Diposkan pada Baek Hyun, Chapter, EXO Planet, EXO-K, EXO-M, Fanfiction, Fantasy, Freelance, Genre, Lay, Romance, Series

Crimson Love #2

crimson-love-poster

Crimson Love – Chapter 2

Title : Crimson Love

Author : Han In Joo (Last Rebellion)

Main Cast :

– Zhang Yi Xing a.k.a Lay (EXO-M),

– Kang Je Hwa a.k.a Jehwa (OC),

– Byun Baek Hyun a.k.a Baekhyun (EXO-K)

Support Cast :

– Kang (Kim) Joon Myun a.k.a Suho (EXO-K)

– Han Yeo Rin a.k.a Yeorin (OC)

– Wu Fan a.k.a Kris (EXO-M)

Length : Chapter

Genre : Romance, Action, Horror, Tragedy, Fantasy

Rating : PG-17

Summary : Jiwa ini memang kehilangan raganya, tapi cinta ini tahu dimana tempat perhentian sesungguhnya. Ketika akhir telah datang, semua akan terbayar sebagaimana mestinya.

Disclaimer : Semua cast punya Tuhan, keluarga, agensi mereka masing-masing, author cuma pinjem nama mereka demi kelancaran imajinasi author dan readerdeul ahahaha~ Kim Joon Myun nya ganti marga sebentar ya ohohoh. Oya itu PG-17 bukan karena yadong ya, tapi karena bakal ada kekerasan secara fisik dan perkataan yang lumayan banyak, sebenernya yadong nya ada sih sedikit *nyengirkuda *plak! Bloody scene-nya juga ada sedikit, cuma dikit kok.

P.S : Hello readerdeul, author balik lagi nih bawa chapter ke-2, makasih buat yang udah nungguin ya mhihi~ seperti biasa mau ngasih tau lagi kalo FF ini udah pernah dipublish di wp pribadi author, berkunjung ke lastrebellion.wordpress.com kalo berkenan. Don’t forget to RCL.

Happy Reading^^ *scroll down juseyo*

 

Author’s POV

“Hallo..Baekhyun-ah kau dimana?Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku” Lay menempelkan ponsel ditelinganya.Sedang menelfon dongsaeng sepupunya.

“Aku sedang dijalan, hyung eodiga?” terdengar suara diseberang sana dari ponsel Lay.

“Aku dikantor.Kesini saja” ucapnya sambil berkacak pinggang hanya dengan satu tangan.

“Baiklah, aku sebentar lagi sampai hyung.” Tutup Baekhyun.

Lay menutup ponselnya dan menunggu Baekhyun diteras depan gedung kantornya. Beberapa saat kemudian terlihat mobil Mercedes warna hitam berhenti didepan Lay. Lay beranjak dan masuk kedalam mobil itu.

“Apa kau sudah menunggu lama hyung?” tanya Baekhyun setelah Lay menutup pintu mobilnya.

“Tidak.Hanya beberapa waktu saja” jawabnya datar.Detik berikutnya Lay telah mengeluarkan selembar kertas dengan garis-garis gambar yang membentuk seperti peta.Ia merentangkannya didepan wajahnya. Mulai berkonsentrasi dengan noktah-noktah merah dan hitam yang tergambar disana.Sesekali keningnya berkerut dan melontarkan beberapa pertanyaan kepada Baekhyun.

Baekhyun yang sudah terlalu muak dengan sikap Lay, hanya menanggapinya sambil lalu tanpa menunjukkan rasa bencinya. Takut terlalu kentara.

Setelah berbincang-bincang cukup lama dan mengunjungi semua lokasi yang tertera didalam peta itu akhirnya kegiatan mereka menyisakan satu tempat lagi untuk diselesaikan.Suasana berubah diam. Sedangkan Baekhyun terus konsentrasi dengan setirnya. Lay mulai merasakan perutnya yang mulai mengosong karena belum diisi makanan sejak pagi. Wajahnya beralih ke Baekhyun.

“Apa kau sudah makan malam, Baekhyun-ah?” tanya Lay memecah keheningan.

“Ah belum hyung, apa kau lapar? Apa sebaiknya kita makan terlebih dulu?”

“Ide bagus. Tapi sepertinya tanggung, kurang satu lokasi lagi yang belum kita kunjungi, bagaimana kalau kita kesana lebih dulu dan baru setelah itu kita makan malam, bagaimana menurutmu Baekhyun-ah?” tanya Lay dan diikuti suara gemuruh kemenangan didalam dada Baekhyun. Inilah yang sedang dia tunggu-tunggu. Mengunjungi tempat yang telah dipersiapkannya untuk melenyapkan Lay.

“Begitu juga boleh hyung” tutupnya tersenyum bengis dan membuang muka ke arah kaca mobilnya.

