GO SARANG! #2

Judul : GO SARANG! Chapter 2

Author : Xoxo_baekhun

Genre : Romance, Family, Relationship, Sad

Length : Chapters

Main Casts:

  1. Elaine Lee
  2. Park Chanyeol
  3. Oh Sehun

Supporting Casts:

  1. Lee’s Family
  2. Park’s Family

And others..

Rating : PG-15 (Maybe)

Summary :

El tak berhasil membujuk orangtuanya untuk tetap tinggal di London, sehingga rela tak rela, Ia harus tetap berangkat ke Seoul. Apa yang akan menjadi tantangan terbesarnya di SEOUL?

Apakah Ia berhasil mempertahankan hubungan jarak jauhnya dengan Sang Kekasih? Atau bahkan El malah menemukan pengganti kekasihnya?

LET’S GET STARTED ^^

Incheon International Airport

Incheon, South Korea

February 10th , 2013

“Kalian hanya perlu tersenyum, mengerti?” Perintah Mr. Lee sesaat sebelum mereka keluar bandara internasional di Korea Selatan.

“Kalian tak perlu menjawab pertanyaan para wartawan. Hanya tersenyum dan langsung menuju mobil yang nanti akan Sekertaris Jang tunjukkan. Araseo?” Lanjut Mr. Lee lagi.

“Ne.” Jawab kedua putrinya.

“Baiklah, Presiden. Kalian boleh keluar sekarang.” Ucap Sekertaris Jang, sambil mengiringi jalannya keempat sosok yang sudah sangat ditunggu oleh Masyarakat Korea Selatan, terlebih pebisnis-pebisnis kelas tinggi.

Sesaat setelah, mereka menujukkan wajah mereka, seluruh wartawan langsung menghampiri keempatnya, dan tak lupa mengambil beberapa foto keluarga konglomerat itu.

Yang menjadi sasaran utama para wartawan adalah Elaine dan Daniela. Maklum, selama ini, mereka tak pernah pulang ke kampong halaman orangtua mereka. Sehingga berita tentang keduanya seakan menjadi sebuah makanan hangat bagi para wartawan.

“Presiden Lee, bagaimana kabar Anda sekeluarga?”

Mr. Lee tersenyum, begitu pula dengan Mrs. Lee yang tersenyum memamerkan gigi putihnya.

“Apa yang membuat Anda memboyong keluarga Anda untuk kembali ke Korea?”

“Apa bisnis Anda di inggris sudah tidak semulus sebelumnya?”

“Apa perasaan Anda setelah kembali menghirup udara Korea?”

“Bagaimana pendapat Anda tentang penolakan kedatangan Anda ke Korea dari berbagai pihak?”

El dan Dan saling berpandangan sebentar, sebelum akhirnya mereka mengikuti langkah Mr. dan Mrs. Lee yang sudah memasuki mobil mercy hitam milik keluarga Lee.

….

Park’s Family House

Chun Cheon

“Jadi, Presiden-mu sudah kembali, Noona?” Tanya Chanyeol ke noona-nya, Park JaeMin, yang bekerja sebagai pelayan di Kun Hee Lee’s Department Store.

“Ne. Dan kudengar esok senin Ia akan datang ke Department.”

“Kau harus benar-benar berlaku baik kepadanya, JaeMin-ah.” Pesan Nyonya Park.

“Ne, eomma.”

“Aku ingin merasakan rasanya hidup seperti putri-putri kaya.” Ucap Jae In, tiba-tiba setelah melihat wajah putri-putri Presiden Lee di televisi daritadi.

“Hahaha. Jangan bermimpi Kau, Jae In. Kita ini dilahirkan sudah seperti ini. Bangunlah dari mimpi mustahilmu itu.” Ucap Chanyeol, sambil tertawa meledek impian Sang Adik.

“Ya! Oppa! Apa salahnya memang bermimpi?” Protes Jae In, menggembungkan pipinya, tanda Ia sedang kesal.

“Sudahlah Kau ini, terlalu banyak menonton drama.” Balas Chanyeol, lalu berdiri mengambil minum di lemari es.

“Jae In-ah, jangan dengarkan perkataan Oppa-mu ya. Otaknya memang sudah bermasalah.” Ucap JaeMin, membela Adik perempuannya.

