Sweet Sweet Love! #2

ksadjadka

Title                : Sweet Sweet Love!

Author            : yeoshin

Main Cast      : Do Kyung Soo (EXO K); Song Yeon Hwa (OC)

Genre                         : Romance

Length            : Chaptered

Rating             : General, PG-17

Disclaimer      :

WARNING! Typo, Boring, Gaje. R&R, Read and Review juseyoo T,T

Authornya masih belajar jadi harap maklum yah. Saya sangat mengharapkan kritik dan sarannya. Terima kasih^^

Semoga Reader di beri rejeki dan umur yang panjang oleh Tuhan. Amin.

Jika ada kesamaan judul atau ide cerita. Itu hanya kebetulan semata. Fanfic ini murni berasal dari pikiran saya pribadi.

Summary       :

Aku adalah seorang dokter gigi yang baru membuka klinik beberapa bulan. Aku bahagia sekali dengan kehidupan baruku sebagai seorang dokter. Namun, seorang lelaki tak bertanggung jawab datang mengacaukannya tepat di hari bahagia sahabatku. Aku bersumpah akan membunuhnya. Aku bersumpah!

&

Aku adalah seorang pastry chef. Sudah kurang lebih satu tahun aku bekerja di sebuah restoran Prancis dan bertugas untuk menyajikan dessert. Aku menjadi chef beruntung yang di percaya untuk membuat kue pengantin raksasa di acara pernikahan seorang seleberitis. Namun, tiba-tiba saja muncul seorang wanita yang hampir merusak kue ku. Aku harap dia baik-baik saja. Ku harap.

Theme Song   :

Byul Feat Jung Yeol of 10cm – So Cute

 

&&&

~ Bukan kita yang memilih takdir, tapi takdir yang memilih kita~

Yeon Hwa membuka matanya yang masih terasa berat. Kepalanya terasa pusing seperti ada 3 ekor angry bird mengelilingi kepalanya. Sepertinya aku mabuk.

Yeon Hwa menatap kesekitar sambil memegangi kepala. Ia megnerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali sampai pandangannya mulai jelas. Ada sesuatu yang aneh. Yeon Hwa menengok ke kiri dan kanannya, ruangan ini tampak asing baginya. Sesaat kemudian ia baru menyadari bahwa ia sedang berada di apartemen orang lain. Yeon Hwa memeriksa pakaiannya dengan panik.

“Sudah bangun rupanya.” Seorang pria  mengenakan kaos biru meletakkan segelas susu di hadapannya. Butuh beberapa waktu bagi Yeon Hwa untuk mengingat wajah pria ini.

“Kau!!” Yeon Hwa menunjuk pria itu dan memandangnya dengan pandangan kebencian. Kyung Soo pura-pura tidak melihatnya, ia berjalan menuju meja makan dan mengoleskan selai di atas roti. Sebenarnya tadi malam ia juga kaget bertemu dengan wanita ini lagi. Dalam hati ia berharap urusan mereka sudah tuntas di acara pernikahan itu, ternyata Tuhan memang tidak bisa di tebak.

“Kenapa aku bisa ada disini?!” Yeon Hwa mulai histeris. Ia tidak bisa mengingat apapun.

“Jangan-jangan kau mau memperkosaku. Ayo mengaku!”

Kyung Soo menghentikan aktifitasnya dan kini menatap wanita itu heran. Ia tertawa pelan sambil menghampiri Yeon Hwa. Yeon Hwa memeluk dirinya rapat-rapat saat Kyung Soo mulai mendekat kearahnya. Aroma lavender menyeruak dari tubuh pria itu.

“Ma, Mau apa kau?” ucap Yeon Hwa terbata-bata sementara kakinya mundur berberapa langkah.

“Aku sama sekali tidak bernafsu dengan wanita tukang mabuk sepertimu.”

“Apa kau bilang?!”

“Ck. Kau benar-benar lupa atau pura-pura lupa?” Kyung Soo berdecak sambil menggigit rotinya. Yeon Hwa menatapnya seakan berkata ‘Apa maksudmu?’ Kyung Soo mengambil sesuatu di kamarnya kemudian melemparkannya ke hadapan Yeon Hwa. Yeon Hwa memungut benda yang ternyata sweater abu-abu dengan bau asam bercampur alkohol.

