Stupid Love

Title     : Stupid Love

Author : Bit (@Novita_Milla)

Cast     : Oh Sehun, Byun Baekhyun, Go Jaekyung

Genre  : Romance

 

 

PROLOG

“YAA!!!! OH SEHUNNNNN!!!!!!!!!!!!!!” Seorang yeoja dengan kacamata minusnya berteriak ditengah-tengah hiruk-pikuk pagi di kampus Fakultas Ekonomi Seokjong University.

Ya, dia adalah Go Jaekyung. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dengan kulit seputih salju dan rambut hitam kecokelatan sebahu. Glasses girl, begitulah teman-temannya memanggilnya. Yeoja dengan kacamata hitam tebal yang selalu membawa tumpukan buku-buku yang sangat membosankan.

Go Jaekyung berdecak kesal saat namja bernama Oh Sehun itu selalu menjahilinya.

“Hahaha…” Sehun bersama teman-temannya, Kai dan Baekhyun tertawa mendengar teriakan Go Jaekyung.

***

“\\\STORY BEGIN///”

GO JAEKYUNG’S POINT OF VIEW

Kali ini entah yang keberapa kalinya Sehun, Kai, dan Baekhyun selalu menjahiliku. Aku berdecak kesal melihat mereka tertawa senang melihatku seperti ini.

Perlahan aku memungut buku-buku yang jatuh lantaran perilaku mereka yang kelewat menyebalkan dan memuakkan. Sungguh, kapan mereka berhenti menjahiliku??? Apakah tidak cukup bagi mereka menjahiliku selama 3 tahun di SMA. Lalu kenapa mereka masih saja menjahiliku sampai sekarang?? -_-

***

“Jadi Blue Economy dapat membuat negara kita lebih maju dan berkembang dengan memanfaatkan potensi yang benar-benar kita miliki.” Jelas Lee seonsaengnim memberi kesimpulan.

“Buat artikel dengan memberi contoh sebanyak-banyaknya mengenai Blue Economy di negara kita. Satu kelompok 2 orang!! Tugas harus dikumpulkan lusa pukul 11.00!!” Lanjut Lee seonsaengnim.

Aku mulai berjalan keluar. Aku harus segera pulang dan menjemput Jinsae.

Hari sudah sangat sore dan kudengar diluar sudah mendung dan terdengar petir menyamba-nyambar.

Tap, tap, tap

Aku mendengar langkah seseorang dibelakangku. Tak kuhiraukan suara itu, pikiranku hanya terfokus pada jinsae dan koridor yang sudah sepi dan semakin gelap. Aku percepat langkah kakiku.

“Ya!!” Sebuah suara berteriak kencang dari arah belakang. Suara yang sudah mengganggu hidupku selama 4 tahun terakhir ini. Suara yang sangat kukenal.

Aku mencoba mengabaikannya, namun suara itu lama-kelamaan berubah menjadi suara rintihan kesakitan dan suara debukan benda keras yang… mungkin mengenai salah satu bagian tubuh mahkluk itu.

Penasaran. Aku membalikkan tubuhku berjalan kearah toilet namja yang letaknya tak jauh dari tempat aku membelokkan diri setelah keluar dari kelas. Kini, aku menyembunyikan sosokku dibalik tembok.

“Dengarkan aku, dia sudah berpacaran!!” Sehun?? Apa aku tak salah mendengar?

Sehun merintih kesakitan.

“Kau bohong!!” Ujar sebuah suara yang berat dengan sangat lantang.

“Aku bersungguh-sungguh!! Percayalah padaku!!!” Ujar Sehun dengan suara yang sedikit….memohon?

Pria dengan suara berat itu terlihat kesal lalu melangkah pergi meninggalkan Sehun yang terkapar dilantai. Oh tidak, Sehun berkelahi dengannya? Mahasiswa semester akhir yang ditakuti seluruh kampus, Park Chanyeol.

Aku berjalan mendekati Sehun setelas namja preman itu tak terlihat lagi. Oh God, Sehun memar? Untuk apa namja babo ini berkelahi dengan si preman besar Park Chanyeol??

