[Chaptered] Mr. Friday (Part 4)

Mr Friday 4 copy

Part 1 | Part 2 | Part 3

Tittle                      : Mr. Friday

Author                  : Sehunblackpearl

Main Cast            :

–  Park Bo Ram (OC)

–  Oh Sehun (EXO)

–  Kim Jong In (EXO)

Supported Cast :

–  Lee Hye Ju (OC)

–  Park Chanyeol (EXO)

–  Byun Baekhyun (EXO)

Special Cast        : Kim Jaejoong (TVXQ) *gamau tau, Jaejoong tetep from TVXQ dalam hati author :’)

Genre                   : Romance, comedy, schoollife, absurd, ceritanya labil, authornya juga labil-_-

Rated                    : PG-15 for kissing scene

Summary             : no summary, author malas bikin summary

Disclaimer           : Plot dan isi cerita milik saya. Sehun juga milik saya Bo Ram cuman minjam suami saya dalam ff ini xP Chara yang lain milik Tuhan, orangtua mereka, dan SME.

Yuuuuhhhuuuu annyeong readerdeul. Ada yang rindu ama author gaaaak? *gadak thor. Walaupun kalian gak rindu, author rindu kok ama kalian :’) Makanya ini author balik lagi ama si Mr. Friday chap 4. Mian yaah kelamaan updatenya ToT Tapi kemarin author udah bilang kan author sibuk fangirling. Sebenarnya sekarang juga sibuk kok tapi sibuknya dalam arti lain. Author sibuk ngerjain peer yang menumpuk banget, gak pernah disentuh selama libur panjang bulan puasa. Author sampe nangis terharu pas nengokin peer yang masih bersih gak disentuh :””) Okeeeh, bacotan selanjutnya author buat di bawah aja deh ya, sekarang kalian langsung baca aja cerita gaje nan alay ini. Selamat membaca xDDD

Inget. No BASH. NO SIDERS. No PLAGIATOR. Okeeeee!

^^Mr.Friday^^

“Hei Bo Ram, sedang apa kau di sini?” tanya suara pria yang kelewat berat dari belakangku. Aku terlonjak kaget saat kudengar suara itu tiba-tiba bertanya tanpa aba-aba.

“Oh, Chanyeol oppa.” ujarku begitu berbalik hanya untuk memastikan bahwa yang berbicara adalah Park Chanyeol sunbaeku yang entah kenapa selalu muncul di tiap chaper cerita ini #plak “Oppa sendiri kenapa di sini?” aku balik bertanya.

“Apa menurutmu pertanyaan itu pantasnya ditanyakan padaku dan bukan kau?” tanyanya sekali lagi sambil mengerutkan keningnya. “Apa yang kau lakukan di toilet pria seperti ini?” kedua tangannya diletakkannya di kedua pinggangnya.

“Ahhaha aku sudah oprasi kelamin oppa. Siapa tahu kau nanti bisa jadi suka padaku. Kau kan sukanya dengan laki-laki.” Ujarku sambil tertawa garing. Chanyeol oppa hanya memutar bola matanya.

“Kalau begitu boleh kuperiksa?” ujarnya lagi sambil menyeringai jahil, menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi. Mataku silau saat melihat cahaya yang keluar dari giginya *lebai.

“Oppa….” teriakku sambil memukul lengannya, Chanyeol oppa hanya meringis lalu tertawa bodoh lagi.

“Makanya jawab yang benar!” dia mengelus-elus lengannya yang kupukul, berpura-pura kesakitan.

“Aku dihukum Guru Kim karena terlambat tadi pagi. Ini keempat kalinya aku terlambat kelasnya, jadi aku dihukum membersihkan toilet laki-laki dan perempuan di lantai dua. Menyebalkan sekali dia.” Aku menggembungkan pipiku sebal mengingat wajah Guru Sejarah kami yang walaupun cantik seperti perempuan tapi sebenarnya dalamnya adalah setan bertanduk sepuluh yang dengan teganya menyuruh seorang gadis lemah sepertiku membersihkan seluruh toilet di lantai dua sekolah.

“Oh haha. Kau salah mencari masalah dengan si cantik itu.”

Aku langsung kembali sibuk dengan pekerjaanku seiring kata-kata Chanyeol oppa mengalir tanpa rasa bersalah dari mulutnya. Chanyeol oppa tetap tertawa.

