Our Destiny #4

Title : Our Destiny | Author : HCV_2

Main cast : Park Ji Eun(OC) Oh Sehun | Other cast : Kim Jong in, Luhan

Genre : Romance | Length : Chaptered | Rating : T

Disclaimer : hcvelxfo.wordpress.com

our destiny4(2)-vert

 

WARNING!! THIS NOT FOR SILENT READERS!!

 

 

Yuhhhuu~~ author abal ini akhirnya datang dengan chapter keempat dari ff Our destiny~ mungkin ceritanya makin gaje dan aneh, tapi beginilah adanya *bow bareng Luhan*

Tapi mau curcol dikit deh, author engga nyangka ini ff jd mirip sm cerita rooftop prince nya Yoochun. Ceritanya menyangkut kayak reinkarnasi gitu dah pokoknya. Apa mungkin author punya ikatan batin ya sama Yoochun? *peluk Yoochun* *dijewer Kai* Tapi seriusan ini ff murni karangan author lho ya.. entah ada yang punya pikiran sama atau engga sama si eneng author ini tapi yang jelas semoga saja ceritanya tak mengecewakan *caelah*

Udah ah! Kenapa author nista ini malah kepanjangan curcol?! Baiklah dari pada readersnya keburu kesel ngeliat curhatan author yang super duper gak penting ini, dan dari pada Sehun keburu bawa kabur Jieun, dan dari pada Kai sama Luhan keburu ngelamar author *eh?* *timpuk author pake hati Chanyeol* *waduh makin ngaco nih*

Oke deh biar cepet! Lets enjoy the story my lovely readers :*

 

 

 

Berungkali ia mengedipkan mata untuk menyadarkan diri jika yang ia lihat hanya sebuah halusinasi. Ia geleng-gelengkan kepala sambil mengucek-ngucek matanya, masih berusaha menyadarkan diri. Tapi sepertinya usahanya sia-sia.. karna yang ia lihat adalah sebuah kenyataan.

“Oh Sehun.. dan.. Taera..”

 

 

 

Chapter 4

 

Tiba-tiba saja udara sekitarnya terasa panas dan darahnya mulai mendidih lagi. Melihat bagaimana Taera menyuapi Sehun, membersihkan noda makanan disudut bibir Sehun. Dan bagaimana Taera memaksa Sehun untuk melakukan hal sama, sungguh itu berhasil membuat wajah Jieun memerah karna kesal.

“Ini pesanan anda..” ucap seorang pelayan yang menggantarkan jus jeruk yang tadi Jieun pesan.

“Terimakasih” ketus Jieun kemudian dengan cepat menarik gelas jusnya lalu menyeruputnya. Dengan sekali tarikan nafas, jus yang tadinya seukuran satu gelas panjang kini sudah habis tiga perempatnya. Sedetik itu juga Jieun merasakan kegelisahan. Ingin sekali ia berlari kebangku mereka kemudian menjambak rambut Shin Taera. Tapi dengan cepat ia tepis rencanya gilanya itu.

Sepersekian detik setelahnya, Jieun kembali tercengang. Matanya yang tadi hanya membulat, kini membesar seperti akan mencuat keluar. Dadanya bergemuruh dan dadanya seakan terhimpit tembok besar china. Kali ini satu tindakan Taera itu berhasil membuat darahnya meledak dalam otak. Dengan santainya gadis bernama Shin Taera itu mencium pipi Sehun?! Apa dia tidak tau ada seorang gadis yang sangat kesal jika ia melakukannya?!

Emosi Jieun memuncak.. dia tak tahan lagi duduk diam disana. Siwon yang baru saja datang dan akan duduk dibangkunya terpaksa membatalkan niatnya karna Jieun sudah menarik tangannya untuk pergi.

“Kita bicara diruangan oppa saja” ucap Jieun seraya berjalan keruangan Siwon sambil menarik tangan kakaknya itu. Dia sudah tak sanggup jika harus terus duduk disana dan melihat pemandangan yang meningkatkan tekanan darahnya seperti itu. Gawat kan kalau gadis itu mengamuk dan menghancurkan restorannya sendiri?

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

 

“Hey Park Jieun!” pekik dua hyun sambil menepuk kedua pundak Jieun yang sontak membuat gadis itu terlonjak kaget. Jieun pun memejamkan mata sambil mengusap-ngusap dadanya yang seketika bedetak cepat karna terkejut.

“Lihat kan.. saking asiknya melamun kau sampai sekaget itu..ckck” ucap Hyuna sambil mengambil posisi duduk disebelah kanan Jieun dan adik kembarnya mengambil posisi disayap kiri.

“Iya sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan? Apa sedang ada masalah?” tanya Hyunji dengan tampang innocentnya.

Jieun menghela nafas berlebihan. “Tidak apa-apa. Aku mamang hanya ingin melamun” Jieun pun kembali merobek-robek daun yang ia petik dari pohon dibelakangnya.

Saat itu sedang jam istirahat dan Jieun sedang menikmati ketenangannya dipinggir lapangan basket sampai akhirnya duo Hyun itu memecahkan semua ketenangan yang susah payah ia cari. Sekarang gadis itu tak perlu susah payah bersembunyi lagi baik dari Jongin maupun Sehun. Ini semua berkat Taera.. ya gadis itu lagi. Sama seperti Sehun yang pindah sekolah hanya untuk mencarinya, sekarang Taera juga pindah dari sekolah elite nya hanya agar dapat satu sekolah dengan Sehun. Sepanjang hari disekolah gadis itu tak henti-hentinya menempel pada lengan Sehun. Bahkan namja itu sampai pindah duduk lagi karna Taera memaksa agar Sehun duduk sebangku dengannya. Walau kesal tapi bagusnya sekarang Jieun kembali duduk dengan Jongin. Dan lagi.. sepertinya bukan hanya Jieun yang merasa terganggu dengan kedatangan Taera tapi semua gadis yang menggilai Sehun pun nampak kecewa.

Berkat Taera Sehun tidak bisa mengganggu Jieun lagi, dan berkat Taera yang menjauhkan Sehun dari Jieun.. membuat Jongin tidak bertindak gila lagi. Entah harus berterimakasih atau malah merasa kesal pada Taera. Yang jelas Jieun merasakan kelegaan sekaligus kesesakkan didadanya. Seperti saat ini, Jieun duduk tenang dipinggir lapangan basket sambil melihat Jongin bermain basket dengan teman-teman sekelasnya, dan Sehun.. entah kemana perginya namja itu. Jujur Jieun bingung dengan perasaannya sendiri.. disisi lain dia merasa senang Sehun menjauh darinya tapi disudut lain hatinya dia merasakan ada yang hilang dari hidupnya jika Sehun tidak didekatnya. Tapi Jieun ingin kembali berpikir jernih, setidaknya selama Sehun menjauh darinya dia bisa membangun kembali benteng pertahannya yang sempat runtuh, dan ia jamin ia akan membangun yang lebih kuat agar kharisma Sehun tak bisa menerobos.

“Ohya Jieunnie.. kemarin kami lihat kau masuk kemobil Sehun. Kau dan dia pergi kemana?” Hyuna pun membalikkan posisi duduknya menghadap Jieun kemudian menatap gadis itu dengan tatapan menyelidik.

