In Your Dream

Title: 너의 꿈에서 (In Your Dream)

In Your Dream Cover

Author: Kim Na Na

Cast:  Oh Se Hun

Kim Soo Young (bukan Soo Young SNSD, ini OC)

Other Cast:  Kris Wu

Xi Lu Han

Genre: Romance, sad

Length: Oneshoot

Rating: PG

Note: Annyeong, Kim Na Na imnida. Ini ff pertama yang aku publish di sini. Semoga kalian suka. Oh ya, ff ini sebelumnya pernah di publish di blog exofanfiction tapi dengan main cast Chen. Ok langsung baca saja dan jangan lupa RCL nya. Oh ya kalau sempat kunjungi wp pribadi author di http://tsubakihimefanfic.wordpress.com/

Summary: Aku ingin bisa selalu bersamamu, tapi aku tahu aku tidak mungkin bisa. Karena itu aku ingin berada di dalam impianmu saja. Meski hanya setitik kecil, itu sudah membuatku bahagia.

너의 꿈에서

          “Duh tugas ini kok susah sekali sih? Aku pikir mudah tapi ternyata tidak semudah yang kupikirkan.s” gerutuku sambil melihat-lihat foto dari kameraku. ”Se Hun, belum menemukan  foto yang bagus? Tinggal sebentar lagi lho waktu mengumpulkannya.” kata Lu Han ge sambil duduk di sebelahku. ”Belum, hyung pikir mudah mencari foto yang bagus. ” kataku yang kesal dengan nada Lu Han ge yang seolah berkata ‘Pabo, begitu saja tidak bisa’. ”Memang temanya apa? ” tanya Kris ge penasaran. ”Hanya satu kata, senyuman. ” kataku. ”Tapi masalahnya aku merasa senyuman-senyuman yang aku dapat kurang menunjukkan arti senyuman sebenarnya. Hah sudahlah aku jelaskan juga kalian tidak tahu. ” kataku saat melihat teman-temanku menatap dengan tatapan bingung.

“Aku pergi dulu. Mau mencari foto lagi. Percuma juga disini dengan kalian.” kataku sambil pergi meninggalkan teman-temanku yang masih bingung dengan perkataanku tadi. ”Dimana aku bisa menemukan sebuah senyuman yang murni? ” batinku sambil melihat langit biru yang tinggi dihiasi dengan awan yang bergelung. Andaikan saja aku bisa menemukan sebuah senyuman yang sehangat cahaya matahari.

****

        “Yak semua, sekarang kita akan mulai pelajaran senam hari ini. Ikuti gerakan unnie ya! ” seru seorang yeoja. Aku terkejut lalu melihat sekeliling.  Sepertinya aku sudah berjalan sambil melamun tanpa tujuan dan sekarang aku sudah berdiri di depan sebuah taman kanak-kanak.

Entah apa yang  menarikku, aku masuk ke TK tersebut dan melihat seorang yeoja sedang mengajari anak-anak kecil untuk senam. Saat aku melihat senyumannya tanpa sadar aku membidikan kameraku ke arahnya.

“Hya! Buat apa kamu foto-foto! ” serunya sambil melempar bola plastik ke arahku. Aku kaget dan reflek melepaskan kameraku. ”Aaakh! ” kataku sambil memeriksa kameraku yang untungnya tidak rusak setelah jatuh.

“Hya, kamu! Kalau kameraku rusak bagaimana? ! ” teriakku. ”Bukan urusanku! Keluar kamu! Pasti kamu mau menculik anak untuk dijual kan?! Sana pergi! ” katanya sambil mengayunkan sapu ke arahku dengan ganas. Aku segera lari menghindari amukan yeoja itu dan segera keluar dari TK .

”Apa-apaan sih yeoja itu. Kasar sekali. Memang wajahku wajah penjahat? Sudahlah aku pulang dulu saja, mungkin besok bisa mendapatkan foto-foto bagus. ” kataku sambil berjalan pulang.

