The Wind’s Hum

The wind's hum copy

Title                       : The Wind’s Hum

Author                  : Sehunblackpearl

Genre                   : Romance; schoollife

Cast                       : Oh Sehun (EXO)

Lee Eunmi (OC)

Length                  : Oneshoot

 

WARNING : No SIDERS, No plagiators, no bash. Kalo ada yang melakukan yang author larang di atas, author kutuk jadi monyet🙂 Ini ga main-main loh.

 

Kemarin sepanjang malam di rumah pengembara burung gagak menggauk-gauk.

“Hari ini berjalan berapa batu lagi ke mana?”

“Ke gunungkah? Ke ladangkah?”

Karena tiada ajakan aku tak pergi.

Jangan ditanya, rumahku ada di Jeongju Kwaksan

Tempat kereta pergi dan kapal singgah

Di tengah jalan simpang aku berdiri.

Jalannya banyak bercabang-cabang

Tapi tiada satu pun arah kutuju

Senandung angin yang tak lelah goda jiwaku. Setiap malam, sebelum aku lelap, senandung tua itu, menyelinap melalui jendela kayu yang tak pernah tertutup rapat di kamar tidurku yang tak luas. Buai aku hingga sampai batas sadar dan tak, jagaiku hingga mimpi terakhir.

Senandung bodoh itu, muncul di wajah ibu saat aku menatap keriput yang mulai tampak jelas menggambar di wajah tua wanita itu. Tersenyum menggodaku saat aku memandangi langit-langit kamarku yang rapuh. Melambai seolah mengejek saat aku termenung di bawah senja. Mengusik hatiku yang duka setiap saat, setiap waktu, setiap nafas yang berhembus.

“Nilai serendah ini, apa yang akan kau lakukan setelah lulus SMU?” kata-kata guru bahasa inggris tadi pagi mulai mendengung dalam telingaku. Ya, nilaiku rendah. Lalu apa? Bukan berarti aku tidak punya tujuan kan? Aku tidak pernah berencana mengambil jurusan bahasa inggris, bodoh. Tapi mereka tidak akan mengerti. Guru-guru tolol itu tidak mengerti. Nilai yang tinggi bukan penentu jalan hidup yang akan ditapaki setiap orang.

“Dasar tidak tahu diri. Kau tahu kan keluargamu itu miskin? Kalau nilaimu serendah ini, lalu apa lagi hargamu?” Aku tahu kehidupan ini memang hanya milik mereka yang memiliki kuasa dan kejayaan dalam genggamannya. Tapi sebegitu hinanyakah aku? Karena aku tidak terlahir kaya maka aku tidak berharga? Karena aku tidak memiliki nilai tertinggi maka aku dianggap tidak bernilai? Oh, karena tasku tidak terbalut intan maka aku tak berguna. Karena sepatuku hanya sepatu putih yang sudah dua tahun tak diganti. Karena ibuku tidak memberikan donasi besar pada sekolah brengsek mereka ini maka aku bukan siapa-siapa. Dan karena tubuh ayahku mungkin sudah membeku kedinginan di dasar lautan sana atau mungkin sudah tak bersisa hingga tulang, menjadi makanan ikan? Maka mereka tak perlu memandangku. Maka aku hanya menjadi ulat kecil di ladang teh yang akan segera mereka panen. Maka aku harus disingkarkan dari jarak pandang mereka.

“Brengseeeek.” kutendang gerbang dingin yang menjadi penghalang seluruh murid SMU Hannyoung dengan masa muda itu dengan segenap tenaga yang mampu kukumpulkan di kakiku. Aku miskin dan bodoh. Tidak perlu menghabiskan waktuku belajar di sekolah bodoh ini. Lagipula sekolah seperti apa yang mengurung siswanya sampai malam? Sekolah brengsek. Kutendang gerbang tak berperasaan itu sekali lagi sebelum akhirnya aku memutuskan untuk berlari menjauh dari bangunan sekolah brengsek itu sebelum guru yang lebih brengsek lagi menangkapku membolos kelas malam yang tidak kalah brengsek..

Seperti yang kukatakan, aku miskin dan menurut mereka aku ini bodoh, jadi aku tidak perlu menghabiskan waktu berhargaku membaca buku-buku tebal yang tidak membuatku pintar itu kan? Makanya hari ini kuputuskan untuk membolos saja. Aku ingin sedikit bernafas. Aku langsung berlari menuju bar tempat teman-temanku sudah menungguku.

“Yo Eunmi. Kenapa kau lama sekali?” Aram langsung mendatangiku begitu melihat sosokku memasuki bar.

“Haha sekolah brengsek dan guru menyebalkan. Kau taulah.” Ujarku sambil memutar bola mataku.

“Iyeeuw.” Timpalnya menunjukkan ekspresi seolah ia ingin muntah.

“A-yo. Lama tidak melihatmu, bodoh.” Teman-temanku satu per satu menyapaku begitu aku mendekat ke meja tempat mereka sudah menghabiskan beberapa botol minuman.

“Yaaa beraninya kalian menghabiskan semua minuman itu tanpaku?” aku menunjuk botol-botol kosong yang berdiri di meja mereka.

“Ooooh slow down baby. Murid sekolah elit tidak boleh minum alkohol.”

“Juga tidak boleh membolos.”

“Apa-apaan kalian. Peraturan sialan itu tidak berlaku untuk kakakmu ini brengsek.” Jawabku sambil menjitak kepala mereka. “Sekarang beri aku minum sebelum aku marah.”

“Duduk dan bersenang-senanglah jalang.”

