Tentang Kita

tentang kita LuYoon

Author               : ZALUKHU

Genre                   : Romance, Sad

Rating                  : PG

Length                 : Ficlet

Main Cast           : Luhan “Exo-M”, Yoona “SNSD”

 ||Disclaimer ||

STORY and ART is TOTALLY MINE..!!

NO PLAGIAT! NO BASHING!

TYPO? MIAN ^^

Jika ada persamaan judul, cast ataupun hal lainnya

100% bukan unsure kesengajaan

|| Summary ||

“ Kita punya kisah cinta yang sama seperti yang lain.

 Kita bertemu dengan cara tak terduga.

Mencintai dengan kasih yang sama seperti mereka miliki.

Lalu kenapa kita memiliki akhir yang berbeda?…”

|| read this too || also publish here || here ||

 

= Tentang KITA : Luhan-Yoona =

Luhan diam mematung menatap sosok gadis manis dihadapannya. Untuk sepersekian detik ia cukup terkejut hingga akhirnya kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman saat mata sayu dan sendu gadis itu melengkung membentuk senyuman yang dibalas oleh Luhan tadi.

 

“Deer…~” panggilnya pelan sambil perlahan melangkah mendekati gadis yang tengah berdiri didepan pintu kamarnya. “Sejak kapan kau berdiri disana?” tanya semakin antusias tatkala sang gadis ikut memperpendek jarak mereka.

“Semenjak kau tetap menatap cahaya temaram lampu jalan itu Deer” balas gadis itu kemudian merengkuh tubuh Luhan kedalam pelukannya. Matanya terpejam menyesap bau khas namja itu. Luhan melakukan hal yang sama bahkan sesekali ia menciumi leher kurus gadis didepannya tersebut. “Astaga, Lu! Aku baru meninggalkanmu sehari kenapa kau memperlakukanku seperti seseorang yang sudah pergi bertahun-tahun” kekeh gadis itu menanggapi tingkah sang kekasih. Luhan tak peduli ia justru mempererat pelukannya pada sang gadis. “Lu…”

“Berjanjilah kau tidak akan pergi lagi. Kau tidak tahu betapa gilanya aku saat tahu kau pergi. Sekarang jangan pergi walau pun sedetik” pinta Luhan membuat gadis itu terdiam dengan senyumnya. Tanpa menunggu jawaban sang gadis Luhan mengecup lama bibir mungilnya.

= Tentang KITA : Luhan-Yoona =

Three years ago…

“YA! Neo oddinyageo??!!” teriak Luhan frustasi sembari mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Ia mendengus saat mendengar jawaban dari seberang. “Neo micheoanya? Aku akan mati beku disini bodoh!” pekiknya lagi sambil meniup-niup tangannya hingga menimbulkan kepulan asap lalu kemudian mengapitkan tangan bebasnya tersebut diantara kedua kakinya. “TINGKUNGAN YANG MANA????!!!!! Kenapa kau membuatku repot hah” sambungnya lagi sambil berteriak. Beberapa orang disana sedikit berjengit menatap Luhan. Namja itu tidak peduli dan tetap melakukan aktivitas menghangatkan tubuhnya yang diselingi oleh teriakkan penuh amarah.

“HAISHH!! Kalau bukan karena kau chinguku, kau pasti ku cincang” gerutunya memasukkan dengan cepat ponselnya dan memasang sarung tangan kulit yang tadi sempat ia lepas. Ia sedikit melompat-lompat mencoba mengusir rasa dingin. “AUGH! Kalau kau kaya kenapa tinggal ditempat kumuh ini!!!!!! Menyebalkan!!!”

KLONTANG!

BUG!

“AW!!”

Luhan berjengit dengan mata melebar saat mendengar rintihan keras usai perbuatanya menendang kaleng bekas bir yang ada didepannya dengan tenaga super marahnya. Ia membekap mulutnya sambil berjalan menghampiri sesosok yang tengah berjongkok dengan kantung plastik robek dibelakang si gadis. Gadis itu mendesis keras sambil mengusap pelan kepalanya.