“Ya! Noona! Aku masih bisa mendengarmu!” Teriak Chanyeol, kesal.

Nyonya Park-pun hanya bisa tertawa melihat kelakuan ketiga anaknya.

“Chanyeol-ah, apa Kau mau ikut denganku bekerja di Gangnam?” Tawar JaeMin, sambil memperhatikan rupa Adiknya.

Chanyeol-pun menghentikan aksi minumnya, lalu melihat secara bergantian kearah Noona-nya dan juga Ibunya.

Nyonya Park tampak sangat menunggu jawaban Putra satu-satunya itu. Bagaimana-pun, semenjak Suaminya bekerja di Seoul sebagai tentara tetap, Chanyeol menjadi satu-satunya pria yang ada di kediaman kecil mereka.

Chanyeol menghembuskan napas cukup lama, lalu menatap kearah atas, tepat ke atap rumah mereka yang sudah usang.

“Pekerjaan seperti apa yang cocok untukku di tempat seperti itu, Noona? Tempat dimana semua orang berlomba memamerkan kekayaan mereka.” Ucap Chanyeol, sebelum duduk menghadap Nyonya Park dan kedua putrinya.

“Chanyeol-ah, setidaknya akan jauh lebih baik jika Kau bekerja dibanding tidak melakukan apapun disini.” Jelas Nyonya Park, memberi nasehat.

“Iya, Aku tahu. Tapi, apakah Gangnam membutuhkan orang-orang seperti Aku, Eomma?” Tanya Chanyeol, frustasi.

Ya, setelah lulus dari SMA di Chun Cheon 3 tahun lalu, Chanyeol belum memutuskan untuk mencari pekerjaan tetap layaknya orang seusianya saat itu.

Ia berdalih ingin menjaga Ibunya dan Adiknya. Namun, kenyataannya, Chanyeol justru mengelak dari suratan takdir pria seusianya, dimana seharusnya Ia harus bekerja, mencari nafkah untuk keluarganya.

Setelah Chanyeol lulus SMA, Ia memang memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi, tidak seperti Noonanya.

“Aku tidak mau menghambur-hamburkan uang di Perguruan Tinggi. Toh, nantinya Aku hanya akan tetap memilih menjadi seorang musisi.” Itulah kata-kata yang Chanyeol ucapkan dulu saat Ibunya memaksanya untuk masuk Perguruan Tinggi.

“Kau bisa membuat musik di Gangnam, Chanyeol-ah.” Jelas JaeMin, memberikan dukungan.

JaeMin-pun tersenyum penuh arti, dan menatap Chanyeol dengan tatapan memohon.

“Aku yakin Kau bisa berhasil, Chanyeol-ah.” Ucapnya lagi.

“Ne, Chanyeol-ah, Eomma yakin Kau pasti bisa meraih sukses di Seoul. Percayalah itu.” Ujar Nyonya Park, menambahkan ucapan JaeMin.

“Setidaknya, Kau ikut dulu denganku, lalu nanti Kau akan kukenalkan ke beberapa temanku di Department Store. Mereka bisa membantumu masuk ke industri musik korea. Kau bisa menjadi seorang composer musik jika mereka melihat bahwa Kau memang berbakat.”

“Aku sudah pernah memberikan satu lagu ciptaanmu ke Asisten Kwon. Kau tahu, apa yang Beliau katakan?” Sambung JaeMin, bersemangat.

“Apa?” Tanya Chanyeol, malas.

“Beliau bilang, Kau bisa menjadi composer musik terbaik di Korea jika kemampuanmu it uterus-menerus dikembangkan.” Jawab JaeMin, lebih bersemangat dari sebelumnya.

“Woah, Kau benar-benar hebat, Oppa.” Puji Jae In tak percaya, lalu tersenyum lebar kearah Oppa dan Noonanya, kemudian Ibunya.

Ketiganya diam beberapa saat, menunggu keputusan Chanyeol. Tentunya mereka semua berharap, Chanyeol bersedia ikut dan tinggal bersama JaeMin di Gangnam. Tepatnya, tempat dimana agar Chanyeol bisa meraih mimpinya selama ini.