 

****

Keesokan harinya di kampus

”Tidak dapat lagi?” tanya Lu Han ge. ”Malah dilempar sapu. ” jawabku kesal. ”Bruk. ” ”Wah! Panass! ” teriakku setelah sukses ketumpahan ramyun panas akibat ditrabrak seseorang. ”Mianhae. ” kata orang itu tanpa ada nada penyesalan sedikit pun dalam suaranya. ”Lihat dong kalau… ” kata-kataku terhenti saat menyadari siapa orang itu. Itu yeoja kemarin.

”Akh, kamu! ” kataku sambil menunjuk yeoja itu. ”Oh ternyata kamu mahasiswa juga. Aku pikir kamu penculik. Habis wajahmu terlihat seperti itu. Mianhae. ” katanya dengan tampang yang sama sekali tidak merasa bersalah. ”Yeoja sialan! ” pikirku kesal

”Bajumu tidak apa-apa? ” tanyanya lagi sambil menunjuk bajuku. Aku baru ingat bajuku ketumpahan ramyunnya. ”Menurutmu? ” jawabku ketus. ”Ini aku ada kaus. Ini baru beli untuk oppaku. Kamu ganti saja dengan ini. Nanti aku yang menyucikan kausmu. Besok aku kembalikan. ” katanya sambil mengulurkan sebuah kantung plastik.

Aku terkejut dengan perubahan emosinya. Tadi jahatnya minta ampun sekarang malah mau menyucikan kaosku. ”Tidak perlu sungkan. ” katanya sambil memaksaku untuk mengambil kantung itu. ”Siapa juga yang sungkan. Nanti cucinya yang bersih. Jangan sampai luntur. ” kataku sambil mengambil kantung itu dan memasang evil smirkku. Aku ingin tertawa melihat wajahnya yang menjadi merah seperti kepiting karena marah besar. Rasakan kamu. Hehehe.

 

****

Soo Young POV

Kurang ajar namja ini! Memang aku pembantunya apa! Tapi ini memang salahku. Ini pasti hari tersialku sampai harus berurusan dengan namja seperti ini. ”Hei perasaan aku hanya janji menyucikan saja tapi tidak janji hasilnya kan? ” kataku sambil tersenyum mengejek. Sebelum dia bisa membuka mulut untuk membalasku aku memukul meja keras-keras sambil berteriak ”Cepat ganti!  Atau kamu mau jalan-jalan dengan kaus bau ramyun itu?”

 

****

 

Se Hun POV

Apa-apaan yeoja ini. Sudah pendek berani memukul meja didepanku. Aku baru berniat balas memukul meja tapi Lu Han ge mebisikiku ”Sudahlah. Banyak orang yang melihat kita. Turuti saja yeoja gila itu daripada kita jadi tontonan. ” dan baru kusadari banyak orang yang melihat penasaran ke arah kami.

Aku pun pergi ke kamar mandi lalu cepat-cepat ganti dan keluar dengan tatapan siap membunuh yeoja itu. ”Igeot! Besok aku ambil. ” kataku sambil menyodorkan kantong yang berisi bajuku dengan kasar ke arahnya. ”Ini alamatku. Awas kamu kalau baju oppaku rusak. Dia itu bisa wushu. Kamu pasti habis dihajar kalau sampai dia tahu kamu mengotori bajunya. ” kata yeoja gila itu sambil pergi begitu saja meninggalkanku yang ternganga di tengah kantin.

 

****

          ”Ini ya rumahnya? Wah besar juga. Ternyata yeoja gila itu bisa juga tinggal di rumah seperti ini. ” batinku. PRAANGG. Suara benda pecah membuyarkanku dari lamunanku. ”Kamu keluar dari rumah ini! ! Appa tidak butuh anak sepertimu!! ” ”Aku juga tidak butuh appa! Aku bisa hidup sendiri! ” teriak seorang yeoja. Hening sesaat. Keheningan yang membuatku berpikir apa yang kudengar tadi itu drama atau apa.

