Magic Love – part 1 of 2

magic love cover

Title : Magic Love – part 1 of 2

Author : Charismagirl

Cast :

  • Kris Wu
  • Oh Sehun
  • Choi Minji
  • Kim Hyejin

Genre : Fantasy, romance, friendship

Length : 2-shoot

Rating : PG-16

A.N : Hello~ sebenernya saya sudah menyelesaikan FF Just Stay with Me part 2, tapi… saya ingin publish ini lebih dulu, Gwaenchana ne?😄. Btw, welcomeback EXOOOO!! Akhirnya kembali~ muah(?)

Thanks to Tari eonni yang sudah meminjamkan namanya. Dan yang merasa umurnya belum cukup untuk rating diatas, saya harap bersedia mundur *plak!. And, leave comment yeah xD!!

***

“Kecilkan suaramu bodoh!” Minji memperingatkan Hyejin yang tidak kuasa menahan jeritannya melihat seorang pria yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua.

Sejak beberapa menit yang lalu mereka berdua melakukan pengintaian terhadap seorang pria yang paling fenomenal, tampan, kaya dan terkenal di Magic Academic.  Pria itu berambut pirang, berkulit putih, garis wajah tegas dan sorot mata yang tajam. Namanya Kris Wu.

Minji dan Hyejin sedang bersembunyi di balik tembok yang tinggi dan besar, sehingga kemungkinan besar Kris tidak menyadari kalau dia sedang diperhatikan.

Kris sedang mengobrol dengan Sehun–teman sekelas dan memiliki beberapa kesamaan dengan Kris. Salah satunya bermuka dingin.

“Aku bersumpah kalau Kris itu adalah pria paling tampan yang pernah ku lihat!” Hyejin tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wajah Kris. Bahkan ukuran matanya yang sipit itu tampak membesar dari ukuran biasanya.

“Stt! Aku ingin mempelajari wajahnya. Kau bilang kau ingin melihat Kris ber-aegyo ‘kan?” ucap Minji. Sedikit terdengar menakutkan hingga membuat Hyejin benar-benar bungkam.

Minji menatap Kris dengan pandangan menilai. Dia hampir tidak bisa membedakan kalau ia sedang memperhatikan dengan tujuan awalnya, atau memperhatikan karena terpesona pada wajah pria itu. Rasanya sulit sekali untuk berhenti memandangi pria itu.

“Sampai kapan kita berada disini?” bisik Hyejin.

“Sebentar, aku… shit–” Minji menarik Hyejin sampai mereka berdua terduduk. Kalau tidak salah, ia melihat Kris menoleh padanya. Semoga hanya perasaan Minji saja, pikirnya.

“Kenapa? Apa kita ketahuan sedang memperhatikannya?”

“Ku pikir tidak.”

***

Pagi yang cerah di langit Magic Academic. Sekolah ini adalah sekolah sihir yang didirikan sejak 500 tahun yang lalu. Murid-muridnya adalah turun temurun dari kedua orang tuanya yang juga dulu pernah bersekolah disini.

Seperti sihir kebanyakan. Di sekolah ini diajarkan bagaimana menggunakan tongkat, sapu terbang, mantra dan kekuatan. Semuanya tidak boleh digunakan untuk tujuan melukai atau merugikan. Karena hal itu adalah janji yang sudah mereka ucapkan ketika pertama kali masuk dan bergabung dalam Magic Academic.

Minji dan Hyejin adalah murid yang berada di tingkat dua sama seperti Kris dan Sehun. Ilmu yang mereka kuasai belum cukup banyak sehingga mereka perlu belajar lebih banyak lagi. Tapi sepertinya otak mereka yang cerdas cukup membantu untuk mereka menguasai lebih banyak ilmu.

Minji sedang duduk termenung di bangkunya. Gadis itu sedang memikirkan bagaimana cara agar ia bisa melakukan aksinya untuk membuat Kris menunjukkan aegyo-nya.

Sebenarnya ia tidak berniat membuat Kris malu. Hanya saja, ia ingin menguji kekuatan dan mantra yang sudah dipelajarinya. Dan satu-satunya orang yang cocok adalah Kris. Pria berwajah vampire–menurut Minji itu perlu merubah ekspresi wajahnya selain wajah datar dan dingin seperti biasa.

