Confused #1

Confused

Author            :           Tessa Dwicasaria (@TessaCasa)

Main Cast      :           Jung Soo Jung [Krystal f(x)]

Kim Jong In [Kai EXO-K]

Oh Se Hoon [Sehun EXO-K]

Genre             :           Friendship, Hurt, Thriller

Length            :           Three Shoot

 

 

 

Part 1

 

[Krystal’s POV]

 

 

Waktu sudah menunjukan pukul 6 pagi di kota Seoul. Suara yang ditimbulkan oleh jam waker sukses mengganggu kegiatan tidurku. Aku mematikan jam waker itu lalu kembali menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Rasanya sangat malas sekali kalau harus bangun sepagi ini.

 

 

Perkenalkan, aku Jung Soo Jung tapi sering dipanggil Krystal. Umurku 19 tahun. Saat ini aku duduk di kelas 3 sekolah menengah atas. Tahun ini aku akan segera menghadapi ujian kelulusan dan melanjutkan studiku ke jenjang universitas, menjadi seorang mahasiwi.

 

 

Aku ini termasuk gadis yang sangat sulit untuk bangun pagi, karena menurutku tidur adalah hal yang paling indah dan menyenangkan. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa sesantai dan semalas ini menjelang ujian kelulusan.

 

 

Namun perlu di ingat, kemampuanku dibidang akademik tentu saja tidak seburuk yang kalian pikirkan. Hanya saja ada satu pelajaran yang membuatku frustasi dan angkat tangan yaitu matematika.

 

 

Aku bukan termasuk siswi yang aktif dibidang non-akademik. Alasannya, karena aku malas untuk mengikutinya. Aku pikir itu akan membuat waktuku terbuang sia-sia. Lebih baik kugunakan saja untuk tidur.

 

 

Yaa!! Krystal sedang apa kau sebenarnya, eoh..? Cepat bangun nanti kau kesiangan dan cepat mandi!!” Teriakan dari Jessica eonni itu sukses membuat telingaku sakit. Kenapa bisa suaranya tidak habis-habis? Padahal setiap pagi harus berteriak seperti itu untuk membangunkanku. Aissh..

 

 

Arra.. arra.. Aku akan mandi.” Akhirnya aku terpaksa beranjak dari tempat tidur, mengambil handuk yang tergantung dibelakang pintu kamar lalu segera masuk ke kamar mandi. Kalau tidak, bisa-bisa Jessica eonni akan meneriakiku lagi dengan suaranya yang nyaring sehingga merusak pendengaranku.

 

 

 

 

“Annyeong Krystal.” Ucap seseorang sambil merangkul pundakku.

 

 

Dia adalah Kim Jong In yang biasa dipanggil Kai. Kai salah satu temanku sekaligus sahabat terbaikku. Kami sudah saling mengenal sejak kami duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dia orang yang sangat mudah bergaul dan mampu memahami sifatku ini.

 

 

Rumahku dan rumah Kai itu bersebelahan. Jarak rumah kami ke sekolah bisa dibilang dekat. Kami tak butuh kendaraan seperti mobil atau motor untuk sampai ke sekolah, cukup dengan jalan kaki. Hitung-hitung menghemat biaya dan mengurangi polusi udara, karena saat ini kota Seoul sudah sangat padat dan ramai.

 

 

Annyeong.” Jawabku cuek sambil berusaha melepaskan tangannya di pundakku.

 

Aiiissssh kau ini.. Tidak bisakah kau tersenyum padaku? Sekali saja setelah kita berteman hampir 5 tahun kau tidak pernah menyapaku dengan senyuman. Ayolah, aku akan menteraktirmu ice cream sepulang sekolah jika kau tersenyum. Eotte?”

 

Aku tak memperdulikannya dan terus berjalan karena hampir setiap hari dia menawariku ice cream, sudah tahu aku akan menolaknya tapi tetap saja dia menawariku ice cream. Tidak habis pikir memang, sungguh namja yang tidak kreatif. Tapi aku bersukur, karena dia satu-satunya orang di sekolah yang peduli dan mau berteman denganku sejak kejadian 5 tahun yang lalu.

 

Yaa.. Jawab aku. Atau kau menginginkan sesuatu? Aku akan membelikannya untukmu. Tapi jangan yang terlalu mahal, bisa-bisa aku tidak makan sebulan ini karena harus menteraktirmu.”

 

Aku meliriknya, dia masih saja menampakan wajahnya yang terlihat sangat memohon. Aku tersenyum kecil melihatnya merengek-rengek. Sepertinya aku yang harus meneraktirnya ice cream bukan dia. “Akukan tidak memintamu untuk menteraktirku. Jadi itu bukan urusanku Kai. Aku mau dua porsi hamburger dan dua porsi ice cream.”

 

Jinjja? Dasar rakus kau Krystal.”

 

“Ya sudah kalau tidak mau.”

 

Arra, arra.. Aku akan membelikannya. Nah sekarang tersenyumlah.”