“Aishh!!! Sialan! Orang gila mana yang melempar kaleng sek… HYAA! Belanjaanku!!” pekiknya saat melihat satu-per-satu kentangnya meluncur dari asoy putihnya. “HYAA ODIGAAA!!!” dengan cepat ia berlari mengejar kentang-kentang tersebut. Sambil terus merutuk. Sesekali ia nyaris tersungkur akibat menginjak ujung gaunnya. Belum lagi jalanan yang menurun membuatnya kesusahan. “YA! Mwoasininggeoya!! Palli!!” pekiknya ke arah Luhan. Luhan yang tadi sempat terkekeh langsung diam tidak mengerti dan hanya menatapnya bingung. “YA!! Neo!! Aish..”

“Ya! Ya!”

Luhan langsung saja berjalan tergopoh-gopoh saat gadis itu menarik kerah bajunya hingga jaket kulit hitamnya sedikit melorot membuat kaus putih pendek didalamnya tersingkap. Luhan dan gadis itu langsung saja berlarian mengejar satu per satu kentang yang terus menggelinding menuruni jalanan tersebut. Sesekali mereka mengaduh tatkala kepala mereka saling berbenturan.

“OH NO!!”

Luhan memekik pelan saat melihat benda lain dari kantong plastik yang sama meluncur ke arah mereka saat ini. Gadis itu menoleh dan langsung berteriak membuat Luhan sekali lagi berjengit.

“KYAAA!! PALLI!!”

Dan terjadilah aksi kejar-mengejar sayur antar kedua orang ini. Belum lagi ‘gadis-kentang-berguling’—begitulah Luhan memberinya julukan, mencegat beberapa bocah yang baru saja pulang dari sekolah mereka. Dan akhirnya satu kelompok orang tersebut sukses menjadi tontonan konyol orang-orang disana yang tengah berjalan kaki dari aktifitas mereka. Dan tanpa sadar juga ikut berpartisipasi.

“Hah~~~ akhirnya!” seru mereka bersamaan. Kini mereka terduduk disemen jalan sambil bersandar ditembok pagar rumah-rumah susun disana. Rasa dingin yang tadi sempat mengerayangi langsung hilang akibat kepenatan aksi gila tadi. Gadis itu menyapu helaian rambutnya yang menutup wajahnya sembari tersenyum. Luhan terpaku namun sedetik kemudian mengerut bingung saat gadis itu sudah tertawa keras.

“HAHAHA… tidakkah tadi konyol? Astaga! Aku hampir menyuruh satu komplek hanya untuk mengejar satu kilo kentang dan 3 kaleng sardinese!” dan setelahnya keduanya tertawa dalam keadaan terduduk bak gembel tanpa menghiraukan pandangan orang disekitarnya

= Tentang KITA : Luhan-Yoona =

Two years one months ago…

Siapa sangka setelah insiden ‘kentang berguling’ itu aku semakin tertarik olehnya? Tawanya yang selalu lepas dengan bibir tipis yang melebar justru membuatnya menarik. Ia tak segan-segan membuka mulutnya besar-besar saat melihat jjangjjamyun kesukaannya terhidang dengan asap mengepul didepannya. Gadis itu bahkan tanpa ragu memukul kepalaku saat ia merasa gemas dengan racauan konyolku.

Dan sekarang disinilah aku. Menatap jalanan Seoul di sebuah café minimalis didaerah dekat Apguejong menunggu seseorang. Seseorang yang sejak berbulan-bulan em.. mungkin satu tahun ini menambat hatiku.

“Deer!” pekik seseorang langsung berlari ke arahku. Aku hanya dapat menggaruk tengkukku saat orang-orang di café menatapnya tidak suka. Yah.. gadis itu suka sekali berteriak tanpa melihat situasi. “Lama menunggu?”

“Ya! IM YOONA! Tidak bisakah kau tidak berteriak? Kau tidak lihat orang-orang melihatmu kesal?”

“Oh ya? Lalu sekarang apa bedanya denganmu?” ujarnya sambil memajukan bibirnya ke arah belakangku. Dan saat itu aku langsung memasang sebuah senyum kaku sambil menunduk memohon maaf. “Hahahaha… dasar bodoh! Jadi kenapa kau memintaku kesini? Ah! Kau dapat bonus lagi? Traktir aku lagi?”

