Paradise Kiss

Title: Paradise Kiss

Author : Bit (@Novita_Milla)

Genre : Romance, School life, A Little Bit Yadong ._.v

Rating : PG 17 almost NC ._.v

Casts : Lee Seolhyun, Baekhyun, Luhan, Sehun, Chanyeol, Nam Jihyun (4Minute)

 

 

Author’s side

Seolhyun terduduk di kursi tunggu salah satu rumah sakit terkenal di Seoul. Kedua tangannya mengepal kuat. Berkali-kali ia menggigit bibir bawahnya dan kedua kakinya bergetar hebat—takut.

Seolhyun menutup matanya dalam-dalam. Sungguh, ia benar-benar menyesal.

“Seolhyun!” Panggil seorang pemuda berseragam SMA. Nafasnya terengah-engah setelah berlari dan kemejanya terlihat berantakan. “Baekhyun bagaimana?”

Seolhyun menoleh pada pemuda ber-name tag Oh Sehun yang masih mengatur napasnya. “D-dia operasi.” Jawab Seolhyun lemah. Pandangan matanya sayu. Gigi-giginya bergetar—takut.

Sehun mengerutkan dahinya lantas duduk di sebelah Seolhyun, meminta kejelasan. Namun ekspresi itu langsung berubah secepat datangnya. Chunji mengela napas beratnya, ia tahu ini akan terjadi.

“Aku mematahkan tangannya.” Ungkap Seolhyun menahan tangis. Seolhyun menutup mulutnya dengan kedua tangannya—meredam tangis yang ia yakini cepat atau lambat akan segera muncul ke permukaan.

“Sudahlah.” Ujar Sehun tanpa menoleh pada Seolhyun yang tertunduk ketakutan. Sehun menatap kosong lurus ke depan.

Ia yakin mimpi buruk akan menjadi kenyataan.

 

***

 

Pagi di Anyang High School diributkan oleh suatu hal yang tak terduga. Koridor Anyang penuh sesak dengan para murid yang entah bagaimana bisa berkumpul memadati ruang panjang yang tak terlalu luas tersebut.

Mereka berbisik, menyindir, mencela, mengumpat, bahkan mengatakan sumpah serapah yang sudah familiar ditelinga milik gadis yang saat ini menjadi pusat perhatian semua pasang mata. Yah untuk seminggu terakhir ini. Gadis itu tertunduk sembari berjalan melewati semua murid yang menatapnya tajam. Beberapa diantaranya memotret figur sang gadis, sebagian lainnya memilih menatap sinis menghina.

Gadis tersebut—Seolhyun, berhenti berjalan tatkala ia sudah sampai di depan pemuda berpakaian rapi di ujung koridor. Pemuda ber-name tag Park Chanyeol menatap Seolhyun datar, tanpa ekspresi.

“Lee Seolhyun?” Tanya Chanyeol menatap wajah Seolhyun yang masih tertunduk. “Gadis macam apa kau ini?”

Seolhyun menggigit bibir bawahnya ketika Sunghyun mendekat. “Hah… Detensi sepulang sekolah!” Ujarnya singkat berlalu meninggalkan tempat.

Banyak murid yang menelan kekecewaan akibatnya. Beberapa langsung meninggalkan tempat—meninggalkan Seolhyun yang berdiri mematung.

“Kau harus mengunjungi Baekhyun nanti. Sebelum orang tuanya datang menghujatmu dan membawanya pergi.” Ujar sebuah suara dari belakang Seolhyun. Tanpa menoleh pun, Seolhyun dapat mengenali pemilik suara itu sebagai teman sekelasnya, Oh Sehun.

“Aku tahu.” Sahut Seolhyun sedikit mengangguk tanpa menoleh ataupun membalikkan badan sekedar menatap Sehun. “Terima kasih, Hun.”

Seolhyun mendengar derap langkah Sehun pergi menjauhinya. Ia menghela nafas dan mengepalkan kedua tangannya erat. Ia tahu, permainan akan segera dimulai.

Seolhyun meninggalkan tempat itu lalu menuju ke ruang kelasnya. Bel berbunyi satu menit lalu setelah Sehun pergi. Ia yakin, Jung seonsaengnim akan menghukumnya. Atau menendangnya keluar dan menyuruhnya menulis karangan indah 10 halaman. Dan, ia harap itu tak akan pernah terjadi dalam hidupnya.

