Just Stay With Me – Part 1

coverjswm

Title : Just Stay With Me – Part 1

Author : Charismagirl

Cast :

  • Oh Sehun
  • Park Minri (OC)
  • Cho Kyuhyun
  • Kim Hyejin
  • EXO

Rating : PG-13, teen

Genre : Romance, friendship, school life

Length : Chapter

Sequel of ALL ABOUT US

***

Minri sedang berada dalam kamarnya. Gadis itu tengah berkutat dengan buku-buku pelajaran. Sebagian tercecer di lantai sementara sisanya berbaur di atas meja belajarnya yang sempit.

Sebenarnya gadis itu sudah kehilangan konsentrasinya untuk belajar sejak ia kembali teringat dengan apa yang diucapkannya pada Sehun tadi siang. Mengakhiri hubungan dengan Sehun bukanlah hal mudah, meskipun itu hanya sementara. Tiba-tiba ia takut kalau Sehun menyetujui ajakannya. Aih!

Minri melemparkan pensilnya dengan gusar. Lalu beranjak dari kursinya lantas menghempaskan tubuhnya ke kasur. Gadis itu menutup wajahnya dengan bantal lalu berteriak teredam. Ia bisa gila.

“Minri-ya!” suara berat seorang pria terdengar dari balik pintu kamar Minri. Suara Chanyeol, pikir gadis itu. Minri mengabaikan teriakan Chanyeol dan bermaksud untuk tidur sebelum suara pria itu terdengar lagi, dan kali ini terdengar lebih mengganggu.

Minri bangkit dari tempat tidurnya, dan dengan langkah gontai menuju pintu. Gadis itu membuka kunci pintu kamarnya lalu kembali ke tempat tidurnya.

Chanyeol yang mendengar adanya aktivitas dari dalam, perlahan memutar kenop pintu. Pria itu menyembulkan kepalanya dari luar.

“Hey kau! Boleh pinjam catatan bahasa inggrismu tidak?” tanya Chanyeol cukup keras.

“Ambil saja,” jawab Minri dengan nada yang sama sekali tidak bersemangat.

Chanyeol masuk lalu menatap wajah gadis itu sesaat sebelum meledakkan tawanya.

“Kau seperti baru saja terserang bencana,” ucap Chanyeol tanpa dosa.

Minri balas menatap Chanyeol dengan tajam membuat Chanyeol seketika bungkam dan mengangkat kedua tangannya–meminta perdamaian.

Chanyeol menatap keadaan kamar Minri yang sungguh naas. Berantakan sekali. Tidak biasanya gadis itu membiarkan kamarnya terlihat seperti tempat pembuangan sampah.

“Kenapa kau? Bermasalah dengan Sehun?”

“Jangan sok tahu. Kalau kau sudah mendapatkan yang kau cari, sebaiknya kau pergi.”

Minri merangsek masuk ke dalam selimutnya. Gadis itu menutup seluruh badannya dengan selimut. Chanyeol menggeleng pelan, lalu mulai mencari buku yang diperlukannya.

Belum sampai semenit ia mencari, Chanyeol mengacak rambutnya frustasi.

“Bagaimana aku bisa mencari kalau keadaannya seperti ini?!!”

“Berisik!”

Dengan wajah, hati dan otak tanpa rasa bersalah Minri melempar Chanyeol dengan bantal hingga tepat mengenai kepala Chanyeol. Masih menjadi kebiasaan gadis itu jika kesal.

“Mestinya kau cerita padaku, dari pada kau melampiaskan kemarahanmu seperti ini.”

“Aku sedang tidak ingin bicara apapun, terimakasih.”

***

Minri baru saja memasuki gerbang sekolah. Kali ini ia datang lebih awal dan membawa mobil sendiri. Tanpa perlu menumpang dengan Chanyeol atau dijemput Sehun. Sebenarnya ia tidak tahu Sehun menjemputnya atau tidak.

“Minri-yaaaa!”

Minri menghentikan langkahnya ketika ia mendengar suara perempuan yang begitu khas. Han Yeon Young. Tentu saja dia. Memangnya siapa lagi yang bisa memanggil Minri sekeras itu? Ck! Yeon terlalu bersemangat.

Yeon mengatur nafasnya saat ia sudah berada di samping Minri. Rupanya gadis itu baru saja berlari. Gadis itu membenarkan tatanan rambutnya sesaat sebelum menyapa Minri seperti biasa.

“Selamat pagi!” sapa gadis itu dengan senyumnya yang sumringah.

