When We Were Met Again

When We Were Met Again..

 

Title       : When We Were Met Again..

 

Author  : Lee Ha Rin

 

Genre   : Romance, sad maybe?

 

Length  : One Shot

 

Rating   : PG-13

 

Cast       :

 

–          Xi Luhan

–          Lee Ha Rin

 

Note      :

 

Hai readers! Bertemu lagi dengan author dengan FF “When We Were Met Again..” ini :3

Untuk semua kesalahan dan kemiripan dalam fanfiction ini, author minta maaf sebesar-besarnya karena itu hanya kebetulan. Ide ini muncul dari bestfriend author dan author mengembangkannya dengan imajinasi author :3 Nah, jadi silahkan dibaca saja😄

Happy Reading!

 

Yeoja itu berdiri di depan batas pendamping, menunggu seorang namja yang akan pergi meninggalkannya untuk beberapa tahun. Netherlands. Yap, Belanda merupakan tujuannya. Negeri impiannya untuk melanjutkan kuliahnya.

 

“Ha Rin-ah, kau datang?!”

 

Terdengar suara seorang namja yang berjalan mendekati yeoja bernama lengkap Lee Ha Rin itu.

 

“Tentu saja, aku datang. Meskipun kau telah menyandang status ‘mantan’ku sejak 2 hari yang lalu, tapi aku tetap tidak akan melewatkan saat terakhir melihatmu sampai 5 tahun mendatang. Kau sudah siap, Xi Luhan?” tanya Ha Rin.

 

“Ne, aku sudah siap. Ha Rin-ah…. Tidak bisakah kau menungguku? Sampai 5 tahun mendatang?” tanya Luhan dengan nada putus asa.

 

“Aku… Aku tidak bisa menjanjikan apapun sekarang. Bukankah semua orang bisa berubah? Aku takut mengecewakanmu jika aku menjanjikan sesuatu yang tidak pasti, Luhan..” jawab Ha Rin pelan.

 

“Mungkin kau benar, Ha Rin..”

 

Luhan menarik napas dan menghembuskannya perlahan.

 

“Baiklah.. aku siap! Jaga dirimu baik-baik ya? Aku pergi, tapi aku berjanji akan kembali lagi ke Seoul.”

 

Ketika Luhan hendak berbalik, ia teringat akan sesuatu..

 

“Bolehkah aku menciummu? For the last..”

 

Dan dengan gerakan cepat, Luhan langsung mengunci bibir mungil seorang Lee Ha Rin. Hanya ciuman singkat, lalu Luhan langsung berbalik lagi dan meninggalkan Ha Rin yang masih terpaku dengan ciuman singkat itu.

 

“Ya.. Jaga dirimu baik-baik juga…… chagi” dan setetes air mata jatuh dari mata coklatnya. Ia memandang punggung Luhan yang semakin lama semakin menjauh dan menghilang diantara kerumunan penumpang pesawat.

 

-***-

 

Five years later..

 

“Ne… Tunggu sebentar, aku akan segera ke sana”

 

Yeoja itu menutup handphone-nya dan memasukkannya ke dalam tas selempangnya lagi. Ia menghela napas untuk kesekian kalinya. Argh, hari ini memang benar-benar hari tersialku!, batinnya.

 

Ha Rin POV

 

Hari ini memang hari tersialku! Selain karena hasil desain-ku yang belum selesai dan lusa adalah deadline-nya, aku sangat sibuk hari ini! Bosku terus-menerus memanggilku untuk mengantarkan barang ini ke sini, barang itu ke sana, karena asistennya yang menyebalkan itu tidak masuk!

 

Dan jangan pernah mengira bahwa aku lupa tentang hari ini. Hari ini tepat 5 tahun sejak Luhan pergi ke Belanda waktu itu. Bagaimana keadaan namja itu sekarang? Apa dia telah menyelesaikan kuliahnya? Apa dia sudah pulang ke Seoul? Apa….. dia sudah punya yeojachingu baru?

 

Jujur saja, semenjak kepergiannya waktu itu, aku belum bisa melupakannya. Aku memang tidak pernah berjanji untuk menunggunya, tapi entah kenapa, aku juga tidak dapat melupakannya. Apa dia telah melupakanku sekarang? Maybe, right?

 

Hahh, sudahlah. Lebih baik, aku segera pergi ke kantor untuk mengambil barang dan mengantarkannya untuk dicoba. Aku sudah lelah dengan hari ini!