Semenjak kejadian satu minggu lalu, Baekhyun masih dirawat di rumah sakit. Cederanya tak terlalu parah, seharusnya Baekhyun bisa pulang lima hari lalu jika keluarga Byun tak sengotot itu. Oke, Keluarga Byun menghakimi Seolhyun malam itu juga—ketika Seolhyun dan Sehun menunggui Baekhyun yang sedang operasi. Kata-kata pedas keluar dari mulut Nyonya Byun sepanjang malam. Seolhyun masih ingat betul bagaimana Nyonya Byun melimpahkan segala kesalahan padanya. Seolhyun yakin, ia tak akan pernah bisa melupakan kejadian tak beretika itu.

Tanpa sadar Seolhyun sudah sampai di depan kelasnya. Ia tak masuk ataupun mengetuk pintu. Seolhyun hanya menatap dari celah pintu menembus ruang kelas. Benar, Jung seonsaengnim sibuk mendongeng bagaimana Kekaisaran Jepang yang menduduki Korea tahun 1901. Bahkan, Seolhyun sampai hafal diluar kepala.

Seolhyun memutuskan pergi ke perpustakaan. Dengan berbagai pertimbangan, bahwa perpustakaan akan selalu sepi di jam pelajaran seperti ini. Dan benar saja, hanya segelintir mahkluk bernama murid yang berkutat pada buku super tebal sambil menggerakkan tangannya, menulis. Seolhyun memilih untuk membaca buku biografi Sekjen PBB. Seolhyun memutuskan membaca di depan rak daripada duduk di kursi-kursi itu, tentunya ia memang berdiri disana.

“Perpaduan antara analisis yang jelas, kerendahan hati, dan sifat protektif.” Ujar sebuah suara dari samping Seolhyun. Pemuda berkacamata dengan pakaian super rapi menunjuk salah satu kalimat yang tertera dalam buku yang Seolhyun pegang.

“Belut yang licik. Pendekatan Konfusius.” Tanggap Seolhyun setelah tahu arah pembicaraan seorang Xi Luhan, si populer yang digilai banyak kaum hawa.

Chef de Cabinet.” Balas Luhan semakin bersemangat.

“Seorang yang dingin.”

“Sebelumnya bahkan lemah mengatur masalah program pengadaan minyak sayur Irak.”

“Dia berkarisma.”

“Pemegang integritas.”

“Pembatasan emisi gas rumah kaca. Pembunuhan Park Chunghee 1979. Perkembangan senjata pemus—“

Perkataan Seolhyun diinterupsi oleh benda lunak merah jambu yang mendarat tepat di bibirnya. Xi Luhan menekan tengkuk Seolhyun—memperdalam kecupan ringan yang berlangsung lebih lama dari pada dugaannya.

Buku tebal itu seketika jatuh ke lantai dan menimbulkan bunyi gaduh yang cukup keras. Luhan berhasil menyudutkan Seolhyun dan dirinya di ujung balik rak tinggi menjulang. Bersembunyi sambil bermain-main. Luhan yakin, Seolhyun sengaja melakukan itu untuk merusak citranya.

“Kau tak berubah.” Bisik Luhan di dekat telinga Seolhyun. Seolhyun bisa mendengar tarikan napas teratur dari hidung Luhan. “Tapi aku suka itu.”

Seolhyun menyeringai. “Kau yakin?”

Seolhyun sedikit mendorong tubuh Luhan yang masih menempel padanya. Ia risih harus bersembunyi di balik ujung rak buku yang tak terlalu lebar itu. Namun, Luhan tak menurut. Luhan justru memeluk pinggang Seolhyun dan membisikkan kata-kata manis.

“Aku akan merindukan saat-saat seperti ini denganmu.”

Luhan menyibakkan rambut panjang Seolhyun ke belakang. Kepalanya ia letakkan di bahu Seolhyun dan mengendus leher jenjang tersebut. “Kau tuli atau pikun? Jangan macam-macam denganku, Xi!”

“Jangan bergerak!”

