Diposkan pada Drabble, Fanfiction, Freelance, Lu Han, One Shoot, Sad Romance

THE SECOND LIFE

The Second Life

omo

 

Author : Tiffany Tania || Title : The Second Life || Genre : Romance, Sad || Length            : Drabble || Main Cast : Yoona GG’s, Luhan Exo M’s, Jessica GG’s

My WordPress : taniatiffany.wordpress.com

Note : Dont be siders! Dont plagiat! And don’t judge the Pairing

 Cerita ini asli milik author,  sedikit terinspirasi salah satu film. Tapi ga semuanya, silahkan chingudeul selamat menikmati^^

-oOo-

Jalanan pagi kota Seoul memang semakin ramai saja, bisa dilihat dari beberapa kendaraan yang berlalu lalang dijalanan. Tapi itu semua tidak bisa mengurungkan niat sepasang kekasih yang memang sedang berjalan-jalan disana. Hari ini hubungannya tepat satu tahun. Rencananya mereka ingin membeli cincin pasangan khususnya cincin tunangan. Keluarga Xi dan Keluarga Im memang adalah seseorang yang sangat berpengaruh bagi kota Seoul. Mereka merupakan salah satu keluarga terkaya disana. Bayangkan betapa sempurna dan bahagianya hidup mereka berdua.

Chagiya, apa kita jadi pergi kesana?” ucap seorang Im Yoona yang sedang duduk disebelah Luhan, yang sedang menyetir.

“Tentu saja, hari ini harus menjadi hari yang mengesankan bagi kita” ucap Luhan menoleh pada Yoona. Dia menatap dalam manik bola mata milik kekasihnya yang berwarna kecoklatan itu. Yoona hanya membalas dengan senyuman manis, senyuman yang bisa membuat Luhan merasa bersemangat jika sedang kelelahan.

Kajja!” seru Yoona bergairah. Luhan hanya tersenyum melihat kekasihnya yang sebentar lagi berstatus menjadi tunangannya. Mobil mereka melaju cepat menuju tujuan.

@Times Square Shopping Center

 

Mereka tiba disana, disalah satu mall terbesar di kota Korea Selatan itu. Mereka berjalan mengitari mall itu, dan sampai disalah satu toko perhiasan. Yoona hanya bergelayut manja ditangan Luhan. Sungguh ini suatu peristiwa yang sudah dia damba-dambakan semenjak dahulu, bisa naik satu tingkat kejenjang hubungan yang lebih serius.

 

Annyeong ahjumma, apakah ada cincin pasangan yang cocok untuk kami berdua?” tanya Luhan. Sedangkan Yoona hanya mengedarkan pandangannya kesegala arah. Dia takjub dengan keindahan mall ini.

 

“Apakah kalian sepasang kekasih? Kalian nampak cocok sekali” balas ahjumma itu sambil tersenyum. Luhan pun tersenyum sedangkan Yoona membungkukkan badan yang berarti berterima kasih pada ahjumma itu. “Chakamman” ucap Ahjumma itu berlalu. Setelah beberapa lama ahjumma itu kembali dengan membawa satu set cincin pasangan.

 

“Bagaimana jika yang ini? Apa kalian suka?” tawar ahjumma itu. Yoona hanya membelalakkan matanya. “Kyeopta, aku ingin yang ini chagiyaaaa” rengek Yoona manja. Luhan hanya mengangguk menyetujui. “Kami memesan yang ini saja ahjumma” ucap Luhan sambil mengeluarkan selembaran uang dari dompetnya.  “Ini barangnya, kamsahamnida sudah mau berbelanja ditempat kami. Semoga barang kami tidak mengecewakan kalian, dan semoga hubungan kalian langgeng sampai menikah” ucap ahjumma itu sambil tersenyum. Lagi-lagi Luhan dan Yoona membungkukkan badan sambi berkata “Kamsahamnida ahjumma, kami pergi dahulu” ucap Yoona disusul anggukan Luhan.

 

“Setelah ini kita kemana chagiya?” tanya Yoona pada kekasihnya, Luhan. Luhan hanya menyeret Yoona mengisyaratkan dia harus mengikuti Luhan. Luhan berhenti didepan mesin fotobox. Yoona mengernyitkan dahi, tak mengerti apa maksud Luhan.

