Our Destiny #3

 

Author : HCV_2
Main cast : Park Ji Eun(OC) Oh Sehun
Genre : Romance
Length : Chaptered
Rating : T
ourdestinychap3

Tapi baru saja ia menghembuskan nafas kelegaan, tiba-tiba nafasnya kembali tercekat saat melihat sebuah cairan kental yang keluar dari hidung namja yang terkulai lemas dilengannya.

 

“Ya Tuhan… Oh Sehun hidungmu berdarah!! Huaa bagaimana ini??!!”

 

“Hey! Oh Sehun ayo bangun!! Oh Sehun!!!”

 

 

 

 

Chapter 3

 

 

 

Jieun duduk dibawah sambil bersandar pada sofa dibelakangnya. Gadis itu diam sambil memandang televisi didepannya, hanya memandanginya tapi tidak mendengarkan apa yang disiarkan benda itu. Gadis itu hanya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.

 

Sedetik gadis itu menghela nafas sambil memejamkan matanya, kemudian berbalik kearah sesosok namja yang terkulai lemas diatas sofa. Ia pandangi wajah Sehun dengan seksama, setiap lekukan indah yang namja itu miliki seolah ia teliti satu persatu. Sehun sempat pingsan dan sekarang dia sedang tertidur. Terlalu lemah jika Jieun menyuruhnya pulang sendirian. Setengah jam berlalu dan ia belum juga terbangun dari tidurnya. Bibi Han juga belum datang dari kegiatan mengantar bunganya karna itu Jieun harus mengurus namja itu sendirian. Jieun berani mengurusi Sehun sendirian karna namja itu bilang dia tidak ingin kerumah sakit. Dia juga bilang dia memang sering mimisan setiap kali tubuhnya mulai lelah.

 

Jieun kembali menghela nafas kemudian mengambil smartphonenya yang tergeletak diatas meja. Bermaksud menghubungi Luhan untuk menjemput adik laki-lakinya itu. Tapi saat baru saja jari telunjuknya terangkat untuk memencet tombol call di layar ponselnya, Jieun menggeleng kemudian kembali meletakkan ponselnya. Entah sudah berapa kali dia seperti ini sejak Sehun pingsan tadi, setiap kali dia bermaksud menghubungi Luhan untuk membawa Sehun pulang.. hatinya kecilnya selalu saja membuatnya terasa berat. Hatinya seolah melarangnya untuk melakukan hal tersebut. Seolah tak ingin cepat berpisah dengan namja itu, hatinya seperti ingin terus menahan Sehun agar ada didekatnya.

 

“Aissshh..” Jieun mengacak rambutnya kasar. Merasa kesal pada diri sendiri. Kenapa setiap ada didekat Sehun dia selalu kehilangan dirinya sendiri? Pikiran dan hatinya terus saja tak bisa berjalan berdampingan.. selalu saja bertentangan. Apa yang hatinya inginkan seolah tak bisa diterima oleh pikirannya, dan apa yang ia pikirkan selalu saja bertentangan dengan hatinya. Gadis itu mulai merasa dirinya sendiri sudah gila.

 

“Jieun..” gumam Sehun disela tidurnya. Jieun terdiam mendengar Sehun memanggil namanya. Lagi-lagi menatap wajah namja itu lekat.. namja yang tiba-tiba saja muncul dalam hidupnya dan membuatnya tidak mengenal dirinya sendiri. Namja yang tiba-tiba muncul dan membuat hidupnya tidak setenang dulu lagi.

 

 

Deg

 

 

Jieun bergeming.. bergeming saat melihat seulas senyum yang dibentuk oleh bibir mungil namja didepannya. Sehun tersenyum.. senyum sangat manis. Walau gadis itu tidak tau dia tersenyum karna apa.. entah karna bermimpi indah atau malah bermimpi hal yang tidak-tidak, yang jelas senyum itu berhasil membuat hatinya bergejolak. Seakan terhipnotis.. tanpa koordinasi dari otaknya, jari-jemari gadis itu bergerak ke wajah Sehun. Mengelus pipi namja itu sangat lembut penuh perasaan. Tanpa ia sadari seulas senyum mengembang diwajah manis gadis itu. Tersenyum menatap lukisan indah yang tergambar jelas diwajah Sehun. Seakan menemukan keteduhan disana, Jieun mulai merasakan ketenangan dihatinya.

 

“Kau namja penuh kejutan Oh Sehun..”

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

 

Sehun berjalan dengan senyum mengembang diwajahnya. Menelusuri koridor rumah sakit dengan langkah ringan sembari menghirup wangi buket bunga mawar putih ditangannya. Wajahnya nampak berbinar dan merona saat mulai membayangkan saat-saat dimana dirinya mengatakan kabar bahagia pada kekasihnya. Kabar bahwa tanggal pernikahan mereka sudah ditentukan.. hari bahagia yang akan membawa hubungan mereka kedalam fase yang lebih serius.

 

Sehun baru saja bertemu dengan pendeta bersama orangtuanya. Bertanya kira-kira kapan hari baik baginya untuk melangsungkan hari sakralnya bersama Jieun.. kekasihnya.. Dan ia senang karna hari yang terpilih ternyata tidak terlalu jauh, sekitar 2 minggu lagi. Setelah pulang dari gereja, Sehun langsung berkunjung kerumah sakit untuk menyampaikan kabar baik ini pada Jieun. Sehun melangkah bahagia dan tanpa sadar dia sudah sampai didepan kamar kekasihnya. Tersenyum sebentar memandang pintu berwarna putih didepannya, kemudian memutar kenopnya..

 

 

 

Ceklek

 

 

 

“Selamat siang~” salam Sehun lembut pada 3 orang yang kini menoleh karahnya setelah ia menampakkan diri.

 

Sehun sedikit menganggukan kepalanya pada ayah Jieun yang sedang membaca Koran disofa, memberi salam dengan hormat. Setelah kembali menutup pintu, Sehun berjalan kearah Jieun yang terbaring diranjang dan ibunya yang duduk disebelah ranjang anaknya.

 

Sehun tersenyum manis pada calon ibu mertuanya kemudian menganggukan kepalanya memberi hormat sama seperti yang ia lakukan pada tuan Park. Ibu Jieun bangkit kemudian menepuk pundak Sehun pelan. Ia tersenyum kemudian berjalan kearah sofa bermaksud memberi celah pada anak dan calon menantunya untuk bicara berdua. Orang tua Jieun sudah Sehun beri tahu lewat telpon tentang kabar pernikahannya, dan Sehun sudah meminta calon mertuanya itu untuk jangan mengatakan dulu pada Jieun karna ia ingin memberi kejutan.

 

“Sehunnie..” panggil Jieun pelan seraya mengusahakan senyum diwajahnya menatap Sehun dengan penuh arti. Entah kenapa hatinya merasa sangat senang bisa melihat wajah Sehun. Mulai merasa kesempatannya memandang wajah tampan kekasihnya tidak akan lama lagi.

 

“Chagiya.. ini aku membawakan bunga kesukaanmu” ucap Sehun seraya menyerahkan buket bunga yang ia bawa. Jieun mencoba meraihnya dengan kedua tangan yang agak bergetar. Merasa kekasihnya butuh bantuan Sehun meraih tangan Jieun kemudian membantu gadis itu memegang buket bunganya.

 

Melihat bagaimana lemahnya kondisi Jieun sebenarnya membuat hatinya tidak pernah berhenti untuk menangis. Setiap kali mengingat senyum manis kekasihnya itu Sehun selalu tak mampu menahan airmatanya. Terus bertanya kenapa Tuhan tega memberi penyakit seberat itu pada gadis sebaik Jieun? Kesalahan apa yang Jieun lakukan dikehidupan terdahulunya hingga Tuhan menghukumnya seperti ini?

