Diposkan pada Baek Hyun, Chan Yeol, Chapter, EXO-K, EXO-M, Freelance, Lu Han, Mistery, Romance, SCHOOL LIFE, Se Hun, Series

Paradise Kiss #2

Title : Paradise Kiss [Chapter 2 – Wine and Apple Mixed]

Author : Bublebit (@Novita_Milla)

Genre : Romance, School life, Mystery, A Little Bit Yadong (?)

Rating : PG 15 – NC

Cast : Lee Seolhyun, Byun Baekhyun, Xi Luhan, Oh Sehun, Park Chanyeol, Nam Jihyun (4Minute)

a/n : Masih ingat dengan fanfic Paradise Kiss: Biology Questions? Nah, saya ini Authornya! /kaga ada yang nanya/ Jadi setelah fanfic itu rilis dan mendapat respon cukup ‘ehem’ dari readers, saya memutuskan untuk membuat fic berchapter.
Previous

Chapter 1 – Biology Questions

 

Author’s side
“Ya! Apa yang kalian pikirkan?” Tanya Seolhyun membangunkan imajinasi liar ketiga orang di samping kanan-kirinya. Baekhyun, Luhan, dan Sehun yang sempat lupa daratan beberapa detik lalu kemudian mengalihkan pandangannya—mencari objek lain.
Suasana berubah kikuk. Seolhyun yang menyadari keadaan ini mengambil alih dengan melanjutkan mengerjakan soal. Kembali menulis.
“Kau yakin?” Tanya Luhan yang sedari tadi berdiri di samping Seolhyun duduk. Luhan kelihatan sekali mengamati tulisan Seolhyun. Melihat jawaban Seolhyun yang terlihat ngawur.
“Bagaimana caramu menjelaskan pada Mr. Shim jika… yeah, kau tahu lah!” Sambar Baekhyun meremehkan.
“Lalu?” Tanya Seolhyun berharap Luhan atau Baekhyun memberi sedikit petunjuk.
“Apakah harus dipraktikkan? Kita akan kehilangan waktu yang cukup banyak karena menyelesaikan satu soal gila ini.” Sehun menyahut. Tidak setuju dengan pertanyaan Luhan dan Baekhyun.
“Maaf saja, aku tak yakin dengan jawaban Seolhyun yang terdengar ngawur.” Luhan menyandarkan tubuhnya di tepi meja—dengan gaya sok cool-nya.
Baekhyun mengangguk, “Aku tak akan setuju dengan caramu menjawab pertanyaan ini, Byulhyun. Lebih baik kita praktekkan besok pagi di kelas P.E.”

***

Seolhyun menselonjorkan kakinya di tribun Gedung Olahraga. Badannya serasa remuk karena harus bermain baseball dengan para pemuda ganteng yang ternyata pinter banget remukin tulang. Apalagi pemuda yang belum lama ini sembuh dari penyakit kronis (?) akibat ulah Seolhyun.
Dan inilah yang Seolhyun dapat dari praktek gemilang hasil buah otak dan ide Byun Baekhyun.
“Gimana? Badannya udah baikan?”
Sehun tiba-tiba sudah duduk di samping Seolhyun.
“Eh.. Lumayan.” Bohong Seolhyun sambil menggaruk tengkuknya—kikuk.
“Ayo!” Sehun menarik pergelangan tangan Seolhyun. Tak lupa menebarkan senyum termanis miliknya.
“Kemana?”
Sehun membalas dengan senyuman—lagi.
Entahlah sepertinya pemuda itu tak pernah menghiraukan temannya yang lain hari ini. Pikirannya sudah konslet dan arah pandangan matanya sangat tidak realistis.
Seolhyun menoleh ke belakang di samping pemuda bernama Oh Sehun ini. Ia tersenyum melihat Baekhyun yang menatapnya dengan pandangan… menjijikkan?