 

“Maksudmu?” ucap Yoona bingung.

 

“Aku ingin kita mengambil selca disini, apa kau mau?” ucap Luhan mengajak Yoona seraya menarik-narik tangannya. Yoona hanya menurut.

 

Hana… Dul… Set…

CKREK!

 

Luhan dan Yoona tertawa bersama, melihat hasil foto mereka yang menurut mereka sangat konyol. Sungguh jujur saja, Luhan sangat menyayangi kekasihnya itu. Entah apa yang terjadi jika kekasihnya itu meninggalkan dia sendirian.

 

Chagiya, aku lelah. Mari kita pulang” ucap Yoona yang memang terlihat kelelahan. Peluh dikeningnya mengalir agak banyak, sehingga Luhan langsung membersihkannya dengan kain tissue yang ada disaku jaketnya. Yoona yang melihat tingkah kekasihnya itu hanya tersenyum “Gomawo chagi”.

 

Mereka telah sampai diparkiran, Luhan dan Yoona pun masuk kedalam mobil. Sebelum mereka pergi, Luhan mencoba memperingatkan Yoona untuk memasang seatbelt tapi dia tidak mau katanya dengan alasan memang dia tidak suka memakainya. Tidak bisa bergerak bebas “katanya”. Dengan terpaksa Luhan menuruti apa kata kekasihnya itu, jika tidak ya Luhan tau kalau watak kekasihnya itu sangat keras kepala. Kini hari sudah mulai malam, jalanan di kota Seoul masih saja ramai seperti hari – hari biasa. Yoona tertidur pulas, sedangkan Luhan masih mengendarai mobilnya.

 

Kini dia memasuki kawasan yang memang agak jarang dilalui pengendara, dengan alasan menghindari traffic jam. Perasaan Luhan mulai tidak enak, dia menatap cemas kearah Yoona berkali-kali. Dia takut Yoona akan meninggalkannya sendirian. Kalian tahukan jika Luhan sangat mencintai kekasihnya yang sebentar lagi berstatus tunangan-nya itu.

 

Dia terus menatap Yoona, padahal Yoona jelas-jelas berada disisinya. Dan tidak mungkin dia sampai menghilang begitu saja. Tiba-tiba handphone Luhan berdering, dia hendak mengambilnya namun sial handphonenya jatuh kebawah. Sehingga dia kesulitan untuk membawanya. Dia memberhentikan mobilnya sebentar, berniat mengambil handphonenya yang terjatuh. Namun kali ini kesalahan Luhan fatal, dia berhenti ditengah-tengah jalan. Luhan berhasil membawa handphonenya, dia bangun dan menoleh ke arah jendela kanan dan….

 

BRUK

 

Mobil Luhan dihantam mobil pengangkat pasir yang mengangkut berkilo-kilo ton pasir, kecelakaan itu membuat mobil Luhan terguling beberapa kali. Kini Luhan masih bisa merasakan kecelakaan itu, hanya saja kepalanya mengeluarkan darah yang banyak karena menghantam stir mobil. Tiba-tiba Luhan teringat akan Yoona, dia mencoba membukakan seatbelt yang dia kenakan. Dia merangkak keluar mobil dengan pelan, karena memang badannya sangat lemas akibat kecelakaan tadi. Sedangkan Yoona? Luhan melihat tubuh Yoona terpental sekitar 5 km dari tempat kecelakaan. Mengingat Yoona yang tidak memakai seatbelt Luhan mulai menangis, dia takut kekasihnya itu sudah tak bernyawa. Dia masih mencoba merangkak mendekati Yoona, namu tiba-tiba penglihatannya kabur dan semuanya gelap.

 

Berita kecelakaan kedua anak konglomerat itu mulai mencuat dibeberapa televisi, bahkan majalah dan koran. Kini kedua keluarga, baik Nyonya dan Tuan Im juga Nyonya dan Tuan Xi sedang menunggu cemas didepan ruangan anak mereka berdua. Tiba-tiba keluarlah seorang yang mereka percayai dokter.
“Keluarga korban apakah ada disini?” ucap dokter memastikan.