“YA!!! Untuk apa kau berkelahi dengan namja preman itu? Kau ini sangat kurus! Mana mungkin kau bisa melawan dia babo!!” Ucapku sambil bersandar di pintu toilet namja.

“Kenapa kau disini?” Dia malah balik bertanya. Dasar namja babo.

“Aku kebetulan lewat dan mengdengar rintihanmu babo!!”

“Aish… AAAA!!” Rintihnya yang akan beranjak dari tempatnya.

Ternyata punggungnya sakit. Wajahnya penuh lebam merah. Bibirnya penuh darah. Kakinya bahkan tak bisa menopang tubuh kurusnya dengan baik.

“YA! Gwaenchana?” Tanyaku saat ia hendak keluar dari toilet.

Pertanyaanku tak ia indahkan. Huh, dasar babo!

“YA!!” Aku berteriak cukup keras memanggilnya dan menarik lengan kirinya. Mencoba melihat keadaannya yang sangat parah. Aku hanya ingin memastikan dia bisa pulang dan tak pingsan dijalan.

BRUKK

Dia terjatuh dalam pelukanku. Deru nafasnya dapat kurasakan melalui leherku.

“Ya! Gawaenchana?” Tanyaku kaget.

Dia tak merespon perkataanku. Kali ini aku sulit bernafas karna tubuhku terhimpit tembok dan tubuhnya yang sedari tadi menempel pada tubuhku.

“Oh Sehun?”

Dia melepas pelukannya pada tubuhku. Namun tangannya menggenggam kedua tanganku.

“Go Jaekyung…….” Dia mendekatkan wajahnya padaku.

DEG

Apa yang akan ia lakukan? Oh tidak!

CHU~~

Dia mencium bibirku lembut, sangat lembut. Tak ada unsur paksaan dalam ciumannya. Bibirnya sangat lembut, rasa strawberry yang bercampur darah. Aku tak membalas ciumannya. Aku…entahlah, pipiku seketika memanas, jantungku berdetak lebih cepat. Aku seakan tubuhku mematung menerimanya.

Kedua tangannya meraih pinggangku, menuntut lebih. Aku seakan terbius oleh ciumannya, melingkarkan kedua tanganku pada leher kurus Oh Sehun.

Dia merapatkan tubuhku pada tembok ini. Aku….membalas ciumannya. Lama bibir kami terapagut. Entahlah, ini adalah ciuman yang sangat manis.

Dia melepaskan pagutan bibirnya dan melepaskan kedua tangannya pada pinggangku. Kedua mata kami berpandangan. Lalu, dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi.

 

***

 

Aku telat bangun pagi kali ini, aku terlambat. Ini semua karna tadi malam aku terus memikirkan ciumanku dengan si bodoh Oh Sehun. Aish, aku bisa gila.

Aku berjalan tergesa-gesa menuju kelas Hwang seonsaengnim. Guru wanita tua dengan kacamata berbingkai ungu mencolok. Seperti nenek sihir.

Aku sampai didepan kelas Hwang seonsaengnim. Kuketuk pintu 3 kali lalu mendorong pintu dan masuk kedalam.

“Nona Go, kau terlambat 10 detik dikelasku. Keluar bersama tukang tidur itu.” Kata Hwang seonsaengnim menunjuk namja yang telah tertidur dibangku pojok kanan belakang. “Sekarang!!!”

“Arraseo Hwang seonsaengnim.” Jawabku dengan gontai. Aku menuju bangku namja yang ditunjuk Hwang seonsaengnim itu. Rupanya dia telah dibangunkan temannya dan menjelaskan bahwa dia harus keluar kelas dengan ku.

Oh tidak!! Aku bisa gila.

Ditengah jalan bersama namja gila bodoh ini, terasa canggung. Biasanya kami akan adu argumen atau berdebar jika sudah dipertemukan, atau dia akan mengerjaiku seperti biasa. Aku bisa mati bosan jika terjebak dengan suasana canggung seperti ini bersamanya.

“YA! Lukamu sudah sembuh eoh?” Tanyaku mencoba mencairkan suasana.

“Tentu belum, bodoh!” Sahutnya cuek.

