Seoul Saranghae

Seoul,saranghae

Title : Seoul , Saranghae !

Author : Summer-cat (@Haerseys)

Casts : You , Zhang Yixing, Xi Lu Han , Kim Jong In , Wu Yi Fan , Lee Dong Hae (minor cast)

Genre : Romance

Rate : Parental Guidance

Length : Consists of 4 drabbles. Total words of all drabbles is 2237 words.

Author’s Note :

Hello there beloved ones! Happy Valentine !❤❤❤

I made four drabbles (or maybe some of it can be considered as ficlet) for you guys n_n

I’m not really good at describing places, jadi mungkin gakterlalu mendetail untuk menunjukkan kejadian tiap cerita. Tapi yang jelas semua setting-an nya di Seoul, kota impian kita😉

Inspired from sweet movies titled “New York , I love you” and “Paris, J’et aime”

Enjoy reading  !

________________________________________

Welcome to Seoul

The Capital city of South Korea.

Ini adalah kota dimana kau bisa menemukan cinta disetiap sudutnya.

__________________________________________

 

Title    : Scared

Casts   : You , Zhang Yixing

Length : 474 words

I’m scared of everything.

Everything feels so strange.

Tekstur kasar dari pasir pantai yang menggelitiki kakiku terasa begitu asing. Deburan ombak yang menghantam kakiku membuat tubuhku dan hatiku goyah. Begitu dingin dan menghanyutkan. Sengatan sinar matahari menusuk kulitku dan membuatku merasa seakan kulitku akan mengelupas karena sengatannya. Kicauan burung camar memekakkan telinga, seolah olah mereka bernyanyi kegirangan karena senang melihat aku yang rapuh tersiksa seperti ini.

Aku benci menjadi buta.

Saat kau kehilangan salah satu alat indramu, seluruh alat indramu yang lain akan menajam—melebihi dari orang biasa. Aku tidak mengada ngada soal ini. Aku bisa mencium bau parfum seseorang sekalipun parfum itu sudah dipakai 3 hari yang lalu.  Aku bisa mendengar suara gemerisik angin yang menabrak kaca jendela rumahku. Aku bisa membedakan dan mengenali tekstur dari tangan setiap orang. Segalanya terasa begitu jelas, kecuali satu, penglihatanku.

Aku bisa mengenali dunia tanpa melihatnya, dan ini membuatku takut.

The world scares me.

“Apa yang kau dengar, cium, dan rasakan?”

Zhang Yixing.

Nama yang begitu sulit aku lafalkan sampai sekarang. Dan begitu sulit pula bagiku untuk memahaminya.  Dia begitu aneh. Bukankah menunggui seseorang dan terus mengatakan ‘aku ingin berkenalan denganmu’ semalaman itu aneh? Bukankah mengikuti seseorang asing (dan buta) menaiki bus dengan alasan ingin menjaganya itu aneh? Bukankah menawarkan persahabatan kepada seseorang yang tidak bisa melihat apapun sejak lahir itu aneh?

Segala sesuatu dari Yixing itu aneh.

But somehow it doesn’t scare me.

“Aku merasakan ombak yang membuat tubuhku oleng. Mencium bau garam yang terlalu tajam. Dan mendengar suara camar yang memekakkan telinga. Kau? Apa yang kau lihat?”

“Aku melihat seorang gadis dengan pipi yang memerah karena ketakutan. Gadis itu takut akan segala hal.” Gumam Yixing seraya tertawa kecil.

Aku memutar bola mataku.

“Dan tahukah kau? Ketakutan gadis itulah yang menarikku kepadanya. Seperti sebuah magnet.”

Aku tidak bisa melihat,tapi aku bisa merasakan Yixing menatapku tajam. Dan anehnya,  jantungku berdentum kencang karena itu.  Aku mengatupkan bibirku, membiarkan dia melanjutkan ucapannya.

“Semakin aku mengenal gadis itu , semakin kuat keinginanku untuk menjaganya. Aku ingin menjadi matanya, yang membuatnya dapat melihat dunia dengan jelas. “

Hatiku bergetar mendengar ucapannya. Dia ingin menjadi mataku.

