What Is Love Sequel #1

“What Is Love Sequel”

No Way I Love You

Cast: Kwon Li Sang or Martha Kwon (OC) & Kim Jongin or KAI

Support Cast: Find them by yourself ^o^

Length: 2 Shoots

Genre: Romance

Rating: PG15

A/N: Author freelance baru di sini. Bangaptaaa……. ^O^. Sequel sebelumnya Chanyeol version J . Author pernah bikin versi SHINee dengan judul yang sama jadi ini bukan plagiat. Walaupun mungkin kalian gak suka epep ini, tapi Author tetep dengan gak tau malu ngotot nge-post wkwkw 😄 #ngakakepil. Kalau nanti udah selesai baca komen ok? ^^b

Typo is an art of writing readers 😉

So…

Don’t Bashing….

Don’t Be Silent Reader….

And Happy Reading…. ^^

~***~

Author Pov~

Udara Seoul pagi ini membuat setiap yang bernafas menarik nafas dalam-dalam seolah sayang untuk melewatkan sedetik pun waktu untuk merasakan udara segar langka musim dingin pagi itu, seolah tak rela menyisakan untuk yang lain. Beberapa bahkan memilih berjalan kaki daripada menggunakan transportasi umum.

Pemandangan yang tak kalah menarik terlihat di kolong langit pagi itu.

Seorang gadis berwajah Asia-Hispanik terlihat berlari kecil dengan wajah cemas. Beberapa bulir keringat terlihat mengalir dari dahinya yang terhalang oleh poni gadis itu.

Gadis itu mempercepat langkahnya untuk mempersingkat waktu dan mempersempit jarak.

Setelah sampai di depan bangunan café dengan cat Pink pastel dan kombinasi Peach yang terkesan bergaya retro gadis itu menghentikan langkahnya di depan dua laki-laki berwajah ngantuk. Gadis itu mencoba untuk menghirup udara mengatur deru nafasnya yang memburu setelah berlari menempuh jarak yang jauh.

Kedua laki-laki di depannya menegakkan tubuh mereka dan saling melempar senyum penuh arti tepat setelah gadis itu menyapa pandangan mereka.

“Anyeonghasimikka Kwon sajangnim……” salah satu dari dua laki-laki itu membungkuk memberi hormat seraya melempar senyum jahil-nya.

Laki-laki lain yang berdiri di sampingnya berusaha menahan tawa melihat tingkah laki-laki yang memberi salam begitu formal pada ‘bos’ sekaligus ‘yeodongsaeng’ mereka itu.

Gadis yang sudah bisa kembali bernafas dengan tempo normal itu segera menyunggingkan senyum bersalah. Dia melakukan dua kesalahan sekaligus pada kedua laki-laki itu. Pertama, meminta kedua laki-laki itu datang lebih awal hari ini tanpa menjelaskan alasannya terlebih dahulu. Kedua, dia malah datang terlambat dan membuat kedua namja itu harus menunggunya selama 25 menit padahal udara Seoul pagi itu mencapai -10°C.

“Oppadeul~ jeongmal mianhae…” sebisa mungkin gadis itu mencoba untuk mengekspresikan rasa bersalahnya dengan kalimat itu.

Salah satu dari kedua laki-laki itu tersenyum sebelum akhirnya menjawab “gwenchana, kami berdua juga baru sampai lima belas menit yang lalu….”

Gadis itu kembali menatap kedua laki-laki di depannya, tapi kali ini dengan senyum yang berbeda, senyum  yang mewakili rasa lega atas ucapan laki-laki tadi.

“Kyaa…… jeongmal gomawo Wookie oppa! Kau yang terbaik!” gadis itu bergelayut manja di lengan kiri laki-laki bernama Ryewook yang dipanggil Wookie oppa olehnya.

“Tapi lain kali jika hal seperti ini terjadi lagi…..” laki-laki tampan yang memakai coat hitam menggoda satu-satunya gadis di antara mereka itu “…kau yang akan memasak! SEHARI PENUH!”

“Kyungsoo oppa!” rajuk gadis itu seraya melepaskan kaitan lengannya dari lengan Ryewook.

Gadis itu menatap Kyungsoo dengan kesal.

“Wae sangie-ah?” Ryewook ikut mencoba untuk menggoda gadis itu.

“Ne. Wae Mrs. Kwon Li Sang?” tanya Kyungsoo dengan nada mengejek.