Tak lama kemudian keduanya sampai ditempat tujuan mereka.Baekhyun memarkir mobilnya didepan pintu gerbang.Kesan pertama saat sampai disana sungguh menakutkan. Lay memandang sekeliling dan hanya mendapati gedung tua yang menjulang tinggi dengan hanya satu sumber penerangan yang ada diujung jalan. Baekhyun membuka gerbang yang tak terkunci dan masuk kedalamnya.Diikuti Lay yang mengekor dibelakangnya.Bulu kuduk Lay seketika meremang dan mencoba untuk tidak merasakan sensasinya.Dia harus fokus ketujuannya.

“Disini seperti wilayah mati, tak ada toko, tak ada penerangan memadai, dan seperti tak terjamah manusia.” Gumam Lay sambil berkeliling disekitar bagian depan gedung itu.

Lay terus mengedarkan pandangannya ke setiap sudut gedung itu dari halaman depan yang rumputnya tumbuh liar dan sama sekali tak terawat. Tentu saja, terjamah manusia saja tidak. Karena sibuk sendiri mengamati gedung itu, Lay sampai lupa dengan Baekhyun, Lay berbalik badan dan mendapati Baekhyun tak ada, seharusnya dia ada dibelakang Lay.

“Baekhyun-ah?” panggil Lay dengan suara khawatir. Dia berjalan ketempat terakhir Ia melihat Baekhyun berdiri tadi.

“AAARRGGGHHHHHH!!” BUKKKKK!!!!

Baekhyun berteriak sangat keras dan menghantam Lay dengan balok besar.Tanpa persiapan apapun Lay tersungkur keatas tanah saat Baekhyun menghantamnya dengan balok besar itu tepat didaerah punggungnya.

Detik berikutnya Lay berbalik dan mendapati Beekhyun sedang mencengkeram balok besar yang dipakai untuk menghantamnya tadi. Lay meringis kesakitan dan kepalanya mulai pening. Baekhyun terengah-engah mencoba mencari oksigen yang bisa ia dapatkan. Jantungnya berpacu antara dendam, marah dan takut.Tubuhnya bergetar hebat terlihat dari balok yang dipegangnya sedikit bergoyah.

“Baekhyun-ah..a..pa..yang..kau..la..ku..kan” ucap Lay terbata sambil menahan sakit dipunggung dan pening yang luar biasa.

“Apa yang kulakukan? Kau kira apa? Kau kira apakah aku hanya tinggal diam melihat tahtaku diambil oleh bajingan sepertimu, heoh!” kini suara Baekhyun menguat walau ada sedikit getar diantaranya.“Kau kira aku menerimamu dengan lapang dada setelah kau mengambil tahtaku?!!” matanya mulai panas menahan amarah. “Kau…” tangan kanannya mengendurkan cengkeraman dari balok itu dan menunjuk Lay. “Kau… tidak seharusnya ada disini! Aku membencimu Lay!” ucapnya penuh dendam.

Lay yang terbungkuk mencoba berdiri dengan segenap tenaganya, tercengang mendengar seluruh perkataan Baekhyun. Dia tak menyangka bahwa Baekhyun berfikir seperti itu dan sangat membencinya. Sesaat setelah Lay berhasil berdiri, Baekhyun menghajar muka Lay dengan kepalan tangannya. Lay kembali tersungkur ke tanah. Lay tak ambil diam. Dia terus mencoba menegakkan badannya.

Lay tertawa sinis. “Haha…jadi ini yang selama ini kau fikirkan.Lalu untuk apa kau bersikap baik padaku, kau munafik!” Lay menatap tajam Baekhyun dalam kegelapan.

“Aku memang munafik! Dan aku ingin kau lenyap dari dunia ini Lay!” tangan Baekhyun terus mengepal dan kali ini menghampiri Lay mendaratkannya lagi diwajah Lay. Tapi sayang, Lay yang bergerak cepat dengan seluruh tenaga yang masih dimilikinya menghindar dari amukan Baekhyun dan membalas Baekhyun dengan hantaman keras dihidungnya. Darah segar keluar dari kedua lubang hidung milik Baekhyun.

Baekhyun menyeka darah itu dengan punggung tangannya kemudian meludah kesembarang tempat. Kini keduanya sama-sama maju dan tak ingin kalah, membuat satu sama lain saling hantam dan darah bercucuran diwajah keduanya.

Sampai akhirnya, Lay yang benar-benar kehabisan tenaga karena tubuhnya belum terisi nutrisi sejak pagi merasa tidak kuat lagi dan terhempas ketanah.Baekhyun melihat celah ini dan dengan sekuat tenaganya menginjak perut rata Lay dan menendang bagian pinggangnya dengan kasar. Lay merintih kesakitan. Sakitnya sungguh tak tertahankan lagi, Lay sudah merasa tubuhnya tak bisa bergerak lagi dan hanya pasrah dengan keadaannya saat itu.Dia tak bisa meminta tolong pada siapapun karena tempat mereka berada tak ada manusia lagi.Dia hanya berharap keajaiban bisa terjadi untuknya.