“Eh? Itu.. kami pergi ketoko buku..” ucap Jieun berusaha setenang mungkin.

“Hanya ketoko buku? Tidak kemana-mana lagi?” kini giliran Hyunji yang bertanya.

“Tentu saja! Memangnya kemana lagi?!”

“Benarkah? Tapi aku curiga.. sepertinya hubunganmu dengan Oh Sehun sedikit.. berbeda..” ucap Hyuna agak berbisik sambil memicingkan sebelah matanya.

“Ber..berbeda apanya? Kami hanya sebatas teman” Jieun mulai goyah.. kegugupan mulai menderanya.

“Heeeyyy.. kau bahkan segugup itu! Kurasa ada yang kau sembunyikan dari kami” Hyuna mulai menggoda sahabatnya yang mulai berkeringat dingin. Dia sendiri tidak mengerti kenapa hatinya begitu takut kedua sahabatnya itu tau hubungannya dengan Sehun. Padahal dia dan Sehun memang tidak memiliki hubungan yang mengikat.

“Ya! Apa-apaan kalian. Memangnya hubungan apa yang bisa disembunyikan dengan namja GILA semacam Oh Sehun si pangeran manja tidak waras itu eoh?!”

“YA! Siapa kau bilang gila?!”

Seketika Jieun menoleh, dan matanya membulat ketika melihat Sehun berdiri dibelakangnya sambil bersedekap didada. Sedetik setelahnya Jieun kemudian mengedip-ngedipkan matanya sambil memperhatikan sebelah kanan dan kiri Sehun. Kemana Taera? Apa rantainya lepas sehingga Sehun bisa lari?

“Hey! Aku tanya siapa yang kau bilang gila?!” tanya Sehun sekali lagi sambil berjalan mendekat kearah Jieun.

“Kau! Kau yang aku bilang gila! Memangnya siapa lagi?!” Jieun bangkit dan tak mau kalah. Ia pun melipat tangannya didada seperti yang Sehun lakukan. Melihat keadaan yang mulai tak karuan, Hyuna dan Hyunji pun bangkit kemudian berdiri agak menjauh.

“Oh jadi menurutmu aku ini gila?! Karna itu sejak tadi pagi kau menjauh dariku?” ucap Sehun sambil memasukkan tangan kedalam saku celananya.

“Iya! Karna kau gila! Karna itu aku menjauh darimu” tegas Jieun sambil menaikkan dagunya. Jika dilihat sebenarnya bukan itu alasannya. Kenapa sejak tadi pagi ia terus menjauhi Sehun? Karna ia masih tak bisa melupakan kejadian direstoran kemarin. Jieun bersikap seperti seorang kekasih yang marah karna pacarnya berselingkuh. Apalagi dengan pindahnya Taera kesekolahnya membuatnya semakin geram.

“Baiklah aku akui kalau aku memang sudah gila. Dan kau tau kenapa aku menjadi segila ini?” Sehun memotong kalimatnya kemudian menghela sedikit nafas.

“Karna kau Park Jieun. Kau yang sudah membuatku gila akan apa yang disebut cinta”

 

Deg

 

Kalimat Sehun sukses membuat gadis itu mematung. Tenaganya seketika menguap terbawa angin. Wajahnya memanas dan semburat merah mulai menampakan keberadaannya. Dengan kerja keras otak Jieun mulai menelaah setiap kata yang baru saja Sehun ucapkan. Namja itu bilang apa? Dia gila karna cintanya pada Jieun? Apa ia sedang menyatakan perasaannya secara tidak langsung?! Hati Jieun berdetak cepat saat itu juga, ia berteriak dalam hati. Bahkan saking girangnya, hati Jieun seolah ingin mencuat keluar.

Tak kalah dengan Jieun, beberapa siswi yang memperhatikan mereka termasuk duo kembar Hyun pun mematung ditempat mereka masing-masing. Seakan merasakan getaran yang sama dengan Jieun, tapi bedanya getaran dihati jieun adalah getaran bahagia sedangkan getaran dihati mereka adalah getaran keretakan hati.

Saat itu juga benteng yang baru dibangun setengah jadi hancur berkeping-keping. Tidak bisa Jieun pungkiri lagi, kalau kharisma Sehun terlalu kuat untuk ia bendung. Saat sedang sibuk mengatur hatinya yang bergejolak, tiba-tiba banyak teriakan terdengar ditelinga Jieun. Tapi hanya satu yang dapat ia tangkap.. teriakan Jongin..

“JIEUNNIE!! MENJAUH DARI SITU!!”

 

Bugh

 

Sebuah bola basket mendarat dikepala belakang Jieun yang sukses membuatnya terkapar ditanah. Dalam hitungan detik sudah banyak orang berkerumun mengelilinginya. Sekuat tenaga Jieun berusaha membuka mata sipitnya, tapi tidak bisa. Bahkan suara dari orang-orang tersebut hanya tertangkap seperti dengungan ditelinganya. Pening dikepala gadis itu membuatnya kehilangan kesadaran.

 

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

[Jieun pov]

 

Dengan susah payah aku membuka mata yang sudah tertutup cukup lama. Pening masih sangat terasa dikepalaku. Perlahan tapi pasti, cahaya lampu ruangan mulai tertangkap oleh mataku. Walau masih agak buram tapi dapat aku lihat sesosok namja kini sedang menungguku dengan wajah yang nampak berharap-harap cemas.

“Jieun’ah kau sudah sadar?” ucapnya saat melihatku mulai membuka mata, nada bicaranya terdengar khawatir.

“Se..sehun?” aku pun berusaha bangun kemudian duduk diranjang UKS sekolah, dan dengan sigap Sehun membantuku yang terlihat agak tertatih.

“Bagaimana? Apa kau sudah merasa lebih baik?” tanyanya masih menunjukkan ekspresi khawatir, sampai akhirnya aku mengangguk tanda mengiyakan pertanyaannya.. dia pun menghela nafas lega.

“Sehun’ah apa kau yang membawaku kemari?”

“Iya.. awalnya aku sempat berperang dengan namja hitam itu. Tapi akhirnya dia mengalah” jawab Sehun yang kemudian sukses membuatku mengkerutkan dahi. Dia bilang tadi dia sempat berebut dengan Jongin? Bahkan dalam situasi genting seperti tadi?

“Lalu.. dimana Jongin sekarang?” aku menerawang keseluruh penjuru UKS, berharap bisa menemukan Jongin. Karna jujur.. aku mulai merasa tak tenang jika hanya berdua dengan Sehun diruangan ini. Tentu saja aku tak ingin apa yang hampir terjadi dikamarnya 2 hari lalu terulang.

“Hey bodoh! Kau lupa ini sudah jam pelajaran, tentu saja dia dikelas” decak Sehun sambil melipat tangannya didada. Dia terlihat kesal karna aku menanyakan Jongin, mungkin ia berpikir kenapa aku malah menanyakan Jongin? Padahal ada dia disana yang setia menunggu.

“Lalu kenapa kau ada disini? Seharusnya kan kau juga dikelas” aku mencibir kearahnya sambil mengikutinya bersedekap didada.

