Crimson Love #1

crimson-love-poster

Crimson Love – Chapter 1

Title : Crimson Love

Author : Han In Joo (Last Rebellion)

Main Cast :

– Zhang Yi Xing a.k.a Lay (EXO-M),

– Kang Je Hwa a.k.a Jehwa (OC),

– Byun Baek Hyun a.k.a Baekhyun (EXO-K)

Support Cast :

– Kang (Kim) Joon Myun a.k.a Suho (EXO-K)

– Han Yeo Rin a.k.a Yeorin (OC)

– Wu Fan a.k.a Kris (EXO-M)

Length : Chapter

Genre : Romance, Action, Horror, Tragedy, Fantasy

Rating : PG-17

Summary : Jiwa ini memang kehilangan raganya, tapi cinta ini tahu dimana tempat perhentian sesungguhnya. Ketika akhir telah datang, semua akan terbayar sebagaimana mestinya.

Disclaimer : Semua cast punya Tuhan, keluarga, agensi mereka masing-masing, author cuma pinjem nama mereka demi kelancaran imajinasi author dan readerdeul ahahaha~ Kim Joon Myun nya ganti marga sebentar ya ohohoh.Oya itu PG-17 bukan karena yadong ya, tapi karena bakal ada kekerasan secara fisik dan perkataan yang lumayan banyak, sebenernya yadong nya ada sih sedikit *nyengirkuda *plak! Bloody scene-nya juga ada sedikit, cuma dikit kok.

P.S : Annyeonghaseyo yeorobeun *tebar kisseu*PLAK! Ini FF pertama author yang dipublish disini, sebelumnya pernah di post di wp pribadi author (lastrebellion.worpress.com ), silahkan mampir kalo sempat mheheheh. Salam kenal ya dari author, readerdeul saranghaeyooooo *bikin love sign*

Daripada banyak bacon eh bacot maksudnya, yuk mari nge-scroll down bareng-bareng mhihi.

Happy Reading ^^

Author’s POV

“Haaaaahhhhh….” terdengar suara resahan seorang yeoja diikuti dengan kepalanya yang direbahkan diatas meja didalam kelas. Hatinya sedang gusar, tapi yeoja itu tak tau apa yang sebenarnya sedang diresahkannya. Jari tangannya mengetuk-ngetuk meja.Semakin lama semakin keras dan itu membuat teman sebangkunya mengerutkan kening kesal.

“Ya! Jehwa-ah, diamlah! Kau tidak liat aku sedang membaca buku, ketukan tanganmu itu membuat konsentrasiku terganggu tau!” sembur yeoja bernama Han Yeo Rin itu.Sedangkan yang diteriaki oleh Yeorin seperti tidak peduli dan terus mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja.Kelas sedang kosong, jadi maklum saja kalau mereka bisa berteriak-teriak sesuka hati didalam kelas.

Dengan reflek seorang pelaku taekwondo, Yeorin langsung menghujani kepala Jewha dengan buku yang dipegangnya itu.Terdengar bunyi debaman yang cukup keras antara kepala Jehwa yang menempel pada meja dengan buku tebal yang diluncurkan dari tangan Yeo Rin.

“Bukk….!!”Jehwa seketika mengangkat kepalanya dan memelototi Yeorin dengan memegang kepalanya yang terbentur itu.

“Ya!! Apa-apaan kau ini! Kalau kau ingin membunuhku bukan seperti ini caranya, setan! Ahhhh..appo!” Jehwa meringis kesakitan dan matanya berair tertahan.

“Siapa suruh kau membuatku kesal!Kau kan yang salah” ucap Yeorin sambil lalu dan kembali membuka bukunya.

“Aissshhh! Teman macam apa kau ini! Sungguh tega menyakitiku, hiks!” sengal Jehwa dan berdiri meninggalkan kelas.

“Pergi sana pergi…” timpal Yeorin sambil menggerak-gerakan tangannya mengusir Jehwa.

Jehwa hanya melenggang lemah keluar kelas, pikirannya terlalu ruwet untuk berada dikelas dan bertengkar dengan Yeorin.Tentu saja mereka berdua ini tidak benar-benar bertengkar, Jehwa terlalu sayang pada Yeorin, dan kemunginan besar jika tak ada Yeorin dihidupnya, bisa saja dia telah mati kebosanan. Jehwa bukan tipikal orang yang memilih-milih teman, tapi entah kenapa setelah dia mengenal Yeorin sejak awal masuk Seoul Senior High School ini, hidupnya lebih berwarna dan mengerti apa artinya sahabat.

