Diposkan pada Angst, EXO Planet, EXO-K, Fanfiction, Ficlet, Freelance, Genre, Kai, One Shoot, Romance

I Wanna Hold You

Title                 : I Wanna Hold You

Author             : D.Kim

Genre              : Romance, Angst

Ratting                        : General

Length             : Ficlet

Main Cast        : Kim Jong In (Kai EXO-K)

Park Ki Na (OC)

 

Pertama-tama, terimakasih banyak buat admin yang mau ngeposting FF saya. FF ini pendek dan mentok. Tolong dimaklumi ya ini FF rongsokan 😀 happy read ^^

   

 Poster

Kina’s Pov

Mata itu menatapku garang seolah aku telah melakukan kesalahan yang sangat besar sehingga membuatnya murka. Beribu cacian yang menyakitkan dilemparkan padaku hingga membuat telingaku dan hatiku hampir pecah. Aku adalah Park Kina. Aku tinggal di sebuah rumah mirip istana, tapi di dalamnya seperti neraka. Aku tinggal bersama dengan eommaku. Dia memang hanya ibu tiri, tapi aku sangat menghormatinya, meskipun dia tak pernah menyukaiku. Sejak aku kecil eomma kandungku telah meninggal dunia. Aku merindukan sosok seorang ibu, hingga appaku menikahinya. Aku sangat bahagia, karena aku memiliki eomma yang cantik dipandang dari sisi manapun.

Tapi tak kusangka di dalam hatinya tersimpan kebencian dan penuh dengan amarah. Aku menyayanginya, dan tak akan pernah bisa membencinya. Bahkan jika dia menyiksaku,  hingga mengucapkan kata-kata menyakitkan sekalipun, aku akan selalu menghormatinya. Dia menggantikan sosok eomma yang kucintai, meski kasih sayang seperti eomma tak bisa kudapat darinya. Sementara appa, sibuk berbisnis di luar negeri.

Pagi ini, seperti biasa eomma akan berteriak padaku, memukulku, bahkan menjambak rambutku.

“Dasar anak tidak becus!” Dia memukuliku dan aku tak akan pernah bisa melawan.

“Mianhae eomma.” Aku bersimpuh di hadapannya dan meminta maaf karena aku kesiangan dan tak sempat membuatkannya sarapan, sedangkan aku harus segera berangkat ke sekolah. Namun dia mendorong tubuhku hingga membuatku jatuh terkapar di lantai. Dia juga menjambak rambutku dengan kasarnya hingga rambut yang sudah kusisir rapi jadi berantakan.

“Aku tak mau tau. Selesai aku mandi, sarapan harus sudah siap!” Bentaknya lalu pergi ke kamar mandi.

“Tapi eomma, aku harus segera ber,” Brakkk! Dia membanting pintu kamar mandi, membuatku langsung membungkam. Kulirik arlojiku sekilas. Aku benar-benar sudah tidak punya waktu lagi. Aku harus segera tiba di sekolah sebelum aku terlambat dan tak izinkan mengikuti ujian.

“Eomma, jongmal mianhae. Aku harus segera berangkat sekolah. Aku janji akan memasak nanti.” Seruku dan langsung berlari keluar tanpa mempedulikan omelan eomma dari dalam kamar mandi.

“Ya! Jika kau tidak memasak sekarang, kau akan tidur di luar nanti malam!!” Aku tak mendengar dengan jelas bentakan eomma. Aku sangat buru-buru dan langsung berlari ke halte dekat rumah. Disana aku malah melihat sosok namja yang menyebalkan. Dia namja berkulit gelap dan berbibir tebal yang selalu bertingkah sok keren. Dia adalah Kim Jong In yang lebih akrab di panggil Kai, tapi aku lebih suka memanggilnya Kkamjong. Entah bagaimana awalnya, sejak kecil aku berteman dekat dengannya. Kami memang bertetangga dan selalu satu sekolah. Mungkin bisa dibilang dia adalah satu-satunya temanku walau dia sangat menyebalkan.

Dia berdiri dengan santainya sambil bersandar di tiang. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya sambil sesekali bersiul. Sepertinya dia menyadari kehadiaranku dan menoleh padaku tentunya dengan tatapan sok kerennya, walau kuakui itu memang keren. Aku mengernyitkan dahi melihatnya menatapku sangsi kemudian ku julurkan lidahku padanya. Dia mendekatiku lalu menatapku dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tatapan heran.

“Wae? Apa ada yang salah?” tanyaku sambil meraba (?) diriku dan mengecek barang kali ada hal yang jangggal. Kai menghela nafas dan tiba-tiba tangannya menyentuh kepalaku.