 

Terkurung dalam begitu banyak selang infus dan hanya bisa terbaring lemah diatas ranjang. Rambut indah gadis itu pun sudah mulai meranggas. Bahkan hanya untuk memegang sesuatu saja Jieun membutuhkan bantuan. Tapi dengan kuat gadis itu masih bisa terus tersenyum.. tersenyum dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Sungguh keadaan ini sudah menyayat hati Sehun.. sebenarnya namja itu ingin sekali berteriak dan menyalahkan Tuhan. Tapi melihat bagaimana kuatnya sang terkasih menghadapi ini semua membuat Sehun mencoba untuk lebih kuat. Bukankah dia harus menjadi sumber semangat untuk kekasihnya saat ini?

 

“Terimakasih chagiya..” ucap Jieun pelan masih mengembangkan senyum kearah Sehun. Sehun pun menarik kursi disebelah ranjang Jieun kemudian duduk disana. Sehun raih kedua tangan kekasihnya seraya tersenyum manis.

 

“Jieunnie.. aku punya sebuah kabar bahagia untukmu” ucap Sehun sambil tersenyum nakal. Jieun mengangkat kedua alisnya, menunggu lanjutan ucapan kekasihnya dengan antusias. Sehun melirik kedua orang tua Jieun dengan ekor matanya sambil tersenyum. Jieun mengernyit melihat Sehun, semakin penasaran dengan kabar apa yang sebenarnya dimaksud namja itu.

 

Sehun menghela nafas kemudian melanjutkan perkataannya. “Jieunnie.. sebentar lagi kau dan aku.. akan menikah..” lanjut Sehun sembari menunjuk Jieun dan dirinya sendiri bergantian.

 

Mata Jieun membelalak ketika mendengar perkataan Sehun. Menatap Sehun dengan menggambarkan ekspresi ‘benarkah?’ dengan sangat jelas.  Sehun tersenyum puas melihat reaksi kekasihnya, merasa senang karna kejutannya berhasil.

 

“Tanggalnya sudah ditentukan.. sekitar 2 minggu lagi. Kau dan aku akan menjadi pasangan sesungguhnya chagiya~” Sehun menggoyang-goyangkan tangan Jieun yang ia genggam. Sementara Jieun hanya menatapnya dengan mata yang berkedip berulang kali.

 

Beberapa detik kemudian.. sebuah butiran cair jatuh dari pelupuk mata gadis itu. Jieun terisak mendengar kabar yang Sehun bawa. Entah kenapa hatinya gundah saat itu juga. Hatinya terhenyak, entah karna bahagia atau karna takut jika ia tidak bisa mengabulkan pernikahaan yang Sehun inginkan. Karna ia mulai merasa waktunya tidak lama lagi. Mata Sehun membulat melihat gadisnya menangis, dengan sigap ia usap airmata yang jatuh dari mata indah Jieun.

 

“Se..Sehunnie..hiks..hikss..” ucap Jieun disela isakannya. Sehun tersenyum setelah sadar bahwa Jieun menangis bukan karna sedih tapi bahagia.. Perlahan Sehun mengangkat kepala Jieun kemudian mulai merendahkan tubuhnya, memeluk kekasihnya penuh perasaan. Mengelus kepala Jieun dengan lembut.

 

Jieun memejamkan matanya mencoba meresapi kehangatan yang disungguhkan tubuh namjanya. Dapat Jieun hirup aroma mint parfum Sehun. Jieun membalas pelukan Sehun dan mempereratnya. Dengan begitu menghayati Jieun melakukannya, ingin mengingat dengan jelas takut jika ini akan jadi yang terakhir kalinya. Saat sedang asik merasakan kehangatan pelukan Sehun, Jieun seketika meringis saat tiba-tiba sebuah sengatan kecil melanda kepalanya. Ibu Jieun yang memperhatikan mereka mengernyit melihat tingkah aneh putrinya.

 

 

Deg

 

 

Tangan Jieun yang semula melingkar ditubuh Sehun terlepas. Sekujur tubuhnya melemas seolah seluruh kekuatannya menguap. Sehun terkesiap kemudian segera melepas pelukannya, kembali membaringkan Jieun ke ranjangnya. Mata Sehun membelalak ketika melihat mesin yang memperlihatkan kekuatan jantung kekasihnya melemah. Ditambah lagi melihat nafas Jieun yang seketika tersengal-sengal membuat Sehun semakin membulatkan matanya panik.

 

“Jieunnie kau baik-baik saja?” pekik Sehun panik. Tak kalah paniknya dengan Sehun kedua orang tua Jieun pun langsung menghampiri putri mereka. Tanpa aba-aba airmata jatuh dari mata nyonya Park.

 

“Biar ayah panggilkan dokter..” ucap ayah Jieun seraya berlari keluar ruangan. Kepanikkan Sehun semakin menjadi saat lengkingan suara mesin penunjuk detak jantung itu semakin keras, menunjukkan bahwa keadaan kekasihnya semakin kritis.

 

“Jieunnie.. bertahanlah.. ayahmu sedang memanggil dokter” ucap nyonya Park dengan suara bergetar. Wanita itu menangis sejadinya melihat keadaan putri satu-satunya itu. Tapi.. Sehun tak kalah panik, mulai gila dengan bayangan-bayangan negative yang muncul diotaknya. Mulai takut jika ketakutan terbesar yang selama ini menghantuinya akan  terjadi hari ini. Tidak! Dia tau Jieun lebih kuat dari yang terlihat..

 

“Jieunnie bertahanlah.. dokter akan segera datang” suara Sehun juga terdengar bergetar. Tentu saja.. ia juga menangis, melihat bagaimana tersiksanya gadis yang ia cintai sekarang sugguh sangat merobek hatinya.

 

“Se..Sehunnie..” ucap Jieun terbata dengan nafas yang masih terengah. Seakan ada batu besar yang menekan dadanya hingga ia kesulitan untuk menghirup oksigen. Dengan memaksa Jieun mengangkat sebelah tangannya meraih pipi Sehun. Dengan gemetaran ia elus pipi tirus Sehun. Sehun memejamkan mata saat tangan Jieun menjalar dipipinya.

 

Sesak yang semakin menjadi membuat Jieun menurunkan tangannya dari pipi Sehun kemudian memegang dadanya terasa makin terhimpit. Nafasnya makin tak karuan.. kepalanya juga berdenyut dengan keras seperti ada sebuah palu besar yang tak henti-hentinya menghantam kepalanya. Sehun dan nyonya Park makin panik dan bingung harus melakukan apa. Ditambah lagi tuan Park belum juga datang membawa dokter.

 

“Oh Sehun.. maaf..kan aku..” ucap Jieun terbata dengan sisa tenaga yang ia miliki.

 

“Tidak! Untuk apa kau minta maaf?! Kau tidak punya salah apapun chagiya..” ucap Sehun sambil menggelengkan kepalanya. Airmata kini sudah membanjiri wajahnya.

 

“Kau jangan banyak bicara dulu.. kau harus tenang sampai ayahmu datang membawa dokter” Sehun mengelus puncak kepala gadis itu lembut seraya mengusap keringat dingin yang mulai bercucuran dikening kekasihnya.

 

“Sehun’ah.. jangan menangis..”

 

“Tidak.. aku tidak menangis chagiya..”

 

“Sehun’ah.. bisakah kau berjanji satu hal padaku?”

 

Sehun mengangguk. “Berjanji apa?”

 

“Berjanjilah..kalau kau.. akan menyayangi kedua orang..tuaku..sama seperti.. kau menyayangi orangtuamu..Tolong.. gantikan aku yang tidak.. bisa menjaga mereka..”