“Kau terkapar di depan pintu apartemen-mu karena mabuk. Aku berusaha menolongmu tapi kau terus memukuliku. Kau bahkan muntah di sweater kesayanganku dan pingsan begitu saja. Aku tidak menemukan kunci apartemenmu di manapun. Jadi aku bawa saja kau kesini. Tapi tampaknya selain tukang tuduh kau juga tipe orang yang tidak tau terima kasih.”

Pria ini benar-benar! Kalau saja aku lebih tinggi akan ku tinju matanya yang besar itu. Yeon Hwa mengepalkan jemarinya, pandangannya yang tajam menghujam Kyung Soo seolah mengeluarkan suriken-suriken yang bisa mencabik-cabik kulit pucat itu. Kyung Soo menolehkan kepalanya menuju televisi. Seakan tidak perduli dengan tatapan wanita itu. Ia menegak susunya dan menghabiskan rotinya dalam sekali teguk. Ia menunggu reaksi apa lagi yang akan di tunjukkan oleh wanita ini. Namun, wanita itu hanya menunduk 90 derajat dan mengucapkan terima kasih padanya. Untuk beberapa saat Kyung Soo tertegun, mata bulatnya berusaha membaca ekspresi wanita itu.

Mungkin yang di ucapkan oleh lelaki ini benar. Lagi pula ia memang mabuk semalam, walaupun kesal tidak sepatutnya terus berdebat dengan lelaki ini apalagi di pagi yang cerah seperti ini.

“Terima kasih karena telah menolongku, maaf telah berkata kasar padamu. Sweater ini biar aku yang cuci. Sekali lagi aku minta maaf.” Yeon Hwa menundukkan tubuhnya kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu tanpa mengatakan sepatah katapun.

Setibanya di apartemen, Yeon Hwa langsung mengendus dan melemparkan sweater lelaki itu ke bak mandi. Rasanya ia ingin sekali mencakar-cakar wajah pemuda itu. Wajah pria itu seolah menempel di sweater abu-abu itu. Yeon Hwa meninju-ninju sweater tak berdosa itu kemudian melemparkannya ke lantai dan menginjak-injaknya sekuat tenaga.

“Dasar pria bodoh! Terima ini!” dengusnya. Yeon hwa mengambil sweater itu dan kembali meremasnya sebelum melemparnya ke dalam mesin cuci.

 

Kyung Soo berusaha untuk tidak memikirkan kejadian tadi pagi, namun wajah wanita itu seolah betah sekali menghuni isi kepalanya. Kyung Soo menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir bayangan wanita itu dan berusaha berkonsentasi kembali pada almond cake-nya.

Sebenarnya Kyung Soo sedikit penasaran dengan wanita aneh itu. Siapa dia? Mengapa dia selalu muncul di saat yang tak terduga? Apa ini yang dinamakan takdir? Tapi kenapa harus wanita itu? Kepalanya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan dan terlalu hanyut dengan pikirannya sendiri hingga tidak menyadari tangannya yang hampir menumpahkan bubuk coffee.

“Hei! Kau baik-baik saja?” Tanya Baekhyun khawatir, ia menahan tangan Kyung Soo. Kyung Soo yang sejak tadi melamun dan rohnya melayang entah kemana kini telah masuk kembali ke alam sadarnya.

“Ya?” Respon alami dari Kyung Soo itu membuat Baekhyun menatapnya seakan berkata ‘Apa yang terjadi?’ Kyung Soo menghindari tatapan itu dengan kembali berkonsentrasi dengan adonan kuenya. Baekhyun menahan tangannya dan hendak mengatakan sesuatu tapi manager Kim telah bersuara terlebih dahulu memanggilnya. Sebelum pergi Baekhyun berbisik.

“Kita bicara lagi nanti.”

 

Yeon Hwa berjalan gontai menuju kliniknya, ini gara-gara mobilnya yang tiba-tiba tidak bisa dinyalakan dan terpaksa ia harus pergi ke klinik dengan bus. Sial. Bukan cuma langkanya saja yang terlihat layu wajahnya pun tertekuk seribu setelah mengintip komentar-komentar netizen di internet. Ia terenyak ketika para netizen itu berhasil mengorek informasi yang paling pribadi baginya. Bahkan foto-foto lama saat ia masih sekolah dulu yang bahkan dirinya sendiri tidak ingat kapan foto itu diambil. Belum lagi saat di bus dalam perjalanan menuju klinik, seorang ibu-ibu hamil mengenali dirinya berbisik-bisik pada penumpang lain dan memandangnya dengan pandangan yang sulit di artikan. Hal itu membuat Yeon Hwa harus menutupi wajahnya, ia sendiri merasa aneh. Apa begini rasanya menjadi seleberitis?

