Through My Camera

Title  : Through My Camera

Untitled-11

Author : 9203CZ

Main Cast (Tokoh Utama) : Kris Wu / Wu Yi Fan

Shin Minchan / Michelle Shin

Support Cast (Tokoh Pembantu) : Kwon Myeong Jin

Length : Oneshoot

Genre : Romantic

Rating : General – PG-15

Summary : Ketika Kameramu terpusat pada suatu hal yang lebih dari sekedar ‘menarik’. Lebih dari kata indah itu sendiri. Tak ingin melepas sosoknya lagi…

A.N: Annyeong, ini FF pertama yang saya kirim ke Blog ini. Tapi, bukan berarti ini FF pertama saya. Ada beberapa yang pernah saya buat dan diposting dibeberapa blog lain. Enjoy this fanfict then… Happy Read.. J

 

===============================================================================

 

 

Seoul, Green Peak Apartement 08.56 AM

Gadis yang sedang bergelung dalam selimutnya itu mengerang pelan. Bibirnya menggumamkan sesuatu seperti keluhan karena ia dibangunkan dengan agak kasar oleh seseorang. Ia melontarkan kalimat-kalimat sanggahan tentang ia yang harus bangun pagi. Oh ayolah, ia bahkan baru menikmati tidurnya hari ini setelah beberapa hari kemarin disibukkan dengan pemotretan dan pengeditan foto.

“Ayolah, bangun..” orang yang membangunkannya itu tidak menyerah. Ia menarik lengan anaknya hingga gadis itu terduduk diranjangnya dengan mata yang masih terpejam.

“Eomma.. Ini masih sangat pagi..” erangnya dengan suara serak. Ia hampir saja menjatuhkan tubuhnya lagi ketika dengan cekatan wanita yang ia panggil Eomma menahannya.

“Tidak. Kau harus bangun” ujarnya tegas.

Gadis itu mengerang kesal. Lebih tepatnya menyerah. Sekelebat ingatannya tentang kejadian serupa menghantamnya. Ia tidak mau ranjang dan seluruh tubuhnya basah terkena siraman dari wanita yang telah melahirkannya ini.

“Baiklah, baiklah..”

Dengan enggan ia turun dari tempat tidurnya. Dengan kesadaran yang baru beberapa persen, ia kesulitan menopang berat tubuhnya sendiri. Sesekali ia hampir jatuh jika saja Eommanya tidak menarik tubuhnya agar berdiri tegak lagi.

“Kau cuci muka sana. Eomma tunggu diluar..”

“Eung…”

Gadis itu menyeret langkahnya menuju kamar mandinya. Tangannya meraba-raba pintu kamar mandinya mencari grendel pintu. Setelah menemukan yang dicarinya, ia segera membuka pintu itu dan membiarkan kakinya membawanya masuk kedalam kamar mandi. Mengikuti instingnya menuju wastafel dengan cermin yang melekat ditemboknya. Apa aku sudah bilang jika ia berjalan dengan mata tertutup?

Ia kembali meraba-raba mencari letak kran air didepannya. Ia begitu malas membuka matanya hingga segalanya hanya mengandalkan insting saja. Air mengalir begitu saja membasahi kedua tangannya. Dengan masih memejamkan mata, ia menampung air dari kran itu dengan kedua tangannya yang saling menangkup. Dibasuhnya wajahnya dengan air itu hingga memberikan sensasi segar yang akhirnya membuat ia membuka matanya. Ia mendapati pantulan wajahnya begitu kusut disana. Ia kembali membasuh mukanya beberapa kali hingga ia yakin sudah benar-benar sadar. Ia terdiam menatap pantulan wajahnya sembari mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya. Diusapnya anak rambut yang menjuntai didahinya keatas hingga kini wajahnya tidak dihalangi oleh apapun. Ia mendengus kesal ketika mendapati kenyataan ia terpaksa bangun pagi dihari liburnya yang berharga.

“Ada apa, Eomma?”

Gadis itu berjalan menghapiri Eomma nya yang  tengah duduk di sofa membaca majalah fashion yang seingatnya baru ia beli tapi belum sempat ia baca karena tidak tau menaruhnya dimana. Dan mendapati kenyataan kini majalah fashion itu telah keluar dari persembunyiannya, ia segera mengedarkan pandangannya dengan panik.

Rapih. Benar dugaannya.

“Eomma menghancurkan semua pekerjaanku” protesnya melihat ruangan yang harusnya tidak rapih kini begitu bersih dan teratur.

“Tidak, sayang. Eomma menaruh semua sampah-sampahmu di kardus sana itu..” ia mengikuti arah telunjuk Eomannya yang menunjuk sebuah kardus yang cukup besar berada disudut ruangan.

“..dan Eomma betul-betul tidak nyaman dengan kapal pecahmu ini..”

Ia mendesah lega. Dihempaskannya tubuhnya tepat disamping Eommanya. Meraih bantal sofa dan memeluk bantal itu dengan nyaman. Tentu saja dengan posisi yang nyaman pula. Setengah berbaring dengan pipinya yang menempel di bantal sofa itu.

“Eomma kesini ingin menanyakan tawaran Eomma semalam..” Eomma nya menutup majalah yang tadi ia baca dan membiarkannya tergeletak dipangkuannya.

Ia mendesah berat mendengar ucapan yang Eomma nya lontarkan. Baru saja ia ingin mengarungi mimpinya lagi. Mungkin sedikit mencuri-curi kesempatan untuk tidur, tapi kini Eommanya malah menanyakan sesuatu yang betul-betul menyentak fikirannya secara kasar agar tetap sadar. Ia mendecakkan lidahnya kesal kemudian bangkit dari posisi nyamannya.