 

“Tidak! Jieun kenapa kau bicara seperti itu.. ibu tau kau akan bertahan..” ucap wanita paruh baya itu disela isakannya. Airmata mengalir begitu deras dari matanya. Jieun merasakan sesak dihatinya.. melihat kedua orang yang begitu ia sayangi menangis karna dirinya.

 

“Ibu.. ibu jangan pernah telat makan lagi. Jaga kesehatan ibu, makanlah dengan teratur.. arrachi?” Jieun memaksakan sebuah senyum diwajahnya, ingin membuat ibunya merasa lebih tenang. Sementara ibunya hanya terus menggelengkan kepalanya mendengar perkataan putrinya yang makin membuat hatinya tak karuan. Jieun meringis merasakan dadanya semakin sesak.. tapi seakan sudah mulai terbiasa, rasanya sudah tak sesakit sebelumnya. Setelah menenangkan rasa sakitnya.. Jieun memejamkan mata sebentar kemudian menatap Sehun sendu. Sehun terhenyak melihat cara Jieun menatapnya, sejuta kekhawatiran menyeruak dihatinya. Entah sejak kapan firasat buruk sudah membuat hatinya gundah.

 

“Maafkan aku Ibu.. Sehun.. aku sudah.. Akkhhh.. tidak kuat.. lagi”

 

“Tidak Jieun.. kau harus kuat! Kau tidak boleh pergi meninggalkanku. Aku tau kau bisa bertahan”

 

“Aku tidak bisa Sehunnie.. aku lelah dan aku ingin mengakhiri semuanya..”

 

“Anakku!! Jangan bicara seperti itu.. ibu tau kau bisa!!”

 

“Dokter!!! Dokterr!!” pekik Sehun kehilanggan kesabaran. Kenapa tuan Park dan dokter lama sekali.

 

 

Jederr

 

 

Pintu kamar itu terbuka.. tuan Park, seorang dokter dan seorang suster menghambur masuk begitu saja. Dengan cepat dokter langsung menghampiri dan memeriksa pasiennya yang sudah sangat kritis.

 

“Oh Sehun.. aku mencintaimu…”

 

“Tidak! Kumohon jangan tinggalkan aku Jieun’ah!!!!” Sehun mempererat genggaman tangannya. Pikirannya kalut.. semua yang ada diotaknya menghilang dan yang ia pikirkan saat ini hanya satu.. Jieun..

 

“Selamat tinggal.. Sehunnie…” seiring dengan nafasnya yang mulai menghilang, Jieun memjamkan mata perlahan. Semua mata didalam ruangan itu membelalak melihat bagaimana gadis itu menutup matanya.

 

“Jieun’ah??? JIEUN’AH KUMOHON BANGUN!! JANGAN TINGGALKAN AKU!!”

 

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

 

“TIDAAAAKK!!!!!”

 

Teriak kedua manusia diruangan itu bersamaan. Sehun dan Jieun terbangun bersamaan dari tidurnya. Nafas mereka terengah seperti orang yang baru saja lari maraton keliling Seoul. Sehun terduduk dari tidurnya diatas sofa, sementara Jieun yang memang tidur sambil duduk dibawah sofa menerjapkan matanya berulang kali sambil mencoba mengontrol kembali nafasnya.  Merasa ada seorang lagi yang ada diruangan itu, Sehun menoleh kearah Jieun kemudian menatap gadis itu penuh arti.

 

 

Greep

 

 

Dengan cepat Sehun membawa gadis itu kedalam pelukannya. Seolah tak ingin gadis itu pergi sedetik pun. Mata Jieun membelalak ketika Sehun memeluknya. Dia bahkan belum selesai mengembalikan kadar oksigen ditubuhnya. Sehun memejamkan mata mengirup wangi tubuh gadis itu, dengan erat ia peluk tubuh Jieun. Masih begitu ia ingat bagaimana kejadian menyeramkan dalam mimpinya, melihat Jieun pergi meninggalkannya selamanya membuat hatinya hancur berkeping-keping. Walau ia tidak tau apa maksud dari mimpi tersebut, yang jelas dia tidak ingin kejadian itu menjadi nyata.

 

“Se..Sehun.. aku.. kehabisan nafas.. uhukk” ucap Jieun terbata karna Sehun terlalu erat memeluknya. Sehun tersentak kemudian segera melepaskan pelukannya.

 

“Uhuuk.. kau mau membuatku mati eoh?” Jieun menepuk-nepuk dadanya seolah mempertegas kesesakan didadanya. Sementara Sehun hanya terus menatap Jieun sendu. Dan jujur.. tatapan itu membuat bulu kuduk Jieun meremang. Gadis itu membuang muka tidak kuat menatap mata tajam Sehun, takut jika terlalu lama namja itu akan tau isi hatinya.

 

“Kau.. kenapa?” tanya Jieun gugup Sehun pandangi seperti itu.

 

“Kau tau seberapa senangnya aku bisa melihat wajahmu?”

 

Seketika kening Jieun mengkerut mendengar ucapan Sehun. Kini lai-lagi ia terjebak dalam perangkap tatapan mata Sehun. Jieun terdiam ditempat, mulai mencerna apa yang baru saja Sehun katakan. Namja itu bilang dia senang kalau itu hanya mimpi? Apa Sehun bermimpi sesuatu tentang dirinya? Dan tadi.. mereka berteriak dan terbangun bersamaan.

 

 

Deg

 

 

Jieun bergeming kemudian mengerjap-ngerjapkan matanya berulang kali. Apa mungkin Sehun memimpikan hal yang sama lagi dengannya?

 

“Kau.. baru saja bermimpi?” tanya Jieun ragu sambil memiringkan kepalanya. Sehun pun menjawab dengan menganggukan-nganggukan kepalanya. Tapi seketika namja itu terdiam dan menghentikan anggukan kepalanya, seakan baru menyadari sesuatu. Sesuatu yang saat ini juga sedang dipikirkan gadis didepannya.

 

“Kau bermimpi hal yang sama?”

 

“Aku.. meninggal dalam mimpi itu..”

 

Sehun terdiam.. terdiam karna lagi-lagi hal aneh terjadi padanya dan juga Jieun. Ini sudah kedua kalinya ia bermimpi aneh tentang mereka berdua. Bermimpi memiliki sebuah hubungan manis dengan gadis itu. Dan anehnya lagi.. setiap mimpi yang ia alami gadis itu juga mengalaminya. Seakan memiliki ikatan batin dengan gadis manis itu. Bahkan beberapa memori-memori aneh juga sering melanda pikirannya, memori yang entah datang dari mana dan milik siapa. Yang jelas dalam memori itu selalu menyangkut dirinya dan Jieun. Dan jujur.. semua itu seolah berhasil menghipnotisnya, membuatnya memiliki perasaan pada gadis itu, membuatnya kini semakin dekat dan tidak ingin lepas dari gadis bernama Park Jieun..

 

“Ada apa sebenarnya ini?! Siapa Park Jieun dan Oh Sehun dalam mimpi itu?”

 

 

¶¶¶¶¶

Jieun menikmati makan siangnya sambil menikmati udara hangat disiang hari. Gadis itu duduk diatap gedung sekolahnya dengan senyum yang mengembang. Dia senang karna aksi kaburnya dari dua namja aneh yang masih belum bosan mengganggunya berhasil. Setelah bel tanda istirahat berbunyi gadis itu dengan sigap berlari keatap gedung sekolahnya, dan sepertinya aksi kabur tersebut tidak terlacak oleh Sehun ataupun Jongin karna sudah hampir 10 menit mereka tak menampakkan diri mereka. Gadis itu senang karna setidaknya dia bisa merasakan kebebasan diwaktu istirahatnya.