Yeon Hwa terpaksa menutup kliniknya untuk beberapa waktu sampai gossip mengenai dirinya mereda. Walaupun ia sendiri tidak bisa memastikan kapan gossip ini berakhir. Rentetan kesialan yang menimpanya ini seakan tidak ada habisnya. Dalam hati ia mengutuk pastry chef itu dan bersumpah akan menghajarnya jika mereka bertemu lagi.

 

Setelah mengambil beberapa buku dan beberapa barang, Yeon Hwa keluar dari kliniknya. Saat hendak menutup pintu klinik tiba-tiba seorang ibu memanggilnya. Seorang gadis kecil di genggaman tangan kiri ibu itu tampak menangis tersedu-sedu seraya memegangi pipi kirinya.

“Dokter tolong anak saya.”

Yeon Hwa menunduk mensejajarkan diri dengan gadis kecil itu. Ia tersenyum ramah pada gadis kecil itu namun tampaknya gadis itu tidak senang melihatnya.

“Dokter ini akan menolongmu. Jadi berhentilah menangis.” Ibu itu berusaha menenangkan anaknya.

“Aku tidak mau gigiku disentuh oleh dokter ini! Dia ini dokter jahat yang ada di Koran waktu itu!” Gadis kecil itu menunjuk ke arah Yeon Hwa. Yeon Hwa dapat merasakan tatapan dingin dari anak itu. Ibu itu menatap Yeon Hwa dengan seksama. Kini ia merasa seperti anak tikus yang akan menjadi santapan kucing.

Kyung Soo selalu menjadi orang terakhir yang meninggalkan restoran. Kegiatan yang selalu ia lakukan adalah membersihkan sampah-sampah dapur dan mengumpulkannya di belakang restoran. Sayup-sayup suara tangisan menusuk gendang telinganya, bulu kuduknya seketika meremang. Dalam hati ia meyakinkan diri bahwa suara itu bukan berasal dari makhluk irasional. Namun, tiba-tiba keadaan menjadi sangat sunyi suara tangisan itu semakin jelas terdengar. Dengan ragu Kyung Soo melangkah perlahan menuju sumber suara.

Di balik lorong yang gelap itu seorang wanita tengah duduk tertelungkup dengan suara tangisan yang ia yakini hanya dapat di dengarnya sendiri. Sungguh bodoh memang, tapi Yeon Hwa sudah terlambat menyadari kebodohannya sendiri. Ia terlanjur hanyut dengan tangisannya tanpa menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan hampir pukul 1 malam.

Kyung Soo menengokkan kepalanya dari balik tembok. Jaraknya dengan sosok yang tengah tertelungkup itu sekitar lima meter. Dalam hati ia bersyukur ternyata suara  itu bukan berasal dari makhluk irasional. Terlihat seorang wanita mengenakan rok beige bunga-bunga dan blazer biru langit, rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Ia duduk bersandar pada dinding tembok. Dari penampilannya yang kusut itu di sinyalir bahwa wanita itu sudah berada di tempat itu sejak sore.

Saat Kyung Soo melangkahkan kakinya mendekat, tiba-tiba wanita itu menangkat kepalanya. Wajahnya terlihat sangat frustasi, matanya sembab entah berapa lama ia menangis. Rambutnya kusut seperti habis di cakar, eyelinernya luntur hingga membuat airmatanya berwarana hitam. Air mata hitam itu meninggalkan bekas di kedua sisi pipinya yang putih.

Agashi?

Yeon Hwa menoleh ketika menyadari sesorang bersamanya saat ini.

“Kau!” Yeon Hwa segera berdiri dan menunjuk pria itu dengan telunjuknya. Mengapa pria itu selalu muncul di saat-saat tidak terduga seperti ini. Sungguh ia berharap bahwa telunjuknya ini bisa berubah menjadi tombak hingga bisa menusuk jantung pria itu seketika.