 

“Ne, kami keluarga kedua korban. Bagaimana keadaan anak kami dok? Apakah baik-baik saja?” ucap Ny. Im dan Ny. Xi cemas.

 

“Untuk Luhan, dia menderita luka dibagian tangan kanan dan kaki kiri, sehingga harus dipasang gips. Dia tidak terlalu parah, tapi….”

 

“Tapi apa dokter?” ucap Tuan Im gemetaran.

 

“Untuk Yoona, dia mengalami luka yang sangat parah dibagian wajah. Sehingga dia harus melakukan operasi plastik. Jika tidak,wajahnya akan sangat buruk mengingat sepertinya dia terpental jauh dan wajahnya mendarat terlebih dahulu” ucap dokter sambil mendesah pelan. Sungguh, bagaikan tersambar petir. Ny. Im mulai melemas, dia jatuh terduduk. Ny. Xi mencoba menenangkan Ny.Im yang mulai menangis.

 

“Bagaimana?” ucap dokter meminta jawaban.

 

“Baiklah, lakukan operasi itu sekarang juga dok, lakukanlah yang terbaik untuk anak kami dok, saya mohon” ucap Tn. Im memohon kepada Dokter.

 

-oOo-

 

Dua hari berlalu, Luhan masih dirawat dirumah sakit yang sama dengan Yoona. Selama dua hari ini, dia tidak mau makan. Dia hanya akan makan jika bertemu dengan Yoona dulu. Ny. Xi sudah menyerah menghadapi anaknya,dia tidak mungkin memberi tahu Luhan bahwa Yoona melakukan operasi. Dia tahu pasti Luhan akan sangat terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri.

 

Umma, beritahu aku dimana Yoona. Aku merindukannya” keluh Luhan dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Nyonya Xi hanya menunduk pasrah, tidak memberi Luhan jawaban sama sekali. Biar Luhan mengetahuinya sendiri.

 

Sedangkan, Nyonya Im dan Tn. Im nampak cemas, dia menunggu hasil oprasi Yoona. Hari ini, Yoona akan membuka perbannya, mereka penasaran bagaimana raut wajah anak sematawayangnya ini. Semoga hasil operasinya tidak mengecewakan.

 

“Apa anda siap, Tuan dan Nyonya?” ucap dokter yang  bersiap menggunting perban yang menutup seluruh bagian wajah Yoona. Mereka hanya mengangguk. Ny.Im mengeratkan pegangannya pada tangan Tn.Im dia cemas, dia takut hasil operasinya gagal.

 

Krek

 

Dokter mulai menggunting perban yang menutup seluruh bagian wajah Yoona, perlahan tapi pasti mulai bisa terlihat bagian dagu,pipi, hidung dan mata Yoona. Tn.Im dan Ny.Im tersenyum bahagia, akhirnya hasil operasinya berjalan baik. Anaknya nampak lebih cantik, walaupun tidak diragui mereka merindukan sosok polos seorang Im Yoon Ah. Wajah anaknya yang sekarang lebih terkesan “jutek” namun jika dia tersenyum semuanya akan lebih berbeda.

 

“Anakku,bagaimana keadaanmu sekarang sayang?” ucap Ny.Im memeluk anaknya-Im Yoon Ah.

 

“Aku baik-baik saja umma, Luhan dimana?” ucap Yoona yang memang tiba-tiba ingat pada Luhan. Nyonya Im terdiam, begitupun Tuan Im. Yoona merasakan atmosfer aneh diruangannya, sepertinya mereka menyembuyikan sesuatu darinya. Lantas Yoona berlari keluar, berusaha mencari Luhan.

 

“Yoona,  a.. ah.. sayang Luhan tidak ada disini” teriak Ny.Im namun sayang Yoona tidak memperdulikan ocehan Ibunya itu. Dia terus berlari mencari keberadaan Luhan, dia berlari ke arah informasi.