PLETAK

“Ya! Appo!”

“Dasar kau ini! Selalu saja maunya gratisan” ia hanya terkekeh dan langsung menyesap bubble tea ku yang hanya ku nikmati sedikit. Aku hanya menggeleng. Inilah kebiasaan gadis itu. Ia akan menyesap bubble teaku tanpa ampun lalu enggan membagi cappucino mintanya saat pesanannya datang. Gadis ini benar-benar rakus. Dan hebatnya perutnya yang over quote itu tidak pernah membuat kadar lemaknya bertambah. HEBAT!

Aku masih terus menatapnya menyesap bubble teaku sambil sesekali menjilati krim putih diatasnya dengan telunjuk lentiknya. Dasar jorok. Tapi manis. Aku terpaku saat secuil krim menempel di pipinya. Aku tertawa membuatnya menatapku tajam.

“Apa?”

“Kau sengaja yah? Aku tahu kau terobsesi dengan drama negaramu yang romantis. Tapi kau tidak perlu memancingku,kan?” ujarku sambil terus terkekeh. Gadis itu mendengus lalu meraih compact powder dari tas kecilnya. Ia sedikit melebarkan matanya lalu terkekeh.

“Ahahaha, aku harap ada Goo Jun Pyo yang mau menjilati pipiku” ujarnya mengulurkan tangannya hendak menyapu krim tersebut. Namun entah keberanian dari mana, dengan cepat aku bangkit dari kursiku, membungkuk hingga wajahku ah bukan tapi bibirku menggapai krim di pipinya. Mataku terpejam tanpa melihat ekspresi yang pasti penuh keterkejutannya. Dengan pelan aku mengecup dan menjilati pipinya meski krim tersebut sudah menghilang beberapa detik yang lalu.

“Lu…”

“Saranghae” ujarku singkat sambil menatapnya. Ia nampak terkejut namun sedetik kemudian tanpa kembali ke posisi awal, aku menggeser letak bibirku menuju bibir mungilnya. Aku tak menghiraukan suara teriakan riuh ataupun suara blitz kamera dari pengunjung lain. Aku hanya membiarkan gadis ini tahu bahwa aku, Xi Luhan mencintainya. “Wo Ai Ni” gumamku lalu kemudian melanjutkan ciumanku.

“Sekarang aku jadi Xi Yoona, kan?” Aku tersenyum begitu juga dengannya. Gadisku semakin tersenyum lalu mulai balas mengecup bibirku.

= Tentang KITA : Luhan-Yoona =

“Mianhae~~ Eo? Eo? Jebbalyo~~” rengek gadis cantik ini didepanku. Tangannya menggenggam kedua tanganku lalu menggoyang-goyangnya layaknya anak kecil yang tengah membujuk ibunya untuk dibelikan boneka. Aku menatapnya datar tanpa bergeming sedikit pun. Memperlihatkan bahwa aku juga bisa marah dan kesal padanya, meski seringkali hal itu gagal. “Deer~~ hari iniiii saja. Aku janji mulai besok aku akan menemanimu”

“Tapi ini sudah kelima kalinya kau menolak Deer! Pernikahan kita itu hanya satu bulan lagi. Sedangkan kita belum melakukan fitting baju dan melihat cincin pesanan kita. Memangnya kau mau pakai baju karung di pesta pernikahan kita?”

Aku semakin mendengus tatkala mendengar gelak tawa keras dari bibir gadis ini. Aku hanya memutar bola mataku kesal karena nyaris saja tergoda untuk ikut tertawa saat melihat mulut lebar khasnya tersebut. Aku menghempaskan tanganku dari genggamannya saat tawanya masih saja berbunyi sambil meledek ekspresi wajahku.

“Itu ide bagus juga. Siapa tahu gaun pernikahan kita menjadi fashion of this year, kan? Lagipula asalkan menikah dengan mu pakai apapun aku suka” ujarnya mencolek daguku. Aku mendengus lalu kemudian ikut tersenyum.

