Our Destiny |Prolog|

Prolog   

ourdestinychap3

Siang yang begitu terik, matahari seakan begitu bersemangat memancarkan sinarnya. Tidak peduli dengan semua ucapan para mahluk bumi yang terus mencibir karna panas matahari yang seakan menusuk kulit mereka. Siang yang begitu sibuk.. semua orang disibukkan dengan aktivitas mereka masing-masing. Hiruk pikuk kota begitu terasa dan sangat mengganggu.

Tapi tidak untuk namja yang satu ini. Siang yang krodit itu malah ia jadikan sebagai momen untuk aksi kaburnya. Ia masih berlari kencang menjauh dari gedung putih bertingkat ditengah kota. Wajahnya tampak pucat dan bibir tipisnya terlihat berwarna putih, mungkin karna ia kelelahan setelah berlari sekitar 200 meter. Setelah merasa sudah cukup jauh, namja berparas tampan itu menghentikan langkahnya. Ia tertunduk sambil memegangi lututnya sembari berusaha menstabilkan kembali aliran nafasnya.

Ia palingkan penglihatannya kesekeliling tempat ia berdiri sekarang. Perlahan pandangannya mulai memburam, dadanya mulai terasa sesak, dan pening tiba-tiba terasa dikepalanya. Keningnya mengkerut akibat denyutan yang ia rasakan dikepalanya. Namja itu meringis kesakitan sembari berjalan kearah tangga sebuah gedung bertingkat bermaksud duduk untuk beristirahat. Ia pun duduk di anak tangga ke 4 sambil menyenderkan tubuhnya kesamping ke tembok ditepi tangga. Tubuh putihnya tampak bersinar diterpa terik matahari siang itu, tapi aurat pucat yang tergambar jelas diwajahnya seakan mengurangi goresan sempurna diwajah itu.

¶¶¶¶

“Sampai jumpa besok Jieun’ah~” pekik 2 orang gadis dari kejauhan setelah keluar dari sebuah coffee bean. Mereka bermaksud mengucapkan salam perpisahan pada teman mereka yang kali ini tidak pulang searah dengan mereka.

Gadis manis itu membalikkan tubuhnya kemudian melambaikan tangannya kearah  sepasang sahabatnya itu. Ia tersenyum kemudian kembali membalikkan tubuhnya kehaluan semula. Yeoja itu kembali melangkahkan kakinya kearah yang dituju.

Park Ji Eun.. gadis manis berambut hitam panjang itu berjalan lurus kearah utara. Ia masih menggunakkan seragam sekolahnya. Kali ini ia tidak bisa pulang bersama teman-temannya karna harus pergi kerumah bibinya yang meminta tolong padanya untuk membantu ditoko bunga milik bibinya itu. Walau dengan setengah hati tapi ia tidak mungkin menolak permintaan bibinya yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.

Jieun menelusuri piggiran jalan kota diteriknya siang itu sambil meminum satu cup coffee Americano kesukaannya. Tanpa sengaja ia melihat sesosok namja berwajah pucat yang sedang duduk sambil memejamkan matanya di tangga sebuah gedung bertingkat. Ia merasa ada yang aneh pada namja itu. Wajahnya tampak putih dan begitu pucat, selain itu mata nya yang terpejam sambil mengkerutkan dahi itu menambah kesan mengkhawatirkan pada dirinya. Diperhatikannya  terus namja pucat itu sambil berjalan melewatinya.

Nyuut..

Sebuah sengatan kecil tiba-tiba ia rasakan dikepalanya. Gadis itu menghentikan langkahnya lalu memegangi kepalanya yang terasa pening. Ia sedikit meringis kemudian kembali melihat kearah namja tadi.

Deg

Tanpa aba-aba dari otaknya, Jieun menaiki anak tangga itu satu persatu bermaksud menghampiri namja yang tiba-tiba menarik perhatiannya itu. Entah siapa dan mengapa, hatinya seakan memerintahkannya untuk menghampiri namja berambut silver itu untuk memastikkan bahwa ia tidak apa-apa.

Semakin dekat dengan namja itu, jantungnya berdetak semakin cepat. Perasaan aneh dan gelisah tiba-tiba melanda hati yeoja itu. Kini Jieun sudah sampai didepan namja tampan itu satu anak tangga dibawah tempat namja itu duduk. Perlahan ia menurunkan tubuhnya untuk menyetarakan arah pandang mereka. Pelan ia sibak rambut yang menutupi kening namja itu kemudian menyentuh keningnya lembut, dan seketika itu juga ia melepaskan sentuhannya.