“Eomma, aku ini masih muda. Dan sedang menikmati duniaku yang sekarang. Eomma ingin aku berhenti, memakai celemek didapur dan menunggu setia kepulangan seseorang yang konon katanya mencari nafkah untukku diluar sana?”

“You’re 24 years old, now..”

“Kudengar itu bukanlah usia dimana aku akan mendapatkan uban dirambutku” balasnya sarkatis.

“Oh, dan kau akan menjadi perawan tua” erang Eommanya sedikit emosi.

“Ayolah.. Ini tidak buruk sama sekali. Apa kau melihat Eomma berhenti menjadi perancang busana sejak menikah dengan Appa mu? Tidak, bukan?”

“Ya. Jika orang yang berstatus sebagai suamiku nanti seperti Appa..”

“Dan Eomma tidak akan menjerumuskanmu, sayang. Percayalah. Eomma tau yang terbaik untukmu..” Eommanya kini melembut. Ia tau jika anak bungsunya ini mudah diluluhkan dengan ucapan-ucapan lembut seperti itu. Dan hal itu sukses membuatnya bungkam. Tidak lagi mengeluarkan komentar bernada sarkatis. Mungkin kini gadis itu tengah berfikir bahwa Eommanya betul-betul tau seleranya.

“Kau fikirkan saja usul Eomma. Eomma tidak sedang terburu-buru..” Eomannya meletakkan majalah fashion yang tadi dibacanya kemeja.

“Eomma kebutik dulu, sayang..” ia bangkit lantas mengecup kening putrinya.

“Dan Oh..” ia berhenti melangkah dan berbalik menatap gadis bungsunya.

“Sarapanmu Eomma simpan di lemari pendingin. Kau tinggal memanaskannya jika ingin makan..”

“Terima kasih, Eomma..”

Dan ketika pintu apartemennya terkunci secara otomatis ketika Eommanya sudah keluar, ia kembali menghempaskan tubuhnya ke sofa dan mencari posisi nyamannya. Sepertinya ia betul-betul akan mengarungi mimpi baru lagi.

*****

Incheon Airport, International Gate

Kris menarik kopernya berjalan menuju salah satu Cafe di Bandara. Penerbangan Vancouver-Seoul lumayan membuat persendiannya kaku dan tengkuknya yang kram. Ia memijit tengkuknya sesekali sambil terus melangkah menuju Cafe yang diincarnya. Setelah memesan secangkir Hot Americano ia mendudukkan dirinya disalah satu kursi yang disediakan disana. Dikeluarkannya ponsel touch screen hitam miliknya kemudian mengaktifkannya. Ia kini tengah menatapi layar ponselnya yang menampilkan wallpaper foto seorang gadis yang belakangan ini membuat hatinya nyeri seketika jika melihatnya.

Ia hanya menyunggingkan senyum miris tanpa niat mengganti wallpapernya itu. Belum. Ia belum siap untuk betul-betul menghapus segala sesuatu tentang wanita itu. Ia kini mengalihkan fikirannya sejenak dari wanitanya. Mencari-cari nama seseorang untuk kemudian ia panggil. Kris menempelkan ponselnya ketelinga dan mendengar nada sambung dari nomor yang ia tuju.

“Oh, Hyung. Aku sudah tiba..” ujarnya dengan bahas Korea yang seadanya. Terkesan sedikit kaku malah.

Dan setelah mendengar suara Hyung nya yang ceria ia otomatis menyunggingkan senyum tipis dibibirnya.

“Kau tunggu saja. Hyung sedang dalam perjalanan kesana menjemputmu..” balas Hyung nya dengan bahasa Inggris yang membuat senyum diwajah Kris semakin merekah. Untung saja Hyung nya cukup pengertian untuk tidak membuat pusing dikepalanya bertambah ketika harus mengingat-ingat vocabulary Korea miliknya yang terbatas.

Ia mengakhiri percakapannya ketika ia telah mengatakan tentang keberadaannya kini di sebuah Cafe yang ia sebutkan namanya yang berada di Bandara. Kris memasukkan ponselnya itu kembali kedalam saku jaket kulit miliknya.

“Thank you..” ujarnya kearah pelayan yang meletakkan pesanannya di meja. Ia mengangkat cangkirnya dan meniupnya untuk menghilangkan rasa panasnya. Diseruputnya pelan Americano miliknya kemudian meletakkan cangkir itu kembali kemeja.

Ia membiarkan matanya menjelajahi jendela yang menampilkan suasana diluar Bandara.

“I’m in Korea..” gumamnya pelan. Yah, ia ada di Korea sekarang. Rasanya perasaannya semakin mati rasa saja. Ternyata jauh dari wanita itu berdampak cukup kebas terhadap perasaannya.

Yah, mulai sekarang ia harus belajar membiasakan diri. Membiasakan diri dengan keadaan hatinya yang kosong.

*****

Next Day

Seoul,  09.13 AM

Minchan mengamati pantulan dirinya dicermin. Celana jeans dan kaus longgar kesukaannya telah membalut tubuhnya dengan sempurna. Ia hanya akan menambahkan jaket kulit miliknya nanti jika ia telah siap berangkat. Ia menatap wajahnya yang polos, tidak dipoles oleh apapun. Rambut panjang kecoklatan miliknya yang agak bergelombang, ia biarkan tergelung asal-asalan. Beberapa anak rambut menjuntai bebas disekitar pelipis juga dahinya. Bulan lalu ia memiliki poni yang selalu menemaninya, tapi sekarang ia membiarkan poni itu memanjang dan ikut tergelung bersama rambutnya yang lain.