“Sungguh aku ingin mengutuk diriku sendiri yang tidak pernah bisa marah padamu” ujarku akhirnya menyerah. Ia melompat kegirangan lalu sedikit berjinjit mengecup bibirku. Aku mengerjap lalu menatapnya masih dengan tatapan kesal. “Kapan kau berangkat? Berapa lama kau disana?”

“Seminggu lagi dan hanya satu hari. Sekalian pesta perpisahan dengan rekan kantor. Bukankah setelah hari ulang tahunku akan ada kau Tuan Xi yang menafkahiku” ujarnya lalu merangkul lenganku. Aku tersenyum tidak rela. Tapi yah cukup senang karena gadis ini menyetujui permintaanku untuk melepas karirnya.

“Tapi, beneran yah tidak akan ada namja?”

“Ish… kau ini!!”

“Cium!”

“Genit!”

= Tentang KITA : Luhan-Yoona =

Dalam keadaan saling berbarimg, Luhan masih terus menatap wajah gadisnya yang saat ini terpejam menghadap wajahnya. Ia tak menghiraukan lengan yang ia jadikan bantalan untuk kepala gadisnya itu sudah merasa pegal dan kesemutan. Ia justru sedikit bangkit untuk mempernyaman posisi kepala si gadis membuat gadis itu tersenyum. Tangan Luhan yang lain terangkat dan merapikan helaian rambut yang menutupi wajah gadisnya tersebut.

“Kenapa belum tidur?” tanya gadis itu membuka matanya perlahan.

“Tidak bisa. Tidak mau” sambung Luhan kemudian memeluk erat sosok disampingnya. Gadis itu terdiam. Senyumnya terkulum saat merasakan hangatnya pelukan Luhan diselingi tetesan air mata dari wajahnya.

“Deer~ jangan begini. Kau membuat orang lain khawatir”

“Biarkan. Bukankah sebentar lagi kau akan menjadi milikku. Xi Yoona!” ujar Luhan mempertegas nama gadisnya. Ia menciumi puncak kepala gadis itu tanpa tahu wajah sedih yang sudah terpampang dari wajah cantik Yoona-nya. “Aku sudah meminta pihak Wedding Organizer untuk menghanddle semuanya. Aku yakin kau tidak akan kecewa dengan gaun yang akan mereka pilih. Mereka WO terbaik di negaramu. Dan cincin aku s…”

“Lu… jangan begini” lirih gadis itu berusaha melepas pelukan Luhan. Namja itu menolak. Ia memeluk dalam gadis itu. “Luhannie~”

“Ah! Gedungnya juga sudah aku dekor dengan lili kesukaanmu. Ahaha.. dan sesuai keinginanmu aku juga sudah memasang pernak-pernik rusa. Kan kau bilang itu mascot kita. Dan juga aku…”

“Kita sudah berbeda Lu~ kumohon mengertilah”

Dan seketika itu juga Luhan terdiam. Kalimat-kalimat lirih yang tadi ia lontarkan untuk menghindari kalimat tersebut terputus dikerongkongannya. Matanya memanas meski air mata masih tertahan dipelupuk matanya. Secara perlahan pelukannya melonggar membuat sang gadis leluasa bangkit dari posisi tidurnya.

Luhan semakin merasakan sesak tatkala air mata gadis itu ternyata sudah membanjiri wajah proposional Yoona. Ia terdiam begitu Yoona menggenggam tangannya. Dingin! Kemana rasa hangat tadi?

“Kumohon, lepaskan aku Lu~. Aku harus pe..”

“Hajima! Hajima!” pekik Luhan langsung melepas genggaman Yoona. Ia langsung bangkit lalu berdiri ke arah jendela yang tadi terus ia tatap sebelum sosok gadis itu datang mengunjunginya. “Jangan katakan apapun. Tidurlah! Besok pernikahan kita akan berlangsung!”