Setelah berdebat lama dengan pikiran dan batinnya, akhirnya, Chanyeol bersedia untuk ikut JaeMin pindah ke Gangnam. Disana, Ia berharap dapat mengubah nasib keluarganya. Berharap, pujian-pujian dari keluarganya dapat mendorongnya menjadi pria mapan dan terkenal.

Mr. and Mrs. Lee’s House

Apgujeong- Gangnam, Seoul – South Korea

February 14th ,2013

“Happy valentine, there.” Tulis Elaine di Notes Macbook Pro miliknya.

“Apa yang Kau lakukan?” Tanya Daniela tiba-tiba, setelah melihat ke layar laptop Kakaknya.

Elaine, yang tak menyangka dengan keberadaan Adiknya di kamar pribadi miliknya-pun, langsung menutup laptopnya cukup keras, lalu berbalik menatap Dan.

“Sudah berapa kali kubilang, ketuk dulu pintu kamarku sebelum Kau masuk.” Ucap El, kesal. Lalu duduk bersila diatas kasur putih besar miliknya.

“I’m sorry.” Ucap Dan, meminta maaf, lalu Ia ikut duduk bersila diatas kasur Sang Kakak.

“Kau mau apa?” Tanya El, langsung setelah melihat kelakuan aneh Dan.

Dan yang sedaritadi menatap laptop Kakaknya dengan wajah penasaran, sontak kaget dan menatap kedua bolamata El, ketika mendengar El berbicara.

“Ne?” Tanyanya kaget.

“Kau mau apa?” Tanya El, mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab Adiknya itu.

Dan-pun membenarkan posisinya menghadap El. Dan menarik napas singkat, kemudian menghembuskannya pelan.

“Apa Kau mau berkeliling Seoul?” Ajak Dan.

“Tidak.” Jawab El, singkat. Kemudian Ia bangkit dari duduknya, dan duduk diatas kursi santai berwarna hijau pastel.

Ia melipat kakinya, bersandar, menikmati alunan musik klasik yang memang sedaritadi Ia nyalakan.

“Come on. You haven’t moved out from your room since we got here.” Rayu Dan sambil melihat aksi Sang Kakak.

“You can go by yourself.” Ucap El, singkat.

“El, ayolah, ini minggu pagi. Aku ingin Kau menemaniku kali ini saja. Aku ingin berjalan-jalan disekitar Cheongdam. Kudengar dari cerita Sekertaris Jang, di daerah tersebut sangat banyak orang-orang yang bersekolah di luar negeri dan juga punya selera fashion yang tak kalah dengan orang-orang di London , Paris, ataupun New York. Siapatau Aku bisa menemukan jodohku disana.” Ucap Dan, lalu menarik-narik pelan lengan El, tanda Ia sedang membujuk.

“Oh ya, Kita juga bisa belanja, El! Kita bisa mencoba masakan-masakan Korea. Siapatau, di luar sana banyak makanan enak. Ya, setidaknya, Aku tidak perlu makan Kimchi lagi. Kau tahu, makanan itu sangat aneh rasanya. Hiih, Aku tidak suka!” Cerita Dan, sambil mengingat perasaan pertamanya ketika pertama kali mencoba makanan tradisional Korea, Kimchi.

“Hentikanlah, Dan. Aku tidak mau kemanapun hari ini.” Ucap El, tegas tanpa memandang kearah Adiknya.

“El, ayolah. Sekali saja. Ya? Ya? Ya?” Pinta Dan sekali lagi, sambil menyatukan telapak tangannya di depan dada, tanda Ia sedang memohon.

El pun diam dan tidak menghiraukan permintaan Sang Adik.

“Today is the day when I supposed to have fun.” Ucap El, tiba-tiba.

Suasana di kamar El yang bernuansa warna-warna pastel, tiba-tiba berubah. Dan menyadari, bahwa ada masalah yang terjadi pada Kakaknya. Ia pun menghentikan aksi kekanak-kanakannya, lalu duduk di lantai, dan memandang wajah sedih Sang Kakak.

“Apa yang terjadi?” Tanya Dan pelan.

Tidak ada jawaban. El, malah menutup wajahnya dengan telapak tangannya.

“Apa Kau benar-benar benci tinggal disini?” Tanya Dan lagi.