“Eh, mau apa kau Kkamjong?!” Tanyaku sangsi sambil sedikit memundurkan wajahku.

“Sudah diam. Kau ini berantakan sekali.” Dia mengusap rambutku pelan kemudian merapikannya. Pandanganku lurus pada rahangnya yang exotis itu. Jari-jarinya menyisir rambutku lembut. Aku hanya diam mematung. Apa yang dia lakukan? Membuat malu saja. Akhirnya bus yang kutunggu datang. Aku segera menepis tangannya pelan dan merapikan sendiri rambutku.

“Apa ibu tirimu menyiksamu lagi?” tanyanya tiba-tiba.

“Ani.” Jawabku bohong kemudian segera masuk ke dalam bus, begitu juga dengannya. Pertanyaannya membuat hatiku pedih. Kai memang dingin, tapi aku tau dia orang yang peduli.

>>*<<

Author’s Pov

Suara bel pertanda waktu telah berberakhir pun berbunyi. Semua siswa kelas 12 berhamburan keluar kelas. Jelas terpampang raut gembira di wajah mereka. Bagaimana tidak, karena hari ini ujian telah usai. Terkecuali dengan Kina. Dia buru-buru merapikan bukunya dan ingin segera pulang ke rumah. Dia berjalan melewati koridor dengan tergesa-gesa. Disana ia berpapasan dengan Kai yang sedang berjalan dengan teman-teman gerombolannya beserta yeoja-yeoja menggila yang selalu mengikutinya. Kai memang sangat populer di sekolah ini, itu sebabnya Kina dibenci karena dekat dengan Kai.

Kina dan Kai sempat berpandangan, namun hanya sebatas melirik. Kai melihat Kina yang tergesa-gesa. Kai lalu menghentikan langkahnya dan memanggil Kina.

“Kina-yaa.” Panggil Kai dengan suara berat nan seksinya. Kina langsung menoleh pada Kai. Semua yeoja kini melirik Kina sinis. Kai berjalan mendekati Kina. Tiba-tiba ia menarik tas punggung Kina dan menggandeng pergelangan tangan Kina. Semua mata yeoja menggila itu kini memanas. Kina hanya membelalak, sementara Kai menariknya berjalan beringan.

“Ya! Apa-apaan kau ini?” Bisik Kina sambil memukul-mukul lengan Kai.

“Diam saja, atau aku akan menciummu.” Kina langsung membisu dan hanya bisa mengikuti langkah Kai lemas.

>>*<<

Sampai di halte mereka langsung turun dari bus. Kai berjalan duluan, dan Kina mengikutinya di belakang.

“Ya! Kembalikan tasku.”

“Diam saja kau gadis bodoh.” Sahut Kai yang masih berjalan menenteng tas mungil Kina. Kina berdecak kesal. Kai berjalan ke lapangan basket di kompleks rumah mereka. Lapangan itu salah satu tempat bermain Kai dan Kina saat kecil, dan mereka juga sering bermain basket bersama disana. Kina masih mengikuti Kai karena tasnya disita.

“Kau mau main basket? Aku tidak bisa sekarang.” Ucap Kina.

“Siapa yang mau main basket? Duduk!” Perintah Kai. Kina masih diam. “Ayo duduk!”

“Aissh, apa sih maumu?” Tanya Kina kesal.

“Duduk atau tasmu tidak ku kembalikan?” Ancaman Kai berhasil membuat Kina menurut dan duduk di atas latai lapangan basket terbuka itu.

“Kau puas? Aku sudah duduk.” Kina mendengus. Perlahan Kai lalu duduk di sebelah Kina dan menyentuh pundak Kina yang terluka.

“Akkh..” Sontak Kina merintih kesakitan. Kai menghela nafas.

“Perlihatkan lukamu.” Perintah Kai lagi.

“Na, gwaenchana..” Ucap Kina sambil menggigit bibir bawahnya. Kai tidak mempercayainya dan langsung menarik tangan Kina lagi, lebih tepatnya untuk melipat lengan kanan seragam Kina. Jelas kini terlihat luka lebam di bahu kanan Kina, belum lagi ada beberapa goresan disana. Kina berusaha menyembunyikannya, namun Kai sudah terlanjur melihatnya. Jelas-jelas itu adalah bekas pukulan. Kai menghela nafas kembali. Kali ini penuh keprihatinan.

“Berapa banyak luka seperti ini ditubuhmu?” Tanya Kai.