 

Jieun menggigit roti coklatnya dengan lahap. Hatinya terasa tenang dan teduh berada diatas sana. Seluruh Seoul seolah tertangkap oleh matanya dari tempatnya duduk sekarang. Jujur.. sebenarnya cara ini dia lakukan bukan hanya untuk menghindar dari Jongin dan Sehun, tapi ini merupakan salah satu usahanya untuk menenangkan pikiran. Setiap kali dia merasakan kegundahan dihatinya, gadis itu pasti datang ketempat rahasianya itu.

 

Sampai sekarang Jieun masih mencoba untuk mencerna kembali kejadian yang dia dan Sehun alami kemarin. Lagi-lagi mereka mengalami mimpi bersamaan dengan kejadian yang sama. Dan satu kejadian dalam mimpi itu yang tidak bisa diterima oleh hati nuraninya.. dalam mimpi itu dia meninggal? Oh Tuhan! Bulu kuduk Jieun meremang setiap kali mengingatnya. Apa maksud semua kejadian dimimpi itu?

 

“Haaah!! Senang sekali rasanya bisa terbebas dari dua namja iblis itu..” Jieun menghela nafas lega sambil mengadahkan kepalanya keatas. Seolah begitu meresapi udara hangat yang menyusup ditubuhnya.

 

“Siapa yang kau bilang iblis?”

 

 

Deg

 

 

Jieun mematung, suara itu lagi.. dia mematung setelah mendengar suara dibelakangnya. Gadis itu menurunkan kepala, menggigit bibir bawahnya kemudian memejamkan mata sambil menggelengkan kepalanya. Mencoba menepis prasangka aneh yang muncul dibenaknya. Walau sebenarnya ia tau tapi ia mencoba untuk berpura-pura tidak tau siapa pemilik suara itu. Dia hanya tak ingin menerima kenyataan kalau ternyata..

 

“Hey Park Jieun! Kenapa diam? aku tanya siapa yang kau bilang iblis?”

 

“…” Jieun bergeming masih tak mau menoleh. Tak mau menerima kenyataan bahwa ketenangan yang baru ia rasakan akan leyap terbawa angin. Rasanya baru saja sedetik ia merasakan apa itu ketenangan.

 

 

Puk

 

 

“Hiyaaaa!!!!” pekik Jieun keras sambil menepis dengan cepat tangan yang menepuk pundaknya.

 

“Hey! Kau kenapa?!” ucap namja yang kini sudah duduk disebelahnya. Jieun pun menoleh kemudian menatap Sehun dengan menyipitkan matanya. Memperlihatkan ekspresi tak sukanya kalau namja itu ada disana.

 

“Aku yang harusnya bertanya seperti itu” cibir Jieun kemudian mengembalikan posisi kepalanya menghadap kedepan. Sementara Sehun hanya menanggapi dengan tampan datarnya, seolah tak mengerti bahwa Jieun tak suka dengan kedatanngannya.

 

“Memangnya aku kenapa? Sampai kau yang harus bertanya seperti itu?” malas menjawab, Jieun hanya diam sambil terus memakan rotinya.

 

Hening…

 

Seketika suasana kaku muncul.. entah kenapa Sehun tak membuat ulah seperti yang biasa ia lakukan pada gadis itu. Mereka diam dan masuk kepikiran masing-masing, mencoba mencari petunjuk didalam sana. Angin yang berdesir disekitar mereka seolah ikut diam tak berhembus. Jieun pun masih sibuk melahap roti coklatnya, walau sebenarnya otaknya sedang mencoba mencari tau apa yang dipikirkan namja disebelahnya.

 

“Jieun..” ucap Sehun akhirnya memecah keheningan. Jieun tersentak ketika mendengar namja itu memanggil namanya kemudian menoleh. Ia tatap Sehun malas dengan alis terangkat.

 

“Ada apa?” jawab Jieun ketus sambil mengangkat dagunya. Sehun menoleh kemudian memandang gadis itu lekat, raut wajahnya nampak serius. Jieun terhenyak lalu mengkerutkan dahinya melihat tingkah aneh Sehun yang tidak seperti biasanya.

 

“Kau ingatkan tentang mimpi kemarin?” tanya Sehun yang kemudian hanya dijawab dengan sebuah anggukan oleh gadis dihadapannya.

 

“Tidak kah kau penasaran dengan semua ini? Semua mimpi, semua memori, semua perasaan. Tidak kah kau ingin tau kenapa kau dan aku bisa seperti ini?”

 

“Tentu saja penasaran..” jawab Jieun cepat setelah Sehun selesai dengan pertanyaannya. Gadis itu masih sok bersikap dingin didepan Sehun padahal hatinya sedang berdegup kencang sekarang.

 

“Lalu.. apa kau pernah berpikir untuk menyelidikinya?” Sehun membenarkan posisinya sedikit mendekat dengan gadis disebelahnya. Sehun mendekatkan kepalanya sambil menatap Jieun lekat menunggu sebuah jawaban keluar dari bibir merah muda gadis yang kini terdiam itu. Jieun terdiam setelah mendengar pertanyaan Sehun. Benar.. kenapa gadis itu tidak pernah berpikir untuk menyelidiki semua hal aneh ini? Setelah merutuki dirinya sendiri, Jieun pun nyengir kuda kemudian menjawab Sehun dengan menggelengkan kepalanya.

 

Sehun menghela nafas berlebihan kemudian menarik kembali kepalanya menjauh dari wajah Jieun. “Sudah kuduga.. gadis sepertimu mana mungkin punya pikiran sejauh itu?” ucap Sehun sambil bersedekap didada.

 

“Hey apa maksud kata-katamu?! Kau mengejekku?” Jieun menggembungkan pipinya menunjukkan ekspresi kesal yang imut.

 

“Memang benarkan gadis berotak kecil sepertimu mana mungkin berpikir untuk menyelidiki hal ini” ejek Sehun sambil menatap lurus kedepan. Ejekkan namja itu pun sontak membuat Jieun menatapnya dengan memicingkan mata.

 

“Aku bukannya tidak berpikir untuk menyelidikinya. Tapi aku hanya malas memikirkannya. Untuk apa pusing dengan urusan semacam itu sementara aku punya urusan lain yang lebih penting” Jieun tak mau kalah. Ia berbohong demi mengembalikkan harga dirinya yang jatuh karna kebodohannya sendiri.

 

“Cih.. sudahlah. Yang jelas aku mau nanti sepulang sekolah kau ikut denganku. Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama-sama”

 

“Mwo? Menyelidikinya? Bersamamu?!” mata Jieun membulat mendengar keputusan sepihak namja itu. Ia menatap Sehun dengan tatapan penolakkan yang tegas. Sudah cukup namja itu membuatnya gila disekolah, Jieun tidak ingin namja itu mengganggu hidupnya lagi lebih dari ini!

 

Melihat bagaimana Jieun menatapnya, Sehun menghela nafas sambil memejamkan matanya sejenak. Kemudian menatap mata Jieun lurus-lurus..

 

“Dengar, kalau kita tidak mencari tau tentang semua hal aneh yang menimpa kita, kita tidak akan tau apa yang sebenarnya terjadi pada kita. Memangnya kau mau seumur hidup dihantui rasa penasaran semacam ini?”

 

Jieun termenung, memikirkan matang-matang apa yang Sehun katakan. Walau berat tapi ia sadar bahwa namja itu benar.. memang seharusnya mereka menyelidiki tentang kasus ini kalau tidak ingin hidup dengan rasa penasaran yang tak terjawab. Sepersekian detik gadis itu berpikir, kemudian membulatkan hatinya.

 

“Baiklah..” ucap Jieun akhirnya yang serta merta membuat senyum puas mengembang diwajah Sehun. Jieun pun mulai merasakan firasat aneh dihatinya. Ia rasa dia akan benar-benar kehilangan dirinya sendiri karna namja bernama Oh Sehun.