Flashback
Pagi ini Seolhyun berangkat sekolah dengan tergesa. Bagaimana tidak jika tadi malam ia tak begadang memikirkan ide Baekhyun yang entah apa itu. Terlebih ketika Seolhyun sampai di dalam kelasnya, ia tak menemukan satu umat sekalipun.
Seolhyun mendesah kecewa. “Lee Seolhyun, it’s time to get punishment.” Ucap Seolhyun pelan.
Ia menghampiri bangkunya. Meletakkan tas dan berlari menuju Gedung Olahraga. Namun, nasib sial sepertinya terus menghantui diri Seolhyun sampai sekarang. Hampir saja ia ingin keluar dari kelas tapi seketika itu juga pintu kelas tertutup. Gordyn jendela dengan cepat tertutup. Begitupun seterusnya sampai nafas Seolhyun tecekat.
Seolhyun gugup. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tak ada yang ganjil kecuali satu hal. Byun Baekhyun yang bagaimana bisa tidur di meja paling pojok belakang. Padahal, seingat Seolhyun, ia tak melihat sosok itu beberapa menit yang lalu. Lagi pula, Baekhyun selalu duduk di tengah.
Seolhyun perlahan berjalan menuju tempat Baekhyun tertidur. Berniat membangunkannya. Setidaknya, jika Seolhyun dihukum, ia tak akan sendirian menerima hukuman itu.
Baekhyun tak bergeming dari tidurnya. Apalagi dengan posisi menyandarkan kepalanya di dinding dan kedua tangannya dilipat di depan dada. Sungguh menyenangkan.
Seperti lupa dari rencana awal, Seolhyun justru duduk di depan meja Baekhyun. Entah setan apa yang merasuki tubuh Seolhyun, tiba-tiba tangan kotornya membelai rambut Baekhyun. Kemudian matanya meneliti lekuk wajah sempurna Baekhyun tentu dengan tangan kesetanannya.
Tangan Seolhyun membelai kening Baekhyun. Lalu turun ke bawah menuju alis, kelopak mata, pelipis, hidung, sampai tangan Seolhyun berhenti pada pipi mulus Baekhyun. Mulus tanpa sedikitpun celah.
Seolhyun tanpa ragu mendekati wajah Baekhyun. Dekat, semakin dekat. Bibir merah muda Seolhyun kini tinggal 10 cm dengan sasaran tembak Seolhyun, pipi mulus yang pernah Seolhyun sentuh sebelumnya.
Seolhyun memejamkan mata setelah ia yakin bibirnya akan mendarat.
Lama… Seolhyun masih memejamkan mata, tanpa berpikir ada yang salah. Kemudian detik berikutnya, sepasang bola mata Seolhyun terbuka lebar. Ia baru menyadari bahwa Baekhyun mencium tapat di bibirnya. Setelah sebelumnya tertidur tak bergerak.
“Rasanya manis.” Ujar Baekhyun setelah melepas pertautan. Ia menjilat bibirnya sendiri lalu melanjutkan, “Kau salah.”
Seolhyun yang masih berdiam diri, belum cukup sadar. Ia menatap Baekhyun dengan kikuk, “Aku akan segera mengganti jawabanku.”
Seolhyun cepat-cepat berjalan cepat menuju bangkunya. Mengeluarkan essay yang tadi malam ia buat—lalu menggantinya. Tapi, Baekhyun dengan cekatan menarik lengan Seolhyun hingga kini si gadis terjatuh dalam pelukan Baekhyun.
“It’s not over.”
Baekhyun meraba punggung Seolhyun, “Aku tahu kau tak cukup pintar. Tapi, setidaknya kau tahu kan apa yang akan terjadi?”
Seolhyun mengangguk, “Haruskah aku mengikuti arus?”
Baekhyun menyeringai, mengisyaratkan kata ‘iya’. Ia semakin menundukkan kepalanya—mendekati wajah Seolhyun, “Permainan kita masih panjang. Jadi, kau tidak boleh bertanya apapun itu yang akan kau lakukan untukku.”
Seolhyun mengangguk penuh tanda tanya. Ia hanya bisa mengangguk lalu menggapai tengkuk Baekhyun. Menariknya lebih dalam dalam dekapannya.
Jadi, ini yang dimaksud hukuman dan praktek gila?
Flashback End