Lamunannya buyar ketika sebuah pesawat kertas lewat di depan wajahnya. Minji segera menangkap pesawat kertas tersebut lantas membaca pesan di dalamnya.

‘Jika kau ingin bertarung denganku, datanglah ke hutan terlarang malam ini. ttd –Kris’

Minji membulatkan matanya lantas mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tidak ada seorangpun di kelas. Minji datang terlalu pagi sehingga hanya ada ia sendirian. Hyejin pun mungkin masih berada di atas kasurnya yang empuk.

Minji berlari menuju jendela kelasnya yang terletak di lantai dua. Jendela itu langsung berhadapan dengan taman belakang Magic Academic. Ia melihat seorang pria yang sedang terbang dengan sapu terbangnya, mengitari taman. Dia rasa itu Kris.

Minji baru akan menyusul Kris untuk menanyakan apa maksud Kris mengiriminya surat itu, namun sayangnya Kris lebih dulu membelokkan sapunya ke luar kawasan taman membuat Minji mengurungkan niatnya. Sepertinya pria itu sedang mempunyai urusan yang penting.

Gadis itu kembali duduk ke bangkunya dan berpikir, apakah ia harus menerima tawaran Kris atau tidak. Karena setahunya kekuatannya tidak lebih besar dari Kris. Pria itu adalah siswa terpintar di Magic Academic. Kekuatannya itu membuatnya setara dengan tingkat tiga. Melawan pria itu sama saja artinya masuk ke kandang singa yang sedang lapar. Ia bisa mati.

***

Kris sedang berada di perpustakaan. Membolak-balikan buku tentang takdir. Pria itu sedang mencari tahu masalah yang ada pada dirinya. Akhir-akhir ini ia merasa hidupnya seperti ada yang kurang. Kekuatan jantungnya kian melemah. Padahal ia rasa riwayat kesehatannya baik-baik saja.

Ia pernah mendengar. Jika ia menemukan takdirnya maka keadaan akan menjadi normal atau mungkin lebih baik, seperti ia sudah menemukan kebahagiaannya yang abadi. Namun takdir itu harus terikat oleh sebuah ikatan cinta. Jika hanya salah satu dari mereka yang memiliki perasaan cinta, maka orang yang mencintai itu akan semakin merasa tersiksa. Tapi, jika mereka saling menyukai maka mereka akan bahagia sampai maut memisahkan.

Tapi sayangnya, Kris tidak tahu siapa takdirnya itu.

Dalam buku yang ia baca mengatakan bahwa sepasang manusia adalah takdir ketika mereka mempunyai tanda lahir yang sama. Jika letak tanda lahir sang pria berada di pergelangan tangan kiri bagian dalam maka sang wanita berada di bahu sebelah kanan. Bagaimana Kris bisa menemukan tanda lahir yang sama dengan dirinya sementara semua gadis di Magic Academic memakai jubah besar yang selalu menutup bahu mereka?

Kris menghela napasnya lantas meletakkan buku itu kembali ke rak. Ia berjalan keluar perpustakaan. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tampak sangat mengagumkan.

Gadis-gadis yang dilewatinya menatapnya penuh minat. Mereka tidak akan melewatkan begitu saja pemandangan indah yang jarang mereka lihat. Suatu keberuntungan ketika mereka melihat Kris di perpustakaan. Pria tampan itu pasti punya alasan kuat mengapa ia harus merelakan diri ke tempat membosankan macam perpustakaan.

Siswa lain pun hanya akan mendatangi perpustakaan jika mereka mendapat tugas tambahan dari guru sihir. Itu pun sangat terpaksa. Selebihnya, perpustakaan akan selalu sepi setiap harinya.

Tapi, sejak kemarin, sejak ada yang mengatakan bahwa Kris sering berkunjung ke sana, statistik kunjungan perpustakaan menjadi meningkat secara derastis. Ck! Kris tidak habis pikir sebenarnya apa yang mereka lihat dari dirinya.

Kris kembali terpikir akan mencari takdirnya itu. Semenjak menatap mata Minji, kepala kris terus penuh akan bayang-bayang gadis itu. Oleh karena itu ia berniat mengajak gadis itu bertarung hanya untuk mengetahui apakah Minji itu takdirnya atau bukan. Kris punya rencana bagus untuk segera melihat bahu gadis itu.

