[CHAPTERED] Mr. Friday (Part 3)

Mr Friday 4 copy

Tittle                      : Mr. Friday

Author                  : Sehunblackpearl

Main Cast            :

–  Park Bo Ram (OC)

–  Oh Sehun (EXO)

–  Kim Jong In (EXO)

Supported Cast :

–  Lee Hye Ju (OC)

–  Park Chanyeol (EXO)

–  Byun Baekhyun (EXO)

Genre                   : Romance, comedy, schoollife, absurd, ngebingungin, authornya sendiri bingung -_-

Rated                    : semua umur bole baca menurut author, yang ga boleh baca cuma para mayat yang ada di bawah tanah, plis kalian ga usah baca. Tapi kalo kalian maksa gapapa deh author pasrah asalkan kalian senang aja tapi jangan lupa coment *authornya sarap*

Summary             : no summary, author malas bikin summary

Disclaimer           : Plot dan isi cerita milik author, saya tidak memiliki para cast kecuali Sehun suami author. Chara yang lain milik Tuhan Yang Maha Esa.

Annyeong readerdeul /lemparin exo memberdeul/ chap 3 is up. Author lagi capek banget sebenernya, malas ngetik ff tapi berhubung author sayang ama para reader yang setia ama ff ini, dengan sangat terpaksa author berusaha melanjutkan ff garing ini dan jadilah author cepet banget ngupdatenya utk chap yg satu ini. Oke, bacotan author di bawah aja ya, ga usah di sini. Entar readerdeul pada illfeel wkwk. Langsung cek aja deh ceritanya. No Bash, No Siders, no Plagiators🙂

Boram POV

“Hei Boram. Pulang sekarang?” suara berat yang sangat kukenal lagi-lagi mengusikku.

“Oh, tidak. Aku baru selesai piket dan sekarang mau ke klub.” Jawabku pada Chanyeol sunbae yang tidak lelahnya menggangguku.

“Oh, iya. Lihat deh ini.” Ya Tuhan sunbae. Apa lagi sekarang bahan yang kau gunakan untuk menggangguku? Aku menatap malas pada benda yang disodorkannya tepat ke depan wajahku.

“Oooh, coklat ya?” kataku tidak begitu tertarik. Oh hari ini kan valentine.

“Barusan aku mendapatkannya dari orang yang kusukai sejak lama.” Ujarnya kegirangan sambil menciumi coklat itu. “Katanya coklat valentine yang disimpan sejak lama.” Dia memeluk coklat berharga itu.

“Waaah, nugu?” kataku sedikit tertarik. “Baekhyun oppa?” ujarku setengah bercanda. Mana mungkin kan? Kulihat wajah Chanyeol sunbae memerah. Mwo? Jangan-jangan betul coklat itu dari Baekhyun? “Apa betul dari Baekhyun oppa?” bisikku hati-hati sambil diam-diam menatap wajahnya yang lebih merah dari wajah tuan Crab.

“Aaaah anak ini pintar menebak juga rupanya.” jawabnya seraya mengacak rambutku. Wajahnya terlihat lebih merah dari sebelumnya. Aneh. Aku tidak pernah tahu kalau mereka gay. Lagipula bukannya mereka selalu mencari cewek sama-sama? Kalau ternyata mereka saling menyukai…. Bodoh sekali hihi.

“Waah baguslah. Kalian berdua memang terlalu akrab untuk berteman haha.”

“Aku tak mau cari cewek lagi. Baekhyun lebih manis dari cewek manapun.” Tentu saja kau tidak akan cari cewek lagi kan? Memangnya kamu mau cari cewek dengan siapa? Baekhyun tidak akan mau menemanimu babo, karena sekarang dia pacarmu.

“Hai Sehun.” Sapanya tiba-tiba pada pria yang baru saja muncul di dekat kami. Sehun…

Saat kuceritakan beberapa hari yang lalu tentang kekasih Sehun yang lebih tua itu, Hye Ju hanya tersenyum dan bilang dia tidak perduli dengan cerita seperti itu. Aneh sekali dia. Sebenarnya dia terlalu percaya pada Sehun atau dia terlalu percaya diri Sehun tidak akan selingkuh darinya?

