The Precious One

chen

Tittle : The Precious One

Author : Charismagirl

Cast :

  • Kim Jongdae (Chen)
  • Lee Rene (Irene)

Genre : Romance, Life-Marriage, Little Bit Action

Rating : PG-15

Length : One-Shoot/ fluff

A.N : Finally done! xD Hope readers, especially Ghe eonni like it >o<

***

Suara desingan peluru terdengar bising dan menyebalkan ketika sekelompok agen resmi negara mengejar para penjahat yang telah merampok bank terbesar di Seoul, Korea Selatan. Seorang gadis yang bernama Lee Rene atau akrab dipanggil Irene, yang termasuk agen terpercaya itu sudah beberapa kali melepaskan pelatuk dan menembakkan pelurunya ke udara, namun penjahat itu sama sekali tidak menghentikan langkahnya.

Mereka melakukan aksi kejar-kejaran di sela gedung yang tinggi. Gadis itu terus melangkahkan kakinya. Berlari mengejar penjahat itu. Ia tidak takut, meskipun ia adalah wanita. Baginya bekerja sebagai agen adalah impiannya sejak kecil. Dan entah mengapa memegang pistol seperti ini membuatnya merasa kuat.

Gadis itu membenarkan letak komunikatornya saat benda itu berbunyi. Ia mengerang kesal. Masalahnya bunyi itu berbeda dari biasanya. Bunyi khusus yang sengaja ia atur jika itu panggilan dari suaminya. Yah, suami. Gadis itu sudah menikah sekitar enam bulan yang lalu.

Kemudian Irene menekan salah satu tombol di komunikatornya itu.

“Ada apa?” tanya gadis itu malas, ia masih dalam keadaan tetap berlari.

“Agen Lee! Kau dimana? Aku sudah mendapatkan dua orang. Satu lagi pasti masih bersamamu kan? Kau tidak apa-apa?” tanya pria itu dengan nada khawatir yang kentara.

“Oh ayolah, ini bukan pertama kalinya aku menjalani misi seperti ini. Biarkan aku menyelesakan semuanya sendiri.”

Titt! Wanita itu mematikan komunikatornya secara sepihak. Lantas berhenti melangkah ketika penjahat itu berhenti. Rupanya mereka berada di jalan buntu. Dan penjahat itu sudah tidak bisa kemana-mana lagi.

Irene mengangkat satu ujung bibirnya. Dengan cukup percaya diri menyatakan bahwa misinya kali ini akan berhasil. Memangnya pria itu bisa apa lagi? Ia sudah terjebak di jalan buntu dan sebaiknya Irene memberi pilihan untuk di bawa secara baik-baik atau secara kasar. Irene akan dengan senang hati memenuhi permintaannya.

“Harusnya kau hapal betul seluk-beluk jalan ini kalau kau memutuskan untuk melarikan diri dengan kaki saja,” ucap Irene dingin. Sok menasihati.

Gadis itu mengangkat pistolnya dan mengarahkan ke wajah pria itu tanpa berniat mendekat. Membiarkan mereka berdua berada dalam jarak beberapa meter. Dan bukannya merasa takut, pria itu justru menampakkan seringaiannya yang menyebalkan membuat Irene ingin sekali memukul wajah pejahat itu dengan tinjunya.

“Berbalik!” Titah Irene. Gadis itu tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Ia melangkahkah kaki mendekat meski masih dalam keadaan waspada.

Dor! Dor!

Terdengar dua kali suara tembakan yang hampir bersamaan entah berasal dari mana membuat gadis itu terkesiap. Ia melihat senjata yang tadi dipegang penjahat itu melayang ke udara lalu teronggok ke lantai akibat tembakan yang berasal dari arah lain.

Jadi, penjahat itu masih berusaha melawan Irene. Dan ngomong-ngomong siapa yang baru saja menyelamatkannya dari tembakan penjahat itu.

“Kau lengah nona Lee,” suara berat seorang pria yang begitu dikenalnya tiba-tiba terdengar menakutkan. Kim Jongdae, suaminya. Irene sudah mengatakan bahwa ia bisa menjaga diri dan mengalahkan penjahat itu. Tapi ternyata ia belum bisa membuktikan perkataannya sendiri. Pria itu pasti akan marah padanya.

Pria itu menekan alat komunikatornya, mencoba menghubungi sekelompok polisi yang bekerja sama dengan mereka.

“Kami di utara gedung putih,” ucap Jongdae.

Dan tidak lama setelah Jongdae mematikan komunikatornya, beberapa orang polisi datang dan dengan sigap menangkap penjahat itu. Sesuai prosedur.

“Kami akan membawanya ke pusat pemerintahan untuk keperluan interogasi. Terimakasih Agen Kim.”

Jongdae mengangguk mengiyakan. Kemudian para polisi itu pergi hingga menyisakan mereka berdua saja.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya jika saja aku tidak menembak senjata si brengsek itu. Kau sudah membahayakan nyawamu sendiri Rene-ya,” ucap Jongdae putus asa. Ia hanya takut kalau terjadi apa-apa pada istrinya itu.

