My Angel #1 (Remake)

My Angel

vita

Title : My Angel Chapter 1 – New Prince Of Paran SHS

Author : Zalsabeal aka StrawberryFans

Cast : Byun Baekhyun, Shin Jihya

Other Cast : Find by your self ^^

Leght : Chaptered

Genre : School Life, Friendship, romance,comedy.

Rating : G

P.S : Hello… author strawberryfans aka Vita balik lagi. Thanks ya! Yang udah comment di ff sebelumnya. Hmm, ada yang nanya nggak kenapa aku pake akun wp fanfic freelance dan jadiin ffku freelance sementara aku ini author tetap?kalo nggak ada nggak pa2…# nangis dipojokkan.

Kalo ada thankzue! Akun wp Strawberryfans kata sandinya lupa dan aku nggak tahu lagi mau bagaimana. Aku udah minta iinvite ulang dengan akun wpku yang lama tapi beloom diivite#poorme. Jadi, daripada aku nggak publish apapun. Aku gunain akun freelance buat ngepublish FF hehehehehe… Ya, itulah salah satu hal dampak buruk dari pelupa.#jitak diri sendiri.

Okay, thankz untunk membuka,membaca,dan berkomentar juga like bagi yang melakukannya. Semoga amal ibadahnya diterima tuhan… Amin~~. Okay daripada saya banyak bacok lebih baik silahkan baca aja dech. HAPPY READING^^!!!RCL juga yach!

©©©©©

 “Neo!!”

Jihya memekik melihat seseorang yang sekarang berada dihadapannya. Ia menatap orang tersebut dengan mata terbelalak. Sementara, orang tersebut juga menatapnya dengan tatapan kaget yang berganti menjadi seringaian. Jihya, menelan air liurnya. Semua orang yang berada dikelas kini menatapnya dengan pandangan bingung.

“Gwechanayo, Shin Jihya-ssi ?” tanya Lee Seongsaenim yang juga dibuat bingung oleh tingkah Jihya. “Apa kau mengenal namja ini ??” sambung Lee Seongsaenim.

Tersadar dari lamunannya, Jihya lalu menggeleng sebagai jawaban ia tidak mengenal namja yang ada dihadapannya. “Ani, aku tidak mengenal namja ini. Ia hanya hampir mirip dengan seseorang. Tapi, setelah kuperhatikan dia bukanlah orang itu” ucap Jihya berbohong sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.

Sementara itu Lee Seongsaenim hanya mengangguk mengerti. Lee Seongsaenim berbalik menatap namja disampingnya. Ia tersenyum menatap ketampanan namja tersebut. “Perkenalkan dirimu” ucap Lee Seongsaenim lembut.

Namja itu mengangguk dan mengalihkan pandangannya mengitari sudut-sudut kelas sekaligus memandangi siswa-siswa yang sebentar lagi menjadi teman sekelasnya. Pandangannya kemudian berhenti pada seorang yeoja dengan rambut coklat tergerai yang duduk dibangku paling belakang dipojok ruangan dekat jendela. Yeoja yang tak lain adalah Jihya hanya menegang dan membuang muka saat tatapannya bertemu dengan namja tersebut. Namja tersebut menyeringai dan kemudian memperkenalkan dirinya.

“Annyeong Haseyo! Byun Baekhyun imnida bangapseumnida” ucap namja yang tak lain adalah Baekhyun dengan tangan kanan masuk kekantong celana yang memberikan kesan cool. Baekhyun tersenyum yang membuat seluruh yeoja dikelas-minus Jihya dan Minhwa- terklepek-klepek kehabisan napas.

“OMO…” ucap yeoja-yeoja tersebut bersamaan. Bahkan Lee Seongsaenimpun ikut berteriak bersama yeoja-yeoja tersebut.

Baekhyun yang diperlakukan begitu hanya mampu tersenyum kikuk. Yeoja-yeoja yang tadi sempat terpesona akan gaya dan tampang Baekhyun yang cool. Kini, menjadi heboh sendiri. Mereka mulai memuji ketampanan,gaya pakaian, senyum, suara, dan semua yang ada pada Baekhyun.

“Wah, tampannya”

“Dia sangat berkarisma”

“Dia juga tinggi”

“Dia juga keren”

“Lihat gayanya! Dia pasti anak konglomerat”

“Wajahnya juga imut…”

“Apa dia sudah punya pacar?!” ucap seorang yeoja yang tak lain adalah Chaeri. Gadis berkecamata yang duduk tepat dihadapan Jihya dan Minhwa.

Mendengar pertanyaan Chaeri, sontak seluruh yeoja yang ada didalam kelas menoleh kearahnya. Chaeri menggaruk kepalanya yang tak gatal karna dilihat oleh seluruh yeoja dikelasnya. Ia menegak air liurnya, merasa salah karna pertanyaannya sendiri.

“Aku hanya ingin tahu. Dia orang yang sempurna, dan tidak menutup kemungkinan dia sudah punya pacar, bukan?” ucap Chaeri akhirnya sambil menunjuk Baekhyun.

Semua orangpun menoleh kearah Baekhyun dan menatapnya yang membuat Baekhyun menjadi tersudut. Baekhyun berbalik kearah Lee seongsaenim untuk meminta bantuan. Tapi, Lee Seongsaenim juga sedang menatapnya dengan tatapan ‘Benarkah?’. Baekhyun menghela napas dan menatap seluruh siswa dikelas.

“Ani, aku tidak punya pacar” ucap Baekhyun akhirnya, dengan jujur yang membuat semua yeoja dikelas-minus yang telah disebutkan- melongo dan berteriak senang.

“KYAAAA!!”