Lay hanya menatap saudara sepupunya itu dengan nanar. Masih tak percaya hubungan mereka menjadi seburuk ini.Baekhyun hanya terduduk disamping Lay dengan nafas yang terengah-engah.

Detik berikutnya, Lay yang terlentang diatas tanah melihat ada sekelebat warna putih terbang dilangit diatas mereka dari kejauhan.Semakin lama warna putih itu semakin dekat. Terlihat sesosok itu memakai jubah berwarna putih dan berbicara pada Lay.

“Sudah waktunya bagimu Zhang Yi Xing” sosok itu berkata dengan suara bass-nya pada Lay yang masih keheranan, Ia tak bisa berkata-kata lagi karena kehabisan tenaga. Ia hanya melirik Baekhyun yang sepertinya tidak bisa melihat sosok berjubah putih itu. Dan ia meyakini bahwa sosok berjubah putih itu adalah sesosok shinigami.Tergambar dibagian kanan jubah yang dipakai shinigami itu sebuah naga yang merentangkan sayapnya.

Lay hanya pasrah dan tau ini adalah ajalnya. Dia harus mati dengan cara yang sangat menyedihkan. Dia pun belum sempat meyampaikan permintaan maaf dan rasa sayang yang sangat besar kepada eomma dan halmeonni-nya.Ingatannya terlintas pada seorang yeoja yang ditemuinya di Seoul Park saat itu. Ah, padahal aku belum sempat melihat wajahnya dan mengetahui namanya. Sesal Lay dalam hati.

Tubuhnya sudah benar-benar tak bisa digerakkan lagi dan sementara Lay tau dia akan segera mati. Dia memendangi sosok berjubah putih yang terbang diatasnya itu.

Sementara itu, Baekhyun yang daritadi mengambil udara kedalam paru-parunya, kini berniat melancarkan aksi terkahirnya untuk menghabisi Lay.

Baekhyun mendekati Lay dan mengucapkan kata-kata terakhirnya pada Lay.

“Maafkan hyung, tapi ini semua harus kulakukan” tutupnya seraya menghantam wajah Lay dengan sangat keras sehingga darah kembali memuncrat dari dalam mulutnya.

Lay yang sudah tak peduli lagi dengan tubuh babak belurnya, hanya berharap ia segera terbebas dari rasa sakit luar biasa yang sedang menyerang tubuhnya.

Sosok jubah putih itu kemudian terbang ke arah pintu gerbang dan Lay mengikuti arah terbangnya itu. Dilihatnya ada sepasang mata yang sedang mengawasi kegiatan Baekhyun dan Lay. Ada secercah harapan didalam hati Lay, bahwa setidaknya ada orang lain yang tau dia diperlakukan secara tidak manusiawi. Lay menatap orang itu dan yang dipandang terlihat shock dan mundur dari pintu gerbang. Saat kepalanya terpantul cahaya lampu dari ujung jalan,Lay bisa melihat rambut hitamnya yang tergerai dan bisa dipastikan dia adalah seorang yeoja.

Sedetik berikutnya terdengar suara berderak.Bisa ditebak yeoja itu pasti menabrak sesuatu disana.Dan dengan seketika Baekhyun menoleh kearah sumber suara dan menghampiri suara itu ke pintu gerbang.

Demi keseimbangan orbit tata surya dan galaxy bima sakti(?), Lay sangat berharap yeoja itu tak tertangkap oleh Baekhyun, atau yeoja itu akan bernasib sama sepertinya saat ini. Dan dia satu-satunya harapan yang bisa Lay miliki untuk menjadi saksi atas semua kekacauan ini. Saat Baekhyun menilik ke pintu gerbang, perut Lay tiba-tiba bergejolak sangat hebat dan membuat darah segar keluar dari mulutnya lagi dengan sangat banyak. Kelopak matanya sudah sangat berat dan ia tak bisa menahannya lagi.

Matanya sudah tak bisa terbuka lagi sampai sebelum Baekhyun kembali dari pintu gerbang dan entah apa yang terjadi setelah itu Lay-pun tak tau.

Baekhyun’s POV

“Brengsek!Siapa yang melihat kejadian itu tadi?” umpatku seraya terengah-engah saat mengejarnya sampai tikungan jalan.Orang itu berhasil lolos dan semoga saja dia tak mengetahui semua kejadian tadi, tambahku dalam hati.

Saat akan kembali ‘membereskan’ Lay, langkahku terhenti didepan pintu gerbang dan mataku teralih perhatiannya pada sepucuk kertas yang menurutku baru terjatuh. Ku ambil kertas itu dan kubuka isinya.