Aku tau jika lukanya belum-benar-benar sumbuh. Mengingat bekas merah lebam yang masih dapat terlihat dengan jelas di wajahnya. Namun kakinya sudah dapat bergerah dengan… err, lumanyan baik.

“Kita mau kemana?” Tanyaku lagi. Ya, sedari tadi kami berjalan tanpa tujuan yang pasti.

“Aku mau tidur. Kau mau ikut?”

“Shireo.” Kataku menanggapi pertanyaan yang kelewat yadong. -_- kau pikir aku ini yeoja apa? Setelah mencuri first kiss ku di toilet namja, dan sekarang mengajak tidur bersama? Dasar mesum!!

“Kau tak mau? Jarang ada namja pintar, kaya, dan tampan sepertiku mau mengajak seorang yeoja sepertimu. Kemarin saat aku menciumku saja aku hampir kewalahan, kau sangat agresive.” Ujarnya diiringi gelak tawa dari mulutnya.

Seketika wajahku memanas. Jaekyung rebus pasti akan sudah memerah.

“I..itu kan kau yang memulainya!” Sahutku mengelak.

“Hahaha… Wajahmu merah bodoh! Hahaha… kau seperti kepiting rebus.”

Astaga, kapan orang ini akan berhenti menggodaku? Dasar bodoh!!

“Bodoh.” Aku berucap pelan lalu meninggalkannya yang masih tertawa. Dasar namja babo!!

***

Aku benar-benar badmood kali ini. Namja bodoh ini ternyata mengikutiku sampai perpustakaan.

Kami sempat berdebat dengannya mengenai tugas Blue Economy dari Kim seonsaengnim. Kami bahkan menghabiskan waktu hampir setengah jam saat akan menentukan buku apa yang akan kita jadikan pokok bahasan.

Pada akhirnya kita menggunakan buku yang dia pilih dalam mengerjakan tugas Kim seonsaengnim. Kalian tau kenapa aku dan namja babo ini selalu bersama walaupun saat kami bersama selalu berdebat dan dia selalu mengerjaiku? Itu karena kita adalah rival yang selalu ingin menang dalam segala bidang.

Sialnya, dia selalu satu kelas denganku mulai dari kelas 1 SMA. Sampai-sampai kami memilih jurusan yang sama dan selalu satu kelompok. Oh Sehun, namja babo ini, selalu ingin menang sendiri. Selalu nomor 1, peringkat 1, juara 1 disetiap event apapun. Mulai dari perhatian guru sampai seluruh yeoja di Seokjong University.

Kami. Ya, aku dan Oh Sehun berasal dari keluarga yang terpandang di Korea. Orangtuaku dan orangtuanya adalah partner paling besar di Asia. Dan kami, oh aku sudah muak mengatakan ‘kami’, aku dan dia adalah pewaris utama perusahaan yang telah menjalin kerjasama sejak 15 tahun yang lalu.

Tapi orang lain tidak tau dan aku harap mereka tak akan pernah tau apa yang sebenarnya kaluarga kami rencanakan. Pernikahan yang indah, mewah, dan berkelas antara aku dan orang ini. Aku harap itu tak akan pernah terjadi. Ini benar-benar sangat memuakkan!

Aku mendengar ponsel namja ini berbunyi, tanda panggilan masuk. Petugas perpustakaan memberi peringatan padaku dengan berdeham galak.

“YA!!!!” Aku menggoyang-goyangkan tubuh Oh Sehun. Namun nihil, tak ada reaksi sama sekali darinya. Oke, namja ini sangat menyebalkan. Akhirnya dengan ragu aku mengangkat ponselnya.

Dari Oh ahjumma? Matilah aku!! Apa yang harus kukatakan?

“Yoboseyo?” Ucapku hati-hati.

“Jaekyung-ah, calon menantuku. Kau sekarang bersama Sehun, Jaekyung-ah?” Tanya Oh ahjumma yang langsung mengenaliku dengan nada senang?

“Ye ahjumma. Sehun sedang tidur. Sehun terlihat kelelahan setelah kami mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk.” BODOH!!!! Kenapa aku mengucapkan kata-kata ini?? Oh ahjumma pasti berpikir macam-macam. Oh God!!