 

Mianhae, apakah disini ada pasien yang bernama Luhan? Jika ada dia berada di kamar nomor berapa?” ucap Yoona

 

Chakkaman, akan saya cek dulu. Ya, apakah nama pasien bernama Xi Luhan?” tanya suster tersebut. Dengan sigap Yoona menggangguk pasti, “Tuan Xi berada diruangan nomor 360” katanya  meyakinkan Yoona. Yoona pun langsung berlari mencari ruangan tersebut, sampai dia lupa mengucapkan terimakasih. Yoona terus berlari hingga dia sampai didepan ruangan tempat dimana Luhan berada. Dia membuka knop pintu pelan-pelan. Namun nihil, disana tidak ada Luhan hanya Ny. Xi yang berada diruangan itu.

 

Nuguya?” ucap Ny.Xi melihat kedatangan Yoona. Yoona tersentak kaget, bagaimana umma Luhan secepat itu melupakannya.

 

“Ini aku Yoona, ahjumma” ucap Yoona menunjuk dirinya sendiri. Terlihat raut senang sekaligus sedih dari wajah Ny. Xi. Lantas dia memeluk Yoona erat. “Syukurlah kau baik-baik saja, jika tidak ada kau aku tidak tahu Luhan akan seperti apa” ucap Ny.Xi mengelus punggung Yoona. “Dimana Luhan, ahjumma?” tanya Yoona penasaran. “Dia sepertinya berjalan-jalan disekitar taman belakang, dia sangat merindukanmu. Datang dan temuilah dia disana” ucap Ny. Xi mengelus lembut pipi Yoona. Yoona mengangguk dan bergegas pergi keluar.

 

‘Apakah Luhan bisa menerima perubahan Yoona?’ ucap Ny.Xi didalam hati.

 

Yoona masih berlarian, tampaknya dia mulai kelelahan. Nafasnya tersengal, dia memegangi bagian dadanya terasa sakit disana. Namun tiba-tiba, Yoona menangkap sesosok orang yang dia rindukan, Luhan. Luhan sedang duduk terdiam diatas kursi roda. Tanpa Yoona sadari, Yoona menitikkan air mata. Betapa bahagianya dia bisa melihat Luhan dihadapannya. Dia segera berlari dan memeluk Luhan dari belakang. Luhan tersentak kaget, dia menepis tangan Yoona.

 

“Siapa kau? Berani-beraninya kau memelukku!” sentak Luhan. Yoona membulatkan matanya, air matanya semakin mengalir. “Ini aku, Yoona. Kau tidak mengingatku?” ucap Yoona sambil menangis. Luhan menatapnya datar, “Hahaha.. Lucu sekali kau ini, kau bukan Yoona. Yoona itu cantik, wajahnya pun tidak sepertimu! Pergi dari hadapanku, kau salah orang!” sentak Luhan lagi. Yoona merasakan sesak didadanya, sebegitu burukkah wajahnya setelah operasi sehingga Luhan tidak bisa menerima semua ini. Luhan meninggalkan Yoona yang masih menangis disana.

 

“Yoona kau dimana? Aku merindukanmu” ucap Luhan menitikkan air mata. Yoona berlari keruangannya, dia mencari cermin. Setelah mendapatkan cermin, dia langsung menatap pantulan wajahnya dicermin. Dia sangat membenci raut wajahnya yang sekarang, yang membuat Luhan membencinya.

 

“Siapa kau? Im Yoon Ah? Hahaha.. Im Yoon Ah tidak seperti ini! Yoona tidak seperti ini, ini adalah orang lain bukan kau Yoona. Aku membencimu Im Yoon Ah, sangat membencimu!!!!!” rutuk Yoona pada pantulan wajahnya sendiri, dia sangat frustasi saat itu.

 

Ny. Im yang menyaksikan putrinya itu ikut menangis, merasakan betapa berat bebannya saat itu. Ny.Im mencoba menenangkan Yoona, dia memeluk gadis kecilnya itu kepangkuannya. Yoona hanya mampu menangis dipangkuan ibunya itu. “Umma, aku ingin pindah ke Paris. Bolehkah? Aku ingin tinggal disana di apartemen yang dulu jebal umma” melihat Yoona yang meronta Ibunya hanya mengangguk mengiyakan “Geurae, besok kau berangkat. Umma akan mempersiapkan semuanya sekarang pergi istirahatlah ya?” ucap Ibu Yoona mengelus rambut Yoona,Yoona hanya mengangguk “Gomawo, umma” dan semakin mengeratkan pelukannya.

