GO SARANG! #1

Judul : GO SARANG!(Chap.1 )

Author : Xoxo_baekhun

Main Casts :

  1. Elaine Lee
  2. Park Chanyeol

Supporting Casts :

  1. Jack
  2. Lee’s Family
  3. Park’s Family

Length : Chapters

Genre : Romance, Family, Relationship, Sad (maybe)

Rating : PG-15 (I guess)

Summary :

Apa jadinya jikalau gadis yang sedari lahir tinggal di London harus kembali ke Negara asalnya demi menuruti permintaan kedua orangtuanya? Ditambah kenyataan bahwa Ia sudah memiliki kekasih di kota metropolitan tersebut.

Apa yang akan terjadi pada gadis ini? Akankah Ia berhasil membujuk kedua orangtuanya untuk membatalkan rencana perpindahan mereka? Akankah Ia berhasil mempertahankan hubungannya dengan Sang Kekasih????

LET’S GET STARTED, CHINGUDEUL ^^

London, sebuah kota terkenal di dunia, dengan pertumbuhan ekonomi yang tak perlu diragukan, menjadikannya kota paling populer di Inggris Raya.

Dibawah kepemimpinan Ratu Elizabeth II dan juga Perdana Menteri David Cameron, kota yang identik dengan lambang Telephone merah ini pun terus menerus maju dan berkembang.

Mr. and Mrs. Lee’s House

London-England, United Kindom

December 2012

Malam ini keluarga Lee merayakan malam natal bersama di kediaman mewah mereka di pusat kota London.

Mereka semua duduk bertumpu menghadap patung Bunda Maria yang memang terletak di ruang keluarga asal Korea Selatan ini.

Berdoa, mengucap rasa syukur dan terimakasih atas kesediaan Bunda Maria yang telah memberikan mereka kesehatan, rezeki, serta kebahagiaan di tahun 2012.

“Bapa, Terimakasih karena Engkau telah menyertai kehidupan kami sekeluarga di tahun 2012 ini” Ucap Mr. Lee dengan penuh rasa syukur

“Terimakasih karena Engkau telah mengizinkanku menjadi Ayah yang baik bagi putri-putriku, serta menjadi Suami yang baik bagi istriku” Lanjutnya, dengan mata yang masih terpejam.

Lalu terdiam sejenak.

“Terimakasih Bapa, untuk semua kebaikan-Mu dalam kehidupan kami” Sambungnya lagi

Begitupun dilanjutkan dengan ungkapan Terimakasih Mrs. Lee, serta kedua putri mereka.

The Next Day…

“So, Appa where’s my Christmas Present?” Tanya sesosok gadis belia, yang bisa ditebak umurnya masih sekitar 16 tahun, sesaat setelah ia duduk disebelah Ibunya.

“Aigoo.. Jadi putri kecil Ayah masih mengharapkan hadiah natal?” Ledek Sang Ayah sembari menutup Morning Paper nya.

“Yes. Tentu saja aku masih menunggunya, Ayah.”

“Baiklah, Ayah akan memberikannya sekarang.” Jawab Mr. Lee, lalu tersenyum gigi sebelum bangkit ke kamar tidurnya di sebelah ruang keluarga tempat mereka berbincang.

“Yeaay. Eonni, Kita akan dapat hadiah natal lagi!” Seru gadis belia itu kepada Kakak perempuannya yang baru saja duduk di sofa empuk berwarna merah darah.

“Oh.” Balasnya seadanya, lalu mengambil Morning Paper yang tadi dibaca Ayahnya.

“Ah.. Kau ini tidak seru sekali.” Ucap Adiknya, kesal.

Setelah menunggu kira-kira 10 menit, akhirnya Mr. Lee- pun datang bersama istrinya dengan membawa dua buah amplop putih di tangan kanannya.

