Labirin Venesia

Labirin Venesia

Labirin Venesia

Author : flwr29

Cast : -Park Chanyeol

-Im Yoona

-Kim Jongin a.k.a Kai

-Park Junghyo (OC)

-Kim Joonmyeon as Oh Joonmyeon

-Byun Baekhyun as Oh Baekhyun

-Oh Sehun

Others can find by your self ^^

Genre : Mystery (maybe), a little bit romance

Length : One Shoot

*********************

Annyeong^^ Kuharap kalian semua suka sama publishan ini yang sebenarnya bukan benar-benar karyaku. Cerita ini terinspirasi.. oh bukan, cerita ini ku copas dari buku komik. Iseng. Hanya iseng. Aku hanya mengganti cast-nya serta membuang yang kurang diperlukan. Mungkin kalian akan mengenal cerita ini. Aku bukan orang yg pintar bicara ya ._. so, cekidott ^^ Thanks for reading!

**********************

-Author POV-

“Direktur Kai..” Ucap seorang sekretaris dari seorang direktur, yang bernama Park Junghyo, atau lebih dikenal dengan sebutan Junghyo.

“Saya berterimakasih atas undangan makan malam anda, tapi…”

Kata-kata yang belum sempat dilanjutkan Junghyo itu terputus oleh Kai. “Wae? Apa masakannya tidak enak?” Potong Kai seenaknya.

“Bukan begitu, tapi tempat ini… Grand Canyon… Kau sendiri yang menginginkan tempat tenang dimana kau bisa memandang bintang dilangit, kan?” Lanjut Junghyo. Kai hanya mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Junghyo dengan cuek sambil sesekali menganggukkan kepalanya.

“Maaf atas kelancangan saya, tapi maukah anda meminta saran dari saya kalau kelak ingin mengajak seorang wanita berkencan?” Ucap Junghyo lagi.

“Jadi, aku boleh melakukakan hal itu? Kau mau membantu?” Seketika wajah Kai berubah menjadi lebih bersemangat.

“Ya…” Jawab Junghyo singkat.

Hening melanda sampai Kai kembali memulai pembicaraan.

“Junghyo-ya?”

“Ada apa?” Tanya Junghyo sambil tersenyum manis.

“Tidak ada apa-apa.” Jawab Kai sambil membalas senyum Junghyo. Sedikit aneh, ya?

********************

Milan, Italia

“Hah? Memilih cincin untukmu?” Tanya seorang gadis yang biasa dipanggil dengan sebutan Yoona itu sambil menganga, terkejut mungkin. Yoona seorang siswi SMU yang gayanyan seperti anak laki-laki, otaknya tidak secemerlang temannya, Chanyeol. Ayahnya adalah seorang detektif.

“Jadi… Cuma gara-gara itu kau sampai memanggil kami ke Italia?” Tanya Yoona lagi tidak sabaran mengetahui fakta yang sebenarnya mengapa dia bisa sampai di Italia saat ini, sambil menunjuk dirinya juga teman sekelasnya yang sedari tadi diam menikmati suasana disana tanpa perlu mengoceh seperti yang dilakukan Yoona.

“Benar!” Seru lawan bicara Yoona tegas. “Kuminta kalian pilihkan cincin yang terbaik ditempat ini. sebab, aku sama sekali tidak paham soal seperti ini.” Lanjutnya. Siapa? Dia seorang direktur yang bernama Kai, seorang milyuner sekaligus direktur perusahaannya. Dia asli Korea dengan keturunan luar *anggap aja seperti itu* juga teman lama Chanyeol.

“Tapi… kemapa tidak minta bantuan pada teman-temanmu sesama milyuner?” Tanya Yoona.

“Tidak mau! Orang-orang tidak punya kerjaan seperti mereka bisanya cuma bergosip! Mendingan kalian, deh!” Seru Kai.

“Kalian akan menyesal… kalau sampai menceritakan hal ini pada orang lain!” Ucap Kai lagi.

Rupanya dia serius.” Bisik Yoona pada Chanyeol, seorang murid jenius yang lulus MIT di usia 15 tahun, lalu kembali Korea untuk bersekolah di SMU. Dia memiliki pengetahuan yang sangat luas dalam berbagai bidang, namun kurang mampu memahami perasaan manusia.

“Yang ini bagus juga.” Ucap Yoona sambil menunjuk sebuah cincin yang cantik, membuat pandangan Kai dan Chanyeol mengikuti pandangannya.

*******************

Ghamsahamnida!” Seru Kai sambil berjalan menuju pintu keluar toko itu, setelah mendapatkan cincin yang cocok yang dipilih Yoona.

“Kau dengar berapa harganya?” Tanya Chanyeol pada Yoona dengan pelan.

“Cukup untuk membeli satu rumah, tuh.” Jawab Yoona.

“Jangan-jangan… Itu cincin untuk pertunangan untuk seseorang?” Ucap Yoona sambil terkekeh.

“Cerewet!! Lebih baik sekarang kalian jalan-jalan saja sendiri!!” Seru Kai.

“Dasar! Tahu begitu, aku tidak sudi membantumu!” Teriak Yoona pada Kai yang sudah berjalan lebih dulu darinya.

DOR DOR DOR! Terdengar suara tembakan yang dilepaskan berkali-kali, memaksa semua orang disana melihat kearah bersumbernya suara mengerikan itu. Telah terjadi perampokan bank disana. Beberapa orang yang sepertinya merekalah pelakunya segera berlari karena tentunya tidak ingin tertangkap. Kai yang paling dekat dengan mereka, bingung dengan keadaan ditambah dengan otaknnya yang lambat mengambil tindakan, dan..

“Tunggu! Jangan mendekat! Atau aku tidak akan menjamin keselamatan orang ini!” Ucap seseorang bertopeng yang sekarang ini sedang memegang Kai sambil memidik tembakannya tepat ke arah kepala Kai. Tentu saja Kai terkejut dan membuat otaknya semakin lambat mengambil tindakan.