 

Aku berhenti lalu menolehnya, aku tersenyum sangat lebar dan menampilkan deretan gigiku yang rapi namun sangat singkat. Kemudian berlari meninggalkannya.

 

YAA, KENAPA CUMA SEGITU. DASAR LICIK!! TUNGGU JANGAN TINGGALKAN AKU!!” Teriaknya sambil mengejarku. Aku tertawa penuh kemenangan karena berhasil membuatnya kesal. Dasar namja bodoh.

 

 

 

 

Aku dan Kai sudah sampai didepan kelas, kami masuk kedalam dan langsung menuju kursi masing-masing. Dia duduk dikursi  paling belakang samping jendela dan aku duduk didepannya.

 

 

Seperti biasa suasana kelas dipagi hari selalu sama. Ada yang mengerjakaan tugas, bercermin sambil tersenyum-senyum, menyisir, dan bahkan mengeroll rambutnya. Aku menggeleng-gelengkan kepala ck untuk apa mereka berdandan di dalam kelas.

 

 

Aku bukan tipikal gadis yang senang berdandan. Rambutku saja jarang aku sisir, kubiarkan saja terurai. Karena berdandan sebelum ke sekolah membuat waktu tidurku berkurang, jadi lebih baik kupakai untuk tidur. 10 sampai 15 menit itu sudah cukup.

 

 

Tak lama kemudian bel berbunyi pertanda jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Kang songsaenim guru matematika yang paling aku benci akhirnya datang sambil membawa tumpukan kertas ditangannya yang aku yakini itu adalah hasil ulangan matematika yang kami kerjakaan minggu lalu. Aku bergidik melihatnya,  sudah pasti aku akan mendapatkan nilai terkecil lagi di kelasku.

 

 

Tapi tunggu, ada seseorang yang berjalan di belakang songsaenim. Aku merasakan ada hal yang aneh saat melihatnya sambil terus memandanginya. Rambut hitam kecoklatan, tubuh tegap juga tinggi, kulit yang bersih dan seputih susu, pipi yang tirus, dan wajahnya yang hmm tampan.

 

 

“Selamat pagi anak-anak.”

 

“Selamat pagi songsaenim.” Jawab seluruh murid.

 

“Sebelum kelas dimulai saya ingin memberitahu, kita kedatangan murid baru pindahan dari China. Silahkan perkenalkan dirimu.” Perintah Kang songsaenim pada anak yang sedari tadi membuntutinya.

 

Annyeonghaseyo, jeoneun Oh Se Hoon imnida. Panggil saja aku Sehun. Aku murid pindahan dari China, senang berkenalan. Aku harap kalian bisa menerimaku.” Ucap namja yang yang baru diketahui namanya Sehun.

 

Ne, annyeong Sehun-ssi..” Jawab seluruh murid di kelas lagi.

 

“Wah, kau fasih sekali berbahasa Korea.” Ucap Kang songsaenim.

 

“Ah iya, saya sebenarnya lahir di Korea, tetapi saat duduk di bangku sekolah dasar ayah saya dipindahkan kerjanya ke China, akhirnya saya harus ikut pindah. Dan baru sekarang saya pindah ke Korea lagi karena ayah saya ingin saya lulus di Korea.”

 

“Baiklah kalau begitu, silahkan Oh Se Hoon kau bisa duduk disamping bangku Kim Jong In.” Perintah Kang songsaenim. ”Sekarang pelajaran dimulai, silahkan kumpulkan tugas yang saya berikan minggu lalu.”

 

Ne, kamsahamnida songsaenim..

 

 

 

 

Sedari tadi saat Kim songsaenim menjelaskan materi tentang ‘limit fungsi’. Tentu saja aku tidak mengerti binatang apa itu ‘limit fungsi’. Aku terus melirik kearah namja itu, Sehun. Aku merasa sangat familiar dengan dia. Tapi aku benar-benar lupa. Sehun, sekolah dasar, pindah.

 

 MWO!!” Teriakku spontan. Dan sukses membuat semua orang yang berada di kelas melihatku bingung, termasuk Kang songsaenim.

 

”Ada apa Jung Soo Jung? Apa kau sudah berhasil menjawab pertanyaan di papan tulis? Sekarang kau coba kerjakan didepan.”

 

Aish.” Desisku. “Akan kucoba songsaenim.

 

Aku terpaksa maju kedepan sambil merutuki kebodohan yang sudah aku perbuat. Tentu saja aku belum mengerjakan soal dipapan tulis itu dan sekarang harus mengerjakannya sendiri didepan kelas. Aku menoleh ke arah Kai, dia tersenyum melihatku sambil mengangkat kepalan tangannya seolah berkata semangat Krystal. Aku memutar bola mata lemas sambil berjalan kedepan.

 

 

 

 

[Author’s POV]

 

 

Bel istirahat sudah berbunyi. Kang songsaenim keluar kelas diikuti oleh para murid yang lainnya. Tentu saja semua murid mempunyai tempat tujuan yang sama, kantin. Krystal kembali ke tempat duduknya setelah hampir satu jam lebih dihukum berdiri dengan satu kaki karena tidak bisa mengerjakan soal dipapan tulis.