“Ne? Ah, arraseo. Jaekyung-ah, sampaikan pada Sehun kalau kami akan pulang ke Korea besok pagi.”

“Arraseo Oh ahjumma. Pasti akan saya sampaikan.”

“Aish, kau jangan memanggilku ‘Oh ahjumma’ lagi calon menantuku! Panggil aku eomma!” Pintanya yang terlihat sebagai perintah yang harus dituruti.

“Ah…. Ye, eommonim.” Ujarku kikuk.

“Ya sudah, eomma tutup dulu ya telponnya. Jaga kesehatan kalian.”

“Ye, eommonim. Sampai jumpa. Hati-hati di jalan eommonim.” Ujarku sambil membungkuk.

Aku tutup telpon dari err, eommonim dengan perasaan lega. Astaga ini seperti, aku berkata dengan penjaga neraka. Hufft.

Aku meletakkan kembali ponsel Sehun, maksudku namja babo ini di atas meja perpustakaan.

“Huwaaa……” Namja babo ini menguap lebar sembari merenggangkan kedua tangannya. Huh, namja ini bangun tidur disaat yang tidak tapat. Dasar namja babo.

“Suaramu terdengar lebih lembut saat berbicara dengan ibuku. Kenapa kau tak melakukan hal yang sama saat berbicara denganku, hah?!” Tanya namja babo ini.

“YA!! Kau tadi mendengarnya hah? Kenapa kau tak mengangkatnya sendiri? Dasar bodoh!!!” Ucapku berapi-api. Yang benar saja, saat aku gugup berbicara dengan ibunya, dia malah tiduran dengan santainya. Dasar bodoh!

“Aish, suaramu itu jelek sekali. Bisa-bisa gendang telingaku pecah saat kita sudah menikah nanti.” Katanya dengan wajah innoncent.

“YA! Bodoh!” Aku memukul badannya dengan buku setebal 1000 halaman padanya. Rasakan!! Namja ini sangat senang mengerjaiku.

“YA!!! Sakit, bodoh! Lukaku belum sembuh. Kau kira badanku ini besi? Dasar bodoh!” Ucapnya sambil mengusap-usap lengan kanannya.

Aku hanya mengacuhkannya dan berdiam di kursi yang telah kududuki dari 2 jam yang lalu. Aku benar-benar sebal dengan namja bodoh ini. Bisa-bisanya dia mengerjaiku -_-

“Namja bodoh, orangtuamu akan datang besok pagi.” Ujarku tanpa menatapnya. Aku masih megatur emosiku.

“Aku tau.” Gumamnya pelan, aku memandanginya melalui ekor mataku. Dia masih memegang lengan kanannya. Apa sangat sakit?

“Namja bodoh, ada apa denganmu? Gwaenchana?” Tanyaku dengan suara yang telah kubuat sedatar-datar mungkin. Secuek mungkin pada orang ini.

“Gwaenchana. Aku hanya merasa sedikit sakit, nanti juga sembuh sendiri.” Ujarnya sambil terus memegang lengan kanannya. Aku mulai kawatir. Sudah 5 menit dia memegangi lengannya. Ini bukan Oh Sehun yang aku kenal. Dia pasti akan bersikap acuh dan terlihat sok cool jika kami berada di situasi seperti ini.

Aku mulai beranjak dari dudukku dan melepaskan telapak tangan kirinya dengan kasar.

“YAK!!!” Berkali-kali ia berteriak padaku namun tak kurespon sedikitpun, aku menggulung t-shirt berlengan panjangnya keatas. Menampakkan tangan kurusnya yang sedikit berotot.

Oh tidak, darah mengucur dari lengan namja babo ini. Aku berlari keluar dari perpustakaan dan berlari menuju ruang kesehatan. Aku mengambil kotak P3K dengan cepat dan membawanya ke perpustakaan.

Untung namja babo itu tak pergi kemana-mana. Hufft. Aku melangkah menuju tempatnya dan segera mengobatinya. Tak mempedulikan segala teriakannya.