“Hai Kris,” sapa Sehun yang kebetulan berpapasan dengan Kris.

“Hai Sehun-ah.”

“Kris, kau tahu tidak kalau kau menjadi topik pembicaraan akhir-akhir ini.”

“Benarkah?”

Sehun menyejajarkan langkahnya dengan Kris. Sehun memang sejak tadi sudah mencari Kris karena ia tidak punya teman selain Kris. Tentu saja ia tidak menemukan Kris dimana-mana karena Kris asik berkutat dengan bukunya di dalam perpustakaan.

“Sehun-ah, apa kau pernah berpikir untuk mencari takdirmu?”

Sehun menatap Kris dengan pandangan bingung.

“Apa kau sedang merasa kekuatan jantungmu melemah dan merasa hidupmu seperti ada yang kurang?” tanya Sehun dengan nada berbisik.

“Dari mana kau tahu?!” tanya Kris kaget dengan mata yang melebar.

“Kau memang pintar Kris, tapi tidak cukup peduli dengan masalah seperti ini. Kau baru saja menginjak usia dua puluh tahun kan? Kepala sekolah pernah mengatakan kalau hal itu terjadi berarti kau harus segera menemukan takdirmu sampai bulan purnama.”

“Aku pernah mendengar, tapi aku tidak percaya.”

“Itulah masalahmu Kris.” Sehun menatap risih gadis-gadis yang mulai menatap mereka berdua dengan pandangan penuh minat.

“Menyebalkan, mengapa harus ada hal-hal seperti ini…” keluh Kris.

“Apa kau sudah tahu siapa gadis yang telah menjadi takdirmu?”

Kris mengangkat bahu lantas tersenyum tipis. Kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Sehun.

“Hey, aku sedang bertanya padamu…”

***

Minji mondar-mandir dalam kamarnya. Ia terus menghapalkan mantra-mantra serangan dan pertahanan. Sama seperti menghapalkan rumus, ia harus mengingat semuanya dan tidak boleh salah. Kalau sampai salah, pasti kacau nantinya. Ia sudah memutuskan untuk menerima tantangan Kris. Berbahaya memang, tapi ia ingin mengukur seberapa besar kekuatannya sekarang.

Hyejin yang sejak tadi duduk menonton tivi, mulai merasa terganggu dengan aktivitas Minji.

“Stop! Kau membuatku pusing tahu?!”

“Aku sedang berlatih, sudah sana kau diam saja. Kau tahu tidak? Aku masih punya harapan untuk membuat Kris ber-aegyo di depan umum.”

“Benarkah? Bagaimana bisa?” Hyejin menurunkan volume televisi. Ucapan Minji cukup menarik perhatiannya.

“Aku akan membuatnya terpengaruh dengan mantra-mantraku,” ucap Minji penuh percaya diri.

“Minji-ya, sebaiknya kau lupakan saja keinginanmu itu. Kau bisa membuat nyawamu dalam bahaya.”

“Tidak. Aku tidak akan menyerah sebelum aku mencobanya.”

***

Kris meluncur turun bersama sapu terbangnya. Daerah hutan terdalam adalah tempat yang dipilihnya untuk melakukan pertempuran kecil dengan gadis bernama Minji. Sebuah tempat yang sangat sepi.

Kris bersandar di salah satu pohon. Menunggu Minji yang belum tentu datang. Pria itu hanya memberikan sebuah surat tantangan pada Minji. Gadis itu bahkan belum mengkonfirmasi apakah ia akan datang atau tidak. Kris mendadak merasa bodoh.

Angin bertiup pelan. Suara gemersik dedaunan dari pohon yang bergoyang seakan menemani Kris yang sedang merasa kesepian. Daun kecoklatan mulai berjatuhan. Kris menangkap salah satu daun yang lewat di depannya. Kemudian dengan menggunakan kekuatan pikiran ia bisa membuat daun itu terbakar. Lantas meniupnya.

Membosankan.

Itu yang terjadi pada Kris sejak 5 menit ia tiba di tempat yang sudah dijanjikannya bersama Minji. Ia baru saja akan menaiki sapu terbangnya saat ia mendengar dalam radius 50 meter ada sebuah jeritan perempuan.