Kertas itu terlihat lusuh seperti habis diremas dan perlahan kurentangkan disetiap sisinya, tertera sebuah angka yang dilingkari dengan bolpoin warna merah, 65.Aku mendengus tertawa rendah melihat angka itu dan bisa menebak itu adalah nilai hasil ulangan. Dipojok kanan atas tertulis nama ‘Kang Je Hwa’.

DEG!

Aku membelalakan mata dan tersadar munginkah kertas ini adalah milik orang yang tadi disini?Kemungkinan besar iya. Lagipula untuk apa ada orang yang sengaja datang kesini?

Aku mengangguk pelan dan mulai mengerti semua ini.Menilik dari namanya sepertinya orang ini adalah seorang yeoja. Aku kembali melihat kertas itu dan mendapatkan nama sekolah yang tertera disana. Seoul High School.

Kumasukkan kertas itu ke saku jas hitamkudan segera ‘membereskan’ Lay.

Author’s POV

“Siapa mereka sebenarnya?Apa aku baru saja melihat aksi pembunuhan?” tak henti-hentinya Jehwa mengatakan kata itu seraya mengontrol deru jantungnya yang berdetak diluar kendali.

Tubuh Jehwa teronggok lemas didepan pintu rumahnya dan memandang kosong kesepeda yang ada didepannya itu. Masih tidak mempercayai apa yang barusan dia lihat.

Ceklek!

Suara pintu yang terbuka membuat Jehwa terlonjak kaget dan mendapati detak jantungnya yang justru semakin cepat.

“Kyaaaaa!” teriaknya masih terus terduduk.

Suho yang tak mengetahui keberadaan Jehwa didepan pintu pun ikut terlonjak kaget.

Jehwa berbalik badan memandang kakaknya yang sedang memegang dada sebelah kirinya.Mereka sama-sama terkaget.

“Ya ampun oppa, kau membuatku kaget!” sembur Jehwa pada Suho.

“Kau juga Jehwa-ah, apa yang kau lakukan malam-malam disini?Dan apa kau habis marathon?” selidiknya menuding keringat yang bercucuran diseluruh wajah Jehwa. “Astaga..cepat masuk kerumah dan bersihkan dirimu, kau bau sekali” ucapnya sambil menutup hidung dengan jarinya. Jehwa hanya mendengus kesal dan melangkahkan kakinya kedalam rumah.

Didalam hati Jehwa meracau kesal.Itu masih mending kalau tadi aku berkeringat karena marathon, oppa.Bukan karena baru melihat aksi pembunuhan.Ingatannya kembali melayang ke kejadian tragis itu.Jehwa menggeleng-geleng resah, mencoba menyingkirkan pikiran itu.

Suho yang sedari tadi memperhatikan gelagat dongsaengnya itu langsung mengernyit pelan.

“Kau baik-baik saja Jehwa-ah?” tanyanya.

Pertanyaan Suho membuyarkan lamunan Jehwa yang meresahkan dan dengan gagap menjawab pertanyaan Suho. “A..ah aniyo oppa, nan gwencana” jawab Jehwa dan menghambur masuk kedalam kamar.

Saat diambang pintu, Jehwa sempat berfikir untuk menceritakan kejadian yang baru dilihatnya itu ke oppa-nya.Suho adalah seorang detektif, walau masih belum profesional, tapi setidaknya dia tetaplah detektif.Orang yang memang tugasnya menyelesaikan masalah kriminal. Saat Jehwa memikirkannya sekali lagi, mungkin lebih baik jika ia menyimpannya terlebih dulu. Menanti momen yang cocok untuk menceritakannya pada Suho. Dan ia pun mengurungkan niatnya.

Jehwa’s POV

“Jehwa-ah! Ayo bangun, sudah jam berapa sekarang! Kau tidak mau terlambat datang ke sekolah kan!” teriakan emma dari luar pintu benar-benar sukses membuat mataku terbelalak lebar. Waktu menunjukkan pukul 7 am, ah sial aku pasti terlambat! Gerutuku sambil menyambar handuk dan bergegas ke kamar mandi.

Setelah mandi dengan kecepatan kilat dan telah bersiap-siap aku langsung menghambur keluar kamar dan menuju lantai bawah.Saat keluar kamar, aku seperti melihat ada sosok berwarna hitam diambang pintu, tapi saat aku berbalik dan mengecek, ternyata tak ada siapapun disana.Aku hanya mengerling dan terus berpacu dengan waktu yang berjalan dengan cepat.

Kuambil roti isi dan sebotol minuman yang telah disediakan eomma dan mengambilnya serampangan. Memasukkannya kedalam mulut dan menaruh minum kedalam tas. Suho yang melihat tingkahku hanya menggeleng-geleng tak percaya.

“Wae??” tanyaku menuding pandangan matanya yang melihatku dengan jijik.

“Serampangan!” ucapnya sinis.Dan aku hanya berlalu dari meja makan dan berpamitan pada eomma dan appa.