“Kamu juga valentine dapat banyak kan? Cobalah pacaran dengan salah satunya.” Kudengar suara berat milik Chanyeol memberikan saran yang tidak perlu pada Sehun. Sehun kan sekarang sudah punya dua pacar. “Sudah ya. Aku mau pamer sama anak-anak di klub.” Apaaaa? Mau pamer pada anak-anak di klub? Tentang dia dan Bekhyun? Chanyeol sunbae, kamu sudah kehilangan kewarasanmu sepertinya.

“Dia mau memperlihatkan ke siapa saja, aku tak peduli.” Kata Sehun sambil memandangi sosok Chanyeol yang semakin menjauhi kami berdua.

“Se.. senang sekali dia ya.” Ujarku kikuk. Aku jadi merasa tidak enak di dekat Sehun karena apa yang baru saja kuketahui tentang dia. “Sudah ya. Aku.. mau ke klub dulu.” Aku berbalik melangkah meninggalkan Sehun yang masih berdiri di tempatnya.

“Boram.” Panggilnya. Aku berhenti sejenak menunggu Sehun mengatakan apapun yang ingin dikatakannya. “Itu…” berhenti sejenak, kenapa tiba-tiba dia terdengar ragu mengucapkan apa pun itu yang ingin diucapkannya? “Aku juga ingin dapat coklat darimu.” Aku membatu. Apa? Apa yang barusan dikatakannya? Apa telingaku sedang bermain-main denganku dan membuat aku mendengar yang tidak pernah ada? Aku diam saja. Tidak tahu harus mengatakan apa. “Aku tidak bercanda.” Katanya lagi. “Aku benar-benar ingin dapat coklat darimu.” Apa ini pernyataan? Sehun sedang menyatakan perasaannya padaku? Apa aku tidak salah?

“Itu… aku.. aku sudah memberikan coklatku pada orang lain. Maaf.” Aku berlari meninggalkan Sehun yang sepertinya tetap memandangiku. Bodoh. Kenapa dia meminta coklat dariku? Bukankah dia sudah punya dua kekasih? Apa dia memang betul-betul playboy? Jong In oppa tidak salah mengatainya seperti itu.

Tapi… yang kutahu. Suatu hari hujan, dia telah mengantarkan aku ke toko kacamata karena khawatir denganku yang tidak bisa melihat jelas. Dia menyimpan baik-baik kaset rusak yang kubawakan walau tak ada hubungannya. Dia memilih menghabiskan malam tahun baru denganku karena aku tidak punya teman bercerita di rumah. Itu bukan ketulusan yang dibuat-buat. Dia memang baik hati. Sehun yang seperti itu… aku telah jatuh hati padanya. Sampai sekarang pun aku masih tetap sangat menyukainya. Tetapi kenapa dia berkata seperti itu? Meminta coklat valentine dariku. Padahal dia berpacaran dengan Hye Ju dan wanita cantik itu. Aku tidak mau. Aku tidak mau Sehun yang seperti itu. Tidak.

Masih sambil berlari aku memasuki bangunan sekolah. Tidak tahu harus bagaimana dengan perasaanku. Aku menyukai Sehun. Walaupun aku baru sadar itu akhir-akhir ini. Tapi aku betul-betul menyukainya. Aku menyukai Sehun yang adalah Sehun sendiri. Aku juga menyukai Sehun yang adalah Mr. Friday. Kenyataan dia adalah Mr. Friday malah membuat aku semakin menyukainya. Tapi aku tidak yakin aku juga masih tetap bisa menyukainya kalau dia adalah playboy. Tidak bisa. Sehun yang kusukai bukan seperti ini. Sehun yang kusukai itu….

Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sampai tidak sadar aku menabarak orang *jiiahh ini drama korea banget sumpah eh atau drama indonesia? Wkwk #abaikan

“Maaf aku berlari tanpa memperhatikan sekitar.” Aku membungkuk minta maaf pada orang yang kutabarak.

“Oh tidak masalah. Aku juga tidak melihat jalanku.” Aku langsung mengangkat kepalaku saat kudengar suara yang sangat familiar itu. Suara lantang dan serak itu, milik Jong In oppa. *ini sumpah drama korea bangeeeet /cakar muka Jong In/ “Oh, Boram ya?” Jong In oppa tersenyum begitu melihat wajahku.