Balkon sekolah adalah tempat yang akan dituju Jehwa. Sesampainya disana dia menghirup udara dalam-dalam dan menghempaskannya bebarengan dengan teriakan ringan yang keluar dari mulutnya.Setidaknya hal itu membuatnya sedikit agak lega.Walau tak selega yang diharapkannya.

kriiiiinnngggggg…!!!

Terdengar suara bel pulang dari kejauhan beberapa menit kemudian. Pertanda sekolah telah usai, saat Jehwa akan kembali kekelas mengambil tasnya, dia sudah mendapati Yeorin berjalan menghampirinya dari ambang pintu.

“Apa kepalamu benjol?” Tanya Yeorin sambil mengulurkan tas Jehwa.

Jehwa memegang kepalanya, terasa ada sedikit gundukan dikepalanya saat telapak tangannya menyapu kulit dibawah rambutnya itu.Sejujurnya Jehwa justru lupa kalau kepalanya baru dipukul oleh buku setebal bantal oleh Yeorin.Jehwa memang pelupa akut.

Jehwa hanya mengangkat bahu pertanda dia tak peduli.

“Kajja kita pulang.” Ajak Yeorin meninggalkan balkon sekolah dan menuju rumah.

(Other Place)

Braakkkk!

Terlihat berkas-berkas yang tersampul map dengan banyak warna berterbangan didalam ruangan. Berkas-berkas itu baru saja dilempar oleh seorang namja yang dikabarkan akan menjadi pewaris tunggal perusahaan ternama dikota Seoul. Namanya Byun Baekhyun, lebih sering dipanggil Baekhyun. Wajahnya kusut sekusut baju yang belum disetrika, bahkan seperti baju yang belum dicuci. *aigoo

Namun wajah kusutnya tak sebanding dengan hatinya yang sangat kesal itu. Bagaimana tidak, saat seminggu lagi dia akan dinobatkan menjadi pewaris tunggal DC Company, perusahaan kakek mereka, saudara sepupunya yang tinggal di China dan yang sebelumnya telah menolak menjadi pewaris perusahaannya tiba-tiba merubah keputusan. Baru lima belas menit yang lalu dia memutuskan menerima tawaran menjadi pewaris perusahaan kakek mereka itu.

“Ahhhhhh!Lay kau brengsekk!!!!!” racaunya tak jelas didalam kantornya dan mengobrak-abrik segala sesuatu yang ada di atas meja kerjanya.

Lay’s POV

Apa boleh buat aku harus menerima tawaran itu. Semoga keputusanku ini adalah yang terbaik. Aku akan memperjuangkan apa yang menjadi hakku. Kini saatnya aku bersikap dewasa.Batinku.

Tok tok tok! Terdengar ketukan dari pintu ruanganku.

“Ya, silahkan masuk” ucapku kearah pintu.

Sekertarisku melenggang masuk dan memberikan berkas-berkas yang aku minta dan meletakannya diatas meja.“Ini berkas-berkas yang Tuan inginkan” jelasnya.

Aku hanya mengangguk.“Terima kasih.” tutupku, diikuti sekertarisku yang lenyap dibalik pintu.

Aku mengecek semua berkas itu, dan lengkap.Kini saatnya aku berkemas dan segera pergi ke Korea.

Author’s POV

Jehwa terlihat baru saja menghempaskan tubuhnya diatas kasur empuknya itu.Dia berguling kekanan dan kekiri tak jelas. Sekarang weekend dan dia tak tau harus berbuat apa. Harusnya bisa saja dia berkencan dengan namja yang bisa menjadi namjachingunya, tapi sayang Jehwa tak tertarik dengan hal seperti itu.Bukan karena Jehwa tidak normal, tapi karena dikehidupannya, namja yang dia tau hanyalah appa dan oppa nya.Disekolah dia tak pernah peduli dengan namja sekelasnya.Dan kemungkinan besar bisa ditebak Jehwa belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta.

Mungkin kini sudah saatnya Jehwa merasakan hal normal seperti itu.Itulah alasan kenapa dia begitu resah dan gusar sepanjang hari. Hanya saja yeoja itu tidak menyadari apa yang sebenarnya ia butuhkan.

Jehwa’s POV

Aku bangkit dari tempat tidur empuk yang terasa tak seempuk biasanya.Aku masih merasa gusar. Sungguh aku tak mengerti kenapa aku seperti ini, apa yang aku rasakan sekarang sungguhlah aneh, aku gelisah, resah tapi tak tau apa alasan aku merasakan semua ini.