“Eomma, appa aku berangkat dulu..” aku menghambur ke teras dan mengayuh sepedaku secepat mungkin. Saat akan mengambil arah, tentu saja aku tak akan melalui jalan semalam lagi, selamanya aku tak akan lewat jalan itu lagi. Ah aku jadi teringat kejadian itu.

Kukayuh sepedaku semakin cepat agar aku tak mengingat kejadian itu.Mulutku masih terisi penuh roti yang kumakan tadi.Mungkin aku harus memikirkan Yeorin, jadi aku tak perlu memikirkan hal itu lagi. Berbagai macam pemikiran yang melayang-layang diotakku agar aku melupakan kejadian itu, tapi GAGAL! Selalu gagal, ingatan itu benar-benar sangat mengganggu sehingga aku tak bisa tidur semalaman, dan inilah hasilnya, aku jadi terlambat sampai disekolah.Padahal aku adalah salah satu murid yang bisa dikatakan rajin karena tak pernah terlambat ke sekolah.Ini pertama kalinya aku terlambat.

Sesampainya digerbang sekolah, aku melihat Kim sonsaengnim sudah mondar-mandir sambil membawa sebilah tuding berwarna hitam dan memukul-mukulkan benda itu ke telapak tanganya. Aku meneguk ludah dengan susahpayah. Kuberanikan diriku menghampiri Kim sonsaengnim.Dia terlihat kaget menerima fakta bahwa murid rajin sepertiku bisa terlambat.

“ck..ck..ck Nona Kang, sejak kapan kau jadi pemalas, eoh?” selidiknya sambil mengacung-acungkan tudingnya ke arahku.

“Maafkan saya Kim sonsaengnim, saya kesiangan karena semalam saya tidur sangat larut” jelasku jujur.

“Harusnya kesalahan seperti ini tidak bisa ditolerir, tapi karena ini adalah pertama kalinya kau terlambat, jadi kau kubebaskan dari poin, hahahhahah” aku menganga dan terheran-heran betapa anehnya orang ini.Dengan alasan itu dia membebaskanku dari poin?Yang benar saja.Daripada aku berkutat dengan pikiranku tentang orang aneh ini, lebih baik aku cepat-cepat masuk dan mengikuti kelas.

Dengan tampang yang masih heran dan tawa Kim sonsaengnim yang masih berlanjut aku berjalan pelan dan meninggalkannya dengan ucapan terima kasih yang garing.

“eeeh, kamsahamnida Kim sonsaengnim” tutupku dan berlalu masuk kedalam kelas.

Sesampainya dikelas, terlihat Cho sonsaengnim belum tiba dan aku selamat dua kali.Aku berjalan masuk dan duduk disamping Yeorin.

“Tumben telat.” Ucap Yeorin datar dengan mata yang tetap tertuju pada buku tebal ditangannya.

“Aku kesiangan, semalam aku tak bisa tidur. Jadi ya inilah hasilnya” kataku mengangkat bahu dan mengeluarkan minum dan buku dari dalam tas. Aku meminum minumanku dan membuka buku pelajaran yang akan segera diajarkan.

Yeorin berpaling dari bukunya dan kali ini memandangku dengan tatapan yang tak bisa diartikan.“Kau…” tudingnya, meletakan jari telunjuknya dijidatku. “Benarkah seorang Kang Je Hwa bisa bangun telat dan terlambat datang ke sekolah?Apa itu masuk akal?” imbuhnya dan dengan sukses mendorong kepalaku sampai kepalaku terjengkal kebelakang.

Aku hanya memandangnya dengan tatapan sinis dan menampik tangannya agar menjauh dari kepalaku.“Aku kan manusia Yeorin-ah, aku juga bisa terlambat” belaku.

“Lagipula, apa yang membuatmu tak bisa tidur eoh?Kau mana mungkin galau memikirkan namjachingumu yang tak mengirimimu pesan atau dia tidak menelfonmu, namjachingu saja kau tak punya!” ucapannya sangat jelas dan menyindirku.Tapi aku tak ambil pusing dan hanya menganggap ucapan Yeorin dengan sambil lalu.

Sedetik berikutnya Cho sonsaengnim datang dan memulai pelajaran.

Didalam kelas aku tak bisa berkonsentrasi.Aku berharap bukan pelajaran matematika yang aku hadapi saat ini.Pelajaran ini justru sangat membuat kantukku semakin melanda. Seharusnya pelajaran musik yang kupelajari saat ini, sudah pasti kantuk yang melandaku ini tak akan berlanjut.

Kulirik Yeorin yang selalu serius dalam menjalani pelajaran, aku hanya menghela nafas.

Aku gelisah didalam kelas dan mungkin hanya aku yang merasakan hal itu.Teman-teman sekelasku sepertinya menikmati pelajaran membosankan ini.