“Dimana Kris? Kau tidak bersamanya?” tanya Minri. Gadis itu lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas, diikuti Yeon.

“Dia sedang memarkirkan mobilnya. Jadi ku tinggal saja. Lagi pula dia sudah terbiasa aku tinggal. Kau tahu tidak, dia selalu menyuruhku sarapan di mobilnya kalau dia tahu aku belum sarapan. Dan kau mestinya juga tahu berapa kecepatan Kris membawa mobil. Aku beberapa kali tersedak gara-gara hal itu. Pria itu pasti sudah gila.”

Minri tertawa pelan mendengar rentetan kalimat dari mulut Yeon yang tidak ada habisnya. Gadis itu bahkan mengucapkannya hanya dengan dua kali tarikan nafas. Hebat.

Yeon menoleh ke samping menatap Minri. Menyadari temannya tertawa, Yeon malah mengerucutkan bibirnya dan memukul Minri pelan.

“Siapa yang kau bilang sudah gila?” Kris tiba-tiba merangkul kedua gadis itu dengan muncul di tengah-tengah membuat Yeon hampir terkena serangan jantung.

Yeon melepaskan rangkulan tangan Kris, lalu mengambil langkah seribu. Kris pasti akan mengambil tindakan karena Yeon sudah mengatainya gila.

“Yak!” panggil Kris, namun Yeon tetap berlari menuju kelas mereka.

Kris hanya tertawa melihat tingkah gadisnya. Mereka berdua benar-benar pasangan yang unik, pikir Minri.

Kris baru sadar kalau sejak tadi tangannya masih merangkul Minri. Ia baru menurunkan tangannya saat Sehun berjalan menghampiri mereka berdua.

“Hai Sehun-ah, jangan salah paham dengan yang kau lihat tadi.”

Kris menepuk pelan bahu Sehun kemudian berlalu pergi menyusul Yeon. Sementara Minri juga berjalan menuju kelasnya, melewati Sehun. Tanpa bicara apa-apa dan tanpa menatap pria itu.

Sehun menarik tangan Minri lantas menarik gadis itu paksa untuk menepi dari koridor. Minri berusaha melepaskan pegangan tangan Sehun tapi sayang pria itu terlalu kuat untuk menjadi tandingannya.

“Kenapa kau menghindariku?”

Minri megatupkan rahangnya sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Sehun. Gadis itu juga melirik ke sekitarnya. Sepertinya mereka berdua sudah menarik perhatian.

“Bukannya sudah ku bilang kalau kita harus break?”

“Aku sama sekali tidak menyetujui keputusanmu,” jawab Sehun cukup keras.

Minri menyerah dan membiarkan tangannya masih bertautan dengan tangan Sehun. Gadis itu perlahan tersenyum tipis, membuat Sehun seketika melepaskan pegangan tangan mereka dan menggantinya dengan memeluk gadis itu sesaat.

“Kemarin kau hanya bercanda ‘kan?” ucap Sehun senang.

“Tidak.”

Sehun mengerutkan kening. Laki-laki itu kembali merasa was-was.

“Tapi sepertinya aku harus berpikir lagi tentang keputusanku kemarin.”

Sehun baru akan memeluk Minri lagi tapi suara bel mengganggunya. Minri juga menatap Sehun dengan pandangan horror. Gadis itu pasti tidak suka dengan perlakuan Sehun tadi.

Minri kembali melanjutkan langkahnya. Jangan sampai Sehun memeluknya lagi. Karena mereka sedang berada di depan umum, di sekolah.

***

Minri berjalan menuju parkiran mobil. Gadis itu membuka pintu mobil lantas melemparkan tasnya ke bangku depan, di samping bangku kemudi. Kemudian gadis itu masuk dan duduk.

Dia menyalakan mesin mobil dan mulai memundurkan mobilnya pelan sekali. Baru beberapa meter, suara ketukan di kaca mobilnya membuat gadis itu berhenti.

Minri menurukan kaca mobilnya lalu menatap keluar jendela dan menemukan Sehun sedang berdiri di samping mobilnya. Oh rupanya Sehun yang sudah mengiterupsi jalan mobilnya tadi.

“Ada apa Sehun-ah?” tanya Minri.

“Bagaimana kalau kita pulang bersama?” ajak Sehun.

“Boleh. Tapi motormu dimana?”

“Aku tidak bawa motor hari ini.”

Sehun menarik pintu mobil hingga terbuka, lalu mendudukan dirinya di kursi samping Minri setelah sebelumnya meletakkan tas Minri ke kursi belakang.