 

Besoknya, Yoona bersiap-siap pergi ke bandara. Dia sudah sangat rapi sekarang, dia masih menatap aneh pantulan wajahnya dicermin. Terbesit perasaan luka setiap kali dia menatap cermin, mengingatkannya kepada Luhan. Yoona sudah bisa menerima takdir, mungkin dengan wajah barunya ini dia harus menata ulang hidupnya dari nol.

 

“Apa kau sudah siap, sayang?” ucap Umma pada Yoona. Yoona mengangguk, dan bergegas pergi. Sebelum pergi, Yoona mendatangi ruangan tempat Luhan dirawat. Dia diam mematung disana, mencoba menahan air mata yang sudah mulai menimbuni matanya sehingga pandangannya agak kabur sekarang. Dipegangnya pintu itu, turun kebawah hingga mencapai knop. Ingin sekali dia membuka knop itu, dan berpamitan kepada Luhan. Namun, mengingat kejadian kemarin dia mengurungkan niat tersebut.

 

‘Gomawo, Luhan untuk kebahagiaan yang kau berikan padaku. Seandainya kau lebih peka dengan perasaanku, mungkin kau akan tau kenyataan yang sesungguhnya. Mulai sekarang, aku akan pergi ke Paris menata kehidupan baru disana. Dan untukmu, semoga mendapatkan kekasih yang lebih baik dariku. Selamat jumpa, mungkin kita belum berjodoh~’

 

Setidaknya kata-kata itulah yang terucap didalam hati Yoona, dia menghapus air mata yang membanjiri pipinya itu. Dan bersiap untuk pergi ke bandara.

 

-oOo-

 

Luhan mendesah kesal, beberapa kali dia menghubungi ponsel Yoona namun nihil tidak ada jawaban. Luhan tidak tahu jika Yoona melakukan operasi plastik, namun tiba- tiba dia berfikir seorang yeoja yang dia temui ditaman belakang rumah sakit.Terbesit difikirannya “Apakah dia memang Yoona? Tapi mana mungkin Yoona seperti itu? Wajahnya pun tampak asing dimataku.. Ah sudahlah dia hanya salah orang mungkin” ucap Luhan. Luhanpun mencoba berjalan keluar meskipun harus memakai tongkat, dia tidak menyerah. Dia keluar ruangan, namun dia melihat ibunya sedang berbincang dengan Ny.Im ibu Yoona. Dia mendengar percakapan mereka.

 

“Ny.Im bagaimana keadaan Yoona? Apa dia baik – baik saja?” cemas Umma Luhan, Ny.Xi.

 

“Ya, dia baik-baik saja. Hanya saja… tadi pagi dia berangkat ke Paris dia akan melanjutkan hidupnya mulai dari nol dan berusaha melupakan Luhan” kata Ny.Im sambil menunduk “Apakah Luhan mengetahui Yoona melakukan operasi plastik?” ucap Ny.Im lagi.

 

Terasa disambar petir, tubuh Luhan melemas. Tongkat yang dia gunakan menjadi penopang tumbang seketika, mendengar suara itu Ny.Im dan Ny.Xi kaget bagaimana bisa Luhan berada disana. Luhan memandang kearah lantai, tatapan kosong tatapan kehilangan. Mengapa umma-nya tidak memberitahu Luhan tentang semua ini. Sungguh dia merasa menyesal kali ini, telah melukai perasaan wanita yang mengaku-ngaku sebagai Yoona yang sebenarnya itu memang Yoona.

 

“Luhan” ucap Ny.Xi berlari menghampiri Luhan.

 

“Mengapa umma tidak memberi tahu aku tentang semua ini?” ucap Luhan masih dengan tatapan nanar.