Saat aku mengalihkan perhatian dan memandang jauh ke luar jendela, aku merasakan ada yang sedang berdiri dipojok kelas bagian belakang.Aku menoleh dan nihil, aku tak menemukan apapun.Sesaat berikutnya, aku merasakan hal aneh, aku seperti sedang diawasi.Diperhatikan.Kuedarkan mataku keseluruh sudut kelas.Aku tetap tak menemukan apapun.Mereka semua masih serius memperhatikan Cho sonsaengnim dan papan tulis.

Saat aku membalikkan pandanganku kedepan dan berniat serius dalam belajar, aku terlonjak kaget melihat Cho sonsaengnim yang berdiri tepat disamping meja yang kuhuni.

“Ini pelajaran matematika nona Kang, dan papan tulisnya ada didepan, bukan dibelakang” ucapnya menunyuk-nunyukkan tudingnya pada buku yang tergeletak diatas meja.Membuat seisi kelas menertawakanku.

“Jweosonghamnida, sonsaengnim. Saya akan konsentrasi. Jweosonghamnida.” tukasku sungguh-sungguh.Cho sonsaengnim berbalik dan kembali ke mejanya.

Sialan, gerutuku dalam hati.

Aku berkonsentrasi pada buku didepanku, tapi aku merasa Yeorin sedang memperhatikanku dan aku mendongak padanya.

“Wae?” tuduhku.

“Apa yang sedang terjadi padamu, pabbo!” dia berbisik.

“Entahlah, kurasa otakku sedang konslet” bagaimana tidak, dengan semua kejadian semalam? Siapa yang tidak akan menderita otak konslet (?). Yeorin hanya mengangguk setuju dan mencebikkan bibirnya.

Kali ini aku benar-benar serius menatap bukuku. Tiba-tiba,

Wuussssshhhhh~

Terasa hembusan angin yang menyapa kulitku, aku terheran karena AC dikelas tidak dinyalakan dan jendela pun tak ada yang terbuka.Seketika itu bulu kudukku meremang dan aku mengusap tengkukku dengan tangan yang terbebas dari bolfoin yang kugenggam.Apa yang sedang terjadi?

Aku menyenggol Yeorin.“Apa kau merasakan ada hembusan angin barusan?” tanyaku selidik.

Yeorin hanya menggeleng.

Benar-benar aneh. Mungkinkah ada…. Ah! Lupakan Jehwa, didunia semodern ini mana mungkin ada hal yang seperti itu. Aku mencoba menampis segala kemungkinan mistis yang bisa terjadi.

Aku benci hal mistis seperti itu, aku pernah bilang kan kalau aku adalah orang yang kurang berani? Bukan penakut? Aku meringis mendengar lelucon yang sama sekali tidak lucu itu. Setidaknya aku selalu mencoba mengalihkan perhatianku.

Aku merasa tidak tenang.

Author’s POV

“Ahhh…” terdengar rintihan pelan yang berkumandang di sebuah apartemen kecil itu.

“Jangan bergerak-gerak terus, atau lukamu akan semakin membengkak.”Ucap seorang yeoja sambil mengusapkan beberapa obat kewajah Baekhyun. “Lagipula untuk apa kau berkelahi diclub eoh?” tanya yeoja itu penuh dengan selidik.

Baekhyun hanya tersenyum kecil dan menyadari kebohongan kecilnya benar-benar berhasil. Untuk apa semalam dia ke club padahal kenyataannya dia telah mengahabisi nyawa saudara sepupunya sendiri.

“Aku hanya membela diri” Baekhyun mengangkat bahu tak peduli.Yeoja didepannya itu hanya berdecak. Baekhyun tau bahwa yeoja itu tidak suka dengan club, jadi itu alasan satu-satunya agar ia tak bertanya lebih lanjut.

“Sudah selesai..” ucap yeoja itu akhirnya dan menutup kotak P3K dan mengembalikannya ke lemari.

“Terima kasih Jinri-ah, kehadiranmu sangat membantu” Baekhyun membaringkan tubuhnya di ranjang besarnya itu.

“Hanya hal kecil” balas yeoja bernama Jinri itu. “Aku pamit dulu Baekhyun-ah” pamitnya menggendong tas dan keluar kamar Baekhyun.

“Hati-hati diperjalanan” tutup Baekhyun diikuti Jinri yang menghilang dari hadapannya.

Baekhyun memejamkan mata dan masih bisa tertidur dengan tenang setelah melakukan hal kejam yang tak bisa termaafkan itu.

Keesokan harinya, tubuh Baekhyun benar-benar sangat pegal dan susah digerakkan. Ia beranjak dari tempat tidur dan memandang wajahnya didepan cermin. Terlihat luka memar di sekitar rahang dan pipinya.Baekhyun menyentuhnya lirih dan meringis kesakitan.

