Magic Love – part 2 of 2 (end)

magic love cover

Title : Magic Love – part 2 of 2 (end)

Author : Charismagirl

Cast :

  • Kris Wu
  • Oh Sehun
  • Choi Minji (OC)
  • Kim Hyejin (OC)

Genre : Fantasy, romance, friendship

Length : 2-shoot

Rating : PG-16

Wanna read part 1? klik this

***

Tidak lama setelah Kris pergi dari perpustakaan, Minji-pun ikut keluar. Ia memungut sebuah buku yang terjatuh di lantai. Buku itu tergeletak dengan keadaan terbuka sehingga halaman yang sedang terbuka itu menarik perhatian Minji.

“Takdir dan tanda lahir? Apa hubungannya?” tanya Minji entah pada siapa.

Kemudian ia membuka halaman selanjutnya, ia semakin penasaran dengan yang tertulis dalam buku itu hingga akhirnya ia memutuskan membawa buku itu pergi.

***

Matahari sudah meninggi, menandakan bahwa hari sudah berganti. Sebagian murid Magic Academic berada di kantin karena sekarang adalah waktu untuk beristirahat.

Minji dan Hyejin duduk di salah satu bangku yang ada disana. Mereka berdua memilih tempat duduk yang berada di pojok. Tempat favorit Minji. Minji tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian, makanya ia sering menutup diri.

Dua orang pria menarik perhatian gadis-gadis yang berada di kantin–Kris dan Sehun. Dua pria jangkung itu tampak sangat mengagumkan sehingga para gadis tidak ingin melewatkan kesempatan berharga bahkan untuk sekedar menatap kedua pria itu.

Tidak terkecuali Minji. Gadis itu juga ikut menatap Kris. Ketampanan wajahnya yang tidak manusiawi sedikit banyak mencolok di antara manusia yang lain. Minji bahkan ragu untuk menyebut pria itu manusia. Dia lebih pantas disebut dewa. Dewa paling tampan. Ya Tuhan! Apa yang baru saja Minji pikirkan?

Tanpa diinginkan Minji, ia tersedak sendiri, membuat Kris menoleh padanya. Lalu Minji tertangkap basah sedang memperhatikan Kris. Gadis itu seakan ingin menghilang dari sana saat itu juga.

“Hey, kau tidak apa-apa?” tanya Hyejin khawatir karena wajah Minji tampak memucat.

“Tidak apa-apa. Cepat habiskan makananmu! Lalu kita pergi dari sini,” ucap Minji pelan.

Eung? Kita bahkan baru mendapatkan pesanan kita. Mengapa buru-buru?” ucap Hyejin dengan nada protes yang kentara.

“Sudah menurut saja.”

Hyejin mengerucutkan bibirnya. Lantas mulai memakan makanannya.

Kris dan Sehun duduk di seberang Minji. Kris mengambil tempat duduk membelakangi Minji, membuat Minji bernapas lega dan bersyukur karena ia tidak perlu merasa gugup akan diintimidasi oleh pria itu.

Minji mengaduk jusnya dengan sedotan sementara matanya diam-diam memandang punggung Kris. Lalu ia mendengar percakapan kedua pria itu, meskipun samar-samar karena Sehun dan Kris seperti sedang berbisik.

“Apa kau sudah berhasil menemukan gadis itu?” tanya Sehun.

“Sudah. Tapi sayangnya aku belum mendapat kepastian tentang perasaannya padaku.”

“Ku pikir kau bisa meluluhkan hati semua gadis.”

“Dia berbeda. Dia seorang yang keras kepala, berambisi kuat dan pekerja keras. Jangan harap ia mau memberikan hatinya semudah itu padaku. Bukannya kau tahu kalau cinta itu tidak bisa dipaksakan?”

“Jadi… kau menyerah? Dan membiarkan kekuatanmu hilang begitu saja?”

Kris memilih diam.

Sehun tampak berpikir sebentar, sebelum ia berdiri dan mencondongkan tubuhnya menyeberangi meja kecil yang memisahkan tempat duduknya dan Kris. Sehun berbisik.

Kris menghela nafas berat. Merasa putus asa.

“Aku tidak yakin, tapi aku akan mencoba.”

“Minji-ya…” panggil Hyejin sembari mengibaskan tangannya di depan wajah Minji. Minji mengerjap cepat seperti baru tersadar dari pengaruh hipnotis.

Ne?

“Aku sudah selesai.”

Hyejin beranjak dari tempat duduknya diikuti oleh Minji. Hyejin baru sadar kalau di belakangnya ada Kris. Hingga tanpa sadar ia histeris.

“KRIS?!”