“Luhan-aa~ kumohon. Jangan seperti ini. Kau seperti ini membuatku kesakitan Lu~”

“…”

“Deer~’

“…”

Gadis itu menghela napas. Ia tertunduk ditepian ranjang yang tadi mereka tiduri. Tangannya menegadah menutupi wajahnya yang semakin bersimbah air mata. Seketika bahunya bergetar dan terisak. Luhan menggigiti bibirnya. Ia juga menangis. Sangat menangis. Tatapannya kosong melihat jalanan malam yang sepi. Tangannya terkepal meremas pinggiran celana dasar hitam yang sudah ia kenakan sejak seminggu. Seminggu yang lalu yang membuat hatinya teriris.

“Hiks hiks Deer~ jeballyo. Biarkan aku pergi sekarang” ujar sosok yang kini memeluknya dari belakang. Luhan memicingkan matanya meloloskan butiran air mata membasahi pipinya. “Kau membuatku tidak bisa pulang Lu. Kau membuatku tertahan”

“Wae? Kau benci karena masih disini? Kau benci karena aku sudah menyumpahi kepergianmu? Kau benci karena a..”

“KAMANHAE!” teriak Yoona serak. Ia menatap tajam mata pria didepannya. Pria yang sudah kacau akibat ulahnya. “Lu~ kumohon. Bangkitlah. Jangan membuatku menjadi merasa bersalah seperti ini. Aku mencintaimu. Aku tidak merasa pernah kau sumpahi. Karena aku tahu, saat itu kita sama-sama saling bergurau Lu”

“Kalau kau tahu aku bergurau, lalu kenapa kau masih tetap pergi?”

“Takdir Lu. Takdir!” pekik Yoona. Luhan mematung. Air matanya meluncur membuat nafas Yoona tercekat. Sungguh ia tidak pernah membayangkan si rusa ceria yang amat ia cintai ini akan menangis karenanya. “Lu…”

“Kenapa begini? Bukankah kau mengatakan hanya akan meninggalkanku sehari~ kenapa Yoong?” Luhan menangis. Persetan dengan ucapan Bob Marley ‘Boys, No Cry!’. Dia bukan menagis dia hanya marah melalui air matanya. Marah dengan takdir yang baru saja diucapkan gadisnya.

“Lu~ kau pikir apa ada alasan aku meninggalkanmu? Alasan apa yang membuatku harus pergi meninggalkan pria sempurna yang mau menangkap kentang bergulingku dan sarden yang meluncur dari kantog belanjaanku? Kau kira ada alasan gila apa yang membuatku hingga meninggalkan namja yang selalu membiarkan aku menyesap bubble tea sisamiliknya? Kau pikir kenapa aku harus meninggalkan pria bernama Xi Luhan yang seharusnya sebentar lagi akan memanggilku ‘Ny. Xi-ku’? Coba sebutkan satu saja Lu? Sebutkan!” raung Yoona memukul-mukul bahu Luhan. Sungguh ia juga marah pada takdir yang memisahkannya.

Luhan berusaha untuk tidak terisak. Ia biarkan rasa hangat dan dingin mejalari pelukannya. Nafasnya tertahan saat dirasakannya tangan Yoona terangkat membalas pelukannya. Air matanya meluncur saat satu per satu kenangannya bersama Yoona muncul.

Ya! Tangkap kentang itu!

Astaga! Hanya karena  sekilo kentang dan 3 kaleng sardinese, aku hampir memanggil warga satu komplek hahahaha

Saranghae

Sekarang aku jadi XI Yoona, kan?

“Pergilah!” akhirnya kalimat itu meluncur. Yoona tersentak masih dalam pelukan Luhan. “Kayyo, Deer~” ujar Luhan melepas pelukan Yoona. Ia tersenyum sarat keterpaksaan saat Yoona menatapnya tak percaya. “Aku melepaskanmu. Pulanglah” ujarnya berusaha seikhlas mungkin. Yoona terdiam. Sedetik kemudian ia tersenyum.