 

 

Krystal melihat Kai sahabatnya yang sedang asik mengobrol dengan murid yang baru saja pindah ke sekolah mereka, Sehun. Krystal kembali menuju bangkunya untuk beristirahat sejenak melemaskankan otot-otot kakinya yang sudah mulai keram.

 

 

Gadis itu berdecak kecil karena Kai tidak kunjung menghampirinya yang sedang dalam mood tidak baik, malah terus asik mengobrol dengan Sehun. Akhirnya Krystal beranjak dari tempat duduk untuk keluar dari kelas. Tapi sebuah suara membuatnya berhenti sebentar lalu menoleh kearah sumber suara.

 

 

”Hey, kau mau kemana Krystal? Kau tidak mau berkenalan dengan Sehun? Dia orang yang sangat menyenangkan.” Ucap Kai yang baru melihat Krystal tiba-tiba keluar kelas.

 

Krystal tidak menggubrisnya hanya melirik sebentar lalu memutar bola mata dan menghentakan kaki kesal sambil melanjutkan langkahnya.

 

Aish. Kebiasaan anak itu. Sehun kau jangan diambil hati ya. Krystal orangnya memang begitu tapi sebenarnya dia itu anak yang baik tetapi dia sangat sensitif. Perilakunya sangat sulit ditebak. Tapi entahlah kenapa dia seperti itu, sejak lulus sekolah dasar 5 tahun yang lalu kata eomma-nya, dia sudah menjadi gadis yang seperti itu padahal dulu katanya dia sangat ceria dan mudah bergaul.” Ucap Kai lagi takut Sehun merasa tersinggung akibat ulah sahabatnya itu.

 

“Ah gwaenchana Kai.

 

 

Krystal, sekolah dasar, apa benar dia orangnya?

 

 

 

 

Seorang gadis cantik sedang duduk menyendiri, tepatnya dibangku taman belakang sekolahnya yang berada dibawah pohon tua besar tetapi masih terlihat indah. Rambutnya yang sedikit bergelombang, tertiup angin membiarkan udara sejuk itu melewati permukaan kulitnya. Taman itu bisa dibilang sangat sepi. Jarang ada orang yang datang ke taman itu, apalagi disaat jam istirahat seperti sekarang ini. Para murid lebih memilih untuk berada di kantin dan mengisi perut mereka

 

“Sehun, apa kau masih mengingatku?” Ucap gadis itu sangat lirih, hampir tidak terdengar karena beradu dengan suara gesekan daun yang tertiup angin.

 

 

Pikirannya terus saja di bayang-bayangi oleh seseorang. Membuka kembali memori mengenai kejadian masa lalu yang pernah dialaminya. Mengingat keindahan mahkluk ciptaan Tuhan yang sangat sempurna itu.

 

 

”Kau sekarang sudah tumbuh menjadi namja yang sangat tampan.”

 

 

Tidak lama kemudian ada seseorang menepuk bahunya yang sukses membuat gadis itu sadar dari lamunannya. Gadis itu menoleh untuk mencari tahu siapa yang menepuknya.

 

 

“Hey,  ada apa? Kau kan sudah berjanji untuk tersenyum hari ini.” Ucap seseorang yang baru saja datang kemudian duduk disamping gadis itu.

 

“Siapa yang berjanji? Aku tidak pernah berjanji untuk tersenyum hari ini. Cukup tadi pagi saja karena kau yang memaksa.”

 

”Kau ini.. Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan, eoh? Soal matematika tadi? Tidak usah khawatir, aku akan meminta tolong hyung-ku agar dia mau mengajari kita matematika seperti biasanya, eotte?”

 

Gadis itu menggeleng pelan lalu menoleh kearah lain sehingga namja yang datang tadi tidak bisa melihat raut wajah sedihnya.

 

“Hey hey, kenapa kau jadi semakin sedih begini?” Ucap orang itu sambil membalikan badannya agar berhadapan dengan gadis itu. Bagaimanapun juga dia sudah tahu suasana hati gadis ini sekarang sedang tidak baik walaupun dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.

 

“Kai…”

 

“Kalau kau masih belum bisa menceritakannya padaku tidak apa-apa. Sekarang kau makan dulu.” Orang yang ternyata bernama Kai itu menyodorkan sebuah kotak bekal. “Kau tadi pagi tidak sarapan kan? Sekarang makanlah, nanti kau sakit.”

 

Ck.. Kau ini sudah mau ujian kelulusan tapi masih membawa kotak bekal.”

 

“ Dasar tidak tahu terima kasih. Aku membawakan ini untukmu. Aku sudah sarapan tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah.”

 

Jinjja? Nan jeongmal gomawoyo.. Aku jadi bisa menyimpan uang jajanku kalau begitu.” Gadis itu mengambil kotak bekal itu lalu membukanya sambil tersenyum.

 

“Benarkan jika kau tersenyum kau akan terlihat lebih cantik Krystal.”