Yoona dan Chanyeol juga sama-sama terkejut karena Kai ditangkap oleh penjahat itu, bagaimanapun mereka kesal pada Kai yang selalu bertingkah semaunya, Kai juga teman mereka. Mereka pun mengikuti penjahat itu yang mengatakan untuk tidak mendekat dan mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi dengan was-was.

“Naik!” Seru orang itu memaksa Kai untuk masuk ke mobilnya.

BRRRMMMM~ Mobil itu mulai berjalan.

“KAI!!” Teriak Yoona dan Chanyeol hampir bersamaan.

*******************

“Eum… Joonmyeon hyung.” Ucap seseorang yang sedang kebingungan dalam sebuah rumah kecil yang sedang dipenuhi oleh empat orang banyaknya.

“Aku ini tipe orang yang penuh pengertian. Tapi… aku terus-terang, kali ini aku sama sekali tidak mengerti.” Ucapnya lagi. Oh, rupanya dia Oh Baekhyun, anak kedua Oh bersaudara, yang merupakan perampok bank.

“Kenapa kita harus merampok bank dengan mempertaruhkan nyawa, tapi akhirnya sama sekali tidak berhasil mendapatkan uang?” Tanya Baekhyun lagi dan lagi.

“Kau minta dihajar, ya?” Bukannya menjawab, orang ini malah memberi kesan yang menakutkan bagi adiknya itu. Oh Joonmyeon, anak sulung Oh bersaudara, dia merupakan pemimpin perampok.

DUG! Satu pukulan kecil mendarat di hidung Baekhyun, membuat Baekhyun langsung memegang hidungnya, memastikan apakah hidungnya berpindah tempat.

“Jangan sebut namaku didepan sandera!” Ucap Joonmyeon membelakangi Baekhyun.

“Ada dua sebab kenapa rencana kita kali ini gagal.” Ujar Joonmyeon. “Yang pertama, kau!” Lanjutnya sambil menatap tajam seorang pria yang duduk santai disamping sandara yang tak lain adalah Kai yang sudah terikat rapi.

“Aku?” Tanya orang itu. Telunjukknya menunjuk kedirinya sendiri. Oh Sehun, anak bungsu Oh bersaudara.

“Setelah kita berhasil menerobos masuk bank, tiba-tiba kau…”

Flashback~

“Jangan bergerak!”

Perampok memenuhi sebuah bank, orang-orang disana segera tiarap, banyak yang berteriak karena ketakutan, mengeluarkan air mata segala macam. “Lebay.” Komentar pada perampok itu.

Hyung, aku mau ke kamar mandi.” Ucap salah satu dari mereka yang bernama Oh Sehun.

Mwo?” Dalam mengerjakan pekerjaan seperti ini bisa-bisanya Sehun membuat kakakknya itu kesal padanya.

Gwenchanayo? Biar kutemani kau ke kamar mandi.” Ucap Baekhyun yang menghapiri Sehun.

YAA!!” Teriak Joonmyeon pada kedua adiknya yang membuatnya marah.

Flashback off~

“Sementara itu, alarm tanda bahaya berbunyi dan rencana kita gagal total!” Seru Joonmyeon penuh amarah.

“Penyebab pertama adalah kebodohanmu!” Ucapnya lagi pada Sehun yang sedang menampakan wajah cengo’nya.

“Dan yang kedua adalah tindakanmu yang tidak masuk akal!” Ucap Joonmyeon lagi sambil menunjuk Baekhyun yang sekarang ikutan menampakan wajah cengo’nya seperti Sehun.

Arrghhh!” Geram Joonmyeon.

“Sudahlah, hyung… toh, itu sudah lewat.” Baekhyun angkat bicara.

“Apa kau tidak bisa menunjukkan penyesalan sedikit saja?!” Joonmyeon kembali menemukan amarahnya semakin meluap rasanya seperti kyuubi yang akan keluar dari tubuh Naruto (/-_-).

“Ngomong-ngomong, apa yang harus kita lakukan dengan sandera ini? Dia sudah melihat wajah kita.” Ucap Baekhyun.

“Lebih baik kita lenyapkan saja.” Jawab Joonmyeon mengundang kekesalan juga amarah Kai. “Kau saja..” Lanjut Joonmyeon menyerahkan sebuah pistol pada Baekhyun.

“Tidak mau!” Seru Baekhyun. “Kita hompimpa saja.” Ucapnya.

“Tidak! Aku tidak pintar hompimpa!” Sergah Sehun.

“Terus bagaimana?” Tanya Joonmyeon. Joonmyeon pun menghampiri Kai.

“Bagaimana kalau kau sendiri saja…?” Ucap Joonmyeon sambil menyodorkan pistol yang sedaritadi digenggamannya pada Kai yang memasang wajah kesalnya.

“Bodoh!” Teriak Kai.

“Daripada kalian bicara yang tidak-tidak, kenapa tidak minta uang tebusan saja, mumpung aku sedang disandera kalian?!” Lanjut Kai membuat sekumpulan perampok itu terkejut.

“Dengar? Dia lebih pintar daripada hyung.” Ucap Sehun menunjuk Kai.

“Mau kuberi ini, ya?” Joonmyeon menunjukkan kepalan tangannya yang kuat pada Sehun, membuat Sehun yang polos (?) itu menggeleng kuat.

*******************

Milan Police Station

“Apa yang terjadi? Kalian bilang direktur Kai dibawa pergi…?” Tampak khawatir terlihat jelas diwajah sekretaris Junghyo.

“Itu… waktu itu sedang terjadi perampokan bank dan si pelaku berhasil kabur dengan menyandera Kai.” Jelas Yoona pasrah sambil sedikit menundukkan kepalanya.

“Pak Komisaris!” Ucap Junghyo tegas pada seorang komisaris muda bernama Kyungsoo. “Kalau sampai terjadi sesuatu pada direktur, hubungan diplomatik Negara kita akan terganggu!” Lanjut Junghyo membuat komisaris itu cemas.

“Ya. Aku akan berusaha sekuat tenaga mengungkap kasus ini!” Ucap Kyungsoo.

“Saat ini kami sudah mengambil tindakan darurat, dengan cara mengepung kota mereka tidak mungkin bisa lolos.” Ucap Kyungsoo lagi.