Setelah puas dengan penampilannya hari ini, ia segera menghampiri jaket beserta tas kulit miliknya yang telah ia persiapkan sedari tadi. Ia menghampiri rak sepatu miliknya dan mengambil sebuah boots untuk ia kenakan mempermanis penampilannya. Hari-hari terakhir liburannya ini tidak ingin ia sia-siakan begitu saja. Karena setelah ini ia akan diserbu oleh setumpuk tawaran pemotretan yang ia setujui. Tentu saja sebagai fotografernya, bukan sebagai model.

Sebelum ia memantapkan langkahnya dari pintu apartemen, ia mengecek isi tasnya sekali lagi. Ia menyadari betul bahwa ia agak ceroboh dan hari ini ia tidak ingin kehilangan momen seperti minggu lalu ketika ia lupa membawa lensa kamera yang ia butuhkan untuk mengabadikan sebuah objek yang menurutnya sangat menarik. Setelah meyakinkan dirinya bahwa semua yang ia inginikan sudah lengkap, ia melanjutkan langkahnya membuka pintu apartemennya.

Myeong-dong.

Tujuan menarik untuk mengembangkan teknik Street Photography yang belakangan ini begitu menarik perhatiannya.

Sementara itu, ditempat lain, di kediaman keluarga Kwon, seorang pria tengah mempersiapkan dirinya untuk keluar dan menikmati musim semi di Seoul. Kris baru saja membuka pintu kamarnya ketika tiba-tiba orang yang ia panggil Hyung datang menghampirinya dengan setelan lengkap.

“Kris, kau yakin akan pergi sendiri?”

“Ya, tentu saja..” jawab Kris sambil memperbaiki letak jaket yang baru saja ia kenakan ketika Hyung nya ini menghampirinya.

“Hyung bekerja saja dengan baik, jangan mengkhawatirkanku. Sekarang sudah ada GPS yang tidak akan mungkin membuatku kesasar dan menuju Wonderland..” Kris menyunggingkan senyumnya menatap wajah sepupunya yang terlihat khawatir dengan acara jalan-jalan Kris. Meskipun bukan pertama kalinya ia mengunjungi Seoul, namun Kris bisa dipastikan belum mengenal jalanan-jalanan di Seoul.

“Serius, Hyung. Mom tidak akan menuntut Hyung karena telah melepaskan anak dibawah umur mengarungi Seoul seorang diri”

Kwon Myeong Jin nya hanya menghembuskan nafas mendengar candaan Kris yang semakin tidak bermutu baginya. Mom Kris, sebelum anaknya ini ke Seoul, pernah menelpon Myeong Jin dan mengatakan bahwa Kris tengah patah hati karena wanita yang dicintainya akan menikah. Tapi melihat keadaan Kris sekarang ia merasa bahwa sepupunya itu baik-baik saja. Tidak terlihat seperti seseorang yang frustasi dan ingin mengakhiri hidupnya. Oh, sepertinya Mom Kris mengkhawatirkan anaknya berlebihan.

“Baiklah, baiklah. Hyung yakin kau tidak akan melompat dari jembatan Banpo dan membuat Mom mu betul-betul menuntut Hyung”

“Ya, tentu saja. Banpo bridge bukan pilihan yang baik. Mungkin Seoul Tower?” Kris terkekeh mendengar kekhawatiran Hyung nya yang sepertinya ditularkan oleh Mom nya. Kira-kira apa yang dikatakan wanita yang telah membawanya kedunia itu kepada sepupunya ini.

“Ya sudah, Hyung berangkat dulu..”

Kris mengangguk, “Tingkatkan pendapatan perusahaan, Hyung..” sahut Kris yang hanya dibalas lambaian tangan oleh Myeong Jin.

*****

Minchan membidikkan kameranya menuju pejalan kaki yang tengah berlalu lalang disekitar Myeong-dong. setelah melihat hasil jepretannya, ia tersenyum senang dan meneruskan langkahnya mencari objek yang lain. Tak hentinya ia menyunggingkan senyumnya. Myeong-dong yang ramai betul-betul seperti ladang seni baginya. Kau hanya perlu mengambil gambarnya dari angle yang tepat serta momen yang juga tepat. Dan kau akan mendapatkan karya seni yang tidak kau temui dimanapun.

Langkahnya terhenti didepan sebuah Cafe. Melihat aktifitas orang didalam yang menarik baginya,  membuatnya tak ragu lagi untuk membidikkan kameranya kearah Cafe itu. Dan ketika ia selesai memeriksa hasil jepretannya dengan senyum puas, ia kembali mengarahkan kameranya menuju pejalan kaki didepannya. Dan kameranya menangkap sosok itu. Sosok yang menjulang tinggi dibanding yang lain. Tengah menunduk memperhatikan sesuatu, entah itu apa, ditangannya.

Minchan segera menurunkan kamera yang menghalangi wajahnya. Menatap kagum kearah sosok yang berjarak beberapa langkah darinya. Dan sosok itu kembali meneruskan langkahnya yang otomatis pula membuat Minchan yang terdiam mematung kini tersadar. Dan entah perintah dari mana, tapi kakinya kini berjalan mengikuti orang itu.