***

Karena suatu hal yang sangat Seolhyun benci, akhirnya gadis yang masih mengenakan seragam SMA itu harus terpenjara sesaat bersama pemuda aneh bernama Oh Sehun and the gank. Jujur saja, kali ini lebih menegangkan mengingat Seolhyun harus berhadapan dengan pemuda ganteng di rumah gedenya sendiri. Mungkin akan lebih dramatis jika mereka melakukan hal-hal aneh di malam minggu dengan sinar bulan yang kedengarannya cukup bersahabat. Apalagi langit diluar terlihat menyenangkan untuk dilihat dari balkon rumah sunyi Sehun.
Ingat, itu hanya mungkin.. Dan yang lebih Seolhyun sesali adalah, mengapa pemuda lain semacam Xi Luhan harus datang disaat yang sama sekali tidak tepat? Saat keduanya hampir bermesraan dengan menjulurkan bibir masing-masing pada lawannya.
Dan yang membuat Seolhyun menyesali perbuatannya untuk menerima tawaran Sehun datang ke rumahnya adalah… Untuk apa Baekhyun datang? Tanpa diundang dengan alasan tak masuk akal. Mencari burung pelatuk yang hilang? Sejak dua minggu yang lalu? Yang benar saja!
“Kalian datang?” Tanya Sehun dengan nada bicara seolah menerima kehadiran tamu tak diundang. Tanpa permisi pula.
“Untuk menemani bujangan tua, Oh Sehun. Apa niat kami salah? Sangat mengganggu?” Luhan tertawa di samping Baekhyun. “Ayolah Hun, kau takkan membuat Baekhyun kita ketakutan di rumah sendiri tanpa burung pelatuk bukan?”
Sesungguhnya Seolhyun ingin tertawa mendengar ocehan Luhan. Namun, ia cukup waras agar tak mendapatkan pukulan sempurna bola baseball Baekhyun.
Baekhyun yang tak setuju dirinya dijadikan bahan bully-an malam ini, akhirnya angkat bicara. “Luhan, kupikir dokter di depan rumah Sehun cukup senang menerima kehadiranmu.”
Menyindir? Sangat jelas!
“Ayolah! Kau tahu aku sangat jujur kan Baekhyun sayang?” Menggoda..
“Kau menjijikkan, Xi Luhan!” Ujar Baekhyun sarkartis. Kemudian ia berlalu—dari Luhan yang tidak cukup normal hari ini—menuju sofa panjang di depan Sehun tanpa permisi.
Baekhyun melihat beberapa buku tergeletak rapi di atas meja. Membuka sebentar lalu menutupnya, membanting di atas meja dengan kasar. “Aku lapar.”
“Sangat terlihat jelas dari raut wajah melasmu, Byunnie sayang!”
Luhan segera berjalan menuju dapur dengan langkah cepat. Kemudian di susul Sehun di belakang, tanpa Seolhyun yang terlalu menikmati sinetron gratis 4 Dimensi.
Baekhyun yang sepertinya sedang bad mood tak mau bersikap kekanakan seperti melempar bantal dan main petak umpet bahkan ‘stone paper scrissor’ bersama teman bisnisnya, Luhan. Baekhyun memilih menenggelamkan pikirannya dengan membaca segelintir pamflet promosi sebuah resort baru di Pulau Jeju—yang ia ambil di tengah-tengah buku Sehun.
Baekhyun pikir, sepertinya menyenangkan bermain-main sebentar di Resort Keluarga Sehun musim panas nanti. Lagi pula—sebelah alis Baekhyun terangkat ke atas. Ia melihat orang lain berdiri di dekat balkon. Memperhatikannya tanpa henti sejak kepergian Luhan dan Sehun.
Baekhyun memaksakan karbondioksida keluar dari paru-parunya. Lalu berkata tanpa melihat yang bersangkutan, “Sudah puas melihat wajah tampanku?”
“Ya?” Tanya Seolhyun gelagapan. Tersadar dari lamunannya.
“Kubilang, sudahkah kau puas melihat wajah tampanku?” Tanya Baekhyun lagi dengan suara keras dengan penekanan setiap kata. Seakan kejadian kemarin pagi di kelas bukanlah hal yang besar. Bukanlah hal yang patut dibahas ataupun dibanggakan dan dibesar-besarkan.