Selesai. Aku selesai mengobatinya. Aku membereskan benda-benda seperti betadine, dll kedalam tempatnya semula. Sesaat hampir aku melangkah pergi dari hadapannya, dia menarik tanganku. “Gomawo” ujarnya pelan. Mata coklat gelapnya menatap teduh kearahku.

“Kenapa kau selalu berusaha kuat hah? Tch, dasar bodoh!” ujarku lalu membereskan buku-bukuku ke dalam tas. Lalu pergi dari hadapannya.

***

 

Malam minggu. Malam minggu ini seharusnya aku bersama Sunyoo—sahabatku. Kami harusnya sedang jalan-jalan di Myeongdong. Tapi semua rencara itu gagal karena appa dan eomma bersikeras mengajakku ke pembukaan pameran lukisan di daerah Gangnam. Tak biasanya, eomma dan appa bersikap layaknya anak kecil.

Kami sudah tiba di gudung mewah di kawasan elite Gangnam bersama kedua orangtuaku. Aku memakai dress hijau muda selutut tanpa lengan. Tanpa memakai kacamata kesayanganku itu. Eomma memaksakau memakai contact lens.

Eomma dan appa menghambur dengan teman bisnisnya. Yah, saat-saat seperti ini memang sudah tradisi lama. Aku pasti diacuhkan dan disuruh membaur dengan anak rekan bisnis appa dan eomma. Huh, menyebalkan!

Pada akhirnya aku melihat beberapa lukisan dari pelukis terkenal ini hanya seorang diri.

“Hey!! Nona Go Jaekyung!!!” Sapa seorang suara milik namja bodoh itu, lagi.

“Kenapa kau selalu mengkutiku hah? Dasar penguntit!” Ujarku ketus. Lalu memalingkan muka dari wajah sok tampannya.

“Sedikit sopanlah kepada calon suamimu Nona Go!”

“Cih..” Aku mendengus kesal.

“Ya! Kau tak bosan berada disini? Ayo kita keluar, aku tak mau mati bosan ditempat ini.” Ucapnya lalu enarik pergelangan tanganku.

Aku mengikutinya berjalan keluar sambil terus menggandeng tanganku. Tch, semua orang pasti sudah salah paham pada kami terutama kedua orangtuaku dan Oh Sehun. Kami benar-benar menjadi pusat perhatian massa.

Oh Sehun menarik tanganku kelantai paling atas bangunan gedung ini. Kita sudah sampai di atap. Canggung. Tak ada yang memulai pembicaraan. Dia sibuk dengan pemikirannya sendiri sambil menatap langit malam bulan November. Awal musim dingin.

Berkali-kali aku mengusap-usap kedua tanganku. Suhu awal November menusuk kulitku.

“Eoh?” Aku terperanjat saat namja ini melepas jas hitam dan meletakkannya ditubuhku.

“Kau kedinginan. Makanya jangan sekali-kali memakai dress seperti itu. Kau bisa mati kedinginan jika tak ada namja tampan dan baik sepertiku memberimu kehangatan Nona Go.” Ujarnya lalu melingkarka tangan kirinya di pinggangku dan meletakkan kepalanya dibahuku. Oh Sehun, apa kau ingin jantungku berpacu sangat cepat lagi eoh?

“Ya! Apa yang kau lakukan?”

“Go Jaekyung, tadi orangtuaku dan orangtuamu membicarakan rencana pertunangan kita.”

“Eoh? Andwae!!!” Aku hampir saja melepaskan diri dari nya. Namun dengan sigap namja ini mengenggam kedua tanganku dan menatapku dengan pandangan serius. Pandangan yang untuk pertama kali aku melihatnya.

“Waeyo? Kau ingin menghentikannya? Itu…pasti sangat sulit. Eomma menceritakan perihal pembicaraannya denganmu di telpon kemarin. Mereka menganggap kita tidur bersama. Apalagi kau sendiri yang menganggat telepon dan mengatakan hal itu.”

“Kau tak menjelaskan hal yang sebenarnya pada mereka, eoh?”

“Itu percuma. Appa dan eomma tak bisa dibantah.”