Minri menjalankan mobilnya menuju jalan raya. Mereka berdua menyusuri jalanan kota yang cukup ramai. Cuaca sedang cerah.

“Kau tidak ada acara kan?”

Minri menoleh ke samping, menatap Sehun sesaat sebelum menggeleng memberi jawaban.

“Bagus. Kalau begitu kau bisa melihatku bertanding. Siang ini.”

“Siang ini??” tanya Minri nyaris tidak percaya.

Pria itu bahkan tampak santai sekali. Seperti tidak ada yang perlu dipersiapkan atau dikhawatirkannya untuk pertandingannya kali ini.

“Kita bisa makan siang sebentar dan… biar aku saja yang menyetir.”

Minri menghentikan mobilnya di tepi jalan. Saat ini jalanan cukup sepi sehingga Minri tidak perlu menerima omelan dari para pengguna jalan karena dia menghentikan mobilnya dengan begitu mendadak.

Minri baru akan membuka pintu mobilnya, tapi kemudian terhenti setelah Sehun menahan tangannya.

“Aku punya cara bagus untuk kita bertukar tempat. Dari dalam saja.”

“Ha?” tanya Minri dengan kening mengkerut.

Sehun menarik tangan Minri hingga gadis itu beranjak dari  duduknya. Sementara Minri berangsur mendekat ke tempat duduk Sehun sampai akhirnya Minri berada tepat di atas pangkuan Sehun–dengan susah payah

Sehun melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu hingga Minri tidak bisa bergerak lagi. Minri baru saja akan protes tapi sayang Sehun lebih dulu mengangkat tangannya untuk menarik dagu Minri mendekat lantas melumat bibir gadis itu pelan.

Dengan posisi yang sama sekali tidak nyaman itu, Minri berusaha melepaskan tautan bibirnya dengan Sehun. Minri mengambil nafas sebanyak-banyaknya setelah berhasil lolos dari Sehun.

Gadis itu menjitak kepala Sehun pelan dengan wajah yang masih merona merah. Entah karena kehabisan nafas atau malu. Tidak ada yang tahu.

“Dasar! Bagaimana kalau ada yang melihat kita?” omel Miinri.

“Maaf. Aku hanya terlalu merindukanmu,” ucap Sehun sembari tersenyum polos.

Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu duduk di bangku kemudi yang tadi Minri tempati. Tubuh mereka yang sama-sama kurus memudahkan mereka berdua untuk bertukar tempat.

“Hey kau tahu, aku takut sekali saat kau meminta kita untuk berpisah. Jadi ku mohon jangan katakan hal itu lagi,” pinta Sehun kali ini dengan nada serius.

Perlahan mobil kembali bergabung di jalan raya, berbaur bersama mobil-mobil yang lain.

Minri menatap lurus ke depan jalan dengan pikiran kosong. Gadis itu terkesiap saat tangannya yang bebas digenggam lembut oleh Sehun.

Sehun menoleh pada Minri dan menatap gadis itu dengan tatapan teduh. Minri membalas dengan senyuman yang amat sangat disukai Sehun. Kalau ia lupa ia sedang menyetir, Sehun pasti mencium gadis itu lagi.

“Kalau kau tidak fokus, kita bisa mati bersama Sehun-ah,” ucap Minri santai, namun seketika menghancurkan momen romantis mereka.

Sehun mengerjapkan matanya cepat, tersadar dengan perkataan Minri. Gadis itu ada benarnya. Sehun kembali menatap ke depan jalan sembari menggumam.

“Kau membuatku kehilangan fokus untuk hal yang lain selain menatapmu.”

***

Minri memasuki gedung indoor pertandingan basket. Riuh suara penonton memenuhi gedung itu. Minri mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencari tempat duduk yang paling nyaman.

Pandangannya terhenti pada sesosok gadis yang tengah duduk manis di deretan bangku penonton. Seorang yang dikenalnya. Gadis itu menopang dagu degan kedua tangannya. Pandangan gadis itu hanya tertuju pada seseorang yang ada di lapangan. Sepertinya Minri tahu siapa orang yang ditatap gadis itu.

Minri menaiki anak tangga, kemudian menyusur menuju tempat duduk gadis yang dikenalnya itu.

“Hai Yeon-ah,” sapa Minri.

Awalnya tidak ada respon, namun beberapa detik kemudian gadis itu segera menoleh pada Minri dengan mata yang sengaja dilebarkan yang menurut Minri respon gadis itu sedikit berlebihan. Seperti melihat hantu saja.

