

Aku gemas tehadap Sungyeol. Selain karena ia cadel menyebutkan r yang akhirnya robot menjadi lobot, aku juga gemas karena ternyata membujuk anak kecil itu ternyata susah sekali. Akhirnya aku merasakan bagaimana perasaan eomma dan appaku waktu aku ingin sekali dibelikan laptop baru tapi mereka tidak punya uang. Ternyata menjadi orangtua itu… sangat sulit.

Sehun yang mendengar percakapan kami langsung menoleh dan ikut membujuk Sungyeol.

“Sungyeollie, eomma dan appa belum punya uang yang cukup untuk beli robot itu. bagaimana kalau nanti appa belikan cd filmnya saja?”

“memangnya lobot itu ada di film, appa?”

“Tentu saja! robot itu namanya Bumblebee. Nama filmnya Transformer. Nanti kita beli cdnya saja ya?”

Sungyeol lalu mengangguk dan membuatku seketika merasa lega. Setidaknya kami tidak harus mengeluarkan uang kami semua hanya untuk membeli robot itu dan cuma mengeluarkan sedikit uang untuk membeli CD Transformer. Kami pun lanjut mencari toko ramalan itu.

“Lho, kok malah jadi toko baju?” Sehun terkejut karena toko ramalan milik Madam Rose itu berubah menjadi toko baju wanita yang banyak pengunjungnya.

“Lebih baik kita tanyakan saja pada pegawai toko tersebut.” Usulku yang langsung disetujui oleh Sehun. Kami bertiga masuk ke toko tersebut. Karena Banyak wanita kalangan muda sampai ibu-ibu melihat Sehun dengan pandangan yang hmm… memuja.

“Aigoo! Ganteng banget! Kalau aku masih muda pasti sudah kujadikan namjachinguku!”

“Tampannyaa! Tuh lihat! Ia lebih tampan dari Robbert Pattinson sama Taylor Lautner idola eomma.“

“Kyaaa! Eomma, oppa itu tampan sekali. Kulitnya putih banget. Umurnya berapa ya?”

“Waaa! Sehunnie bias kedua guee!” Ini sih author yang teriak. Hehe. Mian numpang eksis. *digusur readers*

“Aduuh cakep banget itu brondong, jeng! Aku pingin deh punya suami kaya dia. Uuuh~”

Seketika aku merasakan perasaan yang aneh. Aneh karena kenyataannya aku kesal dengan teriakan dan gumaman anak muda serta ibu-ibu yang memuja Sehun. Padahal saat para penggemar Sehun waktu SMA yang selalu meneriakkan namanya saja tidak pernah membuatku seperti ini. Bahkan aku tidak peduli. Tapi sekarang…

Jangan tanya mengapa aku kesal karena aku juga tidak tahu.

“Ahjumma, aku ingin bertanya tentang toko ramalan yang dulunya bertempat di sini. Kira-kira pindah kemana ya?” tanya Sehun pada seorang wanita yang agak tua yang mungkin manajer toko tersebut.

“Toko itu sudah tutup kira-kira bertahun–tahun yang lalu. Saya juga tidak tahu toko itu pindah kemana.” Jawaban Ahjumma itu membuat kami berdua terkejut. Bertahun-tahun yang lalu!?

“Mwo!?”

“Ne. Pegawai di toko-toko di sebelah bilang pemiliknya bangkrut dan kelihatannya toko itu memang sudah tutup oleh pemiliknya.”

Jawaban manajer toko tersebut memupus harapan kami untuk kembali ke keadaan semula. Eomma, mengapa ini terjadi pada anak bungsumu ini? aah aku merindukanmu eomma. Seandainya saja kau ada di sini bersamaku. Hiks.

Sehun yang sepertinya belum puas dengan jawaban manajer toko tersebut masih bersikeras mencari orang yang tahu di mana Madam Rose sekarang serta toko ramalannya tersebut.

Aku yang harus berjalan pelan-pelan berjalan karena menuntun Sungyeol yang berjalan seperti pinguin *neomu kyeopta!* jadi harus terpisah dengan Sehun yang sekarang berada di depan dan agak jauh dari kami.

Menyebalkan sekali! Masa dia tidak menunggui istri dan anaknya ini?

….

Hah? Apa yang baru saja ku pikirkan?

Apa aku baru saja berpikir tidak rela jika Sehun tidak menungguiku?

Aiiish gila! Kenapa aku sampai bisa berpikir seperti itu?

Terserah saja ia mau meninggalkanku dan Sungyeol, mungkin ia memang suamiku sekarang tapi…

“Ya! Kau ini jalannya lama sekali! Bahkan siput pun bisa mengalahkanmu.”