“Jadi kalian ingin hadiah natal, bukan?” Tanya Mrs. Lee, lalu tersenyum, kemudian duduk disamping anak bungsunya.

“Ne! Tentu saja” Jawab si Bungsu, riang.

“Baiklah, Ayah akan segera memberitahu berita baik ini” Ucap Mr. Lee yang masih berdiri.

Si Bungsu-pun langsung duduk dengan tegak dan memusatkan seluruh perhatiannya kepada Mr. Lee.Tak terkecuali dengan Sang Kakak, yang sudah lebih dulu memasang pandagannya kearah Sang Ayah.

Rasa penasaran semakin menggerogoti perasaan mereka. Terlebih Sang Kakak, yang terlihat sangat kebingungan menghadapi kelakuan kedua orangtua mereka pagi ini.

Biasanya, Mr. dan Mrs. Lee akan langsung memberikan hadiah natal kepada mereka, tanpa membungkus hadiah tersebut. Hal ini yang sontak membuat keduanya sedikit terkejut, karena kali ini terkesan berbeda dari natal-natal biasanya.

“Baiklah. Kalian sepertinya sudah sangat tidak sabar mendengar kabar bahagia ini. Ayah, langsung saja beritahu mereka.” Ucap Mrs. Lee sambil tersenyum melihat tingkah kedua putrinya.

Mr. Lee-pun menyerahkan masing-masing amplop kearah kedua putrinya. Sang Kakak, yang memang berjarak lebih dekat dengan Mr. Lee, mengambil amplop tersebut 5 detik lebih cepat dari Sang Adik.

Mereka berdua pun saling pandang-memandang sebelum akhirnya memandang kearah Sang Ayah.

“Bukalah. Hadiah terindah kalian ada dalam amplop tersebut.” Ucap Mr. Lee, tak lupa menampilkan senyum karismatiknya.

Mereka pun langsung membuka amplop putih tersebut. Lalu setelah melihat isinya, Kakak-beradik itu langsung saling pandang-memandang dengan wajah penuh tanda tanya.

“Apa ini?” Tanya Sang Kakak menunjukkan tiket pesawat tujuan Seoul, Korea Selatan bertuliskan namanya, Elaine Lee Andrea.

“Tentu saja itu tiket pesawat, El.” Jawab Mrs. Lee sambil tersenyum.

“Apa kita akan berlibur ke Seoul?” Tanya Sang adik, Daniela Lee Carissa.

“Ani.” Jawab Mrs. Lee

“Lalu?” Kini, El, nama panggilan putri sulung Mr. dan Mrs. Lee, bertanya dengan nada penuh ke-ingintahuan.

“Begini. Ayah dan Ibu sudah memutuskan untuk pindah ke tempat dimana kita berasal.” Jawab Mr. Lee, memecahkan segala pertanyaan dalam pikiran putri-putrinya.

“Ne??” Tanya El dan Dan, panggilan adiknya.

“Apa kalian bercanda? Today is not April Mop. Today is Christmas Day, when we are supposed to have fun.” Ucap El menentang keputusan kedua orangtuanya.

“No. We are not kidding at all. We are serious and we are going to Seoul next week!” Ucap Mr. Lee serius setelah melihat pandangan tak suka putri sulungnya itu.

“No! I am not going to Seoul! And I don’t want to live in a place that I have no idea about!” Tolak El tegas dan keras, lalu menatap tajam kearah Mr. Lee, kemudian Mrs. Lee.

“Yes! I agree with El. We both were born here, in England! And I don’t think we have a lot of common with Korean people since we have been living here since we were born” Tambah Dan dengan mata berkaca-kaca.

“What do you mean by you don’t have a lot of common with Korean people? Me and your mom are still Korean. We just lucky because we got an opportunity to live here” Jelas Mr. Lee, tak kalah tegasnya.

Keadaan pun makin panas setelah Daniela menangis keras karena tak terima dengan keputusan kedua orangtuanya.