©©©©©

Suasana riuh dikelas 11-2 semakin menjadi-jadi. Berita bahwa ada seorang anak pindahan yang sangat tampan dan keren membuat yeoja dari berbagai kelas mulai dari kelas 10,11, dan 12 datang kekelas 11-2.

Dan berita tersebut menjadi berita paling buruk untuk Jihya yang merupakan Captain Class, kelas 11-2. Sebagai ketua kelas yang baik, Jihya dituntut untuk menjaga keamanan dan kebersihan kelas 11-2. Dan oleh karena itu dia harus rela melewati jam istirahatnya untuk menutup pintu kelas rapat-rapat karena puluhan manusia yang ingin menerobos masuk untuk melihat tampang pangeran baru di Paran SHS.

“YAK! Cha Dong Woo, Jang Soo Hyun bantu aku untuk menahan pintu ini!” ucap Jihya memanggil teman sekelasnya untuk membantunya menahan pintu yang dibaliknya tengah didorong oleh siswi dari kelas lain. Kedua temannya yang dipanggilpun datang membantunya dan Minhwa untuk menahan pintu kelas mereka.

“Ck ck ck dari mana mereka tahu bahwa dia ada disini” runtuk Minhwa sambil menunjuk Baekhyun yang tengah dikerumuni oleh siswi-siswi kelas 11-2.

“Mollayo” ucap Jihya sambil membalikkan tubuhnya dan menahan pintu dengan punggungnya. “Aku tidak tahu dan tidak mau tahu!” ucap Jihya tak peduli sambil terus mengeluarkan tenaganya karena semakin lama dorongan dari balik pintu kelas mereka semakin besar.

“Ya itu me..mang ti..ti..dak penting. Tapi, cobalah u..untuk menyelesaikan masalah ini!” ucap Dong Woo. Pria kurus dengan sapu tangan kuning yang melilit lehernya, sambil terus menahan pintu tersebut.

“Iya benar” ucap Soo Hyun pria gendut dengan kacamata bulat persis milik Boboho mengiyakan ucapan Dong Woo. “Setidaknya kau harus menyelesaikan masalah ini sebelum tenaga ku habis” ucap Soo Hyun mendramatis sambil memakan krupuk kentang yang ada ditangannya

Jihya tersenyum kecut lalu melirik Soo Hyun. “Yak! Kau kan laki-laki. Pasti punya tenaga banyak, tak seperti aku dan Minhwa” ucap Jihya sambil melirik Minhwa. “Dari tadi kami menahan pintu ini dan tidak makan apapun sejak tadi!” ucap Jihya kesal.

Soo Hyun ingin membalas. Namun, dirinya menjadi menciut saat bertatapan dengan Jihya yang mengerahkan seluruh tenaganya untuk menahan pintu kelas mereka. Soo Hyun menatap keripik kentangnya. Ia menjadi merasa bersalah kepada Jihya. Soo Hyun membuang keripik kentangnya dan kemudian mengerahkan seluruh tenaganya untuk menahan pintu.

“Shin Jihya! Maafkan aku. Aku hanya ingin membantu dan sekarang aku akan membantumu dengan sungguh-sungguh untuk menahan pintu ini” ucap Soo Hyun bersemangat sambil menahan pintu tersbut dengan sekuat tenaga.

Jihya melirik Soo Hyun dan tersenyum karna Soo Hyun kini telah bersungguh-sungguh. “Gomawo. Tapi, ini bukan membantu melainkan menjaga kelas kita” ucap Jihya memperbaiki perkataan Soo Hyun. Jihya melakukan semua ini hanya untuk menjaga kelas mereka dari serbuan wanita bar-bar(?) yang ada diluar.

Melihat semangat Soo Hyun,Jihya kini kembali bersemangat untuk menahan pintu kelas mereka. Namun, sorakan-sorakan diluar pun semakin banyak. Sorak-sorakan tersebut berasal dari siswi-siswi yang berada diluar meneriaki kelas 11-2 untuk membukakan pintunya. Karena mereka ingin masuk.

“YAK! Yang menahan pintu. Enyahlah biarkan kami masuk”

“IYA! KAMI HANYA INGIN MELIHAT ANAK BARU ITU!!”

“SUNBAE-NIM JANGAN MENJADI ORANG JAHAT! KU MOHON BUKALAH PINTU INI… BIARKAN KAMI MASUK!!!”

“YAK! 11-2 CEPAT BUKAKAN PINTUNYA!! INI AKU SUNBAE KALIAN!!”

“BENAR… DAN MANA KETUA KELAS 11-2! MANA DIA!! SURUH DIA KELUAR… DASAR KETUA KELAS TAMAK! ADA PANGERAN TAMPAN DIKELASNYA TIDAK MAU BAGI-BAGI BAHKAN UNTUK MELIHAT MUKANYA SAJA”

“YA! DASAR KETUA KELAS GANJENG”

Jihya menggertakkan giginya. Dia berharap dirinya salah dengar. Tapi, apa yang didengarnya barusan adalah yang sebenarnya. Ia menggenggam kedua tangannya erat. Ia berbalik dan melepaskan dirinya dari daun pintu. Jangan khawatir dengan pintunya jika Jihya tidak ikut menahannya. Karna sekarang, pintu tersebut sudah ditahan oleh seluruh namja dikelasnya- minus Baekhyun dan Kim Rae Wook, rival Jihya-.

Jihya menatap daun pintu itu tajam seakan menatap orang yang mengata-ngatainya. Kesabarannya telah habis sekarang. Dan dia sangat benci dengan seseorang yang tidak pernah melihat keadaan dan berbicara seenaknya. Jihya sangat,sangat,sangat membenci orang seperti itu.

