Cannonball

Tittle           :  Cannonball

poster ff cannonball

Author        : Shafiraji ( @officialfiraa )

Cast            :

  • Kim Jongin
  • Kang Hyemin

Lenght        : Short Oneshoot

Genre                   : Romance,Life

Rating         : General

Disclamer   : PLOT AND POSTER ARE MINE!

A/N             : ini ff pertama yang aku post disini. Terinspirasi dari salah satu lagu little mix sampailah terbuat ff sederhana mendekati hancur ini hahaha. Tapi sejelek-jeleknya ff ini, tolong berikan comment kalian ya. aku tunggu loh! Ohiya, endingnya aku buat agak gantung. Gaktau kenapa tapi pengen aja sekali-sekali buat ending yang gantung.

Summary    :

 “ketika aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku hanya ingin kamu menjadi satu-satunya orang yang tidak mengetahuinya,Jongin. Karena aku mengerti, ini akan menyakitimu lebih dari saat aku meninggalkanmu sendirian disini… semuanya terjadi begitu cepat,Tuhan sangat ingin aku untuk cepat pula mengambil tindakan. Aku tidak bisa berdiam diri saat itu, karena sisa hidupku pun semakin dekat….”

Kalimatnya menggantung, jantungku pun berdetak seirama dengan penjelasan Hyemin yang begitu cepat, namun secepat itu pula aku harus mengerti setiap kata yang ia ucapkan. Tapi tidak dengan sisa hidupnya yang semakin dekat

“Aku menderita leukimia.” Ia melanjutkan.

Leukimia?

 

**

Stones taught me to fly, Love taught me to lie, Life taught me to die, So it’s not hard to fall When you’ve float like a cannonball……

-Cannonball-

Jongin POV

Tempat tidur ini masih sama seperti 2 tahun lalu, tidak ada yang berubah selain keadaan hatiku. Miris memang. Ketika alunan lagu soundtracks film kesukaan kita terdengar begitu menyedihkan ditape yang dulunya sering kita gunakan untuk sekedar mendengarkan satu atau dua buah lagu.

Aku memang terlalu bodoh untuk menyadari bahwa kau sangat berarti untuk dalam hidupku.tapi penyesalan selalu datang diakhir,dan sayangnya semua yang terjadi sulit untuk kita ulang,atau mungkin memang tidak bisa kita ulang.Perlahan aku berjalan menuju sebuah kotak besar berisikan foto-foto kenangan masa lalu yang demikian jernih dalam ingatanku, tiap detik kebersamaan kita, aku bahkan masih mengingatnya.

Hyemin, dimana kau sekarang?

Karena ego dari seorang lelaki bodoh, karena kesombongan dari seorang lelaki nista, kau rela berjalan keluar dari hidup laki-laki itu, dan yang lebih menyedihkan lelaki itu adalah kim jongin. Diriku sendiri.

Kupandang sendu sofa yang sudah berdebu dan menjadi sarang laba-laba, seulas senyum miris kulukiskan dalam raut wajahku yang berkerut menandakan rasa kegelisahan yang mendalam. Ini adalah tempat terakhir dimana kita masih saling berpelukan dan memandang indah sepasang mata, kau dan aku.

Tiba-tiba sebuah tangan menggapai jemariku.

“Jongin” suara merdu mampu membuatku terdiam membeku, aku sangat mengenali suara ini. Meskipun sudah 2 tahun tidak mendengar suara indah miliknya, tapi aku sungguh masih mengingatnya. Hyemin.

“Hyemin-ah” aku berbalik untuk sekedar melihat mata indah dan keadaannya sekarang. mataku terbelalak, tidak percaya dengan apa yang kulihat. Matanya,senyumnya,dan tangannya semua masih sama. Namun, mataku menatapnya sendu,wanita yang kucintai terduduk lemah dengan bantuan kursi roda yang menopang tubuhnya.

Mataku dan matanya bertatapan lama, seakan banyak sekali kata yang ingin diucapkan, tapi entahlah terlalu sulit untuk mengatakan barang satu kata pun. Lidahku terjerat. Hanya 3 kata yang mungkin dapat men-deskripsikan perasaanku selama ini

“I Miss You,Hyemin-ah” aku sejajarkan posisiku dengan posisi Hyemin diatas kursi roda, aku tidak akan bertanya apa yang telah terjadi padanya sampai ia menjelaskan. Kemudian kuraih tangan mungilnya, dingin. Hanya itu yang kurasakan.

“Jongin, kau belum berubah. Selalu keras kepala, bukankah aku sudah bilang bahwa aku memiliki kekasih di London?” gadis itu tersenyum singkat, aku tidak melihat kebahagian diwajahnya, aku tau dia berbohong soal kekasih baru. Tapi entah apa alasan sebenarnya, aku masih belum tau.

“kau bohong Hyemi-aa, untuk apa kembali ke apartement ini selain untuk melihatku?” kuberanikan menyentuh pipi tirusnya, ia sangat kurus sekarang. bukan hanya tangannya yang dingin, tubuhnya pun semakin kurus.