Hyejin masih ingat betul dengan cerita Minji tadi malam. Ia memang mengagumi ketampanan Kris. Tapi jika temannya diperlakukan secara kurang ajar oleh pria itu, Hyejin tidak akan tinggal diam, meskipun Minji melarangnya untuk melakukan sebuah balas dendam.

“Apa maksudmu mencium Minji, hah?!”

Kantin mendadak sepi. Kemudian tidak lama terdengar bisikan-bisikan menyebalkan dari pada gadis yang berada disana. Semuanya menatap Minji dengan pandangan tidak suka. Seperti mencerca gadis itu bahwa ia sudah menggoda Kris.

Minji membelalakan matanya. Tampak sangat terkejut dengan kalimat dari mulut Hyejin. Hyejin mengangkat tangannya di udara, bersiap akan menampar wajah Kris tapi Sehun lebih dulu menahan tangan gadis itu. Hyejin menatap Sehun dengan matanya yang tajam dan meronta minta dilepaskan.

“Lepaskan aku!”

“Kau sudah membuat kekacauan disini. Ayo kita pergi!” ajak Sehun sembari merapatkan tubuh Hyejin dan merangkulnya erat.

Hyejin masih berusaha keras lepas dari sandera Sehun. Tapi Sehun mendadak menatapnya dan berkata, “Diam atau kau mau ku cium disini. Sekarang.”

Hyejin tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Kemudian Sehun memberikan isyarat pada Kris agar pergi dari sana, dan membawa Minji bersamanya.

Kris mengangguk, lantas beranjak dari tempatnya. Ia menarik pergelangan tangan Minji dan membawanya berlari, jauh dari keramaian. Minji bahkan belum sempat berpikir saat pria itu sudah membawanya ke dalam laboratorium kimia. Kris mengunci pintu.

Sementara Minji mulai gelabakan saat pria itu mendekatinya. Minji sontak memundurkan badannya bermaksud menghindar tapi sayangnya ia terjebak di dinding. Tidak bisa bergerak lagi.

Tatapan Kris terasa berbeda. Tidak ada aura jahat ataupun nafsu membunuh dari pria itu. Tatapannya begitu teduh dan terluka, membuat Minji tanpa sadar menaruh simpati pada pria tampan itu.

“Kau tenang saja. Kali ini aku tidak akan menggunakan sihir apa-apa. Aku hanya ingin bicara denganmu,” ucap Kris sembari mendekati gadis itu. Kris memberikan jarak yang cukup namun tetap berada dalam posisi menghadap gadis itu.

Kris salah besar. Harusnya ia tidak mengintimidasi Minji seperti itu, membuat Minji berpikiran macam-macam saja.

“Bi-bicara saja,” ucap Minji. Gadis itu merasa tenggorokkannya mendadak tercekat.

“Kau harus mendengarkanku dengan teliti karena aku tidak akan mengulanginya.”

Minji otomatis mengangguk.

“Aku mencintaimu.”

“Apa?!”

“Terserah kalau kau menganggapku adalah pria yang mudah jatuh cinta. Tapi kau perlu tahu bahwa aku sudah menaruh hati padamu sejak kau memata-mataiku saat itu. Aku melihatmu. Aku menatap matamu dan menyadari keberadaanmu. Aku butuh jawabanmu sampai malam ini. Aku tunggu kau di atap gedung asrama.”

Minji tidak berkata apa-apa. Kris menatap gadis itu sejenak. Lantas melangkah pergi. Ia rasa semua kalimat yang ia ucapkan sudah sangat jelas. Dan gadis itu tidak bodoh untuk bisa mencerna semua perkataan Kris itu.

***

Kris berdiri di atap gedung sembari menatap langit. Sebentar lagi bulan purnama. Dan Kris pasrah kalau ia memang harus kehilangan kekuatannya. Kekuatan sihir alami yang ia punya sejak lahir.

Pria itu mengabaikan angin malam yang menusuk kulitnya. Wajah Kris yang putih tampak pucat karena dingin, sementara hidungnya mulai memerah. Jubah yang dipakainya tidak cukup melindungi tubuhnya dari serangan dingin.

Kris hanya berharap Minji datang dan memberikan jawabannya. Meskipun akhirnya Minji menolak. Gadis itu sama saja melawan takdir. Dan mereka berdua tidak akan hidup lebih lama lagi.

Kris menatap tato di pergelangan tangannya yang mulai memudar. Sebentar lagi bulan purnama dan jika tato itu sudah hilang sebelum Minji memberikan hatinya pada Kris. Kris benar-benar akan kehilangan kekuatannya.