Gadis pemilik nama Kwon Li Sang itu menolehkan wajah & pandangannya pada Kyungsoo.

“Baiklah! Asal kalian siap menjadi pengangguran dan jatuh miskin!” gadis itu merespon dengan santai seraya mengambil kunci dari kantung coat berwarna cokelat mahoni yang dipakainya. Dengan gerakan cepat gadis itu memutar kunci yang telah dimasukan-nya ke lubang kunci di knop pintu utama bangunan café itu.

Sejurus kemudian kedua laki-laki itu tertawa “bagaimana menurutmu Wookie hyung? Kau siap jatuh miskin?”

“Memang ada salah satu diantara kita yang orang berada sampai harus takut jatuh miskin?”

“hahaha~ Kau benar hyung!”

Kedua laki-laki itu terus tertawa lepas dengan volume suara yang cukup keras.

“YA! Mau berdiri dan tertawa terus di situ? Kalian mau di pecat eoh?”

Tawa kedua laki-laki itu berangsur mereda. Mereka menatap Lisang dan dengan serempak membungkukkan tubuh mereka.

“Jeosonghamnida sajangnim….”

Lisang yang kesal akan kelakuan kedua ‘oppa’-nya itu memutar bola matanya dan masuk meninggalkan keduanya di luar café.

“Kkekeke… Kajja hyung!” Kyungsoo masuk mendahului Ryewook yang sibuk menggosokkan kedua telapak tangannya, mencoba untuk mengusir pergi hawa dingin yang menyelimuti sekujur tubuhnya pagi itu.

Kim Jong In Pov~

Rasanya bokongku ini panas seperti terbakar. Bukan hanya itu! Bokongku juga mati rasa sekarang. Bagaimana tidak, sudah dari tiga jam yang lalu aku duduk dengan posisi yang sama dan tak bergeser seinci pun.

Aku tak habis pikir kenapa kedua orang tuaku begitu mempermasalahkan hal-hal sepele seperti ini? Aku hanya keluar dengan seorang gadis, apa yang harus dipermasalahkan mengenai itu huh?

Walaupun harus kuakui dia bukan gadis biasa tapi, oh ayolah….. What’s the matter of that?

“Apa kau sengaja melakukan itu karena mau membunuh eomma dan appa perlahan Kim Jongin?”

Lihatlah ayahku yang berucap dengan mimik yang begitu dibuat-buat, seolah-olah aku ini benar-benar berniat untuk membunuh mereka saja. Tapi harus kuakui, kalau dalam waktu dekat mereka tak menyudahi ‘rapat keluarga’ ini, aku tak menjamin tentang ‘niat untuk membunuh mereka’.

“Kenapa kau melakukan hal seperti ini Jongin-ah…. Bukankah kau sudah berjanji pada eomma untuk tak menemuui gadis seperti itu lagi?”

Aku benar-benar tak tega melihat ibuku terisak menangis seperti ini. Memangnya apa yang kuperbuat sangat burukkah sampai harus ditangisi seperti itu?

“Oh ayolah….. Eomma juga tau aku hanya sekedar keluar bersama gadis itu kan? Hanya jalan-jalan eomma~ tak lebih!” aku kembali mengeluarkan pernyataan yang sama dengan tiga jam lalu saat ibukku juga menanyakan mengapa aku bisa bersama gadis itu.

“Appa dan eomma tak pernah melarangmu keluar dengan gadis manapun Jongin! Tapi bukan gadis panggilan sepertinya! Kau sudah dewasa, tak bisakah kau membedakan yang benar dan yang salah?”

Ya, ya, ya… Gadis itu memang gadis panggilan. Gadis itu memang gadis dengan pekerjaan yang tak ‘biasa’, dia bukan gadis ‘biasa’. Lalu, apa masalahnya? Dia tetap seorang gadis kan? Ya, memang ada kemungkinan besar dia memang tidak gadis lagi.

“Kenapa kau terus menyakiti hati eomma Jongin-ah? Tak bisakah kau setidaknya menghargai eomma dan appa yang telah membesarkanmu…..”

Membesarkanmu, mengurusmu, mendidikmu, menyayangimu, bla…., bla…, bla…. Appa~ eomma~…. Bokongku panas! Aku sudah hafal dengan semua kata-kata kalian itu, jadi mari kita sudahi percakapan… eumm…. perselisihan pendapat? Ah apalah sebutannya! Yang penting, MARI KIITA SUDAHI HAL INI!