“H-hentikan. Kau terdengar menggelikan.”

“Aku ingin menjadi matanya, selamanya.” Gumam Yixing tanpa menggubris diriku. Tangan besarnya perlahan menangkap tanganku dan menggenggamnya dengan erat.

“Yixing, berhentila—“

“Aku mencintaimu.”

Dan duniaku seketika berhenti begitu mendengar pengakuan darinya. Tak ada lagi pasir yang kasar, burung camar yang berisik, dan ombak yang dingin. Hanya aku dan Yixing , menggenggam tangan satu sama lain begitu erat.

“Aku…”

Aku tak akan pernah bisa memahami Yixing sepenuhnya.

“Juga mencintaimu, Yixing.”

Namun satu hal yang aku tau pasti.

“Aku pegang janjimu untuk menjadi mataku selamanya.”

Dunia mungkin akan terus terasa menakutkan bagiku, namun kini aku memiliki seseorang yang akan menjadi pelindungku.

“Kau bisa pegang janjiku. Aku akan menjagamu…”

Dialah si aneh Yixing , yang membuatku bisa melihat dunia.

“Selamanya.”

I won’t be scared anymore.

________________________________________________

Title   : Love Bet

Casts : You  , Kim Jong In

Length :  820 words

“Yang tidak berhasil meneguk bir dalam 15 detik harus mencium orang yang disukai.”

“Kau gila? Aku tidak menyukai siapapun saat ini!”

Pekikanku untuk menolak taruhan hanya dibalas dengan tatapan sengit dari laki-laki itu, Kim Jong In.  Lampu temaram dari tenda kios pingir jalan di malam hari ini meninggalkan bayang bayang di wajah Jong In yang membuatnya .. well, terlihat creepy.

“Jalani dulu tantanganku. Tidak usah protes, gadis bawel. Setidaknya cium saja  orang yang memenuhi kriteriamu yang lewat di jalan ini .”

Kami berdua hidup untuk bersaing.

Sejak kapan? Mungkin sejak lahir.  Inilah kenapa aku berjanji kelak saat memiliki anak aku tidak akan memaksakan anakku untuk bersahabat dengan anak anak sahabatku. Apalagi jika anaknya semenyebalkan Jong In. Kau harus tau, Jong In adalah manusia tercongkak dan sangat rakus akan kemenangan. Dan aku adalah korbannya, sejak kecil kami selalu bersaing dalam berbagai hal.

Saat kami berumur 5 tahun, kami bersaing dalam siapa yang mampu membuat kastil pasir paling tinggi.

Saat kami berumur 13 tahun, kami bersaing dalam siapa yang paling banyak mendapat nilai A.

Saat kami berumur 18 tahun, kami bersaing dalam siapa yang mampu membuat pasangan kami mencium bibir kami lebih dulu.

Ya, taruhan yang terakhir adalah taruhan yang tebodoh yang pernah kujalani. Dan aku sangat tolol untuk menerima begitu saja taruhan itu. Oh ya, sudahkah aku menceritakanmu bahwa pacarku memutuskan hubungan karena hal itu? Thanks to Jong In , aku dan pacarku karena pacarku terusik dengan taruhan bodoh darinya.

Aku tidak suka bersaing. Dia yang memulainya. Percayalah.

“Ini pertama kalinya aku mencoba alkohol. Jangan adakan tantangan tantangan bodoh lagi.”

Hari ini aku genap 20 tahun.

Aku telah menunggu nunggu kesempatan ini bertahun tahun. Umur dimana kau dianggap dewasa. Dewasa itu artinya boleh melakukan apapun sesuka hatimu. Alkohol salah satu alasan kenapa aku tidak sabar menunggu umurku genap 20 tahun. Aku tidak berniat untuk menjadi pemabuk, hanya penasaran, itu saja.

“Aku sudah membelikanmu bir tanpa meminta kau mengganti uangnya. Bisakah kau menjadi sopan sedikit dengan cara ikut taruhanku?”

Aku memutar bola mataku.

“Oh terserahlah.”

Jong In tersenyum penuh kemenangan. Ingin rasanya aku menghantam wajahnya yang menyebalkan itu.