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

 

Sehun memarkirkan mobil sport merahnya didepan sebuah rumah mewah nan megah. Sebuah rumah yang luas dengan arisektur yang memukau, tak kalah mewah dengan rumah Gu Junpyo dalam drama seri Boys Before Flowers.

 

Jieun turun dari mobil Sehun masih dengan mata dan mulut yang membulat. Tak kuasa menahan rasa kagum gadis itu bahkan tidak berkedip melihat bagaimana megahnya istana milik keluarga Oh. Sehun turun kemudian menyerahkan kunci mobilnya pada salah seorang pelayan yang berjejer menyambut kedatangan tuan mereka. Sedetik Sehun tertawa kecil melihat reaksi Jieun kemudian menggandeng tangan gadis itu mengajaknya masuk kedalam.

 

Setelah melewati pintu masuk besar, mereka pun masukki lobi rumah tersebut. Jieun semakin terpukau setelah melihat kemegahan yang makin terekspos dari rumah tersebut. Jieun masih belum bisa mngedipkan matanya saat Sehun makin menyeretnya masuk kebagian dalam rumahnya. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya gadis itu masuk kedalam rumah mewah seperti rumah Sehun, karna rumah Jongin lah yang menjadi kali pertama. Tapi entah kenapa Jieun tak bisa menahan kekagumannya, lagi-lagi gadis itu berpikir ternyata kehidupan dalam darama tivi itu memang benar ada, dia pikir itu semua hanya fiksi. Mereka melangkah ringan hingga tanpa sadar sudah sampai didepan sebuah ruangan dengan pintu berwarna hitam legam.

 

“Hey! Sampai pintu kamarku pun kau tatap seperti itu?..Tsk” decak Sehun melihat aksi berlebihan gadis manis disebelahnya. Padahal itu hanya sebuah pintu kayu, tapi gadis itu menatapnya seperti melihat sebuah batang emas berukuran jumbo. Jieun tersentak, kemudian mengedip-ngedipkan mata berulang kali. Seolah kakinya baru saja kembali menyentuh tanah, Jieun bertingkah seperti orang yang baru terbangun dari tidur.

 

Sehun menggeleng heran melihat tingkah aneh Jieun. Sikap yang bertolak belakang dari biasanya, bukankah Jieun yang biasa menggeleng seperti itu saat Sehun mulai bertingkah gila? Sehun merogoh saku celana dengan sebelah tangannya yang bebas, bermaksud mengambil kunci kamarnya. Tapi baru saja dia akan mengeluarkan kunci tersebut..

 

“Sehunnie kau sudah pulang?” sebuah suara lembut tiba-tiba tertangkap pendengar Sehun dan Jieun. Mereka pun menoleh kearah sumber suara, dan mereka tau siapa pemilik suara lembut itu.

 

“Iya hyung.. aku baru saja sampai”jawab Sehun lembut. Luhan tersenyum kemudian menaikkan alisnya ketika melihat ada satu orang lagi disana. Melihat sesosok gadis manis yang sejak pertama bertemu tak berhenti mengusik pikirannya.

 

“Jieun?” ucap Luhan pelan dan tanpa sadar menaikkan kedua sudut bibirnya ketika menatap Jieun. Gadis itu pun membalas Luhan dengan senyum manis, senyum yang membuat hati kedua hati namja disana bergejolak. Bagi Luhan itu pemandangan biasa.. tapi bagi Sehun, ini pertama kalinya ia melihat Jieun tersenyum semanis itu, karna jika bersamanya Jieun lebih sering marah-marah dari pada tersenyum manis.

 

Tapi tak lama setelahnya, senyum diwajah Luhan menghilang ketika melihat tautan tangan Sehun dan Jieun. Wajahnya memanas seketika itu juga, bahkan hatinya bergemuruh kacau. Bisa dibilang.. ia cemburu.. cemburu melihat bagaimana adiknya sendiri menggenggam tangan gadis yang kini menempati hatinya.

 

Jieun mengkerutkan dahi melihat perubahan ekspresi Luhan, tapi dengan cepat ia sadar kemana mata Luhan tertuju. Gadis itu pun menarik tangannya dari genggaman Sehun yang tentu membuat Sehun terkesiap. Sadar Jieun melakukan hal tersebut karnanya, Luhan pun segera memalingkan pandangannya. Takut jika Sehun juga tau, bisa-bisa anak itu salah paham.

 

“Ada apa?” tanya Sehun yang terkejut dengan gerakan tiba-tiba Jieun.

 

“Ada apa apanya? Tidak apa-apa” celetuk Jieun sambil berusaha bersikap senatural mungkin. Tidak tau seberapa guggupnya dia saat ini. Entah kenapa dia merasa tidak ingin membuat Luhan salah paham, padahal Luhan bukan siapa-siapa untuknya. Melihat keanehan yang terjadi, Sehun seketika mengalihkan pandangan pada kakak laki-lakinya yang juga terlihat canggung.

 

“Oya Sehun.. kenapa tumben sekali mengajak Jieun kemari? Apa kalian akan belajar kelompok?” tanya Luhan berusaha memecahkan kecanggungan yang terbentuk. Namja itu pun berusaha tersenyum semanis mungkin, walau terlihat agak kurang alami.

 

“ Iya.. kami ingin belajar bersama hyung. Aku akan mengajaknya belajar dikamarku, usahakan jangan mengganggu ya?” jawab Sehun sambil memasukkan tangan kesaku celanyanya. Jawaban namja itu sukses membuat dua orang rekannya mengkerutkan dahi. Jieun dan Luhan sulit mencerna maksud kata ‘jangan mengganggu’ yang Sehun katakan. Sungguh kata itu sangat ambigu.

 

“Baiklah.. kalau begitu kami akan belajar dulu ya hyung” seolah mengacuhkan ekspresi bingung Jieun dan Luhan. Sehun langsung berbalik kemudian membuka pintu kamarnya. Sadar Jieun tidak mengikuti langkahnya, Sehun berbalik lalu kembali menggenggam pergelangan tangan gadis itu kemudian menariknya masuk kedalam kamarnya. Meninggalkan Luhan yang hanya terdiam melihat aksi adik laki-lakinya itu. Dapat Luhan rasakan perasaannya yang bercampur aduk, antara senang bertemu dengan Jieun, malu karna Jieun sadar akan sikap cemburunya tadi, dan kesal karna sikap Sehun. Ia hanya berusaha untuk berpikir logis.. Dia menginginkan Jieun yang juga adalah gadis yang disukai adiknya. Jadi itu berarti dia kan bersaing dengan adiknya sendiri?

 

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

 

 

Sudah satu setengah jam setelah Jieun masuk kekamar namja bernama Oh Sehun itu. Dan mereka sama sekali tidak mendapatkan apapun dalam usaha penyelidikan mereka. Sesungguhnya yang gadis itu rasakan saat ini hanya perasaan kesal yang membludak. Tentu saja.. setelah masuk kedalam sana dan setelah sampai hampir satu setengah jam berlalu, Sehun sama sekali tidak melakukan apapun. Dia hanya diam sambil menonton teve dan menikmati fasilitas lengkap dikamarnya. Gadis itu mulai merasa seperti anak kecil bodoh yang dengan mudah mengikuti paman penculik hanya dengan di iming-imingi sebuah gulali. Dia rasa Sehun sengaja menjebaknya, sejak awal Sehun memang sudah merencanakannya.