“Ne. Annyeong oppa.” Aku membalas senyum sejuta wattnya dengan senyum sepuluh wattku yang tidak ada tandingannya dengan senyumnya itu sama sekali.

“Kau mau kemana?” tanya Jong In oppa ramah masih tidak menghilangkan senyum yang harus kuakui sangat sexy dari wajahnya.

“Ah, mau ke klub. Oppa sendiri?”

“Aku baru saja mau pulang.”

“Ah ne.” Aku tersenyum padanya. “Eem kalau begitu aku duluan ya oppa.” Kubungkukkan badanku padanya sebelum aku berlari melewatinya dan langsung berlari menuju ruang klubku.

“Sampai jumpa lagi Boram.” Teriakan Jong In oppa bergema di sepanjang koridor dan aku pun berbalik ke arahnya lagi dan kulihat Jong In oppa meloncat-loncat sambil tersenyum dan melambai padaku. Sontak aku tertawa melihat tingkah Jong In oppa yang wtf(?) itu. Aku tidak tahu harus berkomentar apa tapi dia lucu juga harus kuakui minus sifat cemburunya pada Sehun itu.

–___–

Sore hampir pukul lima, aku langsung berlari menuju gerbang sekolah saat kegiatan klubku sudah selesai. Aku menolak ajakan Hye Ju dan Yu Mi untuk mampir ke kafe sebentar dengan alasan sudah terlalu sore dan aku buru-buru pulang karena harus membantu ibu. Well, alasan hanyalah alasan. Aku tidak buru-buru sama sekali. Hanya sedang ingin menghindari Hye Ju sebisa mungkin. Untuk sementara aku tidak ingin terlibat baik dengan Hye Ju maupun pacarnya, si Oh Se Hun itu. Mereka berdua sama-sama menyebalkan.

Kulayangkan pandanganku sebentar ke arah ruang klub judo yang ada di lantai satu dekat taman sekolah. Apa Sehun sudah pulang ya? Aku tidak bisa tidak berpikir tentang Sehun saat mataku terpaku pada ruang klub judo itu. Masih terus kuingat kebaikan dan semua keramahannya. Hari itu, rasa hangat darinya betul-betul menyelimutiku, itu semua bukan kebaikan yang dibuat-buat, aku tahu itu. Tapi kalau memikirkan dia yang sekarang, entahlah aku tidak tahu dan tidak mengerti tentang dia yang sebenarnya.

Dengan gontai kulangkahkan kakiku mendekati gerbang sekolah. Kualihkan pandanganku dari bangunan yang sedari tadi kupandangi itu dan aku menundukkan kepalaku menatap tanah yang sedang kutapaki.

“Oh, Bo Ram. Kegiatan klubmu sudah selesai?” kudengar sebuah suara yang sudah tidak terlalu asing bertanya dari depanku. Aku langsung mengangkat kepalaku untuk melihat si pemilik suara itu.

“Oppa, kau belum pulang?” balasku balik bertanya pada Jong In oppa yang berdiri bersandar di gerbang. “Bukannya tadi kau bilang mau pulang?”

“Ah, itu… aku punya urusan yang harus kuselesaikan tadi. Dan saat mau pulang, kulihat klubmu bubar. Jadi kutunggu saja.” ujarnya, tersenyum malu-malu sambil menyentuh tengkuknya.

“Menunggu Hye Ju?” aku menyeringai iseng pada Jong In yang berdiri salah tingkah di depanku. Jelas sekali dia malu. Ya Tuhan, apa mungkin semua pria di dunia ini harus menyukai Hye Ju? Sehun. Jong In. Well, mungkin hanya mereka berdua. Tapi kebetulan saja aku kesal dengan kenyataan itu.

“Kenapa aku harus menunggunya?” Jong In oppa langsung mengernyitkan keningnya mendengar pernyataanku.

“Bukannya sudah jelas?” Jong In oppa hanya tertawa menanggapi kata-kataku dan aku memutar bola mataku malas. “Tapi sayang sekali Hye Ju sudah membuat rencana dengan Yu Mi. Oppa pulang saja.” Kataku lagi sambil berjalan melewati Jong In yang masih berdiri di tempatnya.