Hyemi, ada apa denganmu?

Batinku terus saling bertanya, tapi mulut ini tidak akan ku biarkan untuk bertanya perihal dia dan kursi roda yang ada didepanku ini. Kalau Hyemi sudah siap aku yakin dia akan bercerita.

“kau tidak bertanya mengapa aku duduk disini?” wajahnya tertunduk dalam diam, ku angkat dagunya sembari mengelus lembut tangan kanannya.

“ini sulit untuk kukatakan, tapi apa yang terjadi?” mataku pun mulai mengeluarkan air, namun sebisa mungkin kutahan. Aku harus tegar paling tidak sampai ia mengatakan alasan sesungguhnya.

“ketika aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku hanya ingin kamu menjadi satu-satunya orang yang tidak mengetahuinya,Jongin. Karena aku mengerti, ini akan menyakitimu lebih dari saat aku meninggalkanmu sendirian disini… semuanya terjadi begitu cepat,Tuhan sangat ingin aku untuk cepat pula mengambil tindakan. Aku tidak bisa berdiam diri saat itu, karena sisa hidupku pun semakin dekat….”

Kalimatnya menggantung, jantungku pun berdetak seirama dengan penjelasan Hyemin yang begitu cepat, namun secepat itu pula aku harus mengerti setiap kata yang ia ucapkan. Tapi tidak dengan sisa hidupnya yang semakin dekat

“Aku menderita leukimia.” Ia melanjutkan.

Leukimia?

Aku berjalan menjauh, mencoba mengambil nafas dan memahami kata-katanya barang sebentar. Penyakit itu memang aku tidak begitu tau tapi aku yakin itu adalah penyakit yang berbahaya.

“baiklah, sudah jelas semuanya.” Suara langkah kursi roda terdengar menjauh. Aku tidak menahannya untuk pergi, kaki ini terasa sulit sekali untuk ku ajak berjalan.

Penyesalan terdalam bagiku adalah ingin mengetahui alasan sesungguhnya

—–

Hyemin POV

Kujalankan kursi rodaku agar menjauh darinya, sekarang semua sudah jelas. Paling tidak, aku bisa tenang jika suatu saat tuhan memanggilku. Jongin, kau memang satu-satunya lelaki yang masih mengisi relung hatiku, karena itu aku tidak akan menyakitimu lebih dari hari ini. Cukup hari ini kukabarkan padamu kondisiku yang sebenarnya, biarkan semuanya menjadi lebih buruk dan kau tidak akan mengetahui sesuatu tentang penyakitku lebih dari ini.

Air mata tidak terasa sudah membanjiri seluruh permukaan pipiku, mendengar namanya saja sudah membuatku jauh lebih rapuh.

Dan hal yang paling menyedihkan adalah, jongin tidak berusaha untuk mengejarku.

Hingga aku sampai didepan lift, kutengok kebelakang namun tidak ada seorang pun selain aku dan suara jam dinding. Sunyi.

“Hyemin” aku mendengar derap kaki seseorang seperti sangat tergesa-gesa, senyumanku tak dapat ditahan lagi. Kim Jongin.

“Jongin?” kuputar balikan kursi roda ini, tapi senyumku hilang saat melihat air matanya yang berjatuhan. Sungguh ini adalah pertama kalinya aku melihat tangisannya. Aku berjalan mendekat kearahnya mencoba menggapai pipinya, namun sayang aku terlalu lemah untuk sekedar berdiri dari kursi roda ini.

“Hyemin, aku sungguh mengerti sekarang. 2 tahun ini kamu sangat lemah untuk menghadapi penyakit itu sendirian, lubang dihatiku pun sama sepertimu. Tidakkah itu akan jauh lebih baik kalau kita saling berbagi kesedihan,kebahagian,kesulitan seperti dulu lagi?” Jongin menatapku penuh dengan ketulusan, ia sudah berubah menjadi dewasa. Jongin yang tidak lagi selalu mementingkan ego-nya.

Seulas senyum kuberikan untuknya, “Tidak, aku sudah banyak menyakitimu Jongin. Cukup hari ini saja aku memberikan satu lagi hal yang menyakitkan untukmu.”

“kau tidak pernah menyakitiku Hyemin, kita dapat memulai ini dari awal. Dan anggap semuanya tidak pernah terjadi. Sakit hatiku dan penyakitmu, anggap semua tidak pernah terjadi.” Lagi-lagi Jongin mengeluarkan airmata. Posisi sejajarku dan dia memudahkanku untuk menggapai pipinya, ku hapuskan setiap airmata yang mungkin ia keluarkan hanya untukku.

“bagaimana aku bisa melupakan penyakitku jika setiap menit aku harus menahan rasa sakit yang begitu membuatku ingin menyerah,hm?”

Hanya senyuman singkat yang kali ini aku tunjukan padanya.

Jongin berdiri,kemudian mendorong kursi rodaku memasuki lift yang baru saja terbuka. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya selama berada dilift.

“kita mau kemana?” tanyaku terlebih dahulu sebelum akhirnya pintu lift terbuka.