 

“Maaf, umma tidak bermaksud seperti ini. Umma takut jika kau akan merasa bersalah atas kecelakaan yang kau alami bersama Yoona. Jadi umma putuskan untuk tidak memberitahu ini semua kepadamu. Sungguh umma minta maaf Luhan. Mianhae” ucap Ny.Xi menangis. Melihat ibunya menangis Luhan luluh, dia tidak bisa menyalahkan ibunya sepenuhnya memang karena ini kesalahan dia andaikan dia tidak berusaha membawa handphone pada saat itu mungkin kejadiaannya tidak seperti ini.

 

-oOo-

 

Yoona sudah tiba di Paris, dia sangat rindu dengan kota tempat dia tumbuh ini. Keadaannya masih sama seperti dua tahun yang lalu, saat dia masih berada disana. Yoona merasa senang sekali, namun ada sedikit rasa rindu yang tersirat dibenaknya. Dia merindukan sosok Luhan, sosok pria yang selama ini menjaganya dengan segenap cinta. Namun tidak sekarang. Dia merogoh tasnya mencoba mengambil handphone nya yang dia matikan, ditekannya tombol power handphone tersebut. Dia terkejut, dua puluh satu panggilan tidak terjawab dengan nama yang tertera dilayar –Xi Luhan-

 

“Untuk apa dia meneleponku?” ucap Yoona keheranan. Namun tiba-tiba handphonenya berdering, dia kaget melihat Luhanlah yang meneleponnya. “Umma, ottokhae?” rintihnya dalam hati.

 

Yeo..yeoboseoyo?”

 

“Yoona kau dimana? Ini aku Luhan!”

 

“Mi..mianhae aku bukan Yoona.. Aku..Aku Jessica” ucapnya berbohong.

 

Kau jangan berbohong kepadaku! Aku tahu semuanya, kau melakukan operasi plastik kan? Yoona kau dimana? Mianhae atas kejadian kemarin, aku salah. Bogoshippo, jeongmal bogoshippo” ucap Luhan dengan suara yang agak bergetar, bisa dia rasakan matanya sekarang memanas.

 

Tut..tut..tut..

 

Yoona menutup telepon tersebut, dia sudah tidak mau mengharap Luhan lagi. Dengan wajah yang seperti ini, dia bertekad untuk memulai hidupnya yang baru. Memulai semuanya dari nol dan berusaha melupakan Luhan.

 

Mianhae, Luhan aku akui memang aku mencintaimu tapi sepertinya akan lebih baik jika aku memulai hidup yang baru. Aku takut kau mencintaiku sebagai jelmaan Yoona, bukan diriku yang sekarang” ucap Yoona dalam hati. Dia menghela nafas panjang, mencoba berfikir ulang apa yang dia rencanakan dan akhirnya dia tersenyum sambil berkata “Selamat tinggal Im Yoon Ah, dan selamat datang Jessica”.

 

-END/TBC(?)-

Aduh gimana ini chingudeul? Aku ngaco banget ya ini bikin FF? Ga nyambung._.

Mianhae, aku lagi kepengen banget bikin FF ini, karena ngebet mungkin hasilnya ancur kali ya?

Semoga chingudeul suka deh, kalo responnya baik aku adain sequel tapi kalo responnya sedikit ya ga bakalan aku lanjut kayanya^^

Kritik & Saran sangat dibutuhkan, gomawo^^

-Tiffany Tania-

 

9 tanggapan untuk “THE SECOND LIFE

  1. bagus ceritanya … sambil baca sambil ngebayangin juga suasana ceritanya gmn .. klu d bikin film beneran pasti w tonton ..
    FIGHTING ya 🙂

  2. aaa … eonnieee … cepet dilanjut yaa … disini bener” ada sica unn ??? .. ff ini kerennn kkoooqq ! 😀 *CIUS*

  3. DA-E-BAK!!!

    Thor. . .
    Ff kamu bagus. . .
    Walau begitu aku kasian ngeliat lulu ditinggalin ama Yoona aka Jessica. . .
    Tapi aku suka loh! Kan jarang tuh ada ff yang ngungkit operasi plastik. . .

    Keep Writing ya thor. . .

  4. seru thor, Yoona jadi Jessica?! tapi gak papa, mereka berdua cantik kok, FF nya END ato TBC sih??????? bingung nih

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s