Ini adalah duniaku. Tanpa peraturan brengsek yang membelenggu. Dunia dimana aku bisa bicara sepuasku tanpa ada yang menegor saat mereka merasa aku kurang santun. Aku bisa berpesta, minum, bersenang-senang sepuasku. Aku tidak perlu khawatir dengan kertas ujian brengsek yang tidak penting itu. Tidak ada peraturan cara memakai baju yang benar. Biar kuberitahu. Ibuku mengajariku cara memakai baju, sialan. Kalian tidak perlu mengajariku lagi. Memang di sinilah aku seharusnya berada. Bersama teman-teman golongan tidak terpelajar. Menggila dan membuat keributan. Bukan di ruang hening yang menyesakkan itu. Sialaaan. Malam ini pesta. Lupakan segala kesusahan. Di dunia gemerlap ini, kita hilang tujuan. Tapi aku, sejak awal aku memang tidak punya tujuan. Sekali lagi sajak itu menyusup melalui celah di seragam putihku, menyelinap ke dalam ruang hati yang hampa. Lagi, aku hanya dapat menatap kosong ke arah yang tak kutahu. Di tengah jalan simpang aku berdiri. Jalannya banyak bercabang-cabang. Tapi tiada satu pun arah kutuju. Tiada arah yang dituju. Tiada arah yang dipandang. Tiada suka yang digenggam. Tiada cinta yang dinanti. Maka dengan pesta malam ini, aku tidak kehilangan apa-apa. Bahkan kehormatan pun tidak. Sejak awal memang kehormatan itu tidak ada dalam diriku.

Sementara teman-temanku yang tidak berpendidikan itu bermain billiar, aku memilih duduk meminum alkohol sebanyak yang kubisa. Yang kubutuhkan hanya minuman keras dan aku bahagia. Aku dapat menghilang bersama kegelapan. Bersembunyi di balik hitam yang lara. Tidak ada yang tahu. Bahkan sajak tolol itu tidak dapat mengintipku dalam dunia gelapku yang lebih bahagia. Masih dengan tangan kanan menggenggam botol bir, aku memandang teman-temanku yang tertawa tanpa beban. Ya. Memang begitulah masa muda itu seharusnya. Tertawa di bawah cahaya gemerlap bersama orang yang membuatmu tertawa. Bukan menghabiskan malam meringkuk dengan wajah tertekuk di hadapan meja belajar, berusaha memecahkan soal matematika dan fisika yang tidak akan pernah membuatmu merasa berguna. Aku ingin hidup seperti itu. Seperti mereka. Terlepas dari segala beban yang membuat uban cepat muncul di antara rambut hitam yang tumbuh di kepala. Aku ingin seperti mereka. Bebas.

“Bersenang-senang manis?” tiba-tiba suara yang tidak kukenal berbisik tepat di telingaku. Bukan karena mabuk maka suara itu tidak kukenal, tapi aku memang tidak tahu siapa pemilik suara itu. Aku menatap dari belakang telingaku. Seorang pria dengan seragam SMA duduk manis dengan satu kaki dilipat di atas kaki satunya. Tangannya ia biarkan menyentuh leherku semaunya.

Aku kembali menatap teman-temanku. Meneguk minumanku lagi langsung dari botolnya, tidak menghiraukan pria yang menunggu jawaban di belakangku.

“Aku suka gadis dingin sepertimu.” Bisiknya lagi di telingaku. Tubuhku bergidik serasa digelitik saat nafas hangatnya terasa di ambang telinga. Segala bulu berdiri dan aku bergetar saat cuping telingaku digigitnya mesra.

“Enyahlah.” aku memindahkan posisi dudukku sedikit menjauh darinya. Dia ikut berpindah, duduk di tempat aku duduk tadi.

“Lucu sekali kau menyuruhku enyah tapi memberi ruang untuk aku duduk di sebelahmu.” Matanya berkilat oleh nafsu dan dia menempelkan pantatnya tepat di ruang kosong di sampingku. Aku diam menolak menatap wajahnya.

“Kau… Lee Eunmi. Bukankah harusnya sekarang ini sedang duduk di depan meja mendengarkan guru Park menerangkan soal bahasa inggris bersama teman-teman lainnya?” Aku terkejut mendengar kata-katanya. Kali ini kualihkan pandanganku ke arahnya. Seragam yang ia kenakan adalah seragam SMA Hannyoung yang sama denganku. Dan wajahnya, memang adalah salah satu wajah dari sekian teman sekelasku yang tidak begitu akrab denganku karena perbedaan status. Orang kaya brengsek.

“Oh Sehun yang hebat. Ternyata rahasia prestasimu sebagai nomor satu terbawah itu ada di sini.” Balasku mengejek. Kuberikan dia tatapan sinis yang bisa membekukan es.

“Murid peringkat atas yang prestasinya mulai menurun sepertimu tidak berhak mengatakan itu padaku. Bukankah kita sama Nona Peringkat Tiga?”

“Aku tidak sama denganmu brengsek.” Sekali lagi, kuteguk minumanku langsung dari botolnya kembali memandangi teman-temanku yang masih bermain billiard sambil sesekali menciumi Aram atau menyentuh bokongnya.

“Aku tahu teman-temanmu itu. Mereka setiap malam ada di sini.” Bisiknya lagi tiba-tiba, kali ini sambil menciumi leherku dan aku membiarkannya. “Apa mereka tidur dengan gadis itu?” diraihnya botol minuman di tanganku dan diletakkannya kembali ke meja. Kedua tanganku digenggamnya.