“Bodoh, bodoh!” Aku memukul kepalaku sendiri. Aku benar-benar bodoh. Aku menyesal mengatakan hal yang kelewat jujur pada eommonim. Aku benar-benar menyesal. Aku tak mau bertunangan dengan namja babo ini!

Hening. Aku masih merutuki kesialanku. Dasar Go Jaekyung babo!!

“Apa kau membenciku?” Tanyanya menatap mataku lekat. Kali ini dia menjadi sangat serius. Tatapannya berbeda dengan tatapan mata bodoh yang setiap kali mengerjaiku.

DEG

Aku kesulitan bernafas. Dia benar-benar membiusku kali ini. Aku tau dia err, tampan. Bahkan dia adalah namja populer di kampus. Hanya mengacak-acakkan rambutnya saja, dia sudah membuat yeoja-yeoja kampus histeris.

Aku tercegang. Aku bingung. Aku memang membencinya karna dia selalu membuatku marah, dia selalu mengerjaiku, menggodaku, selalu ingin menang dariku. Kami benar-benar rival sejati sejak SMA. Tapi dihati kecilku tidak. Dia selalu mengikutiku untuk mengerjaiku. Dia selalu membuatku berdebar saat kami melakukan skinship. Dia selalu membuat Jaekyung rebus muncul dengan sendirinya. Aku bingung. Apa aku benar-benar membencinya? Aku tak tau. Aku kelewat bingung untuk menjawab pertanyaannya. Aku tak mengerti dengan hatiku sendiri.

“Entahlah, aku tak tau. Aku bingung.” Ujarku jujur.

Sehun menyunggingkan seringaian nakalnya. Dia pasti memiliki niat busuk dibalik seringaiannya.

“Jadi, kau menyukaiku? Anii, kau mencintaiku?” Aish, namja ini mulai menggodaku.

“Yak! Apa katamu? Bermimpilah Tuan Oh!!!” Ujarku ketus lalu melangkahkan kakiku menuju lantai bawah. Dasar namja bodoh!!

Aku perlahan menuruni tangga-tangga dari atap menuju lantai bawah. Namun, ada seorang yeoja kecil memanggilku.

“Jaekyung eonnie!!” Seru sebuah suara anak kecil memanggilku.

“Jinsae-ya! Kau kesini bersama siapa? Mana Suho Oppa?” Tanyaku pada yeoja 5 tahun ini. Jinsae benar-benar menggemaskan. Dia sangat mirip Suho Oppa.

“Appa di toilet. Dia lama sekali.”

“Yasudah, ayo kita tunggu appa Jinsae di sana!” Ujarku pada Jinsae sembari menunjuk sofa panjang di sudut ruangan.

“Eonnie, kapan eonnie main ke rumah Jinsae lagi? Jinsae kangen eonnie! Bogoshipeo” Kata Jinsae setelah kami duduk di sofa. Dia memelukku.

“Eonnie sibuk dengan kuliah eonnie, eonnie janji jika eonnie punya waktu, eonnie akan datang kerumah Jinsae!”

“Janji?” Tanya Jinsae sambil mengulurkan jari kelingkingnya padaku.

“Janji!” Ujarku lalu menautkan jari kelingkungku padanya.

“Jinsae-ya!” Seru sebuah suara dari tempatku dan Jinsae tadi bertemu. Suho Oppa.

“Appa! Aku bertemu eonnie!!” Jinsae berlalu memeluk Suho Oppa dan menarik-narik tanganku mendekati Suho Oppa.

“Annyeong Suho Oppa! Lama tak bertemu.” Ucapku sambil membungkuk.

“Annyeong Jaekyung-ah! Maafkan Jinsae karna sudah merepotkanmu.” Kata Suho Oppa dengan sopan dan berwibawa.

“Aniya, Jinsae sangat manis. Dia benar-benar gadis kecil yang manis.” Ujarku jujur.

Lama kami mengobrol. Tak kusangkan ada suara aneh..errr, bahkan sangat aneh ketika kata itu meluncur dari mulut namja babo itu.

“Chagiya, eommonim dan abeonim menunggu dibawah. Kajja!” Kata namja bernama Oh Sehun yang dengan SANGAT LEMBUT DAN HALUS. Sungguh kejadian langka ia bisa berbicara dengan lembut sopan dan tersenyum kearah Suho Oppa dan Jinsae.