“Kalau begitu aku pergi denganmu saja. Mau mampir ke kafe denganku?” ujarnya sambil berusaha mengejar langkahku. Aku hanya tertawa ringan.

Aku tidak tahu kalau Jong In oppa serius mengajakku. Kukira dia hanya bercanda saat menawarkannya jadi kuiyakan saja tanpa berpikir dua kali. Dan begitu sadar aku sudah duduk manis di toko es krim yang tidak terlalu jauh dari sekolah kami bersama Jong In oppa. Masing-masing dengan satu es krim di tangannya. Aku tidak tahu kenapa aku menghabiskan waktuku dengan Jong In tapi biarkan sajalah, kami senasib. Sama-sama korban cinta pasangan Sehun dan Hye Ju. Aku dan Jong In berbicara dan bercanda di toko es krim itu. Sampai aku ingat tentang coklat valentine di tasku yang tidak kuberikan pada siapa-siapa. Walaupun tidak tahu mau memberikan pada siapa, tetap saja aku membuat coklat itu. Sekedar mengikuti trend anak perempuan saja. Tidak salah kan? Kuputuskan memberikan coklat itu pada Jong In oppa saja. Dari pada sayang. Tahun lalu coklatku kuberikan pada Do Bi adikku dan mendapat ejekan darinya, katanya aku tidak punya seseorang yang mau menerima coklatku. Adikku memang kurang ajar di saat-saat yang tepat-_-

“Wah apa aku sedang mendapat pengakuan?” ujar Jong In oppa sambil menatap bungkusan coklat yang baru saja kuberikan padanya.

“Pengakuan apa? Aku hanya kasihan. Sepertinya oppa tidak dapat coklat, makanya kuberikan.”

“Wah, ternyata kau ini pemalu juga ya. Mencari alasan supaya bisa memberikan coklat padaku tanpa harus bersikap terlalu terang-terangan.” Jong In oppa menyeringai menatap wajahku yang entah karena alasan apa tiba-tiba saja menjadi merah.

“ Itu coklat kewajiban. Aku tahu semua anak perempuan sudah memberikan coklat mereka pada Sehun jadi oppa tidak kebagian coklat. Makanya itu kuberikan. Setidaknya oppa dapat satu coklat.” Jawabku, berusaha menutupi rasa gugup yang tiba-tiba saja menguasaiku. Aku ini kenapa sih?

“Enak saja. Aku ini lebih terkenal dari Sehun ya. Memangnya kau tidak lihat? Aku jauh lebih seksi darinya.” Aku tertawa mendengar kata-katanya yang pede overdosis itu. “Banyak anak perempuan yang memberiku coklat dan kutolak. Tapi coklatmu ini pengecualian. Aku akan menerima coklatmu.”

“Dan kenapa coklatku diterima sedangkan yang lain tidak?” aku memutar bola mataku mendengar pernyataannya.

“Entahlah. Mungkin kau spesial?” Sekali lagi aku tertawa mendengar kata-kata Jong In oppa.

“Aku bukan Hye Ju.” ujarku, menatap nanar ke arah jalanan yang ada di balik jendela, kulihat Hye Ju dan Sehun sedang berjalan di seberang sana. Bukannya Hye Ju mau pergi dengan Yu Mi?

“Memangnya siapa yang bilang kau Hye Ju?” Aku mengalihkan pandanganku dari jalanan itu dan bertatapan dengan Jong In yang duduk di depanku. Matanya menatapku dengan intens dan mata kami bertemu dalam diam. Aku tidak tahu bagaimana harus memecahkan kontak mata kami. Tanpa sadar aku menahan nafasku selama beberapa detik yang terasa lama. Sampai akhirnya Jong In oppa tertawa dan menghilangkan atmosfer yang janggal dan kikuk di antara kami.

“Kenapa kau tertawa?” kugembungkan pipiku setelah akhirnya betul-betul terlepas dari tekanan atmosfer yang tidak tahu begaimana menjelaskannya tadi.