“It doesn’t mean I hate living here.” Jawab El, singkat.

“Lalu?”

El kembali diam. Kemudian mengangkat wajahnya menatap Dan, dalam.

“Aku dan Jack sudah selesai.” Ucapnya.

“What??!! What?!! What!”

Berasa seperti tersambar petir setelah mendengar pernyataan Sang Kakak. Bagaimana mungkin Kakaknya dan Jack berpisah? Mereka berdua layaknya sepasang pangeran dan putri yang selalu mendukung satu sama lain.

Sepengetahuan Dan, keduanya sangat mencintai satu sama lain. Setahu Dan, bahkan keduanya tak pernah bertengkar sedikitpun. Jack sangat memahami sifat El, begitupula sebaliknya.

“Apa yang terjadi? Apa kalian bertengkar?” Tanya Dan lagi.

“Tidak.”

“Lalu?”

“Kami tidak bertengkar.” Jelas El, menatap Dan sekilas.

“Lalu apa yang terjadi? Apa Jack sudah berbuat kurang ajar? Apa Ia selingkuh? Apa Ia sudah …”

“Aku yang memutuskan hubungan kami.” Potong El saat mendengar pertanyaan-pertanyaan tidak masuk akal Dan.

“Hah? Apa yang terjadi?” Tanya Dan, bingung.

“Kau tahu, Aku tak mungkin membiarkannya menunggu hingga waktu yang bahkan Aku sendiri tak tahu sampai kapan.”

“Aku tak mau Ia menungguku dalam ketidak pastian.”

Dan mendengarkan kata-kata Kakaknya dengan seksama. Ia tidak mau meninggalkan sedikitpun cerita El.

“Aku bilang, Aku tak mau menjalani hubungan jarak jauh. Kau tahu, perasaannya sangatlah tidak enak. Dan itu bohong, kalau Aku bisa saja menjadi hubungan asmara lewat komputer.”

“Aku tidak ingin kehidupan asmaraku diliputi dengan perasaan curiga satu sama lain. Jika itu terjadi, maka rasa percaya diantara kami pun akan pudar seiring berjalannya waktu. Dan pada akhirnya, Kami pun akan berpisah.” Jelas El, memandang Dan.

Dan pun menghembuskan napasnya panjang, lalu bangkit berdiri, kemudian menarik El, hingga keduanya sudah berdiri berhadap-hadapan.

Dan pun langsung memeluk El. Keduanya berpelukan lama. Dan mengusap-usap lembut punggung El.

El pun membalas pelukan Dan dengan sukacita. Sudah lama sekali mereka tidak berpelukan seperti ini. Terakhir kali adalah ketika waktu kelulusan SMA El. Dan itu pun mereka lakukan atas paksaan kedua orangtua mereka. Maklum, hubungan kakak-beradik mereka memang kurang berjalan mulus.

“Jika itu semua memang benar-benar keputusanmu, Aku yakin, Kau bisa melalui semuanya. Aku percaya padamu.” Ucap Dan disela-sela pelukan hangat mereka.

“Terimakasih.” Ucap El, tersenyum dibalik pelukan Sang Adik.

Dan pun melepaskan pelukannya terlebih dahulu, kemudian memegang pundak Sang Kakak.

“Kalau begitu, sebagai ucapan terimakasih, Kau harus bersedia menemaniku berkeliling kota Seoul hari ini. Bagaimana?” Ajak Dan, tak patah semangat sambil tersenyum.

“Baiklah, Tuan Puteri.” Ucap El, menyetujui permintaan Adiknya, kemudian tersenyum lebar.

Mereka pun tertawa, lalu kembali berpelukan.

“Kau memang benar-benar Kakakku yang paling cantik.” Puji Dan.

Park JaeMin’s Rent Apartment

Irwon , Gangnam – Seoul – South Korea

“Aku tak menyangka tempat tinggalmu di Gangnam bagus juga.” Ucap Chanyeol begitu sampai di dalam apartment JaeMin yang berhasil Noona-nya sewa 2 bulan lalu.

“Ini semua berkat kerja kerasku.” Jawab JaeMin, bangga.

Chanyeol-pun hanya mengangguk-angguk, lalu lanjut mengitari apartment minimalis dan modern tersebut.