“Ti—tidak. Aku hanya berpikir kalau wajahmu terlihat aneh malam ini. Sedikit lebih pucat ketika kau masih di rumah sakit tempo hari.” Walaupun setiap hari selalu pucat seerti nenek lampir.
“Akhir-akhir ini aku tak mengambil waktu tidur yang cukup.” Baekhyun mengangkat bahunya. Meletakkan buku plus pamflet di tempat semula lalu melanjutkan cerita, “Sejak kecelakaan akibat ulahmu, aku ketinggalan banyak pelajaran. Yeah, walaupun aku juga belajar dan membaca sedikit di rumah sakit agar tidak jauh ketinggalan. Tapi sialnya, Dokter Afrika itu ngotot agar aku beristirahat cukup meskipun aku tidur lebih dari 10 jam per hari. Dan itu sangat membosankan, kau tahu!?”
Seolhyun mulai tertarik dengan curhatan Baekhyun. Tanpa ia sadari, Seolhyun kini duduk manis di samping Baekhyun dengan bersemangat.
“Kemudian, setelah 11 hari terkurung di tempat berbau busuk itu, aku kembali dengan otak yang belum siap. Dengan terpaksa—mengorbankan harga diri setinggi langitku—aku meminjam catatan ketiga orang yang sangat beruntung bisa berteman dengan pemuda tampan sepertiku.” Baekhyun memberi jeda, “Kemudian, untuk apa kau duduk di dekatku seperti obat nyamuk?”
Seolhyun tergagap—lagi. “Hanya ingin menyimak lebih jelas. Kau begitu antusias bercerita, aku sendiri tak tega untuk mengabaikanmu.”
“Kau tertarik padaku?”
“Mungkin.” Jawab Seolhyun cepat tanpa berpaling dari wajah pucat Myungsoo, “Seandainya kau lebih lembut, menawan, dan baik hati seperti G-Dragon, member boyband Mas Ganteng. Apalagi jika rambut hitam jadulmu itu diubah seperti di Fantastic Baby. Tapi sayangnya, itu sangat mustahil terjadi!!”
Pembuluh darah Baekhyun hampir saja meledak jika saja tamu tak diundang lainnya tak membuat keributan.
“Wah wah wah, Baekhyun kita sudah move on?”
Chanyeol datang-datang membuat keributan sampai lantai dasar. Dapat dilihat setelah dua mahkluk kasar bernama Luhan dan Sehun menuju lantai atas dengan panci emas yang tampak masih panas.
“Move on dari sapa? Bukannya Myungsoo itu— Aww!” Luhan yang terlalu jujur menjerit kesakitan ketika ujung kakinya diinjak secara sengaja oleh lawan mainnya, Chanyeol. “Baekhyun kan berkelainan.”
“Berkelainan?” Tanya Seolhyun penuh tanya alias kepo.
“Sejenis terlalu normal. Lagi pula, dia sangat hobby berkencan dengan para gadis di luar sana. Tapi entahlah, mereka—gadis-gadis itu akan meninggalkan Baekhyun 2-4 hari setelah mereka jadian. Sejenis… bermasalah?”
“Kau sangat tidak sopan, Chanyeol.”
“Selalu, Byunnie sayang!” Chanyeol dan Luhan kembali tertawa.
Kemudian prosesi pem-bully-an Baekhyun kembali berlanjut sampai selesainya mereka makan. Sampai drama korea favorit Chanyeol selesai. Sampai Luhan ditelepon Ibunya hampir 50 kali. Sampai Ferguson selesai memarahi anak-anak MU. Sampai entah bagaimana hal ini bisa terjadi, Jihyun juga bergabung ke dalam tim di malam hari minggu yang sangat cerah ini. Sampai mereka selesai bermain ‘SPS’ alias ‘batu kertas gunting’ dengan juara bertahan sang Luhan.
Sampai mereka menyadari bahwa mereka—Seolhyun, Baekhyun, Sehun, Luhan, Chanyeol, Jihyun—sepakat akan berlibur di Pulau Jeju. Tepat di Resort baru Keluarga Sehun.