“Minri-ya? Apa yang membuatmu mau datang ke sini?” tanya Yeon sembari menarik tangan Minri agar gadis itu duduk.

Minri hanya menjawab dengan senyuman tipis, lalu mengarahkan pandangannya ke tengah lapangan dimana seorang anak laki-laki yang tadi bersamanya kini sudah berada di tengah lapangan bersama teman-temannya.

“Aaah~ Sehun ya?”

Yeon menganggukkan kepalanya sembari tersenyum senang. Tidak biasanya Minri mau datang ke tempat ramai seperti ini. Apalagi hal ini sama sekali tidak berhubungan dengan akademik. Tapi ternyata Sehun bisa membawa Minri entah dengan cara seperti apa. Hebat.

Minri hanya memandangi Sehun. Setiap gerakan yang dibuat laki-laki itu tampak sangat mengagumkan di matanya. Bulir-bulir keringat menetes di dahi lalu turun ke leher laki-laki itu membuatnya tampak sangat seksi. Rambutnya yang kecoklatan terlihat mengkilap terkena sorotan lampu.

Suara dering telpon yang berasal dari ponselnya membuyarkan lamunannya tentang laki-laki itu. Minri merogoh saku roknya dan mengerutkan kening setelah membaca nama kontak yang tertera di layar.

Eomma?

 

Minri bingung harus mengangkat atau tidak. Bukan karena dia tidak ingin bicara dengan ibunya hanya saja keributan disini memungkinkan komunikasi antara ia dan ibunya terganggu.

Dengan pertimbangan yang cukup, akhirnya Minri memutuskan untuk menolak panggilan ibunya. Namun dengan segera ia mengirimkan pesan singkat agar ibunya tidak salah paham.

Ada apa eomma? Maaf tidak bisa mengangkat telpon. Disini terlalu ribut. Fufufu

Tidak lama ponsel Minri kembali berbunyi.

Bisa kau pulang sekarang? Ada hal penting yang perlu kita bicarakan

Minri melirik jam tangannya. Waktu pertandingan masih lama, jadi ia tidak mungkin menunggu pertandingan selesai. Sepertinya ia tidak bisa melihat Sehun bermain sampai akhir.

Minri mengambil tasnya yang terletak di samping Yeon, lantas berdiri.

“Mau kemana?” tanya Yeon.

“Aku harus pulang. Nanti ceritakan padaku tentang pertandingan ini, ok?”

“Tapi, tapi kenapa?”

Eomma memintaku pulang, katanya ada hal penting.”

Well, hati-hati ya…” ucap Yeon dengan nada yang sedikit kecewa.

Minri berjalan keluar gedung tanpa Sehun ketahui. Gadis itu mengambil langkah cepat karena tidak ingin mengganggu penonton yang lain.

Sementara dari arena pertandingan, Sehun mencari sosok Minri dari deretan bangku penonton, tapi dia tidak menemukan gadis itu.

“Kemana dia?”

***

Minri memarkirkan mobilnya sembarang di garasi. Gadis itu segera menaiki tangga rendah depan rumahnya sembari besenandung kecil.

Sebuah mobil yang terparkir di depan rumah sedikit menarik perhatiannya. Gadis itu tidak pernah melihat mobil jenis itu sebelumnya. Dengan rasa penasarannya gadis itu segera memasuki rumahnya.

Minri memperlambat jalannya ketika sampai di ruang tengah. Seorang pria yang lebih dulu berada disana segera menoleh setelah menyadari kehadiran Minri.

Eung? Nuguseyo?” sapa Minri hati-hati.

“Minri-ssi?” sapa orang itu formal.

Minri memperhatikan pria itu dari atas sampai bawah, tapi tentu saja tanpa sepengetahuan pria itu. Karena kalau ketahuan ia bisa dikira tidak sopan.

Pria itu memakai kemeja biru dan celana hitam. Rambutnya berwarna kecoklatan sengaja tidak disisir namun masih pantas untuk dipandangi, hampir sama seperti Sehun. Dari wajahnya, sepertinya pria itu masih muda dan cerdas. Dan Minri tidak memungkiri kalau pria itu cukup tampan dan menarik perhatian.

Nyonya Park baru saja memasuki ruang tengah. Wanita itu membawa nampan yang berisi minuman dingin. Meskipun nyonya Park memiliki asisten rumah tangga, ia tetap melakukan pekerjaan rumah jika ia tidak sibuk.