 

Eh? Ya aku ini memang cantik. Semua orang tahu itu..” Ucapnya percaya diri. “Tapi ini tidak gratis, kau harus tetap menteraktirku hamburger dan ice cream. Kau sudah janji hari ini.” Krystal menjulurkan lidahnya.

 

Arra, arra.. Dasar gadis rakus. Sudah sekarang cepat makan sebentar lagi kita harus segera masuk ke kelas.”

 

Gomawo Kai.” Ucap Krystal sambil memakan bekal yang tadi diberikan Kai dengan lahap.

 

Kai tersenyum melihat tingkah laku Krystal yang sudah kembali kesemula. “Ne, Selamat makan.”

 

 

Terima kasih Tuhan.

 

Engkau sudah memberikanku sahabat yang sangat baik..

 

Apapun yang dia perbuat selalu bisa merubah hatiku kembali normal.

 

Tolong jaga hati dia.

 

Jangan sampai ada yang membuat hatinya terluka.

 

 

Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat semua kegiatan mereka. Dia bersembunyi di balik tembok pembatas sekolah dengan taman itu.

 

”Krystal apa benar itu kau? Mianhae.” Ucap orang itu dibalik tempat persembunyiannya.

 

 

 

 

Bel pelajaran terakhir pun berbunyi, setelah memberi salam pada Lee songsaenim para murid langsung berhamburan keluar untuk menuju rumah masing-masing. Bel pulang adalah sesuatu yang sudah ditunggu-tunggu oleh seluruh murid tidak terkecuali Krystal. Krystal sudah selesai memasukan buku pelajarannya kedalam tas miliknya, Kai dan Sehun masih memasukan buku mereka sambil tertawa terbahak-bahak seakan ada hal lucu yang sedang mereka bicarakan.

 

 

 

[Krystal’s POV]

 

 

Aku melihat mereka sedang tertawa terbahak-bahak, Kai meninju lengan Sehun dan sebaliknya Sehun membalasnya. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan dan aku tidak peduli dengan hal itu paling hanya obrolan anak lelaki seperti biasanya. Aku berjalan menghampiri Kai.

 

 

“Kai kajja perutku sudah lapar.” Ucapku sedikit memelas. Membuat Kai menoleh kearahku. Dan ternyata bukan hanya Kai yang melihat kearahku, Sehun juga melihat kearahku. Kenapa aku bisa lupa kalau ada Sehun disana, aish. Tatapan kami pun bertemu.

 

 

DEG

 

 

Arra dasar rakus. Tapi sebelumnya kau harus berkenalan dulu dengan Sehun. Sehun ini sahabat terbaiku yang cantik namanya Krystal. Dan Krystal ini Sehun dia orangnya asik juga, aku saja bisa langsung akrab dengannya, kau juga pasti akan mudah akrab dengannya.”

 

“Sehun imnida.. Senang berkenalan.. Semoga aku bisa jadi sahabatmu juga seperti kau dan Kai.” Ucapnya sambil tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya.

 

”K..K..Krystal imnida.” Jawabku gugup sambil menjabat tangannya. Aku menoleh kearah Kai, “Kai kajja aku sudah benar-benar lapar.”

 

Geurrae, sampai jumpa Sehun. Obrolan yang tadi kita lanjutkan lagi besok dan hati-hati di jalan ya.” Ucap Kai sambil berjalan cepat mengikuti aku yang sudah berjalan terlebih dahulu.

 

Ne, annyeong.

 

 

 

 

Aku bersama Kai sudah tiba disebuah café yang tidak cukup besar. Aku memesan dua porsi hamburger dan dua cup ice cream. Tentu saja aku tidak memakannya sendirian, satu porsi untuk aku dan satunya lagi untuk Kai. Tentu saja aku tidak tega melihat dia kelaparan karena dia kehabisan uang untuk menteraktirku hari ini, mau bagaimanapun dia sudah benar-benar baik terhadapku dan terlebih dia sudah membuat hatiku tenang hari ini saat kejadian di taman tadi.

 

 

Setelah selesai makan, kamipun keluar dari café itu dan kembali berjalan untuk pulang. Dalam perjalanan pulang tidak ada seorangpun diantara kita yang memulai pembicaraan seakan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tidak terasa hari semakin larut dan  semakin gelap. Kamipun sudah sampai didepan rumahku.

 

 

“Kita sudah sampai. Kau cepat masuk, lalu mandi. Jangan lupa kerjakan tugas sejarah untuk besok dan jangan tidur terlalu malam.”

 

Ne, terima kasih untuk hari ini. Hmm, Kai apa kau baik-baik saja?” Tanyaku sedikit ragu karena sedari tadi baru sekarang kami mulai berbicara lagi.

 

“Aku baik-baik saja. Sama-sama krystal. Aku pulang dulu ya.” Ucapnya sambil tersenyum kecil lalu pergi meninggalkanku yang masih berdiri didepan pagar rumahku. Melihatnya masuk kedalam rumah lalu terdengar suara pintu tertutup.