Sebenarnya Sehun sudah menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk mencari tau tentang kasus ini. Karna itu ia terlihat santai dan terkesan mangabaikan. Dan yang pasti saat ia mengatakan rencanya itu pada Jieun, gadis itu seketika murka dan mengamuk. Jieun kesal karna Sehun berani-beraninya menipu dirinya. Dan parahnya, Jieun sama sekali tidak diijinkan keluar kamar walau ia tidak berkepentingan disana. Setiap kali ia meinta namja itu untuk membebaskannya, Sehun akan menjawab dengan satu kalimat lancar ‘Kalau sampai sore nanti paman Kim tidak memberi info baru kau boleh pulang’ Mungkin.. memang itu tujuan utama Sehun, menipunya kemudian mengurung gadis itu dalam kamarnya. Tapi lagi-lagi gadis itu tak bisa melawan, entah kenapa hati kecilnya tak mengijinkannya meninggalkan kamar itu. Seolah tak ingin kehilangan kesempatan untuk berdua dengan namja gila itu. Sebenarnya mudah saja dia berteriak dan meminta bantuan Luhan untuk membebaskannya, tapi mau bagaimana lagi? Akal sehatnya sudah kalah perang dengan hati kecilnya sendiri.

Dengan rasa kesal yang memenuhi ubun-ubun, Jieun membalikkan halaman sebuah buku tebal didepannya. Sejak tadi, ia terus berusaha mencari kegiatan untuk menghilangkan rasa gugupnya. Jujur.. sejak masuk kekamar namja itu hatinya tak henti-hentinya bertingkah abnormal. Hanya berdua dikamar itu sukses membuat pertahanan hati gadis itu retak. Walau gadis itu menatap buku didepannya tapi sesungguhnya otaknya tertuju pada namja yang sedang duduk santai disofa mewahnya. Memperhatikan setiap gerak-gerik namja bermata sipit itu. Bisa saja kan Sehun kalut lalu bertingkah diluar yang seharusnya?

“Aiissh.. Sehun’ah? Apa paman Kim mu itu belum juga membawa kabar?! Aku bosan! Aku ingin pulang” Jieun mengacak-ngacak rambutnya kemudian mengalihkan pandangan pada Sehun yang masih nampak santai.

“Belum.. kau tidak sabaran sekali. Ini sudah lebih dari dua puluh kali kau bertanya. Apa sulitnya menunggu sebentar eoh?” ketus Sehun sambil memencet tombol remote teve besarnya.

“Sebentar? Ini sudah hampir satu setengah jam Oh Sehun! Kenapa kau tidak ijinkan aku pulang? Kau kan bisa menelpon jika memang sudah ada info? Apa sulitnya?!” balas Jieun tak mau kalah. Ia bukan hanya sudah kehilangan kesabarannya, tapi ia juga tidak sanggup menahan degup jantungnya yang makin tak karuan karna Sehun. Bahkan hanya satu gerakan kecil namja itu mampu mempercepat detakan jantunya.

“Tentu saja sulit! Aku tidak mau berpisah denganmu.. kau tau seberapa sulitnya menahan rasa rindu?!”

Jieun mematung.. mematung seraya berusaha mencerna kalimat Sehun dengan seksama. Satu uacapan frontal Sehun itu berhasil membuat rona merah diwajahnya. Dapat ia rasakan darahnya mendidih dan membuat wajahnya terasa panas. Baru setelah sepersekian detik, Sehun ikut terdiam.. seolah baru sadar dia baru saja menyatakan sedikit rasa dihatinya. Sedetik itu pun suasana berubah canggung.. baik Sehun ataupun Jieun hanya diam berusaha mencari topik pembicaraan yang lain.

“Ehhmm.. tidak perlu setegang itu.. santai saja. Aku tak akan macam-macam”ucap Sehun kembali membuka pembicaraan sambil membenarkan posisi duduknya. Jieun pun terhenyak mendengar ucapan Sehun, merasakan hatinya semakin tak karuan.

“Ap..apa maksudmu? Aku sama sekali tidak tegang” Jieun menutup bukunya dan berusaha bersikap natural. Sejenak Sehun terdiam kemudian menyeringai licik. Sepertinya ide brilliant baru saja muncul diotaknya.

Sehun pun bangkit kemudian sedikit membenarkan pakaiannya. Ia berjalan kearah meja belajarnya, tempat dimana Jieun duduk sekarang. Mata Jieun membulat ketika melihat kemana arah kaki Sehun melangkah. Jieun menelan ludah sembari memperkuat pertahannya.

 

Tap

 

Kini Sehun berdiri didepannya, berdiri sambil menatap mata Jieun tajam. Sebuah seringai pun terlukis diwajah sempurna namja itu. Sepertinya pikiran kalut yang Jieun takutkan terjadi pada Sehun kini menjadi nyata. Perlahan Sehun mulai mengarahkan tangannya kewajah Jieun, menyentuh pipinya kemudian mengelusnya dengan lembut.

 

Deg

 

Lagi-lagi tubuh Jieun membeku, membeku karna tatapan Sehun yang mengurungnya. Dengan keras ia berusaha memalingkan pandangannya, tapi seolah terhipnotis mata tajam namja itu membuatnya tak bergeming. Panas menjalar disekujur tubuh Jieun saat Sehun mulai mengarahkan sebelah tangannya lagi mengelus puncak kepala gadis itu. Bukannya mengelak gadis itu malah menikmatinya. Memejamkan mata mencoba meresapi kehangatan yang tangan Sehun berikan. Benteng pertahanan gadis itu sudah hancur berkeping-keping.

Semakin kehilangan kesadarannya, Sehun membungkukan tubuhnya mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Jieun menghapus jarak diantara keduanya. Mata Jieun membelalak melihat aksi Sehun. Sekuat tenaga ia berusaha untuk menghindar tapi lagi-lagi pikiran dan hatinya berperang, dan lagi-lagi pikirannya kalah dengan hati kecilnya yang menginginkannya untuk tetap diam.

Semakin dekat.. bahkan keduanya sanggup merasakan deru nafas mereka beradu. Degup jantung keduanya pun semakin bergemuruh, seakan menjadi musik pengiring suasana panas diruangan itu. Jieun pun memejamkan matanya ketika hidung mereka bertemu dan..

 

Tok

 

Tok

 

Tok

 

Sehun dan Jieun terkesiap dan secara otomatis menghentikkan kegiatan mereka. Sehun mendecak kesal karna berani-beraninya ada yang menganggu saat-saat pentingnya. Setelah mengacak-ngacak rambutnya kesal, Sehun pun berjalan capat menuju pintu kamarnya. Sementara Jieun.. dia masih mematung tak percaya. ia kedipkan mata berulang kali saat sadar bahwa bentengnya kalah telak dari kharisma Sehun. Ia rutuki dirinya sendiri seraya memukul-mukul kepalanya. Mengingat hampir saja ia dan Sehun melakukan hal yang tak pantas diantara hubungan mereka yang sebatas teman ― atau bisa dibilang musuh bagi gadis itu ― membuat emosi Jieun memuncak karna dirinya sendiri.

“KYAAA!! SEHUNNIE!!!AKU MERINDUKANMU!!” sebuah teriakan tiba-tiba terdengar ditelinga gadis itu. Dengan cepat ia menoleh kearah pintu kamar Sehun yang terbuka.

Mata Jieun menyipit mencoba memaksimalkan daya akomodasi matanya. Dan seketika nafasnya tercekat ditenggorokkan ketika melihat Sehun dipeluk seseorang. Seorang gadis cantik dengan balutan busana mewah yang tadi mengetuk pintu kamarnya. Sedetik perasaan cemburu menyeruak dihati Jieun, tapi dengan cepat ia tepis perasaan gilanya itu. Cemburu? Pada namja gila semacam Oh Sehun? Yang benar saja?! Jieun pun bangkit kemudian melangkah keluar kamar meninggalkan kursi panasnya yang hampir membuat sejarah baru dihidupnya.