“Kalau itu beda lagi. Aku sudah minta ijin pada Victoria songsaengnim untuk menungguimu disini” ucap Sehun sambil tersenyum bangga. Sedetik aku terkekeh kemudian kembali memasang tampang dingin.

“Aku kecewa, kenapa bukan Jongin saja yang disini.. Tsk” ucapanku sukses membuat Sehun terdiam sambil memicingkan matanya kearahku. Kurasa dia mulai merasakan perasaan apa yang aku rasakan saat melihatnya bermesraan dengan Taera. Dan sungguh.. aku tertawa menang dalam hati melihat wajahnya yang memerah.

Tapi sedetik setelahnya tawa menang itu terhenti. Melihat bagaimana Sehun kini menatap tajam kearahku. Aku begitu ingat tatapan ini adalah tatapan yang sama ketika kami berada dalam kamarnya tempo hari. Hatiku pun mulai berdetak abnormal lagi, mulai membayangkan hal-hal aneh yang mungkin terjadi. Berulang kali aku mengerjapkan mata saat Sehun mulai mendekatkan wajahnya kewajahku.

“Hey Oh Sehun apa yang mau kau lakukan?”

 

“…….”

 

Semakin Sehun mendekatkan wajahnya, semakin aku bergerak mundur. Tapi sialnya, karna tembok yang ada dibelakangku membuatku tak bisa mundur lagi. Sebuah seringai tergambar diwajah tampannya, sebuah seringai yang mampu membuat degup jantungku semakin tak karuan. Sehun pun semakin mendekatkan wajahnya hingga jarak wajah kami hanya beberapa centimeter. Dan tanpa sadar aku menahan nafas saat wajah Sehun sudah semakin mendekat.

 

Cup

 

Dengan lembut Sehun mencium keningku. Sangat lembut dan aku merasakan ketulusan disana. Dapat aku rasakan hangat menjalar dalam hatiku, hangat dan nyaman.. entah kenapa rasa takut yang tadi sempat merajai hatiku menghilang seketika. Aku menikmati kecupan singkat yang Sehun berikan. Beberapa detik setelah ia melepaskan kecupannya, Sehun menatapku dengan tatapan teduhnya seraya mengelus pipiku lembut. Tatapan yang membuat hatiku terhenyak, sedetik itu juga aku sadar.. bahwa inilah Sehun. Oh Sehun yang mampu membuat hatiku merasakan apa itu yang disebut dengan cinta.

“Dengarkan aku Jieun’ah.. aku sungguh tidak suka jika kau membicarakan namja lain saat kau bersamaku. Jangan pernah membandingkanku dengan namja lain apalagi Jongin. Aku bahkan akan merasa gila jika melihatmu bersama dengan namja lain selain aku. Intinya kau hanya perlu melihatku.. melihatku yang telah memilihmu sebagai gadis yang menempati hatiku..” ucapnya sambil menangkup kedua pipiku dengan telapak tangannya yang lebar. Aku hanya terdiam.. mematung sambil mencoba menelaah ucapan Sehun dengan baik. Takut jika ada yang salah aku mengerti.

“Ohya dan satu lagi.. jangan pernah kau mencoba untuk menjauh lagi dariku. Kau tau seberapa gelisahnya aku jika kau jauh dariku? Bukankah aku sudah bilang mengatasi rasa rindu itu menyebalkan” tambahnya kini sambil bersedekap didada. Ia kembali kedalam sikap menyebalkannya. Aku pun mencibir kearahnya, baru saja aku pikir setelah ini ia akan berubah menjadi namja yang romantis.. tapi apa? dugaanku salah besar..

“Terserah saja! Aku mau kembali kekelas” aku pun turun dari ranjang kemudian berjalan keluar UKS. Dengan cepat Sehun menyusulku kemudian meraih sebelah tanganku.

“Tunggu! Kita kekelas bersama” ucapnya sambil tersenyum kemudian menyamakan langkahnya denganku.

“SEHUNNIE!!” pekik Taera dari arah belakang. Kami pun menghentikan langkah lalu berbalik.

“YA! Kau kemana saja?! Kenapa tidak masuk kelas? Kau bahkan tidak membalas pesanku” ucap Taera dengan lengkingan khasnya sembari berkacak pinggang didepan Sehun. Seketika tatapannya menajam ketika melihat tautan tangan kami.

“Tadi aku menemani Jieun” jawab Sehun ketus tanpa memperdulikan tatapan Taera yang terlihat tak suka melihat Sehun menggenggam tangan gadis lain selain dirinya.

“Ya sudah.. sekarang Jieun sudah sembuh kan? Ayo kita kekelas” Taera menyusup diantara tautan tangan kami yang sudah tentu membuatnya terlepas. Sempat kesal karna aku pikir Sehun akan kembali dikuasai gadis yang semakin terlihat menyebalkan itu. Tapi lagi-lagi namja itu berhasil membuat kejutan, dengan cepat ia menepis rangkulan tangan Taera dari lengannya kemudian kembali meraih tanganku. Aku sempat terhuyung saat Sehun menarik tanganku tapi aku berhasil menstabilkan langkahku. Kami berjalan kekelas tanpa Taera, meninggalkan gadis itu mungkin dengan sejuta kekesalan dihatinya. Dan sungguh.. hatiku bersorak melihat Sehun bersikap seperti itu pada Taera. Apa itu artinya, Sehun benar-benar sudah menetapkan hatinya untukku?

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

 

[Normal pov]

 

Tsk..Kenapa anak itu lama sekali?” decak Jieun kesal sambil mengerucutkan bibirnya.

Siang ini lagi-lagi Sehun mengajak Jieun kerumahnya. Tapi kali ini bukan dengan alasan penyelidikan melainkan karna Sehun ingin Jieun mengajarinya pelajaran fisika yang tidak ia mengerti. Awalnya Jieun sempat menolak.. tapi karna Sehun terus saja memaksanya dengan berbagai alasan mau tidak mau Jieun pun menuruti permintaan Sehun. Tapi Jieun tidak dengan gamblang menurutinya, dia sudah mengajukkan beberapa persyaratan pada namja itu untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan aneh yang akan terjadi didalam kamar itu lagi. Dia benar-benar tidak mau kejadian tempo hari terulang. Dan salah satu syarat yang dengan cepat Sehun setujui adalah syarat tidak adanya kunjungan Taera kerumah Sehun.

Sekarang Jieun sedang menunggu Sehun yang sedang mengambil beberapa buku fisika diperpustakaan rumah mewahnya itu. Sudah lewat 15 menit tapi namja itu belum juga kembali membuat Jieun agak kesal. Jieun mempoutkan bibir merah mudanya sambil membolak-balikkan halaman buku paket fisikanya, sampai akhirnya sebuah alunan merdu tertangkap oleh indra pendengaran gadis itu. Jieun pun menghentikkan kegiatannya lalu mencoba memaksimalkan pendengarannya.

 

Hari ini aku berkelana dalam ingatan ku sendiri

Aku melewati di sekitar ujung jalan ini

Kamu masih memegangku dengan erat

Meskipun aku tidak melihatmu

 

Sebuah suara merdu nan lembut diringi dentingan piano yang ia dengar, membuat hati Jieun seketika merasakan keteduhan. Tanpa aba-aba dari otaknya, Jieun bangkit kemudian berjalan keluar kamar Sehun. Seakan terhipnotis gadis itu melangkahkan kakinya menuju sumber suara indah itu.