“Jalan-jalan sendiri ke kota… Selalu saja begini kalau tidak kuawasi.” Ujar Junghyo merenungi permasalahan yang sedang menimpa direktur Kai ini.

“Apa yang direktur Kai lakukan bersam akalian?” Tanya Junghyo pada Chanyeol dan Yoona.

“Anu..” Seketika Yoona ingat kata-kata Kai yang mengatakan ‘Kalian akan menyesal kalau menceritakannya pada orang lain’. “Dia bilang ada barang miliknya yang berlubang, jadi…” Jelas Yoona sambil membentuk sebuah lingkaran ditangannya. Tampaknya Junghyo tidak sama sekali mengerti penjelasan Yoona yang asal-asalan itu.

“Apa, sih, maunya? Sampai-sampai dia melarangku datang kemari…” Ucap Junghyo kembali larut dalam masalah ini.

“Jangan-jangan… cincin itu untuk nona Junghyo?” Bisik Yoona pada Chanyeol.

Pip Pip Pip~

“Kamu punya telepon internasional?” Tanya Yoona pada Chanyeol yang sedang ingin mengangkat telepon dari seseorang.

“Ini pemberian Kai, kalau-kalau dia ingin menemuiku.” Jelas Chanyeol.

Chanyeol : Halo?

Someone on the phone : Kau adiknya Kai?

Chanyeol : Ah.. maaf, sinyalnya tidak begitu bagus.

“Cepat rekam!” Seru Chanyeol sebelum ia melanjutkan acara telpon-telponnya dengan seseorang yang sepertinya salah satu dari perampok yang menyandera Kai. Ide yang pintar, Chanyeol-ah!

Chanyeol : Halo? Anda bisa mendengarku? Kai itu kakakku. Anda siapa?

Someone on the phone : Saat ini aku ada disamping kakakmu.

Chanyeol : Oh! Teman kakak, ya? Apa dia baik-baik saja? Ibu kami sangat khawatir..

Someone on the phone : Mwo? Ibunya khawatir?

“Aku tidak bisa memaafkan orang yangmembuat ibunya sendiri khawatir!” Ucap Joonmyeon sambil menatap tajam Kai. Kai hanya dia seribu bahasa karena kebingungannya.

Someone on the phone : Sampaikan pada ibumu kalau kakakmu baik-baik saja!

“Memang kenapa dengan ibunya?” Tanya Yoona.

“Pria Italia itu terkenal lemah pada Ibunya. Jadi, dia berkata seperti itu supaya si pelaku tidak melukai direktur Kai.” Jawab Junghyo.

Someone on the phone : Kami telah menculik kakakmu. Kalau ingin dia selamat, siapkan uang sebanyak seratus ribu euro. Lalu, siang dua hari lagi bawa uang itu ke

“Sebaiknya dimana?” Tanya Joonmyeon.

“Bagaimana kalau kastil Sforza, tempat pariwisata yang terkenal di Mila? Orang Amerika pasti tahu tempat itu.” Usul Sehun.

Someone on the phone : Ok! Bawa uang itu ke kastil Sforza.

Chanyeol : Apa Kai hyung baik-baik saja? Aku ingin dengar suaranya

“Katakan sesuatu.” Ujar Joonmyeon sambil menyodorkan ponselnya pada Kai.

Someone on the phone (Kai) : Ya! Kau bisa mendengarku? Cepat berikan uang itu! Mereka sungguh-sungguh ingin membunuhku! Benar-benar seperti kelompok Trio Sonata!

“Trio Sonata?” Yoona menaikkan sebelah alisnya.

“Itu istilah untuk orkesta kamar yang mulai berkembang sejak zaman Barok.” Jelas Junghyo.

Someone on the phone : Arasseo? Kutunggu kalian membawa uang itu dua hari lagi.

Pip~

“Direktur diculik?” Ucap Junghyo, wajahnya semakin khawatir akan keadaan Kai.

“Tapi dengan begini kita berhasil mendapat petunjuk, kan?” Ucap Yoona.

“Untung mereka memilih kastil Sforza. Kastil itu dikelilingin tembok yang sangat tinggi, si penjahat tidak ada bedanya dengan tikus yang terperangkap!” Ucap Kyungsoo bersemangat lalu berlalu.

“Segera kerahkan seluruh anggota kita.” Ucap Kyungsoo pada anak buahnya.

Chankamman!” Seru Chanyeol.

“Ditangan mereka ada seorang milyuner, tapi kenapa mereka Cuma minta tebusan seratus ribu euro?” Ujar Chanyeol. *1 euro = RP. 11.000* “Berarti si pelaku tidak tahu siapa sebenarnya Kai..” Lanjutnya.

“Tolong jangan sampai mereka tahu siapa sebenarnya yang diculiknya.” Ucap Chanyeol. Terlihat keseriusan diwajahnya.

“Dan satu lagi. Tolong bawakan rekaman dari kamera pengintai di bank itu.”

“Video kamera pengintai? Bukankah wajah si pelaku tidak terlihat karena memakai topeng?” Tanya Kyungsoo.

“Saya juga minta rekaman itu.” Ucap Junghyo yang tiba-tiba berada diantara mereka.

“Baiklah.” Jawab Kyungsoo.

*******************

“Begitu mendapat uang, kita langsung kabur ke luar Negeri.” Ucap Joonmyeon.

“Tapi hyung… tetap saja bank tidak akan mengembalikkan uang itu. Padahal mereka telah menipu kita.” Ucap Baekhyun.. sedih, sepertinya.

“Memangnya apa yang telah dilakukan bank?” Tanya Kai yang tertarik dengan pembicaraan Oh bersaudara itu.

“Selama ini mereka terus membujuk kami dengan kata-kata manis!” Ucap Joonmyeon ketus.

“Kami tiga bersaudara memiliki usaha kecil pembuatan barang-barang dari kulit yang cukup sukses. Lalu, pihak back mengusulkan supaya kami memperluas usaha dengan modal pinjaman dari mereka.” Joonmyeon memulai cerita.