“Tidak tahu.” Jawabku singkat, memandangi teman-temanku yang sedang dibicarakannya. Aku dan teman-temanku. Hanya ada dua wanita di antara kami, sisanya pria lima orang. Aram, aku tahu dia tidur dengan mereka berlima secara bergantian. Dan mereka tidak keberatan berbagi wanita. Lucu bagaimana sampai sekarang aku tidak membiarkan mereka menyentuh seincipun dari rambutku. Tapi aku membiarkan Oh Sehun menciumi leherku, menjilat dan menggigitnya sesuka hatinya.

“Tapi aku tidak pernah melihatmu bersama mereka. Ini pertama.” Tangan nakalnya mulai meyusup dari leher ke balik kemejaku yang masih terkancing dengan baik. Aku masih tidak bergeming membiarkan tangan dan bibirnya bermain-main dengan tubuhku di tempat terbuka. Aku tahu tidak akan ada yang peduli karena ini memang tempat yang sesukanya. Tangannya yang lain pun menemukan jalannya ke balik rokku, menyentuh pahaku, membuat tubuhku bergetar lebih, seolah tersengat listrik. Wajahnya mendekat ke wajahku dan detik berikutnya bibir kami bertemu. Tidak tahu mungkin kepenatan dan rasa lelah yang membuatku pasrah membiarkannya bekerja sesukanya dengan tubuhku. “Apa mereka membayarmu untuk seks? Aku akan membayarmu lebih. Habiskan malam ini denganku saja.” Aku terkejut mendengar kata-kata yang terucap dari mulutnya tepat di leherku. Apa aku terlihat seperti wanita yang menawarkan seks untuk bayaran? Aku terlihat seperti wanita jalang?

“Aku bukan pelacur.” Teriakku sambil melepaskan kedua tangannya dari tubuhku. Aku berdiri. Orang-orang melihati kami karena teriakanku. Sehun menatapku terkejut dengan aksi tiba-tibaku. Dan teman-temanku berhenti bermain billiard, berjalan mendekati kami.

“Wooaa, santai. Kenapa kau tiba-tiba berteriak?” ujarnya, menarik tanganku meminta aku duduk kembali. “Ayo kita lanjutkan lagi.”

“Brengsek. Aku bilang aku bukan pelacur.” Teriakku, kali ini sambil mendaratkan tamparan kasih sayang ke pipi putihnya.

“Kalau bukan lalu kenapa kau di sini dan membiarkanku menyentuhmu?” Aku terdiam. Memang aku tadi bersikap murahan. Aku tidak mencegah satu pun dari kegiatannya. Sekarang aku menyesalinya. Tapi aku bukan pelacur, demi Tuhan. Meski aku bersikap murahan tadi.

“Eunmi-yah. Ada apa?” tanya Aram yang kini sudah berdiri di depanku.

“Yo man. Apa kau mencoba berbuat macam-macam dengan teman kami?” Jongdae, ikut berdiri di samping Eunmi. Diikuti empat lagi temanku.

“Dia temanmu?” Sehun sedikit membelalakkan matanya terkejut. “Ya Lee Eunmi, tidak kusangka teman-temanmu seperti ini.” Katanya lagi tertawa mengejekku. “Cih, apa yang akan dikatakan sekolah kalau Nona peringkat tiga ini ternyata bermain di bar bersama teman-temannya?”

“Itu bukan urusanmu brengsek. Sekarang enyah dari pandanganku. Dan satu lagi, aku bukan wanita murahan. Aku tidak menjual tubuhku untuk uang yang kau tawarkan.” Oh Sehun diam.

“Apa maksudmu? Kamu memperlakukan teman kami Eunmi seolah pelacur?” teriak Aram marah pada Sehun.

“Bro, dia itu masih perawan. Jangan macam-macam dengannya. Atau kami bikin mati kau.” Temanku yang lain menimpali. Bodoh, mereka tidak perlu mengatakan itu. Itu akan membuatku terlihat lebih bodoh di mata Sehun. Kulihat ekspresi terkejut Sehun yang tak berusaha disembunyikannya sedikitpun.

“Aku pulang.” Kataku sambil mengambil ransel dan jas yang kuletakkan di bangku bar. Ini betul-betul memalukan.

“Ya Lee Eunmi…” kudengar mereka berteriak memanggil namaku tapi tak kuhiraukan. Aku lelah. Aku ingin pulang, berbaring di rumah.

—__—

Satu lagi hari yang harus kami habiskan di depan meja, dengan buku-buku tebal terletak di atasnya untuk kami pelajari sampai kami menguasai segala yang ditulis oleh siapapun orang yang cukup gila mengarang buku itu. Sedikit memaksakan diri, aku berkonsentrasi dengan bahan ajar yang diberikan guru Cha tadi. Ujian semester sudah di depan mata. Aku tahu aku tidak cukup melakukan segala sesuatu dengan baik semester ini dan banyak guru yang menegorku dengan nilai yang tidak kunjung membaik. Tetap saja aku harus menguasai segala yang diajarkan guru semester ini atau peringkatku akan menjadi lebih buruk dari yang bisa kubayangkan.

“Belajar tekun Lee Eunmi?” tanya suara yang kuyakini sebagai milik Sehun dari belakangku. Aku mengacuhkannya dan tidak menglihkan pandanganku dari buku paket biologi. “Waaah kau serajin ini lalu kenapa kemarin ditegur guru hampir semua guru ya?” celotehnya masih tetap tidak berpindah dari tempat duduk di belakangku. “Dengan penampilan seperti ini di sekolah siapa sangka ternyata kau menghabiskan malam-malammu di bar bersenang-senang dengan teman-temanmu?” Aku langsung memutar kepalaku mempertemukan pandangan mata kami. Hitam bertemu hitam. Aku menatapnya sengit.