“Aku sudah menyiapkan dua timer. Satu untukmu dan satu untukku.”

Aku mendengus melihat betapa Jong in telah menyiapkan taruhan ini sedemikian rupa. Rupanya dia sudah tidak sabar melihat aku kalah dan menjalani taruhan itu. Aku memandang sengit ke arah matanya seraya meraih gelas birku. Tangan kiriku bersiap untuk menekan tombol timer dan tangan kananku mengangkat gelas birku.

“Hana..” Devilish smirk dari Jong in semakin menaikkan emosiku. Buku buku jariku memutih karena menekan gelas bir terlalu erat.

“Dul..”

“Set!”

Dalam kecepatan kilat segera aku menempelkan bibirku di gelas itu. Tepat seketika cairan bir memasuki kerongkonganku sensasi panas mulai menjalar. Seiring dengan mengosongnya gelas yang ku genggam kepalaku terasa semakin berat . Kukerahkan kesadaranku yang tersisa sekuat yang kumampu. Jangan sampai aku menjadi terlalu mabuk sampai tidak mampu menekan tombol timer.  Jangan kalah dari Jong In lagi. Kata kata tersebut terngiang-ngiang  di  kepalaku membuat kesadaranku tetap bertahan.

Selesai!

Aku memekik senang begitu menyesap tetesan terakhir dari bir yang ada di gelasku. Segera aku memencet tombol timerku dan melihat ke angka yang tertera di layarnya.

7,25 detik.

Aku tersenyum puas dengan hasil yang kucapai.

“Jong—“

Aku membelalak mata melihat apa yang jong in lakukan. Ia meminum birnya dengan begitu santai. Apakah taruhan tadi hanya bercanda? Aku mengepalkan tanganku kesal. Aku telah berjuang mati matian meminum bir itu secepat mungkin sampai kepalaku terasa begitu berat dan lihat dia, meminumnya dengan amat santai seolah olah taruhan tadi tidak perna terjadi.

“Selesai.” Gumamnya santai seraya meletakkan gelas yang ia minum di meja.

“Oh, 17 detik. Apakah aku kalah?”  Dahiku mengernyit melihat sikapnya yang biasa saja saat mengetahui bahwa dirinya kalah. Biasanya kalah dari taruhan bisa membuat mood Jong In menjadi amat sangat buruk.  Apakah ini karena dia mabuk?

“Kau ini mau bermain main denganku ya? Taruhan tadi hanya main- ma—“

Malam yang temaram terasa begitu terang tepat saat Jong in mengecup lembut bibirku dengan bibirnya. Semilir angin malam membuat rambut gelap jong in menggelitiki pipiku. Kami memang sering berpegangan tangan, namun kini saat jemari tangan milik jong in menaut dengan jemariku terasa begitu berbeda. Hangat dan menyenangkan. Hembusan nafas lembut milik jong in membuat malam ini terasa hangat seketika.

Ini gila.

“Apa-apaan kau.” Aku meninju bahu Jong In seraya mengatur nafasku yang masih terengah-engah karena ciuman tadi.

“Bisa kau ulangi tidak apa yang harus dilakukan oleh orang yang kalah dari taruhan ini?”  gumamnya tanpa menggubris protes ku tadi.

“Orang yang kalah harus mencium orang yang disu—“ Ucapanku terhenti begitu menyadari sesuatu. Harus mencium orang yang disuka.  Tatapan mata Jong In yang biasanya menatapku dengan sengit kini melembut. Jemarinya menyelisip di rambutku dan membelaiku dengan lembut.

“Nan nega jeil joha. (l like you the best) ” Bisiknya di telingaku seraya mendekapku dengan hangat.

Sepertinya aku harus membuat taruhan lagi.

Taruhan siapa yang lebih dulu mengucapkan ‘aku sayang kamu’ di pagi hari.

Dan..

Sepertinya kami berdua akan memenangi taruhan itu.

____________________________________________

Title : Loving a Peterpan

Casts : You , Xi Lu Han

Length : 440 words

“Apakah aku terlihat cantik dengan dress ini?”