“Akibat diberlakukannya mata uang Euro, Italia mengalami penurunan tingkat bunga uang. Pihak bank yang terkena dampaknya meminta kami mengembalikan modal pinjaman itu.” Ucap Baekhyun.

“Lalu, dengan sewenang-wenang mereka menyita pabrik kami.” Lanjut Sehun, terdengar kepasrahan dari suaranya.

“Hingga kami kehilangan pekerjaan.” Ucap Joonmyeon.

“Karena itulah, kami berniat mengambil kembali uang itu!” Seru Baekhyun.

“Tapi, perbuatan kalian itu melanggar hukum.” Jawab Kai santai serta cuek.

“Jangan bercanda!” Teriak Joonmyeon. “Coba lihat tanganku yang setiap hari harus mengerjakan bahan-bahan kulit ini.” Lanjutnya sambil menaruh salah satu tangannya tepat dihadapan wajah Kai.

“Apa menurutmu begitu mudahnya aku mengokang senjata?!” Ucapnya lagi.

“Begitu memperoleh uang, kami akan membangun kembali usaha kami! Dan tidak akan kami biarkan siapapun menghalanginya.” Seru Joonmyeon.

“Aku ingin ketemu eomma.” Suara lirih berasal dari mulut Sehun si bungsu. “Soalnya kalau pergi ke luar Negeri, aku tidak bisa ketemu dengannya lagi.” Lanjutnya. Suasana berakhir dengan haru, hiks.

*******************

Chanyeol lagi-lagi kembali memutar ulang rekaman CCTV ditempat kejadian untuk melihat adakah petunjuk-petunjuk yang ditinggalkan si pelaku. Dia menyusuri setiap layarnya tanpa kedip. Menurut Yoona, itu terlalu rajin.

“Ya, seratus euro dalam bentuk kontan.. apa bisa saya terima uang itu besok siang? Terimakasih.” Terdengar suara Junghyo yang sedang menelepon seseorang untuk mengirimkan uang yang diminta si pelaku.

“Bagaimana?” Tanya Yoona yang sudah bosan bersama Chanyeol yang terus-menerus memutar rekaman itu.

“Sepertinya masih bisa.” Jawab Junghyo sambil mengelap keringat yang muncul disekitar keningnya.

“Istirahatlah dulu sebentar.” Ucap Yoona.

“Kenapa direktur tidak meneleponku, melainkan dia?” Ucap Junghyo sambil menunjuk Chanyeol. Yang ditunjuk pun ikut menoleh.

“Eh?” Terlihat kebingungan diwajah Chanyeol juga Yoona.

“Mungkin dia sudah tidak percaya padaku lagi?” Celetuk Junghyo.

“Bukan begitu.” Jawab Yoona sambil menimang-nimang jawabannya. “Mungkin karena dia tidak ingin memperlihatkan sisi lemahnya di saat seperti ini.” Ucap Yoona.

*******************

Terlihat seorang wanita yang sudah tidak bisa dikatakan ‘muda’ lagi didepan rumahnya duduk tenang melihat keadaan halaman depan rumahnya, sesekali tersenyum.

Eomma.” Meski sudah dikatakan ‘berumur’, wanita itu tidak tuli untuk mendengar panggilan dari suara yang selama ini ia rindukan. Wanita itu menoleh, menemukan apa yang ia rindukan selama ini.

“Joonmyeon-ah! Baekhyun-ah! Sehun-ah!” Teriaknya seperti disaat-saat ia muda. Betapa senang ia hari itu.

***

“Jadi, karena rencana merampok bank gagal, kalian menyandera pria ini dan minta uang tebusan?” Tanya eomma mereka dengan nada bingung. Kai pun mengangguk menyetujui perkataan eomma Oh bersaudara tanpa menunggu jawaban dari yang ditanya.

“Semuanya pasti beres, deh, eomma!” Jawab Joonmyeon. Dia terlihat lebih senang saat bertemu dengan eommanya, seperti saat ini, dia terlalu bersemangat.

“Lebih baik longgarkan saja ikatannya… toh, dia tidak akan bisa lari disini.” Ucap eomma mereka. “Lagi pula, kalau diikat seperti itu dia tidak bisa makan.” Lanjutnya. Dengan kesal Joonmyeon melepaskan ikatan Kai.

“Kasihan kalau sampai mati kelaparan.” Ucap wanita itu lagi.

“Begitu mendapat uang, kami akan kembali membangun pabrik itu.” Ucap Baekhyun.

“Kami akan mengajak eomma kalau semuanya berjalan lancar.” Lanjut Sehun dengan nada penuh kesenangan.

Gomawo… kalian memang anak-anak yang baik.” Tertari sudut diantara bibir wanita itu.

“Yang seperti itu sudah pasti gagal.” Suara Kai memang menganggu kesenangan yang sedang melanda diruangan ini, yah.

“Orang yang terlalu memperhatikan sesamanya.. tidak mungkin bisa mengatur uang dengan benar.” Ucap Kai lagi dengan cueknya.

“Apa kata kau?!” Seru Baekhyun, sedikit membuat Kai terkejut. “Sudahlah, Baek-ah.” Sergah wanita itu sabar.

“Sepertinya kau tipe orang yang mengukur segalanya dengan uang, ya?” Ucap wanita itu pada Kai. “Tapi… aku bersyukur Tuhan telah memberiku anak-anak yang baik seperti mereka.” Lanjutnya.

“Huh, makanya sudah kubilang tidak mungkin mereka…” Kata-kata Kai tergantung ketika dia menyadari suara dari benda yang jatuh.

“Celaka!” Kai berkata dalam hatinya.

“Wow! Berlian yang sangat besar.” Ujar Joonmyeon yang mengambilnya lebih dulu.

“Pasti palsu!” Seru Baekhyun. “Benar! Tidak mungkin orang bodoh seperti dia bisa membeli yang asli.” Ucap Sehun menunjuk berlian dari cincin itu.

“Kurang ajar!” Lagi-lagi Kai berkata dalam hatinya.

“Coba kulihat.” Wanita itu mengambil berlian itu dan memastikan apakah benar itu palsu atau sebaliknya. “Ini Cuma kaca biasa. Boleh kuminta?” Lanjutnya.