 

***

 

Sehun menatap arlojinya gelisah. Jam pulang sekolah sudah lewat satu jam yang lalu dan Seolhyun belum juga kembali. Setelah terlibat adu argumen di otaknya, akhirnya Sehun beranjak dari duduknya. Ia berjalan sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.

“HUN!!”

Sehun menoleh ke belakang. Ia menemukan Seolhyun keluar dari ruang kelas bersama seorang pemuda yang menamai dirinya Happy Virus alias Park Chanyeol. Seolhyun memanggil Sehun sambil melambaikan tangannya ketika Sehun hampir menaiki tangga.

Seolhyun menghampiri Sehun diikuti tatapan sinis dari para murid yang masih tersisa di sekolah. “Pulanglah! Kau pasti tak punya waktu istirahat banyak akhir-akhir ini.”

Sehun menaikkan sebelah alisnya.

“Chanyeol menawariku tumpangan gratis.” Ujarnya seolah mampu menjawab kebingungan Sehun.

“Baiklah.” Sehun mengangguk singkat lalu berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

 

***

 

“Eh?” Seolhyun kaget tatkala ia melihat adegan panas di depannya.

Byun Baekhyun dan Nam Jihyun—gadis cantik primadona Anyang, mereka berciuman mesra di tepi ranjang kamar VIP yang ditempati Baekhyun. Seolhyun tak dapat melihat dengan jelas adegan itu karena pintu kamar hanya terbuka sedikit. Tak ada celah ataupun kaca transparan yang bisa ia jadikan perantara untuk menjawab kebingungannya.

Cukup lama Seolhyun berdiri terpaku di depan pintu. Tak juga beranjak setelah mereka melepaskan ciuman itu. Apalagi setelah Jihyun memutuskan untuk keluar kamar setelah mengatakan sesuatu pada Baekhyun. Seolhyun mati rasa, kakinya seolah membeku. Bahkan kesadarannya belum pulih ketika Jihyun hampir sampai di ambang pintu. Andai saja Chanyeol tak menepuk bahunya dan menarik Seolhyun membalikkan badan menghadapnya, Jihyun pasti akan berpendapat kalau Seolhyun melihat adegan awal sampai akhir.

“Nyonya Byun datang.” Gumam Chanyeol berusaha menarik tangan Seolhyun keluar.

“Tak masalah.” Jawab Seolhyun cepat. Ia menyuruh Chanyeol untuk pergi dari sana dan meninggalkan Seolhyun sendiri di depan pintu kamar rawat inap Byun Baekhyun.

Tak ia sadari Jihyun sudah keluar dari kamar Baekhyun dan menghilang entah kemana. Seolhyun memutuskan mengetuk pintu kamar Baekhyun dan masuk ke dalam.

Baekhyun terlihat membaca buku. Tangan kirinya di gips. Seolhyun bisa melihat Baekhyun yang enggan menatapnya.

“Mau apa datang lagi?” Tanya Baekhyun sinis tak melihat atau menoleh sedikit pun pada Seolhyun. Ia terus saja menyibukkan diri dengan membaca buku berbahasa Inggris tersebut.

Seolhyun berjalan mendekat. Ia meletakkan sebuah plastik berisi sesuatu di atas meja. “Aku bawa ini untukmu.” Seolhyun mengeluarkan isi plastik tersebut dan menyerahkan sebotol minuman yang agaknya harum menyengat.

“Minumlah! Itu ginseng gunung, sangat bagus untuk kesehatan dan pemulihan itu.”

Baekhyun mendengus angkuh. Ia meletakkan bukunya di samping ranjang dan masih mengambil posisi antara duduk dan berbaring.

“Kau memang sudah seharusnya berlaku baik padaku.” Baekhyun pada menoleh Seolhyun dari samping, sesaat setelah Seolhyun duduk di sebuah kursi dekat ranjang. Baekhyun tak menerima atau pun menolak botol itu. “Siapa namamu?”

Seolhyun kembali meletakkan botol itu di meja. “Seolhyun. Lee Seolhyun.”