 

 

Aku berdoa pada langit

Aku ingin lebih melihatmu dan mengenggammu

Aku ingin lebih melihatmu dan mengenggammu

Hal ini tidak bisa kulakukan

 

Langkah gadis itu pun terhenti didepan sebuah ruangan yang berjarak 4 blok dari kamar Sehun. Karna pintu ruangan yang sudah sedikit terbuka membuat Jieun mampu melihat sesosok namja yang ada didalamnya. Semakin dirajai oleh rasa penasaran, Jieun meraih kenop pintu kemudian membukanya semakin lebar secara perlahan.

“Luhan..” gumam Jieun pelan saat matanya sudah dapat mengenali namja yang sedang bersenandung tersebut. Luhan masih asik bernyanyi tanpa menyadari bahwa sekarang ia sudah memiliki seorang penonton yang terdiam karna suara merdunya.

 

Jika bukan dengamu

 Ini tidak bisa bila tanpamu

Tidak apa-apa jika aku terluka seperti ini

Hari demi hari dan tahun demi tahun

Tidak masalah jika hatiku terluka

ya, karena aku hanya mencintaimu

 

Aku tidak dapat membiarkanmu pergi

Sekali lagi aku tidak bisa hidup tanpamu

Hal ini tidak bisa kulakukan jika bukan dengamu

 

Ini tidak bisa bila tanpamu

Tidak apa apa jika aku terluka seperti ini

Hari demi hari dan tahun demi tahun

Tidak masalah jika hatiku terluka

ya, karena aku hanya mencintaimu

 

Hatiku yang terluka Berteriak padaku untuk menemukanmu

Dimanakah dirimu? dapatkah kamu mendengar suaraku? untukku…

 

Jika aku hidup lagi

Jika aku di lahirkan lagi dan lagi

Aku tidak bisa hidup tanpamu

Walau hanya sehari kau satu-satunya yang akan kujaga

Kau satu satunya yang akan ku cintai aku…

Ya karena aku sudah cukup senang bila bersamamu

 

(Translate lirik Yesung-It’s has to be you)

Setelah menyelesaikan lagunya, Luhan memejamkan mata sambil menghela nafas lega. Seakan baru saja membuang beban bersama dengan alunan lagu tadi. Dan sepersekian detik setelah Luhan menyelesaikan lagunya, tanpa sadar Jieun bertepuk tangan yang sontak membuat Luhan terkejut kemudian membalikkan tubuhnya kebelakang. Matanya pun membulat dengan alis yang terangkat melihat kehadiran Jieun disana.

“Jieun.. kenapa kau bisa ada disini?”

“Umh.. itu karna.. tadi saat dikamar Sehun aku tidak sengaja mendengar suara orang yang sedang menyanyi. Karna penasaran aku mencoba mencari sumber suara dan akhirnya aku menemukan oppa yang sedang menyanyi diruangan ini.. hehe.. maaf jika aku sudah lancang masuk begitu saja tanpa permisi” Jieun menggaruk tengkuk lehernya yang seketika terasa gatal karna canggung.

“Oh tidak apa-apa.. kau tidak perlu minta maaf. Kurasa seharusnya aku yang minta maaf karna suaraku tidak bagus” ucap Luhan sembari tersenyum canggung.

“Ahh tidak oppa! Siapa bilang suara oppa tidak bagus?! Suara oppa sangat merdu, aku bahkan sampai tak bergeming karna terlalu menikmati suara lembutmu” sanggah Jieun cepat sambil melambai-lambaikan tangannya didepan dada. Seolah mempertegas kata tidaknya.

“Begitukah? Syukurlah kalau begitu.. hehe” ucap Luhan tersipu. Seketika semburat merah tergambar diwajah manis namja berambut blonde itu, Jieun memujinya.. tentu saja dia sangat senang!

“Ohya apa oppa sering menyanyi disini?” tanya Jieun sambil menerawang kesekelilingnya. Dalam ruangan yang cukup luas itu ada beberapa jenis alat musik, Jieun pikir mungkin itu memang ruangan musik keluarga Oh.

“Begitulah.. jika aku ada waktu senggang untuk bermain musik, aku dan Sehun sering bermain bersama. Hanya sekedar hobi..”

“Ohh.. lalu apa oppa bisa memainkan semua alat musik disini?” tanya Jieun mulai antusias, melihat cukup banyaknya alat musik yang tersedia disana membuatnya kagum jika Luhan bisa memainkan semuanya.

“Tidak.. tidak semua. Hanya beberapa alat musik saja. Kalau kau? Apa kau bisa bermain musik?”

“Eh? Tidak.. aku tidak bisa bermain musik apapun hehe. Tapi sejak kecil aku ingin sekali bisa bermain piano”

“Benarkah? Kalau begitu.. apa kau mau coba bermain piano?” tanya Luhan sambil menggeser tempat duduknya seraya menepuk-nepukkan tangannya pada sisa tempat duduk disebelahnya. Meminta Jieun untuk duduk disana.

“Bolehkah?” tanya Jieun balik dengan mata yang berbinar. Luhan pun mengangguk tanda mengiyakan. Dengan cepat Jieun duduk mengambil tempat disebelah Luhan. Sedetik setelah Jieun duduk disebelahnya, dapat namja itu rasakan jantungnya mulai bertingkah abnormal.

“Ayo coba mainkan..”

Jieun membulatkan matanya saat Luhan memintanya untuk bermain. Bukankah dia sudah bilang dia tidak bisa bermain piano?

“Coba saja dulu.. nanti akan aku beritahu salahnya dimana..Hmm?” ucap Luhan sambil tersenyum manis. Senyum yang seakan meyakinkan Jieun untuk mencoba memainkan piano didepannya. Sejenak Jieun diam sambil menatap tuts-tuts piano tersebut lekat kemudian mencoba memainkannya sesuai saran Luhan.

 

Ting

 

Deng

 

Dong

 

Jreng

 

“Hahaha apa itu?!”

Luhan terkekeh mendengar musik aneh yang dimainkan gadis disebelahnya. Seketika Jieun menghentikkan permainannya lalu mempoutkan bibirnya melihat Luhan menertawainya.

“Sudah ku bilangkan aku tidak bisa main..Isshh” Jieun melipat tangannya didada, kesal melihat Luhan dengan sengaja mempermalukan dirinya.

“Kau benar-benar gadis yang polos Jieun’ah” ucap Luhan sambil berusaha menahan tawanya. Luhan mengelus puncak kepala Jieun lembut sambil tersenyum sangat manis. Jieun terdiam melihat Luhan tersenyum seperti itu kearahnya. Senyuman itulah yang selalu membuat hatinya bergejolak ketika bersama Luhan. Ia sering bertanya-tanya sendiri, Apa benar Luhan adalah manusia? Tidakkah dia seorang malaikat?