 

 

Akupun masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamarku yang terletak dilantai dua. Aku menggantungkan tasku pada senderan kursi meja belajar lalu merebahkan tubuhku yang sangat lelah ke kasur sambil menatap langit-langit kamarku intens. Membayangkan kejadian hari ini sambil tersenyum ringan. Memikirkan seseorang yang sudah sekian lama aku tunggu akhirnya datang juga. Tapi kenapa disaat aku telah menceritakan kebahagiaanku ini, Kai malah terlihat lesu.

 

 

Aku mengeringkan rambutku dengan handuk sambil duduk dikursi meja belajar dan mengeluarkan buku tugas sejarahku. Aku membaca soal satu demi satu. Berpikir sejenak sambil mengetuk-ngetukan bolpoinku ke meja. Pikiranku tidak bisa tenang. Memikirkan sifat Kai yang tiba-tiba berubah.

 

 

 

 

“Ah kenyang sekali aku hari ini.. Gomawo Kai..” Ucapku sambil tersenyum manis.

 

“Iya benar. Aku kira kau akan memakannya sendirian, dua porsi hamburger ukuran besar dan dua cup ice cream. Ternyata kau malah memberikannya padaku.”

 

“Yaa, aku tidak serakus yang kau pikirkan. Lihat tubuhku yang ramping ini, apa kau dapat menyimpulkan bahwa aku rakus eoh?”

 

“Siapa tahu ada mahkluk seperti naga yang bersarang dalam perutmu, jadi walau kau makan banyak tidak akan membuatmu gendut.”

 

Aku tertawa puas mendengar apa yang dia ucapkan “ada mahkluk seperti naga yang bersarang diperutku” aish.. Dimana otak dia, mana ada seekor naga bersarang diperutku, yang ada aku yang bersarang diperut naga itu karena naga itu sudah berhasil menelanku hidup-hidup. “Yaa, mana ada hal seperti itu. Jangan berkhayal terlalu tinggi Kai, nanti kau bisa-bisa terjatuh”

 

”Hahaha, aku senang melihatmu tertawa lepas seperti ini. Benar, kau jadi semakin cantik.”

 

“Ck, dasar perayu. Aku sudah tidak mempan dengan rayuan seperti itu, diriku sudah kebal kalau kau yang melakukannya.” Aku tertawa lagi mendengarnya. Aku bersukur pada Tuhan karena sudah memberikanku teman, ah bukan tapi sahabat yang bisa mengerti aku disaat aku butuh teman dia selalu datang dan menyemangatiku. Mungkin karena kita sama-sama ditinggal orang tua kita berpergian ke luar negeri untuk mengurusi pekerjaan. Kami tinggal di Seoul hanya bersama kakak kita. Aku bersama Jessica eonni dan Kai bersama Chanyeol oppa. Sekali lagi aku bersukur. Tiba-tiba aku teringat sesuatu hari ini.

 

“Tapi ucapanku barusan benar. Aku tidak berbohong.”

 

“Kai..”

 

“Ne?”

 

“Bisa aku menceritakan sesuatu padamu?Aku tidak tahu harus bercerita pada siapa lagi, karena cuma kau temanku satu-satunya.”

 

“Tentang apa? Silahkan aku akan mendengarkannya kau tidak perlu sungkan. Aku juga ada yang ingin aku sampaikan Krystal. Tapi kau saja dulu.” Ucap Kai sambil tersenyum manis menatapku.

 

“Hmmm ini tentang Sehun…”

 

 

DEG

 

 

“Jadi…”

 

Aku menceritakan semuanya tentang Sehun. Aku menceritakan bahwa dulu aku dan Sehun adalah teman sekelas saat kami duduk di bangku sekolah dasar. Kami begitu dekat. Kami sudah menjadi sahabat baik. Bahkan orang tua kami pun sudah saling mengenal. Aku dan Sehun selalu bermain bersama, bertukar bekal, belajar bersama, bahkan dulu kami saling menunggu apabila salah satu diantara kami ada yang pulang telat untuk mengikuti kegiatan ekstrakuliluler di sekolah walau rumah kami berbeda arah. Semua hal kami lakukan bersama.

 

Sehun itu sangat pintar dalam pelajaran matematika. Dia selalu mendapatkan nilai terbaik di kelasnya. Aku begitu terkagum-kagum dengan kemampuannya dalam mengerjakan soal matematika.

 

 

Aku sering diajarkan rumus-rumus matematika yang menurutku tidak masuk akal. Saat itu kami duduk dikelas 6. Kami akan melaksanakan ujian kelulusan untuk naik ke bangku sekolah menengah pertama. Nilai-nilai matematika aku pun lambat laun meningkat, walau sangat sulit mengejar nilai Sehun yang notabane-nya ‘master of mathematics’. Tapi karena itu aku jadi suka dengan pelajaran matematika.

 

 

Dengan berjalannya waktu, ada perasaan sesuatu yang entah apa namanya itu karena aku masih kecil saat itu. Aku tidak ingin kehilangan Sehun dan ingin terus bersamanya. Sampai suatu hari dimana tiba-tiba aku berani mengungkapkannya secara langsung pada Sehun saat kami sedang belajar bersama karena besok ujian terakhir, matematika. Dia terlihat kaget. Dia tidak langsung menjawabnya. Keadaan menjadi sangat canggung saat itu.