Neoneun! Nappeun saram!!” Yeon Hwa segera berlari menghampiri Kyung Soo dan memukulinya sekuat tenaga. Bahkan Kyung Soo tidak sempat terkejut dengan pertemuan tiba-tiba mereka ini.

“Yak! Apa yang kau lakukan?! Yak!” Teriak Kyung Soo. Namun, Yeon Hwa tidak memperdulikan teriakan tersebut ia  terus memukuli laki-laki itu dengan berapi-api. Kyung Soo yang tidak tahan akhirnya menahan kedua tangan gadis itu. Di genggamnya tangan kurus Yeon Hwa dengan erat dan menatap mata gadis itu dalam-dalam. Yeon Hwa meronta dan berusaha mendapatkan tangannya kembali.

“Aku minta maaf sepertinya ini semua salahku.” Tutur Kyung Soo pelan bersusaha bersabar menghadapi wanita ini. Dari awal memang ini semua kesalahanmu! pekik Yeon Hwa dalam hati, ia yakin Kyung Soo dapat membacanya melalui sorot mata yang ia hujamkan pada lelaki itu. Kyung Soo tidak menghindari tatapan itu.

Entah sejak kapan genggaman itu kini melembut, Yeon Hwa menundukkan kepalanya, suhu tubuhnya meningkat ketika merasakan kulit laki-laki itu bersentuhan dengannya. Kyung Soo melonggarkan genggaman tangannya pada wanita itu. Wanita itu tidak berusaha melepaskan tangannya. Tanpa sadar Kyung Soo tersenyum.

 

“Kenapa kau membawaku kesini?”

Kedua orang itu kini berada di dapur restoran. Yeon hwa merasa aneh dan bertanya pada diri sendiri, mengapa ia mau mengikuti laki-laki ini?

Kyung Soo mengeluarkan beberapa potong coklat dari kulkas yang sebenarnya baru saja ia bereskan. Yeon Hwa duduk di kursi kayu yang ada di sisi meja tempat Kyung Soo meletakkan bahan-bahan coklatnya.

“Apa yang kau lakukan?”

Wanita ini rupanya cerewet juga. Melihat Kyung Soo yang sibuk dengan coklat-coklat itu Yeon Hwa merasa sedikit bingung, bukan sedikit tapi dia sangat bingung. Di tengah malam begini lelaki ini bukan membawanya pulang justru membawanya ke dapur untuk melihatnya membuat kue.

“Kau suka coklat?” tanya lelaki itu tiba-tiba. Yeon Hwa menggeleng, ia tidak suka cokalat, ia benci sekali dengan makanan manis itu.

“Kenapa?” tanya Kyung Soo ketika melihat raut penolakan dari wajah Yeon Hwa.

“Coklat itu bisa membuat gigi berlubang, aku tidak pernah memakannya dan tidak akan pernah memakannya!” Yeon Hwa menggeleng kuat.

“Kasihan sekali kau, ckck.” Kyung Soo berdecak.

Kyung Soo memotong-motong coklat yang akan ia buat menjadi ganache itu di atas talenan. Tak lama dark coklat berbentuk persegi panjang itu kini menjadi potongan-potongan kecil. Kemudian ia memanaskan potongan-potongan coklat itu di dalam mangkuk kaca yang di letakannya di atas air mendidih.

Yeon Hwa memperhatikan tangan Kyung Soo yang tampak sangat cekatan mengolah coklat-coklat itu. Ternyata lelaki itu memiliki tangan yang bagus memang benar-benar tangan seorang pastry chef pantas saja genggamannya terasa hangat. Tiba-tiba Yeon Hwa merasakan jantungnya berdebar-debar, tanpa sadar ia memegang dadanya dan suhu badannya terasa naik padahal ia tidak sedang demam.

Kyung Soo memanaskan heavy cream dengan api kecil. Kemudian ia mengambil beberapa potong pudding coklat yang ia buat tadi sore di dalam kulkas. Sebenarnya ia sendiri tidak mengerti dengan dirinya yang membawa wanita itu kesini. Mungkin ini bentuk rasa simpati dan rasa bersalahnya pada wanita itu, meski ia tidak mengerti apa kesalahannya pada wanita itu. Kyung Soo mencampur heavy cream dengan lelehan coklat dan mengaduknya perlahan hingga kedua bahan itu tercampur.