Jihya membuka mulut dan bersiap membalas orang-orang tersebut. Namun, sebuah tangan memegangnya dan membuatnya menoleh kesiempunya tangan yang tak lain adalah Minhwa. Tatapan marah Jihya seketika itu menguap saat melihat keadaan temannya yang bercucuran keringat dan wajah pucat seperti habis lari marathon.

“Ji..Jihya selesaikan masalah ini. Suruh dia keluar menemui mereka” ucap Minhwa lemah,sambil menunjuk Baekhyun.

“Iyya Jihya-ya… aku benar-benar sudah tak kuat” ucap Soo Hyun yang sudah terduduk lemas dilantai.

Jihya menatap seluruh teman yang membantunya dan kemudian Jihya menatap Baekhyun. Apa yang dikatakan Minhwa ada benarnya. Namun, jika Jihya menyuruh Baekhyun keluar menemui siswi-siswi kelas lain yang Jihya tahu sudah berubah jadi monster sekarang karna tidak diberi jalan untuk masuk. Pasti Baekhyun akan langsung diserbu atau dikerumuni.

Dan hal itu yang membuat Jihya khawatir. Bukan khawatir dengan Baekhyun. Tapi, khawatir dengan sekolahnya. Karena, jika terjadi apa-apa dengan Baekhyun diwaktu hari pertama ia masuk sekolah. Nanti, orang tuanya marah dan menuntut sekoalah ini, bagaimana? kan urusannya jadi tambah ribet.

Jihya menundukkan kepalanya dan menatap Minhwa yang terus menahan pintu dengan muka pucatnya. “Aku…” Jihya bergumam namun seseorang langsung memotongnya.

“Aku… kenapa Shin Jihya? kau tidak bisa menyuruh pria itu keluar” ucap Rae Wook memotong perkataan Jihya. Dan menunjuk kearah Baekhyun.

Jihya menoleh dan menatap Rae Wook dengan tatapan jengah. ‘Mau apa lagi namja ini’ batin Jihya.

Rae Wook tersenyum meremehkan. “Wae Jihya? Apa kau tak bisa?” tanya Rae Wook sembari tersenyum mengejek ke Jihya.

Jihya berdecak kesal. Ia paling benci jika Rae Wook memasang senyum mengejeknya seperti itu kepada jihya. Dan senyumnya itu merupakan salah satu alasan dari tiga alasan mengapa Kim Rae Wook menjadi rivalnya. Gadis itu tidak suka dengan Rae Wook karena namja itu selalu ingin menjatuhkan Jihya dimanapun Jihya berada.

“Oh… aku tahu sekarang. Rupanya kau juga telah terpesona dengan ketampanan pangeran baru Paran SHS ya? Oh ternyata apa yang dikatakan oleh Sunbae-nim memang benar” ucap Rae Wook memanas-manasi Jihya.

Jihya menggigit bibirnya kesal. Namun, kekesalannya ia tahan karna ia tidak ingin beradu mulut dengan Rae Wook sekarang, karna ini bukan saat yang tepat. Jihya mensejajarkan tingginya dengan Rae Wook, seakan menantang pria tersebut.

“Jaga ucapanmu Kim Rae Wook-ssi. Karna aku tidak akan segan-segan menyakitimu. Jika, kau-banyak-bicara” ucap Jihya dengan penekanan dikata-kata terakhirnya.

Jihya kemudian melangkah menyenggol pundak Rae Wook yang diam. Gadis itu terus melangkah menuju tempat duduk Baekhyun yang dikelilingi oleh banyak yeoja. Jihya menyingkirkan Yeoja-yeoja yang ada dihadapannya.

BRAKK

Jihya menggebrak meja Baekhyun yang membuat seluruh perhatian beralih kepadanya. Dan karna gebrakkannya tadi, suasana diluar maupun didalam kelas menjadi hening seketika.

“Apa kau puas?” tanya Jihya sambil menatap tajam Baekhyun.

Baekhyun mengerutkan keningnya dan menatap Jihya bingung. Ia kemudian mendesah. ‘Apa lagi,ini’ batin Baekhyun. Ia sudah cukup pusing dengan yeoja disekitarnya. Dan sekarang bertambah satu lagi yeoja yang tidak ada angin, tidak ada hujan datang marah-marah kepadanya.

“Ada apa?” tanya Baekhyun balik menatap Jihya tajam.

Jihya memutarkan bola matanya, kesal. “Apa kau tidak sadar?! Lihat itu!” ucap Jihya sambil menunjuk jendela kelas yang dikerumuni oleh banyak siswi yang manjat untuk melihat Baekhyun. Dan juga pintu yang tengah ditahan oleh teman sekelasnya.

Baekhyun hanya mampu terdiam melihat hal tersebut. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Dan sekarang ia merasa bersalah.

Jihya menatap ekspresi bersalah Baekhyun.”Cih, kau baru sadar rupanya” cibir Jihya.

Baekhyun diam termangu. Ia tidak bisa mengatakan apapun, sekarang. Jihya yang melihat Baekhyun hanya diam, hanya mampu menunduk merasa kasihan.

“Itu bukan salahku. Dan itu bukan mauku” ucap Baekhyun ketus sembari berdiri. Jihya menoleh mendengarkan perkataan Baekhyun.

“Ne?”

Baekhyun tersenyum miring. Ia kemudian mengangkat tangannya dan menunjuk seluruh siswi perempuan yang berada dibalik jendela, yang membuat yeoja tersebut histeris karna bisa melihat Baekhyun.

“Eh, ITU DIAAA!!” pekik seorang yeoja diluar kelas ketika melihat Baekhyun berdiri.

Yeoja lain kemudian mengerubuni jendela. Dan berteriak memuji-muji ketampanan baekhyun. Sementara yang belum melihatnya melakukan aksi saling dorong mendorong agar bisa melihat Baekhyun.