***

Musim panas yang indah.
Setidaknya itu yang Seolhyun pikirkan. Mengingat bahwa ini adalah kali pertamanya berlibur di Pulau Jeju secara GRATIS! Pikirkan bagaimana beruntungnya Seolhyun karena terbang dari Seoul ke Jeju menggunakan maskapai penerbangan khusus milik Keluarga Park yang sangat kaya. Menginap secara gratis di Resort Sehun. Dan betapa beruntungnya Seolhyun bisa satu kamar dengan seorang Nam Jihyun si primadona paling cantik.
Sore hari yang indah di pesisir pantai sambil menikmati sunset. Tanpa diganggu oleh empat pria tampan ataupun seorang gadis cantik, Seolhyun bersantai dibawah payung besar dengan sederetan pria tampan Korea ataupun mancanegara.
Dan yang paling membuat liburan Seolhyun begitu terkesan adalah ketika seorang perempuan yang sangat mirip dengan Yoona SNSD mengajaknya berkenalan 5 menit lalu. Bahkan, sampai saat ini, Seolhyun masih berbincang-bincang dengannya tanpa henti.
Namun anehnya Seolhyun tak begitu tertarik mengetahui nama gadis itu. Tidak begitu penting.
“Kudengar, malam ini ada pesta disana.” Gadis kloningan Yoona itu menunjuk sebuah tempat elit di atas sana.
Seolhyun menurunkan kacamata hitamnya—mengikuti arah pandang Yoona 2.
“Pesta si pemilik 40% saham tempat wisata di Jeju. Kedengarannya menarik. Lagi pula, pestanya terbuka untuk umum. Siapapun boleh datang.”
“Memangnya, ada acara apa hingga orang itu mengadakan pesta untuk umum?”
“Entahlah. Kupikir ini adalah kesempatan sekali seumur hidup agar bisa bertemu orang-orang penting dan pemuda tampan sekelas boyband.”
Seolhyun mengangkat bahunya acuh, “Mungkin.”