Kulihat jam dinding berbentuk jeruk besar yang menancap ditembok. Sudah jam empat sore.Mungkin sebaiknya aku pergi ketaman terdekat. Weekend pasti ramai, siapa tau itu akan membuat perasaanku lebih baikkan.

Aku menghambur keluar kamar dan mendapati sepedaku dengan cantiknya bertengger digarasi. Kupedal sepedaku dan melesat ketaman.

“Waaaahhhh ramainya.” Gumamku sambil menyunggingkan senyum tipis dan terus mengayuh sepeda.Aku mengitari taman sebanyak dua kali, mencari hal yang bisa mengalihkan perhatianku. Banyak kegiatan disana.Ada yang bermain sepakbola, makan bersama, piknik, dan ada juga yang sedang berduaan, aku yakin mereka pasti sepasang kekasih, aku hanya mendengus tak peduli.

“Yap!” ucapku spontan. Aku mendapat pengalih perhatian sekarang.Aku menuju ke segerombolan anak-anak yang bisa kutebak mereka masih tingkat TK. Mereka sedang memilih-milih balon dengan banyak warna.

Aku sangat suka dengan anak-anak.Entah kenapa setiap kali aku melihat wajah-wajah mungil itu hatiku terasa tenang.Terlebih lagi aku tak punya adik, dan merasa sayang sekali ketika aku tak diizinkan memiliki adik karena umur eomma yang sudah ringkih (?) untuk melahirkan.

Kuparkir sepedaku dipinggir rerumputan dan menuju tempat anak-anak itu beriuh ria.

“Ahjusshi, apa tidak bisa balon ini harganya jadi 200 won saja? Aku hanya punya uang sebanyak itu.” Kudengar salah seorang dari mereka memohon pada penjual balon.

“Tidak bisa anak manis, balon ini harganya 400 won, ahjusshi tidak bisa menjualnya seharga uang yang kalian punya, nanti ahjusshi bisa bangkrut bagaimana? Oke” ucap sang pedagang dengan lembut.

Aku menyimak dari kejauhan dan tersenyum-senyum sendiri.

“Ahjusshi, kami semua disini hanya memiliki 200 won saja, masa iya kami mau beli setengah balon? Mana bisa..” aku menoleh dan mendapati namja kecil yang bicara itu sambil mengacung-acungkan uangnya, aku tertawa rendah. Ada-ada saja anak ini, batinku.

“Tetap tidak bisa adik ganteng, lebih baik kalian minta uang lagi kepada orang tua kalian untuk menggenapinya.”Saran ahjusshi itu hanya ditanggapi dengan dingin oleh anak-anak itu.

“Mana bisa ahjusshi, kami kesini datang sendiri..” ucap namja kecil yang lain, terdengar suara kecewa dalam ucapannya itu. Seketika aku mengecek dompetku dan mendapati ada beberapa lembar won didalamnya. Kurasa cukup.

Aku menghampiri mereka yang terus ribut dengan ahjusshi itu.Aku menghitung anak-anak itu dari kejauhan.Semuanya berjumlah enam orang.Dan sayangnya ketika kulihat balon yang mengapung diudara itu ternyata hanya tersisa sejumlah anak-anak itu. Aku mendekati ahjusshi itu dan menyodorkan uang sebanyak 2400 won. Semua anak-anak disana hanya memandangku dengan tatapan apa-apaan-kau-menyambar-balon-yang-akan-kami-beli.

“Ahjusshi, aku mau semua balonnya, tolong berikan padaku, ini uangnya.”Aku menerima balonnya dan memandang anak-anak tadi.

“Wae?” aku pura-pura bertanya, beberapa diantaranya menatapku garang dan kecewa, ahh manisnyaaaaa.Aku terbius oleh ekspresi mereka sekarang.

“Ya ahjumma!Itu balon milik kita, kenapa diambil olehmu!” ucap namja kecil yang bermuka bulat itu.

“Aisssh, aku bukan ahjumma, panggil aku noona.” Rayuku pada mereka.

“Noona apanya, kau jahat mengambil balon-balon kami, lebih cocok dipanggil ahjumma.”Sengal seorang namja kecil lainnya.Aish benar-benar mereka ini pandai berbicara.

“Jadi kalian mau balon-balon ini? Emmmm..kalian boleh memilikinya, asalkan kalian memanggilku noona, otte?” ucapku memasang wajah semanis mungkin, hahahaa.

“Jeongmalyo?” kali ini yeoja kecil yang angkat bicara.