Seketika hening pun menyeruak.. menatap Jieun yang sedang terdiam menatapnya membuat Luhan tak berkutik. Terhipnotis kedua mata bening milik gadis yang mengisi hatinya itu. Sementara Jieun terdiam sambil berpikir, mencoba mengingat-ngingat kembali pertanyaan apa yang tadi ingin sekali ia tanyakan pada Luhan. Beberapa detik berpikir, Jieun langsung menjentikkan jarinya ketika sudah berhasil mengingat pertanyaan yang sempat ia lupakan itu. Luhan menaikkan kedua alisnya melihat tingkah Jieun.

“Ohya oppa, ngomong-ngomong.. lagu tadi itu oppa nyanyikan untuk siapa? Kelihatannya oppa sangat menghayati setiap liriknya..” Jieun menatap menyelidik kearah Luhan. Sementara Luhan seketika itu juga merasakan tegang dihatinya. Luhan diam dan nampak berpikir. Apa harus ia mengatakan secara langsung jika lagu itu ia nyanyikan untuk Jieun?

“Oppa..” ucap Jieun saat menyadari keheningan yang terjadi.

“Eh? Lagu itu.. aku nyanyikan untuk..” Luhan menggantungkan kalimatnya, masih berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkannya. Jieun menatap namja gugup didepannya dengan tatapan yang menuntut sebuah jawaban. Dan gadis itu sama sekali tidak sadar, kalau tatapannya yang seperti itu malah membuat Luhan semakin gugup.

 

Ceklek

 

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka lagi, dan kali ini Sehun yang menampakkan dirinya dari balik pintu. Luhan dan Jieun pun sontak mengalihkan pandangan mereka pada Sehun. Agak kesal sebenarnya.. karna Sehun tiba-tiba datang dan menngganggu suasana. Apalagi Luhan.. Sehun benar-benar mengganggu saat-saat indahnya.

“Hey! Sudah aku bilang kan jangan keluar dari kamarku sampai aku datang. Kenapa tidak mengindahkannya?” Sehun berjalan mendekati Jieun sambil berkacak pinggang. Jieun pun menghela nafas sambil memejamkan mata. Sungguh.. Luhan dan Sehun benar-benar bertolak belakang. Tidak bisakah Sehun merubah perangai buruknya menjadi selembut Luhan?

“Hey! Kau juga yang salah, kenapa mengambil buku saja lama sekali?! Aku bosan menunggumu” balas Jieun kemudian.

“Sudah jangan banyak bicara.. ayo kembali kekamarku!”

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

 

 

“Tadi saat diruang musik, kau membicarakan apa saja dengan Luhan hyung?” tanya Sehun seperti biasa dengan gaya dinginnya.

“Memangnya kenapa? Kau ingin tau sekali” celetuk Jieun tak mau kalah.

“Hey sudah sering kukatakan kan?! Kalau aku tanya kau jawab.. jangan malah balik bertanya lagi. Aissh..” Sehun memutar badannya menghadap Jieun sambil bersedekap didada.

“Lalu kalau aku tak ingin jawab bagaimana? Apa yang akan kau lakukan?” mengikuti yang Sehun lakukan, Jieun memutar badannya sambil berkacak pinggang kearah Sehun.

“Aku akan menciummu!” ucap Sehun cepat tanpa basa-basi. Ucapan yang sukses membuat Jieun menelan salivanya. Sehun tau kalau Jieun saat mengantisipasinya dalam hal itu. Dan Sehun tau kapan harus menggunakan ancaman seperti itu pada Jieun. Gadis itu pun diam kemudian menurunkan tangannya. Dia tau kalau lebih baik mengalah.. gawat kalau Sehun sampai macam-macam di lift sempit itu.

“Ta..tadi Luhan oppa hanya menggajariku main piano. Tidak lebih..” ucap Jieun gugup sambil menunduk. Sehun pun tersenyum menang karna ternyata ancamannya sangat ampuh.

 

Ting

 

Bunyi lift tersebut menunjukkan bahwa mereka sudah sampai dilantai 7 tempat apartemen Jieun. Sehun bilang dia ingin tau bagaimana tempat tinggal Jieun, karna itu ia memaksa gadis itu untuk menginjinkannya mengantar sampai kedepan rumah. Walau dengan kesal yang menumpuk diubun-ubun karna sifat pemaksa namja itu tapi mau tak mau Jieun selalu kalah darinya.

Mereka berjalan menelusuri koridor dengan suasana canggung. Ini karna ancaman Sehun yang hampir saja membuat jantung Jieun lompat dari tempatnya. Jieun jadi menjaga sikapnya didepan namja gila itu. Karna suasana hening yang menguasi, derap langkah mereka jadi terdengar menggema keseluruh penjuru koridor apartemen.

“Ini rumahku”

Mereka pun sampai disalah satu blok bernomor 56. Sehun mengangguk-anggukan kepalanya memperhatikan pintu apartemen Jieun.

“Sudah.. sekarang kau boleh pulang” ucap Jieun sembari berjalan kedepan Sehun kemudian memutar badannya berhadapan.

“Masuklah dulu.. aku akan pergi jika kau sudah masuk rumah. Aku ingin memastikanmu benar-benar selamat” ucap Sehun santai seolah tak menyadari ekspresi kesal Jieun yang sudah tergambar jelas diwajahnya. Dengan malas Jieun memencet passcode apartemennya, kemudian membuka pintu.

“Jieunnie apa itu kau?”

Baru saja Jieun membuka pintu, ternyata seseorang sudah menunggunya dirumah. Sehun mengkerutkan kening ketika ia lihat seorang namja yang paling ia benci menampakkan dirinya dibalik pintu rumah Jieun. Tapi berbeda dengan ekspresi Sehun, Jieun malah terlihat senang melihat namja itu didalam rumahnya.

“Kim..Jongin?” ucap Sehun dengan nada tak percaya. Jongin pun ikut mengernyit ketika melihat Sehun berdiri dibelakang Jieun.

“Jieunnie kenapa kau bisa pulang dengan namja aneh itu?” tanya Jongin ketus dengan tatapan tak lepas dari Sehun. Kedua namja itu pun saling menatap tajam yang mengintimidasi satu sama lain.

“Jieun’ah kenapa namja hitam itu bisa ada dirumahmu?” kini giliran Sehun yang bertanya. Jieun menghela nafas berlebihan ketika sadar akan disituasi ini. Situasi yang ia yakin tidak baik jika terus dibiarkan.

“Jongin memang sering kerumahku.. dan kenapa aku bisa pulang dengan Sehun? karna tadi aku membantunya belajar fisika dirumahnya” jelas Jieun sambil menatap Sehun dan Jongin bergantian.

“Oh.. yasudah ayo cepat masuk. Dan kau cepat pulang” celetuk Jongin. Dengan cepat ia menarik Jieun masuk lalu menutup pintu apartemen. Mata Sehun membulat.. tapi tak kalah cepat dari Jongin, Sehun menyelipkan kakinya disela pintu menggagalkan tindakan namja berambut hitam itu.

“Jelaskan dulu, bagaimana kau bisa tau passcode rumah Jieun? Dan apa yang kau lakukan dirumahnya malam-malam begini?”