“Enak saja!” Kai hanya bisa menolak dalam hatinya.

“Ya…”

Jinjja? Kalau begitu, benda ini jadi milkki. Toh, sepertinya tidak begitu penting bagimu.”

“Kau memang tipe orang yang mengukur segala sesuatunya dengan uang. Tapi, kau tidak bisa melakukannya pada sesuatu yang kau sukai!” Serunya. “Kalau kau tidak menginginkannya kembali, berarti benda ini tidak pernah ada artinya bagimu.” Lanjut wanita itu sampai membuat Kai sempat bingung.

*******************

“Kubawakan ini dari ruang makan.” Ucap Yoona menghampiri Junghyo yang berada diruang depan.

“Anda baik-baik saja? Sepertinya anda nyaris tidak tidur.” Ucap Yoona.

“Ini sudah biasa.” Jawab sekretaris itu sambil tersenyum manis, memang terlihat wajah letihnya disana. “Melainkan jadwal rapat, bertengkar dengan pegawai, benar-benar merepotkan.” Lanjutnya.

“Lalu kenapa anda terus bekerja sebagai sekretaris Kai?” Tanya Yoona sambil memasang wajah jengkelnya. Menurutnya untuk apa kita bekerja pada orang yang tidak menghargai apapun yang kita lakukan, seperti itu kurang lebih.

“Aku juga pernah berpikir begitu. Kenapa?” Jawab Junghyo sambil menatap lurus kedepan tanpa menatap Yoona.

Flashback~

“Apa kau tidak sadar sudah memecat enam orang sekretaris?!” Teriak seseorang frustasi.

“Aku tidak memecatnya.” Jawab seseorang yang sedaritadi santai duduk dimejanya sambil memainkan permainan di PSPnya. Kai. “Dia sendiri yang minta berhenti.” Lanjutnya cuek tanpa merasa bersalah sedikitpun.

“Pokoknya, sekarang kau harus mewawancarai calon sekretaris barumu.” Ucap orang itu lagi.

“Permisi. Saya datang untuk wawancara.” Seorang wanita berambut coklat yang digerai masuk keruangan itu dan menjelaskan maksud kedatangannya.

“Ah, chankamman.” Ucap orang yang mengatur Kai itu. “Bagaimana?” Tanyanya beralih pada Kai.

Arrghhh!” Geram Kai sambil melempar PSPnya yang sukses mengenai pipi pria dihadapannya itu.

“Gara-gara kau bicara terus, aku jadi kalah!” Teriaknya lalu hendak berlalu. “Benar-benar bikin marah saja!” Serunya. Sedikit terkejut Kai saat melihat sesosok wanita dihadapannya, namun dia melanjutkan apa yang harus ia lakukan saat itu.

Sentuhan lembut yang hinggap ditangan Kai membuat dia berhenti dan menoleh pada empunya tangan itu, Junghyo si calon sekretaris. Kai menatap kesal wanita itu. “Minta maaflah padanya. Kalau tidak, kelak anda akan menyesal.” Ucap wanita itu.

Entah apa yang terjadi pada diri Kai, dia begitu saja menuruti perkataan Junghyo. “Aku minta maaf!” Teriaknya.

Gwenchanayo.” Jawab pria tadi, dia tak bisa mnyembunyikan rasa terkejutnya terhadap Kai.

“Dan kau, mulai besok, kau jadi sekretarisku!” Seru Kai membuat wanita itu terkejut.

Flashback off~

“Eh?! Orang seperti Kai mau merendahkan diri seperti itu?” Tanya Yoona saking terkejutnya.

“Yah… walaupun sering membuat orang lain khawatir, dia itu orang yang jujur.” Jawab Junghyo sambil tersenyum.

*******************

“Kau mau tinggal disini?” Tanya Joomyeon pada adik bungsunya yang tiba-tiba membuat rencana aneh.

“Aku tidak bisa meninggalkan eomma sendirian.. jadi, aku mau tinggal disini saja.” Jawab Sehun.

“Aku mengerti perasaanmu, Sehun-ah. Tapi, indentitasmu sudah diketahui oleh sandera kita juga soal rumah ini…” Ucap Joonmyeon memeringati adiknya itu. “Kalau kita lepaskan dia, bisa-bisa kau malah ditangkap polisi.” Lanjut Joonmyeon sambil menatap tajam Kai.

“Jangan cemas…” Ucap seseorang, eomma mereka. “Tidak masalah kalau aku harus tinggal seorang diri.” Lanjutnya.

“Tapi…” Sergah Sehun. Dia begitu menyayanginya.

“Bodoh! Kalau kalian begitu cemas, kenapa tidak ajak saja eomma kalian sekaligus?!” Seru Kai sebal.

“Lebih baik kalian ceritakan saja rencana itu padanya! Bahwa kalian bermaksud mengambil uang tebusan di Milano!” Teriak Kai membuat wanita tua itu terkejut.

“Kenapa kalian ingin melarikan diri dari pusat kota seperti itu?” Tanya eomma mereka.

“Soalnya kami pikir tidak masalah kalau memakai itu.” Ujar Joonmyeon sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal saat itu.

“Bodoh! Jelas-jelas kalian tidak boleh memakainya!” Seru wanita itu.

******************

Pip Pip Pip~ Handphone Chanyeol kembali berbunyi.

Chanyeol : Halo?

Someone on the phone : Dengar baik-baik! Kami memutuskan untuk memindahkan tempat transaksi kita yaitu, di Venesia, Italia. Disana ada jembatan Rialto yang terkenal. Kami akan menukar sandera dengan uang ditempat itu. Sesuai perjanjian, waktunya ditetapkan besok siang.

Chanyeol : Kenapa kalian memindahkan tempat transaksi?

Someone on the phone : Huh, kalau kami ngotot melakukannya di kastil, itu sama saja seperti tikus masuk perangkap! Selain itu, kami minta uang tebusan dinaikkan menjadi dua ratus ribu euro, dalam bentuk sepuluh ribu euro yang dimasukkan kedalam dua buah kopor! Kami akan melepaskan sandera begitu uang kami peroleh. Arasseo?