“KYAAAA!!! Tampannya” pekik yeoja diluar kelas.

Jihya menutup telinganya mendengar pekikan tersebut. Ia menatap Baekhyun kesal karna Baekhyun membuat yeoja diluar menjadi histeris.

“YAK! APA KAU PUAS?!” pekik Jihya kesal.

Baekhyun menatapnya dan kemudian mengeluarkan seringaiannya. Ia berjalan mendekati Jihya dan memiringkan wajahnya. “Itu bukan salahku. Dan itu bukan mauku. Mereka sendiri yang berteriak ketika aku tunjuk. Mereka sendiri yang datang dan tanpa aku undang” terang Baekhyun.

Jihya menatap Baekhyun jengkel. Ia menghela napas. Kemudian menatap Baekhyun kesal. “Jika kau sudah tahu tentang itu! Maka, temui mereka. Karna mereka datang kesini, kekelas kita hanya untuk melihatmu. Dan kau seharusnya tahu itu!” geram Jihya sambil menyentuh dada Baekhyun dengan telunjuknya.

Baekhyun menatap tangan Jihya. Kemudian menyentuh jari telunjuk Jihya. Ia melepaskannya dan mendekatkan mukanya ke Jihya yang menyisahkan jarak beberapa centimeter.

Posisi wajah Baekhyun yang sangat dekat dengan wajah Jihya membuat beberapa yeoja diluar mengira mereka sedang berciuman. Hingga membuat semuanya histeris saking kagetnya.

“KYAAA! JIHYA SUNBAENIM MENCIUM PANGERAN” ucap salah satu siswi kelas 10 heboh dan membuat siswi disekitarnya menjadi histeris tidak terima dan berpikir buruk tentang Jihya.

“KYAAAA… ANDWEYO!” teriak siswi diluar berbarengan. Mereka kini memaki-maki Jihya.

“YA! SUNBAE TIDAK BOLEH MELAKUKAN ITU”

“MWOO! DASAR YEOJA GANJENG”

“NE! YEOJA GENIT”

Makian terus tercerca. Membuat jihya sadar dan memundurkan tubuhnya beberapa langkah kebelakang. Ia menatap Baekhyun yang tersenyum seakan menikmati teriakan makian dari luar untuk Jihya. Gadis itu  menjadi geram karna tuduhan siswi-siswi diluar dan Baekhyun yang dengan sengaja menjebaknya.

Sial’ batin Jihya. Jihya berbalik melihat siswi-siswi dijendela yang terus meneriakinya.

“Ani, aku tidak melakukannya! KAMI TIDAK BERCIUMAN” terang Jihya sambil berteriak. Namun, siswi-siswi diluar tidak peduli dan terus memaki Jihya dan menyuruhnya membuka pintu.

“YAK! DIAM KAU YEOJA GENIT. DAN CEPATLAH BUKA PINTU INI”

“IYA, BENAR. SEHARUSNYA KAU MALU DAN TIDAK USAH MEMBELA DIRI’

Jihya menutup kedua telinganya berusaha untuk tidak mendengar makian dari siswi-siswi diluar. Ia berbalik dan menatap tajam Baekhyun yang telah menjebaknya. Gadis itu berdecak kesal saat Baekhyun mengangkat tangannya meminta maaf dengan senyum mengejek.

Jihya berang. Ia mengambil buku yang berada diatas meja disampingnya. “Kubunuh kau Byun Baekhyun” bisik Jihya sembari mengacungkan buku itu keatas.

Jihya bersiap melangkahkan kakinya. Namun, panggilan dari Minhwa mencegahnya dan membuatnya berbalik menoleh ke Minhwa dan temannya yang menahan pintu kelas.

“Jihya-ya” panggil Minhwa lemah. Minhwa menatap Jihya putus asa. “Aku su..su..dah ti…tidak sanggup” ucap Minhwa sambil terus menahan pintu tersebut yang semakin lama mendapatkan dorongan semakin kuat dari balik pintu.

Jihya iba menatap Minhwa. Ia kasihan karna dia tidak mampu melindungi teman sekelasnya dan membuat kelas menjadi nyaman. Gadis itu berbalik menatap Baekhyun dengan tatapan marah, kemudian berbalik menuju Minhwa dan membantu menahan pintu tersbut.

“Tahanlah sebentar lagi. Aku yakin, Seongsaenim tidak akan tinggal diam”

©©©©©

Seorang pria dengan baju olahraga berwarna biru melangkah di koridor sekolah. Dipakaiannya tersemat sebuah papan nama berbentuk persi panjang dengan huruf Hangeul didalamnya yang bertuliskan ‘Park Jung Soo’. Park Jung Soo yang sering dipanggil Park Seongsaenim merupakan guru olahraga Paran SHS untuk kelas 12.

Park Seongsaenim sedang berada di gedung C paran SHS yang merupakan gedung untuk kelas 12. Ia melirik jam tangannya. Park Seongsaenim kemudian mendesah saat mendapati dirinya sudah terlambat 10 menit untuk mengajar.

Park Seongsaenim mempercepat langkahnya yang menyebabkan bunyi gemeletuk sepatu dan lantai yang keras dan membahana diseluruh koridor gedung C. Namun, kemudian Park Seongsaenim berhenti. Pria itu melirik ke jendela kelas dan mendengar dengan seksama menggunakan telinganya.

1 menit

2 menit

3 menit

Hening. Tidak ada bunyi atau suara-suara ribut seperti biasanya ia melewati koridor gedung C Paran SHS. Park Seongsaenim kemudian menegapkan tubuhnya dan memegang dagunya tampak seperti orang berpikir.

