Crimson Love – #8 END

Crimson Love – Chapter 8 [END]

crimson-love-poster

Title : Crimson Love

Author : Last Rebellion

Main Cast :

– Zhang Yi Xing a.k.a Lay (EXO-M),

– Kang Je Hwa a.k.a Jehwa (OC),

– Byun Baek Hyun a.k.a Baekhyun (EXO-K)

Support Cast :

– Kang (Kim) Joon Myun a.k.a Suho (EXO-K)

– Han Yeo Rin a.k.a Yeorin (OC)

– Wu Fan a.k.a Kris (EXO-M)

– Jung Hyun Mi a.k.a Hyunmi (OC)

Length : Chapter

Genre : Romance, Action, Horror, Tragedy, Fantasy

Rating : PG-17

Summary : Jiwa ini memang kehilangan raganya, tapi cinta ini tahu dimana tempat perhentian sesungguhnya. Ketika akhir telah datang, semua akan terbayar sebagaimana mestinya.

Disclaimer : Semua cast punya Tuhan, keluarga, agensi mereka masing-masing, author cuma pinjem nama mereka demi kelancaran imajinasi author dan readerdeul ahahaha~ Kim Joon Myun nya ganti marga sebentar ya ohohoh.

P.S:  Jadi seperti yang author informasikan di chapter sebelumnya, ini RESMI jadi chapter terakhir dari FF Crimson Love karya Last Rebellion, huhuhu..author sedih karena harus berpisah sama Jehwa si bodoh, Lay si hantu, Baekhyun si biadab *plak*, Suho si detektif dan semua cast yang mendukung cerita ini, huweeeeeeeeeee *nangis gejer~

Author usahain bakal bawain karya author yang lainnya setelah ini. Dan author nggak bisa move on dari Lay, so, FF author kebanyakan cast-nya pasti Lay mhihihi. Gapapa deh ya, lagian author jarang banget nemuin FF nya Lay ge, kebanyakan pasti kalo nggak Baekhyun ya Sehun.😀 *plak

Terima kasih yang sebanyak-banyaknya untuk semua reader yang setia membaca Crimson Love sejak chapter awal sampe yang terakhir, author terharu banget ngeliat komen-komen kalian sejak awal sampe terakhir.Jadi jangan lupa juga RCL di chapter ini ne🙂

Untuk sider, gapapa kok nggak ikut nimbrung kayak reader lainnya, tapi semoga kalian mendapat dosa yang setimpal ya *kutuk sider* haha PLAK. Author tetep terima kasih juga buat sider, walau ga komen kan tetep baca juga, dan, Big Honour banget buat Diligent Reader ya, I Love You All~

Sudah..sudah.. mari menyimak chapter akhir ini.

Author’s POV

“Oppa kau tak pernah bercerita padaku jika kau mahir dalam bermain gitar.”Jehwa memanyunkan bibir. Kesal pada Lay karena selama ini hanya ia yang bermain giitar untuknya sedangkan Lay tak pernah menunjukkan permainnan gitarnya.

“Diduniaku mana ada gitar, lagipula bagaimana kau tau aku bisa bermain gitar?” Lay menatap Jehwa ingin tau.

“Aku melihatnya di rekaman yang Baekhyun simpan tadi pagi.Hahaha ternyata waktu kecil kau sangat lucu ya oppa.”Ujarnya cengengesan diikuti Lay yang kini bergantian memanyunkan bibir.

“Sekarang juga lucu kan.” Lay tak ingin kehilangan kesempatan untuk menyombongkan diri dan tentu saja direspon dengan cibiran Jehwa yang menusuk.

“Maunya sih begitu..”Jehwa meledek Lay kali ini.“Oya oppa, apa kau tau bahwa aku memiliki phobia?” Jehwa penasaran dengan pengetahuan Lay tentangnya, ia teringat dengan Baekhyun yang ternyata dengan diam-diam menyelidikinya.

“Iya aku tau..maka dari itu aku tak terlalu khawatir jika kau bersama Baekhyun, kau pasti tak akan menyentuhnya.Aku tau dari buku dimeja belajarmu yang tak sengaja terbuka, ada catatan tentang phobiamu, aku membacanya dan akhirnya tau.” Lay tersenyum menang. Jehwa merengut dan menatap Lay sebal karena ia ternyata juga menyelidikinya.

Ddrrttt…

Ponsel Jehwa berbunyi, ada pesan masuk.Ia melihat nama Baekhyun tercetak dilayar ponselnya. Ia menggeser kunci ponsel dan membaca pesannya.

Jehwa-ah,

Aku telah memutuskan untuk  memberimu kejutan, bukankah kau memintaku untuk bermain piano untukmu? Aku sudah berlatih kilat dan berniat menunjukkannya padamu besok. Jadi bersiap-siap ya, kujemput pukul 10 am didepan rumahmu. Kita pergi bersama.

Jehwa mengucapkannya pada Lay dan ia menyipit curiga.

“Pergi lagi dengan Baekhyun?” tanyanya sinis.Jehwa bisa menangkap ada suara cemburu didalamnya dan itu membuat Jehwa merasa bahagia. Melihat Lay merasa cemburu adalah satu-satunya hal yang mengesankan untuknya, semakin meyakini bahwa sosok itu benar-benar mencintainya.

“Oppa… cintaku hanya untukmu kok, aku tak akan pernah membaginya dengan siapapun.Sungguh.” Jehwa bersungguh-sungguh mengucapkannya didepan Lay. Sedetik berikutnya ponselnya kembali berbunyi, ia melihat layar ponsel itu lagi dan mendapati pesan dari oppanya.

Jehwa-ah, kau baik-baik saja kan terus berdekatan dengan Baekhyun? Aku harap iya.

Sudah beberapa hari ini aku tak pulang kerumah dan menginap dikantor. Bukti-bukti lain telah ditemukan, waktu penangkapan Baekhyun akan segera ditentukan. Bersabarlah, HWAITING ^^

Jehwa tersenyum membaca pesan dari oppa-nya itu.Suho pasti berusaha dengan sangat keras membongkar kasus ini. Rasanya ia sangat bahagia karena bisa berguna bagi orang yang disayanginya, bagi oppa-nya dan juga Lay.

“Suho oppa menyampaikan padaku barusan, bahwa kasus Baekhyun akan segera terbongkar, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk penangkapan.” Jelas Jehwa setelah ia menutup ponsel dan kembali berbincang dengan Lay.