“Kenapa tiba-tiba mereka menaikkan jumlah uang tebusan?” Junghyo bingung.

“Jangan-jangan mereka sudah tahu siapa Kai sebenarnya…?” Cemas Yoona. Melihat mata Yoona yang hampir keluar, malah membuatnya semakin lucu.

“Tidak. Kalau begitu, pasti mereka tidak akan bertindak diam-diam seperti ini.” Ucap Chanyeol kemudian.

“Jadi, kenapa mereka mengubah tempat transaksinya?” Tanya Yoona yang semakin bingung. Ingat, dia tidak sepintar Chanyeol?

“Coba kita lihat peta..” Ucap Chanyeol. “Milan terletak di daerah pedalaman, sedangkan Vinesia terletak didekat laut dan memudahkan mereka untuk lari keluar negeri. Dan masih ada jembatan Rialto. Jembatan itu memiliki bentuk unik dan terletak disisi baray bangunan kota.” Jelas Chanyeol sambil memainkan jarinya dipeta.

“Karena posisinya, bangunan itu akan menganggu penglihatan mereka yang berniat menyeberangi jembatan. Dan posisi bnagunan akan semakin tinggi di bagian tengah hingga kedua sisi jembatan akan menjadi sudut mati.” Ucap Chanyeol lagi.

“Kalau si pelaku berniat memanfaatkan sungai yang mengalir dibawah jembatan, disitulah letak masalahnya!” Seru Chanyeol.

“Coba perhatikan peta ini sekali lagi.” Perintah Chanyeol membuat semua yang disana mendekat. “Jembatan Rialto diabngun melintasi sungai sampai ke stasiun Santa Lucia. Mungkin pelaku akan melarikan diri dengan memanfaatkan jalur kereta api disini.” Telunjukknya sangat mahir menunjuk gambar-gambar yang termuat dipeta itu.

“Atau bisa juga mereka memakai jalur air yang melintasi kota kalau benar mereka berniat kabur keluar negeri…” Ujar Chanyeol sambil menimang-nimang.

“Apa yang tidak kau mengerti?” Tanya Yoona.

“Aneh.” Singkat kata Chanyeol. “Sepertinya.. ada seseorang yang telah mengubah rencana awal mereka.” Lanjutnya.

“Jangan khawatir!” Seru Kyungsoo. Semua pun menoleh padanya. “Kami akan mengawasi seluruh pelosok kota! Pasti mereka akan segera tertangkap.” Lanjutnya.

“Kau bertugas berdiri di jembatan itu!” Suruh Kyungsoo pada salah satu anak buahnya yang kebetulan sedang bersamanya itu. “Dan jangan bersuara! Jangan sampai mereka tahu kau bukan orang yang mereka tuju!” Lanjutnya.

*******************

Saat ini mereka sedang melaksanakan rencana mereka di Jembatan, memauntau dari jauh anak buah komisaris Kyungsoo. Anak buah Kyungsoo itu melirik jamnya untuk memastikan dia berada dijam yang benar.

“Itu dia!” Seseorang mengejutkannya. “Ini.” Lanjut orang itu membuat anak buah Kyungsoo itu kebingungan.

“Kami dimintai tolong oleh orang yang bertopeng yang ada diseberang jembatan untuk menyerahkan surat ini.” Ucapnya lagi lalu berlalu.

“Ini sebuah surat.” Ucap bawahan Kyungsoo yang bernama Luhan itu terlebih pada alat yang membuat dia bisa berhubungan dengan Kyungsoo.

“Apa yang tertulis didalamnya?” Tanya Kyungsoo yang rupanya sudah mendengar penjelasan bawahannya itu.

Ada sebuah gondola yang akan melewati jembatan. Serahkan satu dari dua koper itu pada pendayung gondola yang memakai topi merah. Lalu berikan kopor kedua pada pendayung berikut yang memakai topi biru.

Terlihat seorang pendayung gondola yang sedang menuju jembatan yang sedang dipijaki bawahan Kyungsoo, dia memakai topi merah. Itu dia! Pendayung itu menatap orang yang diatasnya—diatas jembatan—yang tak lain adalah bawahan Kyungsoo. Hap! Orang itu mendapat kopernya.

“Bagaimana sekarang, inspektur?” Tanya anak buah Kyungsoo yang lain.

“Kejar dia! Tapi, jangan sampai ketahuan. Gunakan motor boat!” Jawab Kyungsoo menyuruh anak buahnya yang lain.

“Berikutnya pendayung bertopi biru… dia ada di dermaga!” Seru Kyungsoo yang melihat seseorang dalam gondola yang memakai topi biru dengan pakaian yang sangat tertutup, dari kaca pembesar—binocular. Tidak terlihat wajahnya sama sekali. Dia terus saja menunduk.

“Apa perlu kami menangkapnya?” Tanya anak buah Kyungsoo yang sedang berjaga di dekat dermaga, Kris.

“Tunggu! Sandera masih dalam bahaya.” Jawabnya. “Petugas motor boat! Sisanya kami serahkan padamu.” Lanjut Kyungsoo pada Lay yang sedang mengejar salah satu pelaku.

“Siap!” Jawab Lay.

Kris terus saja mengikuti pelaku itu dengan perlahan namun pasti. Sangat terkejut dirinya mengetahui ia kehilangan jejak si pelaku. Sial! Umpatnya.

“Kalian kehilangan jejak si pelaku?!” Geram Kyungsoo kesal. “Apa yang…. tunggu! Jelas si pelaku menaiki gondola! Tidak mungkin melarikan denngan itu. Pasti mereka berniat menggunakan kereta api!” Seru Kyungsoo.

“Grup satu dan dua! Cepat pergi ke stasiun Santa Lucia!” Seru Kris.

“Jelas ini perangkap pelaku. Para petugas yang sudah disiapkan jadi tercerai berai.” Ujar Chanyeol. “Pak Inspektur! Tolong tangkap pendayung gondola yang memakai topi biru.” Lanjut Chanyeol.