Aneh. Kenapa tidak ada suara-suara ribut disini. Disinikan gedung C, gedung kelas 12. Kenapa tidak ada suara ribut sama sekali?apa aku salah masuk gedung?mungkinkah ini gedung A tempat kelas10?’ batin Park Seongsaenim. Ia kemudian melirik kesekitarnya dan mengangguk girang saat dia melihat angka 12-3 disalah satu pintu.

Park Seongsaenim tersenyum. Ia ternyata tidak salah masuk gedung. Namun, Park Seongsaenim kembali bingung. Kenapa gedung C sepi sekali. Apakah ada ujian mendadak dan besar-besaran? Tanya Park Seongsaenim dalam hati.

“Ahh… mungkin itu alasannya. Lagipula, anak-anak memang begitu. Saat dikelas 10 mereka akan menjadi lugu dan menghormati peraturan. Saat, naik kekelas 11 cikal bakal pemberontakan pun sudah ada dan menjadi puncaknya. Tapi, saat naik kekelas 12 mereka akan tobat dan belajar bersungguh-sungguh agar bisa lulus. Dasar anak-anak” ucap Park Seongsaenim sembari tersenyum.

Park Seongsaenim melanjutkan langkahnya dengan pelan. Takut, mengganggu para siswa yang sedang ulangan. Ia kemudian sampai pada kelas dengan tulisan 12-4 diatas pintunya, kelasnya mengajar. Ia berniat memegang gagang pintu. Namun, tangannya tiba-tiba terhenti diudara saat menyadari tidak ada satupun suara ribut didalam.

“Aneh” ucap Park Seongsaenim bingung. Ia kemudian memegang gagang pintu dan membuka pintunya.

“ANNYE—ong” nada bersemangat Park Seongsaenim tiba-tiba terhenti ketika mendapati kelas 12-4 sepi tanpa ada satupun siswa didalamnya. Park Seongsaenim menatap ruang kosong tersebut bingung. Semua tas dan buku-buku siswa masih ada diatas meja. Tapi, orangnya tidak ada.

“Kemana mereka semua? Apa mereka bolos besar-besaran?!” tanya Park Seongsaenim bingung.

Park Seongsaenim kemudian menjatuhkan buku-buku yang dipegangnya dan berlari membuka kelas 12-3 yang berada didekat kelas 12-4. Dan ia terkejut saat mendapati kelas 12-3 ternyata kosong juga tanpa ada penghuninya. Namun, tas dan buku siswa masih ada.

“Kemana mereka, pergi?” tanya Park Seongsaenim dan kembali berlari menuju kelas 12-2 yang berada di lorong yang sama dengan 12-3 dan 12-4. Ia membuka pintu kelas 12-2 dan tersenyum saat mendapati beberapa guru dan siswa laki-laki serta siswa perempuan berkacamat ada didalamnya.

“Oh, Annyeong Park Seongsaenim” ucap seorang guru gendut menyapa Park Seongsaenim.

“Ne, Annyeong Jung Seongsaenim” ucap Park Seongsaenim sembari melangkah masuk kekelas 12-2. Ia menatap tiga orang guru yaitu Jung Seongsaenim, guru wanita gendut yang menyapa Park Seongsaenim. Nam seongsaenim, guru TIK pria satu-satunya di Paran SHS. Serta Baek seogsaenim, guru matematika yang sangat modis dan cantik.

“Oh, ternyata masih ada siswa disini” ucap Park Seongsaenim menatap beberapa siswa laki-laki dan perempuan.

“Kami tidak berminat dengan pangeran tersebut seongsaenim” ucap Seorang yeoja berkacamata. Park Seongsaenim mengangkat alisnya sebelah. Pangeran? Batin Park Seongsaenim.

“Iya benar , Pak” ucap Nam Seongsaenim. Park seongsaenim menatap Nam Seongsaenim bingung.

“Ituloh, pak. Anak baru pindahan dari Paris. Yang tampan dan manis ituloh pak” ucap Jung Seongsaenim centil dan mengelus-elus lengan Park Seongsaenim.

Park Seongsaenim menatap lengannya yang dielus-elus Jung seongsaenim dan mencoba untuk melepaskannya. Namun, Jung Seongsaenim tetap dengan gigihnya mengamit lengan Park Seongsaenim. Park Seongsaenim hanya mampu tersenyum tidak enak kepada Baek Seongsaenim dan Nam Seongsaenim.

“Ehm, lalu kemana perginya siswa-siswi sekarang?” tanya Park Seongsaenim masih sambil mencoba melepaskan diri dari Jung Seongsaenim.

“Para siswa laki-laki kelayapan kekantin atau lapangan olahraga. Sementara, para siswi perempuan pergi melihat siswa baru tersebut dikelas 11-2” ucap Baek Seongsaenim menerangkan. Tiba-tiba handphonenya bordering tanda sebuah pesan masuk.

“Apa wakil kepala sekolah sudah tahu?” tanya Nam Seongsaenim khawatir. Jung Seongsaenim menggeleng.

“Mollayo…”

“Pak Wakil kepala sekolah sudah tahu, dan sekarang sedang menuju ke kelas 11-2!” ucap Baek Seongsaenim menatap seluruh guru dikelas 12-2.

“Baiklah, kalau begitu. Bagaimana kalau kita kesana juga” ajak Park Seongsaenim. Semua guru mengangguk setuju.

“Kajja”

©©©©©

Sorak-sorakan yang berisi makian dan teriakan berupa membuka perintah untuk membuka pintu semakin ramai. Bahkan teriakan tersebut bisa didengar sampai dilapangan sekolah. Seorang pria paruh baya menatap lantai atas gedung B-gedung kelas 11- dengan tatapan dingin.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Pria tersebut kepada seorang pria berbaju putih yang umurnya berkisar 30 tahunan.