“Objek yang menarik”

Entah sudah berapa kali kamera Minchan mengabadikan siluet orang itu. Bahkan Minchan merasa tidak perlu lagi melihat hasil jepretannya. Karena ia yakin, objek itu terlihat menarik dari angle manapun. Senyum terus saja menghiasi bibirnya, seolah tidak ada puasnya, ia terus saja menjepret orang itu. Hingga kemudian, sosok itu melangkahkan kakinya memasuki sebuah Coffee Shop. Langkah Minchan sontak terhenti. Jika terang-terangan mengikuti orang itu masuk dan memotretnya, dia akan dianggap aneh. Dia mungkin saja disangka penguntit atau maniak. Tidak lucu.

Minchan memasukkan kameranya kedalam tasnya. Dan hendak melangkahkan kakinya masuk ke Cofee Shop itu sebelum ia menyadari sesuatu. Ia menatap tubuhnya sendiri tidak yakin. Apakah penampilannya kini sudah cukup pantas untuk menemui orang itu? ya, ia baru saja memutuskan untuk menemui orang itu. mungkin mengajaknya ngobrol. Dan berusaha membuat dirinya sendiri yakin bahwa ia bukan seorang penguntit maupun maniak.

“Aduh, kenapa aku gugup begini? Huaa.. wajahku pasti berminyak sekarang. Aduh, kemana barang itu?” ia menggumam panik mengacak isi tasnya, mencari penolongnya seperti mungkin compact powder atau cermin. Tapi sayangnya benda itu tidak ada. Hanya ada peralatan memotret, dompet, ponsel dan i-pod miliknya. Ia tidak menduga akan ada kejadian seperti ini. Ia memang hanya ingin hunting foto. Jadi, kalau kejadiannya sudah begini, satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya berusaha percaya diri.

Minchan bukanlah gadis yang tidak percaya diri, bukan. Dia malah seorang gadis yang begitu percaya diri dengan apapun yang dipakainya. Ia tidak pernah mempermasalahkan penampilannya jika akan bertemu dengan seseorang, siapapun itu. Dan kejadian ini adalah hal baru yang ia rasakan. Rasa gugup yang ia sendiri tidak mengerti. Setelah menimbang-nimbang, ia akhirnya membuka gelungan rambutnya, membiarkan rambut sepunggungnya tergerai. Dengan jarinya ia merapihkan helaian halus rambutnya. Ia membawa semua rambutnya itu menuju sisi kiri wajahnya. Membuat rambutnya menggantung bebas disisi kiri dadanya. Ukh, atau haruskah ia membiarkan rambutnya tergerai dipunggungnya saja? Oh, gadis ini betul-betul kesal akan dirinya.Masa bodoh. Ia sudah tidak peduli lagi.

Akhirnya ia melangkahkan kakinya memasuki Coffee Shop itu. Dan matanya menangkap sosok pria itu. tengah duduk disalah satu kursi dan menatap kosong keluar. Minchan menggeram tertahan. Mencoba mengendalikan dirinya agar tidak mengeluarkan kameranya dan mengabadikan momen itu. ia bahkan kini telah menggenggam kameranya yang berada didalam ranselnya.

“Maaf, nona. Anda ingin pesan?”

Minchan terkesiap pelan mendengar ucapan waitress yang berada di konter pemesanan, “Oh, iyya. Tentu saja. Strawberry Cheese Cake dan.. Ice Moccachino…” pesannya sembari melihat menu yang terpampang didinding dibelakang waitress itu. Waitress itupun mengangguk dan memintanya untuk duduk dan menunggu pesanannya datang.

Minchan mengangguk kemudian melangkah kearah pria itu. Semakin ia dekat, semakin ia bisa melihat wajah orang itu. Sepertinya blasteran. Asia dan entah negara mana dibelahan bumi barat sana.

“Excuse, me..” Minchan sendiri tidak mengerti mengapa ia menggumamkan kata sapaan dalam bahasa Inggris. Sama terkejutnya dengan pria itu. Seperti tidak menyangka ia disapa dalam bahasa Inggris di Korea. Pria itu bahkan berfikir, apakah wajahnya betul-betul asing. Tidak ada unsur Asia sama sekali. Tapi bukankah itu bagus. Ia tidak perlu membuat kepalanya pusing mendengar bahasa yang tidak begitu ia mengerti itu.

“May i sit here?” Minchan menunjuk canggung kearah kursi didepan pria itu. pria itu mengangkat sebelah alisnya sembari menggumam dalam hatinya. Begitu banyak tempat yang kosong dan wanita ini memilih semeja dengannya.

“Of course. Please..” dia akhirnya menyetujui permintaan wanita itu. Lagipula wanita didepannya ini sepertinya menarik.

Minchan pun duduk. Dengan canggung ia melepas ranselnya dan meletakkannya dengan hati-hati di salah satu kursi disampingnya. Ia tersenyum kearah pria didepannya itu. Ia sendiri kini merasa terjebak berada didepan pria yang ternyata semakin membuatnya berdebar jika dilihat dari jarak sedekat ini. Setelah berfikir beberapa detik yang singkat, ia akhirnya memutuskan untuk menyapa pria itu duluan.

“Ehm.. Hi.. Michelle..” ia mengulurkan tangannya kearah pria didepannya. Sengaja menyebutkan nama inggrisnya entah dengan alasan apa.

“Kris..” pria itu membalas uluran tangannya. Ia kembali tersenyum canggung. Oh, Kris pasti mengira ia adalah wanita yang begitu agresif kini. Lebih dari penguntit, lebih dari seorang maniak. Memalukan!!