“Panas sekali..” guman Jieun pelan. Kemudian ia kembali mengarahkan tangannya memegang pundak namja itu lalu mengoyangkan tubuhnya agar ia terbangun.

“Hey! Apa kau baik-baik saja? Hey! Jangan tidur ditempat seperti ini kalau kau sedang sakit. Nanti sakitmu malah tambah parah. Hey! Kau—“

Puk

Jieun terdiam.. kini kepala namja itu jatuh dipundaknya. Wangi tubuh namja itu juga seketika menyeruak di indera penciumannya. Wangi yang terasa begitu familiar di hidungnya. Tapi yang paling membuatnya merasa aneh adalah kenapa sejak melihat namja itu jantungnya seakan berdetak begitu cepat?  Hatinya merasa gelisah dan khawatir melihat keadaan namja itu. Hatinya seakan menggiringnya untuk menolong namja yang menurut hati nuraninya ia kenal.

“Hey! Ayo bangun! Kau tidak bisa tidur disini..” ucap Jieun yang masih berpikir kalau namja pingsan itu tertidur.

“Hey!”

Deg

Jieun kembali terdiam.. kali ini karna guncangan tangannya yang berusaha membangunkan namja itu membuat pergesaran dari letak kepala namja itu. Dan kini bibir tipis namja itu.. sedikit menyentuh pipinya. Tapi bukan sentuhan bibir namja itu yang membuatnya terdiam, melainkan hembusan nafas yang tidak dapat ia rasakan keluar dari hidung namja itu.

“Huaaa.. Kenapa tidak bernafas!!” pekik gadis itu. Jieun panik seketika. Beberapa orang yang melewati mereka memperhatikan mereka agak bingung. Ia pun meraih pergelangan tangan namja itu. Dapat ia rasakan denyutan di urat nadi pemuda itu.

“Syukurlah… Dia hanya pingsan aku kira dia meninggal-_-“

“Bagaimana ini? Aku harus segera membawanya kerumah sakit, tapi mana bisa aku mengangkutnya sendirian. Berat tubuhku hanya setengah dari beratnya..” yeoja itu bingung seakan kalut akan kepanikannya. Sampai akhirnya ada seorang laki-laki paruh baya dengan seorang kakek-kakek yang menghampiri mereka dan menawarkan bantuan.

“Agasshi..apa kau butuh bantuan?” tanya laki-laki paruh baya itu lembut.

“Oh tentu ajusshi.. pemuda ini pingsan. Bisakah kau membantuku membawanya kerumah sakit?”

¶¶¶¶¶

Disebuah rumah sakit yang cukup terkenal diSeoul. Jieun sedang berada diluar sebuah kamar tempat namja yang ia temukan pingsan dijalan tadi diperiksa. Ia menunggu diluar bersama laki-laki paruh baya dan seorang kakek yang membantunya tadi. Seorang dokter dan suster sedang memeriksa keadaan namja tadi. Perasaan gelisah seakan menggerogoti hati gadis itu. Entah mengapa hatinya begitu khawatir padahal ia sama sekali tidak mengenal siapa namja itu. Rasa sakit dikepala Jieun juga belum hilang, ia masih merasakan denyutan yang semakin menjadi dikepalanya. Tapi entah karna terlalu khawatir atau apa.. yeoja itu seakan melupakan sakitnya hanya karna namja yang ia tidak kenal itu.

“Agasshi? kau terlihat pucat.. Kau pasti begitu mengkhawatirkan kekasihmu. Kau tenang saja ia akan baik-baik saja” laki-laki paruh baya itu memegang pundak Jieun yang duduk disebelahnya dengan lembut. Laki-laki itu sadar akan wajah Jieun yang mulai memucat.

“Ah.. tidak Ajusshi.. dia bukan kekasihku. Aku hanya tidak sengaja menemukannya pingsan dijalan tadi” ucap Jieun malu-malu.

“Oh benarkah? Tapi kalian terlihat serasi. Dan.. tatapan matamu sejak tadi terlihat berbeda ke namja itu. Aku kira kalian saling mengenal”

Benar.. Jieun membenarkan perkataan laki-laki berpakaian sederhana itu dalam hatinya. Ia juga merasakan ada yang aneh pada dirinya sendiri. Ia merasa.. mengenal namja itu.