Pria tersebut dengan gugup berkata” Be-begini sangjanim. I-itu semua karna be-berita tentang a-da anak ba-ba-ru Sangjanim” ucap pria tersebut terbatah-batah.

“Anak baru?” tanya pria paruh baya tersebut, bingung dan merasa aneh. Mengapa, berita ada anak baru bisa membuat siswa-siswanya sampai tidak belajar seperti sekarang.

“Ne, Sangjanim. Anak baru i-itu terkenal dengan ke tampanannya pak” ucap pria berbaju putih tersebut.

Mendengar kata tampan membuat pria paruh baya yang dipanggil sangjanim berubah menjadi muka datar. Pria tersebut seperti sedang berpikir. Ia kemudian berbalik menatap Pria berbaju putih.

“Bang Seongaenim, sebaiknya kita pergi keatas sekarang” ajak pria tersebut kepada pria berbaju putih.

“Ne, Sangjanim” ucap Bang Seongsaenim.

Meraka berdua kemudian melangkah menaiki tangga menuju lantai dua gedung B, tempat kelas 11-2. Namun, seorang guru yang menyadari kedatangan mereka berdua dan menghadang mereka ditangga.

“Pak wakil kepala sekolah!” panggil guru tersebut kepada pria paruh baya.

“Ahh, Kang Seongsaenim” ucap pria paruh baya yang ternyata wakil kepala sekolah, sembari tersenyum.

“Sangjanim, gawat sangjanim.  Keadaan diatas sangat gawat. Para siswi saling dorong mendorong dan tak sedikit siswi yang pinsang. Para siswi terus memaksa untuk masuk kedalam kelas 11-2. Namun, kelas 11-2 bersih keras tidak membukakan pintu” terang Kang Seongsaenim.

Wakil Kepala Sekolah hanya mampu mengangguk-angguk mendengar perkataan Kang Seongsaenim. “Lalu, apa yang sudah guru-guru lakukan. Apakah sudah ada tindakan? Dan bagaimana dengan siswi yang pinsang?” tanya Wakil Kepala Sekolah bertubi-tubi.

“Ne, pak. Kami sudah mencoba untuk menegur siswa agar berhenti. Namun, siswi-siswi tersebut tidak mengindahkannya. Bahkan, yang lebih parahnya beberapa guru-guru wanita ikut dalam aksi tersebut. Sedangkan untuk siswi yang pinsang sudah diatasi dan dipindahkan kekelas 11-1 yang juga kosong karna tidak belajar, Sangjanim”

Wakil kepala sekolah mendesah. Apa sebegitu tampannya siswa baru tersebut sehingga membuat siswi-siswi dan guru-guru wanitanya menjadi terpesona dan lupa diri? Batin wakil kepala sekolah. Pria tersebut memijat keningnya, pusing.

“Baiklah. Lebih baik kita keatas untuk melihat keadaan dan menghentikan aksi mereka”

“Ne, kajja”

Wakil Kepala Sekolah, Bang Seongsaenim, dan Kang Seongsaenimpun melangkah menaiki tangga. Ketika sampai diatas, Wakil kepala sekolah hanya mampu menggeleng saat lorong gedung tersebut penuh dengan siswi-siswi dan beberapa orang guru wanita yang berteriak ingin masuk dan mendorong pintu kelas 11-2.

Dan wakil kepala sekolah hanya mampu berdecak saat beberapa orang siswa laki-laki mengangkat siswi perempuan yang pinsang dan membawanya masuk ke kelas 11-1. Wakil kepala sekolah menyesali dirinya sendiri karna tidak mampu mnjaga ketertiban dan keamanan sekolah sehingga siswi-siswinya menjadi hilang kendali seperti sekarang.

Bang Seongsaenim menangkap mimic kecewa diwajah Wakil Kepala Sekolah. Dan dia berinisiatif untuk mengumumkan kedatangan Wakil Kepala Sekolah agar peristiwa yang sedang terjadi dapat dihentikan.

“Hentikan! Wakil Kepala Sekolah da-“

BRAKK

©©©©©

 “YAK! 11-2 BUKA PINTUNYA” teriak seseorang dari balik pintu kelas 11-2.

“SHIREO!! KAMI TIDAK MAU! LEBIH BAIK KALIAN PULANG!” pekik Jihya balik. Sekarang, dia sedang beradu mulut dengan siswi dibalik pintu sebagai perwakilan dari kelasnya.

“YEOJA GENIT BUKA PINTUNYA!!!” pekik seseorang dari balik pintu diiringi gedoran-gedoran yang keras.

“DISINI TIDAK ADA YEOJA GENIIIT!!!” pekik Jihya tak kalah besarnya. Dia sebenarnya capek dan marah dikatakan yeoja genit,ganjeng, dsbnya. Dan ia sangat ingin membuang orang-orang yang mengatainya kelaut jika bosa keluar dari kelas mereka.

Jihya semakin menguatkan tenganya untuk menahan pintu tersebut. Gadis itu sebenarnya memang sudah capek dan lapar. Namun, Jihya terus bertahan menahan pintu tersebut seperti ia menahan kemarahannya atas makian dan hinaan yang keluar dari mulut siswi dibalik pintu.

Tiba-tiba sebuah teriakan membuatnya berbalik dan menatap Dong Woo penuh arti seakan mendapatkan pencerahan.

“STOP! Wakil Kepala Sekolah-“

“Kau dengar itu” tanya Dong Woo semangat. Jihya mengangguk.