“Tapi sanderanya…”

“Tidak masalah.” Jawab Chanyeol.

********************

“Kami tidak menemukan orang yang mencurigakan di stasiun.” Terdengar laporan.

“Jadi kami harus menangkap tukang gondola itu?” Tanya Kris.

Akhirnya Kris berjalan menuju dermaga bersama salah satu anak buah Kyungsoo yang bernama Xiumin.

Ahjussi, boleh saya menumpang gondola anda?” Tanya Kris berbasa-basi pastinya.

BRAKKK! Dipukulnya tukang gondola itu dan terlihat wajahnya yang ternyata Kai yang dibungkus kain yang menyelimuti tubuhnya juga ikatan kencang ditubuh serta selotip dimulutnya. Kai menatap tajam Kris karena sudah membuat dirinya terkejut serta merasa sakit dibagian punggungnya.

“Kami berhasil menemukan sandera. Ternyata dialah pendayung gondola itu.” Ujar Kris.

“… Lalu bagaimana dengan uang ini?” Tanya Luhan lewat benda yang melingkar dekat wajahnya.

Mereka pun segera turun dan berlari ke dermaga untuk menemui Kai serta melihat kondisinya.

“Direktur Kai!” Teriak Junghyo sambil tersenyum senang.

“Oh. Tidak kusangka kalian bisa menemukanku secepat ini.” Ucap Kai sambil tertawa.

PLAKK! Tamparan dahsyat dari Junghyo mendarat tepat dipipi kanan Kai.

“Anda sudah keterlaluan! Apa anda tidak tahu kami sangat khawatir?!” Teriak Junghyo sesaat setelah menampar Kai dan sukses membuat semua yang berada disana terkejut termasuk Kai yang sekarang sedang mengosokkan pipinya dengan tangannya.

“Baru ditinggal sebentar saja, anda sudah berbuat seenaknya! Kesabaranku juga ada batasnya! Sekarang terserah anda mau melakukan apa!” Lanjut Junghyo kemudian berlalu. Wow! Sukses membuat Kai ternganga.

“Lebih baik kita pergi ke kantor polisi dulu.” Usul Kyungsoo.

“Chanyeol-ah, cepat lakukan sesuatu!” Seru Yoona.

“Sekarang tidak ada yang bisa kulakukan. Ini bukan saat yang tepat karena nona Junghyo sedang sangat marah.” Jawab Chanyeol. “Lagipula aku masih harus memerika sesuatu.” Lanjutnya.

“Soal si pelaku?” Tanya Yoona lagi.

Ne. Kemana perginya si pelaku? Dan bagaimana cara mereka menghilang?” Jawab Chanyeol. “Ada yang ingin kubicarakan dengan Kai. Mungkin dari situ kita bisa berharap mengetahui identitas si pelaku.” Ucap Chanyeol lagi.

*********************

Saat ini Chanyeol, Yoona, Junghyo, serta Kai sedang menelusuri jalan si pelaku kemarin yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak, dengan gondola. Mereka mencoba memecahkan misteri (?) ini karena ajakan Chanyeol.

“Pelaku tiba-tiba menaikkan jumlah uang tebusan 200 ribu euro. Tapi, mereka tidak mengambil seratus ribu sisanya. Apa maksud semua ini?” Chanyeol memulai pembicaraannya.

“Mungkin itu umpan untuk mengulur waktu?.” Junghyo angkat bicara.

“Benar! Sejak awal si pelaku hanya menginginkan seratus ribu euro dan berkat itulah, polisi berhasil menemukan Kai yangmengenakan topi biru dan terus menunggu di dermaga.” Ucap Chanyeol. “Tapi, apa tujuan mereka mengulur waktu?” Tanya Chanyeol penuh misterius.

“Ah.. gondola pelaku menghilang di sekitar sini.” Ucap Chanyeol kemudian.

“Jadi, kenapa si pelaku mengulur waktu?” Tanya Yoona.

“Kau tidak tahu, Yoona-ya?” Tanya Chanyeol sambil tersenyum penuh arti. Yoona menggeleng kuat serta memaksa Chanyeol memberitahu semua yang ia tahu, segera.

“Karena bangunan-bangunan di Venesia didirikan diatas air, ada bagian dari bangunan itu yang tidak bisa didiami.” Jelas Chanyeol.

“Misalnya seperti tempat ini…” Ucap Chanyeol sambil mendayung kesuatu rumah lalu membuka pintunya dengan menggunakan pendayung untuk mendorongnya. Terlihat lorong disana.

“Gondola si pelaku!” Pekik Junghyo sambil menunjuk sebuah gondola tanpa ada yang menaikinya.

“Pelaku menukar perahu disini. Itulah sebabnya kenapa mereka mengulur waktu.” Ujar Chanyeol. “Setelah naik ke kapal yang akan mereka untuk kabur ke luar Negeri, mereka keluar dari dalam rumah dan muncul di pintu yang ada disisi lain.” Jelas Chanyeol.

“Kalau dibandingkan dengan peristiwa perampokan bank yang tidak terencana, yang satu ini sepertinya sudah diatur dengan rapi oleh seseorang.” Ucap Chanyeol lagi sambil tersenyum.. puas?

“Percuma saja kau bicara seperti itu sekarang. Toh, mereka sudah lari.” Ucap Kai cuek. Selalu saja bertindak seperti itu.

“Ada dua alasan menapa aku berniat mengejar si pelaku.” Ucap Chanyeol. “Pertama, demi keamanan diri Kai. Dan yang kedua, karena kekhawatiran nona Junghyo. Tapi karena sekarang kedua alasan itu sudah tidak berlaku lagi, aku sudah menceritakan semuanya pada polisi supaya mereka bisa menangkap si pelaku. Dan aku bersungguh-sungguh kau tidak berpikir aku akan melewatkan petunjuk itu, kan?” Lanjutnya khususnya pada Kai.

“Ok! Biarlah pembicaraan barusan hanya kita yang tahu.” Ucap Chanyeol sambil tersenyum dan berniat kembali. Yoona sampai tidak berkedip mendengar penjelasan Chanyeol yang sebenarnya belum sepenuhnya dia mengerti.