Lalu tiba-tiba seorang yeoja keluar sambil berlari dan menabrakku. Ternyata yeoja gila itu. ”Neo gwencahana? ” tanyaku. Dia hanya memandangku lalu menangis keras. ”Hei hei gwenchana? ” tanyaku panik karena orang-orang yang melalui jalan ini melihatku dengan tatapan menuduh.

 

****

          ”Sudah tenang? ” tanyaku sambil memberikan minuman kaleng kepadanya. Dia hanya mengangguk sambil terisak. Tidak ada satupun dari kami yang memulai pembicaraan. Dia masih terisak sedangkan aku hanya menikmati pemandangan taman yang kontras sekali dengan keadaan yeoja gila ini. Setelah hening cukup lama akhirnya dia mulai bicara.

”Appaku ingin aku belajar bisnis diluar negeri. Appa dan oppaku pengusaha sukses. Appaku ingin aku mengikuti jejaknya dan jejak oppaku. Tapi aku hanya ingin menjadi guru TK di TK yang dulu kamu masuki itu. Waktu aku utarakan keinginanku dia malah mengusirku. Aku kecewa dengan appaku. Ternyata dia semudah itu membuangku. Dia lebih sayang dengan bisnisnya dibandingkan aku. ” katanya sambil menerawang.

”Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? ” tanyaku penasaran. ”Aku tinggal di TK itu. Selain TK mereka juga punya panti asuhan. Jadi aku bisa tinggal di sana. Oh ya namamu siapa? Aneh saja aku sudah menceritakan masalahku ke orang yang tidak aku kenal. ” ”Se Hun. ” jawabku. ”Joneun Soo Young imnida. Oh ya ini bajumu” katanya sambil mengulurkan sebuah kantong plastik ke arahku ”Lho kenapa masih sempat kamu bawa? ” tanyaku bingung sambil menerima kantong plastik itu. Baju saja dia tidak bawa malah membawakan bajuku.  Yeoja ini benar-benar aneh. ”Aku kan sudah janji denganmu akan mengembalikannya hari ini. Apa pun yang terjadi aku akan berusaha menepati janjiku. ” katanya sambil tersenyum.

”Pokoknya sekarang aku harus belajar menjadi guru TK yang baik. Aku harus lulus kuliah psikologiku dengan baik. Aku harus mencari uang dengan usahaku sendiri. Soo Young hwaiting. ” serunya semangat sambil mengangkat kepalan tangannya ke udara.

Melihat dia bersemangat seperti itu membuatku ikut bersemangat. Membuatku ingin melindunginya agar dia mencapai mimpinya. Agar semangat dan senyuman itu tidak hilang darinya. ”Kamu kuat ya. Aku juga akan membantumu untuk mencapai mimpimu” kataku sambil tersenyum padanya. Dia lalu mengangguk semangat dan membalas senyumanku.

****

          Sejak hari itu, aku selalu ikut jika Soo Young mengajar. Ternyata asyik juga menjadi guru TK . ’Senyuman’ yang dulu aku susah mencarinya sekarang sudah aku temukan. Senyuman Soo Young, senyuman anak-anak itu, semua senyuman yang murni.

”Kamu kenapa suka fotografi? ” tanya Soo Young kepadaku suatu hari. Hari ini TK Soo Young sedang mengadakan field trip ke sebuah peternakan. Tentu saja aku ikut. Kapan lagi aku bisa mendapatkan pemandangan seindah ini. Padang rumput hijau yang luas dengan beberapa ekor sapi dan domba yang sedang merumput. Langit biru tanpa batas dihasi awan yang berarak. Sekarang aku dan Soo Young sedang duduk di padang rumput yang luas untuk menikmati pemandangan.