“Kita terselamat-“

BRAKK

Belum sempat Jihya menyelesaikan ucapannya. Pintu yang ditahannya kurang lebih 30 menit pun terbuka. Gadis itu dan teman-temannya termasuk Minhwa,Dong Woo,Soo Hyun, dan yang lainnya kemudian terpental tak jauh dari pintu kelasnya. Pintu kelasnya mendapatkan dorongan yang sangat kuat diikuti dengan tenaga Jihya dan teman-temannya yang melemah, membuat pintu tersbut terbuka dan membiarkan para siswi yang sudah mendorong diluar masuk menyerbu Baekhyun yang tengah dikerumuni yeoja sebelumnya.

“OPPA!”

“TAMPANNYA”

“IMUT NYA, EH kau mnginjak kakiku”

“Eh, Aku mau lihat! Minggir”

Siswi-siswi tersbut masuk dan saling berlomba-lomba mendekati Baekhyun. Baekhyun yang memang sudah dikerumuni yeoja sebelumnya, kini tengah kesulitan untuk bergerak. Bahkan, yeoja-yeoja tersebut saling dorong-mendorong yang membuat dirinya juga terdorong. Dan juga belum lagi tangan-tangan nakal yang meraba-raba tubuh Baekhyun.

Sementara itu Jihya yang kini telah terduduk dilantai akibat dorongan para siswi hanya mampu mengerang sakit. Ditubuhnya tidak ada luka, namun badan Jihya terasa sangat sakit. Gadis itu melirik Minhwa dan teman-temannya yang lain untuk memastikan keadaan mereka baik-baik saja.

“Gwe..chanayo?” tanya Jihya menatap teman-temannya khawatir. Teman-temannya mengangguk lemah.

“Mianhe…” ucap Jihya merasa bersalah. Minhwa menggeleng.

“Jangan salahkan dirimu. Ini bukan salahmu” hibur Minhwa.

“Tapi…”

“Sudahlah gwechanayo… kami semua baik-baik saja. iyakan, teman-teman” ucap Dong Woo sambil tersenyum. Seluruh anak laki-laki yang ada disitu mengangguk mengiyakan perkataan Dong Woo.

Jihya tersenyum melihat teman-temannya. Walau rencana Jihya gagal, tapi ia masih bersyukur karna teman-temannya masih ada disampingnya dan peduli padanya. Jihya kemudian mengedarkan pandangannya kesekitarnya yang dipenuhi oleh yeoja-yeoja yang saling dorong-mendorong. Ia berbalik kearah tempat duduk Baekhyun, dan tidak bisa melihat dimana posisi Baekhyun karna kerumunan yeoja tersebut.

Jihya menoleh menatap Minhwa bingung. “Lalu sekarang kita harus apa?”tanya Jihya.

Minhwa menggeleng. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Yeoja disini terlalu banyak, mereka tidak mungkin mengusir yeoja-yeoja tersebut.

“Kita tak mungkin mengusir mere..” perkataan Soo Hyun terpotong oleh sebuah bunyi pluit yang nyaring. Seluruh, siswa-siswi yang ada maupun diluar kelas langsung menutup telinga, saking nyaringnya bunyi pluit tersebut.

PRIIIT PRIIIT

Jihya menutup kedua telinganya. Ia menatap Minhwa yang juga tengah menatapnya. Jihya bertanya ada apa. Dan dijawab gelengan oleh Minhwa.

Seseorang yang membunyikan pluit yang tak lain adalah Park Seongsaenim, menghentikan tiupannya pada pluit tersebut. Para siswi yang ada dilorong lantai 2 gedung B menatapnya bingung.

“MINGGIR!!!MINGGIR!!! WAKIL KEPALA SEKOLAH MAU LEWAT!” teriak Park Seongsaenim. Dan serenatak para siswi yang ada dilorong membuka jalan untuk wakil kepala sekolah.

Park Seong saenim berbalik menatap wakil kepala sekolah sambil tersenyum. “Silahkan, Sangjanim” ucap Park Seongsaenim mepersilahkan wakil kepala sekolah untuk melewati jalan yang sudah diberikan. Wakil kepala sekolah hanya tersenyum kemudian melangkah melewati siswi-siswi yang ada dilorong tersebut.

Wakil kepala sekolah berhenti tepat didepan sebuah pintu yang terbuka lebar yang diatasnya terdapat papan persegi pangjang dengan tulisan 11-2. Ia melihat keadaan didalam yang dipenuhi oleh siswi-siswi yang berteriak-teriak sambil dorong-mendorong.

Park Seongsaenim menatap siswi-siswi yang ada didalam kelas. Ia menggerutu kesal melihat kelakuan siswi-siswi tersebut. Park Seongsaenim mengambil pluit yang tergantung dilehernya dan meniup pluit tersebut untuk yang kedua kalinya.

PRIIIT PRIIIT PRIIIIT

Mendengar suara pluit sontak seluruh siswa,guru-guru,maupun wakil kepala sekolah langsung menutup telinga. Park seongsaenim berhenti meniup pluit tersebut sambil tersenyum bangga.

“PERHATIAN!!!” teriak Park Seongsaenim membuat seluruh siswa yang ada didalam maupun diluar beralih menatapnya.

“SEMUANYA DIAM!!! TIDAK ADA SUARA” teriak Park Seongsaenim tegas. Ia kemudia berbalik menatap wakil kepala sekolah yang juga menatapnya.

“Silahkan Sangjanim”

“Ne, baiklah” ucap wakil kepala sekolah sembari berjalan memasuki kelas. Ia menatap semua siswi yang ada dikelas dengan wajah tak menyangka yang membuat seluruh siswi menunduk ditatap seperti itu.

“Apa yang kalian lakukan disini? Dan kenapa kalian menjadi seperti ini? seperti tidak pernah sekolah dan tidak mempunyai pendidikan” ucap wakil kepala sekolah memulai pidatonya.