Tiba-tiba Sehun sudah berada di depanku. Mungkin aku tadi terlalu kesal akan Sehun dan asyik melamun sampai tidak menyadari keberadaan namja jahil di depanku ini.

“Mwo!? Kau yang jalannya terlalu cepat! Aku tentu saja harus pelan-pelan karena menuntun Sungyeol. Seenaknya kau meninggalkan istri dan anakmu ini… Aah!”

Aku membungkam mulutku saat menyadari bahwa lagi-lagi mulutku berbicara tanpa bisa dikontrol alias kelepasan. Sehun langsung menunjukkan senyum miringnya yang entah keberapa kalinya namun masih mempan membuat debaran di dadaku yang jujur saja, menggangguku.

“Istri? Jadi kau sudah mengaku menjadi istriku, hm?”

Sehun mendekatkan wajahnya dan bertanya dengan nada menggoda.

“Ani! Aku kan memang istrimu di masa ini, bukan berarti aku mengakuinya! Lagipula kau tahu? Sejak tadi ibu-ibu dan anak yeoja SMA bahkan SMP pun melirikmu dan berbisik-bisik dengan keras sambil melihatmu dengan tatapan memuja karena mengira kau tidak punya ISTRI dan ANAK sebab kau terus berjalan cepat di depan tanpa menoleh ke arah kami sekalipun.”

Entah mengapa nada bicaraku terdengar seperti yeojachingu yang kesal mengetahui namjachingunya selingkuh, alias cemburu.

“Kau cemburu?” tanya Sehun sambil mendekatkan wajahnya padaku dan jeng jeng! Senyum jahilnya lagi-lagi terukir di wajah tampannya.

“Tidak! Untuk apa aku cemburu pada namja menyebalkan yang kukenal sejak SMA, hah?”

“Jinjja?”

“Jinja, jinja! Tinja kali! Sudah kubilang aku tidak cemburu!”

“Omo, kau ini yeoja tapi perkataanmu jorok seperti namja, sampai bilang tinja segala! Atau kau memang yeoja jadi-jadian?”

“TERSERAAAH!” aku yang jengkel akhirnya berteriak, membuat kami menjadi bahan tontonan orang di sekitar kami.

“Ya! jangan teriak-teriak, kau tidak malu hah?”

Aku yang tidak mempedulikan Sehun akhirnya melengos dan pergi sambil menuntun Sungyeol.

Author POV

Tiba-tiba saja Sehun menggenggam tangan Haeyeol membuat ia terkejut dengan kelakuan suaminya itu yang selalu tidak dapat dimengerti olehnya.

“Apa yang kau lakukan, Sehun-ah?”

Sehun diam saja, ia malah mengeratkan genggaman tangannya pada Haeyeol. Jantung Haeyeol tidak mau berhenti mengalunkan detakan yang membuatnya seketika gugup. Ia merasakan tangan Sehun yang begitu besar dan hangat menggenggam tangannya dengan begitu erat.

“Ya! Lepaskan tanganmu!”

“Memangnya aku tidak boleh menggenggam tanganmu? Kau kan istriku.”

Deg!

Ia tidak pernah menyangka bahwa namja yang selalu membuatnya jengkel setiap harinya akan menyebutnya sebagai istrinya. Dan ia tidak pernah menyangka bahwa namja itu sekarang menjadi suaminya.

“Yaah… ternyata oppa itu sudah punya istri, apalagi ada anaknya.”

“Sayang sekali, padahal aku ingin sekali ia menjadi namjachinguku. Huhu…”

“Lihat! Anaknya mirip sekali dengan namja tampan itu! Lucunyaa!”

“Istrinya cantik juga ya. Mereka terlihat sangat serasi.”

Terdengar omongan anak muda dan ibu-ibu di sekitarnya yang tentu saja ditujukan pada mereka berdua, membuat Haeyeol merasakan perasaan yang berbeda daripada gumaman yeoja-yeoja itu sebelumnya.

Ia merasa senang.

Senang karena ialah dan Sehun yang disebut sebagai pasangan yang serasi oleh salah satu anak muda tadi.

Senang karena para yeoja tadi mengetahui bahwa Sehun memilikinya dan Sungyeol.

Namun, tetap saja, ia tidak mengerti sejak kapan ia merasakan perasaan senang hanya karena orang-orang tahu bahwa ia adalah istri Sehun.

Author POV

Sehun melihat senyum Haeyeol yang melebar kala ia mendengar gumaman yeoja-yeoja yang tadi sempat membuat Haeyeol cemburu. Sehun pun ikut tersenyum.

“Kau senang kan?” tanya Sehun sambil masih menggenggam tangan Haeyeol.

“Senang kenapa?”