Yeon Hwa masih sibuk mengatur detak jantungnya saat Kyung Soo menuangkan coklat ganache itu diatas pudding. Kyung Soo meletakkan beberapa potong jeruk, kiwi dan stroberi di atas pudding itu. Kini pudding itu terlihat sangat cantik dan menggoda untuk dicicipi.

“Hidup itu sama seperti coklat, ada yang manis dan ada yang pahit, tergantung bagaimana kita mengolahnya. Semua orang bisa membuat coklat dengan rasa yang enak jika mereka gigih dan mau menerima pendapat orang lain.” Kyung Soo menyodorkan pudding itu pada Yeon Hwa.

“Sudah aku bilang aku tidak mau dan tidak akan pernah  mencicipi coklat.” Tolak Yeon Hwa cepat dengan mata melotot. Mirip seperti anak berumur lima tahun yang menolak makan sayur. Kyung Soo tidak bisa menahan tawa melihat ekspresi wanita itu.

“Satu sendok tidak akan membuatmu sakit gigi. Percayalah. Jika itu terjadi penggal saja kepalaku.” Kyung Soo berkata dengan yakin. Yeon Hwa menatapnya dingin. Kyung Soo membalasnya dengan cengiran.

“Sudah lama aku ingin memenggal kepalamu. Tanpa kau minta sekalipun aku akan senang hati melakukannya.”

“Ya sudah kalau begitu makan saja.”

Yeon Hwa mengambil piring itu kemudian memotong pudding coklat itu dengan sendok. Sebelum memasukkan pudding itu kedalam mulut Yeon Hwa sempat melirik Kyung Soo. Lelaki itu kini menatapnya dengan yakin. Dari wajahnya kelihatan sekali kalau ia tidak takut untuk di penggal.

“Bagaimana? Enak?”

Yeon Hwa mengerjap-ngerjapkan matanya merasakan lumeran coklat itu di tenggorokannya. Manis. Ia tidak tahu bahwa coklat rasanya seenak ini. Sejak kecil ayahnya yang seorang dokter gigi tidak pernah mengizinkannya memakan makanan manis seperti permen dan coklat bahkan di hari hallowen sekalipun. Tapi karena hanya ayah yang ia punya mau tidak mau ia harus patuh pada beliau. Sepertinya setelah ini coklat adalah makanan favorite-nya. Walaupun benci mengakuinya, tapi laki-laki ini memang sangat piawai mengolah makanan selezat ini.

“Aw!” Yeon Hwa memegang pipi kirinya seraya meringis, berpura-pura sakit gigi. Ia melirik Kyung Soo yang tampak panik. Yeon Hwa menahan tawanya dalam hati.

“Kau bilang aku tidak akan sakit gigi! Sekarang akan ku penggal kepalamu!”

Kyung Soo membelalakkan matanya yang besar hingga membuat Yeon Hwa ingin mati menahan tawa. Ternyata laki-laki ini polos sekali.

“Kau serius?” Berbeda dengan Yeon Hwa yang tampak senang menjahilinya, Kyung Soo malah menganggapnya serius, wajahnya sudah mirip seperti ayam yang mau di potong. Yeon hwa tidak tahan lagi ia tertawa terbahak melihat ekspresi Kyung Soo yang polos.

YA! Kau membohongiku! Kemari kau!”

Yeon Hwa berlari mengelilingi dapur sambil tertawa. Tangisnya seakan hilang tanpa jejak. Kyung Soo mengejarnya kesana kemari, namun Yeon Hwa ternyata cukup lincah juga. Kyung Soo terdiam memandangi wanita yang tengah tertawa di sebrangnya itu. Angin musim semi seakan menyapu tubuhnya dengan lembut, membawanya seakan berada di sebuah padang rumput yang luas dan hanya ada dirinya dan wanita itu. Tiba-tiba jantungnya berdebar-debar ketika melihat tawa wanita itu. Sosok wanita menyebalkan itu kini berubah menjadi sosok yang ingin ia lindungi.

Dalam sekejap Kyung Soo sudah berada di depannya. Bahkan ia tidak sempat menyadari bahwa bibir lelaki itu telah menempel di bibirnya.

To Be Continued…..

Read And Review juseyoooo~~~

 

17 thoughts on “Sweet Sweet Love! #2

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s