”Aku ingin mengabadikan semua perasaan orang dalam foto. Lewat sebuah foto kamu dapat mengetahui perasaan orang ataupun mengenang seseorang. Kamu juga dapat mengetahui kebenaran dari sebuah foto. Bagiku foto adalah suatu keajaiban. Aku ingin berbagi kebahagian melalui foto – fotoku.” kataku sambil mengulurkan tangan ke langit.

”Wah impianmu hebat. Impianku tidak ada apa – apanya” katanya sambil tersenyum memainkan rumput. ”Tidak juga. Menurutku impianmu juga berkilauan. Kamu dapat selalu membuat anak – anak itu tertawa. Kamu juga mengajarkan dasar – dasar kehidupan pada mereka. Dan itu merupakan sesuatu yang hebat menurutku.” kataku sambil menatapnya.

”Kalau hal itu masih jauh.” katanya dengan wajah sedikit memerah. ”Karena itu kita berusaha agar dapat menggapai impian kita masing – masing.” kataku sambil mengulurkan kelingkingku. ”Janji kita akan saling membantu untuk mencapai impian kita.” katanya sambil mengaitkan jari kelingkingnya ke kelinkingku lalu tersenyum.

”Unnie, ayo main lagi!!” seru seorang anak. ”Ne!” balas Soo Young sambil berlari ke arah anak itu. Aku mengambil kameraku dan memfoto Soo Young yang berlari dengan anak-anak itu sambil tertawa.

Tiba-tiba aku merasakan sebuah cairan merah keluar dari hidungku. Aku cepat-cepat membersihkan darah itu. Akhir-akhir ini semakin sering. Aku tidak tahu apakah aku bisa memenuhi janjiku pada Soo Young atau tidak? Apakah aku bisa terus melihat senyumannya? Soo Young, mianhae.

 

****

          ”Kamu mau tidak membayar berapa bulan lagi? Sudah 2 bulan kamu belum membayar.” kata seseorang saat aku masuk ke ruang administrasi. Aku melihat ke arah seorang yeoja yang sedang di tegur oleh seorang bagian administrasi. Aku terkejut saat tahu yeoja itu Soo Young. Dia belum membayar uang kuliah 2 bulan? Kenapa dia tidak pernah bercerita kepadaku?

”Mianhae soengsenim, bulan depan pasti aku akan membayar semuanya.” kata Soo Young. ”Baiklah. Bulan depan kamu harus membayar, arachi?” ”Ne soengsenim. Jeongmal gomawo.” katanya sambil membungkuk.

Lalu aku melihat dia berjalan keluar dari ruang administrasi dengan lemas. Aku mengikutinya ketika ia berjalan ke arah atap kampus tempat kami biasa menghabiskan waktu.

Ia hanya berdiri di pagar pembatas sambil menundukkan wajahnya. Aku tahu dia menangis. ”Gwenchana?” tanyaku sambil berdiri di sampingnya. Dia langsung menghapus air matanya dan menatapku sambil tersenyum. ”Nan gwenchanayo. Ternyata hidup sendiri itu susah ya. Benar kata appa. Apa aku harus kembali ke rumah saja ya?” katanya sambil tersenyum pahit memandang langit.

”Apa yang terjadi?” tanyaku. ”Kamu tahu kan keuangan di panti asuhan tidak terlalu bagus. Jadi aku tidak meminta gajiku. Sebagai gantinya aku bekerja sambilan di tempat lain. Tapi sepertinya masih tidak cukup untuk uang kuliahku. Mungkin lebih baik jika aku kembali ke rumahku.” katanya sambil kembali menunduk.