Seolhyun menundukkan kepalanya sesaat dan berkata, “Aku minta maaf untuk satu minggu yang lalu. Aku tak semestinya melakukan hal bodoh itu. Dan… maaf aku tak mengunjungimu satu minggu ini. Maaf…”

“Ck.. aku pikir kau kabur.” Baekhyun memperhatikan Seolhyun yang masih tertunduk. Ia tersenyum miring. Baekhyun mendekatkan kepalanya pada Seolhyun—mengangkat dagunya. Baekhyun menerawang sesaat. Jantung Seolhyun mendadak berhenti berdetak dan bola matanya hampir keluar dari singgasana masing-masing. “Tak kusangka, dibalik wajah polos ini menyimpan kekejaman hati sang setan.”

Baekhyun menyibakkan rambut panjang Seolhyun ke belakang. “Pasti kerena bentuk leher indah ini.” Ujar Baekhyun diiringi tatapan angkuh mencela.

Baekhyun kembali berbaring di ranjang. Ia terlihat berpikir. Awalnya ia menerawang langit-langit kamar lalu melihat Seolhyun lalu menerawang langit-langit lagi. Begitu seterusnya. “Cederaku memang tak terlalu parah, tapi efeknya berhasil membuatku tak bisa bermain taekwondo lagi. Karenamu.”

“Aku tahu.”

“Kau punya hutang besar padaku.”

“Aku tahu.” Ujar Seolhyun lemah.

Baekhyun menampakkan ekspresi riangnya lalu menyentuh tengkuk Seolhyun. Dan adegan itu kembali terjadi untuk kesekian kalinya.

 

***

 

Baekhyun, Luhan, Sehun, dan Chanyeol berkumpul bersama di tempat mereka biasa mangkal (?). “Kau yakin kita akan berlibur di musim semi ini?” Tanya Chanyeol tidak percaya setelah mereka selesai membahas sesuatu.

“Tentu. Kita akan bersenang-senang.” Jawab Luhan tanpa menoleh pada Chanyeol dan tetap fokus membaca buku. Buku yang dijatuhkan Seolhyun kemarin. Tak seperti yang lain, Luhan asik sendiri membaca buku tebal yang seperti bukan gayanya.

“Hah.. Ada apa denganmu?” Tanya Baekhyun heran.

Luhan hanya tersenyum jahil. Ia memilih melanjutkan acara membacanya ketimbang meladeni pertanyaan ketiga temannya yang pasti tak akan berujung.

“Byun Baekhyun.”

Seorang gadis datang membawa setumpuk buku. Sangat cantik. Lekuk wajah tanpa cela. Suara yang indah didengar. Sangat sopan.

“Ini catatan yang kau minta kemarin.” Ujarnya manis.

“Terima kasih, Jihyun.” Baekhyun tersenyum hangat.

“Jihyun, kau mau ikut acara kami?” Chanyeol menawarkan.

“Acara.. apa?”

“Kami mau ke Jeju. Berlibur dan bekerja.” Chanyeol menjelaskan.

Sehun yang sedari tadi diam dan memilih menulis sesuatu di sebuh kertas beranjak dari duduknya. Ia hendak berjalan keluar sebelum Luhan bertanya, “Kau mau kemana?” Semua pasang mata tentu selalu memandangnya.

“Ke kelas.” Jawab Sehun menoleh pada Luhan singkat lalu meninggalkan tempat ‘khusus’ mereka.

“Ada apa dengan anak itu?” Tanya Luhan setengah tak percaya. Sehun keluar dari tempat itu seperti biasa. Keluar pertama kali dan mengatakan kalau ingin pergi ke kelas, atau Gedung Olahraga, atau ke suatu tempat.

Di antara ke-empat pemuda tampan Anyang High School hanya Sehun yang enggan menampakkan wajah bersama ke tiga temannya. Alasannya, ia tak mau terlalu mencolok. Tapi tetap saja itu tak akan terwujud. Sehun adalah pemuda paling dingin di antara ke empat pemuda populer tersebut.

Sehun tak pernah terbuka. Ia menjaga privasinya. Sama seperti ia menjaga privasi orang lain. Sehun cenderung tidak mau ikut campur dan mempermasalahkan kehidupan pribadi seseorang. Dan itulah daya tariknya. Apalagi, Sehun hidup mandiri.

Chanyeol mengendikkan bahu—tak tahu. “Jadi, bagaimana?”