“Untuk informasimu, aku tidak berkeliaran di bar setiap malam sepertimu yang suka menghamburkan uang.” sergahku sengit mengacung-acungkan pulpenku tepat di depan matanya. “Satu lagi. Anggap saja kita tidak pernah bertemu di bar semalam.” Kemudian aku berbalik, berhadapan dengan buku paketku, lagi.

“Oh, apa kau malu dengan kejadian semalam?” wajahku memanas seketika begitu mendengar tanggapan langsungnya. Si bodoh ini, tidak tahu batasnya.

“Kubilang lupakan, aiisssh bocah ini.” kujitak kepalanya pelan sambil mencibirkan bibirku. Aku tidak ingin mengingat bagaimana aku membuat diriku sendiri terlihat bodoh kemarin malam.

“Aku minta maaf.” Ujarnya tiba-tiba lembut, matanya menatap wajahku sayu. Wajahku memanas dengan kelembutan tiba-tibanya itu. Apa-apaan bocah ini. “Aku tidak tahu kalau kau, uuum kau tahu.” Dia menggosok-gosok belakang lehernya dan wajahnya jadi terlihat salah tingkah.

“Ya, apa-apaan. Tiba-tiba saja bersikap seperti ABG labil ingin menyatakan cinta. Kau membuatku merinding.”

“Aiiisssh aku minta maaf dengan tulus bodoh.” Katanya sambil menarik poniku tanpa kekuatan. “Lagi pula siapa yang mau menyatakan cinta pada perawan tanpa pengalaman sepertimu?”

“Kubunuh kau.” Ujarku mengacungkan pulpenku tepat di depan wajahnya sekali lagi. “Lagi pula aku tidak melihat ketulusan di matamu.”

“Aku harus bagaimana supaya terlihat tulus?”

“Berlutut lalu cium kaki sambil katakan maaf seribu kali.” Kataku bercanda. Sehun langsung menjatuhkan kakinya ke lantai. Ditundukkannya kepalanya dan bersiap mencium kakiku. “Ya, Oh Se Hun kau serius mau melakukannya?”

“Oh.” Dianggukkan kepalanya. Kepalanya mulai mendekat ke kakiku. Aku diam saja, tak bergeming di tempat dudukku menyaksikan Sehun melakukan hal gila yang kusuruh. Beberapa anak lain melihati kami berdua, tapi tidak kami hiraukan. Apa dia serius? Gerakannya terhenti tiba-tiba tepat di depan sepatuku.

“Dalam mimpimu.” Tiba-tiba dia bangkit dan menjitak kepalaku kemudian berlari menjauh. Dilemparkannya bungkusan coklat ke arahku yang kutangkap dengan sukses. “Permintaan maaf, coklat untuk gadis perawan.” Dia mengedipkan matanya sebelum berbalik dan menghilang di balik pintu kelas.

“Ya. Paboya Oh Sehun. Berhenti kau. Aiissshh jinja uurrgghh.” Si bodoh itu. Dia tidak perlu menekankan kata perawan.

—__—

Sejak hari itu aku menghabiskan begitu banyak waktuku dengan Oh Sehun. Masalah sekolah tidak kupikirkan lagi. Setiap malam, setiap hari kuhabiskan di bar dengan Sehun atau teman-temanku. Waktu yang kuhabiskan dengan mereka membuatku lebih tenang dan sejenak melupakan kepenatan yang biasanya membuat dadaku sesak. Mereka memberikan ruang untuk aku dapat bernafas dan aku merasakan nyaman yang tak pernah kurasa sebelumnya.

Tapi tidak pernah ada kebahagiaan yang selamanya. Aku dihadapkan lagi dengan kenyataan aku masih siswa SMA Hannyoung dan kami sudah memasuki masa ujian. Aku memang lupa dengan sekolah satu minggu terakhir ini, dan aku tidak mempelajari sedikitpun materi pelajaran. Jika tidak melakukan sesuatu, maka aku tidak akan berhasil dalam ujian. Membuat contekan menjadi satu-satunya pilihanku. Aku tidak bisa kalau nilaiku rendah.

Hari ini, hari terakhir ujian. Aku duduk di bangkuku menunggu kertas ujian dibagikan. Aku sudah melakukan segalanya dengan baik selama ujian kemarin. Ini hari terakhir dan setelah ini aku bebas. Kuterima kertas ujian yang diberikan teman yang duduk di depanku dan membagikan sisanya kepada yang di belakangku.

Setengah jam ujian berlangsung. Kulihat semua murid sibuk dengan kertas ujiannya masing-masing. Kecuali orang yang duduk di sampingku, Oh Sehun. Dia sudah meletakkan kepalanya di atas lengannya di meja, tertidur pulas. Si bodoh itu, begitu kertas ujian dibagikan langsung mengisi kertas jawabannya tidak tahu dengan jawaban apa. Karena kurasa dia sembarang memilih jawaban. Dia bahkan tidak membuka kertas soalnya. Pantas saja menjadi peringkat satu terbawah. Hidupnya hanya bermodal wajah gantengnya itu. Guru Park, pengawas ujian kami berjalan mengelilingi kelas, matanya tidak lepas mengawasi kami yang sedang mengerjakan soal-soal ujian tidak berguna itu. Aku tahu dia berjalan, tapi aku tidak perduli. Kuputuskan membuka kertas contekanku yang sudah kubuat sekecil mungkin, tapi masih dapat kubaca. Aku bisa mengerjakan ujian dengan baik dengan adanya kertas itu.