“Apa kalian tak sadar bahwa reaksi kalian ini terlalu berlebihan?” aku memutar bola mataku menandakan bahwa aku sudah benar-benar bosan dan muak duduk disidang seperti ini.

“Sudahlah Jongin, appa sudah terlanjur sakit hati melihat semua kelakuan burukmu selama ini!” Yup lihatlah sekarang! Daan….. Kita akan mulai dari awal lagi “taruh dompet, kunci mobil dan motor, kunci apartment, dan satu lagi, surat saham KEY Development Company milikmu di meja ini! Sekarang!”

Come on…. Apa lagi ini?

“A-”

Sebelum sempat membantah ayah memotong ucapanku.

“Tinggalkan semua barang-barang yang sudah dengan bodohnya kuberikan padamu oh… maksudku sempat kuberikan padamu. Keluar dari rumah ini! Bersenang-senanglah di luar sana, bersama minuman keras, gadis-gadis mainanmu, dan kehidupan malam yang begitu kau sukai itu! Nikmatilah semuanya, mulai sekarang tak aka nada lagi yang melarangmu!”

“Yeobo~ Andwe, jebal….. Andwe” kulihat ibuku yang berlutut di depan ayahku dan menangis sejadi-jadinya.

“Kau pasti merasa bebas dan senang sekarang. Tak aka nada lagi orang yang memmaksamu menyelesaikan kuliahmu, tak ada lagi yang mengirim orang untuk memaksamu pulang dan setidaknya diam di rumah, dan kau lepas dari jabatan sebagai ahli waris KEY Company Development!”

Ciih…. Beginikah akhirnya?

“Jadi kau akan melepas pergi putramu yang pernah kau besarkan, kau urus, kau didik, dan kau sayangi?”

“YA! Kim Jongin…. Sudah cukup! Minta maaf pada ayahmu! Sekarang juga!” ibuku ternyata masih bisa membentakku di sela isakan tangisnya. Bukan hal yang mengejutkan.

“Tak perlu! Aku sudah tak peduli dengan apa yang anak ini akan lakukan di luar sana mulai sekarang!”

Baiklah! Akan kubuktikan bahwa aku memang tak perlu kalian.

Kurogoh kantong jaket dan celanaku, mengambil semua benda yang belum lama tadi disebutkan oleh orang yang kusebut ‘ayah’ itu.

“Surat saham perusahaanmu ada di brankas yang ada di dalam lemari pakaianku!”

“Yeobo~ jebal…..” ibuku masih menangis sambil berlutut dan memeluk kaki ayahku.

“Jongin-ah….. JONGIN-AH!”

Walaupun kakiku sudah melangkah menjauh dari kedua orang itu tapi isak tangis dan teriakan serak dari mulut ibuku masih terdengar sangat jelas di telingaku.

Tapi maaf, aku tak akan berbalik dan meminta maaf atas apa pun yang pernah kulakukan.

“Biarkan anak itu pergi, untuk sementara….”

Lisang Pov~

Tak ada alasan untukku tak mempekerjakan pegawai untuk menjadi pelayan di café ini. Justru ada banyak alasan untukku mempekerjakan setidaknya satu orang saja untuk meringankan pekerjaanku.

Tapi entah karena aku terlalu malas untuk mencari pegawai atau karena memang sifat perhitungan akan uangku belum juga berkurang sedikit pun, intinya aku belum mau mempekerjakan pegawai di café ini. Biarlah aku menahan rasa lelah ini sedikit lebih lama sampai aku menemukan orang yang tepat dengan bayaran gaji dibawah UMR.

Eer~ kenapa cara bicara dan berpikirku seperti seseorang yang sedang menunggu kehadiran seseorang untuk dicintai? Ah… LUPAKAN!

KLING…KLING

Suara bel? Pelanggan pertama! Semangat!

“Sela-“ kalimatku terhenti ketika mendapati seseorang yang kukenali masuk dengan ekspresi wajah yang berbeda dari biasanya.

Dia menatapku sekilas dan berjalan ke meja nomer 2 lalu duduk di sana, cukup lama aku menatapnya dalam bingung sampai akhirnya memutuskan untuk menghampirinya.