“Saya pribadi kecewa terhadap kalian semua… Apa ini yang ibu dan bapak guru ajarkan? Ini semua salah. Ini sekolah, bukan konser ataupun fan meeting!” ucap wakil kepala sekolah menatap tajam seluruh siswi yang ada dikelas.

Seluruh siswi hanya mampu menundukkan kepalanya dalam, merasa bersalah. Wakil kepala sekolah mendesah. ia kemudian menyuruh siswa baru yang dianggapnya sebagai biang kerok keluar. “Mana siswa baru tersebut?”

Baekhyun yang merasa dirinya dipanggilpun melangkah maju kedepan. Keringat bercucuran didahinya karna dikerumuni oleh siswi-siswi tadi.

Wakil kepala sekolah menata Baekhyun tajam. Ia sempat terpesona karna Baekhyun memang tampan. Namun, ia tetap menatap Baekhyun tajam dan lebih tajam lagi.

“Jadi, kau yang membuat kehebohan seperti ini?” tanya wakil kepala sekolah. Baekhyun mengangguk.

“Ne, Sangjanim. Tapi, ini bukan kemauan saya” ucap Baekhyun balik menatap wakil kepala sekolah tepat dimatanya.

Wakil kepala sekolah mendesah marah. Baru kali ini ia ditatap seperti itu oleh seorang siswa. Dan siswa itu adalah siswa pindahan. Wakil kepala sekolah murka.

“Kau!! Beraninya… siapa namamu?!”

Baekhyun tersenyum miring menatap wakil kepala sekolah. “Byun Baek Hyun imnida”

 

Seketika itu juga wakil kepala sekolah membuka ditempat. Ia ingin dirinya salah dengar. Namun, matanya tak sengaja menatap nametag Baekhyun yang bertuliskan Byun Baek Hyun.

“Apa kau pindahan dari Paris?” tanya wakil kepala sekolah dengan nada sedikit gugup. Baekhyun dengan senyumnya mengangguk.

“Ne, Sangjanim”

Wakil kepala sekolah memegangi kepalanya yang terasa berat sebelah. Ia kemudian berbalik menatap siswi yang lain. “Siapa yang bertanggung jawab disini?” tanya wakil kepala sekolah dan siswi-siswi yang ditatapnya hanya menggeleng tidak tahu.

“Kalau begitu mana ketua kelasnya?” tanya wakil kepala sekolah. Dan seketika itu yeoja yang ada dihadapan Jihya lalu menyingkir. Jihya yang memang ingin melihat apa yang terjadi  dan merasa gelarnya dipanggil tampak salah tingkah.

“Ne, saya sangjanim” ucap Jihya gugup sembari tersenyum kikuk.

Wakil kepala sekolah menatapnya. “Kau! ketua kelas 11-2?” tanya wakil kepala sekolah. Jihya mengangguk mantap.

“Keruanganku sekarang! Dan smua yang ada disini BUBAR!” ucap wakil kepala sekolah dan dengan segera keluar dari kelas 11-2 dengan wajah pusing dan sedikit shock. Meninggalkan Jihya yang bingung sekaligus shock.

“NE?!”

©©©©©

To Be Continue

Yeiiyyyyyyyyyy akhirnya bisa publish. Hmm… pada bingung nggak kenapa judulnya My Angel chapter 1 remake? Padahal isinya itu seperti lanjutan My Angel Chapter 1?

Kalo ada yang bingung silahkan merapat hahahahahah^^.

Sebenarnya ff ini merupakan lanjutan dari MA chap 1, yaitu ini chap 2nya. Tapi, aku batalin jadi chap 2 soalnya… apa yang aku tulis diatas itu ada sedikit berbeda dan tidak sesuai dari MA chap 1 sebelumnya.

Misalnya Shin Jihya MA sebelumnya duduk dikelas 11-4 kan? Nah, diatas aku tulis 11-2. Kok nggak aku ubah? Karena aku udah capek buat edit. Jadi plis apologize my typo.

Aku juga sempat putar otak untuk menulis ff ini. kenapa? Kan ff ini merupakan ff exo version dari ff my angelku yang castnya shine. Dan disitulah yang bikin aku putar otak. Di my angel shinee version shine memang artis dalam ff itu. Tapi, disini aku ubah. Diff ini, exo bukan artis ya… mereka sendiri-sendiri.

Dan itulah mengapa aku buat ini dengan kata REMAKE. Kan dichap 1 MA yang pernah kupublish baekhyun seperti nyembunyiin identitasnya. tapi, disini tidak.ya…

Jadi, mohon dimengerti. Dan bagaimana Jihya bertemu dengan Baekhyun akan dijelaskan dichap selanjutnya…# heheheheheheheh

Jadi, siapa yang ingin tahu bagaimana Jihya dan Baekhyun bertemu silahkan tongkrongin FF ini dan jangan lupa RCL….

Oh iya, hampir lupa. Zalsabeal dan Strawberry Fans itu Cuma satu orang yah! Yaitu aku…

THANKS DAH BACA!!

KEEP RCL GUYS…

p.s: aku punya standar comment untuk setiap ff yang aku publish. Dan lanjutan ff ini bergantung dicomment kalian. Aku nggak mau ffku banyak yang liat tapi sedikit yang comment. Aku maunya ffku jadi hot post dengan comment yang juga setara. Jadi, jika kalian suka dan udah baca pliss comment jika kalian ingin ff ini lanjut. Dan maaf banget untuk typo,feel nggak dapet, dan segala macemnya. Saya baru belajar… Thankzue©©

21 thoughts on “My Angel #1 (Remake)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s