“Terima kasih atas pujiannya Park Chanyeol.” ujar Guru Kim yang sudah berdiri di belakang Chanyeol oppa. Senyum manis tapi mengerikan menggantung indah di wajahnya. “Sebagai ucapan terima kasih dengan senang hati kau kupersilahkan bolos pelajaran hari ini dan membantu Park Bo Ram membersihkan toilet di lantai dua. Semuanya.” Chanyeol oppa dengan kikuk berbalik melihat Guru Kim yang masih tersenyum di belakangnya.

“Ss..seon..sangim…” ujar Chanyeol oppa terbata-bata. Si Kim Jaejoong setan itu hanya tersenyum tidak berdosa kemudian menepuk bahu Chanyeol oppa.

“Selamat bekerja.” Kemudian dia berbalik meninggalkan kami berdua di toilet.

Setelah merasa yakin Guru Kim sudah tidak di situ lagi, aku tertawa sejadi-jadinya melihat wajah Chanyeol yang berubah menjadi aneh begitu mendengar suara Guru Kim tadi. “Hehehe makanya jangan main-main dengan si cantik itu oppa.” ujarku masih belum dapat mengendalikan tawaku, aku memegangi perutku yang terasa sakit saking aku terlalu semangat menertawakan Chanyeol oppa. “Selamat bergagung dengan tim kerja pembersihan toilet oppa.” aku memberikan salah satu pel yang tergeletak di sudut toilet pada Chanyeol oppa. “Berdua pasti lebih cepat.” Ujarku lagi lalu kembali menekuni pekerjaanku. Aku mendengar Chanyeol oppa komat-kamit tidak jelas sebelum akhirnya dia juga ikut meengepel lantai toilet.

“Bersyukurlah oppa, kau jadi tidak usah ikut pelajaran lagi.” ujarku bercanda.

“Keadaan ini bukan sesuatu yang pantas disyukuri.” keluhnya sambil menghapus peluh di keningnya menggunakan punggung tangannya. “Memalukan sekali. Permisi dari kelas khusus untuk dihukum seperti ini.”

“Salahmu sendiri.”

“Kau sendiri kenapa bisa terlambat dan dihukum?” Chanyeol oppa tiba-tiba mengangkat kepalanya seolah baru saja mendapat ilham.

Aku terdiam mendengar pertanyaan Chanyeol oppa. Kupalingkan wajahku yang tiba-tiba memanas. “Terlambat bangun.” Jawabku sekedarnya. Chanyeol oppa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawabanku.

“Dasar. Makanya jangan begadang saja.” Ujarnya lalu tertawa. Aku balas tertawa garing lalu kami diam saja dan melanjutkan pekerjaan kami dengan hening.

Aku kembali teringat tentang semalam. Setelah menerima pengakuan yang mengejutkan dari Sehun aku langsung mematikan sambungan kami. Cepat-cepat kututup tiraiku dan aku langsung berbaring di atas tempat tidurku dengan selimut membungkus seluruh tubuhku. Jantungku berdebar begitu cepat seolah akan meledak saat itu juga. Dan tanpa melihat ke cerminpun, aku tahu wajahku sangat merah. Aku tidak bisa berpikir jernih. Bagaimana bisa Sehun mengatakan hal seperti itu padahal sudah jelas dia punya dua pacar. Jong In oppa juga, kenapa dia memintaku menjadi pacarnya padahal dia suka pada Hye Ju. Aku tidak mengerti. Sebenarnya apa yang dipikirkan dua orang itu? Aku mencoba tidur setelahnya tapi tidak bisa. Mereka berdua tidak bisa hilang dari pikiranku. Semalaman aku terjaga dan hanya memikirkan kedua orang itu. Pada akhirnya aku tidur kira-kira jam tiga atau tangah empat dan keterusan sampai jam delapan kurang. Dan jadilah aku terlambat hari ini. Padahal aku sudah berencana untuk tidur cepat semalam karena hari ini jam pertama kami belajar Sejarah. Gara-gara dua orang itu aku harus menderita membersihkan toilet seperti ini. Menyebalkan sekali.

^^Mr.Friday^^

“Huaaaah akhirnya selesai juga.” Chanyeol oppa meregangkan tangannya yang pasti terasa pegal setelah membersihkan toilet kurang lebih dua jam. Ditambah lagi mengatasi teriakan anak perempuan saat mereka melihat Chanyeol oppa di toilet perempuan tadi. Dia pasti lelah sekali. Tapi bukan berarti aku juga tidak lelah. Aku jauh lebih lebih lebih lelaaah dari dia. Karena aku lebih lama dan lebih dulu membersihkan toilet. Apa lagi aku kurang tidur. Kepalaku sakit sekali jadinya.

Kami berdua berjalan memasuki kantin yang tidak terlalu ramai. Aku mengikuti Chanyeol oppa yang berjalan dari belakang menuju tempat penjualan minuman.