***

Seolhyun tak berniat mengikuti pesta di venue yang diinformasikan penduplikat Yoona tadi sore. Namun, bagaimana berita itu bisa tersebar sangat cepat, Jihyun dan Chanyeol ngotot mengajaknya mengikuti pesta itu.
Tapi entahlah, Seolhyun tak tertarik mengikuti pesta itu. Apalagi ia sedang tidak membawa dress yang pantas untuk disejajarkan kalangan atas. Tidak, Seolhyun cukup tahu diri. Hingga ia tenggelam dalam kesendiriannya di kamar tengah malam ini.
Seolhyun menghembuskan napasnya frustasi. Sejak satu jam lalu ia tak bisa tidur. Ia tak terbiasa tidur di luar kamarnya, di luar rumahnya. Bahkan ia hanya bisa duduk menenggelamkan kepalanya di balkon penginapan.
Suara dering telepon penginapan memecah lamunannya. Seolhyun dengan langkah lesunya menghampiri telepon di dekat ranjang. Sesaat kemudian—saat ia hampir mengangkat gagang telepon—tiba-tiba dering telepon berhenti. Sambungan terputus.
Seolhyun berdecih, “Sial!”
Seolhyun berjalan menuju dapur—mencari makanan ringan atau buah-buahan untuk menemani malamnya. Lalu, ia mengambil sebuah apel merah di kulkas. Mencucinya agar bersih dan higienis untuk dimakan.
Seolhyun kembali ke balkon. Menikmati pemandangan malam yang sempat tertunda karena penelepon sialan tadi.
Panjang umur! Baru saja dipikirkan, dering ponsel Seolhyun berbunyi nyaring. Kali ini sepertinya bukan main-main. Karena sangat jarang Seolhyun menerima panggilan telepon.
Seolhyun berjalan menuju meja rias, tempatnya tadi meletakkan ponsel.
Dan.. baru tiga langkah Seolhyun berjalan untuk menghampiri ponselnya, dering telepon itu berhenti.
Kesal! Seolhyun mengambil ponselnya di meja rias dengan cepat. Ia memeriksa siapa si penelepon disana. Mungkin Dewi Fortuna tidak berada di pihak Seolhyun sekarang. Buktinya, ponsel Seolhyun mati di saat ia hampir mengetahui siapa si penelepon sebenarnya. Low bat!
“Sial!” Seolhyun kembali mengumpat.
Ia men-charge ponselnya dengan kasar. Kemudian kembali ke balkon, melanjutkan acara makan apelnya yang sempat tertunda.
Namun, betapa kesalnya Seolhyun karena apelnya menghilang. Apakah terjatuh ke bawah atau dimakan tikus atau siapapun. Yang jelas, apelnya masih utuh ketika ia meninggalkan balkon untuk menghampiri ponselnya.
Tak mau ambil pusing, Seolhyun pergi ke dapur. Membuka kulkas, mengambil apel. Kemudian berjalan kembali ke balkon. Perlahan Seolhyun duduk di tempat semula dan menggigit apel merahnya. Sedikit demi sedikit. Hingga ia tersadar.
Apel? Mengapa baunya seperti… anggur?
Di saat yang bersamaan, Seolhyun melihat kaca jendela penginapan yang tak jauh dari tempatnya. Penginapan di samping kamarnya. Tepat di kaca yang dibiarkan terbuka. Tepat di sana. Seolhyun samar-samar melihat sebelah mata tajam yang menatap Seolhyun tajam. Menyelidik. Penuh peringatan dan balas dendam?
Detik berikutnya—setelah Seolhyun mempertajam indera penglihatannya—yang ia lihat hanyalah setumpukan baju yang sengaja diletakkan di dekat balkon. Konyol? Itulah yang Seolhyun pikirkan sambil memakan apel yang… memabukkan?