“You don’t have to worry. We have found a very best accommodation and also education for both of you.” Jelas Mrs. Lee sambil berusaha menenangkan putri bungsunya.

“Even though, I will live in a 5 stars hotel,  I am not going there. That’s my final decision” Ucap Elaine, lalu pergi meninggalkan ruang keluarga.

“El! El! Listen to me! We are still going there! All of us! Four of us! Next week!” Teriak Mr. Lee tak kalah kencang.

Mr. Lee pun meninggalkan Sang Istri dan Anak Bungsunya menuju kamar pribadinya untuk sekedar menenangkan pikiran.

“Eomma, please. I don’t want to live in Korea. I still need London in my future.”

Canteen of Kun Hee Lee’s Department Store

Gangnam, Seoul- South Korea

“Benarkah Presiden Lee akan kembali ke Korea, Sekertaris Jang?” Tanya beberapa pegawai perempuan saat jam makan siang berlangsung.

“Iya, benar. Presiden Lee sudah memutuskan untuk kembali ke Korea” Jawab Sekertaris Jang, pria yang sudah bekerja dengan Presiden Lee selama lebih dari 5 tahun.

Usianya memang masih muda. Ketika umurnya masih 24 tahun, Ia dipercaya untuk menggantikan posisi mantan Sekertaris pribadi Presiden Lee Kun Hee yang sebelumnya memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak karena terlibat hutang perusahaan.

Hal itulah yang menyebabkannya menjadi pusat perhatian pegawai-pegawai wanita di Departement Store nomor satu di Asia.

“Oh, Jinjja? Apakah Presiden juga akan membawa keluarganya?” Tanya Park JaeMin, pegawai yang baru direkrut 6 bulan yang lalu.

“Ya. Itu benar.” Jawab Sekertaris Jang singkat, sambil terus melahap makan siangnya.

“Woah, aku benar-benar penasaran seperti apa rupa putri-putri kaya tersebut. Indah sekali nasib mereka karena dilahirkan di tengah keluarga kaya raya.”

“Benar. Nasib mereka benar-benar seperti yang ada di dongeng.Putri kaya raya, bergelimang harta. Mereka bahkan tak perlu repot-repot mencari pekerjaan di tengah maraknya persaingan.” Kata Pegawai yang lain

“Benar. Aku benar-benar iri.” Ucap Min SaeKyung sembari membuang napas panjang.

“Benar-benar indah.”

“Oh ya, Sekertaris Jang, kapan kira-kira Presiden Lee dan keluarganya akan tiba di Korea?” Tanya Asisten Deputy Kun Hee Lee’s Department Store.

“Aku belum bisa memberikan kepastiannya, karena sepertinya Presiden Lee akan menunda kepulangannya akibat dari adanya beberapa masalah di Inggris.”

“Ada masalah apa, Sekertaris Jang?” Tanya Park JaeMin, penasaran.

“Sudahlah. Cepat selesaikan makan siang kalian. 15 menit lagi kalian sudah harus siap di pekerjaan kalian.” Ucap Sekertaris Jang tegas.

“Pelit sekali.” Ucap beberapa pegawai wanita berbisik-bisik.

The London Eye

2013 New Year Event

Apakah ada cara lain yang lebih baik untuk menikmati kota London dari atas bianglala setinggi 135 meter yang terletak di tepi sungai Thames?

London Eye, tempat wisata di kota London menjadi salah satu bangunan ciri khas London yang paling terkenal. Saat ini, wahana permainan tersebut menjadi bianglala tertinggi ketiga di dunia.

El memutuskan untuk tidak pulang ke rumah semenjak insiden di hari natal kemarin.Ia pun memutuskan untuk tinggal di apartment kekasihnya. Berhubung kekasihnya itu juga telah memutuskan untuk tinggal sendiri tepat sehari setelah ulang tahunnya yang ke 18, 2 tahun lalu.