Melihatnya sedih membuat hatiku terasa sakit. Aku langsung memeluknya, membuatnya terdiam karena terkejut. ”Kamu jangan cepat berputus asa. Jika kamu lelah kamu boleh bersandar di bahuku. Aku akan menerima segala rasa lelah dan jenuhmu. Aku akan menerima tiap tetes air matamu. Tetapi setelah itu semua kamu harus menghapus air matamu dan tersenyum penuh semangat lagi. Aku akan selalu membantumu mengepakan sayap untuk terbang tinggi ke langit biru yang luas. Meski seluruh dunia memandang sebelah mata dirimu, membecimu, bahkan meninggalkanmu, aku tetap akan selalu di sampingmu. Karena itu, uljima.” kataku sambil menghapus air mata yang mengalir pelan di pipinya.

Dia kembali memelukku sambil berkata lirih ”Gomawo.”. Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya. Di waktuku yang semakin sedikit ini aku harus berusaha agar dapat membantu Soo Young mencapai mimpi – mimpinya.

 

****

Soo Young POV

Setengah tahun berlalu sejak kejadian itu. Tapi selama itu juga aku tidak melihat Se Hun. Aku merasa bodoh sudah memperlihatkan kelemahanku padanya. Ternyata dia berjanji kosong saja. Apanya yang akan membantuku? batinku sambil tersenyum pahit.

Jujur dulu aku suka padanya. Tapi sekarang hanya ada kekesalan di hatiku saja. Dari pada aku memikirkan pabo namja itu, lebih baik aku memikirkan orang yang sudah membantuku selama ini. Aku tidak tahu siapa orang itu, tapi dia membiayai uang kuliahku selama 6 bulan ini. Ketika aku bertanya kepada bagian administrasi, mereka tidak mau memberi tahuku.

”Unnie, ada yang mencari unnie di pintu gerbang.” kata seorang muridku. Ternyata Kris ge, teman baik Se Hun. Selama ini yang selalu membantuku hanyalah beberapa teman baik Se Hun saja. Biasanya mereka datang sambil tertawa tapi hari ini wajah Kris ge seperti terlihat sedih. ”Kris ge ada apa?” tanyaku bingung. ”Se Hun meninggal. Sekarang dia sudah di krematorium.” katanya dengan suara bergetar.

Duniaku serasa runtuh saat itu juga. ”Tidak mungkin..” kataku tidak percaya. Air mata sudah mengalir di pipiku. ”Se Hun sudah lama mengidap leukimia. Para dokter berkata bahwa dia dapat hidup sampai saat ini adalah sebuah keajaiban.” jelas Kris ge. Leukimia? Kenapa dia tidak pernah memberitahuku? Aku selalu mengira dia baik – baik saja. Dia tidak pernah terlihat seperti mengidap penyakit yang mematikan seperti itu. “Kita segera ke sana. Yang lain sudah menunggu kita.” kata Kris ge sambil menggandengku.

 

****

          Setelah selesai acara pemakaman Se Hun, Lu Han ge menghampiriku dan memberikan sebuah kotak kepadaku. ”Ini dari Se Hun.” katanya saat aku menatap kotak itu dengan bingung.

Aku membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah surat, buku tabungan dan foto – fotoku. Aku mengamati satu persatu foto itu. Di semua foto itu aku selalu tertawa atau berlari. Aku tidak pernah tahu kapan dia memfoto ini semua. Lalu aku mengambil buku tabungan. Buku tabungan itu atas namaku dan jumlah terakhir yang tertera di situ cukup banyak.

Aku melihat surat itu. Aku mengambilnya dan meletakan kotak itu di sebelahku. Aku membukanya dan aku menemukan sebuah surat dengan tulisan tangan yang sangat kukenal.

 

Annyeong saranghaneun Soo Young

 

Mungkin ketika kamu membaca ini, aku tidak ada di dunia ini lagi. Mianhae, aku telah melanggar janjiku padamu. Aku sudah tidak dapat menjadi sandaranmu lagi.