“Ehmm.. Aku ingin minta maaf”

Kris mengangkat alisnya tidak mengerti. Seingatnya wanita ini tidak ia kenal sama sekali. Jenis kesalahan seperti apa yang telah wanita ini lakukan padanya. Melihat ekspresi Kris yang kebingungan, Minchan segera mengeluarkan kamera dari dalam tasnya. Dengan ragu ia mengulurkan kamera itu kearah Kris.

“Lihat saja..”

Meski diliputi rasa bingung luar biasa akan tingkah wanita didepannya ini, tapi Kris mengambil kamera itu. Melihat seperti yang wanita itu katakan.

“Pesanan Anda..” seorang pelayan mengantarkan pesanan Minchan. Setelah meletakkan pesanannya dan mendapat ucapan terimakasih dari Minchan, pelayan itu meninggalkan Minchan dan Kris yang masih serius menatapi hasil jepretan Minchan.

“Nice capture..” ujar Kris kemudian.

“Tidak, tidak. Maksudku.. Terus saja melihat..” ujar Minchan cepat ketika Kris ingin menyerahkan kameranya. Kris mengerutkan keningnya semakin bingung, namun ia kembali melanjutkan melihat.

Kris menyunggingkan senyumnya begitu saja. Ia kini faham apa yang wanita ini katakan untuk melihat. Ia mengenali sosok itu sebagai dirinya. Difoto dengan cara profesional dan angle yang sempurna. Ia terlihat menjadi fokus utama didalam foto itu. Belum ada yang pernah memotretnya sebagus ini. Dan ia sangat suka. Ia mengangkat wajahnya dari kamera Minchan yang tengah ia geluti. Ia menatap sang fotografer yang terlihat gugup. Manis. Itu kesan pertama yang Kris lihat ketika memfokuskan matanya pada Minchan. Dan betul-betul menarik.

“A..Aku.. Anda betul-betul objek yang menarik. Maaf karena mengabadikan siluet Anda diam-diam” jelas Minchan kemudian. Sial, kenapa ia begitu gugup. Apa Kris begitu mempesona? Tapi Minchan merasa biasa saja. Ia bahkan pernah bertemu beberapa model yang jauh lebih mempesona dibanding pria ini. Tapi ia tidak pernah merasakan atmosfer segugup ini dengan seorang pria sebelumnya. Kris mengeluarkan semacam aura yang membuatnya merasa tertindas. Ditambah dengan tatapan tajam yang pria ini arahkan kepadanya. Minchan merasa bisa meleleh saat itu juga.

Sesuatu melintas begitu saja dibenak Kris. Matanya boleh saja menatap foto-foto dirinya dikamera Minchan. Tapi otaknya kini tengah berfikir. Ada baiknya ia sedikit mengerjai fotografer manis didepannya ini.

“Wah,, Kau harus bayar mahal atas tindakanmu ini..” ujar Kris kemudian menyerahkan kamera itu kepada Minchan.

“Bayar mahal??” Minchan menggumam, mengulangi apa yang baru saja diucapkan Kris. Ia sekarang tidak membawa uang cash yang cukup untuk membayar seorang model. Lalu, apa yang harus ia lakukan?

“Sebutkan saja nomor rekeningmu, akan kutransfer nanti. Aku tidak bawa cash yang cukup”

Kris tertawa mendengar penuturan Minchan. Oh, gadis ini sepertinya telah masuk perangkapnya. Ia bahkan menganggap serius ucapan Kris tadi. Tapi bukan. Bukan itu yang Kris inginkan.

“Bukan uang.. Aku tidak meninginkan bayaran seperti itu”

“Lalu?” desak Minchan penasaran dengan pria dihadapannya ini. Bagaimana pun, Minchaan bisa melihat raut wajah jahil yang Kris arahkan kepadanya. Ia hanya tidak mengerti dengan dirinya. Kris itu orang asing dan kenapa ia harus mendengar bayaran apa yang diinginkannya.

“Kau harus jadi Tour Guide ku selama seharian penuh”

“Tour Guide?”

“Hmm-mm, Tour Guide”

*****

Minchan menghela nafas lega. Sedari tadi senyum terus tersungging dibibirnya. Ia bisa berlega hati sekarang. Ternyata Kris bukanlah sosok pria seperti yang ia sempat fikirkan tadi. Kalau Cuma jadi Tour Guide, dia sangat senang malah. Bukan hanya satu hari. Kalau perlu selama Kris berada di negara ini.

“Jadi, Kris-ssi liburan disini?”

Ia memutuskan memanggil Kris dengan embel-embel –ssi dibelakang namanya. Sebenarnya pria ini tadinya meminta ia memanggilnya dengan Oppa. Tapi Minchan segera menolak usul itu. ia hanya memanggil seseorang dengan sebutan Oppa jika orang itu sudah betul-betul dekat dengannya dan mempunyai hubungan keluarga dengannya. Jika tidak, ia biasa memanggil pria yang lebih tua darinya dengan menyebut namanya langsung atau dengan imbuhan –ssi dibelakang namanya.

“Mmm.. Bisa dibilang begitu”

“Tapi tidak sepenuhnya begitu” tambahnya. Minchan menatap Kris dan sedikit bingung dengan kalimat terakhir yang Kris ucapkan. Ia hendak bertanya tapi ia tahan. Sebagai Tour Guide, tidak sopan jika menanyakan hal pribadi pada turis nya.

“Hei, foto aku” pinta Kris tiba-tiba.

“Eh??”

“Ya. Kapan lagi kau mendapat objek seindah ini..” Kris mendahului langkah Minchan, berdiri dihadapan gadis itu sambil merentangkan tangannya. Seakan menegaskan bahwa ia adalah objek menarik yang langka itu.