Pria itu kembali menatap langit. Sudah saatnya. Dan tidak ada tanda-tanda bahwa gadis itu akan datang. Hingga beberapa menit terlewat. Cahaya bulan mulai meredup, menandakan waktu yang diperlukan Kris sudah habis.

Kris menundukkan kepalanya lantas melangkah gontai berniat kembali ke kamarnya.

***

“Kris! Tunggu!” panggil Minji.

“Ada apa? Kau sudah terlambat,” ucap Kris putus asa.

“Aku juga mencintaimu, Kris.”

“Terimakasih, tapi sekarang kalimat itu tidak berpengaruh apa-apa padaku.”

Minji diam-diam tersenyum. Lalu mengajak Kris ke tepi gedung, mengajak Kris memandangi bulan bersama-sama. Kris mengerutkan keningnya bingung. Apa yang Minji lakukan? Kalimat itu menjadi tanda tanya besar di kepala Kris.

“Kris! Kalau aku menggunakan kekuatan sihirku padamu, apa kau akan melawan seperti waktu itu?” tanya Minji lantas menoleh pada Kris.

“Lakukan apa yang suka. Aku sudah tidak punya kekuatan lagi.”

Minji mengeluarkan tongkatnya lantas mengarahkan ke wajah Kris. Kris menatap Minji sesaat, sebelum tersenyum lebar dan mengerlingkan sebelah matanya.

Minji menatap kagum. Ia bisa. Ah, sebenarnya ia tidak terlalu senang dengan keberhasilannya membuat Kris tersenyum konyol seperti itu. Tapi ia tidak percaya bahwa meskipun itu senyum terkonyol tapi Kris tetap membuatnya mendadak kehilangan kewarasan. Sekarang siapa yang gila? Minji jadi sedikit menyesal sudah melakukannya.

Tiba-tiba Kris menjitak kepala Minji.

“Gadis bodoh! Jadi selama ini kau ingin melihat sisi lain dariku?”

“Eoh? Kenapa kau bisa tahu?”

Minji kembali bingung. Padahal ia tidak pernah mengatakan tujuannya melawan Kris. Tapi pria itu sudah tahu? Hebat!

“Aku bisa membaca pikiranmu…” Kris melebarkan matanya. Apa katanya? Ia bisa membaca pikiran Minji? Apa itu berarti kekuatannya tidak hilang? Astaga! Buku itu salah ya?

“Nah! Sekarang siapa yang bodoh??” desak Minji.

“…”

“Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah membaca semua bagian terpenting dari buku itu. Dan aku cukup tahu dengan masalahmu akhir-akhir ini hingga melibatkanku. Aku tersadar sesuatu. Aku pernah bercermin dan menyadari bahwa aku punya tato aneh di bahu kiriku. Lalu membandingkanya dengan milikmu, di pergelangan tangan kanan. Persis sama. Kau tidak akan kehilangan kekuatanmu Kris.”

“Bagaimana bisa? Apakah ada yang salah dengan buku itu. Kau yakin sudah tahu sedetail mungkin isi buku itu?”

“Tidak ada yang salah Kris. Kau hanya tidak tahu bahwa aku sudah mengatakannya sebelum bulan purnama.”

***flashback***

Minji berlari sepanjang koridor asrama yang sepi. Memenuhi panggilan Kris untuk bertemu di atap gedung. Menyusahkan. Kris pikir gedung ini lantainya sedikit? Apa Kris tidak mempertimbangkan kaki Minji yang lebih pendek darinya?

Minji menghentikan langkahnya saat ia sudah sampai di tempat tujuannya. Minji memandangi pria itu dari jauh. Ia tampak tidak bersemangat. Apa separah itu menggantungkan nasib pada orang lain?

Ya, Minji sudah tahu semuanya. Minji akan mengatakan jawabannya. Bukan karena sebuah paksaan. Minji benar-benar akan memberikan hatinya begitu pula hidupnya. Kalau itu juga suatu yang menguntungkan bagi Kris, mengapa tidak? Mereka bisa hidup bahagia seperti dalam dongeng kan?

“Aku mencintaimu, Kris,” lirih Minji.

Tiba-tiba Minji merasa bahu kirinya sangat sakit. Ia nyaris berteriak, tapi tidak ada suara yang dapat keluar dari mulutnya. Ia menurunkan jubahnya sedikit, dan melihat sebuah magis. Tato di bahunya mengeluarkan cahaya. Dan Minji mencari tempat untuk bersandar agar ia bisa menopang tubuhnya sendiri supaya tidak jatuh.

Minji merasakan sakit itu perlahan memudar, bersamaan dengan hilangnya tato itu. Kris tidak tahu bahwa pergelangan tangannya mengalami hal yang sama. Yaitu memancarkan cahaya dan perlahan memudar hingga akhirnya hilang. Tapi bedanya, Kris tidak merasakan sakit apapun.