Tapi tepat setelah aku sampai di depan mejanya dan menyodorkan buku menu, tanpa aba-aba dia kontan menghadiahkan death glare-nya untukku.

“Aku bukan pelanggan hari ini! Aku ingin melamar sebagai pegawai di disini!”

Aku menatapnya bingung.

“Pegawai?”

Dia mengangguk “masa bodoh kalau tak ada lowongan! Intinya aku ingin bekerja di sini!”

Kenapa dia malah mengatur seperti itu? Setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh dengan paksaan.

“Ne?” aku merespon masih dengan ekspresi bingungku.

Lisang you’re an idiot! Apa cuma kata itu yang bisa kau ucapkan?

Laki-laki itu menyunggingkan senyum mengejek untukku dan memutar bola matanya “sekarang cepat jelaskan kriteria yang dibutuhkan untuk menjadi pegawai di warung makan ini!”

Warung makan? Sial. Bukankah seharusnya calon pegawai itu mati-matian memohon dengan wajah memelas pada pemilik sang empunya pekerjaan?

Aku menghela nafas, mencoba untuk meredam emosinya “maaf sebelumnya, tapi apa kau membawa CV?”

Dia menggeleng yakin.

“Sudah punya pengalaman yang berhubungan dengan bidang kuliner sebelumnya?”

Kepala laki-laki itu kembali menggeleng.

“Tapi kau pernah bekerja?”

Aku mendapat gelengan ketiga.

“Berarti aku tak punya alasan untuk menerimamu sebagai pegawai di sini!” aku mulai tak bisa mengontrol emosiku melihat tingkah laki-laki ini. Tengil sekali gayanya.

Dia menatapku dengan matanya yang memandangku malas dan menyodorkan ampolop ke arahku.

“Apa itu?”

“Alasan untukmu menerimaku sebagai pegawai di warung ini!”

“Ciih….” aku mengambil amplop dari tangannya dengan kasar. Kurasa tak perlu berlembut-lembut ria dengan laki-laki tamp- YA! Kwon Li Sang! Apa yang kaupikirkan idiot!

Isi amplop dari laki-laki tam- MAKSUDKU mengesalkan itu ternyata memang surat seperti dugaanku sebelumnya. Kupikir ijazah atau semacamnya yang bisa meyakinkanku untuk menerimanya sebagai pegawai.

“…….”  aku dan laki-laki itu terdiam selagi aku membaca surat yang diberikannya padaku.

“Seoul, 13 Maret 2014

Entah darimana aku harus memulai ini semua, sepertinya tak ada kata yang tepat untuk kusampaikan padamu Lisang. Jongin kembali membuat masalah di rumah dan sepertinya kali ini kesabaran ayah Jongin sudah mencapai puncaknya, dia marah besar dan mengusir Jongin serta mengambil semua fasilitas dari Jongin bahkan memblokir semua akses Jongin. Hanya kau satu-satunya harapanku. Untuk sementara tolong biarkan dia tinggal dan bekerja di tempatmu. Kalau kau tak keberatan, tolong ajarkan dia menjadi laki-laki dewasa yang mandiri. Aku tak berharap kau bisa mengubah Jongin menjadi laki-laki yang bijaksana, aku hanya ingin memohon kepadamu agar mau setidaknya mengajari anakku agar lebih menghargai hidupnya dan menyadari kesalahanya. Akan lebih baik lagi kalau Jongin mau meminta maaf pada ayahnya.

Satu lagi, dan ini bukan sogokkan atau semacamnya, sebagai tanda terima kasih kau boleh mengambil buah dan sayuran dari pabrik tanpa harus membayar selama Jongin masih tinggal dan bekerja di tempatmu. Kalau ada hal lain yang bisa kulakukan untukmu, katakan saja! Asal kau mau menampung Jongin sementara untukku.

Kuharap Jongin tak akan merepotkanmu. Terima kasih.

Kwon Han Yeol”

Baiklah, beri aku waktu untuk mencerna setiap kata yang ada di kertas ini.

Jadi aku harus menampung laki-laki yang kini tengah duduk di hadapanku ini?

Kuakui aku memang tergoda dengan tawaran bibi Han Yeol yang pasti akan sangat menguntungkan untukku. Tapi…. Melihat tingkah manusia yang harus ‘kutampung’ seperti ini, aku jadi sedikit ragu apa hal ini akan menguntungkan atau jangan-jangan malah merugikanku.