“How ridiculous it was. My last Christmas was so terrible.” Curhat El kepada Sang Kekasih, Jack setelah duduk di bianglala.

“Come on, you can cry now.” Ucap Jack lembut, lalu mengelus rambut panjang Sang Pujaan Hati yang selama 3 tahun silam sudah mengisi hari-harinya.

“I don’t need to cry. I am okay, really.”

El pun menatap Jack lalu tersenyum, kemudian Ia menyenderkan kepalanya ke pundak tegap Jack.

“You can’t hide it. I can see from your eyes, you are not okay at all.” Ucap Jack dengan accent inggrisnya yang kental.Orang-orang bahkan bisa menebak Jack sebagai seorang pria Inggris konglomerat hanya dengan mendengar suaranya saja.Ya, untungnya, itulah kenyataannya.

Jack James Colin adalah anak tunggal dari keluarga kaya di Inggris. Ayahnya merupakan bos stasiun televisi swasta yang terkenal di inggris, sementara Ibunya merupakan mantan presenter berita yang sekarang membantu Sang Ayah bekerja di perusahaan.

“You are lucky you know” Ucap Elaine tiba-tiba, tanpa mengubah posisinya.

“What makes me luckier than you?” Tanya Jack bingung.

Elaine pun tersenyum dibalik pundak Jack, lalu Ia membenarkan posisi duduknya, kemudian menatap mata biru Jack.

“Why? What’s wrong?” Tanya Jack bingung

“Nothing’s wrong. I mean, your parents are from London and you were born here, and also have been living here since you were born.”

“It doesn’t mean I am luckier than you, El.” Ucap Jack pelan, lalu kedua tangannya memegang wajah El.

Mereka berdua berpandang-pandangan cukup lama, hingga akhirnya Jack mendekatkan wajahnya ke wajah Elaine dan menempelkan bibirnya sempurna di bibir merah muda kekasihnya.Dalam diam dan ketenangan, mereka berciuman cukup lama, namun tetap lembut.Jack mencoba membuat El merasa senyaman mungkin, dan melupakan sejenak masalah yang sedang dihadapinya.

“I hope we can be together forever.” Ucap El, sesaat setelah Ia melepaskan ciuman Sang Kekasih.

“Me too.”

St. Etheldreda’s

Holborn Circus, London – United Kingdom

Friday, January 4th, 2013

Di jumat pagi yang cerah ini, Daniela mengajak Sang Kakak bertemu di sebuah Gereja Katholik yang biasa mereka kunjungi diakhir pekan.

“Ada apa kau mengajakku bertemu di Gereja?” Tanya El kepada Sang Adik, setelah ia duduk di kursi depan jamaah.

Meskipun hari ini tidak ada kebaktian agama Katholik di Gereja, mereka tetap bisa masuk karena Sang Penjaga Gereja pun sudah mengenal sosok keduanya yang sedari kecil sudah datang ke Gereja tua ini.

Ya, Elaine dan Daniela memang dibesarkan dibawah keluarga katholik yang sangat menjunjung nilai-nilai ajaran agama Katholik dalam kehidupannya.

“Bisakah kau pulang?” Tanya Daniela langsung.

“TIdak bisa. Aku tidak akan pulang sampai Ayah dan Ibu berhenti memaksaku untuk ikut mereka pindah ke Seoul.” Jawab El tanpa membalikkan wajahnya dari altar Bunda Maria.

“Aku tahu ini tidaklah mudah. Aku juga tak mau meninggalkan mimpiku untuk menjadi designer ternama di Inggris.” Ucap Dan sedih.

“Lantas mengapa kau berbalik arah membela Ayah dan Ibu? Kau rela cita-citamu kandas begitu saja?”

“Entahlah. Tapi kurasa, akan jauh lebih baik jika kali ini kita menjadi anak yang berbakti terhadap orangtua.” Ucap Dan, lalu mengambil sebuah kertas dari tas biru lautnya.