 

 

Kesokan harinya setelah ujian selesai, Sehun langsung pulang karena di jemput oleh orang tuanya. Dia tidak pernah datang lagi ke sekolah. Kata songsaenim Sehun melanjutkan sekolahnya diluar negeri.

 

 

Kami pun tidak pernah berkomunikasi lagi. Benar-benar hilang kontak. Aku tidak sempat meminta nomor atau alamat e-mail yang bisa aku hubungi.

 

 

Hal itu lah yang membuat aku merubah seluruh sifatku. Yang semula aku ini anak yang periang, mudah bergaul, dan aktif bersama teman-teman, bisa berubah menjadi gadis dingin yang sangat super cuek.

 

 

Aku sudah tidak peduli lagi dengan hal-hal disekitar. Untuk apa aku melakukan semua itu sedangkan keinginanku saja tidak terpenuhi. Aku menutup hatiku rapat-rapat. Selama ini aku masih menunggunya, menanti jawabannya yang belum sempat dia jawab sebelum pindah keluar negeri. Aku tidak tahu apakah isi hatinya sama denganku saat itu.

 

 

“Apakah benar? Sepasang sahabat tidak bisa menjadi sepasang kekasih?Apakah itu merupakan hal yang mustahil?”

 

”Mungkin saja bisa. Tapi.. sepertinya tidak dengan aku.”

 

Kulihat Kai, dia masih diam memasang ekspresi wajah yang sulit diartikan.

 

“Krystal, aku sedang tidak enak badan. Bisakah kita pulang sekarang?”

 

“Bukannya kau ada yang ingin dibicarakan denganku?”

 

“Nanti saja, aku hanya ingin pulang.”

 

Jadi tidak enak hati, aku mengangguk menyetujuinya. “Ne.”

 

 

 

 

[Author’s POV]

 

 

Pagi hari selalu seperti biasanya. Krystal terbangun karena bunyi jam waker miliknya dan ditambah teriakan Jessica eonni. Setelah Krystal selesai mengikat sepatunya, dia langsung berjalan cepat keluar rumah.

 

 

Setelah menutup pintu pagar Krystal menoleh kearah rumah Kai. Kai yang biasanya selalu menyapa Krystal disetiap pagi, tidak ada. Kemana dia?. Kemudian melangkahkan kakinya kembali menuju sekolah. ”Mungkin dia sudah berangkat duluan.”

 

 

Krystal sampai di kelas kemudian duduk dibangkunya. Meja dibelakangnya masih kosong, gadis itu menautkan alisnya. Tak lama sebuah suara membuatnya menoleh kearah pintu kelas.

 

 

“Selamat pagi Krystal.” Sapa orang tersebut sambil jalan menuju tempat duduknya.

 

“Selamat pagi juga Se..Sehun-ssi.” Jawab Krystal sedikit gugup. “Apa kau tahu dimana Kai?”

 

Orang tadi yang bernama Sehun itu tertawa, “Kau ini ada-ada saja Krystal. Kau kan tahu aku baru saja datang. Tumben kau tidak bersamanya?”

 

“Aku juga tidak tahu.” Ucap Krystal sambil tersenyum canggung dan menggaruk ujung kepalanya. “Lupakan saja Sehun-ssi.”

 

“Tidak usah terlalu formal seperti itu Krystal. Panggil Sehun saja. Kita kan sudah lama kenal.”

 

“K..Kau masih ingat denganku?” Krystal membekap mulutnya. Tidak disangka ternyata Sehun masih mengingatnya.

 

“Tentu saja. Mana mungkin aku melupakan sahabat lamaku ini.”

 

“Bisa saja kau lupa. Habis kau tiba-tiba menghilang begitu saja.”

 

Mianhae, aku tidak memberi tahu kepadamu waktu itu.”

 

Chonmaneyo. Yang penting kau sudah kembali lagi ke Seoul, itu sudah membuat aku senang.”

 

“Terima kasih kau tidak marah kepadaku.”

 

Keadaan menjadi tidak canggung seperti sebelumnya. Ada perasaan senang diantara kedua orang itu.

 

 

 

 

Hubungan Krystal dan Sehun menjadi lebih dekat. Krystal tidak pernah menghabiskan jam istirahatnya untuk pergi ke kantin, sekarang dia berada di kantin sambil terus mengbrol dengan Sehun.

 

 

Sehun yang kemarin mendengar percakapan Krystal bersama Kai di taman belakang sekolah, mengetahui kebiasaan Krystal yang tidak pernah sarapan. Akhirnya Sehun mengajak Krystal makan di kantin.

 

 

Sehun sudah berhasil membuat senyuman Krystal kembali muncul. Sifat Krystal yang dulu bisa kembali secepat ini setelah Krystal kembali bertemu dengan Sehun. Krystal sangat senang sekali dengan kembalinya Sehun. Krystal benar-benar rindu dimana saat mereka selalu bersama dulu.