Lay mencelos. Mengingat perkataan Kris Angel, ketika kasusnya terbongkar dan mayatnya ditemukan, ia akan menghilang dari dunia ini dan melanjutkan ke alam berikutnya. Lay terdiam, memikirkan jalan keluar terbaik yang harus ia pilih, kembali antara keegoisannya atau demi orang lain.

Ia terlalu mencintai Jehwa dan ia pun tau bahwa Jehwa begitu mencintainya. Lay sangat bingung harus melakukan apa selanjutnya. Ia terlalu egois hanya untuk memikirkan hatinya sendiri. Tapi bagaimana dengan nasib kasusnya, dengan perusahaan?Dengan harta kakeknya?Dengan hidup Jehwa?Dengan Baekhyun yang bebas?

Semua pertimbangan memenuhi pikiran Lay, membuatnya sangat penat. Kemudian wajahnya mendongak dan melihat Jehwa yang sedang menatapnya lembut.

“Kau ada masalah, oppa?”Jehwa bertanya dari meja belajarnya. Jehwa melihat ada yang tidak beres dan itu tergambar jelas dari wajah Lay.

Lay memandangi Jehwa sejenak, ingin rasanya ia berteriak ‘Aku tak mungkin baik-baik saja Jehwa, ragapun aku tak punya!’. Otaknya dipenuhi dengan kekhawatiran akan kehilangan Jehwa.

“Ingin kunyanyikan sebuah lagu?”Jehwa kini beranjak dari meja belajarnya dan menyambar gitar.Ia terus menatap Lay yang sejak tadi tetap tak menjawab apa yang ditanyakan oleh Jehwa.Raut wajahnya benar-benar berbeda dari sebelumnya.“Jika kau tak menjawab, itu berarti iya.”

Dipangkunya gitar itu dan memetiknya senar demi senar. Seperti biasa, ia melantunkan permainan akustik. Kini Jehwa memilih sebuah lagu dari Kim Ryeowook, One Fine Spring Day, lagu ballad.Ia rasa lagu itu adalah lagu yang tepat dinyanyikan disaat seperti ini.

A warm wind is blowing like it was that night
The flowers you lovingly planted have bloomed
Before I know it spring has come again
I still want to deeply sleep like it’s winter

You are so very far, so very far
To be honest I miss you every day
Even the very small, very small trivial things
make me think of you every day

Your comforting scent fills the room
in the flowers scattered around
Because I’m afraid one day I won’t be able to feel it
I want to take hold of even the air that you were in

A day becomes months
It seems that even in my heart to a new spring has come…

You are in such a far away, far away, far off place
I believe to you every day is spring
On a far off day, a very far off future, if you see me again
Tell me we were always together

Jehwa mengakhiri lagu-nya.Dadanya terasa sesak menyanyikan lagu itu.Ia merasakan hal yang berbeda saat ini. Hatinya terasa sangat sakit mengalami takdir Tuhan yang sangat sulit.Ia mendongak ke arah Lay, dilihatnya sosok itu tengah meneteskan air mata dan beberapa kali sesenggukkan. Ia melihat Lay menangis dan membuat hatinya merasakan sakit yang bertubi-tubi. Tak terasa air matanya ikut turun di kedua pipinya.

Menikmati moment menyedihkan yang sedang mereka rasakan.Menerima dan menjalani takdir menyakitkan.Bagaimana cinta suci ini harus terpisah oleh dunia yang berbeda, bagaimana cinta ini tak bisa bersatu karena perbedaan secara fisik.Keduanya menangisi takdir mereka.

“Oppa..bicaralah, aku ingin mengetahui apa yang ada dipikiranmu, aku sakit melihat semua ini. Aku sakit melihat oppa menunjukkan raut wajah kesakitan itu, oppa berbagilah denganku. Aku ingin tau apa yang oppa rasakan. Apa yang oppa pikirkan, biarkan aku masuk kedalamnya.”Jehwa mengusap air matanya yang terus mengalir, mengatakannya dengan suara yang parau karena tangis.

Lay tetap terdiam, tak bisa berkata-kata atau lebih tepatnya rasa sakit dihatinya terasa semakin menajam, menganga dan tak tersembuhkan.

“Oppa..berjanjilah untuk tidak meninggalkanku, aku ingin oppa selalu ada disampingku. Seperti ini, sekalipun selamanya, aku tak pernah masalah, denganmu aku merasakan bahagia, oppa jebal..” hati Lay tersentak, antara senang karena Jehwa dengan tulus mencintainya tetapi juga sakit karena ia tau yang sebenarnya bahwa ia tak bisa bersama Jehwa seperti apa yang diminta oleh yeoja itu.

“Oppa..berjanjilah.. kenapa aku merasa oppa akan menghilang dari sisiku, katakanlah bahwa oppa akan selalu disisiku dan tak akan pernah meninggalkanku..” Jehwa menangis sejadi-jadinya kali ini.

Lay tak bisa melihat yeoja yang ia sayangi menderita seperti ini. Ia kemudian menatap Jehwa nanar. Terlalu banyak yang ingin ia bicarakan dan fikirkan.

“Jehwa-ah, beri waktu untukku menjernihkan pikiranku, terlalu banyak hal yang sedang aku pikirkan.” Kemudian Lay menghilang dibalik jendela, meninggalkan Jehwa yang masih terus sesenggukkan.

“Oppa…” ratapnya terduduk dilantai didalam kamar.

=======================================

Keesokkan harinya, Lay mendapati Jehwa tertidur diatas ranjangnya. Hatinya telah mantap setelah semalaman ia merenung dan memikirkan jalan keluar yang baik untuk takdir mereka.

Lay akan bercerita pada Jehwa tentang kenyataan bahwa kemungkinannya akan menghilang, ia akan mengatakannya tepat setelah mayatnya ditemukan, saat itu masih ada waktu untuk memberitahunya sebelum acara pemakaman. Pada saat yang sama juga ia akan memberitahu Jehwa bahwa ia sangat mencintainya lebih dari apapun dan meminta Jehwa melanjutkan hidupnya seperti manusia normal lainnya, bahagia dengan orang yang dicintai sepeninggalnya, menikah dan memiliki keturunan yang membuatnya semakin bahagia. Kemudian ia akan pergi dengan tenang kedunia berikutnya.