“Kau tunggu saja di meja sana.” ujarnya, berbalik ke arahku sambil menunjuk salah satu meja di sudut yang terlihat kosong. “Biar aku beli minumanmu sekalian.”

Aku mengangguk, malas mendebatnya saking lelah dan hausnya. Aku langsung berjalan dan menempati meja yang dimaksudnya tadi. Sedangkan Chanyeol oppa membeli minuman kami. Aku langsung duduk begitu tiba di meja itu. Kuhembuskan nafasku lega, setelah akhirnya aku bisa menyelesaikan pekerjaan menyebalkan itu. Terima kasih untuk Chanyeol oppa yang sangat membantu. Kalau aku mengerjakannya sendiri mungkin sampai malampun toilet itu tidak akan bersih. Pinggangku rasanya sakit sekali karena kebanyakan membungkuk tadi. Syukurlah penyiksaan kami sudah selesai.

Kupandangi Chanyeol oppa yang sedang mengantri membeli minuman kami. Aku tersenyum melihat sosoknya dari belakang. Meskipun konyol tapi dia baik juga. Tadi saja kebanyakan dia yang bekerja membersihkan toilet. Kuketuk-ketukkan tanganku di atas meja sekedar mencoba mengusir kebosanan.

“Hai cantik, apa kau sendiri?” aku dikejutkan oleh tepukan di bahuku dan suara pria yang bertanya dari belakangku. Aku langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang berbicara dan kulihat Jong In oppa sedang tersenyum memandangku. Oh Tidak. Orang yang sedang tidak ingin kulihat. Semalam maupun tadi pagi aku tidak membalas sms nya dan aku juga tidak mau melihat smirk seksinya tu sekarang. “Bo Ram, kau masih hidup?” ujar Jong In oppa sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku.

“Ah, ne oppa.” aku segera menjawab begitu tersadar dari lamunanku.

“Boleh?” ujarnya sambil menunjuk kursi di seberangku. Aku mengernyitkan dahiku tanda tidak mengerti dan dia terkekeh. “Boleh aku menemani nona cantik yang kesepian ini?” ujarnya lagi, kali ini sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku salah tingkah dan menggaruk-garuk kepalaku yang banyak ketombenya *cantik-cantik ketombean -_-. Jadi aku hanya mengangguk dan berusaha menyembunyikan wajahku. Dia langsung berjalan ke arah kursi di depanku dan kemudian duduk dikursi itu. Aku menolak menatapnya dan tetap menundukkan kepalaku. Jong In oppa tidak terlihat terganggu dengan itu.

“Kudengar tadi kau dihukum membersihkan toilet dengan Chanyeol.” ujarnya santai.

“Ya, kami memang dihukum.” Chanyeol oppa yang entah sejak kapan tiba-tiba sudah berdiri di samping meja kami sambil menggenggam dua gelas jus di tangannya menjawab pertanyaan Jong In oppa. “Bo Ram, ini minumanmu.” sambungnya sambil meletakkan sagelas jus itu di meja, sedangkan yang lain tetap digenggamnya.

“Terimakasih oppa.”

“Yeol, Baekhyun mencarimu.” Ujar Jong In oppa tiba-tiba pada Chanyeol.

“Kenapa dia mencariku? Dia kan sedang marah.” Balas Chanyeol. Aku mengangkat kepalaku dan kulihat Jong In dan Chanyeol saling memelototi satu sama lain, dan akhirnya Jong In oppa menggerakkan kepalanya ke arah pintu keluar kantin seolah mengusir Chanyeol.

“Baiklah, baiklah. Menyebalkan sekali kau ini. Kim Sialan Jong In.” omelnya sebelum berbalik dan meninggalkan kami. “Ah sampai jumpa lagi Bo Ram. Jusnya aku yang bayar. Kapan-kapan giliranmu oke.” Dia berbalik dan melambaikan tangannya padaku dan akhirnya berjalan menjauhi kami. Sebenarnya aku ingin berteriak untuk menyuruh Chanyeol tidak pergi. Karena kalau hanya berdua dengan Jong In aku merasa sangat canggung. Dasar Jong In oppa. Kenapa sih dia harus mengusir Chanyeol.

“Jadi… apa kau tidur nyenyak semalam?” Jong In bertanya sambil menatapku. Wajahnya ditopangnya di atas tangannya yang dia letakkan di atas meja. Dan dia tersenyum memandangku. Aku menundukkan kepalaku dan hanya mengangguk. “Kenapa canggung seperti itu? Semalam kau biasa saja.” Ujarnya lagi masih dengan gaya yang sama. Aku tidak berani bersuara dan hanya menundukkan wajahku. Bagaimana tidak merasa canggung setelah menerima sms mu semalam? Aku berteriak dalam hatiku.