“Memang apa yang kau lakukan hingga membuat Kim sajangnim marah besar?”

Jongin menghela nafas dengan berat “ada wartawan dari majalah bisnis yang mengenaliku sebagai anak pemilik perusahaan KEY Development Company saat aku sedang bersama seorang gadis”

Aku mengerutkan dahiku. Apa salahnya sekedar ketahuan sedang bersama seorang gadis?

“Gadis?”

Laki-laki itu menoleh “kau tahulah, gadis panggilan!”

Dasar gila! Pantas Kim sajangnim marah besar.

“Okay… Jadi kau mau bekerja di sini?”

Dia mengangguk “tapi aku punya syarat!”

“Eoh? Syarat? Katakan sa- MWO?! SYARAT?!” aku membulatkan mataku.

Apa-apaan orang ini? Apa dia sudah gila?

“Tak usah berlebihan! Aku hanya ingin kau mencarikan tempat tinggal untukku, appa menarik apartmentku!”

“Akan ku usahakan…” jawabku sekenanya, yang penting percakapan ini cepat selesai! Aku sudah tak tahan harus lama-lama ngobrol dengan laki-laki gila ini.

Ya, aku memutuskan untuk menerimanya. Ayolah…. kebutuhan café ini memakan biaya cukup besar. Kuulangi sekali lagi. Cu-kup be-sar, kalau aku bisa mendapatkan bahan-bahan dapur gratis untuk sebulan penuh aku bisa menghemat sekitar 500.000 won! Astaga…. Aku bisa kaya mendadak! Lagipula namja ini tak mungkin melakukan hal-hal yang mengancam nyawaku kan. Kalau sekedar bolos kerja, aku sudah mempersiapkan diriku mengingat setting kelakuannya yang seperti ini.

Aku menyudahi pergulatan pikiranku dan mendapati laki-laki yang ada di depanku sekarang wajahnya terlihat murung. Ada apa dengannya? Apa selain berkelakuan diluar norma laki-laki ini emosinya juga labil?

“Aku menyesal….” ucapnya lirih.

Astaga tak kusangka rupanya laki-laki ini merasa bersalah juga pada orang tuanya.

“Tenanglah Jongin oppa, aku yakin pelan-pelan ayahmu bisa memaafkanmu!”

Jongin oppa menatapku dengan death glare-nya “aku bukan menyesal karena itu, gadis sok tahu! Aku menyesal karena belum sama sekali menyentuh gadis itu padahal aku sudah memberi harga booking tinggi dan membayar harga mahal untuknya di muka!”

RUPANYA ORANG INI MEMANG GILA!

“Terserah padamu Jongin oppa…”

“Kkamjong atau KAI! Bukan Jongin! Syarat kedua nona Kwon”

“OKAY! Terserah padamu! Kau diterima Kkamjong oppa, aku akan mengajari hal-hal yang harus kau tahu mengenai tugasmu sebagai pelayan. Sementara pakailah t-shirt berwarna peach di loker nomer 3, yang ada di dalam ruang ganti!”

Tanpa menunggu jawabannya aku kembali melanjutkan kalimatku “name tag milikmu sementara ditulis tangan saja, kau bisa mulai kerja mulai hari ini. FIGHTING!”

Author Pov~

“Demi apa pun yang ada di dunia dan akhirat!” Kyungsoo menatap Lisang dan Ryewook bergantian “apa yang sebenarnya dilakukan oleh pegawai barumu itu Lisang?”

Lisang mengacuhkan Kyungsoo dan hanya menggendikan bahunya, gadis itu masih sibuk dengan steak salmon yang sedang di susunnya di atas nampan hitam besar yang ada di depannya.

Ryewook balas menatap Kyungsoo dengan senyum simpul dan kembali sibuk menabur parutan keju diatas Spaghetti Bolognese-nya.

“Maaf menganggu~, ini pesanan terakhir meja 13” Lisang meletakan piring-piring berisi makanan di depan beberapa gadis yang duduk mengapit seorang laki-laki yang memakai t-shirt soft peach dan name tag dengan tulisan tangan.

“Permisi~” salah satu gadis di meja itu bersuara menandai ada sesuatu yang salah.

Lisang membalikan tubuhnya “Ne?”