“aku akan mengantarmu kerumahku. Kita akan tinggal bersama.” Jongin begitu dingin. Aku tahu ia marah saat ini, tapi tidak mungkin bagiku untuk menjalani hidup dengannya. Sudah terlalu banyak sakit hati yang kuberikan padanya.

“untuk apa? Aku ini wanita lemah,Jongin. Kau bodoh sekali masih mencintaiku! Apa yang kau mau dariku,huh?”

Tanpa kusadari,Jongin sudah tepat berada didepanku. Menatap tajam mataku yang berair.

“kau salah menafsirkan bagaimana aku mencintai seorang wanita. Aku tidak mencintaimu karena kau cantik, karena kau sempurna. Aku mencintaimu karena kau telah mengajariku semua hal-hal penting dalam hidupku. Kau mengajariku bagaimana menjadi dewasa. So,we can start it all over again.

“Kim Jongin, dengarkan aku. Kau juga harus tau bagaimana aku menginginkan kau berada disampingku hingga detik-detik terakhir aku singgah didunia ini. Tapi, kemungkinan itu sudah aku hilangkan sejak aku berniat mengunjungi apartement lama kita, dan akhirnya bertemu kau. Karena, aku akan kembali ke London.”

Aku menjalankan kursi rodaku. Membiarkan dia termenung sendiri.

Argh, ya tuhan kenapa jantungku terasa sakit sekali.

—–

Jongin POV

Aku berjalan mengikuti para dokter dan suster yang membawa Hyemin keruang UGD. Tangannya menggenggam erat jemariku, Hyemin seperti ingin mengatakan sesuatu. Perlahan, tangan kirinya melepaskan kalung yang menggantung dilehernya.

“simpanlah….” ucapnya singkat dan bergetar. Setelah itu, matanya terpejam dan mereka melarangku untuk masuk kedalam ruang UGD.

“maaf tuan, anda bisa menunggu disini.”

Aku terduduk disalah satu kursi. Seperti tidak ada lagi udara, sesak didadaku semakin bergemuruh. Kulihat kalung yang diberikan oleh Hyemin tadi.

Surat?

Untuk Kim Jongin,

Saat kau melihat surat ini mungkin aku sudah tidak berada disampingmu lagi. tapi, jangan khawatir jongin-ah. Aku selalu mengawasimu. Hehehe. Penyakit ini sungguh menyiksaku, aku tidak dapat makan dengan tanganku sendiri karena terlalu lemah. Oh ya, maaf kalau tulisanku tidak terbaca. Aku sangat lemas untuk sekedar menulis.

Hari ini aku menjalankan kemotrapi untuk ke 4 kalinya, kau tahu? Ini sangat sakit. Aku harus kehilangan seluruh bulu ditubuhku, bahkan rambutku.aku sangat sedih jika melihat bagian yang paling kau sukai ini harus hilang begitu saja.

Saat aku kembali ke Korea nanti, kau pasti akan menjauhiku karena aku sangat buruk sekarang. aku tidak punya rambut, dan tubuhku juga sangat kurus. Tak apa, aku tidak berharap kau berada disampingku lagi. lelaki sempurna sepertimu akan sangat lengkap jika kekasihmu bukanlah seorang penderita leukimia sepertiku. Kau pasti akan sangat malu jika membawaku berpergian untuk bertemu temanmu. Hehehe

Jongin,aku hanya ingin kau tau kalau aku sangat mencintaimu. Hingga saat-saat terakhir hidupkupun aku akan berusahan menjadikanmu cinta pertama dan terakhirku. Maaf telah berbohong soal kekasih baru, aku tidak sanggup jika harus berbicara langsung padamu saat itu.

Jaga dirimu baik-baik,Kim Jongin. Jangan terlalu sering meminum soju, itu akan membahayakan kesehatanmu. Banyak-banyaklah olahraga disela-sela aktifitasmu, perbanyak minum vitaman agar kondisimu tidak menurun saat pekerjaan menuntutmu untuk kuat, makan makanan yang bergizi seperti sayuran juga akan membantumu lebih fit. Jadi jangan membantah ya.

Baiklah, selamat tinggal.

Kang Hyemin, London, june 10 2012

Kau memang paling hebat dalam membuatku menangis Hyemin. Kau sudah melakukannya lebih dari 2 kali untuk hari ini. Tiba-tiba ingatanku kembali melayang pada saat pertemuan kita disebuah kafe 5 tahun lalu. Kau begitu cantik dengan balutan baju kerjamu, aku mengajakmu berkenalan pada saat itu. entah karena apa, kita menjadi begitu dekat dan tak lama menjalin hubungan.

Sampai pada saat itu, kau memutuskan untuk pergi ke London dan meninggalkanku diruang penuh kegelisahan. Penjelasanmu waktu itu sungguh tidak masuk akal. Dan sekarang aku lebih dari paham mengapa kau meninggalkanku, walau sempat tak menerima dengan keputusan sepihakmu, namun sekarang aku bertekad akan menjagamu lebih dari aku menjaga diriku sendiri.

FIN

 

 

6 thoughts on “Cannonball

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s