Aku hanya mengangguk pelan.Keenam dari mereka menghambur kearahku dan mengambil balon-balon yang ada ditanganku.Aku hanya tersenyum bahagia.

“Waah noona terimakasih banyak”

“Eonnie terima kasih” tanpa kusangka-sangka mereka semua memeluk dan mencium pipiku, aku hanya tersipu malu.Akhirnya hatiku berhenti gusar dan resah.Kutemukan tempat yang tepat.Mungkin sekalian saja aku menggila dan bocah-bocah lucu ini.

“Apa kalian mau eskrim?” tanyaku pada mereka dan disambut oleh jawaban riuh kegembiraan.

“Noona aku juga mau permen bundar itu” namja kecil ini baru pernah membuka mulutnya sejak tadi dan betapa tersentak hatiku ketika melihat sebuah lesung pipit terukir dipipi chubby-nya itu.Aku meleleh dan aku hanya mengiyakan permintaan mereka.Aku tertawa menang.Kami bersenang-senang bersama sampai tak kusadari ternyata bumi berotasi dengan cepat dan telah mengubah terang menjadi gelap.Malam telah tiba.

Lay’s POV

Akhirnya sampai juga di Korea. Aku menghirup udara kota Seoul dan beradaptasi dari udara di Hunan. Terlihat tak ada yang menjemputku dibandara, jadi kuputuskan untuk langsung menuju hotel yang telah kupesan.

Sesampainya dihotel aku langsung mandi dan duduk didepan TV, mengganti-ganti channel yang tidak menarik perhatianku. Aku melirik jam berwarna silver yang merekat ditanganku. Sudah jam empat sore, apa yang akan aku lakukan? Mungkin sebaiknya aku berjalan-jalan disekitar sini.Aku turun keresepsionis dan bertanya pada seorang pelayan.

“Annyeong haseyo, maaf numpang tanya, apa disekitar sini ada taman terdekat?” tanyaku sesopan mungkin.

“Nde, ada Tuan, Seoul Park, anda bisa mengikuti jalan lurus itu, hanya perlu menempuh sepuluh menit menggunakan mobil anda.”Jelas pelayan itu.

“Oh begitu, oke kamsahamnida” aku berlalu ke parkiran mobil.

Kurasakan deruman mesin yang halus dan melesat meninggalkan hotel.

Sesampainya di taman, aku memarkirkan mobilku dan berkeliling sekitar taman itu.

Kenapa ramai sekali begini? Ohya! Sekarang kan weekend Lay pabbo, aku merutuki diriku sendiri.

Aku mengedarkan pandanganku keseluruh penjuru taman. Ahh, semua yang datang kesini tak sendirian, batinku.Keluarga, sahabat bahkan pacar ada disini.Mungkinkah hanya aku yang sendiri?Aku menghela nafas dan memilih tempat duduk berwarna putih dibawah pohon rindang disekitarnya.Aku menyilangkan tangan dan menikmati udara sore yang menyenangkan.Aku tersenyum kecil.

Pandanganku teralihkan saat aku melihat segerombolan anak kecil sedang bermain balon bersama-sama, kuhitung mereka dari kejauhan, semuanya berjumlah enam orang.Mereka terlihat sangat bahagia dengan mainan yang mereka pegang itu.Tanpa kusadari lengkungan dibibirku mengembang.Ahh aku suka anak kecil.

Aku sudah hampir beranjak dari tempat dudukku sebelum terhenti karena aku melihat seorang yeoja menghampiri anak-anak itu dengan tangan yang penuh dengan kotakan eskrim dan membagikannya satu-satu untuk mereka.Aku duduk kembali dan memperhatikan mereka dari kejauhan.

Apa yeoja itu adalah pengasuh mereka? Aku bertanya-tanya dalam hati.

Aku langsung mendapatkan jawabannya seketika setelah seorang namja kecil disana berkata “Terimakasih noona, padahal kita baru bertemu, tapi noona sudah sangat baik pada kami dan membelikan semua barang-barang ini.”

“Aigoo, apa namja kecil itu mendengar pertanyaan diotakku?” gumamku pelan.

Yang diberi ucapan terima kasih hanya tertawa dan memeluk mereka semua.Sayang aku tak bisa melihat wajahnya dan hanya bisa melihat punggungnya saja.Aku terkesan dengan yeoja itu, jarang-jarang ada yeoja yang suka dengan anak-anak, yeoja ini telah mendapat nilai plus dariku, hahhaha.Aku tertawa konyol.

Kuputuskan untuk menghampiri yeoja itu, tapi gagal lagi saat aku mendengar seseorang memanggil namaku.Aku menoleh dan melihat sepupuku menghampiriku.