Seperti itulah rencana Lay untuk mengatasi masalahnya.Ia tak memikirkan keegoisannya kali ini, ia tau, takdir mereka yang ekstrim memang harus segera berakhir dan tak bisa membiarkan Jehwa terus berlarut-larut dengan kesedihannya. Ia tak bisa membiarkan Jehwa terus hidup dengan ke-abnormalan yang ia timbulkan. Lay tak peduli lagi dengan sakit yang juga ia rasakan. Tanpa raga ia tak berarti apa-apa. Ia pasrah dengan seluruh keputusannya.

“Oppa…” panggil Jehwa dari bawah selimut.

“Pagi Jehwa-ah..jam berapa sekarang? Bukankah kau ada janji dengan Baekhyun?Palli ireona!”Jehwa mengernyit, menatap Lay dengan tatapan aneh.“Aku sudah membereskan semua yang mengganggu dipikiranku semalam. Nanti jika waktunya telah tiba, aku pasti akan menceritakannya padamu.” Ucap Lay memandangnya dengan sungguh-sungguh.

“Yaksok?”

“Yaksok.” Janjinya.

Kemudian Jehwa beranjak dari ranjang dan mulai membersihkan diri. Sekarang waktu telah menunjukkan pukul 10 am kurang, Jehwa segera bergegas memasukkan barang bawaannya kedalam tasnya. Lay memperhatikannya dengan saksama.

“Oppa..maukah kau ikut denganku hari ini?” pertanyaan Jehwa mengagetkan Lay. Lay berpikir sejenak, ia tau bahwa ia tak memiliki banyak waktu lagi bersama Jehwa, jadi ia putuskan untuk menuruti permintaan Jehwa.

“Boleh juga..” ujarnya.

“Asiiikkkkk…” Jehwa kegirangan karena akhirnya Lay berkenan untuk ikut dengannya dan bersama Baekhyun.

Terdengar deruman mobil dihalaman rumahnya, pertanda Baekhyun telah tiba.Jehwa cepat-cepat berlari dari kamar dan menghambur keluar rumah.

Ia masuk ke jok penumpang dan mendapati Lay tengah duduk di jok penumpang bagian belakang.

“Sudah siap?” tanya Baekhyun. Jehwa mengangguk singkat.

Mercedes itu kemudian melaju kejalan raya. “Memangnya kita akan kemana oppa?” selidik Jehwa penasaran kemana sebenarnya ia akan dibawa pergi.

“Suatu tempat, nanti kau juga akan tau.” senyum mengembang dipipi Baekhyun.Jehwa kemudian terdiam dan menikmati perjalanan yang entah dimana Jehwa tak tau. Jalanan mulai sepi dan setelah beberapa menit berlalu, terlihat hamparan pantai disekitar barat kota Seoul. Mobil Baekhyun kini memasuki jalan yang semakin dekat dengan pantai. Kemudian Mercedes-nya ia parkirkan didepan sebuah cottage.

“Ini Cottage pribadiku.Hanya aku yang tau tempat.Dan kau adalah orang pertama yang mengetahuinya setelah sebelumnya aku gagal membawa calon tunanganku ketempat ini,” Baekhyun turun dari mobil diikuti oleh Jehwa. “Bersenang-senanglah..”Baekhyun memberitahukannya untuk menikmati suasana yang tercipta ditempat itu.

Jehwa terlihat sangat bahagia dan melihat Lay melayang-layang ditepi pantai, menikmati hembusan angin yang menyeretnya diudara. Jehwa terkekeh melihat tingkah Lay.

Diliriknya Baekhyun yang mulai sibuk melucuti sepatu dan berniat menceburkan kakinya kedalam air pantai. Jehwa pun tak ingin kalah, ia menaruh sepatunya ditepi pantai dan berlari menghampiri Lay yang kini berada jauh dari cottage. Jehwa ingin menikmati waktu itu untuk berdua dengan Lay. Baekhyun ditinggal sendiri oleh Jehwa setelah melihat namja itu tak memiliki minat untuk bermain dengannya.Baekhyun berjemur dibawah terik matahati.

“Oppa…” Jehwa berlarian diatas pasir mengejar sosok lay yang melayang.

“Kenapa kau kesini?Tidak berdua dengannya?” Lay mengernyit heran, memandangi Jehwa yang terlihat lebih tertarik bersamanya ketimbang berdua dengan Baekhyun.

“Biar saja lah..toh dia tak keberatan kutinggal sendiri” Jehwa memanyunkan bibir karena merasa kehadirannya tidak diharapkan oleh Lay.

“Oke..oke..” Lay tersenyum pada Jehwa, senang karena bisa menikmati waktu berdua.

Keduanya kini duduk diatas batu karang tinggi, merasakan ombak yang saling bertalu-talu menabrak karang dibawah mereka.Membuat keduanya menikmati kedamaian yang selama ini absen dari keseharian mereka.

Ada perasaan lega dalam diri Jehwa karena memutuskan untuk mengajak Lay ketempat ini, ia pikir ini adalah keputusan yang tepat. See? Mereka punya waktu berdua menikmati keindahan alam yang semakin mendekatkan hati keduanya.

Sampai tak terasa hari telah berganti menjadi sore, bahkan Jehwa dan Baekhyun tak ingat untuk makan siang.Karena merasa tak enak hati sejak tadi Jehwa meninggalkan Baekhyun sendiri, akhirnya Jehwa duduk disekitarnya sekarang. Menikmati matahari sore yang mulai tenggelam di ujung laut sana.

Jehwa bisa melihat raut wajah Lay yang terlihat begitu bahagia, membandingkannya dengan semalam yang sangat jauh berbeda. Lay duduk disamping kanannya dan tersenyum manis pada Jehwa. Sementara Baekhyun duduk disamping kirinya, menyaksikan matahari tenggelam berpindah ketempat lain disalah satu sisi didunia ini.

“Kau lapar? Aku sudah menyiapkan makan malam.” Tanya Baekhyun memecah kedamaian yang masih tersisa.Jehwa menjawabnya dengan anggukkan kecil.