 

 

Tidak banyak juga teman-teman sekelasnya menatap dengan tatapan aneh. Krystal yang biasanya selalu diam dan tidak banyak bicara, sekarang berubah drastis.

 

 

Kebahagiaan Krystal sudah tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata lagi, sungguh sangat bahagia gadis itu hari ini.

 

 

Tidak terasa bel pulang sekolah sudah berbunyi dan seketika ruangan kelas kosong. Krystal dan Sehun yang masih merapikan buku pelajarannya. Pelajaran terakhir tadi merupakan pelajaran yang diberikan oleh Kang songsaenim, matematika. Mereka baru saja diberi tugas kelompok yang harus dikumpulkan hari itu juga. Tentu saja Krystal berkelompok dengan Sehun.

 

 

“Sehun, ternyata kau masih mahir mengerjakan soal matematika. Tidak salah memang, julukan ‘master of mathematics’ sampai sekarang masih melekat dalam dirimu. Untung saja ada kau, kalau tidak hari ini aku akan terkena hukuman dari Kang songsaenim lagi. Gomawoyo.” Ucap Krystal sambil merapikan buku pelajaran dan memasukannya kedalam tas.

 

Chonmaneyo. Hmm.. Krystal, kau pulang dengan siapa hari ini?”

 

“Biasanya aku pulang bersama Kai, karena dia tidak masuk hari ini aku pulang sendiri. Waeyo Sehunnie?”

 

“Apa kau mau aku antar pulang?” Ucap Sehun ragu-ragu.

 

“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Lagian rumahku dengan rumahmu itu berlawanan arah, iya berlawanan arah. Jadi aku lebih baik pulang sendiri saja Sehunnie.” Krystal tiba-tiba saja menjadi gugup menerima tawaran dari Sehun. Mungkin karena nada bicara Sehun yang tiba-tiba berubah.

 

Krystal beranjak dari tempat duduknya lalu memakai tas ranselnya.“Aku pulang dulu Seh_” Ucapan Krystal terpotong setelah ada seseorang yang menggenggam pergelangan tangannya.

 

“Aku akan mengantarmu pulang.”

 

“Baiklah kalo itu tidak merepotkanmu.” Krystal menundukan wajahnya sambil melangkah karena Sehun sudah menariknya keluar kelas, malu karena wajahnya kembali memerah akibat perlakuan Sehun. Ada rasa senang seperti menggelitik perutnya. Gadis itu mengukir senyuman di  balik wajahny. Tentu saja Sehun tidak dapat melihatnya.

 

 

Langkah Krystal ikut berhenti ketika Sehun menghentikan langkahnya. Krystal mendongak melihat ke sekeliling. Tempat parkir kendaraan siswa. Krystal baru menyadarinya kalau dia tidak langsung ke gerbang sekolahnya karena sedari tadi dia hanya menunduk.

 

 

“Kau bawa jaket?”

 

 

Krystal menggelengkan kepalanya.

 

 

Sehun menjatuhkan tas ranselnya, melepaskan jaket yang dia pakai kemudian memasangkannya pada Krystal. Krystal membulatkan matanya. Dia tidak menyangka dengan perlakuan Sehun yang terkesan tiba-tiba ini. Krystal hanya bisa diam menerima perlakuan Sehun sambil melihatnya.

 

 

Sehun kembali memasang ranselnya lalu menyalakan motor sambil memakai helm. Sehun menoleh kearah Krystal yang masih mematung.

 

 

Gwaenchanayo?” Ucap Sehun sambil memegang bahu Krystal.

 

 

Krystal menoleh kearah Sehun. “Kenapa kau melepaskan jaketmu? Nanti kau bisa sakit. Udara sudah mulai dingin karena sudah sore.”

 

“Tidak apa Krystal, kau saja yang memakainya. Aku sudah biasa seperti ini. Jangan sampai kau yang malah sakit.”

 

Gomawo..”

 

 

Apa ini mimpi?

 

Jika iya, tolong siapapun jangan bangunkan aku dari mimpi indah ini.

 

Aku sangat berterima kasih karena telah diberikan mimpi seindah ini.

 

Terimakasih Tuhan.

 

Aku sangat bersukur.

 

 

 

Krystal langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Kedua ujung bibirnya tertarik ke atas mengukir senyuman manis. Mengingat kembali kejadian hari ini yang begitu menyenangkan menurutnya. Perasaan yang pernah dia rasakan dulu kembali muncul. Perasaan dimana dia ingin selalu bersamanya, melakukan semua bersama, dan tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya.

 

 

Saat itu jam menunjukan pukul 8 malam. Gadis itu bangkit dari tempat tidur untuk membersihkan tubuh karena dia sudah merasa gerah. Di dalam kamar mandi gadis itu melihat pantulan dirinya didepan cermin. Seketika ada sesuatu yang menarik perhatian gadis itu.