Aku masih sibuk dengan kertas contekanku ketika temanku, Daeun yang duduk tepat di depan bangkuku berusaha mengambil kertas contekan di tanganku. Aku belum selesai, tentu saja kertas itu tidak akan kuberikan. Aku menghabiskan banyak waktu mengerjakan contekan itu dan dia seenaknya hanya meminta. Kutahan kertas kecil itu di tanganku, jangan sampai jatuh ke tangannya. Tapi Daeun yang keras kepala berusaha merebutnya dari tanganku. Akhirnya kami tarik menarik dan, plukk. Kertas itu lepas dari tangan kami berdua. Jatuh tepat di samping bangkuku, sial. Daeun langsung menghadap depan pura-pura sibuk dengan kertas ujiannya. Begitu juga denganku. Aku memegang kertas ujianku dan bersikap seolah aku sedang sibuk memikirkan jawaban untuk soal yang rumit.

Guru Park, yang matanya setajam elang langsung menyadari ada kertas yang jatuh. Dengan gaya soknya ia berjalan ke dekatku dan memungut kertas kecil itu. Kusirik dia melalui ujung mataku, dia membuka kertas contekan itu dan membacanya.

“Pasti menghabiskan banyak waktu untuk membuat contekan ini.” Katanya melemparkan kertas itu ke mejaku. Aku diam masih sibuk dengan kertas ujianku. “Kalau kau punya begitu banyak waktu seharusnya kau habiskan untuk belajar bodoh.” Ujarnya lagi agak keras sambil memukul bagian belakang kepalaku. Aku masih diam. “Sekarang berikan semua contekanmu dan keluar.” Katanya masih memukul kepalaku. Si brengsek ini. “Ayo cepaat.” Bentaknya.

“Kenapa harus?” jawabku, menatapnya dengan mata menantang, tangannya kusingkirkan dengan kasar dari kepalaku. Tidak terima dengan perlakuannya.

“Karena kau menggunakan contekan. Saat semua orang belajar untuk ujian, kau malah dengan enaknyanya hanya memakai contekan seperti ini.” Bentaknya lagi tidak kalah keras dengan bentakannya sebelumnya.

“Itu bukan punyaku.”

“Apa? Jelas-jelas ini punyamu. Kau masih menyangkal?”

“Aku tidak membuat contekan.” Jawabku, walaupun suaraku sedikit bergetar tapi aku tidak gentar menghadapi guru brengsek itu.

“K..kau pikir aku bodoh hah?” teriaknya lagi penuh emosi. Matanya menyiratkan kemarahan tapi aku tidak peduli. Aku tidak akan diam saja diperlakukan seperti ini dua kali oleh si brengsek ini. “Sekarang berdiri kau.” Aku tidak mau menuruti perintahnya. “Ayo cepat berdiri.”

“Aku tidak mau.” Jawabku lagi, menatapnya tajam.

“Berdiri.” Teriaknya sekali lagi lebih keras membuat aku terpaksa menelan ludahku dan berniat menuruti perintahnya.

“Itu punyaku.” Kudengar suara Sehun di samping guru Park berbicara dan kemudian suara meja ditendang hingga bergeser dari tempatnya semula. Aku duduk lagi ke bangkuku, menatap Sehun yang duduk di bangkunya dengan wajah bosan. “Berisik sekali mempermasalahkan contekan seperti itu dan menuduh orang yang salah.” Wajah guru Park berubah merah. Mungkin karena malu. Mungkin juga emosi. “Bersikeras menyalahkan siswi yang tidak ada hubungannya. Betul-betul khas guru. Menyalahkan hanya orang yang ingin dianggapnya bersalah.” Sambungnya dengan nada dan wajah meremehkan.

“Kau…” geram guru Park. Aku tidak berharap Sehun menolongku seperti itu. Tapi tetap saja aku senang melihat wajah guru Park yang menyebalkan itu berubah merah seperti itu. “Sekarang tinggalkan ruangan ini.” Teriaknya pada Sehun.

Sehun, dengan santai berdiri dari bangkunya. “Dengan senang hati.” Ujarnya kemudian menendang mejanya yang tidak bersalah lagi, dan meninggalkan ruangan ujian. Aku hanya diam di bangkuku. Kenapa dia melakukan itu? Apa dia menganggap lucu segala yang ada di dunia ini? Pasti dia sekarang sedang menertawakan aku yang terlihat bodoh tadi. Dia pasti melakukannya karena ingin mengolok-olokku. Karena dia juga hanya anak manja brengsek yang menertawakan nasib anak miskin sepertiku yang setiap malam ditarktir teman-temannya ke bar. Brengsek, dia pikir ini lucu?

—__—

Pulang ujian, pukul dua belas. Aku langsung meninggalkan bangunan sekolah yang tidak pernah berubah dalam pikiranku itu. Dia memang tidak pernah berubah. Tetap brengsek, seperti bagaimana dia selama ini. Aku pergi ke daerah Nonamdong, tempat ibuku memiliki warung pinggir jalan. Seperti yang kukatakan sebelumnya. Aku ini anak miskin. Ayahku nelayan di derah pesisir (?) dulu dan sudah meninggal sejak lama sekali tenggelam di lautan tanpa pernah ditemukan jasadnya. Aku dan ibu kemudian pindah ke Seoul dan hidup sangat miskin di ibukota itu. Ibu berganti profesi berkali-kali. Demi mencari pekerjaan yang dapat menjamin kelangsungan hidup kami. Dan akhirnya selama lima tahun terakhir ini, ibu memutuskan untuk membuat warung pinggir jalan sebagai solusi untuk segala masalah keuangan kami. Tapi tetap saja kami ini sangat miskin dan berkekurangan ditambah biaya sekolahku yang mahal.

“Eomma.” Panggilku pada wanita tua yang sedang sibuk menggoreng entah apapun itu yangsedang digorengnya.