“Cih.. memangnya apa urusanmu? Terserahku kan mau apa dirumah Jieun. Dan kenapa aku bisa tau passcode rumah Jieun? karna kode itu aku yang membuatnya. Sudahkan? Sekarang cepatlah pulang” ucap Jongin sambil kembali ingin menutup pintu, tapi lagi-lagi dengan cepat Sehun menariknya.

“Tidak bisa! Bagaimana bisa seorang namja dan yeoja didalam rumah berdua malam-malam begini?! Tidak! Aku tidak mengijinkannya! Kau juga harus pulang” Sehun mulai panik. Dia tak bisa terima.. darahnya seakan terpompa naik turun ketika membayangkan Jieun dan Jongin berdua dalam apartemen itu.

“Hey dengar ya?! Kau mungkin belum tau, aku dan Jieun sudah berteman sejak kecil. Dan aku sering kerumah Jieun kapanpun aku mau. Aku bahkan sudah sering menginap disini. Jadi kau tidak perlu berpikir yang macam-macam. Sekarang lebih baik kau pulang, tidak baik anak kecil berkeliaran malam-malam begini” Jongin pun akhirnya berhasil menutup pintu apartemen Jieun. Meninggalkan Sehun dengan darahnya yang mendidih. Dapat Sehun rasakan jantungnya begemuruh dengan brutal, dan entah sejak kapan wajahnya memerah karna emosi. Sehun menarik nafas kuat-kuat kemudian menghembuskannya berusaha menenangkan diri, takut jika ia mengamuk lalu menghancurkan pintu apartemen Jieun. Sehun lalu mengeluarkan smartphone hitamnya kemudian menelpon gadis yang kini membuat hatinya tak karuan

“APA! APA! APA!” ucap Jieun cepat setelah mengangkat telpon dari Sehun. Dengan cepat Sehun menjauhkan ponsel dari telinganya karna teriakan gadis itu.

“Apa? Kau tanya APA?! Cepat suruh Jongin pergi dari rumahmu! Kau gila ya? Malam-malam begini berdua dalam rumah dengan seorang namja?! Ini bisa menimbulkan kesalahan pahaman. Kau mau dianggap gadis murahan eoh?!”

“Hey dengar ya! Semua orang diblok apartemen ini sudah mengenal aku dan Jongin. Mereka sudah biasa melihat Jongin berkeliaran dirumahku! Jadi mereka tidak akan salah paham kecuali kau berkata yang macam-macam pada mereka”

“Tidak! Pokoknya tidak bisa! Suruh Jongin pulang sekarang atau..”

“Atau apa?! Kau mau apa?! Menciumku?!”

“Aku akan mendobrak pintu apartemenmu dan menyeret Jongin keluar”

“Coba saja! Dobrak kalau kau berani. Dan setelah kau melakukannya, giliranku yang akan mendobrak tulang kakimu hingga patah dan hancur berkeping-keping”

“Park Jieun!”

“Sudahlah! Jangan berteriak-teriak tidak jelas didepan rumah orang malam-malam begini! Pulang sana!”

 

Tuuut

 

Tuuut

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

 

Pip

 

“Issh dasar namja gila..” umpat Jieun setelah memutuskan sambungan telponnya dengan Sehun. Ia hanya tak abis pikir dengan perangai buruk Sehun yang hampir membuatnya gila. Jieun menghela nafas berlebihan kemudian menaruh ponselnya diatas meja.

“Dia masih belum mau pulang?” tanya Jongin dengan mata yang terfokus pada teve diruang tamu apartemen Jieun.

“Entahlah.. biarkan saja orang gila itu” Jieun menghempaskan tubuhnya kesandaran sofa yang ia duduki. Ia pijat keningnya yang seketika terasa pening karna emosi yang menumpuk diubun-ubun. Jongin melirik gadis yang terlihat kusut itu dengan ekor matanya. Setelah berpikir sebentar Jongin pun memutar posisi duduknya menghadap Jieun.

“Tadi kau benar kerumah Sehun?” tanya Jongin sambil menatap Jieun lekat.

“Iya.. dia memaksaku untuk mengajarinya palajaran fisika”

“Oh.. Jieunnie, boleh aku jujur sedikit padamu?” tanya Jongin lagi yang kini membuat Jieun menatapnya. Jieun menaikkan kedua alisnya melihat kecanggungan sahabatnya itu.

“Tentu saja boleh.. jujurlah..”

Jongin tersenyum kemudian menghela nafas, ia tatap mata Jieun lurus-lurus “Jujur.. sebenarnya aku sangat tidak suka jika kau dekat-dekat dengan namja gila itu. Aku benci melihat dia bertindak seenaknya padamu. Jadi lebih baik.. kau jauhi dia..”

“Jongin..” Jieun menaikkan sebelah alisnya mendengar kejujuran sahabatnya.

“Mungkin ini terdengar agak aneh.Yang jelas aku sangat tidak suka jika kau bersama Sehun. Darahku mendidih saat melihatmu dengannya Jieunnie. Entah ini perasaanku saja atau tidak, menurutku akhir-akhir ini kau semakin dekat dengannya. Aku cemburu dan aku kesal karna itu”

 

Deg

 

Jieun terdiam dengan mata yang membulat. Dengan susah payah ia berusaha menelaah setiap kata-kata Jongin. Kata ‘cemburu’ yang sahabatnya itu katakan sangat ambigu, membuatnya harus berpikir lebih keras untuk mencerna apa maksudnya. Dan sungguh.. kejujuran namja itu lebih terdengar seperti sebuah pernyataan.

“Ce..cemburu? Apa maksudmu?” tanya Jieun meminta penjelasan. Ia takut jika hanya menerka-menerka sendiri nanti malah menjadi kesalah pahaman.

“Eh?” kini giliran Jongin yang terdiam. Seolah baru sadar kalau ia sudah jujur terlalu jauh pada Jieun. Jongin mengalihkan pandangannya mencoba berpikir mencari alasan. Ia belum siap jika harus menyatakan perasaannya pada Jieun sekarang.

“Jongin?” tanya Jieun dengan kening berkerut saat menyadari perubahan sikap Jongin. Ia masih menunggu jawaban atas pertanyaannya.

“Ah iya cemburu.. cemburu sebagai sahabat tentunya. Sebagai seorang sahabat aku cemburu karna belakangan ini kau banyak menghabiskan waktu dengan namja aneh itu dan tidak ada waktu denganku.. hehe” ucap Jongin sambil menggaruk tengkuk lehernya kemudian tersenyum yang agak dipaksakan. Jieun pun dapat bernafas lega ketika mendengar jawaban Jongin. Jawaban yang sama dengan yang ia harapkan. Hampir saja jantungnya copot karna berpikir sahabatnya itu memiliki perasaan lebih terhadapnya.

“Oh.. kalau begitu maaf jika mungkin akhir-akhir ini aku jarang ada waktu untukmu. Tapi aku sendiri juga tidak mengerti dengan perasaanku, belakangan ini hatiku dengan mudah luluh akan namja gila itu”

“Lu..Luluh?” tanya Jongin sambil mengkerutkan dahinya.