“Nuguya?” Tanya Suho Oppa terkejut dengan kedatangan dan kelakuan namja babo ini.

“Dia………”

“Annyeong, Oh Sehun imnida. Aku namjachingunya Jaekyung! Maaf, kami harus kebawah. Annyeong!!”

Benar-benar diluar dugaan dia melakukan hal ini dan melingkarkan tangan kurus namun berototnya di pinggangku.

Aku mengikuti langkahnya yang terus menarik tanganku. Aku benar-benar belum dapat mempercayai apa yang aku lihat tadi. Seorang Oh Sehun, namja babo yang sangat menyebalkan berubah 360 derajat. Benar-benar mengejutkan!

“YA!! Ada apa denganmu Oh Sehun?” Tanyaku saat kita menuruti tangga.

“Kita pulang!” Ujarnya lalu  kembali menggandeng tanganku.

“MWO??” Tanyaku lagi-lagi heran melihat tingkahnya.

“Orangtua kita langsung terbang ke Jepang China setelah mendengar ada investor asing yang sangat berpengaruh di Eropa. Mereka menyuruhku membawamu pulang bersamaku. Kajja!!”

Tanpa mendengar persetujuanku, namja babo ini menarik tanganku erat. Dan membawaku menuju tempat parkir.

 

***

 

Suasana canggung menyelimuti kami setelah Sehun melajukan mobil audi hitamnya. Raut wajahnya begitu serius dan terlihat tak ingin diganggu.

Aku sebenarnya ingin menanyakan perihal sikapnya padaku tadi saat bersama Suho Oppa dan Jinsae. Dan kelakuannya tadi saat mengatakan bahwa dia ini namjachinguku. Ini bukanlah Sehun yang pernah kukenal. Dia benar-benar bukan Oh Sehun yang kukenal selama 5 tahun ini.

Kami sudah sampai dirumahnya. Kenapa dia mengajakku kerumahnya. Kenapa aku hanya terdiam? Kenapa aku hanya berdiam diri seperti orang bodoh?

Sehun bahkan tak berkata apapun setelah aku turun dari mobilnya dan sampai di ruang tamu rumahnya yang megah nan mewah ini.

“Oh Sehun..”

“Appa dan eommamu menyuruhku membawamu kerumahku. Mereka ingin kau tinggal bersamaku sampai mereka sampai di Korea.” Ujarnya datar tanpa menoleh kearahku. Sehun menyibukkan diri dengan menyalakan tv dan merenggangkan dasi pada kemeja putih polosnya. Lalu duduk di sofa sambil rebahan.

Aku ikut duduk di sofa dan melepaskan jas hitam yang sedaritadi melekat pada tubuhku. “Gomawo..” Ucapku lalu menyerahkan jas yang kupakai kepadanya.

Tak ada jawaban dari mulutnya. Tatapannya lurus pada layar televisi 31” inch yang memperlihatkan adegan sepasang kekasih yang sedang bercumbu di tengah-tengah malam. Aku memalingkan pandanganku dari layar televisi lalu menunduk. Wajahku seketika memerah mengingat ciumanku dengan Sehun tempo hari di toilet namja. Aigoo…

Aku duduk dalam diam. Sehun masih menonton acara televisi yadong ini. Aku benar-benar merutuki stasiun televisi laknat yang benari-beraninya mengumbar adegan mesum menjijikkan itu.

DUK

Sehun menyandarkan kepalanya pada bahuku. Aku terkejut melihat sikapnya yang benar-benar diluar akal sehat seorang Oh Sehun – namja babo ini. Namja ini benar-benar berhasil membuatku seperti orang bodoh di hadapannya.

“Sehun-ah…”

“Ini kali pertamanya kau memanggilku dengan panggilan itu Go Jaekyung.”

“Eh…”

“Kau ingat ketika kau berbicara ditelpon dengan ibuku? Aku sangat senang ketika kau menyebut namaku ‘Sehun’, bukan YA!, Bodoh, atau ‘orang ini’.” Ujarnya terkekeh pelan.

