[CHAPTERED] Mr. FRIDAY (Part 2)

 

Mr Friday copy1

Tittle                      : Mr. Friday

Author                  : Sehunblackpearl

Main Cast            :

–  Park Boram (OC)

–  Oh Sehun (EXO)

Supported Cast:

–  Kim Jongin (EXO)

–  Lee Hyeju (OC)

–  Byun Baekhyun (EXO)

–  Park Chanyeol (EXO)

–  dll *males sebutin atu-atu*

Lenght                  : Multichapter

Genre                   : Romance, comedy, friendship, garing, absurd, stupid, alur maksa, dan lain-lain, dan lain-lain.

Rated                    : PG

Disclaimer           : cerita milik saya, saya tidak memiliki para cast kecuali Oh Thehun udah dipatenkan milik saya /cium Thehun/

Hello Readerdeul, maap yah, ini lama banget muncul chapter duanya, padahal author janjinya minggu lalu. Habis mau gimana lagi, kemarin tangan author disengat serangga ampe bengkak, makanya author ga bisa publish ini cerita T^T Dan ini author putusin buat ngikutin jalan cerita komiknya aja deh, kepala author lagi mumet. Author berusaha sebisa mungkin buat lanjutin ini cerita. Oke silahkan cek aja ya. no bash no siders.

Boram POV

Tahun berganti tanpa menungguku yang masih belum memastikan Jong In adalah Mr. Friday. Aku memutuskan menghabiskan tahun baruku sendirian berjalan di pasar Dongdaemun. Baik Hye Ju maupun Yu Mi hari ini tidak ada yang mau menghabiskan tahun baru denganku.

“Hai cewek. Ini sapu tanganmu jatuh.” Sebuah tangan dari depanku menyodorkan sapu tangan yang tidak kukenal tepat di depan wajahku.

“Eh? Ini punya cowok kan? Lagipula barang jatuh kok datangnya dari depan?” bodoh sekali mau menggoda wanita seperti ini.

“Aaah bodoh sekali kau membawa saputangan laki-laki.” Eh? Suara berat ini sepertinya aku tahu. Kulihat dua orang yang sedang berdebat di hadapanku. Dua wajah yang tidak asing lagi.

“Oh kau ini kan yang waktu itu mengantar kaset rusak untuk sehun.” Pria yang lebih pendek lebih dulu meyadariku.

“Oh tetangganya Sehun ya?”

“Ne. Park Bo Ram imnida.” Aku membungkuk. “Kalian ini Chanyeol dan Baekhyun sunbae?”

“Ne.” Jawab keduannya serentak.

“Kau habis jalan-jalan dengan teman ya? Bagaimana kalau kita minum dulu?” tawar Baekhyun sunbae.

“Ah tidak usah. Aku masih ada urusan.” Tolakku. “Lagipula kalian berdua ini masak jalan berdua mengajak satu cewek?”

“Haha. Benar juga ya. Bodoh.” Kata Chanyeol sunbae.

“Padahal yang lain sudah pergi dengan cewek lain.” Baekhyun sunbae menimpali.

“Yang lain maksudnya Sehun juga?”

“Oh, bukan. Cowok anti cewek begitu mana mungkin jalan dengan cewek.”Eh?

“Katanya dia tidak biasa dengan cewek.” Hah? “Kalau begitu kami pergi ya. Kau juga hati-hati jangan sampai tertangkap orang aneh.” Kedua trouble maker itu kemudian pergi berusaha mencari gadis lain untuk digoda. Yaah berusahalah.

Tapi.. playboy, anti cewek, sebenarnya Sehun itu orang yang seperti apa ya? Benar-benar orang yang misterius.

Aku pulang ke rumah masih sedikit memikirkan masalah Sehun. Dan begitu sampai di depan rumah yang kudapati adalah ibu menarik-narik Sehun ke dalam rumah kami. Malam tahun baru ayah dan ibu pulang ke kampung ayah. Do Mu menginap di rumah teman. Jadi seharusnya aku sendiri tapi ibu memaksa Sehun untuk menginap di rumah *what?* sekalian menjagaku. Kebetulan orangtua Sehun juga tidak di rumah. Ibu khawatir Sehun akan makan makanan cepat saji atau memesan kfc (-_-a)

Jadilah malam tahun baru kuhabiskan dengan Sehun karena ibu yang pemaksa. Kami memasak makan malam berdua. Di luar dugaan Sehun lebih mahir memasak dariku.