“Ani, kau cantik juga kalau dilihat seperti tadi.” Blushh. Aku yakin sekarang pipiku sudah semerah lobster mendengar kata-kata Jong In itu. Apa dia memang dilahirkan dengan mulut manis seperti itu? Kalau begitu kenapa Hye Ju bukannya jatuh cinta padanya?

“Apa kau selalu mengatakan itu pada setiap wanita?” ujarku berusaha mengalihkan pandanganku dari matanya yang lanjut menatap wajahku dengan lembut. “Kalau begitu, tidak heran kalau kau bilang banyak juga yang suka denganmu.” aku berusaha menghilangkan rasa gugupku dengan mengalihkan perhatianku pada es krim yang entah karena alasan apa, sempat dilupakan author tadi-__-     “Hanya kau.” Jong In tersenyum seksi menatapku. “Karena kau sudah berani membuat pengakuan padaku padahal kita belum lama saling kenal.” Lanjutnya lagi, kali ini sambil mengangkat coklat yang baru kuberikan tadi. Dan dia tersenyum.

“Sudah kubilang itu hanya coklat kewajiban.” erangku dan hanya ditanggapinya dengan tawa seksinya.

Aku sampai di rumah setelah langit agak gelap dan disambut dengan eommaku yang sudah siap menungguku di depan pintu dengan centong nasi sedia di tangan. Malam itu aku meringis di tempat tidurku sambil mengelus-elus pantatku sayang yang sudah membengkak lima kali lipat karena dipukul eomma sampai tangannya kelelahan. Dan yang lebih gawat lagi, tangan eomma tidak kelelahan juga sampai akhirnya dia berhasil memukul lebih dari empat ratus kali. *si Bo Ram lebay -__-

Aku berbaring di atas kasurku sambil bermain game di ponselku. Sesekali kupegang pantatku yang kesakitan setengah hidup setelah menerima pukulan maut eomma. Aku hampir meloncat kaget saat tiba-tiba ponselku bergetar dan terdengar bunyi ‘biip’ keras sekali tanda ada pesan masuk. Game snake xenzia yang sedang kumainkan *wkwk ini si BoRam hidup di jaman kapan sih, gamenya uler-uler yang udah jadul banget* langsung kututup dan melihat nomor yang tidak kukenal tertera di layar ponselku. Setelah mengernyitkan dahi terlebih dahulu, kubuka pesan masuk itu.

From : Sekseeh Jong In

Night Princess~

To : Beautiful Princess

Aku tertawa membaca pesan dari Jong In oppa. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku membaca sms nya yang kekanak-kanakan itu. Dari mana dia dapat nomorku? Aku langsung membalas pesan itu.

From : Park Bo Ram

Ini sms salah alamat ya? Aku Bo Ram bukan Princess J

To : Sekseeh Jong In

Segera setelahnya aku menyimpan nomor Jong In oppa itu ke ponselku lalu kulempar ponsel itu ke samping tubuhku. Aku tersenyum-senyum menunggu balasannya. Kuelus-elus lagi pantatku yang terasa panas sambil menunggu ponselku bergetar lagi. Begitu benda itu bergetar dan berbunyi ‘biip’ lagi, aku langsung meraih ponselku dan membuka pesan baru.

From : Handsome Jong In

Oh, hapeku ini punya radar untuk menemukan gadis cantik ;;)

To : Prettier than rose Bo Ram

Aku memutar bola mataku membaca sms gombalnya. Tapi tetap saja aku tersenyum dan segera mengetik balasannya.

From : Jong In is so sexy ^o^

Oppa, dapat nomorku dari siapa?

To : Handsome Jong In

Tanpa menunggu lama, ponselku kembali bergetar dan menunjukkan sms balasan dari Jong In oppa.