Keduanya kini berjalan masuk kedalam cottage. Ada kesan berbeda saat melangkahkan kaki pertama kalinya didalam sana. Cottage itu lumayan besar, dengan ruang tamu yang berukuran sedang dan memiliki sofa berukuran kecil.Terdapat beberapa kamar berjejer dibalik ruang tamu, meja makan berbentuk bundar dan ada sebuah piano dipojok ruangan. Ruang santainya tersambung dengan dapur, semakin ke belakang ada toilet dan gudang, sebelah kanan gudang ada garasi mobil dan Jehwa yakin bahwa ia melihat mobil yang terparkir disana adalah mobil yang pernah ia lihat direkaman CCTV yang Suho tayangkan beberapa waktu lalu. Jantungnya berdegup dengan kencang.

“Aku merasakan ada yang aneh disini,” ujar Lay mengamati tempat itu dibelakang Jehwa.Ia setuju dengan Lay, memang benar ada yang aneh dengan rumah ini.

“Bukankah aku mengajakmu pergi hari ini adalah untuk mendengarkan permainan pianoku?”Jehwa menoleh pada Baekhyun yang kini berdiri disamping piano berwarna hitam itu.

Jehwa kemudian terlihat antusias dan kini duduk dikursi yang berdekatan dengan piano.Matanya tertuju pada Baekhyun yang kini mulai mengetes tuts-tuts berwarna hitam dan putih itu.

“Aku sebenarnya masih ragu karena sudah sangat lama aku tidak bermain piano, tapi aku akan mencoba sebisaku, ne?”

“Ne..Oppa, hwaiting!..” Jehwa menyemangati Baekhyun.

Tangannya mulai menekan tuts piano dan alunan musik itu mulai terdengar. Baekhyun memainkan musik klasik yang bisa ditebak oleh Jehwa itu adalah milik Blake yang berjudul Walking in The Air From The Snowman, ia pernah mendengar sebelumnya saat pelajaran musik klasik disekolah. Instrument ini terdengar sangat menyedihkan sekaligus menyeramkan.Membuat Jehwa merinding mendengarnya.Tapi tak dapat dipungkiri bahwa permainan Baekhyun cukup bagus dalam memainkan tuts piano tersebut.

Setelah Baekhyun menyelesaikan beberapa lembar kertas yang terpajang dibagian atas piano, matanya tertuju pada Jehwa yang kini terkesan pada bakat Baekhyun dan bertepuk tangan meriah.

“Oppa aku punya request, mainkan ini untukku..” Jehwa menyodorkan selembar kertas yang berisi not balok yang ia cetak semalam setelah mendapat pesan dari Baekhyun.

“Summer…” Baekhyun menggumamkan judul lagu itu. “Akan kucoba..” ia meletakan kertas itu dipenyangga diatas piano. Tangannya kembali menekan tuts piano dan Jehwa senang karena Baekhyun memainkan permintaanya dengan sangat baik.Membuat keduanya dan Lay terlarut dalam alunan musik yang menenangkan hati.

Jehwa bertepuk riuh setelah Baekhyun menekan tuts terkahir dari lagu yang dibawakannya.Keduanya saling pandang dan Baekhyun mulai beranjak dari duduknya.

“Kajja kita makan…” ujarnya menggiring Jehwa ke meja makan yang telah disediakannya.Jehwa sempat ragu dengan makanan yang disediakan oleh Baekhyun. Tapi setelah Lay memberi tahunya bahwa makanan itu aman, ia membuang seluruh keraguannya dan mulai menyantap makanan yang dihidangkan oleh Baekhyun.

Keduanya menikmati makanan yang tersedia dalam keheningan.

“Jehwa-ah, aku merasa ada yang aneh disini, bisakah kau mengeceknya untukku?Aku tak bisa mengelilingi rumah ini, entah kenapa rasanya aku kehilangan tenaga.” Lay berbisik disela-sela santapan yangs sedang ia lahap.

DEG!

Jehwa kemudian tersadar sesuatu, mengapa Lay merasa kehilangan tenaga.

Mungkinkah raga Lay ada dirumah ini? Jehwa membelalakkan mata, Lay menyadari apa yang terlintas dipikiran Jehwa dan ia terlihat setuju.

“Oppa..toiletnya dimana? Aku ingin ke toilet..” ujarnya memegangi perut sebagai alibi untuk ke toilet.

Baekhyun menyipitkan mata.“Setelah melewati pintu itu, belok kiri saja nanti kau akan menemukannya.”Kemudian Jehwa berlalu dari hadapan Baekhyun dan berjalan kesisi belakang rumah.

Jehwa akan memanfaatkan waktu ini untuk mencari tahu keganjilan yang terasa dirumah ini. Lay yang tak kuat lama-lama berada didalam akhirnya memutuskan untuk keluar dari cottage dan bertahan diluar rumah. Jehwa menyusuri bagian belakang rumah, mencari sesuatu yang ganjil.

Sementara dimeja makan,

Drrttt…

Sebuah pesan masuk diponsel Jehwa yang diletakkan disamping piringnya.Baekhyun melihatnya sesaat, pesannya otomatis terbuka dan Baekhyun mengalihkan pandangannya dari ponsel itu, berfikir bahwa pesan itu adalah hal privasi Jehwa.Tapi kemudian matanya menemukan sesuatu yang tak biasa dipesan itu.Ada namanya.

Baekhyun langsung menyambar ponselnya dan membaca pesan yang tertulis disana.Hatinya mencelos dan matanya sukses membelalak dengan lebar, ketidakpercayaan tergambar dengan jelas diwajah Baekhyun.Dikembalikannya ponsel itu ketempat semula dan meredam segala emosi yang muncul didalam benaknya.

Setelah beberapa waktu berlalu Jehwa kembali dari toilet, wajahnya menunjukkan ekspresi kecewa karena ia tak menemukan apapun di belakang sana. Ia kembali duduk dihadapan Baekhyun dan ia menangkap ada sesuatu yang terjadi saat ia menatap wajah Baekhyun yang kini tak terlihat sama saat ia meninggalkannya.

“Oppa..gwenchanayo?” belum sempat Baekhyun menjawab pertanyaan Jehwa, ponselnya bergetar. Ada panggilan masuk. Dari Suho.

Jehwa langsung menyambar ponselnya dan meminta izin melenyapkan diri dari hadapan Baekhyun.Iamenuju ruangan yang terdapat kamar berjejeran, menjauh dari Baekhyun agar percakapannya dengan Suho tak diketahui olehnya.

“Ne.. oppa, ada apa?” Jehwa mengecilkan suaranya dan mulai berbicara dengan Suho.