“Reinkarnasi ya..” ucap kakek yang duduk di sebelah laki-laki itu tiba-tiba sembari mengangguk-anggukan kepalanya. Ucapan aneh.. yang membuat 2 orang rekannya tidak mengerti.

“Apa? Ayah bilang reinkarnasi?”

“Hm.. mereka berinkarnasi dan dipertemukan lagi di takdir selanjutnya. Sangat beruntung..” lanjut kakek itu. Anaknya dan Jieun hanya memandanginya bingung. Tidak mengerti apa yang sebenarnya kakek itu bicarakan. Kakek itu bicara sekan ia begitu mengerti dengan apa yang terjadi.

“Kakek.. maksud kakek apa? Mereka? Mereka.. siapa?” tanya Jieun sambil mengernyitkan dahinya dalam.

“Siapa lagi? Tentu saja kalian..”

“Kau.. dan namja itu..” kata kakek itu sambil menunjuk Jieun kemudian menunjuk kearah kamar dibelakang mereka.

“Apa? Aku?”

CEKLEK

Pintu kamar itu tiba-tiba terbuka dan seketika mengalihkan perhatian 3 orang yang sedang berbincang itu. Seorang laki-laki yang kira-kira berumur 30thn dan seorang yeoja berpakaian serba putih keluar dari dalam kamar. Jieun, laki-laki paruh baya dan kakek-kakek itu menoleh seketika. Dengan cepat Jieun bangun dari duduknya kemudian berdiri berhadapan dengan dokter yang menangani namja itu. Diikuti dengan laki-laki paruh baya dan kakek itu.

“Bagaimana dokter? Apa dia baik-baik saja?” tanya Jieun sedikit terburu-buru. Hatinya seakan memaksanya untuk segera mengetahui keadaan namja yang sempat membuatnya khawatir itu.

“Apa anda keluarga pemuda itu?” tanya dokter itu pada Jieun

“Bukan.. aku bukan keluarganya. Tapi.. aku yang menemukannya pingsan dijalan tadi” ucap yeoja itu ragu-ragu.

“Lalu apa kau bisa menghubungi keluarga pemuda itu? Aku butuh bicara dengan keluarganya, ini cukup serius”

“Eh? Begini dok.. aku sama sekali tidak mengenal siapa namja itu. Aku hanya tidak sengaja menemukannya pingsan dipinggir jalan. Dia juga tidak membawa tanda pengenal apapun, jadi aku tidak tau bagaimana menghubungi keluarganya..” Jieun menggaruk tengkuk lehernya yang seketika gatal karna gugup.

“Jadi dugaanku benar.. suster? Cepat beritahu bagian administrasi agar menghubungi beberapa rekan kita. Mungkin kita bisa mendapatkan data pemuda itu”

“Baik dokter..” ucap suster asiten dokter itu, kemudian pergi menjalankan perintah yang diberikan.

“..Tapi dokter.. kau bisa percaya padaku. Aku… yang akan bertanggung jawab atas pemuda itu sampai keluarganya ditemukan. Bolehkah.. aku tau keadaanya?”

¶¶¶¶¶

Tap

Perlahan Jieun melangkah masuk kesebuah ruangan tempat namja itu dirawat. Ia berjalan pelan agar namja itu tidak terganggu dangan derap langkahnya walaupun ia tau mungkin namja itu tidak akan mendengar apapun. Ia hampiri sesosok manusia yang sedang berbaring disebuah tempat tidur kecil di kamar itu. Tidur dengan pulas tanpa diketahui kapan ia akan terbangun kembali.

“Pemuda itu bukan pingsan, melainkan koma. Menurut pemeriksaan yang dilakukan tadi, ternyata ia menderita kanker otak yang sudah cukup parah. Mungkin ia baru saja melakukan kegiatan yang cukup menguras tenaganya.. dan karna kelelahan ia pingsan kemudian koma”

 

“Kanker otak?…. Koma?…” Jieun memandangi tubuh yang terkulai lemah diatas tempat tidur itu lirih. Hatinya seakan sakit saat tau bahwa namja itu ternyata menyidap kanker otak.