“Maaf oppa, aku harus segera kembali ke kelas.” ujarku langsung bangkit dari tempat dudukku dan berbalik meninggalkannya.

“Tunggu.” Aku berhenti saat kurasakan tanganku digenggam oleh Jong In oppa. Aku berbalik lagi dan kulihat wajahnya yang menengadah melihatku dan matanya yang terus menatap wajahku. Aku diam saja balas memandang Jong In oppa, menunggu dia berbicara. “Itu… soal semalam…” dia dengan gugup menyentuh tengkuknya. “Tentang sms…”

“Maaf oppa. Kita bicarakan itu nanti.” Aku langsung memotong perkataannya sembari menepis tangannya dari pergelangan tanganku dan aku segera berlari meninggalkannya. Bukannya ingin lari, hanya saja aku belum siap membicarakan hal itu dengannya. Aku belum tahu harus memberikan jawaban seperti apa.

^^Mr. Friday^^

Aku berdiri terpaku di depan gerbang rumahku. Tidak tahu harus melakukan apa dan juga tidak ingin melakukan apa-apa. Aku baru saja pulang sekolah. Aku lelah dan yang ingin kulakukan saat ini adalah langsung menghambur masuk ke dalam rumah dan tidur sampai puas. Dan seolah-olah tidak mempunyai rasa kepriBoRaman entah kenapa semua orang hari ini membuat moodku bertambah burukburukburuk. Dari tadi pagi. Umma marah, adikku si Do Bi sialan membasahi rokku dengan susu sehingga aku harus mengganti rokku dan umma marah lagi, aku terlambat, Si Jaejoong setan membuatku membersihkan toilet, lalu Jong In lalu Hye Ju, Yu Mi dan semuasemuasemua membuatku ingin melempar mereka dari lantai teratas Empire State tapi berhubung Empire State terlalu jauh, aku akan melempar mereka saja dari Namsan Tower dan kemudian tertawa melihat mereka berteriak ketakutan. Tapi lupakan tentang Namsan maupun orang-orang menyebalkan itu. Sekarang aku betul-betul ingin berlari ke kamarku seperti orang gila lalu menenggelamkan tubuhku di kasur yang tidak begitu empuk tapi cukup nyaman sambil memeluk gulingku, lalu tidurtidurtidur. Dan yang paling tidak ingin kulakukan saat ini adalah berhubungan dengan Sehunsehunsehunjonginsehunsehunsehun. Lalu kenapa sekarang ini dia berdiri, bersandar di gerbang rumahku seolah sedang menungguku? Ya Tuhan bunuh akuuuu.

Aku mulai merencanakan pembunuhan Oh Sehun di dalam kepalaku saat kulihat dia menatapku lalu tersenyum dan….

“Hei.” Sehun berhenti bersandar di gerbang dan berjalan mendekatiku sambil tersenyum. Aku hanya membalasnya dengan tersenyum kaku. “Eeem, boleh aku menumpang di rumahmu dulu sebentar sebelum ibuku pulang?” katanya saat sudah berdiri tepat di hadapanku.

Aku diam saja. Masih dalam posisi seperti aku pertama melihat dia tadi, aku tidak berniat memberikan respon pada kata-katanya.

“Boram, hei Boram.” Sehun memanggil-manggilku sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. Aku hanya mengerutkan keningku sebagai respon. “Jadi, apa aku boleh menumpang sebentar?”

Tidak boleh. Kau tidak boleh masuk ke rumahku. Aku sangat lelah dan aku ingin tidur sekarang juga dan aku sangat membencimu dan aku tidak ingin melihatmu sampai aku mati. Karena kau berpacaran dengan sahabatku dan kau juga berpacaran dengan gadis yang sangat cantik dan aku tidak tau apa mungkin kau juga punya pacar lain dan kau bilang kau menyukaiku. Dan yang paling menyebalkan adalah kau itu adalah Mr. Friday dan yang palingpalingpaling menyebalkanmenyebalkanmenyebalkan lagi aku juga menyukaimu dan aku ingin memelukmu saat ini juga tapi aku tidak mau kalau aku harus jadi pacarmu yang kesekian dan aku tidak mau tertipu dengan rayuanmu dan….