Dari mulai dekorasi ruangan, kamar tidur, dapur, hingga kembali lagi ke ruang dimana pertama kali Ia sampai. Mata Chanyeol tiba-tiba tertuju pada tirai putih yang terletak diujung tempat dimana Ia berdiri sekarang. Ia pun berjalan pelan, lalu perlahan membuka tirai putih tersebut.

Chanyeol cukup terkejut melihat keramaian daerah Irwon, yang merupakan salah satu district di Gangnam. Dari lantai 18, Ia bisa melihat betapa menjanjikannya daerah ini untuk meraih impian-impiannya.

Ia masih tak percaya, akhirnya Ia bisa tinggal di daerah elit di Korea Selatan.

“Chanyeol-ah, cepat bereskan barang-barangmu. Kamarmu ada di sebelah sana.” Ucap JaeMin, yang baru keluar dari kamar mandi, sembari menunjuk sebuah kamar yang berada tepat di sebelah kamar mandi.

“Dan yang itu kamarku.” Lanjutnya, sambil menunjuk kamar disebelah kanan kamar yang akan menjadi kamar Chanyeol.

“Ne, noona. Terimakasih.” Ucap Chanyeol, lalu membungkuk hormat, kemudian tersenyum.

“Kau ini. Tidak perlu seformal itu. Aku ini noona-mu, bukan bos-mu, mengerti?” Ucap JaeMin, sambil tersenyum.

Seoul National University, Business School

Seoul – South Korea

February 18th, 2013

“Selamat datang di tahun ajaran baru, anak-anak.” Sapa Professor Kim, setelah masuk ke dalam ruangan kelas bisnis, kebanggaan Seoul National University.

Seluruh mahasiswa jurusan bisnis di Universitas Negeri terkemuka di Korea Selatan-pun, bertepuk tangan serta ada beberapa diantara mereka yang berkenalan satu sama lain.

Tepat hari ini, Seoul National University, kembali memulai tahun ajaran barunya dibidang Bisnis. Kebanyakan mahasiswa/i nya masih seperti tahun ajaran sebelumnya. Namun ada juga yang sudah lulus, serta ada juga yang baru datang.

Lebih dari 1000 mahasiswa/i dikumpulkan di Auditorium yang sangat luas. Hal ini memang biasa dilakukan setiap tahun ajaran baru dimulai.

Hari ini juga menjadi hari pertama bagi Elaine, memulai harinya menjadi seorang mahasiswi di Korea Selatan. Menurutnya, kebiasaan seperti ini masih sama dengan apa yang ada di Inggris. Semua murid dikumpulkan dan disatukan demi menjalin komunikasi antar sesame murid jurusan bisnis.

Ya, Elaine memang tetap memilih untuk melanjutkan studi nya di bidang bisnis. Setidaknya sampai Ia lulus meraih gelar sarjana. Ia tak mungkin meninggalkan usaha yang telah Ia lakukan selama kuliah di London University. Ia sudah sadar, tanpa paksaan kedua orangtua-nya pun, Ia tetap harus belajar tentang bisnis. Karena bagaimanapu, Ia adalah pewaris utama Kun Hee Lee’s Department Store. Mau tidak mau, Ia harus melanjutkan bisnis yang sudah mati-matian dibangun Ayahnya. Terlebih ketika Sang Adih, memutuskan untuk masuk jurusan Fashion Design setelah Ia lulus sekolah nanti.

Keputusan El ini, sempat membuat kedua orangtuanya bingung.  Tapi, El,  hanya bisa berucap, bahwa, semuanya sudah terlambat jika ia memulainya dari awal lagi.

“Annyeonghasseyo.” Sapa seorang mahasiswa yang duduk disebelah kiri El.

“Ne. Annyeonghasseyo.” Sapa El kembali. Ia memutuskan untuk menjadi sosok yang lebih terbuka dari biasanya. Ya, bagaimana-pun, ini bukan London, tempat dimana Ia sudah memiliki banyak teman. Ia tetap harus bertindak layaknya mahasiswi biasa agar orang-orang mau berteman dengannya.

Hal ini dilakukan El, semata-mata hanya agar dirinya tidak kesusahan mencari teman jika sedang ada tugas kelompok.