“Eeem katanya kaset itu rusak ya?” kataku berusaha menghilangkan suasana canggung. “Hari ini aku bertemu teman-teman Sehun oppa dan aku dengar dari mereka. Mungkin kaset itu sudah dibuang ya? Maaf aku bawa barang aneh.” Aku jadi malu pada diriku sendiri. “Eh, tapi kata Do Mu dia menemukan kaset seperti itu di kamarmu. Apa belum kau buang?”

“Oh, i..itu kubawa pulang.” Jawabnya agak terbata. “Itu.. apa.. aku ingin membuangnya tapi kalau ingat kau membawakannya dengan sungguh-sungguh jadi tidak tega. Yaah begitulah.”

Aku memang tidak mengerti dia. Tapi satu yang dapat kupastikan malam ini setelah aku menghabiskan malam yang hangat di tahun baru dengannya. Sehun bukan orang yang jahat.

—__—

 Semester dua sudah dimulai. Aku dan kedua sahabat sehidup sematiku *lebay -_-* duduk memandangi orang yang lewat di kursi taman sekolah. Aku sekarang sudah tidak menggunakan kacamata lagi karena repot kalau terus kupecahkan. Sekarang penglihatanku dibantu dengan soft lens.

“Eh, pria yang di sana itu bagaimana menurut kalian?” tanya Yu Mi sambil menunjuk seorag pria tinggi berambut hitam.

“Maksudmu yang berdiri di dekat pohon itu?” tanya Hye Ju.

“Yup.”

“Haha dia kenalanku. Oooi Jong In oppa.” Hye Ju berteriak sambil melambaikan tangannya pada lelaki yag ditunjuk Yu Mi yang sepertinya bernama Jong In. Eh? Jong In? Di mana aku pernah dengar… Haaaah? Jong In maksudnya Jong In… Jong In yang itu? Jong In sunbae? Kulihat sosok yang dipanggil itu berlari ke arah kami. Begitu sampai di hadapan kami langsung tangannya meluncur ke kepala Hye Ju dan mengusapnya lembut dan dia tersenyum. Mata kami bertatapan.

“Oh, kau teman Hye Ju ya?” dia tersenyum ke arahku.

“Ya.” Aku tersenyum membalasnya.

“Eeeng, Bo Ram kenal?” Hye Ju mengalihkan pandangannya padaku sambil merapikan rambut pendeknya.

“Ah, ya.. Sebenarnya itu….” kubisikkan pada kedua sahabatku perihal aku mengira Jong In sunbae adalah Mr. Friday. Tentu saja kedua temanku memang tahu tentang Mr. Friday.

“Apa? Jong In oppa Mr. Friday?” reaksi Hye Ju agak berlebihan.

“Apa? Apa? Aku apa?” langsung saja Jong In sunbae mendekat pada kami, ingin tahu kami mengatai dia apa.

“Ah, itu oppa. Bo Ram…”

“Ya Lee Hye Ju. Hentikan itu. Bagaimana kalau dia ingat gaya rambutku yang aneh itu?”

“Tenang saja. Pasti itu bukan dia.” Oh, ya pasti. Dari mana datangnya keyakinanmu itu?

“Jadi…” kemudian Hye Ju membocorkan pada jong In sunbae semua yang dia tahu tentang Mr. Friday.

“Iya. Itu memang bukan aku.” Nyeees. Kata-kata Jong In sunbae langsung menancap di hatiku. Jadi itu bukan dia? “Oh makanya waktu itu kau terkejut saat bertemu denganku ya? Suaranya mirip?” Ya. Suara kalian memang persis. Tidak hanya mirip. “Poniku panjangnya selalu seperti ini. Tidak pernah sampai menutupi mata.” Lanjutnya sambil memegang poninya yang memang sejak pertama kulihat tidak pernah lebih panjang dari posisi matanya. “Dan satu lagi. Pertama kali aku bertemu denganmu itu saat di tempat latihan. Waktu kakimu terkilir itu loh.” Senyumnya penuh arti.

“Oooh begitu ya.” Aku sedikit kecewa. Tentu saja. Saat aku berpikir sudah lebih dekat dengan Mr. Friday, ternyata aku salah. Kalau begini apa aku masih akan bisa bertemu Mr. Friday?

“Oh, kau suka dengan cowok itu ya?” Jong In sunbae menatap tepat ke mataku. Ah, aku terhenyak. Apa ini bisa disebut suka? Apa aku suka dengan Mr. Friday? “Suatu saat pasti kalian akan bertemu.”