“Hmm, baiklah. Tak ada ruginya ikut berlibur bersama kalian.” Jawab Jihyun tersenyum senang. Manis.

“Kau sudah sembuh?” Tanya Jihyun kembali ke pokok tujuannya datang ke tempat itu.

Baekhyun mengangguk. “Tak terlalu parah.”

Jihyun menghela napas panjang, “Syukurlah.” Jihyun tersenyum manis. Tanpa tersenyum pun, ia akan selalu terlihat manis.

“Hey, apa kau kemarin bertemu gadis taekwondo?” Tanya Chanyeol teringat sesuatu.

Luhan menghentikan acara membacanya. Untuk pertama kalinya, Luhan terlihat tertarik dengan topik pembicaraan ini. Sepertinya..

“Iya. Kenapa?”

“Tidak. Aku dan dia hanya ingin mengunjungimu.” Ujar Chanyeol sambil bermain-main dengan sebuah origami burung di atas meja. “Aku mengatakan pada gadis itu kalau aku bertemu Ibumu di lobby Rumah Sakit. Kupikir Ibumu akan melanjutkan kekesalannya pada gadis itu. Jadi aku mengajaknya pergi dari sana. Tapi dia menolak dan malah menyuruhku pergi.”

“Jadi, apa yang Ibumu lakukan pada gadis taekwondo itu?”

“Hah? Ibuku ada di Jepang sejak lusa kemarin.”

“Apa?” Chanyeol merutuki dirinya sendiri. Ia memukul kepalanya dan komat-kamit tidak jelas.

Lain Chanyeol lain pula Jihyun. Jadi Baekhyun bertemu dengan gadis itu? Setelah ia pergi?! Batin Jihyun dalam hati. Begitu pun dengan Luhan.

 

***

 

Kelas 12-1 diisi pelajaran Mr. Shim si Guru Killer. Beliau adalah Guru Biologi yang terkenal disiplin dengan kacamata persegi, kumis tebal, dan kerutan wajah bak polisi tidur (?).

“Hari ini Bapak tidak akan memberi kalian materi sistem reproduksi.” Mr. Shim—guru blasteran Korea-Belanda itu berkata sambil membenahi letak kacamatanya. Sunyi. Tak ada riuh tepuk tangan dan keramaian di setiap sudut kelas. Meskipun begitu, dalam hati anak 3-1 pada membatin: ‘YES!!!’ atau ‘HORE!!!!’ secara berlebihan.

“Sebagai gantinya, Bapak memberi tugas kepada kalian. Tugasnya secara berkelompok. 1 kelompok ada 4 orang.” Masih hening. Mr. Shim menyusuri setiap kepala yang terdiam memperhatikan ucapannya. “Kelompok 1: Kwon Boa, Kim Taehee, Park Chanyeol, dan Song Jongki.” /aduh ini kenapa kelompok 1 tetua semua isinya?/ /aduh, ini kenapa kakanda Jongki mampir jadi anak SMA? Duh, kamu itu pantesnya mampir ke hati author, kang..!/ /aduh ini apaan -___-/

“Kelompok 2……” Mr. Shim terus membacakan anggota tiap kelompok kelas paling berotak alian ber-CPU tersebut. “Kelompok 5: Xi Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, dan Lee Seolhyun. Kelom—“

Nah kalo udah sampai disini, suasana kelas jadi riuh. Park Chanyeol yang biasanya satu kelompok dengan ketiga teman klopnya justru satu kelompok dengan para tetua.

Seolhyun hanya mendesah berat. Satu kelompok dengan Luhan dan Baekhyun adalah mimpi buruk.

“Tugas kalian adalah menyelesaikan 40 soal sistem reproduksi ini.” Mr. Shim menunjuk lembaran essay yang telah ia buat sesulit mungkin. “Kalian harus mengumpulkannya besok pukul 12 di meja Bapak.” Mr. Shim meninggalkan kelas setelah membagikan lembara essay pada semua kelompok.

‘Bagus Lee Seolhyun, kau sukses masuk ke kandang serigala.’ Batinnya lesu.