“Baguslah kau datang Minri-ya,” ucap Nyonya Park sembari duduk di seberang pria itu.

“Memangnya ada apa, Eomma?” tanya Minri penasaran. Dalam hatinya bertanya-tanya siapakah pria tampan yang sedang berada di rumahnya itu.

“Begini, perkenalkan laki-laki ini adalah salah satu mahasiswa lulusan Harvard. Dia anak dari teman Eomma, yang akan menjadi tutormu sebelum kau masuk universitas maupun saat kau kuliah disana nantinya. ”

“Aku? Harvard?!” sahut Minri penuh semangat.

Ne. Kau suka kan?”

Minri mengangguk senang. Matanya tampak berbinar saking senangnya.

“Aish! Eomma pasti merindukanmu kalau kau kuliah disana nanti.”

DEG

Ekspressi wajah Minri mendadak berubah. Terlintas dipikirannya bahwa ia akan terpisah dengan Sehun nantinya. Heol, mengapa baru terpikir olehnya sekarang? Ia jadi sedikit menyesal meminta pada orang tuanya disekolahkan di Harvard.

Waeyo Minri-ya?”

“Ah? Gwaenchanayo Eomma,” jawab Minri cepat.

“Baguslah. Oh iya, perkenalkan… namanya Kyuhyun. Cho Kyuhyun.”

***

Sehun baru saja keluar dari kamar mandi. Pria itu mengeringkan rambutnya yang baru saja dikeramas. Pandangannya tertuju pada ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Sejak pertandingan tadi Sehun belum memeriksa ponselnya sama sekali. Mungkin saja ada pesan atau panggilan dari Minri karena Sehun sama sekali tidak tahu kemana Minri menghilang.

Sehun tidak pulang sendirian. Untung saja tadi Chanyeol mau mengantarkan Sehun ke apartemennya.

Laki-laki itu meraih ponselnya lantas menekan salah satu tombol disana sehingga layar menyala dan muncullah foto ia dan Minri sebagai wallpaper. Ada satu pesan yang tidak terbaca, dari Minri. Sehun segera membuka pesan itu.

Sehun-ah, maaf tadi aku harus pulang lebih dulu karena Eomma memintaku. By the way, bagaimana pertandingan hari ini? Jangan lupa istirahat ya, aku mencintaimu.

 

Sehun tersenyum membaca pesan dari gadis itu. Ia menekan tombol pemanggil lantas menempelkan ponsel itu ke telinganya. Kemudian ia menghempaskan tubuhnya di kasurnya.

Sehun menunggu beberapa saat sebelum panggilan terhubung, lalu terdengarlah suara gadis itu.

Yeoboseyo Sehun-ah…

“Hai, kau sedang apa?” tanya Sehun basa-basi.

Hanya membaca novel. Oh iya, bagaimana pertandingannya?

 

“Tim kami membawa kemenangan.”

Chukkae… err, Sehun, apa kau sudah merencanakan kau akan meneruskan ke perguruan tinggi mana?

 

“Aku ingin kuliah di Konkuk atau Sang-Ji, masih di Korea Selatan. Kalau kau?”

Sepertinya… Eomma dan Appa berencana menguliahkanku ke Harvard

 

Suara gadis itu terdengar pelan, entah karena ia menjauhkan telponnya, gangguan jaringan atau memang dia memelankan suaranya. Sehun menelan ludahnya saat mendengar pernyataan gadis itu. sekian lama menjalin hubungan dengan gadis itu, ia baru mendengar kalau Minri berencana kuliah ke luar negeri dan itu berarti mereka akan menjalani hubungan jarak jauh. Heol~

“Benarkah? Bagus dong. Kualitas universitas itu sudah tidak diragukan lagi,” ucap Sehun sedikit berbohong kalau ia turut senang.

Bagus katamu? Apa itu berarti kau bersedia aku pergi?

“Bukan seperti itu. Hanya saja… aku tidak mungkin menghalangi impianmu. Aku tidak ingin bersikap egois.”

Ting Tong!

 

Suara bel yang berasal dari apartemen Sehun membuat Sehun bangkit dari tempat tidurnya.

“Tunggu sebentar, sepertinya ada tamu,” ucap Sehun pada Minri.

Laki-laki itu sempat melirik jam dinding, dan jam menunjukkan pukul sembilan malam. Waktu yang tidak tepat jika orang ingin bertamu. Sehun jadi bertanya-tanya siapa yang datang selarut ini.