Kris memejamkan matanya, mencoba memfokuskan pendengarannya pada suara tersebut. Tiba-tiba Kris membuka matanya dan berpindah dari tempatnya berdiri. Sebuah sapu terbang tepat jatuh di tempat Kris berdiri tadi. Kalau saja ia tidak menghindar, ia sudah pasti terkena jatuhan benda yang terbuat dari kayu itu.

Kemudian Kris mendongakkan kepalanya. Kali ini dengan sigap tangannya membentang ke depan, menyambut seseorang yang jatuh dari atas. Minji.

Minji memejamkan matanya rapat-rapat saat ia melayang di udara bebas. Dan ia merasa hidupnya akan berakhir sebentar lagi. Atau mungkin ia bisa. Tapi ia bingung, kenapa ia belum juga menyentuh tanah?

Sementara Kris cukup terkejut dengan jatuhnya gadis itu di kedua tangannya. Kris menatap wajah gadis itu tanpa kedip. Ia baru menyadari kalau ternyata Minji jauh lebih cantik saat dilihat dari jarak dekat.

Lalu gadis itu membuka matanya. Pandangan mereka bertemu. Kris berusaha menembus pikiran gadis itu. Tapi seakan ada sebuah perisai yang sangat kuat disana sehingga ia tidak bisa melewatinya. Aneh sekali.

Minji balas menatap Kris. Gadis itu merasa terpaku pada tatapan mata tajam dari Kris. Lekukan dan garis wajah yang mengagumkan terpampang di depan matanya membuatnya tanpa sadar terpesona. Wajah yang pernah ia lihat dari jauh itu ternyata memiliki pesona berlebih saat dalam jarak sempit seperti ini.

Gadis itu menelan ludahnya kemudian mengerjap cepat. Ia seperti baru saja tersadar dari  pengaruh hipnotis pria itu. Mestinya ia sekarang bertarung. Bukan bertatapan dengan posisi seperti ini. Seperti dalam drama saja.

“Turunkan aku!” ucap Minji.

Kris menangkat satu ujung bibirnya lantas menurunkan gadis itu. Dengan gerakan cepat Kris mendorong Minji hingga gadis itu tertahan di pohon.

“YAK! Jangan curang!” teriak Minji.

Mengabaikan protes dari gadis itu, Kris malah memegang bahu gadis itu dan perlahan menurunkan jubahnya.

Minji tahu. Pertarungan sudah di mulai. Tidak apa kalau pria itu memang ingin memulai lebih dulu. Minji sudah siap dengan segala kekuatannya lebih dari apa yang ada dalam pikiran pria itu.

Minji meraih tongkat yang berada dalam saku jubahnya. Lalu mengangkatnya di udara sembari mengucap mantra kemudian mengayunkannya tepat di dada Kris membuat pria itu terlempar cukup jauh.

Minji tertawa pelan. Ternyata Kris tidak sekuat perkiraannya. Rasa percaya diri Minji mendadak menyeruak ke atas, membuatnya tidak sabar lagi untuk mencapai tujuannya yaitu melihat Kris melakukan sesuatu yang cute. Minji jadi tidak sabar.

Kris memegang dadanya yang terasa sesak. Perlahan ia bangkit.

Mereka berdua berhadapan dengan jarak yang cukup jauh. Masing-masing mulai memasang ancang-ancang untuk menyerang.

Kris merogoh tongkatnya lantas mengayunkan tongkat itu ke arah Minji. Gadis itu sempat menghindari hingga serangan Kris mengenai pohon di sampingnya dan menyebabkan pohon itu retak.

Minji membulatkan matanya, shock. Apa pria itu sungguh melakukan itu padanya? Apa pria itu benar-benar akan membunuhnya?

Baru saja Minji akan membalas, namun Kris mendadak ambruk membuat Minji bingung. Sepertinya pria itu kehilangan kontrol. Mereka berdua baru memulainya. Rasanya tidak mungkin Kris dapat dikalahkan semudah itu.

Minji mulai khawatir, hingga akhirnya ia melangkah maju. Kris sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Minji memberanikan diri menyentuh wajah pria itu, lalu meletakkan kepala Kris di pangkuannya. Menepuk pelan pipi Kris.

Minji menelan ludahnya. Bagaimana bisa ada pria setampan Kris? Dan perasaan apa ini? kenapa ia harus berdebar saat menatap wajah Kris. Apa yang sebenarnya telah terjadi padanya?