 

***

 

Seolhyun dikelilingi pemuda tajir, berotak, keren, populer, berkharisma, dan digilai semua warga Anyang High School. Mereka berada di dalam apartemen Luhan malam ini. Mereka pikir, mereka bisa mengerjakan semua essay itu di sekolah. Namun kenyataannya lain, walaupun satu orang mengerjakan 10 nomor tapi tetap saja mereka kesulitan. Semua jawaban tak ada dalam buku manapun. Alhasil, mereka harus menggunakan otak mesum masing-masing untuk menjawab satu demi satu pertanyaan super ‘Fantastic Baby’ tersebut.

“Aku sudah selesai. Bagaimana dengan kalian?” Tanya Sehun menutup keheningan diantara mereka.

“Aku sedang mengerjakan soal terakhir.” Jawab Luhan sambil terus menulis. “Ah.. Selesai!”

“Aku sudah selesai.” Sahut Baekhyun terus membaca hasil kerjanya. Ia tak mau ada cela sedikit pun dalam tugas gila bin abnormal ini.

Sehun menoleh pada Seolhyun yang masih mengerjakan soal-soal yang terlalu ‘berat’ untuknya. “Tinggal 2 lagi.” Ujarnya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

Sehun mendekati Seolhyun—berniat membantu. Aneh sekali, mereka mengerjakan tugas di meja makan yang melingkar. Sehun si pangeran melihat beberapa soal dari belakang kursi Seolhyun.

Sehun menelan ludah ketika melihat soal yang belum Seolhyun jawab. Soal yang bisa membuat tubuh semua pria bergetar dalam sekali tatap saja.

Mengetahui hal tersebut, Seolhyun buru-buru berkata sebelum kedua mahkluk di sisi lain meja juga menyahut. “Ah, sepertinya aku harus sedikit mengawur untuk hal ini.” Ujar Seolhyun kikuk.

Pantas saja Seolhyun si jenius belum menyelesaikan semua essaynya. Orang pertanyaannya mengandung unsur WOW semua.

Merasa heran, Baekhyun dan Luhan mendekati Seolhyun. “Pertanyaannya apa? Sini biar kujawab!” Baekhyun dengan percaya diri berlebihan berdiri di belakang Seolhyun dan melihat seberapa WOWnya soal tersebut.

Luhan pun sama. Dia mengambil posisi di samping Baekhyun. Sedetik kemudian, mereka langsung tercengang melihat soal itu.

Ini bukan soal biasa. Ini harus dipraktekkan!

 

TBC? Or? End?

 

a/n: Wakakak /ketawa ningrat dulu/. Gimana readers fanfic-nya? Jelek? Jelek banget ya? Dilanjut kaga nih? ._.

Ini untuk pertama kalinya author memborong fanfic seperempat NC (?). Entah kenapa otak saya yang polos sepolos bibir Sehun dan kalem sekalem ciuman Kakanda Lay ini ternodai u,u n__n

Kalo comment+like-nya banyak sejumlah gigi-giginya Om Sooman, author mungkin bakal mempertimbangkan ngelanjutin fanfic mesum ini (?). Tapi kalo yang comment+like-nya cuma sebutir debu doang, author bakal bilang: Kita putus! (?)

Eh, jangan lupa follow PA twitter author ya! Author orangnya welcome kok =D. Mau follback? Mention aja! =D /numpang promosi waks/ eh, fanfic ini pernah author post di personal wordpress punya author di: http://novitafantasy.wordpress.com/ tapi beda cast. =D

With Love, Bit (@Novita_Milla) n_n

 

59 thoughts on “Paradise Kiss

  1. Reader bru nih thor.. ^_^
    Kenapa htiku dugeun2 saat bca ini? *lebbe*
    It yg d mksud Song Jongki, Jongki d Running Man yye thor? Yg ad d Choco-Pie ntu? /ad iklan lewat -__-/
    Ap tuh yg d praktekkan? Yaoi ye thor..*glekk -_-* /kuatkan sya/
    Daebak lahh pkokny.. Lnjut thor ..

  2. Reader bru nih thor.. ^_^
    Kenapa htiku dugeun2 saat bca ini? *lebbe*
    It yg d mksud Song Jongki, Jongki d Running Man yye thor? Yg ad d Choco-Pie ntu? /ad iklan lewat -__-/
    Daebak lahh pkokny.. Lnjut thor ..

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s