From : Bo Ram is prettiest :*

Angin mengirimkan nomor seorang gadis cantik di depan jendelaku😉

To : My Bo Ram🙂

Jantungku seolah berhenti saat kulihat sms terakhirnya itu. Sudah lima menit berlalu sejak sms itu diterima oleh ponselku dan aku belum sanggup memberikan balasan untuk Jong In oppa. Seharian ini, Jong In oppa sangat gombal dan entahlah. Lalu dia mengirim pesan yang membuat jantungku berdebar di atas normal. Dan yang membuatku tidak bisa berpikir normal sekarang adalah baris terakhir sms terkutuk itu. Kuraih sekali lagi ponsel yang kulempar sembarangan di atas tempat tidur begitu aku membaca isi pesan itu tadi. Kubaca sekali lagi pesan itu dan isinya masih tetap tidak berubah sedikitpun *ya iyalah, mana mungkin berubah kan Bo Ram* Baris terakhir itu masih tetap sama. “To : My Bo Ram :)” Aku mengucek-ngucek mataku dan kutatap sekali lagi ponselku. Isinya tetap sama. My Bo Ram. My Bo Ram. Aku mengulang-ulang kata itu dalam otakku seperti sebuah mantra. My Bo Ram. Jong In oppa menyebutku ‘My Bo Ram’. Terakhir kuingat aku ini bukan milik siapa-siapa tapi orangtuaku, lalu kenapa Jong In oppa menyebutku seperti itu?

Setelah beberapa saat membatu di tempat, akhirnya aku menampar pipiku sendiri dan mengerang kesakitan sendiri. Sadarlah Bo Ram. Itu hanya sms biasa. Jong In oppa tidak ada maksud lain. Tentu saja. Dia kan suka dengan Hye Ju. Ingat. Dia suka Hye Ju. Dia hanya sedikit bercanda dengan smsnya itu.

Aku dikejutkan dari lamunanku saat tiba-tiba ponselku berdering, melantunkan lagu Rum Pum Pum Pum aheem f(x) kesukaanku aheem *wkwk mentang-mentang f(x) comeback langsung aja make lagu baru f(x) maklum saya nge fans banget #abaikan bagian ini. Segera kuangkat ponselku, menghentikan lantunan lagu Rum Pum Pum Pum itu.

“Yeoboseyo? Jong In oppa?” segera ucapku begitu lagu Rum Pum Pum Pum berhenti bernyanyi *dari tadi maksa banget nyebut Rum Pum Pum Pum wkwk* “Kenapa menelepon? “ lanjutku lagi. Orang yang kusebut tidak mengucapkan sepatah kata pun dan aku hanya dapat mendengar suara helaan nafas. “Oppa?” ucapku sekali lagi, berharap Jong In oppa akan berbicara.

“Bo Ram.” Akhirnya dia mulai berbicara tapi yang kudengar tidak seperti suara Jong In. Apa mungkin karena bicara melalui hape? “Ini Sehun.” Kembali suara di seberang berbicara. Aku langsungmenghadapkan ponselku dengan mataku dan kulihat nama Sehun yang tampak di layar, bukan Jong In. Aku mengutuk diriku sendiri dalam hati karena tidak memeriksa siapa yang menelepon terlebih dahulu tadi. Dengan pedenya  aku langsung menyimpulkan itu  Jong In.

“Ah,mian oppa, itu tadi…..” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, sambungan kami sudah terputus dan yang terdengar hanya bunyi ‘tuut’ singkat dan sepi. Tidak ada lagi suara. Kenapa dia mematikannya? Aku mengernyit memandang ponselku. Lalu kualihkan pandanganku ke arah jendela kamarku, yang berseberangan dengan kamar Sehun dan kulihat Sehun di seberang kamarku sedang menatapku. Ponselnya digenggamnya di tangan kanannya dan matanya tajam menatapku seolah dapat merobek jiwaku *ceileh bahasanya* Aku tersenyum dan bertanya tanpa suara ‘ada apa’ lalu mengangkat ponselku. Maksudku bertanya ‘kenapa dia menelepon?’ Tapi Sehun hanya diam kemudian kulihat dia menghela nafas dan ditutupnya tirainya menghalangi pandanganku ke arah kamarnya. Dia terlihat kesal. Aku tidak mengerti. Kenapa dia bersikap seperti itu? Kupandangi jendelanya sebentar lagi sebelum akhirnya aku mengangkat bahuku, tidak mau tahu dan menutup tiraiku juga. Lalu aku berbalik dan kembali berbaring di atas tempat tidurku.