El pun melihat sekilas kertas tersebut, sebelum akhirnya adiknya memberikan kertas tersebut kepada El.

“Apa ini? Kau ingin memberikanku tiket pesawat yang baru? Kau tahu, aku takkan mau pindah.” Ucap El, setelah Dan memberikannya kertas putih yang masih rapih.

“Bukalah.”

El pun menerima kertas dari tangan Dan, kemudian ia membacanya sungguh-sungguh, kemudian melihat wajah Dan.

“Kau berhasil membujuk keduanya?” Tanya El dengan nada terdengar ketus.

“Kenapa? Kau iri?” Tanya Dan, lalu menatap Kakaknya dengan pandangan seolah merendahkan.

“Jadi ini alasanmu mengajakku bertemu di Gereja? Di depan patung Bunda Maria, kau memamerkan keberhasilanmu membujuk Ayah dan Ibu untuk memasukkanmu ke sekolah Design?” Tanya El, dengan nada tegas sekaligus tak suka.

“Aku tak bermaksud memamerkannya.” Jawab Dan, sambil memandang mata Sang Kakak.

“Kau harus tahu bagaimana pengorbanan mereka agar kita semua bisa kembali ke Korea, tempat dimana mereka dilahirkan. Bahkan mereka mengijinkanku untuk masuk sekolah Design jika aku mau ikut mereka pindah ke Korea.” Jelas Dan, dengan mata berkaca-kaca.

“Bahkan Ayah, yang selama ini hanya mengijinkan kita untuk masuk sekolah Bisnis, tiba-tiba mengijinkanku untuk masuk sekolah Design. Bisakah kau mengerti betapa berat dan besar pengorbanan yang telah ia lakukan?” Sambung Daniela yang sudah mulai terisak.

Elaine pun tak menggubris ucapan Sang Adik. Ia masih belum dapat berpikir jernih dengan situasi yang tak pernah ia sangka sebelumnya.

Ia pun memutuskan untuk berdiri dan meninggalkan Sang Adik yang masih menangis disampingnya.

“El!” Panggil Daniela keras setelah Elaine hampir sampai di pintu keluar Gereja.

Yang dipanggilpun diam, tetapi tidak memutarkan badannya.

“Aku yakin, kau masih bisa meraih mimpimu menjadi seorang musisi jika kau mau ikut Ayah dan Ibu ke Korea.”

Elaine pun menarik napas dalam-dalam menahan isak tangisnya. Menahan perasaan iri atau kesal, karena Adiknya dapat dengan mudah memilih sendiri jurusan apa yang akan ia pilih setelah lulus SMA.

Ia merapatkan coat hijau nya, kemudian, tanpa berbalik mengucapkan salam perpisahan kepada Sang Adik, Ia langsung menarik gagang pintu raksasa Gereja, kemudian melangkahkan kakinya ke jalanan Ibu Kota.

Jack James Colin’s Apartment

Tower Bridge, London

“What’s happened?” Tanya Jack setelah melihat El pulang dengan mata sembab.

“Did you just cry?” Tanyanya lagi.

Jack langsung menghampiri El setelah El mengganti boots nya dengan sandal rumah yang memang selalu disediakan oleh Pembersih Apartment.

“Are you okay?” Tanyanya lagi lalu memeluk El.

El pun mendongakkan kepalanya agar dapat melihat wajah tampan Jack.

“No. I am not okay.” Jawabnnya kemudian merekatkan tubuhnya ke tubuh Jack, lalu menanamkan wajahnya di dada bidang Jack.

“Why? What’s going on?” Tanya Jack pelan, lalu mengajak El duduk di sofa putih yang terletak tepat di tengah Apartmentnya.

El, yang tadinya hanya diam, mulai mengeluarkan suaranya.Namun kali ini, dalam bentuk isakan.Jack pun dengan sigap langsung mengelus punggung Sang Kekasih, bermaksud memberikan energi dan kekuatan pada diri El.