“Masuk saja.” adalah  jawabanku. Lalu aku berjalan melewatinya. Kubuka gerbang dan masuk ke dalam. Aku memukul diriku sendiri dalam bayanganku. Ya Tuhan kenapa aku mempersilahkannya? Kubiarkan Sehun berjalan mengikutiku dari belakang walaupun dalam hati aku ingin ditelan bumi saat ini juga. “Orangtuaku sedang tidak ada, jadi buat dirimu senyaman mungkin.” kataku lagi setelah kami berdua masuk ke ruang tengah dan dia kupersilahkan duduk di sofa.

Aku naik ke lantai dua menuju kamarku untuk berganti baju. Apa yang harus kulakukan setelah ini ya? Segera setelah kututup pintu kamarku aku menyesali keputusanku membiarkan playboy cap angin (?) itu masuk ke rumahku apalagi di sini hanya ada kami berdua. Dan ditambah dengan pengakuan tiba-tibanya semalam. Seolah hidupku belum cukup susah saja, dia bersamaan dengan temannya Kim Jong In menambah komplikasi hidupku.

“Kau ingin makan sesuatu?” ujarku begitu tiba di ujung tangga dan kulihat Sehun yang sudah sibuk berkutat dengan hapenya. Sehun terlonjak kaget dengan kehadiranku.

“Ah.Ya.Kau.” ujarnya spontan. Aku mengerutkan keningku mendengar jawabannya. “Ma..maksudku.. tentu saja. Sesuatu. Bukan kau. Aku..sesuatu..makanan…” Tiba-tiba saja Sehun kehilangan kemampuannya berbicara dan dia bicara tergagap, membuat kerutan bertambah banyak di keningku.

“Baiklah. Kau mau makan siang?” Sehun mengangguk dan aku berjalan menuju dapur untuk melihat apa ada sesuatu yang dapat dimakan. Dan beruntung sekali tidak ada makanan sedikitpun di lemari maupun di kulkas. Aku menghela napas berat setelah kubanting terlebih dahulu pintu kulkas. Dasar ibu. Tidak memasak dan menyisakan apapun untuk makan siang karna dipikirnya hanya akan ada aku.

“Mau memesan pizza?” ujarku lagi, berjalan ke arah telepon di samping sofa yang diduduki Sehun. “Tidak ada makanan sediktpun di dapur.” Aku sudah menggenggam telepon dan siap menekan nomor telepon restoran pizza.

“Terserah saja,” jawabnya sambil mengangkat bahunya.

Pada akhirnya aku memesan mi Cina untuk kami berdua yang langsung diantar kurang dari sepuluh menit. Dan selama kurang dari sepuluh menit itu, yang kami lakukan hanya duduk, diam, pura-pura sibuk dengan hape dan pikiran masing-masing, curi-curi pandang sekali-sekali. Aku menghela nafas lega saat bel rumah dibunyikan dan muncul pengantar mi Cina yang kami pesan. Dan kami makan berdua di dapur dalam diam. Makan, mengunyah, mengunyah, diam, mengunyah, diam, mengunyah, diam, diam, mengunyah dan selesai.

Aku duduk masih diam, memandangi punggung Sehun yang sedang sibuk mencuci piring bekas makan kami. Setelah selesai makan, Sehun memaksa untuk membersihkan karena katanya memang seharusnya dia yang melakukannya karena dia sudah kupersilahkan menumpang sebentar. Karena tidak ingin bertengkar (bahkan bicara dengannya saja sudah sangat canggung, apalagi kalau harus bertengkar lagi) jadi kubiarkan saja dia melakukan apa yang ingin dilakukannya dan aku duduk di kursi, memandangi punggungnya yang lebar. Bahkan dari belakangpun dia sangat mempesona. Sayang sekali dia playboy.

“Dari tadi memikirkan apa sih?” aku terlonjak kaget melihat Sehun yang sudah berdiri di hadapanku. Dia melepas sarung tangan yang digunakannya saat mencuci piring tadi sambil memandangiku.

Kau.

“Tidak ada.” jawabku singkat. Aku mengalihkan pandanganku darinya.

“Dari tadi kau diam saja.”

Aku memilih mengabaikan pertanyaannya dan hanya tersenyum. Sehun mengerutkan dahinya, tapi kemudian dia membiarkannya begitu saja dan duduk di depanku.

“Hei kudengar kau membersihkan toilet pria tadi.”

Aku mengangkat kepalaku, menatap Sehun yang sudah tersenyum lebar di depanku. Berita seperti ini  cepat sekali tersebar.

“Kudengar dari Chanyeol.” katanya lagi, kali ini sambil sedikit terkekeh.

Kuputar bola mataku malas.

“Dia memang tidak bisa menjaga mulutnya.” ujarku sambil menggembungkan pipiku.