“Dal-ah…” ekspresi terkejut jelas tergambar di wajah tua eommaku. “Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau harusnya di sekolah?”

“Kami sedang ujian. Kenapa aku harus di sekolah?” jawabku malas, mengistirahatkan pantatku di salah satu bangku yang dekat dengan eomma.

“Oh, jadi kalian sedang ujian.” Eomma mengangguk kemuadian kembali berhadapan dengan wajannya lagi. “Bagaimana ujianmu tadi?” tanyanya masih sambil memunggungiku.

“Buruk.” Jawabku singkat. Kupandangi punggung eomma yang semakin hari terlihat lemah itu. Punggung yang telah terlalu banyak menanggung beban. Punggung yang setiap hari telah lelah bekerja, tapi tetap saja hanya menghasilkan sedikit uang.

“Buruk? Wae?” ibu meletakkan sumpit yang digunakannya untuk menggoreng dan kembali menghadapku. “Bagaimana bisa buruk?” rasa lelah terpancar jelas dari sinar matanya.

“Aku tidak bisa melakukannya.”

“Kenapa kau tidak bisa?”

“Ya karena tidak bisa. Sekarang berikan uangku. Aku harus membayar tagihan teleponku. Kalau tidak dia akan diputus.”

“Wae? Kenapa kau tidak bisa di ujianmu? Apakah itu terlalu susah?”

“Hentikan itu eomma.” Bentakku tiba-tiba, berdiri dari bangku yang kududuki hingga bangku itu jatuh. Eomma terkejut melihat reaksiku yang tiba-tiba. “Kau pikir sekolah di sana itu mudah? Semua murid di sana adalah anak-anak kaya dari Gangnam. Mereka membayar guru privat untuk setiap mata pelajaran. Jadi bagaimana kau mengharapkanku untuk mengalahkan mereka? Sementara kau hanya dapat memberikanku sedikit uang. Bahkan untuk membayar biaya sekolah di sana kau sudah hampir mati. Jadi bagaimana kau mau aku mengalahkan mereka? Aku jadi murid paling menyedihkan di sana. Yang benar saja?” kutumpahkan segala kekesalanku pada eomma, tidak peduli dengan raut wajahnya yang terlihat sedih. “Lupakan saja.” Kataku kemudian berbalik dan meninggalkan hadapannya sambil menghentakkan kakiku. Aku berjalan menjauhi warungnya. Kudengar suaranya yang lemah memanggil namaku.

“Eunmi-yah, kau mau ke mana? Kau melupakan uangmu. Eunmi, ini uangmu aku sudah menambahinya jika kau merasa krang.”

Aku tidak menghiraukan panggilannya yang semakin lama terdengar semakin jauh dan lemah. Aku merasa buruk telah melakukan hal yang tidak pantas seperti ini terhadap eomma. Dia pasti sedih. Setelah segala pengorbanannya untukku selama ini, ternyata aku malah melakukan hal yang tidak pantas padanya. Padahal itu semua bukan salahnya. Tapi aku mau bagaimana lagi? Aku juga sangat sedih dan frustasi.

Aku terus berjalan tanpa mempedulikan arah. Menjauh dari warung pinggir jalan eomma yang kecil. Menjauh dari wajah lelah eomma. Pasti dia sangat sedih. Aku ini anak durhaka yang sangat jahat. Sambil berjalan, air mata membasahi pipiku. Aku tidak berniat menghapusnya sama sekali. Aku melanjutkan langkahku, tidak tahu ke mana dan apa yang dituju.

 

“Hari ini berjalan berapa batu lagi ke mana?”

“Ke gunungkah? Ke ladangkah?”

Di tengah jalan simpang aku berdiri.

Jalannya banyak bercabang-cabang

Tapi tiada satu pun arah kutuju

—__—

“Masuklah.” Ujar pria setengah baya itu padaku, membuka lebar-lebar pintu rumahnya yang besar untukku. Kulangkahkan kakiku memasuki bagian dalam rumah yang lebih besar daripada yang kubayangkan. Tentu saja, rumah di Gangnam sudah pasti besar dan elit. Jauh berbeda dengan rumahku yang mungkin hanya sebesar kandang anjing orang ini.

“Buat dirimu nyaman.” Ujarnya sambil menuntunku masuk ke bagian dalam rumah. Aku terus melangkah ke dalam rumah itu dengan tangan pria itu masih tertempel di punggungku menuntunku ke bagian dalam rumah agar aku tidak tersesat di rumah istana itu. “Ah, duduklah di sini.” Perintahnya menunjuk pada sofa yang terlihat sangat mahal. Aku mendudukkan diriku di sofa yang ditunjuknya. Aku menatap rumah mewah itu dengan rasa kagum yang tidak bisa kusembunyikan. Kupandangi sekeliling ruang tamu yang sangat luas itu. Lukisan terpajang di sana sini menambah kesan mewah. Vas yang terlihat mahal, potret diri, dan segala barang yang tidak pernah ada di rumahku yang sangat kecil. “Kalau kau mau, kau boleh melihat-lihat dulu.” Kata pria itu lagi masih sambil tersenyum.

“Paman, kau membawa wanita asing lagi?” tiba-tiba suara yang sangat kukenal bertanya dari tangga tepat belakangku. Aku segera berbalik menatap orang yang sudah sangat kuingat wajahnya karena berapa minggu terakhir ini aku menghabiskan setiap malam dengannya, tentu saja dengan teman-temanku juga. Bahkan tadi pagi dia mengakui contekan yang kubuat adalah miliknya. Oh Se hun, berdiri di tangga tepat di depan mataku. Mata Sehun membelalak begitu melihat wajahku, ekspresi terkejut di wajahnya kurasa tidak jauh berbeda dengan yang di wajahku.