“Kau sudah membaca pesan dari oppa?”

“Pesan? Sepertinya belum, lagipula tak ada pesan masuk..” ujarnya menilik layar ponsel dan tak ada pemberitahuan pesan baru.

“Aku tadi mengirimimu pesan. Baiklah akanku sampaikan sekarang saja, timku sudah menemukan semua bukti yang menguatkan Baekhyun sebagai tersangka, surat penangkapan sudah turun dan timku sedang mencari keberadaan Baekhyun. Seluruh bukti yang disembunyikan Baekhyun, diduga ada di rumah yang ia beli dipantai barat Seoul” hati Jehwa mencelos mendengar seluruh berita yang disampaikan Suho, terlebih lagi tempat yang dimaksud oleh Suho adalah tempat yang sedang ia kunjungi saat ini.

“Aku sedang bersama..” kata-kata Jehwa terputus saat Baekhyun merebut ponsel dari belakang punggungnya. Seketika jantung Jehwa berdetak dengan cepat. Wajahnya menatap Baekhyun was-was. Matanya memancarkan kemarahan dan perasaan terhianati.Jehwa mati kutu tak bisa bernafas. Tapi ia mencoba berlagak seolah-olah tak ada keanehan yang terjadi.

“Oppa..apa yang kau lakukan? Aku sedang bicara ditelepon..mengapa kau merebutnya?” Jehwa mengucapkan kata itu dengan sedikit gemetar.Tak bisa dipungkiri kini ketakutan melanda seluruh tubuhnya.

“Mengapa kau melakukan semua ini?”Baekhyun menggeram dan meremas ponselnya dengan keras.Tak memedulikan panggilan masuk yang membuat ponsel itu terus bergetar.

“Melakukan apa? Oppa, tolong kembalikan ponselku..” Jehwa mencoba menutupi segala kebohongan yang sedang ia lontarkan, tapi Baekhyun tak mungkin peduli, ia tau Jehwa hanya sedang berakting.

“Melakukan apa kau bilang? Semua ini Jehwa-ah! SEMUA! SEMUA KULAKUKAN SESUAI APA YANG KAU INGINKAN! TAPI MENGAPA KAU MENJEBAKKU?! AKU TULUS MENCINTAIMU! TAPI APA BALASANMU SEKARANG? KAU MENJEBAKKU DENGAN SEGALA KEBOHONGAN YANG KAU LAKUKAN DENGAN KAKAKMU!” Baekhyun berteriak didepan Jehwa, membuatnya bersandar menabrak tembok dan gemetaran.Baekhyun terus melangkah maju mendekati Jehwa, membuatnya terpojok dan tak bisa berkutik.Dibantingnya ponsel Jehwa dan kini menghampiri Jehwa, merengkuh kedua bahunya dengan kedua tangannya.

“Kenapa Jehwa-ah?KENAPA?”Baekhyun mengoyak tubuh Jehwa, sementara Jehwa semakin tak berdaya karena namja itu memegang tubuhnya.Jehwa benar-benar tak bisa berkutik, tubuhnya terasa lemas tapi Jehwa berusaha sekuat tenaga untuk terus melawan Baekhyun.Ia meronta dan berontak, tapi kekuatannya tak cukup menandingi kemarahan yang terpancar dari Baekhyun.

Lay melayang masuk kedalam rumah dengan susah payah karena tenaganya semakin menipis berlama-lama dirumah itu. Tersentak saat melihat Baekhyun menyakiti Jehwa.

“Oppa..lepaskan…aku…!!!” Jehwa memekik keras, ia mendorong Baekhyun dengan seluruh kekuatan yang masih dimilikinya, meloloskan diri dari sergapan Baekhyun. Baekhyun terjengkang dan melepaskan cengkeramannya dari Jehwa.

Jehwa terseok-seok berlari kedalam rumah.Baekhyun mengejarnya dan menggapai bahunya.Jehwa mengelak, tapi sayang, tenaganya yang semakin melemah tak bisa menjauhkan tubuhnya dari Baekhyun. Baekhyun kembali mencengkeram tubuhnya, Jehwa menggerakkan seluruh tubuhnya, melakukan perlawanan, sampai akhirnya,

PLAKK! Jehwa menamparkan telapak tangannya ke pipi mulus Baekhyun.

Tubuhnya membeku dan menyadari kesalahan yang baru ia perbuat, ia tak mengingat bahwa Baekhyun memiliki penyakit berbahaya dan sesaat itu Jehwa merasa menyesal karena telah menampar Baekhyun.

“Berani-beraninya kau…” Baekhyun menggeram marah, tangannya kemudian melayang keudara dan sukses mendaratkannya diwajah Jehwa, membuatnya tersungkur kelantai dengan sekali serangan.

Jehwa meringis kesakitan.Ia tau semua akan berakhir seperti ini. Didalam hati ia berharap Suho segera datang dan menyelamatkannya dari apa yang bisa Baekhyun lakukan selanjutnya. Jehwa memegangi wajahnya, Baekhyun semakin murka.Diangkatnya tangan berdosa itu dan didaratkan ke wajah Jehwa berkali-kali.Membuat darah mengalir disudut bibir Jehwa.

Lay tak bisa berkutik melihat yeoja yang dicintainya disakiti oleh Baekhyun, ia ingin menyerang Baekhyun tapi bahkan ia sendiri mendadak kehilangan tenaga karena entah apa sebabnya. Ia tergolek lemas diudara, menatap nanar pada Jehwa dan murka pada Baekhyun.

Jehwa dan Lay lemas tak berdaya, Baekhyun terengah-engah setelah menghajar Jehwa. Jehwa mengumpulkan segala kekuatan yang masih ia miliki, ia bangkit dari lantai dan berniat menghajar Baekhyun sebelum akhirnya Baekhyun yang lebih dulu menghajarnya. Ia menyerang Jehwa dan membuatnya terpental sehingga tubuhnya menabrak lemari kaca dan memecahkannya. Pecahan kaca itu menghujani Jehwa, beberapa diantaranya menggores kulit Jehwa membuat darah mengalir dari luka baru itu.

“Seharusnya kau tak melakukan semua ini Kang Jehwa!!Tidak seharusnya kau menghianatiku!”Baekhyun berteriak pada Jehwa.Jehwa hanya meringis sinis.