“Tidak. Warnanya tidak cocok denganmu.”

“Kalau yang itu?”

“Tidak.”

“Bagaimana dengan yang warna merah jambu ini. Cantik sekali bukan?”

“Tidak. Bahannya tidak bagus, cepat robek.”

Aku meringis begitu mendengar ucapan dari namjachingu-ku , Lu Han. Suarany terlalu lantang, sepertinya pemilik toko ini mendengar apa yang Lu Han tadi ucapkan. Aku membungkuk pelan seraya berkata maaf ke arah para staff di toko ini.

“Suaramu terlalu besar. Mereka sakit hati mendengar ucapanmu.”

“Aku tidak peduli.” Ucapnya tak acuh seraya berjalan meninggalkanku untuk berkeliling toko.

Aku menghela nafas kesal. Sudah lebih dari 2 jam aku dan Lu han berputar putar mencari dress yang tepat untuk kugunakan saat bertemu orangtuanya. Dan tak ada satupun yang disetujui oleh Lu Han.

“Kau ini kenapa sih? Apakah harga dress disini terlalu mahal? Kau tidak perlu membelikannya, biar pakai uangku saja.”

“Bukan itu masalahnya.” Ujarnya sengit seraya memandangku dengan kesal. Alisnya menyatu karena kesal dan wajahnya memerah. Biasanya aku akan luluh setiap melihat wajanya yang terlalu menggemaskan, namun kini au sudah terlanjur lelah dan kesal dengan sikap kekanak-kanakannya.

“Kau terlihat cantik dengan semua pakaian disini. Tapi..” Luhan menunduk seraya mengusap tangannya sendiri.

“Tapi apa? “ Kusilangkan lenganku seraya menuntut penjelasan darinya.

“Kau terlihat begitu cantik sampai sampai semua orang melihatmu tanpa berkedip.”

“Mwo?” Aku mengerjap kan mataku, tak percaya dengan ucapan Lu Han. Ia hanya menggedikkan bahu seraya tersenyum lemah melihatku. Tangannya melingkar di pinggangku dan ditariknya aku ke dalam dekapannya.  Dengan lembut, luhan mendorong kepalaku untuk bersender di dadanya.

“Laki laki yangada di pojok ruangan itu tidak hentinya memandangimu. Lalu kasir laki-laki yang itu juga memandangimu dari tadi. Bahkan tadi ada sepasang suami istri yang berkelahi karena suaminya terus memandangimu. Nan niga shireo (I hate it) . “ Lu Han menyandarkan dagunya di atas kepalaku. Aku mengulum senyum mendengar ucapannya. Kemarahanku hilang sektika karena dirinya.

“Aku hanya ingin terlihat cantik di depan orang tuamu.”

“Kau sudah cantik bahkan dengan pakaian sederhana. Kau hanya boleh berpenampilan cantik di depanku. Ingat itu.” Luhan mengetuk ngetukkan jarinya di hidungku dengan pelan.

Aku terkikik geli dengan sikapnya.

“Ayo pulang.” Ucapnya girang seraya menarik tanganku, aku hanya tersenyum mengikutinya.

Dalam perjalanan pulang kami saling bertautan tangan begitu erat. Sempat satu dua kali Lu Han merengut karena menurutnya ada beberapa lak-laki yang terus memandangiku. Aku hanya bisa terus menggodanya dengan mengatakan ‘salah sendiri kau memilih bersama gadis cantik’ dan kami akan berakhir bekejar kejaran seperti anak kecil. Kami tertawa lepas selama perjalanan pulang. Inilah kenapa aku merasa nyaman bersamanya, Lu Han ku yang seperti anak kecil.

Karena sampai kapanpun juga, ia akan selalu memiliki jiwa anak kecil, layaknya seorang peterpan yang akan selalu mengajakku untuk bermain dan tertawa bersamanya.  Selamanya.

_____________________________________________

.

Title : Don’t Forget

Casts : You , Wu Yi Fan ,  Lee Dong Hae (minor cast)

Words : 503 words

Kadang aku berharap kau memikirkan apa yang kupikirkan.