Baekhyun’s POV

“Ah sial!Jadi Lay sudah sampai dikorea, dia tidak mengabariku terlebih dahulu dan sekarang kakek menyuruhku menjemputnya untuk tinggal di rumah ini, sial sial sial!” gerutuku kesal sambil menunyuk-nunyuk ponselku.

Kuhubungi hotel tempat Lay check-in. Ternyata Lay sedang keluar, ke Seoul Park. Kuputuskan untuk langsung saja ke Seoul Park.

Sesampainya disana aku menilik seluruh wilayah disekitar taman. Dan hanya beberapa waktu saja aku sudah bisa menemukannya.Dia terlalu mudah untuk kutemukan.Postur yang kurus dengan tinggi yang sedang.Walau sedang dudukpun aku tetap tau.Aku mendekat kearahnya dan kulihat dia hampir beranjak dari tempat duduknya.Langsung saja aku memanggilnya sebelum dia pergi.

“Lay hyung..!!” teriakku.

Yang kupanggil menoleh dan aku melambai-lambaikan tangan.

Senyumnya mengembang dan CIH! Aku muak melihatnya.

Sabar Baekhyun, senyuman itu tak akan lama lagi menghilang untuk selamanya. Aku tersenyum setan.

“Baekhyun-ah..” ucapnya merespon panggilanku.

Kami bertemu setelah lima tahun berpisah. Aku memeluknya.

Author’s POV

Dua orang namja yang seharusnya dipenuhi dengan rasa kerinduan sedang berpelukan sekarang.Tapi didalam benak masing-masing tak ada yang benar-benar merasa rindu.Bekhyun yang dalam kasus ini adalah pihak yang dirugikan hanya menyeringai sinis didalam pelukan hyung-nya itu.Sedangkan Lay yang merasa bersalah karena merubah keputusan secara mendadak merasa tidak enak hati dan agak sedikit canggung untuk bicara pada Baekhyun.

“Ya ampun hyung, kenapa kau semakin kurus begini.”Matanya menelusuri tubuh Lay dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Tapi kau semakin tampan hyung” tambahnya sambil memegang pundak Lay. Baekhyun hanya tersenyum lebar, menyembunyikan rasa benci yang sangat memuncak didalam benaknya.

“Ah Baekhyun-ah kau berlebihan.” Wajah Lay kini tersipu malu. Lay memandang baekhyun dengan cermat. “Astaga..sejak kapan kau mempunyai kantung mata sejelek itu Baekhyun-ah?” tangannya tanpa sadar menyentuh kantung mata Baekhyun dan perasaan sebagai seorang hyung pun muncul dengan sendirinya dari diri Lay.

“Ah hanya kurang banyak tidur saja hyung”.Jawabnya tak peduli.

“’Hanya’ kau bilang?Mulai saat ini kau tidak boleh tidur terlalu malam dan perbanyak istirahat!” tegas Lay.

‘Sebentar lagi aku pasti akan punya banyak waktu untuk istirahat Lay, setelah kau lenyap dari dunia ini tentunya’ batin Baekhyun.

“Baiklah hyung, ah ternyata kau semakin cerewet saja. Jangan terlalu menghawatirkanku, aku baik-baik saja hyung” Baekhyun meyakinkan hyung-nya dengan susah payah. Hyung-nya yang satu ini memang kalau sudah kelewat peduli pasti jadi sangat cerewet.Baekhyun terkesan. Ketulusan Lay tetap tak bisa merubah apa yang akan ia lakukan nanti. Didalam hati, Baekhyun sudah muak dengan acting nya ini.

“Baiklah kalau begitu.Oya bagaimana kau tau aku disini?” ucap Lay mengalihkan pembicaraan.

“Hotel tentu saja, kau jahat sekali tidak memberiku kabar telah sampai di Korea.” Tutur Baekhyun.

“Ah, mianhae..aku ingin memberimu kejutan” timpal Lay.

Baekhyun hanya ber-huuu ria.

Sesaat kemudian, keduanya memutuskan pergi kesuatu tempat untuk makan malam. Karena Baekhyun tidak membawa mobilnya, jadi mereka bersama-sama pergi dengan mobil Lay.

Sebelum keduanya meninggalkan taman tersebut, Lay memandang ke arah yeoja bersama anak-anak kecil itu. Berjanji dalam hati, suatu saat ketika dia punya waktu luang ia akan menemuinya.

Mobil Volvo berwarna merahpun melesat meninggalkan Seoul Park.