“Iya luluh..semacam tak bisa menolaknya. Saat diawal aku memang berpegang teguh untuk menolak setiap ajakannya. Tapi saat aku sudah dihadapkan langsung dengan namja itu, seketika pertahanan itu roboh dan akhirnya aku menurutinya. Sepertinya kharisma namja aneh itu sudah berhasil mengunciku”

 

Deg

 

Jongin mematung, tak bergeming ketika mendengar perkataan gadis didepannya. Dengan santai dan lancarnya gadis itu menjelaskan perasaannya didepan Jongin. Saat itu juga Jongin rasakan hatinya bergemuruh, nafasnya tercekat hingga membuat dadanya terasa sesak. Mendengar bagaimana perasaan Jieun terhadap namja yang ia anggap sebagai saingan terberatnya membuat Jongin kehabisan kata-kata. Apa gadis itu tidak bisa membaca hatinya dari sedikit perasaan yang tadi ia lontarkan? Dan apa gadis itu baru saja secara tidak langsung manyatakan bahwa dia menyukai Oh Sehun? Oh Tuhan ingin sekali rasanya hati Jongin berteriak jika itu memang benar..

“Jongin?” Jieun melambai-lambaikan tangannya didepan wajah namja yang kini diam mematung. Sontak Jongin pun tersadar kemudian membenarkan posisi duduknya menghadap keteve yang masih menyala.

“Sudah lah.. aku lapar jieunnie. Tolong buatkan aku nasi goreng lagi” ucap Jongin berusaha senatural mungkin. Dengan susah payah ia mencoba untuk menyembunyikan rasa sakitnya. Namja itu mencoba untuk berpikir lebih jernih. Ia tidak boleh berprasangka dulu dengan kalimat yang Jieun ucapkan tadi. Mungkin saja ada maksud lain didalamnya. Dia hanya harus berpikir positive.

“Baiklah.. aku mandi dan ganti baju dulu. Setelah itu kita makan malam bersama” Jieun bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju kamarnya.

Sedetik setelah mendengar pintu kamar gadis itu tertutup. Jongin menghela nafas dalam-dalam sembari menyandarkan tubuhnya disofa.

“Jieunnie kau berhasil membuatku hampir mati. Aku mohon katakan bahwa dugaanku salah… Kau tidak menyukai Sehun kan? Aisshhh aku bisa gila!” Jongin mengacak-acak rambutnya brutal. Ia mulai merasa gila akan perasaannya sendiri. Sedetik setelahnya Jongin kemudian menegakkan kembali posisi duduknya.

“Benar.. kalau begitu aku jangan sampai salah langkah. Aku harus lebih cepat dari Oh Sehun. Siap atau tidak aku harus menyatakan perasaanku pada Jieun..”

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

 

Jongin memarkirkan motor ninja hitamnya ditempat parkir sekolahnya. Setelah terparkir rapi, Jieun pun turun dari motor Jongin sembari melepas helmnya. Tapi tak lama setelahnya, tiba-tiba sebuah mobil sport merah memarkirkan diri disebelah motor Jongin. Jieun membulatkan mata saat hampir saja mobil itu menyerempet dirinya, tapi untung saja gadis itu mampu menghindar dengan baik.

Tau siapa pemilik mobil merah tersebut Jieun pun menghela nafas berlebihan. Sepersekian detik setelahnya, keluarlah seorang namja berambut silver dari dalam mobil tersebut. Tapi satu yang membuat Jieun tak percaya, seorang gadis centil berambut hitam kemerahan juga menampakkan dirinya dari dalam sana. Tanpa basa-basi setelah mereka turun dari mobil, Taera langsung memeluk lengan Sehun dengan mesra.. walau bisa dibilang memaksa. Darah Jieun pun lagi-lagi mulai terpompa naik turun.

“Kalian nampak serasi” celetuk Jongin sembari memasukkan tangan kedalam saku celananya.

“Benarkah? Aku tau.. aku dan Sehunnie memang ditakdirkan menjadi pasangan yang sempurna” Taera mengibaskan rambutnya kebelakang seolah memamerkan rambut panjang indahnya.

“Jieunnie.. kenapa kau bisa berangkat dengan namja hitam ini?” ucap Sehun dingin sambil menatap Jongin tajam, tak memperdulikan tingkah genit gadis disampingnya.

“Memangnya kenapa? Terserahku mau berangkat dengan siapa. Memang apa urusanmu?! Ayo Jonginnie kita pergi” jawab Jieun ketus seraya berlalu dari hadapan Sehun begitu saja. Ia tarik tangan Jongin meninggalkan Sehun dan Taera. Ia hanya terlalu malas melihat pemandangan didepannya. Jongin pun mengikuti langkah Jieun dari belakang sambil tersenyum menang. Tapi dengan cepat Sehun melepas tangan Taera kemudian meraih sebelah tangan Jieun yang bebas, yang otomatis membuat gadis itu menghentikkan langkahnya.

“Tunggu! Kita jalan kekelas bersama”

Jieun menghela nafas, kemudian melirik Taera dengan ekor matanya. Taera nampak kesal karna Sehun lagi-lagi meninggalkannya. Jieun agak terhenyak melihat tatapan tajam Taera kerahnya, ia tau Taera pasti geram karna Sehun lebih memilihnya dari pada Taera. Tatapan yang dengan jelas mengisyaratkan sebuah peringatan ‘awas kau’. Sementara Sehun malah sibuk membalas tatapan tajam Jongin kearahnya.

“Hey namja gila.. jalanlah dengan gadismu itu, karna Jieun akan jalan denganku” ucap Jongin sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Hey namja hitam.. sebaiknya kau diam. Siapapun berhak jalan dengan Jieun” ucap Sehun tak mau kalah. Dan lagi-lagi seperti biasanya, dua iblis pengganggu hidup Jieun itu memulai tingkah mereka. Dan untuk kesekian kalinya Jieun menghela nafas berlebihan kemudian mendongak menatap tajam Sehun dan Jongin bergantian. Melihat tatapan tajam Jieun membuat kedua namja itu menelan salivanya dengan paksa.

“Kau tidak mau jalan dengan Taera?” tanya Jieun berusaha selembut mungkin. Ia hanya tak ingin mengamuk dihari sepagi ini.

“Tidak” jawab Sehun cepat.

“Baiklah.. kita jalan bertiga” ucap Jieun sambil melangkahkan kakinya. Jawaban yang membuat Sehun tersenyum senang sementara Jongin mencibir kesal. Bukankah seharusnya dia hanya jalan berdua dengan Jieun?

“Hey! Sehunnie!! Jangan tinggalkan aku!!” pekik Taera mencoba memanggil namja pujaan hatinya. Tapi sayang, Sehun hanya diam dan berpura-pura tak mendengar.

 

Mereka pun berjalan menuju kelas mereka bersama-sama. Jongin menggenggam tangan kanan Jieun dan Sehun mengambil alih sebelah kirinya. Jieun sudah terlihat bak seorang tuan putri yang diperebutkan oleh dua pengeran tampan.  Semua mata kini tertuju pada gadis itu, terutama para gadis yang terlihat begitu iri pada Jieun. Tapi berbeda dengan anggapan para manusia disana yang Jieun yakin menganggapnya begitu bahagia diperebutkan oleh dua pangeran sekolahnya itu, kepala Jieun malah terasa berat karna darah yang menumpuk diubun-ubun. Bagaimana Jongin dan Sehun terus melempar tatapan mengintimidasi mereka, benar-benar membuat Jieun merasa geram. Tidak bisakah mereka akur untuk sedetik saja?