“Ah ne. Terima kasih.”

—__—

Jong In sunbae bukan Mr. Friday. Aku jadi pergi ke pertokoan tempat kami pertama bertemu. Apa aku memang menyukai Mr. Friday ya? Mengapa aku begitu memikirkannya? Sampai wajahku terasa panas seperti saat berjemur di pantai. Mungkin ini cinta pertama. Eeem waktu itu dia terjatuh di tangga dekat emper toko. Kukira karena payungku yang tiba-tiba terbuka.

Karena hari itu hari jum’at makanya kuberi nama Mr. Friday. Eeeeng ngomong-ngomong ini juga jum’at. Tunggu dulu. Kalau kuingat-ingat lagi, pertama kali aku bertemu Jong In sunbae juga jum’at. Bertemu Sehun juga. Kejadian menarik itu selalu terjadi pada hari jum’at. Pokoknya segala sesuatu yang berhubungan dengan Mr. Friday itu terjadi hari jum’at. Sungguh kebetulan yang agak hebat. Mungkin juga kalau tiba-tiba kebetulan aku bisa bertemu dengan Mr. Friday itu adalah hari jum’at.

Eh? Apa pria yang kulihat berdiri di samping tiang listrik(?) itu Sehun? Sedang apa dia di sini? Apa mungkin ada perlu juga di sekitar sini? Dia sedang bersama… wanita? Wanita dewasa dengan rambut gelombang yang cantik sekali dan terlihat kaya (?). Oh? Apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa wajah wanita itu terlihat sedih? Dan apa hubungan mereka? Aku terus memandangi dua insan yang tengah dalam pembicaraan serius itu sampai kulihat Sehun memeluk, MEMELUK wanita cantik itu. Dia memeluk, sekali lagi MEMELUK WANITA YANG TERLIHAT JAUH LEBIH TUA DARINYA ITU PEMIRSA. *ini kok jadi capslock gini ya? Kayak kak Ronzzy Kevin deh* Dan mereka berjalan menjauh sambil Sehun terus memegangi wanita cantik itu.

Aku terdiam, membeku di tempatku berdiri. Seolah sudah tertancap ke tanah. Bukan. Bukan kakiku yang tertancap ke tanah. Tapi mataku serasa jatuh dan menancap ke tanah karena aku sudah melihat yang seharusnya tidak kulihat.

Playboy, anti cewek. Kata-kata teman-temannya bermain-main di otakku. Pria seperti apa sebenarnya OH SEHUN?

—__—

“Pagi.” Tangan besar milik Sehun menepuk pundakku. “Tumben pagi-pagi bisa ketemu. Jarang nih.” Sapanya ceria.

Aku membatu di tempatku memandang sehun. Masih teringat adegan yang kulihat di Garosugil semalam. Semalaman aku terus memikirkannya. Apa hubungan Sehun dengan wanita cantik itu? Semalam, tidak mungkin mereka kubuntuti aku bukan penguntit. Jadi, aku pulang saja. Tapi aku jadi penasaran, penasaran, dan penasaran. Waktu itu situasinya jadi aneh. Jangan-jangan wanita itu apanya Sehun ya? Berpikir begitu aku malah jadi sedih sendiri. Makanya tadi pagi aku memikirkan selama ini yang jadi perhatianku terus hanya tentang Mr. Friday jadi tidak pernah memperhatikan sekitar dan sadar. Apa jangan-jangan aku menyukai sehun?

“Memikirkan apa sih dari tadi?” Sehun mensejajarkan wajahnya dengan wajahku. “Kau aneh sekali hari ini. Tidak seperti biasa.”

“Ma,, masa sih. Aku biasa saja.” Jawabku agak kaku. Habis, tadi kau tiba-tiba memukul pundak padahal aku sedang berpikir. Haah apa mungkin hatiku belum siap ya?

“Wajahmu merah. Apa kau demam?” Sehun meletakkan tangannya di keningku. Kyaaa aku malu sekali. Kenapa aku jadi begini? Memikirkan kalau aku meyukainya saja wajahku jadi merah padam seperti ini. Kenapa jantungku jadi berdebar seperti ini?

Kami berpisah di sekolah. Sehun masuk ke kelasnya dan aku tentu saja tidak masuk ke kelasnya melainkan kelasku. Tapi aku tetap kepikiran. Si wanita cantik itu… Sebenarnya aku tak ingin mencampuri urusan pribadi orang. Aku tidak bisa bertanya pada Sehun. Tetap saja aku penasaran sampai mau mati rasanya.