14 Februari . 4 tahun yang lalu.

Ingatkah kau saat itu kau datang terengah engah memasuki toko bunga milikku. Saat itu kau bertanya pertanyaan bodoh, kau menanyakan ‘apakah ada bunga mawar merah di toko ini’. Ya, pertanyaan yang sangat bodoh, tentu saja tokoku menyediakan bunga mawar merah di hari valentine seperti itu. Aku ingat kau tertawa malu begitu menyadari bahwa pertanyaanmu begitu bodoh. Aku ingat saat itu entah apa yang membuatku bertanya padamu untuk siapa bunga itu kau kirimkan. Dengan senyum polosmu , ya, senyuman yang membuatku jatuh hati itu kau berkata bahwa bunga mawar itu untuk ibumu yang kau sayangi. Tahukah kau itu adalah hal termanis yang pernah kudengar?

Ingatkah kau saat itu? Aku harap kau tak pernah lupa.

Musim semi hari pertama. Di saat salju salju mencair di pagi hari itu kau datang dengan wajah yang begitu suram. Tahukah kau aku begitu terkejut saat kau bertanya ‘apakah kau menjual bunga yang berarti kebencian?’  Tentu saja aku tidak menjualnya, aku tidak akan pernah mau menjual kebencian, toko bungaku ini hanya menjual cinta dan kasih sayang. Ingatkah kau tepat saat aku menjawab tidak ada wajahmu langsung menggelap dan setetes air mata jatuh dari matamu? Mungkin kau tak ingat, tapi aku harap kau ingat saat kau dengan kikuk menyenderkan kepalamu di bahuku dan menangis begitu kencang. Tahukah kau bahwa hatiku begitu sakit saat kau bercerita tentang bagaimana kau membenci ayahmu karena dia menyakiti ibumu. Tahukah kau bahwa pada saat itu kau terlihat sangat rapuh?

Aku berharap kau benar benar mengingat ini semua.

Karena aku tak bisa mengalihkan pandangan darimu saat kau mengajarkan aku melafalkan namamu ‘ Wu Yi Fan’ . Berulang kali aku berlatih melafalkan namamu sampai akhirnya namamu menjadi nama yang paling aku sukai. Karena aku juga ikut senang saat kau menerobos tokoku dan melompat kegirangan saat kau akhirnya masuk ke dalam SM entertainment. Karena aku tak bisa lupa bagaimana saat itu hujan ketika kau mengecup dahiku lembut dan memelukku erat. Karena binar matamu yang tajam begitu menusuk hatiku dan menarikku ke dalam gravitasimu. Karena tanpa aku sadari aku telah menyayangimu tanpa syarat.

“Bukankah itu pelanggan kita yang sangat dekat denganmu itu , Min ah?” ujar Oppa-ku , Dong Hae menunjuk layar televisi seraya menyeruput ocha miliknya.

“Eo, itu Wu Yi Fan.”

“Kau masih dekat dengannya?”

Tahukah kau , Wu Yi Fan ? Tahukah kau kemampuan apa yang seorang florist miliki?

Menunggu.

“Tidak, Oppa. Kehidupan membuat aku tidak bisa dekat dengannya sekarang.”

Seorang florist harus sabar menunggu setiap orang untuk membeli bunganya. Satu persatu, setiap orang akan datang dan membeli bunga untuk orang yang mereka sayangi. Selelah apapun aku harus tetap menunggu, lagipula hanya itu kemampuan yang kumiliki. Aku tidak sepertimu yang bisa mengejar mimpi yang kau ingin raih.

“Tapi aku yakin dia akan kembali ke toko kita , Oppa.”

Karena itulah aku harap kau selalu ingat ini semua, Wu Yi Fan.

“Mungkin itu akan menghabiskan waktu lama, tapi tak apa. Aku akan menunggu.”

Aku harap kau ingat dan berlari kembali  ke toko bungaku ini.

Berlari kembali kepadaku.

 

6 thoughts on “Seoul Saranghae

  1. keren banget thor demiapapun yaaa. huaa biasku semuanya main disini.. makin menambah kekerenan ff ini. pokoknya keren thor!

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s