“Tch, baiklah..” Minchan membidikkan kameranya kearah Kris.

Minchan hampir saja tertawa melihat pose Kris yang begitu lucu. Berdiri tegak dihadapannya dengan tangan yang disedekapkan didada serta ekspresi wajah meremehkan dengan mengangkat dagunya sedikit lebih tinggi.

“Baiklah, sekali lagi..” Minchan meminta Kris merubah posenya. Dan ia hampir saja tergelak ketika Kris tiba-tiba memasang wajah sok imut dengan v sign pada kedua tangannya.

Minchan tertawa sembari menghampiri Kris, “Hasilnya bagus..” ia menyodorkan kameranya kearah Kris. Dan Kris ikut tertawa bersamanya melihat bagaimana ia berpose.

“Hei, ayo kita duduk disana..” Kris menarik tangan Minchan menuju kearah sebuah bangku taman yang berada dibawah sebuah pohon yang rindang.

“Dimana kita sekarang?”

“Sekarang?” Minchan mengedarkan pandangannya dan mendapati dirinya berada disebuah taman yang sebenarnya ia sendiri juga tidak tahu itu dimana. Tapi ini masih di kawasan Myeong-dong. Ia yakin.

“Ehmm.. Well, entahlah..” Minchan mengedikkan bahunya cuek.

“Wah, Tour Guide ku payah sekali. Apa kita tersesat?”

“Tidak. Tenang saja..” ujar Minchan sembari melihat-lihat hasil jepretannya seharian. Menghapus beberapa foto yang menurutnya tidak terlalu menarik.

“Ngomong-ngomong masalah fotografi, aku juga lumayan suka”

“Hmm? Benarkah?” Minchan tersenyum kearah Kris dan memasukkan kameranya kedalam tas. Sepertinya Kris akan bercerita sesuatu padanya. Menarik.

“Ya. Ini buktinya..” Kris mengutak-atik ponselnya kemudian memberikannya kepada Minchan untuk ia lihat.

“Well, tidak seprofesional dirimu. Aku hanya suka mengabadikan tempat-tempat yang kukunjungi. Makanya aku hanya memakai kamera ponsel…”

“Hmm.. Tempat-tempat yang indah..” Minchan terus menyentuh screen ponsel Kris melihat beberapa tempat yang ternyata pernah dikunjungi Kris. Dan ia berhenti menggerakkan jarinya ketika mendapati sebuah foto close-up Kris dengan seorang wanita.

“Cantik..” gumam Minchan menilai. Ya, wanita inipun pasti seperti Kris. Blasteran Asia dan negara-negara dibelahan bumi barat sana.

“Oh, dia..” gumam Kris begitu mengintip foto yang telah ditatap Minchan.

“Yah, wanita itu yang membuatku mengunjungi Korea… Meski sebenarnya tidak seperti itu juga.. Maksudku, dia bukan tujuan utama”

Minchan mengangguk. Menyerahkan kembali ponsel Kris sembari menatap pria disampingnya yang sepertinya akan melanjutkan ceritanya.

“Ia sebentar lagi akan menikah dengan seseorang. Dia bilang dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku, makanya aku ditolak..”

“Kau memintanya menjadi kekasihmu?”

“Tidak. Aku memintanya menjadi istriku..” Kris menerawang kedepan. Seolah membawa dirinya sendiri kemasa-masa ketika mereka bersama.

“Wah, andai aku yang jadi wanita itu. Aku pasti tidak menolakmu”

Kris tertawa pelan mendengar penuturan Minchan, “Kau bilang begitu karena kau belum mengenal diriku”

“Well, aku tau sedikit…” Minchan sengaja memotong ucapannya. Ia menoleh kearah Kris dan menunjukkan wajah meledek, “Kau narsis…”

“Yah, well.. Kau mungkin benar dibagian itu..” Kris kembali tertawa mendengar penilaian Minchan tentang dirinya. Dan Kris tersadar. Ia baru saja tertawa. Hal yang paling jarang ia lakukan belakangan ini karena patah hati. Ia tidak menyangka karena sekarang ia bisa tertawa lepas dengan seseorang yang baru ia temui.

“Hei, kau mau tau alasan utamaku datang ke Seoul?” ujar Kris segera mengalihkan topik pembicaraannya.

Minchan mengangguk. Memasang ekspresi antusias menunggu kelanjutan omongan Kris.

“Mom menyuruhku menemui anak temannya di Seoul..”

“Wanita?”

“Yup..”

“Wah, kau dijodohkan..” seru Minchan.

“Benarkah? Wah, Mom menjerumuskanku..” erang Kris seolah begitu menyesali kedatangannya ke Seoul.

“Bagaimana mungkin kau tidak menyadarinya dari awal?”

“Aku menyadarinya, kok..” gumam Kris.

“Lagipula Mom tidak pernah memaksaku. Ia bilang hanya bertemu. Bukan menikah. Dan sepertinya Seoul itu menarik. Yah, sekalian liburan. Dan.. Seoul betul-betul menarik..” Kris menoleh kearah Minchan ketika menyatakan bahwa Seoul itu ‘menarik’.

“Ya.. Tentu saja menarik..” seru Minchan sambil mengeluarkan tawa canggungnya. Bukannya tidak menyadari dengan tatapan Kris tadi dan penekanan kata ‘menarik’ yang seolah tertuju padanya. Hanya saja ia harus tau diri. Kris itu mungkin saja tengah bercanda.

“Bagaimana denganmu?” tanya Kris kemudian.

“Aku? Apa?”

“Your boyfriend, your life, anything… Tell me..”