 

-***-

 

Selesai juga akhirnya! Sekarang, aku sedang tidak punya ide untuk meneruskan desain itu. Begitu pula dengan moodku yang turun drartis karena bos yang merepotkan itu. Aku juga tidak tau kenapa bisa tahan untuk bekerja dengannya.

 

Lebih baik aku pergi ke tempat itu. Tempat yang dapat membuatku tenang dan selalu berhasil untuk memperbaiki moodku. Tempat yang sangat bersejarah dan penuh dengan kenangan..

 

Ini masih sore, baiklah..

 

-***-

 

“Hahh..”

 

Aku menghela napas lega ketika berhasil menginjakkan kaki di rerumputan ini. Udara di sini, benar-benar segar, sangat berbeda dengan udara di perkotaan.

 

Aku menjatuhkan tubuhku di atas rerumputan dan merentangkan kedua tanganku, memandang ke arah langit yang mulai menunjukkan semburat oranye yang menawan. Angin menerpa wajahku perlahan menimbulkan ketenangan yang membuatku nyaman.

 

Aku menutup mataku, berusaha merasakan betapa berkesannya tempat ini. Selama 5 tahun, tempat ini yang menjadi tempatku bersembunyi ketika aku merindukannya, tempat aku melepaskan segala keluh kesahku. Satu-satunya tempat yang membuatku merasa bebas dan damai.

 

Biasanya dia disini… Berbaring di sampingku.. Menemaniku dan mendengarkan semua keluh kesahku.. Aku…. merindukannya… Aku merindukanmu, Xi Luhan..

 

Semua kenangan yang pernah aku lakukan bersamanya berputar ulang di kepalaku layaknya video yang berputar secara otomatis. Saat-saat ketika aku bersamanya adalah saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidupku. Bisakah aku kembali ke masa lalu? Haruskah dulu aku mengikutimu ke Belanda?

 

Kristal bening itu mulai berlomba-lomba untuk keluar dari indra penglihatanku. Aku menangis. Yaa, di sini satu-satunya tempat dimana aku bisa menangis sepuas yang aku mau ketika aku teringat akan namja itu. Mataku masih terpejam dan sebuah senyum miris terukir di wajahku. Angin masih menerpa wajahku seakan menyuruhku untuk berhenti menangis.

 

Aku membuka mataku dengan mengusap aliran sungai kecil di pipiku. Sudahlah, sudah berapa lama aku di sini? Mataku menangkap bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit yang hitam.

 

“Indah…” ucapku dengan posisi masih berbaring.

 

“Tentu saja, mereka seperti dirimu. Selalu indah walaupun bersinar di tempat yang gelap. Indah karena sinar yang mereka pantulkan..”

 

-***-

 

Someone POV

 

Aku datang ke tempat ini. Tempat untukku dan dirinya ketika ingin memiliki waktu berdua. Saling bercerita dan menyemangati satu sama lain. Yap, itu semua kenanganku 5 tahun yang lalu, sebelum aku memutuskan untuk pergi melanjutkan kuliahku ke negeri impianku.

 

Aku berjalan menuju tempat dimana kami sering berbaring bersama. Samar, aku melihat seorang yeoja sedang berbaring di sana. Dia……

 

Ha Rin….?

 

Aku berjalan mendekatinya. Namun sepertinya ia tidak tau bahwa aku berada beberapa langkah di belakangnya. Aku sangat merindukannya, dia satu-satunya yeoja yang membuatku ingin cepat-cepat menyelesaikan kuliahku di Belanda. Membuatku merasa rindu dengan Seoul. Membuatku kehilangan semangat untuk kembali ke Seoul ketika berpikir bahwa dia telah mempunyai penggantiku.

 

“Aku merindukanmu, Xi Luhan…”

 

Sangat pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya. Sepertinya tanpa sadar, ia telah menyuarakan pikirannya. Ku lihat, airmata mulai menetes dari sudut matanya yang masih terpejam. Sebuah senyuman miris terukir di bibirnya. Ingin rasanya, aku mengusap airmatanya. Senyum tipis merekah di wajahku. Ia merindukanku? Itu berarti ia belum mendapatkan penggantiku? Apa benar ia masih mencintaiku? Sama seperti yang aku rasakan sekarang?

 

Aku masih memperhatikan gerak-gerik Ha Rin. Ia mengusap aliran airmata di pipinya dan matanya membulat ketika ia melihat langit di atasnya.

 

“Indah…”, matanya menatap kagum ke arah bintang-bintang di langit.

 

“Tentu saja, mereka seperti dirimu. Selalu indah walaupun bersinar di tempat yang gelap. Indah karena sinar yang mereka pantulkan..” kataku.