Minji mengatur nafasnya sebelum memutuskan untuk menemui pria itu.

***end flashback***

“Terimakasih, Minji-ya,”

“Kau tidak perlu berterimakasih padaku Kris. Berterimakasihlah pada Tuhan yang sudah menggariskan takdir kita.”

Di bawah cahaya bulan yang terang. Sepasang kekasih yang sudah terikat benang merah itu saling menatap. Memanfaatkan cahaya bulan yang menerangi sekitar mereka. Membuat mereka berdua dapat melihat dengan jelas bagaimana rupa wajah yang sangat mereka kagumi.

Kris baru tahu bahwa ia bisa merasakan kebahagiaan seperti ini. Seakan ia baru saja dilahirkan ke dalam dunia yang dia inginkan. Dimana hanya ada dia dan kebahagiaannya. Dan gadis itu adalah salah satu alasannya.

Kris merasa sangat beruntung ditakdirkan hidup terikat bersama gadis itu. Dan sekarang keinginannya bertambah lagi, menikahi gadis itu lalu menciptakan keluarga kecil yang bahagia.

Tanpa sadar bibir pria itu terangkat. Senyumnya itu membuat Minji ikut terbawa dalam suasana bahagia Kris.

Minji sudah menemukan pasangan hidupnya. Meskipun umur mereka berdua masih tergolong muda, tapi Minji sudah mempunyai sejuta rencana untuk kehidupannya ke depan bersama Kris. Bersama pria yang telah membuatnya mencintai pria itu dan membuatnya tidak bisa melihat pria lain lagi. Seakan tempat di hatinya sudah terisi penuh hanya dengan sosok pria itu–Kris.

Kris adalah orang yang penuh pertimbangan atas apa yang dilakukannya. Ia memikirkan dengan teliti atas segala konsekuensi yang akan terjadi setelahnya. Termasuk mencium Minji.

Perlahan Kris mendekatkan wajahnya. Entah mengapa kali ini ia merasa sangat gugup padahal sebelumnya ia sudah mencium Minji dengan cara yang mungkin menyebalkan bagi gadis itu.

Minji menatap lurus, jauh ke dalam mata Kris. Melihat sebuah kesungguhan dalam tatapan pria itu, hingga ia yakin sepenuhnya lantas memejamkan matanya.

Kemudian Minji merasakan bibirnya tersentuh lembut. Kris melakukannya dengan sangat hati-hati. Jauh berbeda dengan yang pernah dilakukannya pertama kali pada Minji. Pria itu benar-benar mengungkapkan seluruh perasaan cintanya.

Bibir mereka memagut satu sama lain. Mengeksplor lebih jauh ciuman yang mereka lakukan. Seolah-olah hal itu yang paling mereka inginkan. Seolah-olah dengan cara ini saja mereka bisa merasakan indahnya hidup berpasangan.

Kris melingkarkan tangannya ke pinggang Minji, meminta gadis itu agar mendekat padanya. Sementara Minji mengangkat tangannya, memegang tengkuk belakang Kris. Terkadang gadis itu menaikkan tangannya sedikit untuk menyelipkan jari-jarinya ke dalam rambut Kris.

Dan bulan hanya bisa tersenyum menyaksikan sepasang kekasih yang bahagia itu. Angin malam berhembus lembut menyentuh permukaan kulit mereka. Semuanya seperti terlupakan. Tuhan seakan menciptakan tempat yang khusus, dimana hanya ada mereka berdua.

“Ketika takdir sudah menggariskan hidupku bersamamu, saat itu pula aku seperti menggenggam seluruh isi dunia. Lalu aku hanya memerlukan kau dan udara untuk bernapas. I love you, Choi Minji.”

I love you, Kris.”

FIN

Saya paling antusias jika menulis cerita sudah mencapai bagian akhir, karena dalam tiap kata yang tertulis berasal dari imajinasi kebahagiaan yang saya inginkan. –charismagirl.

25 thoughts on “Magic Love – part 2 of 2 (end)

  1. ka rimaaaa….aku mau jadi minji….aaaaaaa … 😀

    ayo ka, buat tanda dibahu aku biar aku bisa jd takdirnya kris *plak* hehehe

    ffnya sprti biasa ka..ini keren banget.. kalo aku punya bnyak jmpol psti aku acungin buat smua ff krya kaka. aku sllu dpet feelnya, apa kaka pnya kkuatan magic kaya kris juga?? hahaha*abaikan yg tadi*

    udah gtu aja ka, semangat bkin karya yg lain ya ka.. 🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s