“Penderita kanker otak memang memiliki stamina tubuh yang lemah, dan dapat dipastikan pula bahwa kondisi tubuh pemuda itu sedang dalam perawatan rumah sakit. Mungkin ia baru saja kabur dari rumah sakit tempat ia dirawat sebelumnya. Tapi.. kami akan mencoba menghubungi beberapa rumah sakit diSeoul untuk memastikan kalau mereka tidak kehilangan pasien mereka”

 

 

 

Tes

 

Airmata seketika jatuh dari mata bulat gadis itu. Entah mengapa.. hatinya begitu perih melihat keadaan namja itu. Namja yang membuatnya bertingkah seperti orang gila.. menangis.. khawatir.. panik hanya karna orang yang bahkan belum pernah itu temui sebelumnya.

“Hey bodoh! Kenapa kau kabur dari rumah sakit? Sudah tau kondisimu lemah..kau malah dengan bodohnya pergi dari rumah sakit! Liat kondisimu sekarang! Apa kau mau mati eoh?” ucap Jieun disela-sela tangisannya.

“Oh.. Sehun??…” seperti membaca sebuah tulisan.. gadis itu membaca tulisan yang muncul diotaknya. Sebuah nama yang sejak tadi menganggu pikirannya. Nama yang menurutnya.. milik namja itu..

Deg

Sakit tiba-tiba terasa begitu menyiksa kepalanya. Dadanya terasa begitu sesak hingga membuat nafasnya terengah. Tubuhnya terhuyung kebelakang akibat rasa sakit yang tiba-tiba menggerogoti tubuhnya. Seluruh tubuhnya seakan melemas dan bergetar hebat. Ia pegangi kepalanya yang berdenyut begitu keras.

“Akkhhh…” gadis itu berteriak sambil meremas kepalanya. Sakit dikepalanya semakin menjadi.. oksigen semakin sulit ia atur disaluran pernafasannya.

“Oh Sehun.. aku mencintaimu…”

 

“Tidak! Kumohon jangan tinggalkan aku Jieun’ah!!!!”

 

“AKKKHHH…” Jieun semakin meringis kesakitan. Beberapa memori tiba-tiba terputar diotaknya. Memorinya yang tidak ia ketahui datang dari mana.. kejadian yang sama sekali tidak pernah ia alami..

“Jieun.. kau harus kuat! Kau tidak boleh pergi meninggalkanku. Aku tau kau bisa bertahan”

 

“Aku tidak bisa Sehunnie.. aku lelah dan aku ingin mengakhiri semuanya..”

 

Bugh

Tubuh gadis itu terbentur ditembok. Ia tertunduk dan terduduk dilantai sambil tetap memegang kepalanya.

“Si..siapa.. memori siapa ini?” ucap Jieun pelan kemudian kembali meringis karna denyutan dikepalanya.

“Selamat tinggal.. Sehunnie…”

 

“Jieun’ah??? JIEUN’AH KUMOHON BANGUN!! JANGAN TINGGALKAN AKU!!”

Airmata jatuh kembali membasahi wajah manis gadis itu. Ia menangis.. menangis dengan isakan kecil.  Ia menangis melihat memori yang terputar diotaknya. Ia melihat seorang gadis yang terbaring disebuah ranjang rumah sakit. Wajah gadis itu tidak terlalu jelas terlihat, bahkan sangat buram dipenglihatannya. Tapi.. yang dia lihat dengan begitu jelas.. seorang namja berdiri disamping ranjang gadis itu dengan wajah yang berlinang airmata. Namja dengan wajah yang begitu ia kenal..

DEG

“Oh Sehun…” Jieun mendongak sedetik itu juga. Ia bangun dan kembali mendekat keranjang tempat namja misterius itu berbaring. Walau agak tertatih ia berjalan perlahan. Ia tatap lekat wajah namja yang ia rasa bernama Oh Sehun itu. Wajah tampan dengan paras sempurna.. wajah yang sama seperti yang ia lihat dimemori tadi.. wajah yang sama dengan namja yang menangis karna gadisnya pergi menutup mata untuk selamanya.

“Si..siapa kau sebenarnya??” gumam Jieun pelan dengan ekspresi wajah yang begitu mengisyaratkan kebingungan.

¶¶¶ To be Continue ¶¶¶

N/B : NO SIDERS!! NO PLAGIAT! HARGAI KARYA ANAK BANGSA!!

6 thoughts on “Our Destiny |Prolog|

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s