==oOOOo==

Jehwa’s POV

It’s Monday! And always be a MONster DAY! Ah siaaaal!.Aku menggerutu dalam hati.Harusnya semalam aku belajar, bukannya bermain gitar sampai larut malam. Ah! Apa daya, sekarang sedang ulangan matematika dan aku belum belajar sama sekali. Aku lupa hari ini ada ulangan.

Kulirik Yeorin yang mengerjakan soalnya dengan hikmat.Kulihat kertas tesnya telah setengah terisi.Aku menghela nafas pasrah.Yeorin hanya memelototiku dan memandangku seolah-olah berkata kerjakan-ulanganmu-atau-kau-akan-mendapat-nilai-jelek-seperti-biasanya. Astaga Yeorin, harusnya kau membantuku, bukannya memberiku death glare seperti itu. Aku hanya melengos dan memandangi kertas tesku. Berharap angka-angka yang terpatri dikertas itu berubah menjadi lambang-lambang note balok atau kunci gitar, atau apalah yang penting berhubungan dengan musik. Sudah pasti aku bisa mengerjakannya tanpa harus belajar terlebih dahulu.

“Waktu yang tersisa lima menit lagi.” Ucap sonsaengnim dari depan kelas. Aku tersentak dan buru-buru mengerjakan soal-soal yang sama sekali aku tak mengerti. Kuandalkan ingatan-ingatan payah tentang matematika diotakku. Tetap tak bisa dan aku benar-benar pasrah dengan hasil yang akan kudapat nanti.

“Waktu habis, silahkan bawa lembar jawab kalian kedepan.” Dengan gontai kulangkahkan kakiku menuju Sonsaengnim.Kuserahkan kertasku dan memandang wajah sonsaengnim dengan wajah memelas.Tapi sonsaengnim hanya melengos tak peduli.Mungkin dia sudah terlalu muak dengan nilaiku yang selalu jelek dipelajarannya.

Keseret kakiku kembali ke bangku. Ini baru jam pertama pelajaran, tapi aku tak punya gairah lagi melanjutkan pelajaran yang tersisa. Bisa kurasakan mukaku pasti mengusut.

“Pabbo!” ucap Yeorin menjitak kepalaku, aku melotot.“ Apa yang kau lakukan semalam sampai tak belajar, eoh?” lanjutnya tak memedulikan mataku yang hampir keluar dari rongganya.

“Aissshhh! Main jitak sembarangan! Aku main gitar, wae?” jawabku ketus.

“Gitar, gitar dan gitar, selalu saja” ucapnya pasrah.Yeorin tau betul aku sangat menyukai gitar dan sering lupa waktu jika sudah menempel pada satu benda itu.

“Berusahalah untuk belajar, kita sudah kelas akhir, kau harus rajin belajar atau kau akan menerima hasil yang buruk diakhir nanti. Aku tak mau memiliki teman ‘bodoh’ sepertimu.”Yeorin menekankan kta ‘bodoh’ dengan jelas dan itu membuatku sebal.Ingin rasanya aku mengunci mulut tajam Yeorin itu. Aish!

“Iya iya ahjumma! Aku akan belajar! Kau tak perlu terlalu mengkhawatirkanku, eommaku saja tak seperti itu untuk menasihatiku, aku tau kau sayang padaku Yeorin-ah.Jadi santai saja. Oke.” Tutupku melengos dari wajahnya dan mengambil buku pelajaran selanjutnya.

“Aih dasar pabbo!”Yeorin kembali menjitak kepalaku.

Ya Tuhan, berilah sahabatku ini hidayah agar dia berhenti dari kebiasaannya yang suka menjitak kepalaku! Racauku dalam hati.Aku hanya meringis bahagia dengan semua ini.Lagi-lagi Yeorin yang selalu dsampingku dan perhatian padaku.

Mata kami kembali tertuju kekelas dan aku hanya tertunduk lemas mengingat apa yang akan aku terima dari hasil ulangan matematikaku nanti. Sebelum pulang sekolah, hasil ulangan matematika hari ini akan langsung dibagikan. Aku resah seresah-resahnya.

Baekhyun’s POV

Kurang sedikit lagi untuk melancarkan rencanaku.Malam ini kuharap keberuntungan berada dipihakku. Aku hanya tersenyum setan dan beranjak menuju ke ruangan Lay.

Keketuk pintu ruangannya dan masuk. Kudapati Lay sedang membolak-balik berkas didalam map dengan wajah yang serius. Ah aku muak dengan semua ini. Harusnya aku yang sedang duduk disana dan memegang berkas-berkas itu.