“Kalau tidak ingin orang lain tahu, membersihkan toilet di Alaska saja.”

“Mana mungkin membersihkan toilet di Alaska, si Jaejonong kan tidak memakai toilet di Alaska. Lagi pula kau tahu? Si Jaejoong menyuruhku membersihkan toilet laki-laki dan perempuan itu karena dia memakai keduanya.” Kami berdua tertawa mendengar perkataanku tadi. Membayangkan si Kim Jaejoong yang mukanya menyebalkan itu menggunakan toilet baik untuk laki-laki maupun perempuan lalu mengeluh tentang betapa kotor dan baunya semua toilet itu.

Suasana canggung yang sedari tadi berkeliaran di sekeliling kami menghilang seketika, terhapus oleh tawa dan candaan kami yang tidak ada habisnya. Akhirnya untuk sesaat aku melupakan kekesalan, rasa curiga dan prasangka burukku terhadapanya. Kami kemudian duduk di teras belakang rumahku, menikmati nenas yang kami temukan di kulkas, dan bercerita sepuasnya. Baik aku maupun dia sama-sama menghindari pembicaraan tentang pernyataan tiba-tibanya semalam. Aku berpura-pura seolah pernyataan itu sebenarnya tidak ada sama sekali semalam dan hanya ada dalam mimpiku.

“Lalu bagaimana dengan Chanyeol dan Baekhyun sunbae sekarang?” tanyaku santai di tengah kunyahan nenasku.

“Haha mereka berdua itu aneh sekali. Tidak ada malunya.” jawab Sehun. Ia meletakkan kedua tangannya di lantai dan menopang berat tubuhnya dengan tangannya itu. “Tadi pagi mereka bertengkar, Baekhyun berteriak-teriak seperti orang gila dan Chanyeol hanya duduk diam di kursinya, dia menutup telinganya dengan headset.”

“Entah kenapa aku tidak terkejut mereka punya hubungan seperti itu.” Sehun tertawa.

“Ya, tapi mereka berbaikan cepat juga.” Ujar Sehun lagi, sambil meraih sepotong nenas. “Pulang sekolah tadi saja, kupikir kelas sudah kosong, aku kembali ke kelas mau mengambil bukuku dan waktu kubuka pintu kelas, mereka berdua ada di dalam.” Sehun berhenti berbicara dan memasukkan potongan nenas di tangannya ke mulutnya lalu menjilat tangannya.

Aku mengalihkan pandanganku dari Sehun yang terlihat lebih seksi dari bibir tebal Jong In sekalipun, dan berusaha menekan keinginan untuk menjilat tangannya. “Memangnya kenapa kalau mereka berdua di dalam?” kataku berusaha menstabilkan debaran jantungku.

“Kalau saat aku masuk, seragam mereka berdua tidak acaka-acakan maka tidak ada masalah. Tapi seragam mereka berantakan, rambut Baekhyun juga acak-acakan dan bibirnya bengkak.”

“Mungkin saja kan mereka habis berkelahi maksudku saling pukul.”

“Mana ada orang berkelahi dengan resleting terbuka.”

Aku tersedak mendengar kata-kata Sehun yang terakhir. Sambil batuk-batuk aku memukul dadaku dan Sehun memberikan segelas air. “Apa yang mereka lakukan?” ujarku setelah agak tenang.

“Duuuh memangnya apa lagi?” aku dapat mendengar dengan jelas nada sarkastik dalam kata-kata Sehun.

“Di sekolah?”

“Yup.”

“Berani sekali.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku,setengah kagum, setengah shock, dan setengah tidak percaya.

“Memangnya menurutmu dimana lagi mereka bisa melakukannya?” Baiklah aku tidak tahu kenapa kami jadi membicarakan tentang ‘hal’ yang dilakukan oleh pasangan maho itu.

“Tidak tahu. Mungkin di… toilet? Atau… di rumah.”

“Toilet tidak pernah kosong Bo Ram. Dan di rumah ada orang tua atau saudara mereka.” ujar Sehun sekali lagi, sambil menggigit nenasnya.

“Orangtua juga kan tidak selalu di rumah. Mereka bisa melakukannya saat rumah kosong. Misalnya seperti sekarang?” aku meraih potongan nenas terakhir di piring dan langsung memasukkannya ke dalam mulutku, tidak mempedulikan Sehun yang sudah duduk tegak dan menatapku.

“Misalnya seperti sekarang?”

“Misalnya seperti sekarang.” Aku mengulangi kata-katanya dengan santai masih mengunyah nenasku.