“Jangan terlalu khawatir Dae-ya, sudah ku katakan kalau ini bukan pertama kalinya.”

Irene beranjak dari sana. Tapi baru beberapa langkah ia pergi, ia merasa nyeri di pergelangan kaki kanannya membuatnya harus berhenti. Irene menunduk, mengamati bagian bawah kakinya itu. Ada sobekan kecil di bagian bawah celananya itu. Hingga akhirnya ia menyadari bahwa itu adalah luka yang disebabkan oleh tembakan penjahat tadi, yang memang meleset ke tubuhnya, tapi malah mengenai bagian tubuh yang lain.

Peluru itu tidak menembus ataupun masuk ke dalam kakinya. Peluru yang ditembakkan penjahat itu hanya melewati tepian kakinya saja.

“Sial! Jadi tembakan pria tadi mengenai kakimu? Ck!”

Jongdae mendecak sebal. Dengan meredam kemarahannya, pria itu menghampiri Irene. Lantas menarik tangan gadis itu dengan paksa dan merangkul pinggang gadis itu. Jongdae membantu gadis itu berjalan. Sementara Irene hanya bisa pasrah. Ia tidak punya alasan yang cukup kuat untuk menolak bantuan pria itu.

“Kita langsung pulang ke rumah!” ucapan Jongdae terdengar seperti perintah yang tidak bisa dibantah.

“Tapi, kasusku…”

“Ini perintah,” Jongdae menambahkan. Membuat gadis itu tidak dapat berkutik lagi.

***

Jongdae adalah atasan Irene. Kedudukan Jongdae di agen milik ayahnya lebih tinggi dari Irene. Jongdae adalah anak satu-satunya dari pemilik agen terbesar di Korea Selatan yang bekerja sama dengan pemerintah pusat untuk memberantas kejahatan yang sulit dilakukan oleh polisi biasa.

Sementara Irene sudah bekerja cukup lama pada mertuanya itu. Ia mendapat pelatihan sejak sekolah menengah atas. Mulai dari bela diri sampai cara meggunakan pistol dengan baik dan benar. Dan menjadi agen haruslah cerdik. Tuan Kim sudah melihat kecerdikan yang dimiliki gadis itu, hingga dengan senang hati Tuan Kim mengajak Irene untuk bekerja padanya.

Mereka berdua baru saja tiba di rumah mereka.

Irene mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah. Tetesan darah berceceran di lantai keramik yang berdasar putih itu. Irene bergidik ngeri melihat begitu banyak darah yang keluar.

“Tunggu disini,” ucap Jongdae lantas pergi ke dalam, kemudian tidak lama kembali lagi dengan membawa seperangkat kotak obat.

Jongdae menggulung celana panjang gadis itu dengan hati-hati. Takut menyentuh bagian kakinya yang terluka. Jongdae membersihkan luka itu dengan cairan alkohol, menghindari terjadinya infeksi.

Irene hanya bisa meringis. Rasanya perih sekali.

“Kau harus istirahat beberapa hari,” ucap Jongdae dingin. Ucapan pria itu seperti sebuah peringatan yang cukup mengerikan.

“Hey, ini bahkan goresan kecil,” protes Irene, mencoba mempertahankan nada bicaranya yang rendah. Karena jika ia memprotes pria itu dengan sebuah teriakan, ia pasti akan diminta istirahat lebih lama lagi, bahkan tidak menutup kemungkinan kalau Jongdae akan memberhentikannya.

“Goresan kecil kau bilang?” Jongdae menatap gadis itu dengan mata yang menyipit. Tidak habis pikir kenapa gadis itu lebih memilih terjun bekerja daripada merawat bagian tubuhnya yang terluka itu sampai sembuh.

“Ya, mungkin besok aku sudah bisa berjalan, atau mungkin berlari lagi.”

“Jangan terlalu percaya diri nona Lee! Lihat! Kau bahkan memerlukan jahitan kecil untuk kakimu itu.”

Jongdae mengangkat pelan kaki Irene ke pangkuannya, sehingga Irene meringis lebih keras saat kakinya itu berubah posisi. Jongdae melepaskan tangannya. Merasa bersalah atas kesakitan gadis itu.

Kemudian Jongdae merogoh ponselnya dalam saku celana. Menekan beberapa tombol untuk melakukan panggilan, lalu menempelkan benda itu di telinganya.

“Dr. Oh, aku perlu bantuanmu sekarang. Datanglah ke apartemenku dan bawa peralatan medismu.”

Jongdae meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu mengambil kain untuk menekan luka Irene. Pria itu tidak bicara apa-apa lagi, membuat Irene yakin kalau suaminya itu sedang marah besar padanya.