***

Pesta yang membosankan.
Baekhyun terus mengumpat kala berjalan kembali ke penginapan. Dia benar-benar mengutuk para gadis murahan cantik penuh kepalsuan yang tadi mendekati Baekhyun di pesta.
Sumpah serapah selalu dipikiran Baekhyun ketika mengingat gadis terakhir mendekati Baekhyun yang sedang berdiri di balkon seorang diri. Gadis kurang ajar dengan mini dress tanpa lengan menggoda Baekhyun tanpa ampun. Terlebih ketika gadis itu mendekatkan tubuhnya pada Baekhyun sambil membisikkan kata-kata yang sangat sensitive di telinganya. Panas. Sh*t!
Bahkan gadis yang Baekhyun yakini seumuran dengannya itu hampir saja mengajaknya bermain atau mendorongnya ke ranjang. Jika saja Baekhyun tak habis kesabaran dan emosi di ujung ubun-ubun, ia tak akan melakukan apapun pada gadis itu.
Baekhyun berjalan cepat menuju penginapannya yang terletak tak jauh dari venue. Ia lelah. Seharusnya pesta tadi berjalan lancar karena itu yang ia harapkan. Setidaknya ia mencicipi wine di pesta tadi. Atau berdansa dengan para gadis di kalangan atas. Bahkan ia tak mendapat kesempatan mendekati Jihyun.
Kepala Baekhyun bisa-bisa pecah mengingat kejadian tadi. Rasanya pembuluh darahnya ingin meledak.
Cepat-cepat Baekhyun menuju penginapannya. Memesan wine, meminumnya. Satu teguk sampai tersisa sedikit.
Baekhyun melirik arloji di dinding kamar. Jam 1 pagi.
Masih terlalu malam. Seharusnya tadi ia memesan lebih banyak botol wine. Kalau dia tahu 1 botol tak memberikan reaksi apapun terhadap kesadarannya. Padalah, biasanya minum setengah botol wine bisa membuat kesadaran Baekhyun lumpuh untuk sementara.
Baekhyun tersenyum meremehkan botol wine-nya, “Wine apel? Kau mau bermain-main denganku?”
Baekhyun berjalan keluar dari kamar penginapannya. Langkah kakinya sedikit sempoyongan. Mungkin wine tadi baru saja bekerja. Baekhyun berjalan sampai teras belakang penginapan. Memandangi bulan sabit dengan awan-awan hitam yang tak terlihat beserta gemerlapan bintang-bintang disana.
Baekhyun tersenyum. Seperti orang tolol. Ia duduk di atas rerumputaan rumput jepang di dekat penginapan. Tersenyum konyol.
Lima belas menit berlalu. Baekhyun tak kunjung beranjak dari duduknya. Ia justru semakin nyaman berada disana. Sampai samar-samar ia mendengar suara aneh di belakangnya.
Baekhyun tersenyum, lagi. Ia berpikir, suara tadi mirip seperti bunyi rengekan tangis gadis bengis yang membuatnya harus terkurung di tempat super bau dengan perintah tak ada habisnya. Dan itu menjengkelkan. Apalagi mengingat siapa yang membuat semuanya terjadi. Siapa yang melakukannya. Baekhyun bahkan lupa siapa nama gadis itu. Lee Byulhyun? Lee Yeolhyun? Lee Seonyeol?
Baekhyun tak mau ambil pusing. Yang ada dalam khayalannya setelah mendengar suara aneh gadis itu, ia ingin gadis itu menangis memohon bertekuk lutut di hadapannya.
Baekhyun mendelik menatap botol wine disampingnya. Masih tersisa sedikit. Baekhyun meminum wine rasa aneh itu sekali teguk. Menghabiskannya tanpa sisa. Berharap mimpi-mimpi indah akan berpihak padanya malam ini.
Sepertinya, sang Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Lihatlah! Harapan Baekhyun menjadi kenyataan. Bukan hanya di alam mimpinya. Ya, sebentar lagi!