*******************

“Hahaha! Dengan uang ini kita bisa hidup enak!” Seru Joonmyeon senang.

“Lho? Bukankah kita berniat membangun pabrik kembali dengan uang itu?” Tanya Sehun sambil mengernyitkan dahinya.

“Aku cuma bercanda.” Jawab Joonmyeon sambil terkekeh.

Tiba-tiba ….

“Sepertinya kalian sedang bersenang-senang.” Ucap seseorang yang tiba-tiba datang, Kai. Tampak keren dengan pakaian jas-nya. Semua—si pelaku perampokan—sangat terkejut dengan kedatangan Kai yang tiba-tiba.

Nneo! Kenapa ada disini?” Suara Joonmyeon bergetar.

“Ini semua berkat kepintaran kenalanku.” Jawab Kai sambil melirik Chanyeol yang berada dibelakangnya.

“Lalu kami mengikuti kalian sampai kemari.” Lanjut Chanyeol yang sudah mensejajarkan dirinya dengan Kai.

“Waktu pertama kali menelepon.. Trio Sonata, mengapa Kai mengatakan demikian? Walaupun ada kata trio, sebenarnya sebuah kelompok Sonata terdiri dari empat orang. Lalu, aku melihat rekaman kamera pengawas bank dan di situ terekam sosok tiga orang perampok.” Ucap Chanyeol mulai menjelaskan.

“Tapi, kenapa mobil itu bisa melaju… padahal ketiga orang itu tidak duduk di kursi pengemudi? Ini berarti ketiga perampok yang dilihat Kai sebenarnya ada empat orang. Dan si orang keempat yang pergi ditengah jalan itulah yang memberi tahu cara meloloskan diri dari kepungan dan bahwa kastil Sforza bukan tempat yang ideal untuk mengambil uang tebusan.” Lanjut Chanyeol mulai serius.

“Teman kalian itu adalah seorang anggota kepolisian sendiri. Aku mengikuti orang itu setelah menyelidiki siapa anggota polisi yang langsung minta cuti begitu kasus itu berakhir.  Demikian akhir dari penjelasanku.” Ucap Chanyeol sambil tersenyum penuh arti.

“Apakah anda yang membuat rencana ini?” Tanyanya pada wanita tua yang sedang duduk tenang yang sedaritadi mendengar ocehan Chanyeol.

“Bukan.” Jawab wanita itu.

“Saya mengerti.. Lagipula, Kai juga punya andil di dalamnya.”

“Direktur!” Teriak Junghyo membuat Yoona dan lainnya menutup telinganya rapat-rapat.

“Apa boleh buat! Daripada membiarkan nyawaku terancam gara-gara rencana mereka gagal, lebih baik aku menyuruh mereka minta uang tebusan!” Jawab Kai sambil menoleh kearah lain.

“Oh.” Joonmyeon jatuh terduduk. “Ternyata.. Impian membangun kembali pabrik itu hanya angan belakan.” Ucapnya sambil menatap koper yang sekarang diatas meja tanpa ada yang memegangnya. Baekhyun dan Sehun pun mendadak sunyi.. tentu saja.

“Kapan polisi datang?” Tanya Joonmyeon pasrah.

“Mereka tidak akan datang.” Jawab Kai.

Mwo?” Oh bersaudara terkejut.

“Uang ini akan kupinjamkan supaya kalian bisa membangun kembali pabrik kulit itu. Begitu balik moda, segera kembalikan, ya!” Ucap Kai sambil menyodorkan koper yang tadi berada ditengah meja menjadi didepan wanita tua alias eomma mereka. Semua orang disana terkejut sama seperti Oh bersaudara. Yah.. terkecuali Chanyeol.

“Lalu, tolong kembalikan benda itu!” Seru Kai pada wanita tua dihadapannya itu.

“Jadi, demi itu kau sengaja datang kemari?” Tanya wanita itu sambil tersenyum.

Ne! Sebab, itu benda yang sangat penting.” Jawab Kai.

“Jangan sampai jatuh lagi, ya.” Pesan wanita itu sambil memberikan kotak kecil pada Kai.

Kai pun membuka kotak kecil itu.

“Direktur, cincin itu…” Ucap Junghyo.

“Nih…” Ucap Kai sambil memberikan cincin itu pada Junghyo. Segitu malukah dia saat memberikan sebuah cincin didepan banyak orang sampai tidak berniat untuk menatap orang yang akan diberikan benda istimewanya itu. Dasar tidak sopan!

“Kai-ya.” Suara Junghyo. Kai menoleh. Yoona tersenyum sambil menatap Chanyeol yang membalas senyumannya.

“Tataplah aku.” Pinta Junghyo.

Kai menatap Junghyo. “Maukah kau menikah denganku?” Walaupun Kai berkata dengan cuek seperti itu, semua tahu bahwa mereka—Kai dan Junghyo—sedang dalam suasana menentukan masa depan (?).

“Aku membutuhkanmu untuk mengawasiku.” Ucap Kai lagi.

END

 

How? Apa banyak yang tahu atau pernah baca cerita-cerita seperti ini? ^^

Yang sudah pernah baca seperti ini pasti berpikir aku plagiat ya -_- ya, aku terinspirasi, eh bukan! Lebih ke aku ‘mencotek’ dan merubahnya kedalam ff korea seperti ini. ini semua mirip sama yang asli tapi aku tambahkan dan menghilangkan yang tidak perlu. Heyheyhey, bukan plagiat! Sekedar iseng.. ya.

Mirip sama yg mana? ._. Pernah baca komik Q.E.D. ? Aku suka bgt itu #gaknanya

Ya, aku ngambil disalah satu volume di komik itu J tapi tidak bermaksud plagiat -_- Cuma iseng, heheh~ Thanks for reading ^^

2 thoughts on “Labirin Venesia

  1. Itu Kai kurang cuek apa coba,, -__-
    Kalo saya jadi Kai yang disekap sama trio ganteng macem suho, bacon, n sehun, saya nggak bakalan mau pulang!! Maunya disekap terus aja!!! xD

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s