 

 

Jaket Sehun yang tadi digunakan saat pulang bersama masih dia pakai. Krystal lupa mengembalikannya. Setelah melepaskan jaket Sehun, Krystal memeluk jaket itu sambil mencium aroma khas Sehun yang menurutnya masih sama saat terakhir bertemu.

 

 

Krystal sedang berdiri di balkon kamarnya. Memandang langit malam yang terlihat seperti biasanya. Tapi entah kenapa seperti ada yang menarik menurutnya. Gadis itu menurunkan wajahnya dan menghadap rumah yang berada di seberang kamarnya. Rumah Kai.

 

“Ada dimana kau sekarang ini Kai?” Ucap gadis itu lirih..

 

 

[Krystal’s POV]

 

 

Melihat rumah yang berada di seberang kamarku, tiba-tiba saja aku mengingatnya. Aku benar-benar melupakan Kai hari ini. Dia tidak memberi kabar sedikitpun.

 

Aku masuk kedalam kamarnya mengambil sebuah benda berbentuk persegi pipih berwarna putih kemudian duduk di tepi kasur. Aku mengotak-atik benda yang kupegang itu untuk mencari sebuah nomor Kai.

 

 

Aku mencoba menghubungi nomor Kai, tapi hanya suara operator yang mengatakan bahwa “nomor yang di hubungi tidak dapat dihubungi”. Aku sudah mencobanya berkali-kali tapi tetap saja hasilnya nihil.

 

 

Aku bingung karena Kai seharian ini tidak memberi kabar dan tiba-tiba saja tidak masuk sekolah. Aku menyesal kenapa tadi sepulang sekolah aku tidak jadi berkunjung ke rumah Kai.

 

 

“Apa dia benar-benar sakit?” Aku menjadi merasa bersalah mengingat kejadian kemarin saat kami makan bersama. Dia mengatakan kalau dia sedang tidak enak badan. Aku ini sahabatnya. Sungguh keterlaluan kalau aku tidak menjenguknya. Aku akan menjenguknya besok sepulang sekolah.

 

 

Drrtt~

 

Drrtt~

 

Drrtt~

 

 

Aku melihat layar ponselku. Aku bingung melihat nomor yang tertera di layar ponsel tidak aku ketahui. Ponsel itu terus bergetar. Aku takut untuk mengangkatnya, melihat sekarang sudah pukul 9 malam. Tapi aku juga bingung siapa tahu dia ingin memberitahu sesuatu yang penting. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengangkat panggilan masuk itu, lalu menggeser icon berwarna hijau pada ponselku.

 

 

Yeobosseo?”

 

 

 

TBC

(To Be Continue)

 

 

 

Author Note   :           Hallo hallo, perkenalkan Tessa imnida. Gimana fanfict-nya? Gaje ya? Huhu.. Ini karya pertama aku, yang pasti ceritanya masih abal. Mian kalo semisal kurang kena feel-nya, gak kebayang ceritanya, dan apapun kejelekan dalam fanfict ini mohon maaf. Kalau semisal ada masukan, silahkan curahkan dalam kolom komentar haha. Aku harap, walau ini fanfict jelek, kalian tetep komen ya.. kasih masukan juga boleh tentang penulisan yang semisal masih kurang dimengerti. Ini part 1 sekaligus teaser sih. Jadi aku mau liat respon readernya hehe..

Gomawo yang udah baca dan udah mau komen. Part 2 sedang proses, tapi gak tau kapan jadinya, di tunggu aja yaa 😉

 

25 thoughts on “Confused #1

  1. mianhamnida kalau postnya untuk part-2 lama.. mudah-mudahan kalian masih setia nunggu ya.. atau, kalau mau. silahkan klik uname aku (tessadwicasaria), dan langsung menuju wp pribadi aku. disana sudah tamat. dan tetep ya, di tunggu komennya ^^

    • Penasaran kah akhirnya Krystal sama siapa? Hihi.. Di tunggu ya chingu yg baik hati 😀
      Aku juga KaiStal shipper tapi sekaligus HunStal shipper nih hahaha..
      Gomawo udah baca dan ninggalin komen 🙂

  2. sesuai judul.. aku juga bingung! ending, dukung siapa yah? Kai or Sehun? U,U
    rada ngarep Kaistal.. tp jungie cuma anggep dia sahabat,, kalo dukung Hunstal.. Kai gimana???? O.O omonaa! really confused -_-
    terserah author deh.. asal happy end 😄

    • Hihi.. Makasih ya udh baca + komen 😀
      Sama loh, aku juga pas bikin endingnya bingung mau bikin gmn *curcol* tapi mudah-mudahan pada suka ya..

      Aku udah kirim ke adminnya sampe beres, tinggal nunggu di publish. #tunjukOjin hahaha 🙂

  3. Bagus thorr~
    Feelnya dapet kok…
    Jangan bilang kai pindah keluar negri deh-_-
    Sehun pasti php sama krystal(?)
    Lanjut thorr~…!

    • Sukur deh kalo feel nya dapet 🙂 part-2 lebih galau-galauan(?) Lagi ntar haha..

      Di tunggu aja ya 😀

      Makasih udah baca dan komen 😀

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s