“Namaku Sehun. Oh Sehun.” Ucap laki-laki itu, sambil mengulurkan tangan bersihnya, kemudian tersenyum manis. Sangat manis.

Dari caranya berbicara, El sudah dapat menebak, bahwa, laki-laki ini berasal dari keluarga kaya. Kulitnya putih bersih, ciri khas orang Korea. Rambut cokelat-nya dibiarkan tumbuh hingga menutupi jidatnya. Tapi, tetap tak menghilangkan kesan rapih dan terawat. Hidungnya mancung, tubuhya tinggi dan tegap. Serta, senyumannya.. Senyumannya bak pangeran tampan dari surga.

El pun cukup dibuat salah tingkah olehnya beberapa detik. Namun, bukan El namanya jika Ia tidak bisa menutupi perasaan canggungnya.

“Namaku Elaine Lee Andrea.” Ujar El, lalu telapak tangannya menyambut salaman Sehun. Dan tak lupa, tersenyum. Sangat cantik.

“Kau bukan orang Korea?” Tanya Sehun, setelah keduanya sudah tidak bersalaman lagi.

“Kedua orangtua-ku orang Korea. Tapi Aku lahir dan besar di Inggris.” Jawab El.

“Oh. Tapi bahasa Korea-mu cukup baik.” Puji Sehun, lalu tersenyum.

El pun tersenyum tanpa membalas ucapan Sehun.

Keduanya pun kembali terlibat percakapan. Mereka saling menceritakan alasan mereka masuk jurusan bisnis, hingga candaan-candaan yang keduanya lontarkan satu sama lain.

Awal yang baik, pikir keduanya.

“Ada waktu esok sore?” Tanya Sehun, ketika mereka berdua sudah berada di luar Auditorium Seoul National University.

El-pun diam, tak menjawab pertanyaan Sehun. Ia memilih untuk menatap Sehun, dan menunggu laki-laki itu untuk melanjutkan ucapannya.

“Begini, disekitar Cheongdam-dong, ada salah satu restoran inggris yang sangat terkenal. Kurasa, Kau akan menyukainya.” Jelas Sehun, malu-malu. Tampak sekali ia kebingungan, bagaimana caranya mengajak El berkencan.

El-pun tersenyum melihat kelakuan Sehun. Akhirnya Ia pun mengangguk, mengiyakan ajakan Sehun.

‘Apa salahnya menerima ajakannya? Toh, Sehun terlihat seperti laki-laki yang baik.’ Pikirnya.

“Baiklah. Besok, setelah kelas selesai. Bagaimana?” Ajak Sehun, lalu tersenyum.

“Baiklah.” Ucap El, sambil mengangguk, kemudian membalas senyum Sehun.

Mr. and Mrs. Lee’s House

Apgujeong- Gangnam, Seoul – South Korea

February 21st ,2013

“Bagaimana hari ini di Sekolah?” Tanya El, kepada sang Adik.

Malam ini, mereka berdua memutuskan untuk menonton drama Korea, yang Ahn Ahjumma, pembantu rumah tangga Keluarga Lee anjurkan untuk ditonton.

Karena kebosanan kian menghantui mereka, mereka-pun menerima usulan Bibi Ahn. Namun, bukannya tersentuh atau tertawa, keduanya malah bingung dengan jalan cerita dalam drama. Maklum, keduanya tak pernah menonton drama semacam ini sebelumnya.

Dulu, selama di London, mereka jarang sekali menonton televisi. Mereka lebih memilih untuk membaca Koran atau majalah yang memang sudah menjadi langganan Keluarga Lee dulu.

“Ya, seperti itu. Biasa saja. Orang-orang disini benar-benar kaku.” Ucap Dan, yang bukannya malah memfokuskan pandangan ke televisi, malah memilih untuk mengecek timeline Twitternya.

“Kalau Kau?” Tanyanya lagi.

El, yang menatap kosong kearah televisi, menjawab pertanyaan Adiknya, dengan perasaan yang tak jauh berbeda dengan Adiknya. “Sama.”

“Apa ada pria tampan di kampus mu?” Tanya Dan tiba-tiba. Hal itu sontak membuat El tersenyum mengingat Sehun.