 

Ia segera duduk dan menoleh ke belakang. Matanya terbelalak ketika melihatku.

 

“Lu… Luhan?” tanyanya dengan ekspresi yang membuatku geli.

 

“Hai, lama tidak berjumpa..” kataku sambil berjalan mendekatinya. Aku mengambil tempat di sampingnya dan duduk.

 

“Bagaimana kabarmu?” tanyaku memulai pembicaraan.

 

“Baik. Kau?”, ia masih menatapku. Seakan meyakinkan bahwa ia tidak berhalusinasi.

 

“Tentu saja baik, apalagi setelah tau kau merindukanku” kataku dan menoleh kearahnya. Aku mengunci matanya dengan tatapan lembutku. Satu-satunya cara agar ia tidak bisa berbohong padaku dan mengutarakan isi hatinya.

 

Semburat merah langsung muncul di wajahnya. Aku tau bahwa apa yang aku katakan benar dan aku yakin dia belum melupakanku. “Bagaimana kau bisa tau?” tanyanya.

 

“Melalui suara pelan yang keluar dari mulut seorang yeoja yang sedang berbaring di sini tadi sore” kataku dan segera menariknya ke pelukanku. Aku sangat merindukan saat-saat bisa bersamanya lagi.

 

“Nado bogoshipeo, Lee Ha Rin” ucapku di telinganya. Ia terisak di pelukanku. Aku mengusap kepalanya lembut dan mengeratkan pelukanku padanya. Dia yeoja yang aku cintai, satu-satunya yeoja yang aku rindukan.

 

“Jangan pergi lagi, Luhan.. Saranghaeyo..” ucapnya di sela tangisnya. Aku tersenyum dan mengangkat wajahnya. Aku mengusap airmatanya dan mendekatkan wajahku dengannya. Aku menciumnya perlahan. Menyalurkan semua perasaan sayang, cinta, dan rindu padanya. Ia membalas ciumanku. Aku dapat merasakan betapa ia sangat mencintaiku sama seperti aku sangat mencintainya.

 

Aku melepaskan ciuman kami dan menatapnya dengan kedua tangan menangkup wajahnya.

 

“Ingat apa yang kita lakukan 5 tahun yang lalu di tempat ini, 2 hari sebelum aku pergi? Ingat apa yang kau katakan dulu?” tanyaku sambil tersenyum padanya.

 

“Tentu saja…”

 

Ia tersenyum manis…

 

Jodoh adalah sebuah pertemuan kembali pada waktu yang berbeda, di saat dan suasana yang berbeda, namun dengan hati yang sama…

 

Satu kalimat yang kami ucapkan secara bersamaan dan setelah itu kami tertawa lepas.

 

Kami, dua jiwa yang telah ditakdirkan untuk bersama. Ia adalah tulang rusukku, tercipta untuk menemaniku di dunia. Kami menjadi bukti atas perkataan “semua indah pada waktunya”. Yap, semua pasti akan menjadi indah pada waktunya..

 

-***-

 

Flashback

 

“Ha Rin-ah.. Aku ingin membicarakan sesuatu.” ucapku malam itu. Kami sedang berada di tempat favorit kami. Padang rumput yang sangat luas dengan pemandangan yang sangat indah.

 

Ha Rin menoleh ke arahku, “Ada apa, Luhan?”

 

“Hmm, aku… Lusa aku akan berangkat ke Belanda. Aku akan melanjutkan kuliahku di sana. Kau tau kan kalau Belanda adalah negara impianku dari dulu?” kataku pelan dan melihat ke arahnya. Ia tampak terkejut dengan perkataanku.

 

“Kenapa kau baru mengatakannya padaku sekarang?”

 

Hanya itu yang keluar dari mulutnya. “Ini juga mendadak Ha Rin-ah. Aku baru tau seminggu yang lalu. Aku memutuskan untuk tidak memberitahumu karena aku takut kau akan marah atau kecewa padaku. Aku tidak ingin membuatmu sedih. Hanya itu..” ucapku jujur.

 

“Ahhh, baiklah. Gwaenchana Luhan-ah, aku senang kau bisa melanjutkan kuliahmu dengan baik nanti disana…” katanya sambil menatap langit yang penuh bintang. Aku diam, aku tau ia akan melanjutkan kata-katanya.

 

“Tapi tentu saja, aku juga sedih. Itu berarti kau akan meninggalkanku kan? Itu berarti hubungan kita juga….”

 

Ia tersenyum tipis sambil menunjuk ke arah bintang di langit.