Jack memutuskan untuk tidak bertana apapun, hingga El sendiri yang nantinya akan bercerita.

El menceritakan semuanya pada Jack.Mulai dari pertemuannya dengan Sang Adik. Hingga saat Adiknya bercerita bahwa ia diijinkan masuk ke Perguruan Tinggi La Salle Seoul jika nanti adiknya bersedia ikut pindah bersama kedua orangtuanya.

“Do you envy her?” Itulah pertanyaan Jack yang sedaritadi terngiang di pikiran El. Apa ia benar-benar iri terhadap adiknya?

Ya. Itulah jawaban yang tepat menggambarkan perasaan El saat ini. Bagaimana tidak? Dulu, saat El baru saja lulus di Sekolah Menengah terkenal di London dengan nilai yang baik, ia hanya difokuskan untuk masuk ke London University dan mengambil jurusan bisnis.

Ia tidak diberikan kesempatan sedikitpun untuk memilih. Meski El sudah pernah mengatakkan ingin masuk ke salah satu Perguruan Tinggi Musik di Edinburgh, Scotlandia, Ayah dan Ibunya tanpa ragu, langsung menentang keputusannya tersebut.

“Mau jadi apa Kau, jika Kau jadi Musisi.” Pertanyaan atau entah pernyataan itu masih terngiang dipikirannya.

“Kau ini anak Presiden Department Store nomor satu di Asia. Untuk apa kau susah-susah mencari uang lewat musik? Apa kau yakin piano-mu itu bisa menghasilkan ratusan juta pound-sterling?”

Itulah alasannya mengapa kedua orangtuanya memasukannya ke Universitas London, tempat dimana orang-orang kaya dari berbagai belahan dunia berkumpul dan belajar tentang bisnis.

Park’s Family House

Chun Cheon

“YA!!! PARK CHANYEOL!! Cepat bantu Aku sekarang!” Teriak Nyonya Park di depan pintu kamar Putranya itu.

“NE, EOMMA! ADA APA?” Balas Chanyeol, tak kalah teriak dari balik pintu kamarnya.

Nyonya Park, yang tidak sabaran pun langsung membuka pintu kamar Chanyeol, tanpa permisi atau ketuk pintu dulu. Alhasil, Chanyeol yang sedang megganti bajunya pun dibuat kesal setengah mati.

“Eomma, bisakah Kau ketuk dulu pintunya sebelum Kau masuk?” Tanya Chanyeol, kesal sekaligus frustasi menghadapi kebiasaan buruk Ibunya.

“Ya! Kau kira Kau ini siapa, hah? Kau kira, Kau ini putra mahkota, sehingga Aku perlu mengetuk pintu kamarmu dulu?” Tanya Nyonya Park, kesal.

Chanyeol pun semakin kesal dan akhirnya Ia memutuskan untuk mengalah “Ne. Ne, Eomma. Ada apa Kau memanggilku?”

“Oh, iya. Aku sampai lupa. Kau ini!” Ucap Nyonya Park, lalu mengambil kertas yang tadi Ia letakkan di meja belajar Putranya itu.

“Ini. Daftar belanja makanan minggu ini. Kau pergi ke Pasar sana.” Ucap Nyonya Park sembari memberikan kertas list belanjaan tersebut, dan tak lupa memberikan uang sebesar 200.000 Won.

“Ya! Eomma! Kenapa harus Aku yang ke Pasar?Aku ini anak laki-laki. Kenapa tidak Noona atau Jae In saja yang pergi ke Pasar?” Protes Chanyeol, dengan wajah tak terima.

“Ya! Kau ini! Aku tidak mengijinkanmu untuk mengeluh sedikitpun! Noona-mu sedang bekerja.Dan Jae In sedang sakit. Kau tahu, semakin hari kondisi Adikmu semakin memburuk.” Jawab Nyonya Park.