Kris membuka matanya perlahan. Kemudian terbelalak kaget saat Minji berada tepat di depannya. Pria itu mengepalkan tangannya untuk sekedar memulihkan tenaganya, lantas berdiri dengan cepat. Lalu menarik lengan Minji dan mendorong gadis itu ke batang pohon.

Kris mengatur napasnya yang memburu. Ia tidak akan bisa bertahan lama lagi. Ia harus melakukannya. Memastikan apakah Minji benar-benar takdirnya atau bukan. Lalu membuat wanita itu mencintainya.

Minji tidak punya banyak waktu untuk berpikir sehingga ketika Kris menciumnya, gadis itu benar-benar membeku dan kehilangan kewarasannya. Ia hanya bisa diam tanpa bisa menolak. Kecupan-kecupan ringan yang diberikan pria itu mutlak memabukkan. Bahkan syaraf motoriknya memberikan respon untuk membalas ciuman pria itu.

Lidah Kris yang hangat mulai menerobos masuk ke dalam mulut Minji, padahal gadis itu sungguh masih belum siap hingga Minji tersedak ludahnya sendiri. Kris tidak peduli dan meneruskan ciumannya. Ia seperti baru saja mengisi tenaganya, mulutnya yang bergairah tidak bisa berhenti untuk mencumbu gadis itu.

Minji mulai jengah, tangannya mendorong bahu Kris. Berpikir bahwa dengan cara ini Kris bisa saja membunuhnya. Dan ternyata ia berhasil melepaskan bibir Kris dari bibirnya, tapi tunggu dulu! Kris mulai menurunkannya ke leher lalu perlahan membuka jubah gadis itu hingga terpampang bahunya yang indah. Kris berhenti disana.

Matanya membulat kaget. Tato itu! Tato yang ada di pergelangan tangan Kris persis sama dengan yang ada dibahu Minji. Saking shock-nya, Kris tanpa sadar memundurkan kakinya perlahan sementara Minji mendadak merosot. Gadis itu kehilangan tenaganya bahkan untuk sekedar menyumpahi pria itu karena ia sungguh sudah bersikap sangat kurang ajar pada Minji.

Kris meraih sapu terbangnya dengan tangan bergetar, lantas melaju di udara. Meninggalkan Minji yang hanya bisa menatap kepergian Kris dengan pandangan tidak percaya.

“Aku bersumpah Kris! Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu tadi.”

***

Minji memasuki kamarnya dengan langkah gontai. Lantas menghempaskan tubuhnya dikasur.

Hyejin yang melihat hal demikian berasumsi bahwa Minji telah kalah bertarung dengan Kris. Hyejin bernapas lega. Meskipun Minji kalah, yang penting ia masih bisa pulang bersama nyawanya.

“Kau tidak apa-apa? Apakah ada yang terluka parah?” tanya Hyejin yang kemudian duduk di tepi ranjang Minji sembari mengamati tubuh Minji yang sama sekali tidak ditemukannya bekas luka. Aneh.

“Aku rasa Kris sudah gila!”

“Heh?”

“Dia menciumku. Menciumku, Hyejin-ah!!” jerit Minji diluar kendali, membuat Hyejin terlonjak dari tempat duduknya.

MWO??” teriak Hyejin tidak kalah heboh. Gadis itu mengambil tempat duduk lebih dekat ke arah Minji. Mulut Hyejin setengah terbuka. Ia bahkan belum percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.

“Di bibir. Pakai lidah. Turun ke leher. Arrgghh!”

Minji membuka jubahnya dengan kasar, lantas melemparnya ke lantai. Gadis itu memeluk guling lalu memiringkan badannya. Ia tampak terbebani dengan peristiwa yang baru saja terjadi padanya itu.

Lagi-lagi Hyejin terdiam. Ia perlu berpikir keras untuk mencerna kata-kata yang terucap dari mulut Minji tadi.

“Aku akan memberi pelajaran pada Kris,” ucap Hyejin sembari menepuk pelan bahu Minji. Entah mendapat keberanian darimana gadis itu sampai mengucapkan kalimat seperti itu.

Minji membalikkan badannya. Menatap Hyejin dengan kening yang berkerut. Gadis itu bukan ingin menolak pertolongan Hyejin. Tapi ia hanya tidak ingin Hyejin terlibat masalah antara ia dan Kris.