 

“… akan berakhir sampai di sini.” katanya pelan.

 

“A-aniya! Kita masih bisa berkomunikasi jarak jauh. Kita masih bisa menggunakan e-mail untuk berkomunikasi. Aku janji akan terus menghubungimu dari sana.” sergahku ingin membantah perkataannya.

 

“Tidak, Luhan. Kita tidak bisa. Kau tau bagaimana susahnya berhubungan dengan jarak yang sangat jauh bukan? Aku juga takut akan mengganggu konsentrasi kuliahmu di sana nantinya. Aku bukannya tidak percaya padamu, hanya saja aku juga tidak yakin pada diriku sendiri. Kau akan pergi selama 5 tahun bukan? 5 tahun bukan waktu yang sebentar untuk menunggu. Aku takut aku tidak bisa menepati kata-kataku nanti.” katanya mantap.

 

“Iya.. Tapi apa benar-benar harus diakhiri sekarang? Aku sangat mencintaimu, Ha Rin-ah” kataku setengah memohon.

 

“Begini Xi Luhan… Dengarkan perkataanku baik-baik, oke?”

 

Aku mengangguk.

 

“Jodoh adalah sebuah pertemuan kembali pada waktu yang berbeda, di saat dan suasana yang berbeda, namun dengan hati yang sama.”

 

Ia mengelus pipiku, “Jadi, kalau kita memang ditakdirkan untuk bersama, suatu saat kita pasti akan dipertemukan kembali dengan hati yang masih sama seperti sekarang. Saling mencintai” katanya lembut.

 

Aku memegang tangannya. Kenapa hati yeoja ini sangat lembut? Aku tidak pernah berpikir sampai sejuh itu. Walaupun begitu, aku masih tidak rela untuk melepaskannya.

 

“Arraseo, Ha Rin-ah. Sejak kapan kau jadi bijak begini?” kataku mencubit pipinya.

 

“Sejak aku memutuskan untuk membuatmu menyandang status sebagai ‘mantan’ku”

 

Perkataan yang seakan diucapkannya dengan ringan itu membuatku terbelalak. Semudah itu kah ia mengucapkan itu?

 

“Kita….. putus sekarang?” tanyaku ragu.

 

“Hahh, mianhae Luhan.. Tapi aku rasa, itu jalan yang terbaik untuk kita sekarang. Masalah nanti, biarkan takdir yang menentukan pertemuan kita. Kau tau? Semua akan indah pada waktunya..”

 

END

 

Note:

Annyeong haseyo readers! Sebelumnya author minta maaf sekali kalo FF ini membosankan, feelnya ga dapet, dan typo yang bertebaran ._.v Author udah berusaha semampu author untuk buat FF ini jadi ga bosen dibaca dan feelnya dapet. Mianhae yaa kalo ff ini sedikit mengecewakan ._. Sebenernya FF ini juga membingungkan author karena panjangnya nanggung. Terlalu pendek untuk two-shot tapi terlalu panjang untuk one-shot. Tapi pada akhirnya, author memutuskan untuk buat FF ini jadi one-shot aja. Tapi author juga gatau FF ini panjang atau pendek #plak #author labil-_-v

 

Terima kasih untuk yang sudah baca FF ini. Terima kasih juga untuk admin yang sudah mem-publish-kan FF ini. Dan author juga berterima kasih pada bestfriend author yang menyalurkan ide untuk membuat FF ini J

 

Sekian saja pesan author, don’t be a silent readers ya! RCL sangat berarti bagi author yang masih pemula ini ._.v

 

Gomawo semua!

13 thoughts on “When We Were Met Again

  1. “Jodoh adalah sebuah pertemuan kembali pada waktu yang berbeda, di saat dan suasana yang berbeda, namun dengan hati yang sama…”
    suka kata2.a

  2. Daebak thor, author pemula? walau pemula tapi FF yang author buat keren tau
    sekian coment dariku, ditunggu karya yang lain, keep writing and hwaiting😀

    • Bukan pertama chingu..
      Ada fanfic ‘roleplayers’ sama ‘My Heart and Your Happiness’ sebelumnya ^^
      Semuanya udh di post di sini kok, kalau mau, silahkan dibaca kkk~😄
      Gomawo udh baca yaa ^^

    • Eoh? Wah, gomawo hihi ^^
      Untuk typo, mohon dimaafkan hehe😄
      Akan diusahakan lebih baik lagi kok ^^
      Syukur deh kalo termasuk bagus untuk pemula😄
      Thanks udh comment ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s