“Berjanjilah kalau kau…”

“Aku akan hidup dengan baik. Aku akan melanjutkan hidupku dan tidak akan menyia-nyiakan hidupku. Jika itu yang ingin kau katakan” potong Luhan seolah tahu jalan pikiran Yoona. Gadis itu bersyukur. Sepertinya ia bisa pergi dengan tenang sekarang. “Tapi.. aku tidak akan berjanji untuk mencari yang lain dan melupakanmu jika itu masuk dalam melanjutkan hidupku yang kau maksud. Tidak akan Yoong~”

“Luhannie…”

“Karena selamanya aku adalah milikmu. Dan kau adalah milikku” ujar Luhan mendekati Yoona. Perlahan wajah mereka mendekat. Yoona yang tahu langsung memejamkan matanya bersama satu butir air mata dipipinya. Luhan tak berusaha menghapus air mata Yoona. Ia biarkan bibirnya menyentuh bibir gadis itu yang diselingi oleh rasa air mata dari keduanya. “Saranghae… Ny. XI”

Dan sedetik kemudiam seberkas cahaya menelusup masuk diantara keduanya. Luhan semakin berdebar. Ia semakin memperdalam ciuman dan pelukannya. Yoona membiarkannya. Karena ia tahu, setelah ini ciuman, pelukan dan kehangatan itu tidak akan ia dapatkan lagi.

“WO AI NI… XI LUHAN”

Dan selamanya Luhan akan tetap mencitai gadis itu, XI YOONA kekasih hidupnya dan Istri hatinya.

= THE END =

One week ago…

“DEERRRRRR!!!” Luhan langsung saja mejauhkan ponselnya saat suara teriakan langsung menyambutnya  begitu panggilan yang ia terima baru saja tersambung. “HOWEE BOGOSHIPPO!!!” rengek suara disana. Luhan terkekeh lalu kemudian berdeham sambil merengut.

“YA!!! IM YOONA!! Sudah ku bilang jangan teriak-teriak! Kau mau supir tersebut tuli dan menabrak trotoar!” ujarnya dengan nada sebal di buat-buat.

“CIH! Dasar Munafik! Bilang saja kau senang karena aku berteriak seperti tadi. Dan Hei! Apa-apaan itu. Kan sudah ku bilang aku ini XI LUHAN, Tuan. Ini sudah berlangsung semenjak 1 tahun 6 bulan dan 3 hari yang lalu!” protesan suara disana akhirnya meloloskan tawa Luhan. “Kau sedang apa? Kenapa baru mengangkat teleponku? Kau selingkuh?”

“Ne aku sedang selingkuh dengan gaun pengantinmu!!” pekik Luhan sambil mencibir ke arah ponselnya meski si gadis tak melihat. “Makanya! Pergi saja kau! Tinggalkan saja aku sendiri! Cih! Mana ada pengantin pria fitting baju sendiri seperti ini!” keluh Luhan sedikit mengangkat tangannya saat sang bridal meminta. Yoona terkekeh lalu kemudian memasang wajah manyunnya.

“Eyh.. kau yakin akan membiarkanku pergi? Hihihi… sudahlah ini kan hanya sehari! Jangan marah dong My baby Deer. Lagipula mana kuat kau ku tinggal sendiri. Bisa-bisa kau menjadi perjaka seumur hidup”

“Cih! Dasar sombong. Siapa bilang aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku b….”

CITTTTTTT

“LUHANNNNN!!!”

CITTTTTTTT

BRAKKK BRUMMMM BAGGGG

CITTTTT

“YOOONGGGG”

~~~

Kalau saja saat itu ia mendengarkan ucapan teman-temannya yang memperingatkannya ketika sebuah mobil melintas tepat saat kepalanya melongok kejendela. Andai saja saat itu rasa antusiasnya yang selalu berlebihan itu untuk menatap langit Busan dapat ia tahan sebentar saja. Andai saja pengemudi sialan itu tidak menyetir dalam keadaan mabuk hingga memaksakan supir mini bus mereka untuk membanting stir. Mungkin takdirnya akan berbeda. Seandainya…

FIN

Sebelumnya terima kasih kepada admin yang berkenan untuk mempublikasikan FF aneh saya ini. Dan terimakasih untuk semau readers yang sudah berkunjung dan menyempatkan diri membaca FF absurd ini. Ini pertama kalinya saya mengirimkan FF disini. So, silahkan berikan preview kalian mengenai tingkat keabsuran saya ^^

 

4 thoughts on “Tentang Kita

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s