Kalau dipikir-pikir aku tahu banyak tentang Sehun tapi sebenarnya tidak tahu sama sekali. Dibilang playboy, anti cewek. Senior-senior perempuan yang waktu itu juga bicara tentang hal yang aneh. Lalu si wanita cantik itu. Tentang Hye Ju juga. Lalu alasan rumit yang tak mau diberitahu Hye Ju waktu aku bertanya tentang Sehun waktu itu.

“Waah Bo Ram. Awas. Lihat kakimu. Jangan injak. Itu laporan biologi yang harus kuberikan pada Miss Jung hari ini. Jangan sampai kotor.” Jong In sunbae terlihat sibuk mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan di lantai.

“Biar kubantu sunbae.” Aku mulai ikut mengumpulkan kertas. “Ini.” Kuserahkan kertas-kertas itu setelah selesai kami kumpulkan.

“Ah, ya. Terima kasih Boram.” Segera kertas-kertas itu berpindah tangan. “Oh, kau tunggu di sini. Aku kembali sebentar lagi.” Jong In sunbae langsung berlari. Kenapa aku disuruhnya menunggu? Tapi tetap saja aku menunggu sampai dia kembali dari manapun dia hendak pergi tadi. Tidak lama kemudian kulihat sosoknya berlari lagi ke arahku.

“Ah, terima kasih tadi sudah diambilkan.” Katanya sambil menarik tanganku. Menuntunku ke….

“Eeem, kita mau ke mana sunbae?”

“Oppa.”

“Eh?”

“Panggil aku oppa. Terdengar lebih akrab.” Ia berbalik dan tersenyum padaku. “Dan kita akan ke kantin. Kutraktir.”

“Eh? Tidak usah.” Aku berusaha melepaskan genggamannya.

“Aku memaksa.” Dan dia terus membawaku menuju kantin. Aku baru tahu dia ini pemaksa. Sejurus kemudian, aku sudah duduk manis di salah satu meja maksudku kursi di kantin yang lumayan teratur itu untuk ukuran kantin. *coba kalo kantin di sekolah author, wuiiih cuman buat jajan permen, nyawa taruhannya -_- /curcol/* Aku dan Jong In sunbae duduk dengan dua kaleng soda di meja kami. Hanya dengan dua kaleng soda kami menginvansi satu meja.

“Bo Ram. Menurutmu bagaimana si Sehun itu?”

“Eh?” pertanyaan yang tiba-tiba dan langsung ke intinya tanpa basa-basi. Apa jangan-jangan maksud sebenarnya dari soda ini adalah untuk sesi tanya jawab ini?

“Kamu tahu? Hye Ju dan Sehun pacaran loh.” Oooh, Hye Ju dan Sehun paca.. Apaaa? “Hari itu, aku tidak ingat kapan lagi,  aku melihat Hye Ju berdandan tidak seperti biasanya. Eeem kami bertetangga. Dia temanku sejak kecil. Lalu aku bertanya dia mau kemana. Katanya ada kencan. Karena penasaran kuikuti. Dan ternyata yang ditujunya adalah Sehun.” Berhenti sebentar, tarik nafas. “Yang kutahu Sehun dikenal sebagai cowok anti cewek. Dia sendiri juga bilang tidak punya pacar. Tapi, kalau begitu bagaimana dengan Hye Ju? Kenapa tidak menceritakannya pada siapapun? Bahkan Hye Ju mengganti model rambutnya seperti Sehun. Itu artinya dia sangat serius. Tapi lalu aku berpikir bagaimana kalau sehun hanya mempermainkannya? Hye Ju hanya dianggap sebagai hiburan. Lagi pula ‘anti cewek’ itu juga bohong sekali. Memang di sekolah dia terlihat seperti itu. Tapi sebenarnya dia memang playboy. PLAYBOY. P.L.A.Y.B.O.Y.” Jong In oppa mengeja kata playboy seperti seven icon. /gak gak gak kuat aku gak kuat sama playboy playboy #plaak/ Waaaw Jong In oppa terlihat berapi-api dan bersemangat sekali. “Ya, tapi… ini sebenarnya hanya bagian dari rasa cemburuku.” Jong In oppa sedikit menutup wajahnya dan menyeringai malu. Ah… jadi itu alasannya. Dia menyukai Hye Ju.