“Pura-pura tidak tahu lagi. Kau senang kan saat mendengar bahwa mereka tahu kita ini suami istri?”

Detakan jantung Haeyeol meningkat drastis, membuatnya kaget karena ternyata Sehun menyadarinya.

“A.. ani! Dasar ke-gr-an!” jawab Haeyeol terbata.

“Lalu kenapa tadi kau senyum-senyum hm?” Sehun senang sekali menjahili Haeyeol yang sekarang terlihat gugup.

“Memangnya tidak boleh?”

“Dasar yeoja keras kepala! Kenapa kau tidak mau mengaku bahwa tadi kau cemburu?”

“Lalu kenapa kau bersikeras ingin sekali jika aku cemburu?” tanya Haeyeol penasaran.

“Karena aku senang sekali jika kau memang cemburu.”

Sehun memalingkan mukanya. Terlihat semburat merah muncul di kedua pipinya.

“Apa… Apa maksudmu?” Haeyeol menatapnya dengan pandangan bingung.

“Sudahlah, lupakan saja.”

Sehun tidak tahu mengapa tadi ia berkata seperti itu, padahal ia hanya ingin menjahili Haeyeol supaya gadis itu mengakui bahwa ia cemburu dan seperti biasa, ia akan mengejeknya. Tapi, tanpa disangka ia malah menjawab pertanyaan gadis itu seperti memang itulah yang diinginkannya. Ia ingin istrinya merasakan perasaan cemburu padanya.

Dirasakannya tangan mungil milik Haeyeol di dalam genggamannya. Menggenggam tangan gadis itu membuatnya merasakan perasaan yang menjalar begitu hangat dan menenangkannya. Ia tidak mengerti kapan ia jadi tidak ingin melepaskan genggamannya dari tangan milik gadis itu.

Author POV

Mereka tidak menyadari, bahwa perasaan mereka terhadap satu sama lain mulai berubah. Berubah karena dipengaruhi oleh perasaan mereka di masa depan. Kecuali salah satu di antara mereka yang memang tidak dapat melupakan perasaan yang dipendamnya. Perasaan yang dikubur begitu dalam sampai ia tidak dapat merasakannya lagi.

Namun kejadian akibat peramal itu mengubah semua pertahanannya.

Pertahanan akan mengakui perasaannya yang tidak mungkin dapat terbalas.

Ia terbangun saat orang yang dicintainya sekarang adalah miliknya seutuhnya.

Tidak dapat di pungkiri bahwa ia memang masih memiliki perasaan.

Perasaan yang tulus untuk orang yang dicintainya itu.

To Be Continued

Di sini sengaja ga ada adegan NCnya. Save the best for the last deh hehehe *senyum mesum bareng Sehun*

Atau mending jangan ada NC? Ayo ayo komen supaya author tau enaknya menurut readers FF ini mending ada NC apa engganya.

Tadi banyak nama makanan yang asing ya readers? Dakjuk itu bubur ayam *elah, kenapa ga nulisnya bubur ayam aja thor?* *biar keren dong pake bahasa korea wekekek* dan Yangnyeom Tongdak itu ayam goreng khas Korea pake saus pedas manis yang renyah umpamanya mah Fried Chickennya Korea. Nyaam! Ngiler nih author liat foto di googlenya juga. *ketauan searching makanan korsel di google* kalau Bibimbap mah pasti semuanya udah pada tau ya. Duh kok malah jadi ngomongin makanan nih? Ini FF apa buku resep masakan?

Baydewey, author ini kelas 3 SMA sekarang, jadi mohon maaf bila update chapter 2nya kelamaan karena harus fokus UN. Tolong doakan author lulus UN  dan diterima jalur undangan di Teknologi Pangan UNPAD atau Agroteknologi UNPAD ya! amiiin

Kamsahamnida yang masih setia nungguin dan baca FF ini! Mohon komen, like dan sarannya. Don’t be Silent Readers! Hargai karya orang lain dengan memberikan komen atau like. Saranghae yeorobuuun! Sampai jumpa di chapter berikutnya! *bow bareng Chanyeol, Luhan dan Sehun*

 

50 thoughts on “Unpredictable Future #2

  1. Jd pnsaran sm kai, udh nikah dan tahu persaan haeyeol gak sihh?
    Gak tau knpa klo sehun d jdiin krakter mesum, feel nya cept bnget dpatx.. ngalir ajha gitu
    Entah krna emg dr mukax yg klewat cool atw Qx ajha yg klewt bsuk hahaa#abaikan

  2. yeeeee…Jadi ikut ikutan girang pas baca cara sehun nge jahilin istri ya itu..
    banyak komedi ya ntar Romance ya iy..
    next ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s