Gomawo Hyejin-ah. Tapi kau tidak perlu melakukannya. Aku akan membalas Kris dengan tanganku sendiri.”

***

Kris meletakkan sapu terbangnya di tepi kasur. Pria itu menatap tato di pergelangan tangannya yang tampak bersinar. Hal yang membingungkan baru saja terjadi. Minji mempunyai tanda yang sama dengannya. Jadi benar gadis itu adalah takdirnya? Tanya Kris dalam hati.

Pria itu mengambil buku yang terletak di atas meja belajarnya. Buku itu dipinjamnya di perpustakaan beberapa waktu lalu. Ia menyusuri kalimat yang tertulis disana. Ingin tahu selanjutnya langkah apa yang yang harus ia lakukan setelah menemukan gadis itu.

Kris tertawa pelan saat membaca kalimat yang menyatakan bahwa ia harus mencium gadis itu. Ck! Kris sudah melakukannya. Pantas saja Kris merasa lebih kuat dari sebelumnya. Kemudian ia membaca kalimat selanjutnya.

Kris harus mendengar dengan telinganya sendiri bahwa gadis itu mengucapkan kalimat cinta. Tanpa ada paksaan sedikitpun.

Kris kembali meletakkan buku itu. Ia menatap bulan yang berada di luar jendela. Sepertinya besok bulan purnama. Dan bagaimana bisa Kris membuat Minji mengucapkan kalimat cinta hanya dalam sehari sementara Kris baru saja bersikap kurang ajar pada gadis itu. Gadis itu pasti membencinya sekarang.

Kris kembali ke kasurnya. Ia menutup setengah wajahnya dengan bantal. Hingga tanpa sadar ia tertidur.

***

Minji membolak-balikkan badannya dengan gelisah. Samar-samar terdengar dari mulutnya bahwa ia mengucapkan nama Kris. Apa begitu jauh sudah pria itu mempengaruhinya hingga pria itu sampai masuk ke dalam mimpinya?

Minji perlahan membuka matanya. Pelipisnya berkeringat. Ia merasa cuaca begitu pengap. Sejenak berpikir untuk keluar kamar, karena ingin mencari udara segar. Berharap saja tidak ada penjaga asrama yang menemukannya berkeliaran di jalan, di tengah malam.

Gadis itu mengambil cardigan birunya yang ia gantung di belakang pintu. Ia menatap Hyejin yang tampak tertidur pulas. Teringat perkataan Hyejin bahwa ia akan membalas perlakuan kurang ajar Kris padanya. Dan sekarang Minji harus membuktikannya. Ia akan berlatih lebih keras agar bisa mengalahkan Kris. Oh, sepertinya ia lupa dengan tujuan awalnya membuat Kris ber-aegyo.

Minji membuka pintu kamarnya. Ia menolehkan kepala ke kiri dan kanan. Suasana tampak sepi dan mencekam. Hanya ada beberapa lampu yang redup yang terpasang sepanjang koridor.

Gadis itu melangkahkan kakinya menuju perpustakaan. Ia tahu saat ini perpustakaan pasti sudah dikunci. Tapi tenang saja, ia ahli dalam hal menerobos masuk. Ia punya mantra yang ampuh untuk memutar kunci tanpa harus mematahkan kenop pintu ataupun menghancurkan pintu itu sendiri.

“Aku harus belajar banyak agar bisa melampaui kekuatan Kris,” tekad Minji.

Minji mengeluarkan tongkatnya dari saku celananya. Untung saja ia masih ingat untuk membawa tongkatnya itu. Kalau saja ia lupa, sia-sia saja ia keluar kamar malam ini.

Gadis itu mengayunkannya ke kenop pintu. Perlahan tapi pasti, pintu itu pun terbuka. Setelah merasa lebar pintu itu cukup untuk ia masuk, Minji menerobos dan sesegera mungkin menutup pintu kembali.

Dengan santai ia menyusuri jejeran buku yang terletak di lemari yang tingginya mencapai tiga kali tinggi badannya. Benar-benar tidak manusiawi. Minji hanya memanfaatkan ujung tongkatnya sebagai penerangan. Karena kalau ia menyalakan lampu, ia pasti ketahuan sedang berkeliaran dan dia yakin pasti dihukum setelah penjaga asrama menemukannya..