“Ohya.. kemarin kau pulang jam berapa dari rumah Jieun?” tanya Sehun kembali membuka pembicaraan.

“Aku tidak pulang.. aku menginap”

“Mwo? Menginap?! Jadi semalaman kau ada dirumah Jieun?” Sehun membulatkan matanya mendengar jawaban Jongin.

“Iya.. kau pikir kenapa aku bisa berangkat bersama Jieun? Itu karna aku juga berangkat dari rumahnya”

Kini giliran darah Sehun yang terpompa kekepala. Tiba-tiba saja bayangan aneh terbersit diotak namja itu. Sehun pun dengan cepat menatap Jieun, seolah meminta penjelasan dari gadis itu lewat tatapannya.

“Kau tidak perlu berpikir yang macam-macam Oh Sehun. Aku dan Jongin tidak melakukan hal aneh seperti yang kau bayangkan” ucap Jieun malas yang akhirnya bisa membuat Sehun bernafas lega. Jongin terkekeh melihat sikap Sehun yang menurutnya kekanak-kanakkan. Otak namja itu memang pendek..

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

 

 

 

“Bibi~ aku datang~” ucap Jieun memberi salam ketika masuk ketoko bunga bibinya yang siang itu nampak sepi.

“Oh Jieunnie kau sudah datang” ucap Bibi Han yang nampak sedang sibuk mengangkut beberapa karung bunga.

“Hari ini kelihatannya sedang sepi..” Jieun menaruh tas gendongnya kemudian melepas jas sekolahnya. Ia letakkan tas dan jasnya di atas sofa lalu berjalan kearah sebuah meja panjang diruangan itu. Ia mengisi penuh satu gelas panjang dengan air putih kemudian meneguknya dengan satu tarikan nafas.

“Iyaa.. hari ini lebih banyak penggunjung yang memesan lewat telpon. Jadi kita akan sibuk mengantar pesanan”

Jieun mengangguk-anggukan kepalanya sambil membentuk huruf O pada bibirnya saat mendengar jawaban bibinya seraya meletakkan kembali gelasnya.

“Ohya.. tumben hari ini kau tidak pergi dengan Sehun? Apa kalian sedang bertengkar?” ucap wanita itu sambil menyelidik kearah Jieun yang membuat gadis itu menaikkan kedua alisnya. Kalimat bibinya terdengar seolah dia dan Sehun itu adalah sepasang kekasih.

“A..apa maksud Bibi? Memangnya kenapa kalau aku tidak pergi dengan namja aneh itu?! Bukankah bagus.. jadi aku bisa membantu bibi disini” ucap Jieun dengan nada yang terdengar tak suka dengan pertanyaan bibinya.

“Iya iya.. bibi kan hanya bertanya. Kau ini sensitive sekali..hihihi” wanita itu terkekeh melihat bagaimana reaksi keponakannya. Ia senang karna berhasil menggoda Jieun. Jieun pun mencibir kemudian berjalan kearah ruang ganti dengan gontai. Semangat membara untuk membantu bibinya itu menguap begitu saja.

“Oya bibi akan mengantar pesanan dulu.. kau jaga toko ya?!” ucap bibi Han sebelum Jieun menutup pintu ruang ganti.

“Ne aku tau” jawab Jieun malas kemudian menutup pintu dengan rapat.

 

 

Beberapa detik kemudian…

Jieun keluar dari ruang ganti sambil mengikat celemeknya. Ia berjalan kepojok ruangan kemudian mengeluarkan beberapa bunga lili dari dalam karung. Gerakan tangannya tiba-tiba terhenti, ia tatap bunga lili yang ia genggam dengan tatapan sendu. Hatinya mulai bergemuruh lagi, mengingat bunga itu adalah bunga kesukaan Sehun membuat rasa rindu terbersit didadanya. Padahal baru beberapa jam setelah mereka berpisah disekolah, tapi entah kenapa hatinya sudah merindukan perangai menyebalkan namja itu.

Tidak seperti biasanya hari ini gadis itu tak dibuntuti oleh Sehun ataupun Jongin. Ini semua karna Sehun harus membantu Luhan mengurusi beberapa urusan diperusahaan. Dan Jongin? Dia juga harus ikut keluar kota dengan ayahnya untuk menemui kolega perusahaan mereka. Dan alhasil.. gadis itu pun sendirian. Jieun tidak mengerti dengan perasaannya, bukankah seharusnya dia senang karna kedua iblis itu tidak mengganggunya? Tapi gadis itu rasa dia sudah benar-benar gila karna malah merasa sedih mereka tak ada didekatnya. Kalau perasaan seperti ini pada Jongin sudah biasa ia rasakan sebatas sebagai sahabat. Tapi dengan Sehun? Entahlah..

“Ada dia kau kesal! Tapi saat dia tidak ada kau malah kesepian! Aissh.. sebenarnya apa maumu Park Jieun?!”

Jieun mengleha nafas berlebihan kemudian kembali melanjutkan perkerjaannya. Sampai akhirnya Jieun mengernyit ketika sebuah suara yang samar-samar ia kenali tertangkap telinganya. Dengan cepat Jieun menoleh untuk memastikkan dugaannya.

 

Deg

 

“Bukankah.. bukankah.. dia kakek yang waktu itu pernah menolongku?” gumam Jieun sambil menyipitkan matanya untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Kakek tersebut sedang asik melihat-lihat bunga yang ada diluar toko bibinya sambil berbicara dengan seorang namja. Entah siapa pemuda itu.. mungkin dia cucunya…

“Benar.. itu dia. Dia yang tau tentang reinkarnasi ku dengan Sehun” Jieun mengangguk-anggukan kepalanya membenarkan perkataanya sendiri. Tapi mata gadis itu seketika membulat ketika melihat kakek tersebut berjalan lurus meninggalkan toko. Tak mau kelihangan kesempatan, dengan cepat Jieun bangkit kemudian berlari keluar toko. Dia yakin kakek itu bisa membantu memecahkan keanehan yang terjadi pada dirinya dan Sehun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

¶¶¶To Be Continue¶¶¶

 

 

Oya dari kemaren-kemaren author lupa terus ni, pengen mengucapkan Thanks To buat lagu-lagu yang sudah menginspirasi saya dalam mengerjakan cerita ini :

My Reason – Kevin (Ukiss), Cactus – Woohyun ft Lucia, More Painful Than Pain – Ukiss, Don’t run away – David Archuleta, Teentop – Missing you, dan terakhir Still I Miss You – infinite

Oke itulah lagu-lagu yang author reapet kalo lagi nulis FF ini. Lagu-lagu itu istilahnya uda jadi Soundtracknya Our Destiny-lah kekeke.. tapi soundtrack aja ya engga pake original ^^

Baiklah sekian! Seperti biasa author ingin mengumandangkan semboyan saya’_’)/

NO SIDERS!! NO PLAGIAT!! HARGAI KARYA ANAK BANGSA!!

25 thoughts on “Our Destiny #4

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s