“Di mana pesanan milik Kkamjong oppaku?” gadis itu menggunakan nada rajukan pada kata ‘Kkamjong oppaku’.

Lisang menahan rasa ingin muntahnya “15 menit lagi akan siap…” gadis itu tersenyum.

~***~

21.00 KST

“Aku lapar!” laki-laki berkulit cokelat dengan wajah tampan merajuk pada seorang gadis yang terlihat sedang sibuk meletakkan beberapa gelas dan cangkir yang telah selesai dicuci olehnya di rak dengan hati-hati.

“Masak saja, di kulkas ada sisa bahan café hari ini,”

“Aku tak bisa memasak Lisang yang baik hati!” jawab Jongin mempertahankan ekspresi aegyo yang sebenarnya tak pantas disebut ekspresi aegyo.

“Kkamjong oppa! Kau ini merajuk layaknya anak ayam kehilangan induk seperti ini hanya kalau ada maunya ya?”

“Begitulah~” Jongin yang tadi merajuk itu mengangguk tak berkilah.

Tanpa banyak melontarkan argumen Lisang berjalan ke arah dapur tepat setelah selesai menyusun rapi gelas dan cangkir di rak.

“Itu apa?” tanya Kkamjong seraya berjalan menghampiri Lisang.

“Oh ini? Bola basket!” jawab Lisang dengan nada sinis “tentu saja ini nasi goreng! Tak bisa lihat? Jangan bilang kau tak tau ini apa!”

“Tak usah segalak itu!”

Setelah 20 menit berlalu Lisang menuangkan nasi goreng matang yang telah dimasak olehnya di piring bulat bercorak bunga mawar.

“Ini, makanlah!” Lisang meletakan piring itu tepat di depan Jongin yang sudah duduk manis dengan sendok dan garpu tergenggam erat di kedua tangannya.

“Jangan lupa sikat gigi sebelum tidur, dan jangan lupa pastikan kau sudah  mengunci jendela dan pintu!”

Kkamjong hanya mengangguk-angguk sambil terus menyendokan nasi goreng buatan Lisang ke mulutnya.

Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya “entah apa yang disukai gadis-gadis tadi siang itu darimu?”

“Tamphan melebhi khaphasithass, berharismha, kehren, dhan basih bhanyak lhaghi….” mulut Jongin yang terisi penuh dengan nasi goreng membuatnya berbicara dengan tak jelas.

Lisang kembali menggelengkan kepalanya sambil tetap fokus pada wajan yang tengah dicucinya.

Hening kembali menjadi tembok pembatas dia antara ke dua insan itu.

“Uhuuk…… uhuk….a.. uhuk… air… Lisang… uhuk….” Jongin menepuk dadanya berkali-kali. Nasi yang ada di mulutnya berterbangan keluar karena laki-laki itu terus terbatuk.

Dengan gerakan cepat Lisang segera berlari ke arah lemari pendingin dan mengambil sebotol penuh air yang segera disodorkannya pada Jongin.

Tanpa berbasa-basi Jongin segera mengambil botol itu dari tangan Lisang dan menenggaknya habis dalam sekali teguk. Air yang tak tertampung di dalam mulutnya mengalir dari ujung bibirnya.

“Tampan? Berkharisma? Keren? Karmamu karena berani berbohong tuan Kim Jongin!”

~***~

PREVIEW NEXT PART

Aku berusaha dengan susah payah menelan salivaku karena melihatnya dalam keadaan topless!

“Kalau begitu lakukan first kiss-mu denganku!”

Hening mendominasi ruangan itu, membuat mereka berdua hanyut dalam diam. Kejadian tadi benar-benar membuat ke dua orang itu kaget bukan main.

Lisang terus memukul dada Jongin berkali-kali sambil terus meneriakan hal yang sama “NEO TAEMUNIYA!!!”.

“Aku tak bisa, maaf~” laki-laki itu membalikan tubuhnya dan berjalan menjauh dengan perasaaan yang kacau.

TBC

Bagaimana? Jelek, hancur, gaje? Yang penting komen! 😄 . Saya sadar betul masih banyak kekurangan di sana sini maka biarlah… saya belajar melalui komen-komen membangun kalian oh readers #lebay #plaak #abaikan -___-“. Gomawo yang sudah menyempatkan untuk baca epep ini d^^b #bow J #popobasah

4 thoughts on “What Is Love Sequel #1

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s