“Kau pantas untuk dihianati.Setelah apa yang kau lakukan pada saudara dan yeojachingumu.”Jehwa memaksakan suaranya yang tak berdaya keluar dari sela-sela mulutnya yang berdarah.

Baekhyun mencelos, semakin murka karena ia merasa semakin dikhianati.

“Kau…!” Baekhyun menghampirinya dan mengangkat kerah bajunya.Ditamparnya sekali lagi Jehwa yang pasrah. Namun Jehwa tak tinggal diam, kedua tangannya yang bebas ia paksakan untuk menjambak rambut Baekhyun sekuat tenaga, membuatnya rambutnya terasa terlepas dari kulit kepalanya. Tak memedulikan tubuhnya yang kini bergetar semakin hebat akibat sentuhan kulitnya dengan namja itu.Baekhyun mengerang kesakitan dan Jehwa memanfaatkan kesempatan itu untuk menonjok hidungnya dengan sangat keras, membuat darah segar mengucur dari hidungnya.

Baekhyun semakin kesetanan dan kembali menghajar Jehwa, melontarnya hingga ia menabrak lemari yang lain. Dan sialnya lemari itu sedikit goyah karena tertabrak oleh Jehwa, membuatnya terguling dan menimpa tubuh Jehwa yang tak bertenaga.

Jehwa merasa tak kuat lagi dan ingin segera mengakhiri kesakitannya.Ia menatap Baekhyun yang benar-benar biadab dan Lay yang tak berdaya dengan tatapan sendu. Ia berharap mati saja jika harus merasakan kesakitan ini, ia tak tahan dengan semua yang terjadi.

Detik berikutnya ia mendengar ada suara dobrakan pintu dan beberapa orang memasuki ruangan membawa senapan. Jehwa tersenyum lega melihat Suho datang dan kemudian memejamkan matanya sebelum ia mendaratkan pandangan terakhirnya pada Lay yang sama tak berdaya. Kemudian Jehwa tak ingat lagi apa yang ia alami setelah itu.

=======================================

Jehwa membuka matanya perlahan, memfokuskan pandangannya pada tempat yang sedang ia diami, tempat ini tak familiar dimatanya. Ia melihat sekeliling dan mendapati Yeorin duduk dikursi disamping ranjang bangsal rumah sakitnya.

“Jehwa-ah…” Yeorin menyapa Jehwa dan raut khawatir terpatri diwajahnya.“Kau sudah merasa baikkan?”Yeorin mengelus dan menggenggam tangannya.Jehwa mengangguk pelan.

“Dimana eomma dan appa?” suaranya parau karena sudah lama tak digunakan.

“Mereka ada diluar, biar aku panggilkan..”Yeorin kemudian menghambur keluar dan menghampiri orang tuanya.Butuh beberapa saat bagi Yeorin menemukan mereka karena mereka ada dilantai bawah sedangkan Yeorin sendiri berada dilantai tujuh. Sebenarnya pertanyaan itu hanya untuk mengalihkan perhatian Yeorin agar bersedia meninggalkannya, memberikan waktu berdua dengan Lay.

“Oppa…” Jehwa melihat sosok Lay yang berdiri disamping ranjangnya.Ia menggerakkan tubuhnya dan mencoba duduk. Wajahnya dipenuhi rasa kesedihan dan penyesalan.

“Maafkan aku Jehwa-ah, aku membuatmu terluka..” suara kesedihannya tak bisa dipungkiri benar-benar terasa.

“Sudahlah oppa, yang penting kasusmu sudah selesai dan terbongkar.” Hati Lay semakin gelisah, tak tau bagaimana harus mengatakan yang sebenarnya pada Jehwa.

“Jehwa-ah, aku ingin mengatakan sesuatu.Sesungguhnya ini yang menggangguku selama semalaman kemarin.” Lay kini menatap Jehwa intens. Jehwa menajamkan pendengarannya.“Perlu kau ketahui, aku tak akan lama lagi berada didunia ini, mayatku sudah ditemukan, kasusku sudah selesai, tak ada alasan lagi bagiku untuk tetap didunia ini.Waktuku habis dan aku akan pergi kedunia selanjutnya.”Hati Jehwa tersentak kaget mendengar pernyataan ini.

“Oppa… mana bisa seperti itu..”Jehwa memandang Lay tak percaya.Tapi kesungguhan terpancar dikedua mata coklatnya.

“Tentu saja bisa Jehwa-ah, semua ini adalah takdir.Beberapa waktu lalu aku mengetahui kenyataan ini bahwa ketika mayatku nanti telah ditemukan, waktuku untuk berkeliaran didunia telah habis dan aku tak bisa berlama-lama denganmu.”Jehwa menatap Lay, tak mengerti. “Waktuku tersisa sampai pemakaman sebelum akhirnya aku benar-benar lenyap dari dunia ini.”

Jehwa merasakan sesak didada, tubuhnya tak bisa digerakkan.Air matanya tertahan.Mencerna seluruh kata-kata yang diucapkan Lay.

“Aku merasa telah membiarkan semua ini berlangsung menjadi dalam dan aku minta maaf untuk itu.”Suaranya terdengar tenang dan damai.Mencoba menguatkan hatinya sendiri yang merasa lebih hancur dari Jehwa.“Tentu saja aku akan terus mencintaimu, walau didunia yang berbeda.Semua takdir ini, membuatku sadar, sekaranglah waktunya untuk berpisah.Kita berbeda Kang Jehwa.”

Jehwa benar-benar kehabisan kata-kata, semua yang dikatakan Lay memang benar, tapi ia tak ingin semuanya berakhir seperti ini. Jehwa mengangguk mencoba mengerti. Mengait-ngaitkan ingatannya tentang Lay, tentang pertemuan yang mereka dapati secara kebetulan, tentang bagaimana akhirnya mereka saling mencintai.

“Aku harus pergi..” ditatapnya mata coklat itu oleh Jehwa. Menelusuri setiap garis wajah dikulit pucatnya.Mengingat setiap raut wajah yang pernah tergambar disana. Meratapi takdir yang sekali lagi akan benar-benar memisahkan mereka berdua. “Tapi aku ingin meminta sesuatu, kalau boleh.” Katanya.

Jehwa menguatkan hatinya. Menanti apa lagi yang bisa Lay ucapkan. “Apa saja,” Jehwa berjanji, suaranya terdengar lebih kuat sekarang.