Ya, sejak makan malam yang Ia dan Sehun lakukan waktu itu, hubungan keduanya kian dekat.

Sehun bisa menjadi teman yang baik. Ya, teman. Hanya teman. Meskipun El tertarik untuk mengenal Sehun lebih dalam, tetap saja, Ia takkan pernah mudah melupakan Jack.

“Kenapa Kau senyum-senyum?” Tanya Dan, bingung, sekaligus ngeri melihat sikap Kakaknya.

“Tidak.” Jawabnya singkat.

“Oh.”

Keduanya terdiam. Tak ada suara lain kecuali suara dari televisi. Karena bosan, El memutuskan untuk masuk lebih dulu ke dalam kamarnya. Sementara Dan, masih tetap berada di tempat duduknya.

Setelah masuk ke dalam kamarnya, El langsung mengecek ponselnya. Hal ini merupakan kebiasaan baru yang Ia lakukan selama berada di Korea. Tidak, tepatnya, setelah mengenal sosok Oh Sehun, minggu lalu.

Keduanya sering mengirimkan pesan singkat atau bahkan berbicara lewat telepon. Banyak kesamaan yang dimiliki keduanya. Mulai dari kesukaan keduanya bermain piano, berenang, hingga minum minuman milktea.

“Entahlah. Biarkan waktu yang menjawab.”

Goshen Café

Apgujeong, Gangnam, Seoul – South Korea

March 2nd. 2013

“Aku ingin pesan carbonara pasta, dengan pilihan keju mozarela, serta daging sapi iris yang tak berlemak. Dan juga lemon squash tanpa gula tambahan.” Pesan Sehun, kepada pelayan café.

“Baiklah.” Jawab pelayan tersebut.

“Kau mau apa, Elaine?” Tanya Sehun kepada El, yang sedaritadi sibuk membolak-balikan buku menu.

“Hmm. Samakan saja denganmu.” Jawab El, lalu menatap Sehun.

“Baiklah. Kalau begitu.”

Pelayan café, yang menggunakan kemeja putih dan rompi hitam, serta rok hitam itu pun pergi meninggalkan El dan Sehun setelah mengulang pesanan keduanya.

“Sepertinya Kau sering datang kesini.” Ujar El pada Sehun.

“Ne.” Jawab Sehun singkat, lalu tersenyum memandang El.

“Kau tahu, ini adalah tempat favorit ku.” Lanjut Sehun, yang sebelumnya sempat diam sejenak. Kemudian Ia menatap bola mata El, dan tersenyum.

“Oh.” El, yang gugup diperhatikan seperti itu oleh Sehun-pun, mulai salah tingkah. Ia memutar kepalanya kearah jalanan kota, tepat disebelah tempat Ia duduk.

Berbeda dengan El, Sehun malah terus menerus memperhatikan El. El yang merasa canggung dengan kondisi seperti itu pun, mulai memainkan sendok menggunakan tangan kanannya. Sendok itu, Ia ketuk pelan diatas meja. Dan pandangannya tak Ia tunjukkan ke mata Sehun.

Sehun pun mulai tertawa kecil. Kemudian, Ia menghentikan aksi konyol El. Ia mengambil sendok dari tangan kanan El. Kemudian menggenggam tangan El dengan lembut.

El, yang kaget-pun, hanya dapat melihat Sehun, tanpa mengucapkan satu patah kata-pun.

“Kau tahu, apa artinya jika seseorang memberitahu oranglain tentang tempat favoritnya?” Tanya Sehun lembut, sambil menatap El.

El-pun diam, namun perlahan menggelengkan kepalanya, tanda Ia tak tahu jawaban dari pertanyaan Sehun. Maksudnya, berusaha untuk tidak tahu. Meski sebenarnya, Ia sangat paham maksud pertanyaan Sehun.

Hei, El sudah tinggal di Inggris sedari lahir. Pertanyaan seperti ini benar-benar sangat murahan di Inggris. Pria-pria di Inggris memang terkenal sopan dan juga romantis, tapi Ia berani jamin, jika kalian berkencan dengan Pria Inggris, kalian takkan luput dari pertanyaan semacam ini.

“Itu artinya, Ia sudah mulai percaya kepada orang tersebut.” Jelas Sehun, pelan.