Aku berjalan kembali ke kelas. Aku masih kepikiran tentang Hye Ju dan sehun. Jadi mereka pacaran? Lalu yang dikatakan Hye Ju? Aku masuk ke kelas dan duduk di samping Yu Mi yang sedang sibuk bercerita dengan Hye Ju. Mereka tidak menyadari kehadiranku.

“Begitu ya. Jadi Bo Ram mengira kau ditolak.” Kata Yu Mi. Mereka sedang membicarakanku? Aku tidak tertarik. Eh, tunggu dulu. Apa ini mengenai sehun?

“Bo Ram sampai bilang aku tidak perlu mentraktir. Jadi aku tidak mengatakan yang sebenarnya. Walau aku tidak bermaksud menyembunyikannya, kita syukuri kesalahpahaman Bo Ram. Ini rahasia loh, kalau ketahuan Bo Ram, kamu juga harus mentraktir.” Mereka masih belum sadar bahkan aku sudah ikut mendengar pembicaraan rahasia itu.

“Iya tahu, terus memangnya cowok itu ngomong apa? Ah…” warna muka Yu Mi langsung berubah saat dilihatnya aku duduk di sampingnya. Hye Ju pucat saat dia sadar aku ada di situ.

“Ngomong apa?” tanyaku sesantai mungkin. Hye Ju terlihat ragu sejenak.

“Eeem waktu itu dia bilang begini. ‘Lihat kaca dulu dong. Kalau untuk yang pacaran aku lebih suka yang cantik. Kalau kau cuci muka, kau akan lebih cantik.’ Waktu itu aku piket dan tak sadar melap muka dengan tangan kotor.” Ujar Hyr Ju akhirnya.

“Jadi dia menerimamu dan berlanjut sampai sekarang?”

“I…iya betul.” Hatiku sakit tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa terhadapnya. Perasaan mereka tidak mungkin kupaksa terhapus kan?

“Maaf. Boram, aku tidak bermaksud jahat. Ini… tentang ini.. sekarang aku traktir ya.” Dia tersenyum kaku.

“Tidak perlu. Aku juga salah paham.” Dan aku pergi meninggalkan mereka berdua yang senang karena aku bilang tidak usah mentraktir. Hye Ju, bersenang-senang tanpa memikirkan perasaan orang lain. Aku jadi tahu yang dimaksud oleh senior-senior menyeramkan itu pasti tentang ini. Sehun tidak bilang apa-apa supaya tidak diributkan oleh orang lain. Ia disuruh diam oleh Hye Ju. Aku…. patah hati.

Kata orang cinta pertama suka tidak kesampaian. Cinta pertamaku Mr. Friday. Hari ini juga hari jum’at. Friday. Fly.. Fly.. Flying.. Sebelum terbang, aku sudah terjatuh.

“Bo Ram. Kau Bo Ram kan? Untung bertemu.” Eeeng siapa? “Hari ini Sehun tidak masuk.” Oh, dia ini Chanyeol kan? “Kamu tetangganya kan? Tolong berikan ini. Ini tugas kimia. Dikumpul besok. Dia harus menyelesaikannya dengan benar, aku sudah menyalinkan untuknya.”

“Baiklah nanti kusampaikan. Oh iya, bagaimana acara cari cewek waktu itu?” tanyaku sekedar basa-basi.

“Jangan tanya.”

Hihi semakin dilihat, dia semakin lucu. Baiklah, tugas kimia… Aku tidak harus bertemu sehun, bisa dititipkan pada orang rumah.

“Yaa, silakan masuk.” Yang membuka pintu setelah kuketuk adalah ayah Sehun. Aku sedikit takut dengan orangtua.

“I..itu Ss..sehun..” aku jadi tidak bisa bicara dengan benar.

“Oh, mau menengok Sehun. Ayahnya langsung menyimpulkan. “Kalau begitu silahkan masuk. Silahkan.”

“T..Ti..”

“Ibu… ada tamu ingin menengok Sehun. Ah, mungkin sedang membawa obat kekamar Sehun. Silahkan naik saja, di lantai dua.

“Sehun, kau bangun lagi.” Terdengar suara dari kamar yang sepertinya kamar Sehun.

“Kan sudah agak sembuh.” Suara lain menimpali. Suara yang lantang dan sedikit serak.