Mata mereka bertemu, menyalurkan perasaan cinta mereka untuk terakhir kalinya. “Jangan lakukan sesuatu yang ceroboh dan tolol, belajarlah untuk mencintai orang lain dikehidupan nyatamu, berbahagialah dengan namja yang akan memberimu keturunan dan kau boleh mengingatku, sebatas mengingatku, tak lebih dari itu. Kau mengerti apa maksudku?”Ucapnya.

Jehwa mengangguk tak berdaya. Tubuhnya semakin melemas, ia bisa merasakan tubuhnya sedikit gemetar menahan tangis. Terlalu banyak yang dipikirkan Jehwa.Ia tak bisa berkata-kata. Ia sedikit-sedikit bisa menerima semua keputusan ini, semua takdir ini.

“Selamat tinggal Jehwa-ah,” kata Lay, suaranya terdengar sangat lembut dan penuh perasaan.

Jehwa masih belum sepenuhnya menerima semua kejadian ini.Menurutnya ini terlalu terburu-buru dan tak ingin perpisahan singkat ini segera berakhir.“Tunggu!”Ia mencegat Lay dengan kata-katanya itu. Membuatnya melayang mendekati Jehwa dan menggapainya dengan satu kecupan udara padat didahi.Jehwa memejamkan mata.Merasakan perpisahan yang segera terjadi diantara mereka berdua.

“Jaga dirimu baik-baik, saranghaeyo..” desahnya, rasa dingin menerpa kulit Jehwa. Terasa tiupan angin sekilas menabrak tubuhnya, iamulai membuka mata. Rambutnya sedikit bergetar oleh hembusan angin pelan yang menandai kepergiannya.

Ia sudah pergi.

Dengan tubuh yang semakin gemetar, ia turun dari ranjang. Menjejakkan kakinya yang terasa lunglai, mencari Lay, berharap sosok itu tak benar-benar pergi, berharap sosok itu hanya bercanda dengannya dan tak besungguh-sungguh, hingga akhirnya ia terjatuh dan terduduk dilantai.

Ia sudah pergi. Ia sudah pergi. Ia sudah pergi.

Jehwa terus mengulangi kata-kata itu hingga ia tak kuat lagi menahan tangis. Air matanya tumpah membasahi kedua pipinya dan jatuh ke lantai.Ia meremas dadanya, merasakan sakit yang timbul dengan begitu menyayat. Ia tak percaya cintanya telah pergi. Meninggalkannya.Tangisnya terus menderu, tapi semua itu tak membuat Lay kembali dan berada disisinya.

Pintu bangsal terbuka, memperlihatkan eomma, appa dan Yeorin.Mereka terkejut karena mendapati Jehwa kini tengah terduduk di lantai dan bercucuran airmata.

“Jehwa-ah..kau baik-baik saja?” eommanya memegang pundaknya sementara Yeorin dan appa-nya berlutut didepannya. Jehwa menepis sentuhan mereka semua.

Terus berguman, “Ia sudah pergi.. Ia sudah pergi..” membuat mereka bertiga bingung tak mengerti apa yang Jehwa bicarakan. Tangisnya semakin menguat karena merasa seorang diri merasakan sakit itu.Tak ada yang bisa mengerti Jehwa.Tak ada yang bisa merasakan rasa kehilangan yang Jehwa rasakan.Merasa putus asa karena tak bisa menceritakan deritanya pada orang normal.

Eommanya memeluknya dan Jehwa membenamkan wajahnya kedalam baju eommanya, membasahinya dengan tangisan duka lara. Jehwa merasa sangat menyedihkan.

=======================================

“Sudah waktunya…”

Lay melihat sesi pemakaman jazadnya dan berdiri bersama Kris Angel diatas pemakaman.

Sesaat setelah tubuhnya benar-benar terkubur didalam tanah, ia melayang bersama Kris Angel, menatap dunia yang akan ia tinggalkan dan bergumam “Aku mencintaimu Kang Jehwa, selamat tinggal..”

Keduanya lenyap kedalam langit.

=======================================

Jehwa meletakan rangkaian bunga yang ia bawa kepemakaman Lay keesokan harinya, ia begitu sakit melihat namja yang ia cintai telah terkubur didalam sana dan sosoknya yang tak bisa ia temui lagi.

Matanya sembab karena menangis sepanjang waktu. Setelah berkunjung ke pemakaman, ia memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar trotoar kota.Hatinya telah mati rasa karena terlalu merasakan sakit yang menggores dihati.

Tapi naas, entah karena Jehwa tak mendengar suara klakson yang keras atau karena memang ia sengaja ingin mengakhiri hidupnya, tiba-tiba saja tubuhnya telah tertabrak mobil sehingga membuatnya terpental ke jalan dan membuatnya dilarikan ke rumah sakit.

Ia sempat koma selama seminggu, sampai akhirnya tim medis menyatakan nyawanya tak bisa tertolong karena mengalami pendarahan yang sangat serius. Keluarga Kang berduka.

(Other Place)

Yeorin menggenggam tisunya erat-erat.Tak mempercayai sahabat terbaiknya harus pergi secepat itu.Ia terduduk diruang tengah setelah menghadiri pemakaman Jehwa.

Nafasnya putus-putus karena terus menagis, matanya sembab parah.Ia menatap televisi yang menyala dengan tatapan kosong.

Layar televisi kemudian memberitahukan berita hari ini. Pembawa acara itu menyampaikan berita tentang Suho yang diangkat menjadi Detektif Nasional setelah dua kasus yang ia pecahkan secara bersama-sama, yaitu kasus Byun Baekhyun yang terjadi setahun lalu dan beberapa bulan yang lalu. Byun Baekhyun sendiri akhirnya divonis hukuman mati oleh Jaksa.

Berita ditelevisi kini membacakan kabar yang lain, tentang sopir ugal-ugalan yang telah menabrak seorang yeoja bernama Kang Jehwa telah ditangkap dan menerima hukuman sesuai undang-undang yang berlaku.

“Jehwa-ah….. huaa..huaa…” Yeorin semakin menangis sejadi-jadinya melihat sahabatnya diberitakan ditelevisi dan membuatnya merasa sangat kehilangan.

EPILOG

“Oppa…”

“Jehwa-ah..”

Keduanya kini saling berhadapan, bertanya-tanya apakah mereka bisa bersentuhan satu sama lain mengingat mereka sekarang berada didunia yang sama.