“Hanya ini.” Jawab Kina bohong. Dia menarik tangannya dan menurunkan kembali lengan bajunya. Dia kini sudah bisa merebut tasnya dari Kai, dan langsung berlari pulang. Kai memandang Kina yang berlari menjauhinya. Setiap hari biasanya mereka selalu bertengkar. Ada saja bahan cekcokan diantara mereka. Namun akhir-akhir ini tidak. Kai lebih sering melihat Kina murung, jarang tertawa, pucat, dan selalu tergesa-gesa. Terkadang Kai merindukan saat-saat bertengkar dengan Kina. Baginya, Kina sangat manis saat sedang mengomel. Kadang setiap bertemu mereka akan saling mengejek satu sama lain, dan kebiasaan Kina adalah menjulurkan lidahnya pada Kai. Saat itulah Kai akan membalasnya dengan senyuman cool dan cubitan kecil di pipi Kina yang imut.

Disaat mereka bertengkarlah, Kai dapat merasakan kebersamaan dengan Kina. Gadis sahabatnya yang juga sangat disayanginya. Lebih tepatnya, Kai telah jatuh cinta pada Kina. Namun seorang yang dingin seperti Kai, tidak akan dengan mudah mengungkapkan perasaannya. Tapi Kai sudah menceritakan perasaanya itu pada Eommanya sendiri. Sedikit aneh memang.

Setiba Kina di rumah, ia langsung menyiapkan masakan untuk eommanya bahkan sebelum sempat mengganti seragam. Kina takut eommanya akan semakin marah. Tapi sayang sekali, saat eommanya datang dari salon, Kina langsung di tendang keluar.

“Dasar anak tidak tau diri! Sudah kubilang malam ini kau tidak boleh tidur di dalam. Cepat keluar!”

“Ampun eomma, biarkan aku masuk.” Kina memeluk kaki eommanya sambil terisak.Tapi dengan kasarnya Kina ditendang olehnya.

“Eomma kau sungguh tega!” Entah dapat keberanian dari mana Kina berteriak dan menatap mata eommanya tajam. Dimatanya ada buliran air yg siap mengalir deras. Dan plaakk! Sebuah tamparan keras melayang ke pipinya. Saking kerasnya, tubuh kina yang tak berdaya langsung jatuh terkapar sambil berlinang air mata. Pedih, sangat pedih. Bahkan hatinya lebih pedih dari tamparan itu. Kina masih terduduk lemas di lantai sementara tak ada pintu yang terbuka untuknya.

Kai sedari tadi ternyata menyaksikan kekejaman ibu tiri Kina dari balik gerbang rumah Kina. Kini Kai menghampiri Kina yang sedang menangis. Matanya menatap Kina prihatin. Kina tak menyadari kehadiaran Kai, hingga Kai megulurkan tangannya pada Kina yang masih meraung-raung (?) di lantai. Kina langsung mendongak.

“Kai..” Gumam Kina lirih. Kina lalu meraih tangan Kai dan bangkit. Wajahnya kini penuh dengan urat luka dan basah akan air mata. Saat inilah entah mengapa Kai merasakan pedih dihatinya. Perlahan Kai menggerakkan tanganya untuk mengusap air mata Kina lembut sambil tersenyum tulus. Senyuman paling hangat yang pernah dilihat oleh Kina selama dia mengenal Kai. Tiba-tiba Kai memeluk Kina yang sontak menegang.

“Kina-yaa, aku berjanji padamu, aku akan membuatmu berhenti menangis seperti ini.” Bisik Kai tepat di telinga Kina yang langsung membuat jantung Kina bergemuruh. Dan satu lagi yang membuat Kina tersentak hebat adalah, dia melihat mobil appanya datang.

“Appa? Appaku pulang!” Seru Kina. Dia langsung berlari menghampiri mobil appanya. Dan memang benar, appa Kina sudah pulang dari luar negeri.

Kina’s Pov

“Appa!” Aku langsung mendekap tubuh appa yang baru saja keluar dari mobil. Bernahkah ini appaku? Appaku yang tidak kulihat selama bertahun-tahun? Aku sangat merindukannya.

“Appa, bogoshipeo”

“Nado” Appa membelaiku penuh kasih sayang. Tiba-tiba eomma muncul dari dalam rumah dengan wajah yang gelisah. Dia pasti sedang takut sekarang jika aku mengadu pada appa.

“Suamiku..” Serunya dan langsung merebut pelukan appa dariku. Appa juga membalasnya dengan penuh cinta. Eomma melirikku sekilas, seolah memberikan ancaman. Aku tak menggubrisnya. Aku beralih pada Kai yang menatap lega padaku sekarang. Kai tersenyum manis padaku. Sejak kapan bibir tebalnya jadi begitu manis saat tersenyum? Arrghh, kenapa sekarang ada perasaan aneh yang menjalar di hatiku.