“Ah, about me?..” Minchan terlihat berfikir. Kira-kira hal-hal apa saja yang perlu ia beberkan ke Kris dan apa yang tidak.

“Well, as know as you know.. I’m a photografer.. Hmm.. Anak bungsu dari dua bersaudara. 24 years old. Hmmm..” Minchan mengetukkan telunjuknya didagu berfikir.

“Tidak. Tidak.. Bukan yang seperti itu. oh, ayolah..” erang Kris mendengar penuturan Minchan yang terasa seperti pengisian formulir.

Minchan terkekeh pelan, “Ya, well.. Tentang pekerjanku. Aku menyukai fotografi sejak kecil. Sejak Appa membawaku ke sebuah pameran foto. Aku menyukai cara seorang fotografi membidikkan kameranya, caranya membuat momen yang umum dilihat tapi ternyata begitu spesial ketika ditangkap oleh lensa kamera nya, pencahayaannya yang terlihat berbeda dari apa yang retina tangkap. Semuanya..”

“Appa mendukung minatku ini. Beliau menyekolahkanku di perguruan tinggi dengan jurusan yang sama. Yah, disitulah karirku dimulai. Iseng-iseng aku mengikuti berbagai kompetisi, hingga kemudian memenangkan semuanya dan namaku mulai dikenal”

“Belakangan aku mulai mencari ladang bisnis dibidangku. Dan.. Inilah aku sekarang. Seorang fotografer yang mengabadikan siluet tubuh para model dengan lensa kameraku yang kemudian akan dicetak dimajalah ternama..”

Kris menggumam mendengar semua cerita yang Minchan uraikan. Tapi bukan itu. Sungguh bukan itu yang ingin ia dengar. Ia ingin tahu tentang kehidupan asmara fotografer ini.

“Kau pasti dikelilingi para Model pria yang sempurna..” tepat. Inilah cara Kris memancing semua cerita yang dia inginkan.

“Model?? Yah, beberapa dari mereka mengajakku kencan. Bahkan pernah menjadi sebuah skandal percintaan yang menghebohkan. Tapi, aku tidak pernah menanggapi mereka dengan serius…”

“Kenapa?” Kris semakin tertarik saja. Seperti dugaannya diawal tadi. Wanita ini memang menarik. Sangat menarik malah hingga diinginkan para model.

“Para pekerja seni seperti kami lebih mengandalkan insting dan perasaan ketimbang apa yang terlihat indah yang ditangkap oleh retina”

“Hanya belum menemukan seseorang yang betul-betul pas dihati..” Minchan menoleh kearah Kris.

“Dulunya, kukira tidak ada hal seperti itu.. Sesuatu yang betul-betul menarik baik secara perasaan maupun yang ditangkap oleh retina..” Minchan menatap Kris begitu lekat. Seolah memberikan clue bahwa dialah sosok yang dimaksud.

“Sekarang?”

“Kurasa aku salah. Salah besar. Ternyata memang ada hal seperti itu..” Minchan mengakhiri ceritanya dengan ending yang begitu menggantung bagi Kris.

“Kau.. Menemukannya??”

“Yah, aku menemukannya..”

*****

Matahari sudah tergelincir menuju barat. Menandai bahwa hari ini telah selesai dengan baik. Jubah hitam yang bertabur bintang kini mulai menutupi warna biru cerah itu. Menampakkan semburat jingga yang sedikit menggantung dibagian barat. Minchan membidikkan kameranya kearah matahari yang sudah hampir tidak terlihat itu. Ditatapnya hasil jepretannya sembari tersenyum senang.

“Berakhir, ya..”

“Hmm?” Minchan menoleh kearah Kris yang tengah berdiri disampingnya. Menatap kearah matahari itu dengan tangan yang ia jejalkan kedalam kantong celananya.

“Iyya. Sudah berakhir..” gumam Minchan.

Kris membalik tubuhnya kearah Minchan. Membuat gadis itu mau tidak mau membalik tubuhnya agar berhadap-hadapan dengan Kris.

“Michelle-ssi. Terima kasih kencannya hari ini”

Minchan terkekeh pelan, “Bukankah aku Tour Guide?”

Kris menggeleng, “Tidak ada Tour Guide semenarik kau..”

Seketika itu pula pipi Minchan menampilkan semburat pink yang membuatnya semakin menarik. Kris tersenyum kearah Minchan ketika tiba-tiba sekelebat ide melintas difikirannya.

“Hei, ayo kita berfoto”

“Ah, aku tidak membawa tripodku. Dan sepertinya tidak ada yang bisa kita mintai tolong” Minchan mengedarkan pandangannya dan tidak mendapati pejalan kaki manapun kecuali suara mobil dan kendaraan lain yang berlalu lalang disekitarnya.

“Tidak apa-apa. Kali ini aku ingin menggunakan ini” Kris mengeluarkan ponselnya dari saku dan merangkul pundak Minchan tanpa meminta persetujuan Minchan terlebih dahulu.

“W..Well, okey..” desah Minchan ketika mendapati lengan Kris yang tengah merangkulnya.

“Ready..” Kris memberikan aba-aba dengan mengangkat ponselnya yang telah siap mengambil gambar mereka berdua.

“Say, Cheese..”

*****

Minchan mendecakkan lidahnya kesal. Bagaimanapun ia telah menolak, Eomma nya tetap memintanya –nyaris memaksa- untuk memenuhi keinginannya menjodohkan putri bungsunya ini. Ia kini tengah menatap screen ponselnya yang menunjukkan caller id Eomma nya. Oh, please,,, Ini bahkan malam terakhirnya liburan dan ia harus memenuhi panggilan Eommanya ke sebuah restoran mewah utuk menemui sang lelaki yang begitu gencar Eomma nya promosikan.