“Kamu ngomong apa sih? Suaramu masih seperti itu.” Loh? Tunggu dulu. Suara tadi… Mr.Friday? Aku dan ayah Sehun masuk ke kamar sehun disambut pemandangan yang agak janggal jika Sehun yang mengalaminya. Dia dipaksa tidur dan ibunya sedang memaksa dia menggunakan selimut.

“Oh, ada tamu ya?” kata ibunya saat menyadari kehadiranku. “Silahkan. Aku ambilkan teh dulu ya.” Kemudian kedua orangtua Sehun meninggalkan kamar Sehun. Membuat aku tinggal berdua dengan Sehun. Aku hanya bisa diam menatap sehun.

“Hai, kok pakai menengok segala?” Suara ini… memang benar milik Mr. Friday.

“Oppa… itu… jangan-jangan kamu…” aku tidak melanjutkan kata-kataku. Tanganku langsung meraih rambutnya dan menyisirnya dengan jariku membuatnya menutupi matanya. Aku hanya bisa terpana di atas tubuhnya. Sehun….

“Kacamata yang dibeli hari itu… sudah diganti lagi ya? Kali ini dengan soft lens?”

“Benar… Sehun oppa…” Dia adalah Mr. Friday?

“Tapi, keadaan ini benar-benar… kalau tiba-tiba orangtuaku masuk, pasti curiga.” Hah. Aku langsung bangkit dari posisiku.

“Ma..maaf.”

“Oh, aku sih tak apa-apa.” Sehun juga duduk di kasurnya. “Malah senang.” Katanya sambil tersenyum menyingkirkan poninya. Lalu kami berbincang tentang hari itu. Aku tidak percaya. Akhirnya aku bertemu Mr.Friday dan ternyata dia sangat dekat. Hanya dua langkah dari rumahku.

“Tadinya aku sempat mengira pasti kamu diisengi teman-temanmu. Tapi kalau kamu memang menyukai model rambut seperti itu, kalau kutegur kan tidak sopan.” Dia membahas tentang rambutku yang memalukan itu, lagi. “Akhir-akhir ini aku baru menyadari anak itu adalah kamu semenjak kamu tidak memakai kacamatamu lagi.”

“Aaah, waktu itu aku tertidur. Lalu temanku Yu Mi dan Hye Ju…” aku berhenti tiba-tiba perasaanku tidak enak lagi. “Itu..aku pulang dulu. Tidak enak mengganggu terlalu lama.”

“Kalau begitu biar kuantar sampai depan.”

“Tidak usah. Kau kan masih sakit. Dan waktu itu, terima kasih banyak ya. Aku memikirkannya karena belum berterima kasih.” Dan aku meninggalkan Sehun. Apanya yang Friday. Memang benar, aku bisa bertemu lagi dengan Mr.Friday di hari jum’at. Ini patah hati bagian kedua. Flying Friday. Sebelum terbang, sudah jatuh. Seperti menancap di dasar tanah.

“Noona lupakan saja Sehun.” Kudengar teriakan adikku begitu aku membuka pintu rumah.

“Apa sih kamu ini. Aku kaget. Tiba-tiba saja…”

“Aku dengar noona langsung ke tempat sehun hyung setelah menaruh tas. Sebenarnya selama ini aku menyembunyikan sesuatu dari noona. Uuukh lebih baik luka itu disembuhkan selagi belum parah. Bilang saja sebenarnya setengah bulan yang lalu. Aku melihat Sehun berbicara dengan pria lain yang tidak kukenal tentang kekasih Sehun yang lebih tua. Noona menyukai Sehun kan? Tapi dia menyukai orang lain.” Wanita yang lebih tua.. Wanita itu? “Noona sakit hati ya? Makanya aku tak mau mengatakannya. Tapi yang seperti ini lebih baik segera tahu.” Katanya sambil menjauh.

Wanita yang lebih tua. Jadi wanita itu memang pacar Sehun? Ta.. tapi kan dia pacaran dengan Hye Ju. Lalu aku ingat dengan kata-kata Jong In. Ternyata dia memang playboy. Sehun memang PLAYBOY.

—__—

A/N : author malas ngomong apa-apa. Pokoknya tinggalin jejak aja yah🙂 Please hargain usaha author🙂

79 thoughts on “[CHAPTERED] Mr. FRIDAY (Part 2)

  1. ya ampun..
    ada selipan lirik lagux 7icon wkwkwk
    itu.. kasian boram .. elum mulai udah kalah duluan..
    sehun seperti apa sih sebenarx..

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s