 

Luhan tersenyum ketika melihat Jieun keluar dari kamar Sehun. Jieun pun membalas senyum Luhan sekuat tenaga, ia seakan kehilangan seluruh tenaganya ketika melihat bagaimana gadis centil itu memeluk Sehun erat. Sadar Jieun sudah berada disampingnya, Sehun dengan cepat melepas pelukan gadis berambut hitam kecoklatan itu. Jelas Sehun tak ingin Jieun salah paham. Gadis berambut panjang bergelombang itu pun tersentak ketika Sehun tiba-tiba melepaskan pelukannya. Sejenak gadis itu menatap mata Sehun kemudian mengernyit ketika sadar ada Jieun yang kini bergabung dengan mereka. Gadis itu kemudian menatap Luhan dan Sehun bergantian, seolah mengharapkan penjelasan dari siapa saja diantara mereka.

“Dia Park Jieun.. dan Jieun.. ini teman kecilku Shin Taera” ucap Sehun memperkenalkan kedua gadis itu. Jieun hanya mengangguk sembari tersenyum pada gadis bernama Taera itu. Dan Taera pun melakukan hal yang sama.

Walau terlihat agak kaku, tapi Jieun berusaha bersikap manis. Ia sudah merasakan hawa tak suka dari gadis bermata coklat itu sejak awal. Kedua matanya memang terlihat biasa saja, tapi bagi Jieun.. tatapan itu mengintimidasinya. Hati Jieun bergemuruh saat itu juga, ingin sekali ia mambalas tatapan mengintimidasi secara tak langsung dari Taera, tapi sekuat tenaga ia tahan itu. Dia tak ingin membentuk kesan pertama yang kurang ajar. Lagi pula siapa dia berani-beraninya merasa tak suka pada gadis itu? sementara Taera tentu berhak melakukannya.. kedudukan Taera dihidup Sehun sudah jauh lebih tinggi. Sehun mungkin bisa bilang kalau Taera adalah teman kecilnya. Tapi dari bagaimana cara gadis itu menatap Sehun.. Jieun tau Taera menganggap Sehun lebih dari sekedar teman kecil. Sementara itu.. Jieun mulai merasakan firasat buruk hinggap dihatinya, firasat yang dengan jelas menunjukkan rasa khawatir jika Taera akan mempersulitnya dengan Sehun.

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

 

 

Jieun duduk sambil membolak-balikkan ponselnya diatap gedung apartemennya. Seperti biasa dia akan lari mencari udara segar untuk menenangkan hatinya jika mulai merasa gelisah. Entah kenapa sejak pulang dari rumah Sehun hatinya tak henti-henti bergemuruh. Ini semua karna Taera.. selama dirumah Sehun tadi mereka sempat minum kopi berempat, dan Taera sama sekali tidak pernah lepas dari Sehun. Menempel seperti cicak ditembok, Taera sama sekali tak memberi kesempatan Sehun lepas darinya barang sedetik. Mungkin Taera seperti itu karna dia sangat merindukan Sehun sahabatnya yang sudah setahun tidak bertemu. Tapi apa perlu hingga mengunci seluruh tubuh Sehun? Sementara dia dan Luhan sepanjang acara itu hanya menjadi obat nyamuk diantara dua sejoli yang terus mengumbar kemesraannya. Apalagi Jieun.. acara minum kopi yang berlansung satu jam itu terasa berlangsung 10 jam.

Hatinya bergemuruh dan darahnya terasa mendidih. Sulit baginya menahan panas dihatinya, bahkan karna terlalu kesal.. rasa panas itu masih terasa sampai sekarang. Tidak mudah baginya untuk menetralkan kembali perasaannya, entah kenapa rasa cemburu itu terus membara. Walau sekuat tenaga ia menepis rasa cemburunya tapi tetap saja sia-sia. Jieun menyerah, dan sepertinya dia mulai menyadari bahwa dirinya sudah terjebak dalam zona lingkaran cinta namja bernama Oh Sehun.

Jieun menghela nafas berlebihan sambil mencoba kembali berpikir jernih. Sekarang dia mencoba mengalihkan pikirannya pada permasalahan yang lebih penting dihidupnya, yaitu masalah Park Jieun dan Oh Sehun yang muncul dimimpinya. Orang kepercayaan Sehun sama sekali belum memberi kabar, karna itu sampai sekarang mereka belum menemukan petunjuk apapun. Jieun termenung mencoba mengingat-ngingat kembali setiap kejadian aneh yang menimpanya, mungkin ia mendapatkan petunjuk tersendiri didalam sana.

 

Drrrrtt

 

Drrrrtt

 

Jieun tersentak saat merasakan ponselnya bergetar, dia usap layar ponselnya kemudian membuka pesan yang masuk

 

From : Pangeran gila

Subject : Informasi penting

 

Jieun’ah paman Kim sudah memberi kabar. Dia bilang dia mendapat informasi mengenai apa itu reinkarnasi. Menurut penjelasan dari pakar yang ia temui, mungkin kita mengalami reinkarnasi. Park Jieun dan Oh Sehun yang kita lihat dalam ingatan atau mimpi itu, sepertinya mereka adalah kita dalam kehidupan sebelumnya. Entah percaya atau tidak, mungkin kita sudah dijodohkan untuk bertemu lagi dikehidupan yang sekarang. Baiklah.. hanya itu yang bisa aku beritahu, sebenarnya aku ingin menelponmu untuk menjelaskannya lebih detil. Tapi Taera benar-benar membuatku tak bisa berkutik jadi aku hanya bisa memberitahumu lewat pesan singkat. Senin nanti akan kujelaskan lagi disekolah.. Selamat malam Jieunnie~ mimpi indah^_^

 

Status : Reading

 

Jieun mencibir setelah selesai membaca pesan dari Sehun. Jujur melihat nama Taera dalan pesan itu membuat darahnya kembali mendidih. Apa sampai sekarang Taera masih menganggu Sehun? Gadis itu benar-benar harus membuat perhitungan dengannya. Jieun menghela nafas dalam-dalam untuk mengembalikan kewarasannya, mencoba untuk kembali ketopik permasalahan. Saat sedang berusaha mencerna info yang Sehun berikan dalam pesan singkatnya, sekelebat memori tiba-tiba muncul diotaknya layaknya sebuah film pendek.

“Hm.. mereka berinkarnasi dan dipertemukan lagi di takdir selanjutnya. Sangat beruntung..”

 

“Kalian dipertemukan kembali dengan kisah yang sama. Kalian ditakdirkan bertemu kembali tapi tetap tidak bisa bersama..”

 

“Namja itu hanya menepati janji yang ia buat dimasa lalu. Dia menepati janjinya untukmu agasshi. Kau harus terus menemaninya sampai saatnya tiba..”

 

Benar.. ingatan itu memperjelas informasi yang Sehun berikan. Reinkarnasi.. jadi dia dan Sehun dikehidupan sebelumnya adalah sepasang kekasih yang bahkan hampir menikah? Oh Tuhan sungguh tak dapat gadis itu bayangkan. Kening gadis itu pun mengkerut ketika mencoba membayangkannya.

 

Deg

 

Jieun terdiam.. saat dia mendapatkan satu petunjuk lagi dalam otaknya. Gadis itu kemudian menepuk jidatnya merutuki diri sendiri, kemudian dengan cepat membalas pesan Sehun.

 

To : Pangeran gila

Subject : Informasi yang lebih penting

 

Hey! Aku baru ingat kalau dulu juga ada seorang kakek yang bicara sama tentang reinkarnasi kita. Dia mengatakan beberapa kalimat yang menyangkut hal itu. Kurasa dia tau banyak, dan sepertinya kita bisa mendapatkan infomarsi lengkap darinya. Cobalah untuk meminta orangmu untuk mencarinya. Selamat malam dan mimpi indah juga~

 

Status : sending

 

“Haahh.. Oh Sehun..” gumam Jieun sambil menghela nafas setelah selesai mengirim pesan pada Sehun. Sampai tiba-tiba sebuah langkah kaki terdengar ditelinganya yang sontak membuatnya menoleh.