***

Pukul 4 pagi Sehun keluar mencari udara segar setelah tertidur hampir 3 jam di ranjang empuknya. Ya, dia tadi malam menghadiri pesta membosankan sepupu jauhnya. Saat melihat Baekhyun pergi, Sehun juga memutuskan pergi meinggalkan pesta itu.
Sejujurnya, Sehun sudah merencanakan hal ini dari jauh-jauh hari. Mengajak Seolhyun ke tepi pantai kemudian menikmati indahnya matahari terbit. Membayangkannya saja sudah membuat Sehun bahagia.
Sehun mengambil ponselnya di saku jaketnya. Menelepon Seolhyun. Tak ada jawaban. Bahkan ponselnya sedang tidak aktif.
Setelah terlibat perdebatan dengan otak dan hatinya, Sehun memutuskan untuk menemui Seolhyun di kamar penginapannya saja. Bukankah lebih baik bertemu langsung.
Sehun mengetuk pintu beberapa kali. Tak seperti perkiraannya, yang membukakan pintu adalah Jihyun dengan pakaian acak-acakan khas orang bangun tidur.
“Mencari Seolhyun?” Tanya Jihyun dengan mata setengah sadar bersamaan dengan suara seraknya.
Sehun mengangguk. Sangat benar dan sangat tepat, “Seolhyun masih tidur?”
Jihyun menggaruk kepalanya. Sesekali menguap. Dapat Sehun pastikan, Jihyun dan Chanyeol baru saja keluar dari pesta menyedihkan itu, “Tidak. Saat aku kembali 10 menit lalu, dia sudah tidak ada di tempat. Ranjangnya sudah rapi dan dia meninggalkan buah apel segar di meja dekat ranjang. Kupikir, itu untukku.”
Sehun menyipitkan matanya mencari-cari sosok itu di dalam kamar—memastikan. Namun, nihil! Seperti yang Jihyun katakan, tak ada orang lain di kamar itu kecuali Jihyun sendiri. Terlalu rajin, pikir Sehun. Ia berniat berpamitan pada Jihyun dengan alasan ingin berjalan-jalan sebentar di luar. Menikmati sunrise sendiri.
Jihyun menyeringai, “Masih terlalu pagi, Oh Sehun. Matahari belum terbit dan aku masih mengantuk. Setidaknya, temani aku sebentar sambil menunggu matahari terbit satu jam lagi.”
“Kau mabuk, Jihyun!”
“Aku mabuk bersama Chanyeol. Dia yang menantangku minum dua botol wine.”
Sehun berbalik menjauhi Jihyun. Namun sebelum keinginan Sehun terealisasikan, pergelangan tangan Sehun terseret ke dalam lingkaran Jihyun. Terhanyut dalam ciuman panas Jihyun.

***

Pagi. Sepertinya memang masih sangat pagi karena arloji di tangan kiri Baekhyun menunjukkan pukul 4.45. Baekhyun tertidur di atas rumput jepang di belakang kamar penginapan yang letaknya begitu VVIP.
Tanpa beralaskan apapun, Baekhyun tertidur lelap. Tak sadar bahwa ia begitu konyol karena harus tertidur di tempat kotor itu. Di halaman yang tak terlalu luas itu. Bahkan jikapun ketika ia sudah sadar, ia pasti akan menyalahkan semua orang yang ditemuinya pagi ini diikuti berbagai rangakaian umpatan.
Jika Baekhyun begitu tak sadar, bagaimana dengan Seolhyun?
Baekhyun yang tadinya sadar melangkah ke halaman itu sendirian dengan botol wine ditangan kirinya, apakah ia akan menyalahkan Seolhyun yang tertidur di pelukannya?

TBC

a/n: /merenggangkan otot/ bagaimana readers? Author buatnya cuma semaleman doang lho… Capek ngetik. Author harap Chapter 2 ini tidak begitu mengecewakan bagi readers. Tak lupa Author mau kasih tahu readers bahwa final chapter ada di chapter selanjutnya.
Dan jangan lupa Comment+Like juseyo!
With Love, Bublebit (@Novita_Milla) n_n

Iklan

34 tanggapan untuk “Paradise Kiss #2

  1. Daebak -_- ah mata indahku/tutup telinga/hehe aku rada ga ngerti sih sm ceritanya tp yg aku tau ff ini bagus dan harus dilanjutin jgn kelamaan ya post nya ditunggu^^

  2. ‘Myungsoo’ kok ambil bagian jg sih thor? Trus ad bberapa bhasa yg trlalu tnggi., bkin aku rada ga mudeng.. Tp jjur, critany bgus.!!
    Keep writing. Hwaiting! Yg next d prcepat ye thor /maksa :3/.,

  3. Aku bingung thor. Ceritanya lebih ngebingungin di banding yang part 1. Tapi overall bagus kok ceritanya. Fighting ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s