Chanyeol-pun tak dapat mengelak kali ini.Mau tidak mau, Ia yang harus membeli persediaan bahan makanan untuk minggu ini, Karena, Ibu nya harus menjaga adiknya yang sedang sakit.

“Baiklah. Aku akan pergi.”

“Baguslah.” Ucap Nyonya Park

“Jangan lupa membeli ayam di Kim Ahjumma, karena ayamnya lebih murah dibanding yang lain. Mengerti?” Nyonya Park kembali mengingatkan.

“Iya. Aku pergi dulu.”

“Ne. Berhati-hatilah.”

Chun Cheon Traditional Market

“Chanyeol-ah!” Panggil Kim Ahjumma sesaat setelah Chanyeol masuk ke dalam pasar tradisional tersebut.

“Oh. Annyeonghasseyo, Ahjumma.” Sapa Chanyeol sopan, lalu membungkuk, tanda menghormati orang yang lebih tua di Korea.

“Ne. Bagaimana kabar Jae In? Apa dia sudah membaik?” Tanya Kim Ahjumma.

“Hmm.. Kurasa tidak. Semakin hari, kondisi Jae In malah semakin memburuk. Aku tak tahu lagi bagaimana harus menyembuhkannya.” Jawab Chanyeol, sedih.

“Kau tak perlu sedih. Sebagai hadiah, aku akan menjual ayamku dengan harga diskon. Bagaimana?” Tanya Kim Ahjumma, mencoba menghibur laki-laki bertubuh kurus tinggi tersebut.

“Wah, Kau sangat baik, Ahjumma! Kamsahamnida.” Ucap Chanyeol, lalu tersenyum lebar. Dan tak lupa membungkuk memberi hormat.

Jack James Colin’s Apartment

Tower Bridge, London

February 1st, ,2013

“You better go home, El.” Ucap Jack tibat-tiba saat El naik ke kasur King Size-nya.

Ya. Selama El tinggal di apartment Jack, El memang memilih untuk bebagi kamar dengan kekasihnya tersebut.Toh itu sudah menjadi hal yang wajar di Negara-negara barat.

El pun cukup shock mendengar perkataan Jack. Ini adalah kali pertama Jack menyuruhnya pulang selama Ia berada di tempat tinggal pribadi Jack.

“It doesn’t mean I want you to leave me.” Jelas Jack.

“So?” Tanya El, lalu duduk di kasur Jack.

Jack-pun ikut duduk, kemudian memeluk El. Jack menarik napas dalam sebelum menghembuskannya.Terdengar ini adalah keputusan yang berat.

“Do you want a break up?” Tanya El, melepas pelukan Jack, kemudian menatapnya tajam.

“Come on, El. Stop talking about that nonsense topic, okay?”

“I just want you to go to your family. Your sister called me this afternoon, and she wants me to bring you home. Your parents have been missing you, she said.” Lanjut Jack.

“And I know you have been missing them too, right? I don’t want you to be like this, El. I want you to be happy with people who you love.”

Jack pun menatap El, lalu tersenyum.

“The person I love is you, Jack.” Jawab El cepat setelah Jack menyelesaikan ucapannya.

“Yes, I know and I love you too. But your family loves you more. They want you to come back.”

“But, how about our relationship? I have fight for it. I just don’t want to waste our time together over the last 3 years.” Ujar Elaine, lalu menangis di pelukan Sang Kekasih.

“You don’t have to worry about our relationship. I could stand with a long distance relationship.” Lanjut Jack, lalu membalas pelukan El, erat.

“But I don’t think I can do it” Ucap Elaine

“Yes, we can do it. You know, If we are mean to be together, then we will be together.”

“You don’t have to worry. Technology has been improving lately. We still can use skype, messages, and so on to communicate each other.” Lanjut Jack.