“Misalnya sekarang?” aku mengangkat kepalaku kesal karena Sehun mengulang-ulang perkataannya dan terkejut saat kulihat wajahnya tepat di depanku. Sejak kapan dia sudah sedekat ini?

“Misalnya seperti kita sekarang ini?” katanya lagi, mengangkat tangannya menyentuh pipiku. Matanya terkunci tepat dengan mataku dan aku untuk sesaat lupa cara untuk bernafas.

“Misalnya seperti kita sekarang ini.” jawabku di tengah rasa sesak di dadaku karena pasokan udara yang berkurang. Aku dapat mendengar paru-paruku berteriak meminta oksigen tapi kuabaikan. Aku menelan ludahku mencoba menyembunyikan rasa gugupku.

“Bernafaslah!” suara Sehun yang tiba-tiba menjadi seberat suara Chanyeol menari-nari di telingaku dan nafasnya menggelitik wajahku. Aku menuruti kata-katanya dan bernafas senormal yang kubisa. Meskipun sangat sulit karena wajah Sehun yang hanya berjarak kurang dari lima senti dari wajahku. Matanya berpindah dari menatap wajahku, ke pipi, hidung, lalu bibirku. Kemudian wajahnya didekatnya ke wajahku. Dekat. Lebih dekat. Lebih dekat. Lebih dekat lagi. Dan bibir kami bertemu. Aku menutup mataku dan membiarkan bibirnya menari-nari sesukanya di atas bibirku. Tiga detik kemudian dia melepaskan tautan bibir kami dan menatap wajahku masih dengan jarak yang sangat dekat.

“Pipimu merah.” ujarnya masih dengan suaranya yang tiba-tiba menjadi berat karena tekanan nafsu.

Aku diam, menundukkan kepalaku, dan dia menyentuh daguku dengan ujung jarinya memaksaku untuk menatap wajahnya lagi. Aku tidak tahu harus mengatakan apa.

“Nafasmu bau nenas.” Aku ingin memukulkan kepalaku sendiri ke dinding begitu aku mengatakannya. Ya ampun… Seriously? Aku malah mengatakan nafasnya bau nenas di saat seperti ini? Sehun hanya terkekeh mendengar perkataanku dan aku yakin wajahku saat ini sudah lebih merah dari pada saat dibilangnya wajahku merah tadi. Aku ingin menenggelamkan diriku ke dalam sumur kalau saja di sini ada sumur sekarang.

“Nafasmu juga bau nenas.” Sehun tersenyum menatapku. Aku diam menatap bibirnya. Dan tanpa menunggu perintahku terlebih dahulu, wajahku maju sendiri mendekat ke wajah Sehun. Sehun pun ikut mendekatkan wajahnya ke aku dan sekali lagi kami berciuman. Kali ini bukan hanya ciuman singkat tiga detik. Aku membalas setiap ciuman Sehun di bibirku. Bau dan rasa nenas mendominasi ciuman kami. Dan aku lupa dengan semua rumor tentang Sehun. Aku tidak peduli dia playboy atau kenyataan dia berpacaran dengan Hye Ju dan wanita cantik itu. Aku lupa tentang Jong In atau Chanyeol atau Baekhyun atau Kim Jaejoong si cantik atau kemungkinan orang tuaku bisa saja tiba-tiba masuk dan berdiri di samping kami. Aku tidak peduli. Yang kupedulikan hanya bibir Sehun di atas bibirku dan lidahnya yang mendesak masuk ke dalam mulutku, mengabsen barisan gigiku dan menari-nari bersama lidahku sendiri. Lidahnya terasa seperti nenas dan aku merasa bahagia. Seolah kaki sudah tidak berpijak di bumi lagi, aku melayang memeluk tubuhnya. Aku mempunyai beberapa hal yang sangat kusukai dan ciuman Sehun kini menjadi salah satunya.

“Terima kasih. Aku juga suka menciummu.” bisik Sehun tepat di depan wajahku lalu memberikan kecupan ringan sekali lagi di bibirku. Aku tekekeh, menyadari ternyata aku telah betul-betul mengucapkan kalimat terakhir tadi pada Sehun. Sehun tersenyum. “Apa ini berarti kau juga menyukaiku?” tanyanya lembut. Aku hanya mengangguk dan Sehun sekali lagi tertawa dan meraih daguku hingga aku harus bertatapan dengan matanya sekali lagi, dia mengecup bibirku kemudian merangkul aku dalam peluknya. “Syukurlah.”