“Appa, apa kau akan tetap disini?” Tanyaku penuh harap. Namun sayang appaku menggeleng, dan eomma sekarang tersenyum penuh kemenangan.

“Appa, kajima” rengekku.

“Mian, appa harus kerja lagi. Apa kau tidak bahagia disini?” Tanya appa yang kembali membuat eomma menengang. Aku tak bisa melihat raut ketegangan seperti itu diwajah eomma.

“Bukan begitu. Aku malah sangat bahagia. Bahkan eomma sangat baik padaku. Aku hanya ingin kita bisa tinggal bersama appa.” Ucapku tulus. Kai menatap heran padaku lalu menghela nafas. Dan eomma, dia hanya membisu. Tapi kali ini aku tak melihat bara api amarah dimatanya. Aku yakin, suatu saat nanti dia pasti akan menyayangiku.

Kai’s Pov

Sejak dulu aku memang sudah yakin kalau Kina adalah jelmaan malaikat. Aku yakin, Kina pasti bisa meluluhkan hati ibu tirinya itu. Dan perasaan lega sudah bisa kurasakan.

“Aneyong haseyo paman.” Aku membungkuk pada Tuan Park, dia tersenyum padaku. Aku mulai mengumpulkan semangat dan keberanianku. Appa Kina sekarang sudah ada di hadapanku dan kali ini aku tak menyia-nyaikan kesempatan.

“Paman, ada yang ingin kukatakan.” Ucapku sedikit tegang. Aku melirik Kina yang menatapku bingung.

“Apa yang mau kau katakan Kai?” Tanya Tuan Park. Perlahan aku meraih tangan Kina dan membuatnya mendekat padaku. Kurasakan dia tersentak kaget.Aku menarik nafasku dalam-dalam

“Aku, aku ingin menikah dengan Kina.” Ucapku mantap yang membuat semua orang disini membelalak hebat, termasuk Kina yang langsung melonjak kaget.

“Ya! Apa yang kau bicar..“ Aku langsung membungkan mulut Kina. Aku tak ingin ada tolakan sekarang. Yang kumau adalah, ayah Kina menerimaku.

“Apa paman tidak salah dengar Kai?!” Tanyanya. Aku mengangguk memastikan dan tersenyum penuh arti. Semua ini telah kupersiapkan. Bahkan aku telah mengirim pesan pada eommaku untuk membantuku. Dan dari balik pintu gerbang, eommaku yang cantik muncul.

“Nyonya Kim?”

“Aneyong Tuan Park. Aku ingin melamar putri anda untuk putraku Jong In.”  Ucap eommaku langsung ke topik.

“Kkamjong, apa kau gila?” Bisik Kina padaku. Aku hanya menyeringai padanya. Wajahnya memerah, sangat lucu. Dan aku suka itu. Kulihat appa Kina tersenyum dan mengangguk setuju pada eommaku. Semudah inikah? Fikirku. Aku menoleh pada Kina dan menunjukan senyuman mautku padanya.

“Park Kina, sebentar lagi kau akan menjadi Kim Kina.” Matanya kini melebar. Aku langsung saja mencubit pipinya itu karena gemas.

“K, Kai..?”

“Ne chagi?”

“Arrgh,, Kau ini benar-be..” Dan grepp, langsung saja ku berikan dia pelukan terhangatku. Kurasakan tubuhnya menegang. Dan bisa kudengar detak jantungnya memburu hebat.

“Kina-yaa, aku janji padamu. Aku akan melindungimu dan selalu membuatmu tersenyum. Saranghae.” Ucapku tulus. Kurasakan Kina menghela nafas, tapi dapat kudengar dia menjawabnya walau hanya berbisik.

“Ne Kkamjong. Aku juga menyayangimu, sahabatku.”

Sahabatku?? Hm.. aku tau. Ini pasti terlalu cepat. Sahabatku sejak kecil Kina, aku juga sangat menyayangimu, dan akan kujadikan kau milikku.

>>END<<

Tuh kan mentok! Gajeb0oo…hehe makasi ya udah mau baca. Please say something ^^

 

 

 

Iklan
Ditandai:

14 tanggapan untuk “I Wanna Hold You

  1. FF tentang Kai selalu berhasil menarik perhatian saia 😀
    suka sekali dengan cerita ini , cara Kai memperlakukan Kina itu menarik 🙂 bahasanya pedas tapi ada perhatian didalamnya 🙂
    dan intinya saia suka dengan FF ini
    good job buat authornya yah….

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s