Lay mengulurkan tangannya, Jehwa menyambutnya dengan baik. Dan betapa ia sangat bahagia ketika kulit mereka bisa saling bersentuhan dan tak ada reaksi apapun yang ditimbulkan oleh Jehwa. Ternyata phobia-nya tak berlanjut sampai dunia yang lain.

Keduanya tersenyum bahagia.Kemudian saling mengaitkan tubuh mereka, merasakan kerinduan yang selama ini membentang dikehidupan mereka. Tak mempercayai takdir mereka yang begitu indah, walau berada didunia yang lain, karena mereka tau, cinta mereka akan abadi. Dan tak akan pernah terpisahkan lagi.

“Oppa..saat itu aku belum menjawab ucapanmu, saat perpisahan.” Lay menatapnya dengan penuh tanda tanya dan sayang.

“Nado Saranghaeyo…” ucap Jehwa dan mendekap Lay semakin erat. Lay hanya terkekeh ringan dan membalas dekapan Jehwa semakin dalam.

Takdir yang begitu tak terduga dan indah.

Membuat cinta mereka yang ‘tak mungkin’ menjadi sebuah cinta yang begitu abadi.

==ooOO END OOoo==

END? END? Iya ENNNDDDDD~ waaah akhirnya setelah bekerja dengan sangat keras mengerjakan dua chapter terakhir dalam kurun waktu kurang dari duapuluh empat jam selesai juga ^^

Finale Chapter ini yang paling panjang ya dari Seri Crimson Love.

Readerdeul, jeongmal kamsahamnida ne udah mengikuti Crimson Love sejak awal sampe END😀

Sungguh author seneng banget punya readerdeul yang baik hati udah baca FF author ini, Big Honour (y)

Silahkan yang mau komen dan tanya-tanya😉

Mungkin cukup sekian cuap-cuap dari author, akhir kata, Jeongmal Kamsahamnida, Thank You very much :*

*bow with Lay *cipokin readerdeul satu-satu *tebar menyan *nunggang unicorn-nya Lay *PLAK PLAK PLAK hahaha ^o^/

Song information :

One Fine Spring Day punya Ryeowook SJ, versi akustiknya bisa ditonton di youtube dengan keyword : SS3 DVD One Fine Spring Day.

Summer : intrumen piano dari Joe Hisaishi.

bboing~

39 thoughts on “Crimson Love – #8 END

  1. ceritanya daebak chingguuu… unik banget storynya… keren2…ahh bacon jadi psikopat… aku baru baca ff yg baconnya dibuat psikopat… tapi aku suka banget ceritanya… jadi brasa serem beneran sama karakternya… padahal aslinya bacon unyu banget… heheheheheh mian aku commentnya di part ini aja soalnya baru nemu ff ini jadi skalian bacanya dari part1 ampe end… *deep bow …heheheh keep writing yaaaa.. 😀

    • hallo🙂
      terima kasih banyak ya sudah membaca ^^
      nggak apa kok, udah baca aja aku seneng banget hihihi
      iya baconnya sekali-kali agak garang deh haha
      siiiip! keep fighting😀

  2. aaaaaaaaaaaaaa min DAEBAK keren banget dah kapake boong 2riusdah nggajangaka banget akhirnya bakal kaya gini
    sukses teruss min
    DAEBAK🙂

  3. huaa selesai juga baca nya kyaa keren keren thor, aku juga pengen tapi apa di kata bikin puisi aja dapet 5 apalagi ff >_< huft Lanjutkan ya thorr^^ ku tunggu karya karya mu

  4. huwaa akhirnya selesai juga ceritanya :”
    mianhe cuma bisa coment di chap terakhir doang..huhuhu
    keren banget thor ceritanya! untung ga sad ending😀
    wah gegara baca ff ini aku jadi suka sama lay nih kkkkk~
    figthing terus ya buat karya2 selanjutnya😉

    • iya sudah selese🙂
      iya nggak apa, udah baca aja aku seneng banget😉
      terima kasih buat ngebaca dan pujiannya😀
      aduh aku nggak tega kalo Lay ge nggak aku bikin bahagia haha
      asiiiiikkkkk, Lay ge memang lovable banget kok, makin sayang *cium lay*
      neee fighting!
      jeongmal kamsahamnida for RC😉 *hug

  5. Aaaa keren thor!! sempet nangis. kirain sad ending, tapi ternyata happy ending, yeay~(*o*)~

    oh ya, aku comment di chapter ini aja ya, soalnya aku baca dari chapt 1 – 8 itu hari ini. ngebut langsung wkwk.

    itu ada adegan lay menyantap makanannya? emang bisa? wkwk ” Lay berbisik disela-sela
    santapan yang sedang ia lahap.”

    okey, itu aja ya thor. makasih udah buat ceritanya happy ending^^ sukses buat karyanya yg lain thor. semangat!!

    • terima kasiiihhh ^o^/
      aduh maaf ya udah bikin kamu nangis :p *lempar tissue *telat😀

      waaahh iya iya nggak apa, makasih banyak ya udah rela-relain ngebut bacanya kekeke :*

      mana mana? *check*
      ahhh ternyata typo, maksudku ‘Lay berbisik disela-sela santapan yang sedang Jehwa lahap.’
      gomawo ne udah mengoreksi, sayang kamu ah :3 *peluk sesak cium basah* hahaha

      kamsahamnida udah ngebut baca CL dari awal sampe akhir :*
      sippp! fighting ne ^^
      jeongmal gomawoyo😉

  6. Kirain aku jehwa sama lay bisa satu di dunia nyata, tp tau2nya malah di dunia lain-_-
    Terus, kalo baek dihukum mati dia didunia lain bisa ketemu sama lay&jehwa dong yak-_- terus dia berebutan buat dapetin jehwa hahaha*inikaranganakusendirithor-_-
    Daebakk thorr ffnyaaaa’-‘)b

    • lay kan udah mati, jadi nggak bisa hidup lagi dong ya :3
      baek kan jahat, jadi jalurnya di akhirat berbeda sama Jehwa & Lay LOL
      jehwa udah bahagia sama lay, jadi nggak bisa direbutin lagi kkkk~ *maksa😀
      kamsahamnida ne udah setia dari awal sampe akhir CL ^^
      jeongmal gamsahae ~

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s