Aku tersenyum. Aku senang. Sangat senang. Aku balas memeluknya dan menggambar hati dengan jari teunjukku di jas seragamnya. Ini cinta pertama. Cinta pertama yang kesampaian. Hari ini jum’at. Aku mempersatukan kepingan-kepingan hatiku yang hancur sekali lagi. Dan setengahnya kuberikan pada Mr. Friday. Sebagai gantinya, aku menerima kepingan hati yang lainnya milik Mr. Friday ini. Dan dia betul-betul cocok dipersatukan. Aku bahagia. Friday, hari flyingku. Fly. Fly. Kali ini aku tidak jatuh. Jatuh pun, aku tahu Sehun akan menangkapku.

^^Mr. Friday^^

Aku berbaring di atas tempat tidurku, memandangi layar ponselku yang menunjukkan pesan terakhir dari Jong In oppa yang kuterima lima menit lalu. Sebenarnya hanya pesan selamat malam biasa. Tapi aku bingung. Sekarang, bagaimana aku harus menolak Jong In oppa.  Aku menarik nafas dalam-dalam dan akhirnya aku memutuskan untuk mulai mengetik balasan.

From: Bo Ram

Selamat malam juga untuk Oppa ^^

To: Jong In

From: Jong In

Hanya selamat malam? 😦

Kau sedang apa Bo Ram?

To: Bo Ram

From: Bo Ram

Hehe hanya selamat malam 😛

Sedang menatap jendela tetanggaku 🙂

To: Jong In

Aku tersenyum menatap pesan yang kukirim ke Jong In oppa. Lalu kembali menatap kamar di seberang melalui jendelaku. Sehun sedang apa ya? Aku tersenyum dan mengambil ponselku lalu mulai mengetik (mengabaikan pesan dari Jong In oppa yang baru masuk).

From: Bo Ram

Hei, kau sedang apa? ^^

To: Se Hun

Aku menunggu balasan pesanku tapi tidak ada balasan sampai lima menit jadi kuputuskan untuk melanjutkan percakapanku dengan Jong In oppa.

From: Bo Ram

Oppa sedang apa?

To: Jong In

From: Jong In

Berkirim pesan dengan juniorku yang cantik :p

To: Bo Ram

Aku melempar ponselku ke atas tempat tidur dan mulai mengipasi wajahku. Tidak ingin mengakui kalau sebenarnya aku senang dengan semua gombalan-gombalan Jong In oppa. Aku meloncat-loncat di atas tempat tidurku untuk mengusir rasa gugupku. Dan aku menatap kamar Se Hun di seberang yang tirainya terbuka.

Melalui tirai yang tersibak lebar itu, memberikan akses penuh untuk melihat ke dalam kamar, kulihat Sehun berdiri di dekat pintu dan bersamanya, orang yang sangat kukenal. Sahabatku, Lee Hye Ju. Dan itulah saat aku kembali teringat. Sehun adalah pacar Hye Ju. Sehun juga berpacaran dengan wanita cantik itu. Dan Sehun adalah playboy. Seolah kembali teringat untuk berpijak di bumi, aku menutup tiraiku dan melemparkan tubuhku ke kasurku. Aku tidak ingin menangis. Dari awal aku tahu dia playboy, aku hanya lupa sesaat tadi. Tapi mataku tidak mau menurut dan seenaknya meneteskan air mata. Bukan dia yang kutangisi tapi diriku sendiri. Bodoh. Aku bodoh. Sangat bodoh.

Setelah menangis beberapa saat, kuraih ponselku yang tergeletak begitu saja di tempat tidur. Aku langsung mencari nama Jong In oppa dan meneleponnya. Aku butuh seseorang untuk menenangkan hatiku. Jong In mengangkat teleponnya pada deringan ketiga.

“Yeoboseyo?” ujarnya dari seberang sana.

Aku menarik nafasku sedalam mungkin dan menghapus air mata dari pipiku. Berdehem sekali, dengan mantap aku berkata “Oppa, aku mau.”

Jong In sepertinya bingung dengan kata-kataku karena dia mengatakan “hah?” dari seberang telepon. Aku diam dan sekali lagi mengintip dari tirai jendelaku yang kusibak sedikit, Sehun sedang tertawa dengan Hye Ju di seberang sana. Aku membersihkan tenggorokanku dan sekali lagi membuka suara.

“Pacarmu. Aku mau jadi pacarmu.”

=TBC=

76 thoughts on “[Chaptered] Mr. Friday (Part 4)

    • Heiheihei makasih yaaa dah baca cerita iniii hehe. Astgaaaa ini cerita jaman jahiliah dan style nulis aku masih alay banget, jd maluuuu🙈 but anyway makasih apresiasinya. Baca terus yaaaa. 🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s