“Jonginnie..”

“Hey! Sudah kutebak kau ada disini. Sedang menikmati udara malamkah?” tanya Jongin sembari duduk disebelah sahabatnya dengan tangan yang melingkar ditengkuk leher.

“Hmm.. begitulah..” Jieun memutar-mutar ponselnya sambil melihat pemandangan kota Seoul dimalam hari.

“Kesini untuk menemuiku?”

“Tentu saja! Tidak lucu kan aku kemari untuk menemui satpam penjaga apartemen?!Tsk.. kau ini”

“Siapa tau kan.. kau tiba-tiba berubah abnormal dengan menyukai sebangsamu..hihi” ucap Jieun terkekeh.

“Kau gila!” Jongin mencibir kearah jieun sambil menunjukkan ekspresi ngambeknya. Mana mungkin dia abnormal! Jelas-jelas dia menyukai gadis manis seperti Jieun!

“Ohya! Sejak tadi kau kemana saja? Aku bahkan tidak menemukanmu setelah pulang sekolah. Aku cari ketoko bunga bibi Han kau tidak ada, saat aku cek kerestoran ayahmu.. kau juga tidak ada” Jongin mengalihkan pandangannya pada gadis disebelahnya, menatap Jieun dengan tatapan yang menuntut penjelasan.

“Umh.. itu.. aku.. pergi ke.. toko buku! Iya.. aku ketoko buku untuk mencari beberapa buku refrensi hehe..” ucap Jieun sambil menggaruk tengkuk lehernya. Dia berbohong pada Jongin.. takut jika Jongin marah kalau dia mengatakan yang sesungguhnya.

“Ohh begitu.. aku kira pengeran manja itu mencullikmu” ucap Jongin sambil bernafas lega.

“Jongin.. aku ingin tanya sesuatu padamu.. bolehkah?”

“Tentu saja boleh.. mau tanya apa?” jawab Jongin sambil menatap Jieun yang terlihat ragu dengan tatapan teduhnya.

“Apa kau percaya tentang kisah sepasang manusia yang sudah dijodohkan bersama sejak kehidupan selanjutnya? Tentang reinkarnasi yang menemukan cinta yang sempat terpisah..”

“Entahlah.. sebenarnya antara percaya atau tidak. Aku merasa kisah seperti itu sangat konyol dan mustahil. Tapi tak bisa dipungkiri jika banyak yang mengalaminya.. jadi bisa dibilang aku percaya tapi sedikit ragu dengan rasa percaya itu” ucap Jongin sambil bersikap bak seorang ilmuwan yang dimintai informasi tentang percobaannya. Sementara Jieun hanya tersenyum kecut mendengar jawaban sahabatnya, seperti merasa kurang puas.

“Memangnya kenapa? Tumben kau bertanya hal semacam itu”

“Ahh ani.. bukan apa-apa. Tadi aku hanya membaca sebuah novel dengan cerita seperti itu. Aku hanya terbawa.. hehe”

“Yasudah ayo masuk.. aku yakin kau pasti belum makan. Kita makan malam bersama, bagaimana?” ajak Jieun sambil beranjak dari duduknya kemudian mulai berjalan masuk kembali kedalam gedung. Jongin pun mengikuti gadis itu dari belakang, lalu merangkul pundak Jieun.

“Seperti biasa aku ingin makan nasi goreng special ala chef Park Jieun!” seru Jongin sambil mengacungkan sebelah tangannya yang bebas. Jieun pun bersmile eyes sambil menepuk lembut pipi Jongin. Jujur.. tingkah Jongin yang semacam inilah yang ia suka, tingkah yang mampu membuat gadis itu merasa hangat dan nyaman didekatnya.. bukan tingkah gilanya jika mulai bersaing dengan Sehun.

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

Pagi yang cerah dihari minggu.. Jieun memutuskan untuk mengunjungi restoran ayahnya. Sebenarnya dia ingin pergi jalan-jalan bersama Jongin hari ini, tapi karna kakak sepupunya Siwon memintanya untuk datang menandatangani beberapa perjanjian maka dia terpaksa membatalkan rencananya dengan Jongin. Sejak ayahnya meninggal keluarga Siwonlah yang membantu mengurusi bisnis rerstorannya sampai Jieun sudah cukup mampu untuk meneruskannya nanti. Walau Siwon diberi tanggung jawab sepenuhnya untuk mengelola restoran itu, tapi dia tak mau mengambil keputusan sendiri. Jadi setiap ingin membuat kerjasama dengan beberapa pemilik saham Siwon pasti akan meminta pendapat Jieun.

Masuk kedalam restoran tersebut, Jieun banyak mendapatkan salam hormat dari para pelayan. Ya.. sebagai anak sang pemilik restoran, tentu saja dia sangat dihormati. Mata Jieun menerawang mencoba mencari kakak sepupunya, dan mata Jieun pun terhenti pada sesosok namja yang kini sedang melambai kearahnya sambil tersenyum manis.

“Siwon oppa..” sapa Jieun saat dia sudah sampai ditempat Siwon duduk menunggunya dan dibalas dengan sebuah senyuman oleh namja itu. Jieun pun menarik kursi kemudian duduk berhadapan dengan Siwon.

“Maaf ya sudah mengganggu hari minggumu..” ucap Siwon sungkan.

“Ah tidak apa-apa oppa.. kenapa harus minta maaf. Aku sama sekali tidak keberatan kok..” Jieun melambai-lambaikan tangan didepan dada.

“Baguslah kalau begitu.. baiklah kau tunggu sebentar disini ya? Oppa akan mengambil beberapa berkas lagi. Kau pesanlah minuman dulu” Siwon pun bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju ruangannya. Sebelum masuk Siwon sempat bicara dengan salah seorang pelayan wanita, sepertinya dia meminta pelayan tersebut untuk melayani Jieun. Terbukti dari langkah pelayan tersebut kebangku tempat Jieun duduk.

“Anda ingin pesan apa Agasshi?” tanya pelayan tersebut ramah.

“Aku pesan jus jeruk saja” jawab Jieun yang kemudian dijawab dengan sebuah anggukan dari pelayan tersebut. Pelayan itu pun berbalik setelah menulis pesanan Jieun kemudian melangkah kearah dapur.

Sambil menunggu kakak sepupunya datang, Jieun duduk sambil memperhatikan sekelilingnya. Menerawang meneliti satu-persatu pekerjanya yang sedang melaksanakan tugas. Selain memperhatikan pekerjanya gadis itu juga memperhatikan orang-orang yang berkunjung kerestorannya. Karna tempat duduknya yang strategis membuat mata gadis berambut panjang itu mampu menjangkau seluruh penjuru restorannya. Tipe restorannya adalah tipe restoran minimalis dengan standar yang bisa dibilang tinggi. Walau tidak terlalu luas dan mewah tapi restoran itu cukup terkenal dikalangan orang atas. Karna itu tidak salah jika banyak orang berkantong tebal datang kerestorannya tersebut.

Saat sedang asik memperhatikkan pengunjung yang datang kerestorannya hari itu, tiba saja nafas Jieun tercekat dengan mata yang membulat saat melihat dua orang pengunjung yang familiar dimatanya. Berungkali ia mengedipkan mata untuk menyadarkan diri jika yang ia lihat hanya sebuah halusinasi. Ia geleng-gelengkan kepala sambil mengucek-ngucek matanya, masih berusaha menyadarkan diri. Tapi sepertinya usahanya sia-sia.. karna yang ia lihat adalah sebuah kenyataan.

 

“Oh Sehun.. dan.. Taera..”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

¶¶¶To Be Continue¶¶¶

N/B : NO SIDERS!! NO PLAGIAT!! HARGAI KARYA ANAK BANGSA!!

4 thoughts on “Our Destiny #3

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s