Hari ini ia harus berangkat ke kantornya, menyembunyikan segala hal yang berhubungan dengan Lay sejak kemarin. Dan ia teringat suatu hal. Baekhyun mencari jasnya semalam dan merogoh kedalam saku. Diraihnya selembar kertas kusut yang harus ia selidiki hari ini juga.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10am dan Baekhyun membersihkan diri kemudian keluar menaiki mobilnya. Pertama, ia harus pergi kekantornya lebih dulu dan berpura-pura tak mengetahui Lay yang sedang diberitakan menghilang itu.

“Tuan Byun apakah anda mengetahui keberadaan Tuan Zhang?” tanya sekertaris Lay pada Baekhyun.

Baekhyun dengan segala aktingnya meyakinkan seluruh orang diperusahaannya bahwa ia sama sekali tak tau dimana Lay berada.

Baekhyun sedang duduk dikursi ruangannya saat ini, terlihat sedang menghubungi beberapa orang yang ditelfon.

“Datanglah keruanganku, sekarang.Bawa anak buahmu dan suruh mereka menunggu diluar.”Ucapnya pada seseorang didalam telefon.

Baekhyun tersenyum bengis dan beberapa saat kemudian seseorang dengan postur tinggi dan seragam serba hitam masuk kedalam ruangan Baekhyun.

“Ada apa bos?” tanya orang itu dengan suaranya yang bariton.

“Anak buahmu sudah siap?” Baekhyun bertanya santai dengan gaya ‘like a boss’.

“Sudah” jawab orang itu singkat.

Baekhyun beranjak dari kursinya “Kita ke Seoul High School sekarang.”Ucapnya keluar dari ruangan dan orang itu mengekor dibelakang Baekhyun.

Other Place

“Aku sangat ngantuk Yeorin-ah, maaf aku tak bisa ikut.Aku harus membayar malamku yang tersita semalam” rengekku saat Yeorin memintaku menemaninya membeli kado untuk ulang tahun namjachingunya.

“Jehwa-ah kau tega sekali membiarkanku keliling mall sendirian?Ya sudahlah aku sendiri saja” akhirnya Yeorin mengakhiri perdebatan ini dan membiarkanku pulang.

Ah untung saja hari ini pulang lebih awal, aku sungguh mengantuk dan benar-benar rindu ranjangku. Aku ingin tidur, batin Jehwa.

Sesampainya dirumah, Jehwa masuk dan saat melewati pintu, suasana yang tadi terjadi di kelas kini terjadi dirumahnya.Bulu kuduk Jehwa meremang lagi.Jehwa seketika menengok kesamping kanan dan kiri.Matanya diedarkan keseluruh penjuru rumahnya.

Wussshhh~ angin berhembus lagi menembus kulitnya yang putih.Jehwa semakin tidak tenang dan memutuskan segera ke kamar.Rumahnya kosong karena apaa, eomma dan oppa-nya harus bekerja.Setelah sampai dikamar, dia bergegas mengganti baju dan ambruk ke ranjang besarnya itu.

“Annyeong Jehwa-sshi” sebuah suara namja bergema di kamar Jehwa.Jehwa yang mendengar namanya disebut pun terlonjak kaget.Jantunganya berpacu dengan ketakutannya.

“Siapa itu?”Jehwa berhasil membuka mulut dan mengedarkan pandangannya keseluruh sudut kamarnya.

Jehwa’s POV

Kurasakan tubuhku sedikit gemetar saat mengucapkan kata itu. Astaga! Apa yang sedang terjadi sebenarnya saat ini.Tubuhku membatu diatas ranjang dan menanti sesuatu muncul seiring adanya suara yang menggema dikamarku.

“Mianhae aku membuatmu takut, tapi bisakah kau tenang dan membiarkanku muncul dihadapanmu?” suara tanpa wujud itu semakin menggema di kamarku. Aku meneguk ludah dengan susah payah, masih tak percaya dengan apa yang sedang kualami.  Bagaimana bisa suara itu menyuruhku tenang sementara aku sedang berbicara dengan-wujudpun tak ada.Aku gelagapan, mendekap bantalku dalam-dalam.

“Tenanglah, aku mencoba bersikap baik padamu.Jadi kau harus tenang terlebih dulu” suara itu terdengar semakin mendekat ke arah jendela dan aku mengikuti arah suara itu bersumber.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya. Aku pasti sudah gila! Aku mencubit tanganku, memastikan aku sedang tidak bermimpi.

“Aww!Appo!” rintihku melihat pergelangan tangan yang memerah karena kucubit.Satu kesimpulan.Aku sedang tidak bermimpi.Ini nyata.

“ini nyata Jehwa-ah, kau tidak bermimpi. Tenanglah, jika kau bisa mengendalikan dirimu untuk lebih tenang, aku akan muncul dihadapanmu” suara itu terdengar sangat halus dan tenang.Semacam delusi.