“Oh, Sehun-ah. Keponakan kebanggaanku.” Ujar pria setengah baya itu melangkah mendekati Sehun lalu dipeluknya Sehun. Wajah pemuda itu datar tanpa ekspresi saat dipeluk pamannya tapi matanya tetap tidak dialihkannya dariku. “Seperti biasa. Jangan beri tahu bibi dan orangtuamu, ne?” kata pria itu pada Sehun. Sehun hanya diam, tak bergeming. “Baiklah aku buatkan minuman dulu untuk nona cantik tamu kita.” Pria itu berlalu dan menghilang di balik pintu yang kurasa menuju dapur.

“Pulang.” Ujar Sehun masih menatapku dingin.

“Mwo?”

“Kubilang pulang.”

“Kenapa aku harus mau kau suruh pulang? Yang membawaku ke sini pamanmu dan bukan kau.” Ujarku mencemooh. Uuugh betapa tidak tahu malunya aku.

“Kau tahu untuk apa kau dibawanya ke sini?”

“Tentu saja aku tahu. Dia membayarku untuk seks.” aku menjawab sambil memalingkan wajahku darinya, berusaha menyembunyikan merah yang mungkin sudah menjalar di sekujur pipiku.

“Aku tidak percaya kau mengatakannya.” Ya aku sendiri tidak percaya aku mengatakannya. “Kau dibayar untuk seks?” Sehun mencekal tanganku dan memaksa mataku untuk menatapnya.

“Ya benar.” Tantangku.

“Jadi kau juga sama seperti yang lainnya. Murahan.” Nada mengejek yang jelas terdengar dari suaranya tidak bisa kuabaikan.

“Ya memang beginilah aku. Aku ini memang sangat murah dan aku tidak akan menyangkalnya.”

“Kau butuh uang?” tanyanya lagi padaku masih dengan nada dingin. “Tapi kau tidak harus melakukan ini kan?”

“Ya aku harus melakukan ini. Memangnya selain ini apa lagi yang bisa kukerjakan? Aku ini sangat miskin jadi aku harus melakukan ini untuk mendapat uang jajan. Tidak sepertimu yang kelebihan uang. Setiap malam ke bar, membayar minuman semua orang. Kau bahkan tidak menghargai sekolahmu, dengan sengaja mengakui contekan yang kubuat adalah milikmu. Kau menganggap lucu semua ini kan? Kau pasti menganggap aku ini hiburan yang sangat menarik kan? Pasti sekarang kau sedang menertawakanku dalam hatimu.” aku mengeluarkan semua keluhanku pada Sehun dalam satu detak jantung.

“Aku tidak peduli apa katamu. Pulang.”

“Tidak.”

“Aku bilang pulang.”

“Aku tidak mau.” Teriakku sambil mendorong Sehun menjauh dariku. Hening. Aku tidak tahu apakah paman Sehun mendengar teriakanku.

“Baiklah terserahmu saja.” Ujarnya akhirnya. “Jujur saja beberapa minggu terakhir ini, aku mulai menyukaimu karena aku melihatmu tidak seperti wanita lainnya di sana. Kau senang dengan dunia malam tapi kau bukan wanita murahan bahkan kau tidak membiarkan teman-temanmu menyentuhmu. Makanya aku melakukan segala yang kau sebutkan tadi itu. Bagaimana bisa kau tidak mengerti? Bahkan hal sejelas itu saja kau tidak bisa sadar. Aku tidak pernah tahu kau sebodoh itu. Tapi sekarang aku tahu. Kau sama saja dengan yang lain. Maaf aku sudah salah paham dan seenaknya menyukaimu.” Lalu dia kembali berbalik dan menaiki tangga. Meninggalkanku sendiri di ruang tamu yang luas itu.

Aku duduk di sofa empuk itu sekali lagi. Merenungkan kata-katanya lagi. Oh Sehun, dia menyukaiku? Makanya dia mau mengakui contekan itu miliknya. Itukah alasannya? Lalu kenapa dia bisa menyukaiku? Oh, tadi dia bilang karena aku tidak murahan. Tapi sekarang aku bersikap murahan seperti ini. Bahkan aku melakukannya dengan pamannya. Apa dia masih menyukaiku? Tadi dia terdengar sangat kesal.

“Sedang memikirkan apa?” tiba-tiba pria setengah baya itu, paman Sehun sudah berdiri lagi di hadapanku dengan gelas di tangannya.

“Oh, tidak.” Jawabku singkat. Aku terdiam sebentar, pria itu meletakkan gelas yang digenggamnya ke atas meja. Matanya intens tetap menatapku. “Maaf, aku mau pulang saja.” Kuraih tasku dan hendak pergi.

“Kau mau kemana?” pria itu menangkap tanganku dan menahanku agar tidak pergi.

“Maaf saya tidak bisa melakukan ini.”

“Wae? Bayaranmu kurang tinggi?”

“Tidak begitu. Tapi saya tidak bisa…”

“Apa maksudmu tidak bisa? Bukankah tadi kau sendiri yang sudah setuju hah?” tamparan keras mendarat di pipiku.

“Maaf, tapi saya tidak bisa. Saya masih di bawah umur.”

“Apa-apaan? Yang lainnya juga semua di bawah umur. Kemari.” Ditariknya rambutku dengan kasar kemudian dia menghempaskanku ke sofa tempat aku duduk tadi.

“Jangan…” aku berusaha menahan tangannya saat dia membuka paksa kancing kemejaku.