Sehun mengintip dari lubang kecil di pintunya. Seorang gadis berdiri disana. Dan Sehun mengenal siapa gadis itu. Astaga! Tetangganya waktu kecil dulu.

Sehun membuka pintu, sehingga mereka berdua saling berhadapan.

“Sehun Oppaaaa!!” pekik gadis itu riang lantas memeluk Sehun, membuat tubuh laki-laki itu sedikit terhuyung ke belakang.

Sehun yakin Minri bisa mendengar dengan jelas, keributan kecil yang sedang terjadi di tempat Sehun karena teriakan gadis itu.

Siapa itu? tanya Minri

“Telponnya ku tutup dulu, nanti ku hubungi lagi. Bye~

Klik! Sehun mematikan telpon, lalu memasukkan ponselnya ke saku celana. Ia mendorong pelan tubuh gadis itu hingga pelukan mereka terlepas.

“Hyejin? Bagaimana kau bisa sampai kesini?”

“Aku akan sekolah dimana Oppa sekolah sekarang. Aku senang sekali,” ucap gadis bernama Hyejin itu sembari menggeret kopernya masuk ke dalam apartemen Sehun.

“Untuk malam ini saja, izinkan aku tidur disini ya? Besok baru Oppa bantu aku mencari tempat tinggal.”

Sehun menggelengkan kepalanya pelan. Hyejin sama sekali tidak berubah. Berisik, mengganggu dan seenaknya.

“Ternyata apartemenmu besar juga ya?” gadis itu menyusuri pandangannya ke seluruh ruangan. Sementara Sehun mengikutinya dari belakang. Dari segi fisik, gadis itu memang banyak perubahan. Tentunya dia lebih tinggi dari terakhir kali Sehun melihatnya, 3 tahun yang lalu. Sebelum Sehun pindah ke Seoul.

Saat Hyejin hampir sampai di depan kamar Sehun, tiba-tiba ia berbalik sehingga Sehun yang tepat di belakangnya juga cukup terkejut.

Oppa-

Hyejin tersandung keset yang berada di depan kamar Sehun. Gadis itu tidak bisa mempertimbangkan keseimbangannya, ia jatuh dengan mendorong Sehun hingga mereka berdua jatuh bersamaan dengan Hyejin berada di atas Sehun.

Gadis itu mengerjap cepat dan dengan wajah yang cukup merah. Hanya selang beberapa detik, sebelum gadis itu menjatuhkan kepalanya di dada Sehun. Tidak sadarkan diri.

Sehun merasakan sakit di sekitar punggungnya, namun dengan sisa tenaganya akhirnya ia bisa mendorong Hyejin menjauh. Sehun menatap gadis itu sesaat sebelum mendecak tidak percaya.

“Astaga! Dia Pingsan?!”

TBC

 

Huahaha XD! Gimana??? Nyesel baca?? #plak

Ada orang baru ;p seenggaknya gak bikin ff ini datar -_-! Tentang hubungan Sehun dan Hyejin dahulu akan saya kasih tau di part selanjutnya. Leave comment juseyo~ ga ada respon bikin ff ini susah dilajut, *alaaah

Gomawoooo *peluksatusatu*

51 thoughts on “Just Stay With Me – Part 1

  1. Aishhhh hyejin pasti tipe2 cewek centil. Udh gitu nnt sehun slh sangka sm minri dan kyuhyun, nah minri cemburu sm sehun dan hyejin kan? Aishhh nnt bertengkar hebat dong thor, aku baca next ajadeh

  2. woaahhh.
    sehun sama minri knp awalnya mau putus ya? .-.
    eh ada kyu. hai kyu wkwkwk
    kykny next part konflik mkin dpet nih hmm
    oke thor bakal lanjut baca next part😀😀

  3. Waaah bkalan makin seru nc, aday’ cast bru mmbuat alur crta lbih brgelombang (haha apaan tuh?), mksdy’ crty’ jd g datar, ada konflik tmbhn, 22y’, Sehun n Minri diprtemukn dgn cast bru yg mungkin akn menggoda iman k2y’, hehe
    q mkin pnsn sma lnjtny’,
    q bca part 2y’ ya,
    Rima mkin keren, bgus idey’ dgn nambhin cast bru sbg pmbwa konflik,

  4. Yahhhhh… itu Hyejin siapa sih? Kyuhyun juga jangan ambil Minri dari Sehun yaaaa..
    Udah thor! Dua”nya kuliah di Harvard aja.. wkwkwk😀

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s