“Wah kau tampak serius sekali hyung, apa ada masalah?” tanyaku tak penting.

Lay menutup mapnya dan menatapku. “Aku hanya lupa lokasi-lokasi penyebaran perusahaan kita didaerah sini.Kulihat saat jalan-jalan kemarin sore, banyak tempat yang telah berubah” jelasnya.Aku melihat ada secelah harapan bagus untuk melancarkan aksiku malam ini.

“Apa hyung mau melihat-lihat bersamaku? Mungkin saja aku bisa membantu.” Aku menawarkan diri.Didalam hati aku bersorak-sorai menang.

“Boleh juga. Tapi aku tak bisa siang ini, bagaimana kalau malam saja?” ah! Kau tepat sekali hyung, memang harusnya malam hari.Sekali lagi aku tertawa menang.

“Tak masalah hyung, aku punya banyak waktu luang.” Ucapku sambil beranjak dari dalam ruangan. “Kita pergi menggunakan mobilku saja hyung.” Tambahku.

Lay hanya mengangguk setuju. “Nanti akan ku telpon jika sudah siap” tutupnya.Aku hanya mengacungkan jempolku dan menghambur keluar ruangan.

Aku meninju udara dan tertawa penuh kemenangan.

Jehwa’s POV

Benar kan apa dugaanku. Tak mungkin aku mendapat nilai bagus, belajar saja tidak mana mungkin nilaiku bisa bagus.Aku menghela nafas dan melipat kertas ulanganku, memasukannya sembarang kedalam saku blazer.Hari sudah gelap dan tanganku menuntun sepedaku, aku masih terlalu malas untuk mengayuhnya setelah duduk seharian didalam kelas. Karena aku berada dikelas akhir, apa boleh buat aku harus mengikuti kelas tambahan setiap hari. Pulang malam pun sudah biasa.

Tanpa aku sadari, ternyata aku telah berjalan terlalu jauh dan terkaget saat aku tau aku melewati jalan ini. Ahh Jehwa pabbo! Kenapa lewat jalan ini!Aku merutuki diriku sendiri.Kuedarkan pandanganku kesekitar jalan itu.Sangat sepi dan hanya ada satu penerangan diujung jalan. Perasaanku mulai was-was dan kurasakan bulu kudukku meremang saat tanpa sengaja aku melirik bangunan besar tak terpakai disamping kanan jalan. Aku buru-buru mengalihkan pandangan dan konsentrasi dengan jalan yang sedang aku lewati.Aku berniat mengayuh sepedaku tapi rasanya kaki ini tak bisa digerakkan, masih bisa jalan saja untung. Ah aku benci semua ini, aku bukan penakut hanya saja aku kurang berani dalam hal-hal mistis seperti ini. Sama saja Jehwa pabbo! Aku terus mengoceh dalam hati, berusaha mengalihkan perhatian.Tempat itu benar-benar sepi, tak ada suara kendaraan, jangkrik, burung atau apapun.Mataku terus menunduk dan berjalan agak cepat.

Saat melihat kearah depan, aku melihat seperti ada gundukan rendah tepat dipintu gerbang bangunan besar itu. Aku menyipitkan mata dan mendapati seonggok mobil Mercedes hitam yang dapat kulihat melalui cahaya remang-remang dari lampu diujung jalan.Aku mendekat dan memperhatikannya.Sepertinya baru diparkir, mesinnya masih terasa panas. Aku menoleh ke pintu gerbang yang terbuka dan mencari tau siapa yang punya keberanian ganda mau masuk kedalam sana.

Aku memfokuskan pandanganku dan tersentak kaget ketika aku mendengar suara gemuruh dari dalam sana. Detik berikutnya aku mendengar suara hantaman-hantaman keras dan tanpa kukomando, tubuhku sudah berdiri diambang pintu gerbang.Aku merasa takut tapi sekaligus penasaran.Aku mengintip dari balik jeruji dan mataku membelalak lebar ketika melihat ada dua orang namja sedang saling hantam.Buru-buru aku bersembunyi didalam kegelapan memperhatikan mereka dan melupakan tubuhku yang mulai bergetar hebat berpacu dengan jantung yang sudah hampir copot.