Aku terdiam ditempat memikirkan ucapan namja ini. Dia senang? Apa maksudnya?

“YAK!!!” Sehun membaringkan kepalanya di pahaku. Naja kurang ajar!

“Stttt, aku mengantuk. Biarkan seperti ini saja dulu.” Ujarnya lalu meraih dan menggenggam tanganku.

Aku masih terdiam menerima perlakuan kurang ajarnya. Aku tau, Oh Sehun bukanlah namja pabo. Dia bahkan tanpa belajar sekalipun dapat mengerjakan soal-soal ujian dengan benar.

Kami memang selalu memanggil satu sama lain dengan sebutan ‘YA!’, ‘bodoh’, ‘orang ini’, ‘namja bodoh ini’, ‘yeoja bodoh ini’. Dan itu berlangsung selama hampir 6 tahun. Dan dalam waktu selama itu, kami hanya memperolok satu sama lain. TAk ada bedanya dengan anak kecil bukan?

Sehun tertidur dengan menggenggam tangan kananku. Dia letakkan di dadanya. Hahaha…. Saat dia tertidutr seperti ini, dia seperti anak kecil yang manis. Hahaha…. tanpa sadar aku membelai rambut hitam kecokelatannya. Ekaspresinya benar benar lucu.

“Oh Sehun, aku juga mengantuk. Beranjaklah dari……” Ucapku terpotong saat tanpa sadar Sehun mencium bibirku dengan cepat. Tak sadar tadi aku telah berbicara tepat di depan wajahnya tadi.

“Ayo kita ke kamar!”

Refleks aku mengikuti langkahnya. Tanggan kananku masih digenggam dan ditarik masuk ke subuah kamar. Kamar bercat putih dengan ranjang king size tepat berada didepanku.

“Ayo tidur~!” Serunya yang telah berada di ranjang.

“Mwo? Aku tidur satu ranjang denganmu?”

“Tentu saja!” Dia membuka kancing kemeja putihnya didepannku. Refleks aku memalingkan wajahku darinya.

“Kau mau aa-ap…….?” Ujarku terbata saat dia dengan sukses meloloskan kemejanya dari badan kurus nan kekar miliknya.

“Jangan berpikiran mesum!! Pakailah kemejaku. Kau tak mungkin tidur dengan dress mini itu denganku!!” Katanya sambil melemparkan kemejanya padaku.

Aku mengambil kemeja putih polosnya dan beranjak ke kamar mandi. Aku mengganti dress hijau muda mini ini dengan kemeja milik Sehun.

***

Aku tertidur di dalam kamar Sehun. Ya, kami tidur berdua. Eitss, jangan berpikir macam-macam tentang kami! Kami tak melakukan apapun. Kami hanya berpelukan saja.

Ya, aku pikir hubungan kami lambat laun semakin membaik.

Morning~~~

Aku bangun duluan. Jam dinding kamar Sehun menunjukkan pukul 7 pagi. Huh, aku tidur sangat lelap. Namun namja ini masih saja tidur dengan sebelah tangan memeluk tubuh rampingku. Dan aku tertidur di pelukan dada bidangnya. Aroma tubuhnya sangat harum.

Tadi malam Sehun hampir saja menyentuhku jika saja tak kucegah. Hahaha… dia bahkan sangat liar jika sudah sampai ranjang. Tadi malam dia menyatakan perasaannya padaku.

Dasar nappeun namja!

 

THE END

 

Hai hai ‘-‘)b

Ini pertama kalinya gue bawa fanfic yang pake cast babang Sehun aka Pangeran Pengendali Angin (?). Ini author buat saat author sedang frustasi /curcol/ jadi maap kalo hasilnya jelek /bungkuk imut/.

Ya udah ya. Segini aja cuap-cuap dari author dadakan ababil alay ga tau malu ini -_-. Yang jelas elo-elo semua, Anda semua, para readers kudu Comment+Like /maksa/. Kalian juga bisa baca another fanfic karya gue di wp unyu gue. Pengen tau uname wp gue? Mention di PA twitter saya!!😀

With Love, Bit (@Novita_Milla) n_n

20 thoughts on “Stupid Love

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s