“Ya, Eomma..” Minchan akhirnya menjawab telponnya karena tidak tega.

“Kau kemana saja? Cepat siap-siap. Eomma menunggumu direstoran yang Eomma beritahukan tadi siang”

“Iyya, iyya.. Aku akan datang” jawab Minchan malas-malasan.

“Palliya!! Sebentar lagi Wu Fan akan datang. Oh, dia bahkan telah dijalan” sahut Eomma nya panik

“Suruh saja Wu Fan itu menungguku..”

“Yak!!! Shin Minchan!!”

“Iyya, iyyaaa.. Aku akan siap-siap. Tutup telponnya!!”

Minchan mendesis kesal menatap layar ponselnya. Dibiarkannya ponsel itu terhempas keranjang miliknya. Wu Fan, Wu Fan.. Nama apa itu? Wu Fan itu pasti sejenis pria yang selalu mengenakan setelan lengkap, cerdas dan hidupnya begitu membosankan. Dengan rambut yang disisir rapih berwarna hitam legam. Kuno dan penurut. Minchan merinding membayangkan jika imajinasinya mengenai Wu Fan itu menjadi kenyataan.

“Andwae, andwae.. Aku harus menolaknya..” ia kembali meraih ponselnya dan menelpon Eommanya.

“Eomma. Berjanji satu hal padaku sebelum aku datang kesana”

“Apa??”

“Jika aku tidak suka, aku boleh menolak menikahinya”

“Ne, ne… Kau cepatlah datang. Wu Fan sudah ada disini”

“Iyya..”

Minchan menghala nafas lega. Baiklah jika sudah seperti itu. Eomma nya mau berjanji. Dan Minchan sangat mengenal Eomma nya yang selalu konsisten akan semua janjinya.

“Apa susahnya menemui Wu Fan itu..” gumam Minchan sembari menatap tampilannya dicermin. Gaun diatas lutut yang ada dibutik Eommanya terlihat begitu pas membalut tubuhnya. Ia sengaja tidak merias wajahnya sama sekali. Ini ia jadikan sebagai indikator keseriusan seorang Wu Fan. Jika seseorang mengingkan dirinya, pria itu harus menerima dia apa adanya. Bahkan dengan wajah tanpa dipoles make up sedikit pun.

Minchan melepas gelungan rambutnya dan menyisir rambut halusnya hingga terlihat lebih rapih dan pantas dengan gaunnya. Well, sebenarnya ia sudah sempurna meski seadanya seperti itu.

“Wu Fan.. Kau betul-betul pria beruntung..” gumam Minchan yang menatap pantulan dirinya dengan senyum puas. Bagaimana ini? Sepertinya ia juga sudah mulai terjangkiti sifat narsis. Apa mungkin Kris yang menularkannya?

Ponselnya kembali memekik. Ia segera menyambar ponselnya dan tas tangan yang eomma nya telah sediakan. Tak lupa ia memakai heels yang juga telah Eomma nya persiapkan.

“Hal..”

“Yak!!! Kesini sekarang atau aku yang menyeretmu”

Minchan menatap ponselnya horor. Ia bahkan belum menyelesaikan kalimat sapaannya, Eomma nya telah memakinya duluan. Yah, Ny. Shin yang anggun itu sewaktu-waktu bisa menyeramkan juga.

Minchan berjalan anggun melewati waitress yang mempersilahkannya masuk. Sepertinya restoran ini memang dipesan khusus untuk acara ini. Apa itu tidak berlebihan? Ny. Shin sepertinya betul-betul serius sekarang.

“Aigoo, kau lama sekali..” Ny. Shin segera menarik lengan anaknya agar berjalan lebih cepat mengikutinya.

“Mana Wu Fan itu?” Minchan mendapat pukulan pelan dilengannya ketika menyebut Wu Fan seolah-olah ia datang untuk memberi pria itu perhitungan.

“Jaga sikapmu.. Ah, itu dia..” Ny. Shin menunjuk kearah sosok pria yang mengenakan setelan hitam rapih tengah memunggunginya. Sepertinya pria itu tengah menelpon.

Minchan mengerutkan keningnya berfikir. Entah dimana, tapi siluet tubuh itu tidak asing lagi.

“Wu Fan, ini Minchan sudah datang”

Tubuh Minchan membeku seketika mendengar bahasa yang Eommanya pakai bukanlah bahasa Korea. Beliau berbahasa Inggris. Dan pria yang berdiri membelakanginya itu perlahan membalikkan tubuhnya. Dan Membulatkan matanya mendapati sosok yang kini juga tak kalah shock darinya.

“Kris..??!!”

“Michelle??!!”

“Oh, kalian saling mengenal?” seru Eomma Minchan melihat respon kedua orang itu.

Minchan begitu enggan mengalihkan tatapannya dari sosok Kris saat ini. Pria itu terlihat begitu gagah dengan setelannya malam ini. Ia bahkan menyesal telah membayangkan hal-hal aneh tentang Wu Fan. Lagipula Minchan memang tidak tau jika Wu Fan dan Kris itu adalah sosok yang sama. Setelah tersadar dari keterkejutannya, Minchan menarik lengan Eommanya dan membisikkan sesuatu ditelinganya.

“Eomma, nikahkan aku dengannya segera. Secepatnya…”

-The End-

So Sorry for Typo(es)

17 thoughts on “Through My Camera

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s