Keduanya hanya saling pandang-memandang. Lama, cukup lama.

El sudah benar-benar menduga pernyataan Sehun barusan.

“Benar-benar sama.” Pikir El dalam kepalanya.

Untungnya, café ini sedang sepi siang ini. Jadi, keduanya tak perlu merasa canggung oleh keberadaan pengunjung lain.

Sehun menarik napas singkat, sebelum melanjutkan perkataannya.

“Aku tahu, perkenalan kita memang baru. Kita bahkan belum mengenal cukup dalam satu sama lain. Tetapi, aku dapat merasakan, bahwa Aku sangatlah cocok denganmu.”

“Aku tahu, mungkin Kau sangat shock mendengar ucapanku ini. Tapi aku ingin Kau tahu, bahwa, Aku, Oh Sehun, menyukaimu.”

Sehun diam beberapa detik, sebelum melanjutkan perkataanya kembali.

“Maukah Kau menjadi kekasihku?” Tanya Sehun, kemudian tersenyum.

Elaine tidak merespon apapun atas pertanyaan Sehun barusan. Hati kecilnya memang tertarik pada sosok dihadapannya. Ia menyukai bagaimana cara Sehun membuatnya tersenyum dan tertawa. Ia menyukai kenyataan, dimana Ia tak perlu merindukan sosok Jack kembali.

Namun… Ia masih merasa, bahwa, ini terlalu cepat. Sesuatu yang terjadi begitu cepat dan praktis, takkan berlangsung lama. Ya, itulah nasehat yang selalu Ibunya berikan kepadanya dan juga Adiknya dalam memilih pasangan.

“Kau tak perlu  menjawabnya sekarang kalau Kau belum tahu jawabannya. Aku mengerti ini memang terkesan tiba-tiba.” Ucap Sehun, lalu melepaskan pegangan tangannya ditangan Elaine.

“Maaf jika mengagetkanmu.” Sambungnya lagi.

Elaine tetap tidak menjawab Sehun. Dan memilih untuk berkonsentrasi ke jalanan ramai Apgujeong.

“Maaf.” Kata maaf lah yang keluar dari bibir El setelah keduanya diam beberapa saat.

Sehun yang bingung, serta kaget-pun sudah memasang tampang penasaran, namun tetap, tidak menghilangkan sisi cool nya.

“Maaf. Aku tidak bisa menerimamu.” Ucap El kembali.

Lalu Ia bergegas bangkit dari duduknya, kemudian membungkuk sopan kearah Sehun, tanda mengucapkan perpisahan.

Sehun, yang masih duduk diam pun hanya bisa memperhatikan El dengan wajah kecewa dicampur tak suka.

“Aku ditolak? Sejak kapan ada perempuan yang berani menolak cintaku?” Pikirnya dalam hati.

Sungguh, selama Ia hidup, ini adalah kali pertama, Ia merasakan rasanya ditolak. Sakit, tapi juga menarik. Pikirnya.

“Terimakasih telah mengajakku makan siang. Dan maaf, aku harus segera kembali, karena ada urusan mendadak. Selamat siang.” Ucap El, sebelum akhirnya beranjak meninggalkan Sehun.

“Cihh.” Ucap Sehun, setengah kesal dan malu.

“Tapi menarik juga.” Sambungnya, lalu mengeluarkan uang sebesar 50 ribu won dari dompet GUESS miliknya, kemudian meletakkannya diatas meja.

Sehun pun langsung menuju keluar restoran, dan masuk kedalam mobil Audi Hitam miliknya, yang dibelikan Appa nya sebagai hadiah natal tahun lalu.

“Baiklah. Aku akan mengikuti alur permainanmu. Kita lihat saja apa yang akan terjadi, Nona Manis.” Ucapnya tegas sembari memperhatikan sosok El lewat kacamobilnya.

TBC……

Halo teman2, I’m back again!! Di Chapter ini, udah bener-bener FULL SETTING IN KOREA. YIIPIIIEEE *SORAK-SORAK

Gimana di chapter 2 ini? Main cast nya belum bertemu nih, masih dipikirin cara ketemuannya gimana. Semoga ga mengecewakannya.

Happy reading, and terimakasih ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s