“Jack…” Ucap El disela-sela perkataan Jack.

“You can go to Korea. To the place where Gangnam Style song were made.” Canda Jack, yang bertujuan untuk mendukung Sang Kekasih.

“Do you know, how much distances we will separate us later on?” Tanya El, menatap bola mata Jack.

“I don’t know. But I think it will be far away.” Jawab Jack, santai.

“Since you love somebody, distances, ages, weights, heights are just a damn numbers” Lanjut Jack, lalu tersenyum kearah sang kekasih.

“And also, you can reach your dream in Korea, right? You can be the best musician on the earth. I believe in you.” Sambung Jack lagi.

“Thankyou” Jawab El.

“You have been talking  a lot nowadays.” Lanjutnya, kemudian tersenyum.

“It’s because I care.”

“Once again, thanks.”

Mr. and Mrs. Lee’s House

London, England

February 9th  ,2013

Setelah kira-kira seminggu, Elaine pulang ke kediaman orangtuanya, mereka semua sudah sepakat untuk terbang ke Seoul malam ini. Mr. Lee, sebagai kepala keluarga-pun meminta Sang Istri dan putri-putrinya untuk mengepak semua barang-barang mereka dari 3 hari yang lalu.

“I can’t believe it, really.” Ucap Daniela, yang tiba-tiba masuk ke kamar Elaine tanpa permisi.

Sang Empunya kamar-pun, yang sedaritadi memainkan ponselnya, langsung melihat kearah Daniela.

“Will you miss this place?” Tanya Elaine kemudian setelah keduanya memandang kearah taman luas rumah mereka lewat jendela kamar Elaine.

“I don’t know yet. Ayah bilang kita akan tinggal di Gangnam nanti. Dari informasi yang kudengar, Gangnam adalah salah satu daerah district populer disana. Maybe I will love it.” Jawab Daniela, mencoba menghibur dirinya.

Elaine pun hanya bisa tersenyum kecut. “Maybe?”

“You know, even tough it will be fun living there, I don’t think I could make it.” Ucap El, lalu menghirup udara panjang, tanpa melepaskan perhatiannya pada pohon raksasa yang Ia dan Ayahnya tanam 10 tahun yang lalu.

“If you compare it to London, of course it won’t be that great. But, since we haven’t tried it yet, why don’t we try it? It will be fun, because there, we could be able to reach out dreams, right?”

“You can say that, cause you haven’t started yet. But me? I don’t wan to waste another years to start from the beginning. So I think I don’t want to be a musician anymore.” Jelas El.

Daniela pun bingung, kenapa Sang Kakak, yang dulu sangat ingin menjadi musisi, sekarang malah berbalik meninggalkan impiannya.

“Are you kidding me? So what makes you want to follow Parent’s decision?” Tanya Dan, bingung sekaligus tak percaya dengan Sang Kakak.

“I don’t know yet.” Jawab El, singkat. El pun langsung keluar kamarnya, setelah melihat nama Jack di layan ponselnya.

“Orang yang aneh.” Ujar Dan sepeninggalan Sang Kakak.

TBC……

Halo semuanya, Salam kenal, ini kali pertama kalinya aku kirim FF ke wordpress ini. Kali ini aku bikin FF half English-indonesia. Mungkin cuma diawal-awal doing karna kan latar tempatnya juga di London, jadi harap dimaklumi ya, teman-teman.

Mohon maaf kalau ada kata2 yang kurang dipahami, mohon ditanyakan langsung ke Mbah Translator. Itung-itung belajar bahasa inggris yaaa ^^

Di chapter 1 ini, nuansa ke-KOREA KOREA-an nya emang belum terasa, tapi diusahakan di chapter2 selanjutnya bisa lebih korea lagi ya. ^^

Akhir kata, terimakasih dan sampai jumpa di chapter-chapter selanjutnya.

4 thoughts on “GO SARANG! #1

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s