“Jangan heh? Lihat apa yang akan kulakukan.Kau pikir kau bisa bermain-main dengan orang dewasa seperti ini? Setelah setuju, tiba-tiba bilang tidak mau dan ingin pulang hah?” dibentaknya aku dengan sangat kasar, tangannya masih bekerja dengan bajuku. “Kerja dulu kau baru pulang.” Sekali lagi dia menampar wajahku. Padahal sewaktu bertemu di jalan tadi dia sangat ramah, kenapa tiba-tiba jadi sangat kasar? Dasar orang dewasa brengsek.

“Hentikan itu.” Aku menangis memohon tapi dia seolah tuli dan tidak mau mendengarku sedikit pun. “Sialan. Oh Sehun tolong aku.” Mulutku bekerja sendiri meminta pertolongan Sehun.

“Lepaskan tangan kotormu itu paman brengsek.” Tiba-tiba tubuh pria tua itu terjungkir ke samping. Sehun berdiri di depan sofa dengan satu kakinya terangkat di udara, bekas menendang pamannya. Aku segera berdiri dan sembunyi di balik Sehun.

“Apa-apaan kau?” pria itu bermaksud menarikku dari belakang Sehun tapi dihentikan pemuda itu.

“Aku sudah menelepon bibi dan katanya malam ini dia tidak jadi lembur. Dia mengutukmu. Dan lihat saja akan bagaimana kau besok saat kuadukan pada orangtuaku kau mau memperkosa pacarku.” Suara Sehun dingin dan memerintah. Pamannya terdiam. “Ambil tasmu. Kita pergi.” Perintah Sehun padaku dan langsung kuturuti.

Sehun menarikku keluar dari rumahnya yang bagaikan istana itu. Masih sambil diam. Dia memboncengku dengan sepeda motornya dan pergi tidak tahu entah kemanapun juga. Aku membiarkannya membawaku.

“Bodoh.” Katanya tanpa memandangku. Matanya masih terpaku pada jalanan di hadapan kami. “Ternyata kau ini juga pengecut.” Sambungnya.

“Memang aku bodoh.” Ujarku. “Maaf dan terima kasih.” Aku tersenyum dan memeluknya lebih erat. Aku senang dia menolongku.

“Bodoh.” Kudengar dia menjawab tapi aku yakin meski dia mengataiku bodoh pasti saat ini dia tersenyum.

“Ngomong-ngomong aku tidak bisa memaafkan kebodohanmu itu, membiarkan pamanku membayarmu untuk seks.” Ujar Sehun sambil menggigit jagung bakar (?) miliknya. Setelah menyetir cukup lama, Sehun memutuskan untuk membawaku ke warung penjual jagung bakar dekat pantai. “Setelah segala yang kulakukan untukmu, termasuk membayar biaya bar setiap malam dan mengakui contekanmu sebagai milikku, ternyata begini kau membalasnya? Dengan menggoda pamanku.”

“Aku kan sudah minta maaf. Lagipula aku tidak menggoda pamanmu.”

“Tetap saja aku tidak memaafkanmu.”

“Wae?”

“Kau tidak terdengar tulus.”

Aku mengernyitkan dahiku. Kenapa dia bilang aku tidak terdengar tulus? “Lalu harus bagaimana agar aku terdengar tulus? Maafkan aku yang mulia.” Ujarku sambil membungkuk. “Begitu?”

“Tetap saja tidak tulus.”

“Lalu harus bagaimana?”

“Kau mau kumaafkan?”

“Ne.” Kuanggukkan kepalaku agak semangat.

“Aku mau kau melakukan sesuatu untukku kalau begitu.

“Apa?”

“Kau yakin mau?”

“Ne, memangnya apa?”

Sehun menyeringai padaku. Tiba-tiba aku merasakan firasat buruk. Dia menarik tubuhku mendekat padanya. “Kalau begitu hibur aku malam ini dengan tubuhmu.” Bisiknya tepat di telingaku. Tubuhku bergetar merasakan nafasnya yang terasa menggelitik telingaku. “Dengan begitu kau akan kumaafkan. Kau mau?” Tanpa diperintah oleh otakku, kepalaku mengangguk begitu saja membuat senyum puas terlukis di wajah tampan Sehun. Astaga, apa yang sudah kusetujui untuk kulakukan pada Sehun?

 

Kemarin sepanjang malam di rumah pengembara burung gagak menggauk-gauk.

“Hari ini berjalan berapa batu lagi ke mana?”

“Ke gunungkah? Ke ladangkah?”

Senandung angin itu kembali bernyanyi di otakku. Tapi aku tidak takut dan sepi mendengarnya bernyanyi sendiri di telingaku. Aku tahu melanjutkannya.

 

Kemanapun aku akan melangkah

 asalkan pria tinggi berambut coklat ini tetap di sampingku

=END=

Komen kalian semacam makanan author🙂 Komen komen komen

60 thoughts on “The Wind’s Hum

  1. Keren gilaaaa!!!
    Sumpah jadi nge fly sendiri bacanya >.<
    daebak! Bahasa yg dipake matang sekali, konfliknya juga bagus❤ aku suka banget😀

  2. Wah kerenn,,, mnurut’ku ya thor ff’a bgus !! Walau sehun’a rada2 mesum, tpi okelah.. Nae sbenar’a jga pnya blog’s sayang’a nae dkeluarin dri blog itu karna umur’ku thor.. Pdahal crita ku jga lumayan cuma yadong semua… Ckckck,

    Gpp’lah jdi plajaran… Nae kan baru 13 thn’ tpi dah ahli tntang yadong, *what gua jdi curhat* what ever

    Thanks thor, daebak nih ff bgus bnget

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s