Kembali hapeku bergetar dan kulihat satu lagi pesan masuk. Jantungku berdebar kencang sekali lagi melihat nama Jong In muncul di layar.

From : Jong In

Night~ Sleep sound, nice dream ^^

To : My Bo Ram

My Bo Ram. Dia tetap menyertakan My Bo Ram. Sejak kapan aku jadi Bo Ram nya? Aku hanya diam memandangi ponselku sebelum akhirnya kulempar lagi ponsel itu ke sisi kananku. Kubiarkan ponsel itu berbaring sendiri di sampingku. Tanpa membalas pesan Jong In oppa, biar dia mengira aku sudah tidur saja. Sambil menatap langit-langit aku memikirkan tentang dua pria yang baru saja muncul namanya di layar ponselku. Jong In dan Sehun. Mereka berdua itu kenapa ya? Jong In yang tiba-tiba bersikap aneh seperti itu dan Sehun yang bersikap jauh lebih aneh lagi. Kenapa Jong In oppa tiba-tiba bersikap seperti itu ya? Dan kenapa Sehun kesal? Memangnya apa yang mau dikatakannya saat menelepon tadi? Aaarrgh entahlah. Akhir-akhir ini semua orang membuatku bingung.

Aku mengacak-acak rambutku frustasi karena tidak dapat menemukan jawaban atas sikap semua orang yang membingungkanku. Hari ini terlalu penuh kejutan. Sehun, Jong In, Hye Ju, bahkan Chanyeol sunbae yang sebenarnya tidak ada hubungannya. Kenapa aku jadi bingung sendiri seperti ini?

Masih sibuk dengan pikiranku, kudengar suara hujan di luar jendelaku. Saat kupandang ke arah jendela, titik-titik air sudah menempel di kaca jendelaku. Mengingatkanku pada Mr. Friday. Hhhh Mr Friday. Bahkan dia pun berubah dalam pikiranku. Dia… entahlah. Aku tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya. Aku tidak mengerti.

Sekali lagi, aku melonjak kaget dari tempat tidurku saat hapeku kembali bergetar dan berbunyi ‘biip’. Kulihat pesan masuk baru. Lagi-lagi dari Jong In. Kubuka pesan itu dengan setengah hati. Aku langsung meloncat dari tempat tidurku lalu salto lalu push up lalu mengipas wajahku yang panas lalu salto lagi lalu berskipping dan sprint ringan di sekitar kamarku *abaikan* Kutatap lagi pesan dari Jong In oppa itu. Jantungku berdebar lebih lebih cepat dari lari kuda.

From : Kim Jong In

Hey, saat kau membaca pesan ini. Mungkin itu sudah besok. Tapi tetap saja aku ingin mengatakannya sekarang. Jadilah kekasihku. p.s. coklatnya enak sekali ^^ kutunggu jawabanmu.

To : Park Bo Ram

Jong In oppa, memintaku jadi….. ya Tuhan. Aku tidak dapat percayapada mataku sendiri. Bagaimana bisa? Belum sempat aku tersadar dari shock ku, lagi-lagi aku dikejutkan dering ponselku yang melantunkan lagu Rum Pum Pum Pum memenuhi seluruh ruangan. ‘Oh Sehun’ muncul di layar. Segera kuangkat ponselku.

“Yeoboseyo?” ujarku pelan. Kudengar suara deru nafas dari ujung seberang. Kutatap ke arah jendela, ke arah kamar Sehun. Dan kulihat dia berdiri di belakang jendelanya, menatapku. Tirainya sudah dibukanya lagi. Aku pun membuka tirai jendelaku dan mata kami bertemu dalam hening. Beberapa detik yang terasa seperti selamanya kami habiskan dengan saling menatap satu sama lain. Nafasku terhenti saat bola mata kami saling bertatapan tanpa bisa lepas. Sebelum akhirnya kulihat Sehun membuka mulutnya. Dan yang terdengar dari ponselku adalah “Bo Ram, aku menyukaimu.” Aku membelalakkan mataku medengar pernyataannya yang tiba-tiba. Hanya ada tiga kata yang terangkai dalam kepalaku. Sehun, kau…. playboy.

=TBC=

95 thoughts on “[CHAPTERED] Mr. Friday (Part 3)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s