Tanpa sadar Minji sudah cukup lama berada di tempat itu. Sebuah suara yang berasal dari pintu cukup mengejutkannya. Minji memutar otaknya, berpikir keras bagaimana ia bisa bersembunyi dengan benar agar tidak ketahuan.

Kemudian terdengar langkah kaki yang semakin mendekat. Minji seketika panik. Ia segera mematikan penerangannya. Dan tiba-tiba saja seseorang menariknya. Memojokkannya ke dinding sembari membungkam mulutnya dengan tangan. Minji merasakan ketakutan menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Aku yakin ada seorang gadis berada disini tadi. Ah, sebaiknya aku mengecek ke asrama saja.”

Minji yakin itu suara penjaga asrama. Wanita paruh baya itu tampak sangat menakutkan dengan feature sanggulnya yang tinggi serta gayanya yang arogan. Kemudian langkah kaki wanita itu semakin samar terdengar dan akhirnya tidak terdengar lagi, pertanda bahwa ia sudah pergi.

Kalau penjaga asrama sudah pergi, lantas siapa orang yang sedang membekapnya ini? tanya Minji dalam hati.

Minji mendongakkan kepalanya, karena orang itu lebih tinggi dari Minji. Ia menangkap siluet wajah Kris tepat di depannya. Kris?!

Apa kali ini Kris menolongnya?

Minji membiarkan dirinya menikmati aroma tubuh Kris yang menyeruak. Memenuhi indera penciumannya. Cukup penasaran sampai kapan pria itu menahannya.

Ternyata tidak cukup lama, Kris melepaskan tangannya di mulut Minji. Ia menatap jauh ke dalam mata gadis itu, membuat Minji lagi-lagi terpaku. Tapi dengan cepat ia mengendalikan dirinya agar kejadian tadi siang tidak terulang lagi.

Plak!

Tiba-tiba Minji menampar wajah Kris. Dan ia tidak main-main dalam melakukannya. Hingga Kris merasakan wajahnya cukup panas.

“Mau apa kau?!” geram Minji.

Kris mengabaikan rasa sakitnya, lantas mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu.

“Apa kau mencintaiku?” tanya Kris tiba-tiba, membuat kening Minji berkerut jelas meskipun dengan penerangan yang minim, yang hanya berasal dari cahaya bulan di luar jendela.

“Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal seperti ini padaku?”

“Jawab saja.”

“Aku tidak akan memberikan jawaban apapun jika kau tidak punya alasan yang cukup jelas mengapa kau menanyakan hal macam itu padaku.”

Kris mendecak sebal, kemudian berbalik. Meninggalkan Minji. Sebelum benar-benar pergi, ia sempat berkata, “Sebaiknya kau kembali ke kamarmu sebelum penjaga asrama menemukan kasurmu kosong.”

Kris sungguh menaruh perhatian pada Minji dan ini cukup membuat gadis itu kembali dibuat bingung oleh sikap Kris akhir-akhir ini.

“Sepertinya aku benar-benar akan kehilangan kekuatanku kalau Minji sama sekali tidak ingin membuka hatinya padaku.”

TBC

 sorry for absurd imagination-_-

Yeah! WELCOMEBACK OUR EXO!!

How happiness I’am when I hear that EXO comeback soon :* Let’s support them!!

Comment this FF ^o^

18 thoughts on “Magic Love – part 1 of 2

  1. Kenapa aku kepikiran setting dari Harpott semua (??) wahahahaha.
    YEAAAAH KREASE!!! Cowok yang tiba-tiba jadi bias number one dari exo #EHH #lupakan
    KYAHH lanjooot~!

  2. kereennn…
    image krissnya dapet
    cuman mungkin.. eh itu beneran perpus cuman di kunci biasa? gag di pakein spell dari gurunya? secara mereka kan sekolah sihir..
    mungkin klo seandainya ada spellnya.. bisa aja Minji buat dindingnya bisa di tembus… jadi partikel dindingnya jadi semacam hologram begitu
    just a not important idea sih hehe..

  3. Ping-balik: Magic Love – part 2 of 2 (end) | EXO Fanfiction World

  4. Akhirnya, keingat juga baca nih FF.

    Dooh Kris nyosor aje, tabok nih haha

    Aduh Rima, penasaran ini. Lanjut lanjut~

    Keren ‘-‘)b

    Kabarin ya klu udah ada lanjutannya ><

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s