 

Aku tahu waktuku di dunia ini tidak lama. Tapi aku tetap ingin menggapai mimpi – mimpiku. Semua orang mengatakan aku bodoh karena terus berusaha mengejar mimpiku padahal aku tahu tentang kondisiku.

 

Waktu aku melihatmu, aku merasa impian yang selama ini kukejar telah kudapatkan. Senyumanmu membuat hidupku berwarna. Semangatmu membuatku selalu tersenyum.

 

Aku berharap kamu selalu tersenyum dan semangat. Aku ingin kamu mengembangkan sayapmu yang terlipat dan terbang ke langit biru yang luas.

 

Kamu sudah melihat foto – fotomu? Aku ingin kamu selalu seperti itu. Terbang menggapai mimpimu dan selalu tersenyum. Aku tidak ingin kamu menangis lagi. Kamu harus kuat. Seperti katamu ”Soo Young Hwaiting!” ^^

 

– Oh Se Hun –

 

P.S : Buku tabungan itu semua untukmu. Kalau ada masalah minta tolong saja pada teman – tamanku. Mereka pasti mau membantumu.

 

Air mata terus mengalir dari pelupuk mataku. ”Kamu tahu, selama ini dia tidak menemuimu karena dia bekerja keras. Tabungan itu seluruhnya dari kerja kerasnya. Dia juga menjual seluruh harta berharganya agar jumlah tabungan itu bertambah banyak. Ketika ditanya untuk apa, dia hanya menjawab ’untuk impian baruku yang tidak akan tercapai’.”  kata Lu Han ge sambil tersenyum sedih.

Aku bodoh telah membenci dirinya. Ternyata dia telah memenuhi janjinya untuk selalu membantuku terbang ke langit biru. Bahkan hingga saat terakhirnya.

Aku menghapus air mataku lalu berseru ke arah langit. “Se Hun, aku sudah bukan burung kecil. Berkat dirimu aku sudah menjadi burung yang terbang di langit biru yang luas. Aku berjanji akan terus terbang mencapai mimpiku.” Lalu aku tersenyum “Jeongmal gomawo. Selamat tinggal Se Hun.” gumamku dalam hati.

 

****

Se Hun POV

Satu bulan yang lalu…

“Haahh.. lelah sekali hari ini.” kataku sambil melepaskan jaketku sepulang dari aku bekerja. Tiba – tiba cairan merah keluar lagi dari hidungku. Aku hanya menyekanya tapi sepertinya Kris ge melihatku.

”Sudahlah Se Hun. Berhentilah menyiksa dirimu sendiri seperti ini.” katanya dengan wajah cemas. Aku hanya tersenyum. ”Kamu tahu kan aku selalu ingin mencapai mimpiku meski tahu mimpiku tidak akan tercapai. Termasuk mimpiku yang baru. Meski harus mengorbankan waktuku di dunia, aku akan berusaha mencapai impian baruku ini.”

”Memang mimpimu itu apa? Apa sepenting itu hingga kamu mau mengorbankan waktumu di dunia ini?!” bentaknya padaku. ”Aku ingin selalu bersama Soo Young. Selalu menjadi sandarannya, selalu melihat senyumannya, selalu di sampingnya untuk membantunya mencapai impiannya. Tapi aku tahu itu semua tidak mungkin terwujud karena itu aku hanya berharap aku ada di impiannya. Meski hanya setitik kecil saja, itu sudah sangat membuatku bahagia.” kataku sambil tersenyum memandang foto Soo Young sedang tersenyum yang kupajang di meja kamarku.

Itulah satu – satunya harapanku sekarang. Harapan yang tidak akan pernah terwujud.

 

CHOROP

 

10 thoughts on “In Your Dream

  1. Sedih bgt bacanya, kenapa Sehun bilang kayak gitu sih, bikin aku terharu bacanya, Soo Young ditinggalin Sehun, padahal Soo Young gak nemuin Sehun beberapa lama. Cuma itu aja eonnie, keep write and Hwaiting

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s