Aku yang terus membatu diatas ranjang akhirnya menyerah dan berusaha untuk lebih tenang.Aku tak habis fikir bagaimana bisa aku berkomunikasi dengan hantu, apakah aku salah makan?Atau memang sebenarnya ada yang salah pada diriku sendiri? Kekuatan apa ini? Bisa berbicara dengan hantu? Kekuatan yang tidak keren! Ya Tuhan, jika Engkau memberiku takdir yang berbeda dari manusia biasa, setidaknya jangan memberiku kekuatan bisa berinteraksi dengan hantu seperti ini, mind reader kek, mind control kek, flight, teleport, flame, atau apalah yang kelihatan keren, kelebihan ini justru membuatku takut, aaahhhhh. Rutukku dalam hati tak jelas.

“Sepertinya kau sudah mulai tenang” suara itu berkumandang lagi dan membuyarkanku dari lamunan konyol ini.Aku pun tersadar dan mulai menyiapkan diri. Sebentar lagi akuakan melihat hantu. Mungkin berlumuran darah?Atau punggungnya yang berlubang?Atau wajahnya yang buruk rupa?Atau botak? Astaga! Na micheoso! Aku kembali meracau dalam hati tak jelas.

“Aku akan muncul dihadapanmu” suara itu kini bervolume mengecil dan aku semakin berdebar menanti hantu yang akan menampakan wujudnya dihadapanku. Aku menatap jendela dengan tak percaya.

Sesaat setelah hantu itu berhenti tak besuara, wujudnya pun mulai tampak.Terlihat seorang namja yang dengan perkiraanku sedikit lebih tinggi dari Suho oppa berdiri diambang jendela. Dia masih memunggungiku dan aku menanti sensasi lain yang akan kuterima lagi saat dia memperlihatkan wajahnya. Aku begitu takut kalau-kalau wajahnya itu benar-benar sangat menyeramkan.

Masih kupandangi punggungnya yang ramping itu, tubuhnya terbalut kaos oblong berwarna putih dengan blazer berwarna hitam dan mengenakan celana jeans.Sepatu?Tentu saja mata kakinya tak kelihatan. Dia hantu, tak akan menapak pada tanah. Stylish juga ini hantu, gumamku dalam hati.Aku sempat sedikit tertawa melihat penampilannya.Hantu modern, tambahku.

Kali ini kepalanya mulai berbalik dan aku mendadak panik.Menanti wajahnya yang buruk rupa.

Setelah dia menunjukkan wajahnya padaku, betapa aku sangat terkejut.Tidak seperti yang aku harapkan.Wajah hantu ini tampan dan bahkan sangat tampan.Terbesit dipikiranku bahwa namja ini mungkin saja bukan hantu, tapi aku kembali melihat kakinya yang tidak menapak tanah dan meyakinkan diriku lagi bahwa dia benar-benar hantu.

Mulutku ternganga tak percaya dan hantu itu tersenyum tipis.Memperlihatkan bibirnya yang pucat.Aku mengontrol diri dan berkali-kali menyadarkan diri, menerima kenyataan bahwa kali ini aku ditakdirkan untuk bisa melihat hantu.

“Annyeong haseyo, joneun Lay imnida..” hantu itu menggerakan bibirnya menyeruakkan sebaris suara dan aku masih tercengang menatapnya.

Baekhyun’s POV

“Sial! Bagaimana bisa aku sesial ini!” ku banting pintu mobil dan mengumpat kesal. Aku sudah datang ke Seoul High School, tapi ternyata sekolah ini pulang lebih awal. Bagian informasi-pun sudah tutup, apa boleh buat aku pulang dengan tangan hampa. Kuputuskan datang lagi esok hari.

Kang Je Hwa, aku harus membereskanmu, janjiku dalam hati.

==ooOO TBC OOoo==

Chapter dua sudah selesai horeeee *hebohsendiri plak*

Gimana gimana readerdeul? RCL juseyo~ author bener-bener butuh RCL readerdeul biar makin semangat nih 😀

Tunggu chapter berikutnya ya, saranghaeyo readerdeul *cipokreaderdeulsampesesak *cipokLaysampemati *EHH? Skip haha

Don’t forget to follow @marmel1315 on twitter, let’s talk 🙂

*deepbowwithmybelovedLay*

Iklan

15 tanggapan untuk “Crimson Love #2

  1. Annyeong eonni,,,

    Eon critanya keren,, gk di sangka sangka lay jdi hantu,, hiks sediih jdinya,,

    Pkoknya kerenn eonni,,,
    Aku mw lnjut bca dulu,, pai pai (っ˘з(˘⌣˘c)

    1. mianhae~ saya kurang tau untuk pempublish-an disini karena saya author freelance~ mohon sabar ya untuk menunggu antrian dengan yang lainnya,
      atau kalo nggak keberatan silahkan kunjungi wp author, tinggal di klik aja user name-nya itu 😀
      kamsahamnida udah RC 🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s