***

“Pendarahannya sudah berhenti. Dia hanya perlu istirahat yang cukup dan meminum obat antibiotiknya sampai luka itu mengering,” jelas Dr. Oh ketika ia sudah mencapai perbatasan pintu.

“Terimakasih Sehun-ah,” ucap Jongdae.

“Sama-sama, Hyung. Satu lagi, kau harus menjaga istrimu dengan sungguh dan jangan buat dia tertekan dengan wajahmu yang seperti itu.”

Sehun tertawa pelan. Sedikit mengajak bercanda Hyung-nya yang sedang memasang wajah tegang itu.

Sehun bukan orang asing. Ia masih punya hubungan keluarga dengan Jongdae. Umurnya yang lebih muda mengharuskannya memanggil Jongdae dengan sebutan Hyung. Sekarang ia bekerja sebagai dokter di rumah sakit daerah Gwang-Ju. Kemudian merangkap menjadi dokter pribadi keluarga Kim.

“Baiklah Hyung, aku harus kembali ke rumah sakit. Bye.”

Sehun sedikit membungkuk sebelum benar-benar meninggalkan apartemen Jongdae.

Jongdae menutup pintu, lantas kembali ke ruang tengah. Mendudukan diri disamping Irene yang sejak tadi hanya menunduk sambil meratapi luka dikakinya.

Pria itu meraih remote televisi lalu menyalakannya. Sama sekali tidak mengajak Irene bicara. Dia rasa, dia perlu mengerjai istrinya itu sekali-kali.

Irene mengangkat kepalanya, menatap Jongdae dari arah samping.

“Dae-ya…”

Jongdae belum mau menyahut.

Yeo-bo,” panggil Irene sekali lagi, dengan kata yang terpotong. Ia bahkan memelankan suaranya saat mengucapkan kata itu. Terdengar cukup menggelikan bagi telinganya sendiri.

Jongdae memalingkan wajahnya ke arah lain, menghindari tatapan Irene. Karena ia harus menyembunyikan wajahnya yang diam-diam tersenyum mendengar Irene memanggilnya seperti itu.

“Ada apa?” balas Jongdae, pura-pura cuek.

“Aku minta maaf.”

“Untuk apa?”

“Dae-ya! Lihat aku!”

Jongdae menghadapkan wajahnya pada istrinya. Penasaran dengan apa yang akan dikatakan atau mungkin dilakukan oleh istrinya itu.

“Aku minta maaf jika membuatmu marah dan mengabaikan peringatanmu.”

Jongdae, mengangkat satu alisnya. Itu saja? Pikirnya.

“Sudah?”

“Sudah. Memangnya apa lagi?” tanya Irene dengan kebingungannya.

“Tidak ingin menciumku? Kau kan sedang minta maaf…” protes Jongdae sembari menahan tawanya.

“Memangnya kalau minta maaf harus ada ciumannya? Teori macam apa. Ck!”

Irene mulai tampak kesal. Tapi gadis itu berusaha mempertahankan nada bicaranya agar tetap tenang. Karena ia tidak bisa marah begitu saja, karena ia sedang berada dalam posisi ‘kesalahan ada padanya’.

Tiba-tiba saja Jongdae memeluk Irene. Pria itu tertawa kecil membuat bahunya sedikit bergerak-gerak.

“Hey, hey, apa yang baru saja terjadi?”

Irene mendorong tubuh Jongdae, hingga pelukan Jongdae  terlepas. Irene menatap suaminya dengan pandangan menyipit.

“Hanya sedikit mengerjaimu, sayang.”

Jongdae mencubit hidung Irene dengan gemas. Lalu beralih menyelipkan rambut Irene ke belakang telinganya.

“Lain kali kita harus mengerjakan kasus bersama-sama agar aku bisa melindungimu. Aku tidak ingin kau terluka seperti ini lagi. Kau setuju?”

“Kalau aku tidak setuju, apa kau akan mengabulkannya?”

“Tidak.”

Jongdae mencium bibir Irene dengan tiba-tiba, membuat  gadis itu mendadak merona, merasakan aliran darah mengalir ke wajahnya. Atmosfer pun menghangat.

Jongdae menampakkan senyum terbaiknya setelah ia melepaskan ciuman mereka. Kemudian Jongdae memeluk istrinya lagi. Kali ini lebih lama. Merasakan kehangatan dari suhu tubuh mereka yang menyatu. Menikmati saat-saat mereka hanya berdua. Sejenak berhenti memikirkan masalah pekerjaan yang banyak menyita waktu mereka berdua.

“Aku memaafkanmu, Rene-ya…”

You’re the precious one.

END

What the… COOL JONGDAE!! *o* huahaha

Leave comment, la~

57 thoughts on “The Precious One

  1. I may be the (always) late reader but…gilaaaa baru di ff ini aku nemu karakter Jongdae jd serius!!!😂😂😂 biasanya jd cowok penyabar dan murah hati, baru kali ini baca karakter yg serius😂 nice! Keep writinggg ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s