Dua namja itu meninju muka mereka satu sama lain. Terlihat namja yang lebih tinggi tengah tak berdaya sedangkan satu namja lainnya yang berpostur agak pendek terus melaksanakan aksinya.Aku bisa melihat aksi mereka dengan jelas sekalipun cahaya yang terpantul pada mereka sangatlah minim. Namja pendek itu terus bergumam entah apa dan kali ini Ia menginjak perut namja yang lebih tinggi itu. Aku merasa tidak kuat dan merintih lirih merasa tak tega melihat semua ini.Aku menutup wajahku dan hanya menyisakan sedikit celah dari balik jari-jariku untuk melihat mereka.Namja tinggi itu sudah benar-benar tak berdaya sekarang.Tubuhnya tergeletak tak bergerak sedangkan namja pendek itu berjongkok disampingnya dan terus mengoceh tak jelas.Namja pendek itu meninju mukanya lagi dan kali ini aku bisa melihat cairan merah pekat muncrat dari mulut namja tinggi itu.Darah bercucuran diwajah mereka berdua.Terdengar deru nafas namja pendek itu yang terengah-engah dan namja tinggi masih tak berdaya tergeletak ditanah.

Betapakagetnya aku ketika melihat namja yang tinggi itu menoleh kearahku sementara aku sedang memperhatikan namja pendek itu.Aku tersentak dan jantungku semakin berdetak hebat meminta dilepaskan dari dalam dada.Mata kami bertemu tapi aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena tertutup lumuran darah.

Karena aku terkaget dan merasa khawatir aku akan dipanggil olehnya setelah melihatku, aku berjongkok mundur dan BRAKKK! Aku tersungkur saat menabrak sepedaku yang terparkir.Aku meringis kesakitan, tapi sakit itu tak terasa lagi ketika aku kembali tersadar bahwa aku membuat suara yang tidak seharusnya ada.Kunaiki sepedaku dan kukayuh dengan cepat tanpa memedulikan apapun.Aku terus berpacu sampai aku lenyap ditikungan dan menoleh kebelakang.Tak ada mobil Mercedes hitam yang mengikutiku.Untuk sementara aku aman.Terus kukayuh sepedaku sampai dihalaman rumah.Astaga, aku hampir kehilangan nyawa.Kuletakkan telapak tanganku didada kiriku, merasakan detak jantung yang berdetak tak karuan dan sangat cepat.

“Siapa mereka sebenarnya?Apa aku baru saja melihat aksi pembunuhan?”Aigoo… aku tak henti-hentinya mengucapkan kata itu didalam hati.

 

==ooOO TBC OOoo==

Chapter pertama selesai.Gimana gimana readerdeul?:D garing ya? Iya mianhae kalo kurang memuaskan readerdeul.Author udah berusaha semaksimal mungkin mheheheh.

Dan terimakasih readerdeul yang udah baca sampe akhir. Author nggak terlalu yakin banyak yang suka FF author ini, tapi jangan bosan nunggu chapter berikutnya ya readerdeul ^o^~

RCL please, saran dan kritik juga sangat dinantikan oleh author demi kemajuan author. Don’t be a silent reader. Say No to plagiarize. Follow author @marmel1315 yaa *promosi* nanti kita bisa mbacon(t) bareng disana ahahhaha. Saranghaeyo readerdeul. *bungkuk bareng Lay*

12 thoughts on “Crimson Love #1

  1. Bru kali ini nemu ff yg cast nya namjachinguku,, kekekek

    Kereeennn eonni,, daebak bak bak bak ,,, hihihihi
    Aku ♍ãů lanjut bca dlu Ɣå媪 eon,, pai pai (っ˘з(˘⌣˘c)

    • kamsahamnida ^^
      siapa nih biasnya chingu? semoga bukan lay deh ya, lay milik author seorang, kkkk *ditendangkedormexom
      oke jangan bosan nunggu ya, tinggal nunggu jadwal publish chapter berikutnya dari admin kok🙂
      jeongmal gomawoyo udah komen😉

  2. waa seruseru aku suka ada adegan actionya hihi tapi kenapa jehwa ganolong lay? ahh ga tau itu kan urusan author hihi lanjutkan ya tambah lagi adegan menegangkannya plus panjangin..

    • wah beneran seru? kamsahamnida ne ^^
      kenapa jehwa ga nolong lay? jehwa itu dasarnya orang penakut dan jawaban selengkapnya ada dichapter dua ya mhihi
      ditunggu aja tanggal publishnya dari admin terhormat, jangan bosan nunggu ne😉
      jeongmal gomapta udah komen ^^/*

    • kamsahamnida udah baca chapter pertama sampe selese ^^
      chapter kedua tinggal nunggu jadwal dari adminnya mau dipublish kapan😀
      jangan bosan nunggunya ya mhihi *peluk
      jeongmal gomawoyo udah komen😉

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s